






Saran dokter (yang harus dilakukan kalau mau giginya awet):








Saran dokter (yang harus dilakukan kalau mau giginya awet):


| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |


Tahapan perkembangan diri :
*so, kita harus meraih signifikan, bukan hanya sukses. Signifikan untuk diri sendiri juga untuk orang lain*
insight... be the best

Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan business as usual. Istilah think out of the box bahkan sudah tidak relevan lagi karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy.
Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "kotak" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan kerangka pikir lama? Cepat atau lambat, semua keterikatan, peraturan, atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, perlu ditinjau kembali, dan diperbarui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang harus setiap saat berpikir beda?
Sadar tidak sadar, kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, melainkan kita justru kerap menerima bahwa kita sudah terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi, dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya kita mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, "Mungkin saya memang tidak kreatif...."
Terobosan, pembaruan, dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreativitas yang istimewa. Secepatnya, kita harus segera berpikir bahwa box yang kita rasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Di saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti, dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.
Berpikir = saat bergembira
Kita sering merasa sudah menggunakan daya pikir kita secara all out, apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita merasa stres dan lelah. Seorang teman berkomentar, "Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"
Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah, anggapan bahwa "berpikir" adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir. Sementara, ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, "The brain is a wonderful organ. It starts the moment you get up and doesn’t stop until you get into the office."
Marilah kita memerhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang pintar, logis, ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan, tidak membuatnya stres, bahkan membuatnya bahagia.
Bagaimana dengan kita dalam situasi kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat kita memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha se-rasional mungkin? Kita pun kerap membatasi berpikir hanya di saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi, kita sering menginstruksikan diri kita untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, dan perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa mental block sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah memblok mental, tentunya akan mati langkah.
Asik berpikir dan mengamati
Seorang teman mengatakan bahwa saat sekarang orang sudah tidak perlu susah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua informasi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan pada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila kita sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan, apa bedanya kita dengan orang yang hidup di era 30 tahun yang lalu?
Seorang teman selalu berkeyakinan bahwa solusi tidak datang begitu saja. Itu sebabnya dia piawai dalam proses mencari jalan keluar. Ia terbiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong, dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak ia ketahui. Ia pun terbiasa menikmati film, memerhatikan gambar, bahkan menunda rapat untuk "mengendapkan" masalahnya semalaman.
Hiiiii.... jangan sampai deh, aturan-aturan kantor menghambat kreativitas kita

*mungkin lebih tepat ini tentang sahabat, tentang orang-orang tersayang....*
Contoh lain adalah para fotografer wildlife di National Geographic. Mereka adalah sosok-sosok tangguh baik secara fisik maupun mental. Bahkan konon kabarnya setiap fotografer tersebut melatih kekuatan fisiknya untuk mampu bertahan hidup (survival) dalam alam liar yang ganas. Foto-foto menakjubkan yang dihasilkan mereka bukan dihasilkan dari sekedar memotret sejam dua jam, namun membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan momen yang pas. Bahkan Sang fotografer menunggu selama lebih dari 3 bulan di tempat yang sama hanya untuk mendapatkan foto seeokor gorilla tengah meminum air di sebuah mata air. Dan selama 3 bulan itu sang fotografer berada dalam tenda kecil yang dibangunnya di atas pohon! Adalagi kisah seorang fotografer (jurnalis) dalam sebuah perang yang berhasil memotret seorang tentara yang tertembak peluru sebelum tentara tersebut jatuh ke tanah. Begitu dekatnya sang fotografer dengan tentara tersebut sehingga yang melihat fiti tersebut dapat ikut merasakan peristiwa mencekam saat itu. Padahal bisa saja justru sang fotografer itu ikut tertembak! itulah ketangguhan seorang fotografer dalam mengambil makna sebuah kedekatan.
Fotografi juga soal mengabadikan momen atau peristiwa, menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Bayangkan jika Frans Soemarto Mendoer tidak memfoto peristiwa proklamasi RI atau negatif film tersebut dirampas tentara Jepang... tentu saja menjadi perjuangan sangat berat untuk mencetak foto tersebut. Wartawan senior Alwi Shahab menulis “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” (Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60).
sumber: kaskus