Setiap kita pasti punya impian. Setiap waktu kita berusaha untuk menggapainya. Penuh kesungguhan, penuh perjuangan, kadang penuh dg air mata
Impian itu lebih dalam dari keinginan. Sakit yg dirasa krn gagal meraih impian itu pun lebih "menenggelamkan" kesedihan kita dibandingkan keinginan yg gagal dicapai.. Impian itu melibatkan emosi.. Bahkan tak kadang prinsip dan idealisme hidup kita pun diselaraskan dg impian kita...
Tapi tak ada yg bisa menjamin bahwa yg kita impikan itu yg akan terjadi pada diri kita. Karena adakalanya impian yg kita anggap baik itu belum tentu bisa membawa kebaikan bagi diri kita. Kadang ada hal yg justru mungkin kita benci, malah itu yg terbaik untuk kita... Sejatinya manusia memang hanya bisa berusaha dan berdoa, mengenai hasil akhirnya ttp lah Allah yg berkehendak..
Jika yg dikehendaki-Nya tak seperti yg kita harapkan, sebagai org yg beriman pun kita tak boleh kufur atau menafikannya... Namun terkadang kesabaran yg terlalu dangkal, atau keluhan yg terlalu menyesak, sering kali membuat kita hanyut dlm kesedihan yg menyesakkan.. Dan byk yg terjebak untuk menikmati kesedihannya, bukan berusaha utk bangkit membangun impian yg baru di atas jalan yg telah ditapakinya...
Pada akhirnya kita memang harus berdamai dengan realita meskipun tak pernah terbayang bagi kita sebelumnya. Namun rasa damai, dan kelapangan itu lah yg mampu menguatkan kita utk ttp berdiri tegar dan kokoh menghadapi tantangan selanjutnya, dan seiring dg itu kita pun menemukan impian baru yg akan kita bangun di atasnya...
Semoga kita semua diberikan kelapangan hati utk menerima kenyataan dr usaha yg telah kita upayakan.. Aamiinn..
(ini catatan utk diri saya sendiri, diambil dr pelajaran berharga yg saya dapat dr seorang dosen yg saya temui hari ini... Berdamai dengan realita)
Monday, 27 January 2014
Pada akhirnya kita harus berdamai dengan realita
Monday, 23 April 2012
Memilih Jalan Menuju-Nya
"Setiap orang meninggal pada aktivitas yang dicintainya." begitu kata Mba Hen, teman kantorku, saat kami berbincang-bincang tentang (alm.) Prof. Widjajono Partowidagdo. Wakil menteri ESDM itu meninggal saat mendaki Gunung Tambora. Meski profesor, tapi juga hobi mendaki... dan tetap terus mendaki walau sudah jadi ajudan Presiden. Bagi saya itu adalah hal yang luar biasa, dimana kesibukan tidak akan membendung hal-hal yang dicintai. Itulah yang memulai percakapan kami pagi ini.
Meski pernyataan teman saya tadi tidak terjadi pada semua orang, tapi saya bisa menemukannya pada banyak orang. Misalnya pada (alm) mertua Mba Hen yang rajin shalat, meninggal saat sujud shalat. Lalu (alm) Ustadzah Yoyoh Yusroh yang semangat dakwahnya selalu membara, meninggal saat perjalanan menuju dakwah rutinannya. Juga banyak orang yang gemar mabuk-mabukan meninggal karena overdosis, dan banyak lagi contoh-contoh lain.
Meninggal pada saat mengerjakan aktivitas yang dicintainya. Kalimat itu yang masih terngiang dalam kepala saya. Sungguh, kalimat itu yang membuat saya kembali bertanya pada diri saya,
Apakah aktivitas di dunia ini yang paling saya cintai lebih dari aktivitas2 lainnya?
Apakah aktivitas tersebut patut dibanggakan di hadapan-Nya kelak?
Siapkah jika nanti saya menghadap-Nya saat melakukan aktivitas tersebut?
dan pertanyaan-pertanyaan lain yang (mungkin) hanya saya sendiri (harus) mampu menjawabnya.
Kematian itu pasti datang. Tidak tahu kapan takdir terbut akan menghampiri kita. Tua muda bukan jaminan tuk pergi lebih dulu, bahkan juga yang sehat atau yang sakit. Semua itu telah dituliskan Allah dalam Lauhul Mahfuz, jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Tapi Allah selalu memberikan pilihan kepada kita untuk memilih jalan menuju kematian. Tinggal manusia yang memilih, meninggal dalam keadaan baik dan terhormat atau meninggal dalam keadaan nista. Pilihan tersebut ada pada tiap diri, dan ia akan mendapatkan ganjaran atas pilihannya.
Pelajaran bagi saya pribadi, mulai sekarang harus lebih serius lagi untuk memperbaiki diri, juga sesama. Konsisten menjalankan program-program tarbiyah dzatiah maupun tarbiyah amaliyah yang telah diprogramkan diri. Cerdas, karena itu hidup yang hanya sekali ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan akhirat.
Memegang erat kembali kata-kata Abdullah bin Mas'ud r.a: Biasakan diri berbuat baik, karena untuk kontinu berbuat baik butuh pembiasaan... Semoga jika saatnya tiba untuk menghadap Allah, adalah pada saat iman terbaik kita, pada saat kita melakukan aktivitas yang membanggakan di sisi Allah... aamiin...
Thursday, 18 August 2011
Penggugah Semangat Jiwa…
Imam Hasan Al-Banna pernah berpesan, kalian tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah kalian, lemahnya sarana dan kurangnya alat-alat pendukung, atau karena banyaknya musuh kalian, berkumpulnya musuh-musuh menentang kalian. Mengapa…? Karena walaupun semua isi bumi ini berhimpun menjadi satu memusuhi kalian, niscaya mereka tidak dapat membahayakan kalian kecuali apa yang telah ditentukan Allah kepada kalian.
Tetapi ada satu sebab yang dapat menghancurkan kalian, dan menyebabkan kalian kehilangan segala-galanya yaitu, JIKA HATI KALIAN TELAH RUSAK, Allah tidak memperbaiki amal kalian, suara kalian telah terpecah belah dan saling bertentangan pendapat. Sebaliknya selama kalian bersatu, selalu menghadap Allah SWT, senantiasa mengikuti dan taat kepada-Nya, berjalan sesuai dengan manhaj yang diridhai-Nya, kalian tidak akan pernah merasakan lemah dan hina. Jadilah kalian sebagai umat yang paling tinggi. Allah akan selalu bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan amal serta usaha kalian.
Subhanallah, pesan yang begitu mengena. Lemahnya semangat pasti senantiasa menghampiri kita, itu adalah hal yang biasa, yang luar biasa adalah, jika kita sadar, kemudian bangkit, dan tidak memberikan tempat sedikit pun pada setan untuk terus menggoda….
Satu lagi penggugah semangat jiwa, amat khusus untuk jiwa lemah seperti saya. Ku bersimpuh di halaman Allah, kusujudkan wajahku pada debu-Nya, tidak bisa ku sembunyikan hatiku dari pandangan Allah, tidak bisa, tetap ku ingin kembali pada-Nya….
Mulanya ku anggap mudah perjalanan ini. Dengan idealisme khas seorang remaja, kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajakku. Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan ini. Begitu pun arti perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagiaan manusia.
Agaknya kekurangpahaman ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuangan ku yang mengurungkan niat. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan. Namun aku tiada terganggu. Sementara jalan di hadapan ku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktu pun terus berlalu…Aku dan lainnya terus melangkah terseret-seret. Hampir seperempat abad usiaku aku habiskan di jalan ini. Dan kini makin kupahami tabiat jalan yang telah kupilih.
Entah sudah untuk yang keberapa kali lutut ini bergetar. Nafas pun mulai tersengal. Kadang kujumpai seseorang berdiri di tengah jalan. Ia tampaknya tidak menyukai kehadiranku. Tapi aku harus melewati jalan itu. Dengan segenap kemampuan kuhadapi ia. Terkadang saudara-saudaraku tinggal diam, membiarkan ku berkelahi sendirian.
Entah berapa kali sudah aku tersungkur. Orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan. Tapi aku tidak mau peduli. Masih pekat kepercayaan ku, Ia yang akan kujumpai di sana senantiasa akan memberikan kekuatan gaib-Nya kepadaku.
Kini di hadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak-semak liar, yang menatap kami dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak yang mengejek. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap jalan itu. Kupertajam tatapanku ke arah tebing angkuh tadi. Samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang-orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat adanya jejak sama sekali.
Dan babak baru perjalanan pun kami mulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya. Akupun harus melangkah naik.
Ah…seorang saudaraku tegelincir, tepat di sebelah ku! Kuulurkan tangan menahan lajunya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku turut terseret. Namun ia tidak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakanku pun semakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mengerti, ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan lain yang lebih ramah, walau entah menuju ke mana….
Bahkan sempat kudengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudaraku yang dulu turut membimbingku melewati masa-masa awal perjalanan. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka!
Di setiap jalur yang kami tempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempat kami melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya Ia akan menurunkan pembantu-pembantu-Nya untuk menghibur kami, orang-orang yang mendambakan perjumpaan dengan-Nya. Di sini aku biasa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah.
Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba ku atasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati.
Namun ampuni aku ya Rabbi. Betapa seringnya hamba tertegun ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi.
Kini pun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini? Akankah Kau hargai, apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu? Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu? Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!
Ada kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini kutempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa, dengan nyali melebihi singa. Mereka mempertaruhkan segalanya, hatta nyawa sekalipun. Mereka meyakini dan merasakan, meregangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan sang Kekasih.
Ada terpikir olehku untuk melewati pula jalan itu. Namun aku cukup arif untuk menyadari, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah aku ini, dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu, untuk membuktikan kecintaan kepada–Nya? Betapa lancangnya aku mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malam-malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cinta-Nya. Dan aku pun harus bersabar…..
Kupandangi tanah datar di hadapanku. Di salah satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah ke sana. Gemericik suara dedaunan dan teriakan serangga ilalang menemani kesunyianku.
Kulepas alas kaki. Hati-hati kumasukkan kaki ke beningnya air. Terus menuju ke tengah-tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah dan kepala, dan segera kurasakan kesegaran yang luar biasa. Selanjutnya aku telah tertunduk di sebongkah batu besar di tengah-tengah kali.
Sejuta pikiran dan angan bersatu di benakku. Perjalanan panjang telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas di benakku.
Tapi sampai berapa lama aku berada dalam kesunyian seperti ini. Gunung diam di hadapanku justru mempertebal kebosananku. Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku. Kulihat sekelilingku… Sepi…
Aku harus segera berlari, kembali ke rombongan. Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi. Aku harus bergabung bersama mereka, kembali melintasi semak berduri. Seraya terus menetapkan angan, akan suatu peristirahatan abadi. Akan suatu taman yang rindang, yang kaya dengan aneka buah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai……
Ya Rabbi, walau berat kurasa, tetapkanlah kakiku di jalan dakwah ini…….. selamanya……
Maraji’:
- Ibnu Ibrani, di majalah Islah
- Syaikh Musthafa Masyhur, Al-Qiyadah wal Jundiyah
Saturday, 15 January 2011
Nibiru? Tasaro? diskusi buku?!!!
http://www.goodreads.com/topic/show/396950-kerjasama-goodreads-indonesia-dan-media-indonesia-januari-2011?comment_id=25164715&format=html&page=2
Semoga semua akan baik-baik saja... all is well
Monday, 27 December 2010
Saya hanya ingin mencintai Al-Quran
Sosok sederhana itu tertunduk dalam, "saya hanya ingin mencintai Al-Quran". Katanya pelan, namun tegas. Lanjutnya, "Saya ingin menjadi penghafal Al-Quran... jikapun saya tidak bisa, saya ingin anak-anak saya menjadi hafidzul Qur'an." Kesungguhan niatnya terpancar dari kata-katanya, ketika kami membicarakan tentang cita-cita.
Meski beberapa teman pun pernah menyampaikan keinginan yang sepertinya, namun entah kenapa kata-katanya yang sederhana namun membuat hati saya bergetar. entah karena dia menyampaikannya dengan kesungguhan hatinya sehingga sayapun merasakan getarannya.
Wajahnya tertunduk sedih. Lanjutnya kemudian, "namun sekarang ruhyah saya sedang turun. Sehingga susah rasanya untuk ikutan tahfidz lagi di LTQ Al-Hikmah saat ini..." saya merasakan kesedihannya, sepertinya dia merasakan rugi yang besar karena off dulu dari LTQ, seperti perasaan yang saya rasakan (mungkin lebih) ketika tidak bisa menghadiri kursus bahasa arab yang selalu bersemangat buat saya.
Obrolan sore dua hari lalu, yang cukup membuat saya terus mengingat kata-katanya "saya ingin mencintai Al-Quran" hingga pagi ini. Kata-kata yang diulangnya beberapa kali, dengan getaran yang makin meningkat, yang menggambarkan kesungguhan niat, kebulatan tekad, tanpa kesombongan sedikitpun. Kata-kata itu terus memberi insiprasi buat saya, untuk mengingatkan kembali cita-cita saya akan itu. Agar saya makin bersemangat tilawah, menghafal, dan memahami Al-Quran dengan segala daya dan upaya...
terima kasih saudaraku... semoga kita termasuk golongan ahlul Quran yang dicintai Allah, semoga cita-cita kita dapat terwujud...
Mendengar murottal di kompi kantor pagi ini (dari qori yang saya belum tahu siapa) bikin hati makin bergetar. sebabnya pertama adalah saya telah membaca tulisan ukhti Dewi (tentang mencintai Al-Quran) dan kedua adalah sepenggal cerita di atas yang masih saya rasakan getarannya hingga saat ini.
...mengulas tulisan ukhti Dewi,
Mencintai al-Qur’an adalah sebuah kenikmatan, yang tidak akan bisa dirasakan oleh orang yang belum pernah mendapatkannya. Karena itu setiap muslim pasti menginginkan agar dirinya bisa mencintai al-Qur’an. Lalu bisa mengajak keluarganya agar mencintai al-Qur’an, supaya bisa merasakan kenikmatan hidup bersama al-Qur’an.
Namun persoalannya, bagaimanakah cara menumbuhkan rasa cinta terhadap al-Qur’an ini?
Persoalan cinta adalah persoalan hati. Sementara kita tidak sanggup menguasai hati kita sendiri. Hati seseorang terletak di tangan Allah. Dia membuka dan menutup hati kapan saja Dia menghendaki, dengan hikmahNya, serta ilmuNya.
"dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya" (Q.S: al-Anfal:24)
"Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya," (Q.S: al-Kahf:57)
Dan Allah telah menjadikan sebab-sebab dan wasilah-wasilah agar hati terbuka atau tertutup. Orang yang meniti jalan-Nya maka ia akan mendapatkan taufiq, dan orang yang menyelisihi jalannya maka ia akan dibiarkan berada di dalam kesesatan. Apabila hati mencintai sesuatu maka ia akan tergantung kepadanya, merindukannya, menyukainya dan memutuskan segala hubungan dengan selainnya.
Jika hati telah mencintai al-Qur’an, ia akan merasakan nikmat dengan membacanya. Ia akan berusaha memadukan antara pemahaman qur’ani dengan kesadaran qur’ani. Sebaliknya, apabila pada seseorang tidak ada kecintaan, maka hati ini akan sulit menerima al-Qur’an, tunduk kepada Al-Qur’an terasa berat, dan tidak akan bisa dilakukan melainkan setelah melalui perjuangan yang berat.
Pertanyaan pada diri sendiri, sudah seberapa jauhkah mencintai Al-Quran wahai diri?
Tanda-tanda cinta kepada al-Qur’an
Ada beberapa hal yang menandakan adanya kecintaan kepada al-Qur’an di dalam hati, di antaranya adalah
1- sebagaimana cintanya seseorang pada sesuatu, cinta pada al-Qur’an pun ditandai dengan kesukaannya bertemu dengannya.
2- Duduk bersama dan membaca al-Qur’an dalam waktu yang panjang tanpa merasa bosan
3- Jika jauh darinya maka ia akan merindukannya, dan selalu mengharap bisa segera menjumpainya.
4- Banyak berdialog dengannya dan meyakini petunjuk dan arahannya serta kembali kepadanya ketika menghadapi berbagai problematika hidup, baik persoalan kecil maupun besar.
5- Mentaatinya, baik dalam perintah maupun larangan
Inilah tanda-tanda terpenting adanya kecintaan kepada al-Qur’an. Jika tanda-tanda itu ada pada seseorang, maka kecintaannya kepada al-Qur’an itu ada. Dan jika tidak ada tanda-tanda tersebut pada diri seseorang, maka kecintaannya kepada al-Qur’an pun tidak ada. Tetapi jika ada sebagian tanda-tanda tersebut, dan sebagian lagi tidak ada padanya, maka kecintaannya kepada al-Qur’an itu tidak sempurna. Ketidaksempurnaannya berbanding lurus dengan kurangnya sifat-sifat tersebut di dalam pribadinya.
Berapa point dari tanda-tanda di atas yang ada padamu wahai diri?
*semoga Allah memberikan kenikmatan dan semangat yang tak pernah padam pada kita tuk mempelajari kalam-Nya, kemudahan bagi kita dalam menjalankan point-point di atas, semoga kita termasuk dalam golongan Ahlul Quran, yang kelak akan menjadi keluarga Allah...*
****
Pasangan tersebut memiliki visi menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur’an. Sebuah visi yang istimewa, karena Al-Qur’an adalah mukjizat yang di dalamnya terdapat segala pengetahuan duniawi dan ukhrawi. Jadi, ketika Al-Qur’an sudah digenggam dalam hati dan akal, dia telah menggenggam seluruh ilmu. Dan visi tersebut dijalankan dengan beberapa misi yang dirancang apik, sehingga terbentuk rencana strategis dan implementasi secara detailnya. Pasangan tersebut menjelma layaknya manajer handal dalam keluarga.
Ternyata, mendidik anak-anak menjadi hafiz Al Qur’an sangatlah mungkin dilakukan. Mengapa? Ternyata pasangan Pak Tamim dan Bu Wiwi ini bukanlah hafiz Al Qur’an. Artinya apa? Bagi orang tua yang tak hafiz Al Qur’an, tak perlu berkecil hati, belajarlah dari buku kecil bermanfaat luar biasa ini. Syaratnya hanya satu saja: YAKIN 100% bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidup yang paling benar dan wajib dijalankan. Kalau Anda ragu, atau sekedar “nice to have” saja, ya mana mungkin bisa mendidik anak sebagai hafiz Al Qur’an.
1. Meyakini
2. Membaca dengan tartil
3. Memahaminya
4. Mengamalkannya
5. Memperjuangkan, menyebarkan, mendakwahkan, dan
6. Menghafalkannya.
Lalu, apa resepnya Pak Tamim dan Bu Wiwi membangun keluarganya?
**Tidak ada Televisi di dalam rumah**
**Tidak ada gambar syubhat karena malaikat tak mau masuk rumah yang ada gambar syubhat**
**Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan musik Islami seperti nasyid**
**Tidak ada ucapan-ucapan kotor dan diganti dengan ucapan-ucapan baik.**
Bu Wiwi dan Pak Tamim sungguh konsisten terhadap program membimbing putra-putrinya menghafal Al-Qur’an, keduanya memasukkan putra-putrinya ke pesantren atau sekolah yang memiliki kurikulum utama menghafal Al-Qur’an. Prinsip pembiasaan dan konsistensi itulah yang menjadi pegangan pagi pasangan tersebut.
Dan yang tidak kalah penting adalah menyampaikan tujuan dan memberikan reward. Mengkomunikasikan tujuan yang jelas akan memberikan efek psikologis yang positif bagi anak. Mereka tidak sekadar mendorong anak-anaknya menghafalkan Al-Qur’an tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman hidup dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Jangan sampai hafalan tersebut hanya sebatas di kerongkongan saja, tetapi harus benar-benar diamalkan.
Begitu juga dengan pentingnya pemberian hadiah dan hukuman. Hadiah dan hukuman tersebut tentunya tidak sama bagi setiap anak, sesuai kegemaran dan karakter masing-masing. Untuk yang sudah hafal 30 juz, orang tua menjanjikan hadiah umrah.
****
"Apakah anda mengenalku?"
Penghafal tadi menjawab; "Saya tidak mengenal kamu."
Al Quran berkata; "Saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya.
Kedua orang tua itu lalu bertanya: "Kenapa kami diberi dengan pakaian begini?".
Kemudian di jawab, "Kerana anakmu hafal Al Quran."
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi diperintahkan,
"Bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya."
Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)
Sunday, 12 September 2010
Ikuti kata hatimu dan semua akan baik-baik saja
Thursday, 9 September 2010
Ramuan asa untuk sebuah perpisahan
orang-orang hebat yang Allah perkenalkan lewat ibadah ini sejak tiga tahun lalu
Beribu rasa syukur pada-Nya yang telah merekatkan tali ukhuwah di antara kami
ukhuwah islamiyah yang membuat kami seperti satu tubuh
menyisakan semangat baru untuk terus berjuang
semangat untuk terus memperbaiki diri dan orang lain..
agar Allah pertemukan kami kembali di surga-Nya kelak... Amiin...
Saturday, 28 August 2010
...memiliki kehilangan...
Friday, 20 August 2010
Death note: Dia meninggal di tanganku!
Wednesday, 21 July 2010
.: mengejar pelangi :.
Saturday, 3 July 2010
Jadilah Pembelajar Sejati!
Tuesday, 1 June 2010
Apa yang bisa saya lakukan untuk Palestina?
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu,
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya.
Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan
keindahan bertawakkal kepadaMu.
Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu.
Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.
Langkah kecil lain yang bisa kita lakukan untuk mendukung Palestina adalah memboikot produk-produk yang akan menyumbangkan dananya untuk Israel. Apakah kita rela uang yang kita belanjakan justru dibelikan rudal oleh Israel untuk membantai saudara-saudara kita di palestina?
mengapa kita tak mudah mengganti McD dengan nasi uduk yang lebih murah meriah? mengapa kita tak mudah mengganti Aqua dengan MQ milik AaGym?
mengapa kita tak mudah mengganti Carrefour dengan pasar tradisional atau market2 yang jelas akan menguntungkan saudara2 kita sebangsa dan seagama?Sedikit contoh, Cobalah pikirkan (bagi yang masih punya nurani), jika kita mandi dengan sabun lux (dan produk unilever lain), kita mungkin akan dimanjakan dengan wanginya sabun tersebut. tapi disana (di Palestina), saudara-saudara kita bermandikan darah karena peluru yang ditembakkan Israel ke mereka di biayai dengan uang yang kita belanjakan untuk membeli sabun tersebut.
Walaupun produk-produk yang diboikot adalah produk yang dekat dengan kita (mungkin) tapi kita bisa menggantinya dengan produuk2 sejenis, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang! Insya Allah, sekecil apapun usaha yang kita lakukan, Allah Maha Melihat yang kita kerjakan, Allah akan membalasnya.
Monday, 18 January 2010
Surat dari calon metua ...
Duhai gadis, yg baru ku kenal.
Tahukah kau, dia putraku, lahir dr rahim suciku, kupertaruhkan hidupku u memilikinya, anak kesayanganku yg sepanjang hidupx ku besarkan dgn segenap rasa cintaku..
Tangan renta ini yg mengankat tubuh mungilnya, menyuapinya, menyeka air matax, dan memelukx dlm dekapanku..
Duhai gadis, tahukah kau betapa besar rasa cintaku padanya? Bahkan aku tak mampu membayangkan bila ada yg merebutnya dr dekapku..
Tahukah kau gadis? Betapa bangga ku rasakan ketika dia mulai beranjak dewasa? Menatapx tumbuh mjadi laki2 tegap dan tampan.. Seulas senyumx mengingatxku pd senyuman ayahx yg sgt ku cinta..
Betapa hati ini terus diliputi rasa bangga dan buncahan cinta padanya.. Kebangganku.. Putraku..
Berbagai prestasi dia ukir dan memahatx bangga tak terperi dalam lubang rasaku.. Dan ku slalu mrasa puas menyebutnya putraku..
Tak sdktpun dia prnh mengecewakanku.. Tak pernah..
Gadis, tahukah kau, betapa haru hatiku, ketika ku melihat perubahannya, mencoba mengenal Diennya lebih dalam dr yg kami ajarkan padanya.. Dia menjadi laki2 sejati, laki2 yg dirindukan syurga.. Aku smakin sayang padanya. Putraku, kini yg malah mengajarkanku bnyk hal.. Mendekatkanku padaNya, pada Rabbku yg slama ini ku kenal dg sederhana krn kebodohanku. Tp ku tak malu, mamun sebaliknya, aku smakin bangga pdnya.. Putraku, cahayaku..
Namun, smua rasa itu berubah mjadi takut, cemas dan khawatir..
Ketika dia mnyampaikan pdku keinginannya. Dia ingin menyempurnakan agamanya..
Yah.. Dia ingin membngun rumah tangganya sendiri..
Dan, dia telah memilih, kaulah gadis beruntung itu..
Gadis, tahukah kau? Betapa cemburuku padamu? Yah, aku sgt takut kehilangan putra kesayanganku. Takut kau merebut smua perhatiannya dariku. Takut kbradaanmu, memalingkanx dariku.. Kau akan merebutx, dan aku cemburu..
Namun, kmbli ku sadari, putraku tak akan memilih wanita sembarang.. Ku yakin kau punya kelebihan yg membuatx memilihmu, dan ku mulai menata hatiku..
Duhai gadis pilihan putraku..
Ku harap kau memiliki tangan yg lbh lembut dariku, krn ku tak mau kau melukai putraku..
Ku harap kau mpunyai senyum yg lebih sejuk dariku.. Krena kelak, dia akan dtg padamu dalam tiap galaunya, u mencari ketenangan..
Ku harap, kau memiliki pelukan yg lbh hangat dariku.. Krn ku ingin hatinya selalu damai dlm dekapanmu..
Ku harap, kau mempunyai tutur kata yg seindah embun, krn ku tak ingin dia mendengar kata2 kasar dlm hidupnya..
Duhai gadis pilihan putraku.. Jadilah anakku.. Agar tak pernah ku mrasa kehilangan putraku krn kehadiranmu..
Jadilah sahabatku.. Agar kau dpt mencurahx rasamu padakku kelak..
Jadilah rekanku.. Agar bersama2 qt membahagiakan laki2 yg sama2 qt cintai..
Untukmu gadis pilihan putraku.. Selamat datang d istana kami.. Penuhilah dgn cinta dan kasih.. Semoga kau bahagia mjadi bagian dari kami..
Padamu gadis pilihan putraku.. Akupun akan mencintaimu..
---***--
sumber: disini
Nb: new level bahasa arab.... smangat!!!
Tuesday, 12 January 2010
orang yang baik..
Wednesday, 25 November 2009
my "simple" new theme
Yesterday, suddenly my MP pageviews was changed..
Sweet pink strawberry background initially became irregular.
There are sentences from photobucket; "your account about expired".
I will not later there are some people who dizziness when reading my blog, so I was forced to change the theme. I actually really liked my previous theme ..
but what could I do ..
In the future, I will use my own made theme, but I must first learn how to create multiply themes ..
hopefully I can do it. For my friends who can make his own multiply themes, please teach me or give me some tricks to make it easy ..
thanks before ..
go aptx,, go study,, cheer up and be spirit
Saturday, 14 November 2009
Mati Gaya
Mungkin inilah kalimat yang cocok buatku di hari ini.
saat tugas translate jurnal mendekati injury time, tiba2 laptopku mati.. hiks nih laptop gak bisa diajak kompromi banget sih, gak tau bosnya lagi ngejar deadline. kompi di rumah juga lagi gak bisa dipake gara2 monitornya rusak. hiks, lengkaplah sudah penderitaanku.
tapi saya sih gak menyalahkan my soulmate (laptop). salah saya sebenernya.. tuh laptop kupaksa untuk membantuku bekerja tanpa jeda. sampe pas kemaren hujan petir tetap saya paksakan bekerja. saya pikir aman2 aja. tapi tiba2.. duuarrrr... petir yang amat sangat dahsyat menggelegar (bom kalah deh..). baru deh saya buru2 matiin tuh laptop plus modem (maklum lagi ngetik sambil internetan, hehe..).
pas dimatiin sih gak ada masalah, cuma agak lama aja, tapi akhirnya mati juga. makanya saya tenang2 aja. tapi... "kak liaaaa.. laptop lo kenapa? kok gak bisa nyala? aku mo ambil dataku. gimana nih???" suara teriakan adikku seperti petir menyambar yang tadi kurasakan (halah.. lebay deh..). Buru-buru kubangun dari tidurku yang nyenyak banget (maklum akhir2 ini kurang tidur), dan "haaaaaaaahh bener2 gak bisa nyala... duuhh kenapa nih laptop???"
speachless..
bingung mo ngomong apa. merasa bersalah, sedih, dan panik tentunya. gimana nggak, hasil translate yang mo saya serahin hari senin ada di situ semua, plus data2 yang mau dipake buat besok... malah jurnal yang belum ditranslate masih 7 buah. gimana nih?? kepikiran buat ke tukang service komputer sih, tapi dah malem dan hujan deras... jadi mending besok pagi aja deh ke Acer Service Center aja biar lebih terjamin.
akhirnya tadi saya ke Acer service center yang di RATU PLAZA. berharap bisa ditunggu servisnya, biar saya bisa segera meneruskan kerjaan saya.. tapi ternyata soulmateku harus ditinggal, maksimal 5 hari kerja. bahkan untuk cek kerusakannya pun tidak bisa dilakukan hari ini.. hiks.. terpaksa deh dengan hati yang berat, eh dengan berat hati kurelakan soulmateku nginep di ratu plaza selama beberapa hari. semoga semua dataku bisa selamat dan tidak ada komponen yang harus diganti.. semoga cepet sembuh ya, soulmateku..
mati gaya nih, harusnya saya kan ngerjain translate jurnal, ngejar deadline. tapi apa boleh buat.. mungkin saya memang harus berpisah sementara dengan tuh kerjaan dan konsen buat besok..
akhirnya pulang dari Ratu Plaza saya langsung menuju Thamrin, ke kantor. aneh, kemaren (jumat) malah saya izin ga masuk kantor gara2 tepar tuh ngerjain tugas. sekarang (sabtu) giliran kantor libur, saya malah masuk, sampe satpam kantor terbengong-bengong pasa saya bilang mo ngerjain tugas di ruangan saya.. alhasil, saya sendiri nih di lantai 22.. sepiii... mudah2an gak ada apa-apa.
lumayan disini bisa ngenet, nulis di MP lagi setelah sekian lama gak sempet nulis (padahal banyak ide yang mau ditulis, tapi gak sempet). trus bisa ngeprint beberapa jurnal, dan meneruskan translate jurnalnya...
chayo lia... semangat!!
*walau lapar... soalnya mau beli makan kantinnya/rmh makan tutup semua*
adakah yang bersedia membawakan saya makan siang?? *ngimpi kali ya...??*
Wednesday, 7 October 2009
Pelangi Kehidupan
Dengan menyempurnakan ikhtiar dan memanjangkan do'a
Menatap masa depan dengan langkah sempurna
Memandang masalah dengan ketegaran
Memetik kesempatan dengan kesungguhan
Menyusuri tikungan perjalanan dengan lentera kesabaran..
Sungguh Allah telah menetapkan segala sesuatu untuk hamba-Nya
"i'malu fakullun muyassar"
Bekerjalah terus, maka Allah akan memudahkan
Tuesday, 6 October 2009
Jadilah Apapun juga..
JADILAH BATU KARANG
Sebab ia ‘kan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia ‘kan kokoh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia ‘kan melawan angin yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia ‘kan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia ‘kan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus. Sebab ia ‘kan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.
JADILAH POHON YANG TINGGI MENJULANG
Sebab ia ‘kan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia ‘kan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia ‘kan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia ‘kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia ‘kan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia ‘kan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia ‘kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia ‘kan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.
JADILAH PAUS BESAR
Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya ‘kan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.
JADILAH ELANG
Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.
JADILAH MELATI
Sebab ia ‘kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.
JADILAH MUTIARA
Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.
JADILAH KUPU-KUPU
Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.
TAPI, Menjadi apapun dirimu, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu. Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari bahwa kita adalah hambaNya.