Showing posts with label muhasabah. Show all posts
Showing posts with label muhasabah. Show all posts

Sunday, 3 May 2015

Jiwa

Jiwa, begitu menyenangi kelalaian
Jiwa, begitu menikmati kemalasan
Jiwa, begitu memaafkan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan

Kesalahan demi kesalahan,
Ketidakmampuan dan keterbatasan di dalam memenuhi kebaikan,
Dianggap sebagai pemakluman.

Duhai jiwaku, ada apa denganmu?

Untuk jiwaku yang senantiasa merindu
Untuk jiwaku yang terus mencari
Untuk jiwaku yang mempelajari
Bawa hatimu pada Rabb..
Dan tetapkan kembali kisahmu disini,
Di perhentian sejenak, dalam munajat

Rana jiwaku di penghujung waktu
Rana jiwaku mengumpulkan serpihan, hingga kembali utuh
Rana jiwaku berusaha menyikap tabir-Nya dengan tulus
Dekap erat, jangan lepaskan lagi...
Sebab apa yang menghadirkanmu disini
Teramat berharga bila dibandingkan dengan perhiasan duniawi

Untuk jiwaku... dalam tiap ruhnya yang baru...


Ahad, 3 Mei 2015
Pukul 01.01 WIB
Malam ini terang..
Ya Rabb, terangi jiwaku selalu dengan cahaya-Mu..

Friday, 19 December 2014

Renungan malam...

🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀

"Ketika kita sudah berada di jalur menuju Allah, maka berlarilah. Jika itu sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jka itu pun tak bisa, merangkaklah. Namun jangan pernah berbalik arah atau berhenti." (Imam Syafi'i) 

Karena ketika kita istiqamah...
bukan berarti kita tidak boleh lelah..
istiqamah mengajarkan bahwa kita ga boleh menyerah...

Inshaa Allah, ada kemudahan di tengah kesulitan (kesibukan) kita. 
"Sesungguhnya, pertolongan itu mengiringi kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu mengiringi kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan yang menyertainya.” (HR. Ahmad)

Berikanlah yang terbaik dengan amanah yg sekarang kita miliki disini, jadikan ladang amal utk akhirat kita. Terus melangkah...
Tetap semangat...
Allahu Akbar ✊

🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀

*Fwd dari grup DPRa Sudimara Jaya*

Monday, 23 April 2012

Memilih Jalan Menuju-Nya


"Setiap orang meninggal pada aktivitas yang dicintainya."
begitu kata Mba Hen, teman kantorku, saat kami berbincang-bincang tentang (alm.) Prof. Widjajono Partowidagdo. Wakil menteri ESDM itu meninggal saat mendaki Gunung Tambora. Meski profesor, tapi juga hobi mendaki... dan tetap terus mendaki walau sudah jadi ajudan Presiden. Bagi saya itu adalah hal yang luar biasa, dimana kesibukan tidak akan membendung hal-hal yang dicintai. Itulah yang memulai percakapan kami pagi ini.

Meski pernyataan teman saya tadi tidak terjadi pada semua orang, tapi saya bisa menemukannya pada banyak orang. Misalnya pada (alm) mertua Mba Hen yang rajin shalat, meninggal saat sujud shalat. Lalu (alm) Ustadzah Yoyoh Yusroh yang semangat dakwahnya selalu membara, meninggal saat perjalanan menuju dakwah rutinannya. Juga banyak orang yang gemar mabuk-mabukan meninggal karena overdosis, dan banyak lagi contoh-contoh lain.

Meninggal pada saat mengerjakan aktivitas yang dicintainya. Kalimat itu yang masih terngiang dalam kepala saya. Sungguh, kalimat itu yang membuat saya kembali bertanya pada diri saya,
Apakah aktivitas di dunia ini yang paling saya cintai lebih dari aktivitas2 lainnya?
Apakah aktivitas tersebut patut dibanggakan di hadapan-Nya kelak?
Siapkah jika nanti saya menghadap-Nya saat melakukan aktivitas tersebut?
dan pertanyaan-pertanyaan lain yang (mungkin) hanya saya sendiri (harus) mampu menjawabnya.

Kematian itu pasti datang. Tidak tahu kapan takdir terbut akan menghampiri kita. Tua muda bukan jaminan tuk pergi lebih dulu, bahkan juga yang sehat atau yang sakit. Semua itu telah dituliskan Allah dalam Lauhul Mahfuz, jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Tapi Allah selalu memberikan pilihan kepada kita untuk memilih jalan menuju kematian. Tinggal manusia yang memilih, meninggal dalam keadaan baik dan terhormat atau meninggal dalam keadaan nista. Pilihan tersebut ada pada tiap diri, dan ia akan mendapatkan ganjaran atas pilihannya.

Pelajaran bagi saya pribadi, mulai sekarang harus lebih serius lagi untuk memperbaiki diri, juga sesama. Konsisten menjalankan program-program tarbiyah dzatiah maupun tarbiyah amaliyah yang telah diprogramkan diri. Cerdas, karena itu hidup yang hanya sekali ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan akhirat.


Memegang erat kembali kata-kata Abdullah bin Mas'ud r.a: Biasakan diri berbuat baik, karena untuk kontinu berbuat baik butuh pembiasaan... Semoga jika saatnya tiba untuk menghadap Allah, adalah pada saat iman terbaik kita, pada saat kita melakukan aktivitas yang membanggakan di sisi Allah... aamiin...

Wednesday, 11 April 2012

Karena Allah Selalu Mengirimkan Malaikat-Nya Untukku

*forward-an dari milis. tulisan lama tapi selalu bisa jadi penawar penat :)
karena.. SAAT LELAH, SAAT PENING, ALLAH SELALU MENGIRIMKAN 'MALAIKATNYA UNTUKKU..

 

Di sebuah keheningan malam, dingin terasa menusuk tulang …, seorang pemuda duduk terpekur  seraya sesekali memandangi langit …, ada guratan-guratan keletihan diwajahnya, ada  gundah yang menggelayuti  perasaannya … Otaknya mencoba untuk memutar kembali memori-memori yang ada …, mengingat rangkaian peristiwa demi peristiwa yang telah dilalui. Ada desahan nafas yang terdengar seiring dengan nyayian jangkrik dalam pekatnya malam …

Segudang aktivitasnya yang menuntut meminta prioritas, memaksanya menghabiskan lebih dari 18 jam di luar rumah. Tak jarang ia mengetuk pintu rumah bersamaaan dengan terbitnya sang fajar. Saat sebagian besar manusia terlelap …, ia semakin akrab dengan lembabnya udara malam…, setia berada dalam ruang-ruang pertemuan membahas agenda yang sering kali sangat jauh dari irisan kehidupan dan tak luput kuliah pun dinomor sekiankan karena tuntutan
 

Tak bisa dipungkiri, bahwa semua itu terasa melelahkan…, sepertinya otaknya sudah sangat  penuh dengan berbagai masalah. Sebagai seorang manusia sangat fitrah jika ia memiliki keterbatasan kapasitas  menampung semua permasalahan yang ada..., Tanpa terasa butiran-butiran hangat  itu jatuh membasahi pipi …

Teringat nasihat dari seorang al-akh yang terngiang di telinganya “sahabat … layaknya sebuah perjalanan yang sangat panjang, jalan da’wah selalu dipenuhi oleh kesulitan dan kepahitan. Berbagai fitnah, tantangan dan hambatan terus mendera tak putus-putusnya.

Tak sedikit  tenaga, waktu dan pikiran yang terkuras, peluh yang terkucur, sayatan-sayatan luka yang menganga  bahkan tetesan-tetesan darah pun tak luput mewarnai jalan panjang ini. Maka laluilah ia dengan segenap kesungguhan, karena di ujung jalan ini  Allah  menyiapkan berbagai keindahan. Sahabat … terkadang muncul pertanyaan dalam hati kita “Kenapa kita diuji ?” Allah memberikan jawaban “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah Beriman?” dan mereka tidak diuji ? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (Qs. Al-Ankabut:2-3),

lalu timbul pertanyaan kembali “Kenapa kita tidak mendapatkan apa yang kita idam-idamkan ?” Allah menjawab “…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui …”(Qs. Al-Baqarah:216), kemudian “Mengapa ujian seberat ini?” “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya …” (Qs. Al-Baqarah:286) dan terkadang kita sering merasa begitu lelah dan lemah, Allah menjawab “ … janganlah kamu merasa lemah  dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman” (Qs. Ali Imran:139), lalu “Bagaimana kita harus menghadapinya?” Allah berkata “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung “ (Qs. Ali Imran:200), kemudian “Kepada siapa kita berharap?” jawabnya “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aku bertawakal …” (Qs. At Taubah:129),  dan “Jika kita tidak mampu bertahan lagi?” maka “… janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah …” (Qs. Yusuf:87), kemudian “Apa yang kita dapatkan dari semua ini?” “ Sesungguhnya Allah membeli orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…”(Qs. At Taubah:111). Sahabat … mari kita berbenah diri dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah.

Dimanapun … kapanpun dan dimanapun selama Allah menjadi Just the one goal. Jadikanlah hidup ini selalu penuh dengan harapan kepada Sang pemilik Jiwa. Bersiaplah menghadapi putaran waktu hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada-Nya. Kalaulah keletihan itu melanda baurlah dengan ayat Illahi…, semoga Allah melapangkan hati-hati kita, selamat berjuang sahabat …”

Percikan air wudhu itu menyegarkan kembali tubuh yang letih dan meluruhkan rasa gundah yang melanda hati, pemuda itu mencoba mengembalikan semua permasalahan pada Sang Pemilik Jiwa, menghamparkan sajadah dan meratakan kening diatasnya… ada guncangan yang begitu dashyat ditubuhnya… sebuah kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dirasakan oleh siapapun pada saat seorang hamba bermunajat kepada Sang Kekasih, memohon ampunan dalam jutaan butir do’a. Bersimpuh seraya merenungkan semua kekhilafan…

Duhai Sang Pemilik Jiwa…
Ikhlaskanlah hati-hati ini sehingga bisa menerima semua bagian dari perjalanan hidup dengan kebesaran hati dan kebesaran jiwa serta menemukan jawaban dari sebuah  rahasia dibalik titian kehidupan yang telah dijalani…

Duhai Sang Pemilik Jiwa…

Jadikanlah amal-amal ini sebagai pemberat timbangan di hari akhir nanti … istiqomahkanlah hati ini agar tetap berada di jalan,  bersihkanlah hati yang pekat ini untuk mudah dicelupi cahaya-Mu, illahi Rabbi.

Wallahu’alam bishowab

Semoga kita semakin semangat dalam menjalani setiap episode kehidupan yang dipersembahkan-Nya dengan segala cinta …

Friday, 23 September 2011

Menangislah

Dikisahkan tentang seorang yang menangis terisak kemudian tersungkur tak sadarkan diri. Setelah siuman, dia ditanya: “Ada apa dengan dirimu? Dia menjawab: “Selepas shalat aku berzikir, kemudian aku menghitung-hitung keadaan diriku. Aku mengadili diriku sendiri sebelum datang pengadilan Allah. Bila setiap harinya aku berbuat dosa, apakah karena lalai ibadah atau karena amal-amalku, berarti aku telah menabung 365 dosa setiap tahunnya. Umurku enam puluh tahun dan itu berarti 21.900 dosa yang harus aku pertanggungja wabkan. Padahal, tidak ada satu perbuatan walau sebesar biji zarah sekali pun kecuali akan diperhitungkan Allah SWT di hari kiamat nanti. Lantas betapa aku akan menghadap Tuhanku? Oh, alangkah sedikitnya bekalku untuk menempuh perjalanan yang panjang nanti,” ujarnya.

Orang tersebut menangisi dirinya sendiri, menghitung diri sebelum datang hari perhitungan yang sesungguhnya. Tangisannya adalah penyesalan. Dan setiap orang yang menangis dan menyesali dosanya adalah pintu menuju ke surga. Begitu tingginya nilai tangisan bagi hamba yang merindu sehingga Allah akan membebaskannya dari api neraka. Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan pernah masuk ke dalam neraka seorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah.” (HR at-Tirmidzi).

Bagi para perindu surga, lebih baik mereka merintihkan tangisan harapan walau sepi dari hiasan bunga pesta dunia, asalkan dia kelak tersenyum menatap Sang Kekasih di akhir perjalanannya. Kerinduan yang tidak terperi telah memenuhi butiran air mata kaum mukmin. Karena, dalam setiap butiran air matanya, dia menemukan wajah Tuhan yang tersenyum penuh welas asih.

Maka, deraikanlah air mata dalam tangismu yang merindu cinta. Cucurkan air matamu dalam denyut kecemasanmu akan nasib di hari akhir. Sesekali tariklah dirimu dari keramaian dunia untuk bertafakur dan menghitung diri. Engkau tak akan pernah menangkap bayangan wajahmu bila becermin di atas air yang deras dan keruh. Bayanganmu hanya tertangkap di permukaan air yang bening dan mengalir tenang.

Engkau tak akan menemukan wajah Tuhan dalam gelak tawa dan ingar-bingar pesta dunia. Gelak tawa demikian hanya akan menumpulkan ketajaman nuranimu. Ingar-bingar duniamu telah membuat kusam dan kotor kaca-kaca kalbumu. Sinarnya tertahan oleh daun-daun ambisi hawa nafsumu. Apalah artinya gelak tawa bila diakhiri dengan derai air mata dan tangisan penyesalan di hari kemudian?

Berbahagialah orang-orang yang pernah menangis dalam penyesalannya. Berbahagialah orang yang meneteskan air mata karena mewaspadai dirinya di hadapan Allah kelak. Berbahagialah orang yang menangis sebelum datang saatnya dia akan ditangisi. Berbahagialah para pemimpin yang terisak merintih getir memikirkan duka derita nasib rakyatnya. Menangislah sebelum datang suatu masa di mana malaikat pemutus segala kelezatan akan datang menghentikan segala desah napas dan membuyarkan segala impian. Wallahu a'lam.

*oleh: ustadz Toto Tasmara*
Sumber: Republika

Thursday, 18 August 2011

Penggugah Semangat Jiwa…


Imam Hasan Al-Banna pernah berpesan, kalian tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah kalian, lemahnya sarana dan kurangnya alat-alat pendukung, atau karena banyaknya musuh kalian, berkumpulnya musuh-musuh menentang kalian. Mengapa…? Karena walaupun semua isi bumi ini berhimpun menjadi satu memusuhi kalian, niscaya mereka tidak dapat membahayakan kalian kecuali apa yang telah ditentukan Allah kepada kalian.

Tetapi ada satu sebab yang dapat menghancurkan kalian, dan menyebabkan kalian kehilangan segala-galanya yaitu, JIKA HATI KALIAN TELAH RUSAK, Allah tidak memperbaiki amal kalian, suara kalian telah terpecah belah dan saling bertentangan pendapat. Sebaliknya selama kalian bersatu, selalu menghadap Allah SWT, senantiasa mengikuti dan taat kepada-Nya, berjalan sesuai dengan manhaj yang diridhai-Nya, kalian tidak akan pernah merasakan lemah dan hina. Jadilah kalian sebagai umat yang paling tinggi. Allah akan selalu bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan amal serta usaha kalian.

Subhanallah, pesan yang begitu mengena. Lemahnya semangat pasti senantiasa menghampiri kita, itu adalah hal yang biasa, yang luar biasa adalah, jika kita sadar, kemudian bangkit, dan tidak memberikan tempat sedikit pun pada setan untuk terus menggoda….

Satu lagi penggugah semangat jiwa, amat khusus untuk jiwa lemah seperti saya. Ku bersimpuh di halaman Allah, kusujudkan wajahku pada debu-Nya, tidak bisa ku sembunyikan hatiku dari pandangan Allah, tidak bisa, tetap ku ingin kembali pada-Nya….

Mulanya ku anggap mudah perjalanan ini. Dengan idealisme khas seorang remaja, kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajakku. Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan ini. Begitu pun arti perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagiaan manusia.

Agaknya kekurangpahaman ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuangan ku yang mengurungkan niat. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan. Namun aku tiada terganggu. Sementara jalan di hadapan ku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktu pun terus berlalu…Aku dan lainnya terus melangkah terseret-seret. Hampir seperempat abad usiaku aku habiskan di jalan ini. Dan kini makin kupahami tabiat jalan yang telah kupilih.

Entah sudah untuk yang keberapa kali lutut ini bergetar. Nafas pun mulai tersengal. Kadang kujumpai seseorang berdiri di tengah jalan. Ia tampaknya tidak menyukai kehadiranku. Tapi aku harus melewati jalan itu. Dengan segenap kemampuan kuhadapi ia. Terkadang saudara-saudaraku tinggal diam, membiarkan ku berkelahi sendirian.

Entah berapa kali sudah aku tersungkur. Orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan. Tapi aku tidak mau peduli. Masih pekat kepercayaan ku, Ia yang akan kujumpai di sana senantiasa akan memberikan kekuatan gaib-Nya kepadaku.

Kini di hadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak-semak liar, yang menatap kami dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak yang mengejek. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap jalan itu. Kupertajam tatapanku ke arah tebing angkuh tadi. Samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang-orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat adanya jejak sama sekali.

Dan babak baru perjalanan pun kami mulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya. Akupun harus melangkah naik.

Ah…seorang saudaraku tegelincir, tepat di sebelah ku! Kuulurkan tangan menahan lajunya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku turut terseret. Namun ia tidak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakanku pun semakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mengerti, ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan lain yang lebih ramah, walau entah menuju ke mana….

Bahkan sempat kudengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudaraku yang dulu turut membimbingku melewati masa-masa awal perjalanan. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka!

Di setiap jalur yang kami tempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempat kami melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya Ia akan menurunkan pembantu-pembantu-Nya untuk menghibur kami, orang-orang yang mendambakan perjumpaan dengan-Nya. Di sini aku biasa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah.

Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba ku atasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati.

Namun ampuni aku ya Rabbi. Betapa seringnya hamba tertegun ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi.

Kini pun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini? Akankah Kau hargai, apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu? Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu? Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!

Ada kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini kutempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa, dengan nyali melebihi singa. Mereka mempertaruhkan segalanya, hatta nyawa sekalipun. Mereka meyakini dan merasakan, meregangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan sang Kekasih.

Ada terpikir olehku untuk melewati pula jalan itu. Namun aku cukup arif untuk menyadari, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah aku ini, dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu, untuk membuktikan kecintaan kepada–Nya? Betapa lancangnya aku mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malam-malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cinta-Nya. Dan aku pun harus bersabar…..

Kupandangi tanah datar di hadapanku. Di salah satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah ke sana. Gemericik suara dedaunan dan teriakan serangga ilalang menemani kesunyianku.

Kulepas alas kaki. Hati-hati kumasukkan kaki ke beningnya air. Terus menuju ke tengah-tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah dan kepala, dan segera kurasakan kesegaran yang luar biasa. Selanjutnya aku telah tertunduk di sebongkah batu besar di tengah-tengah kali.

Sejuta pikiran dan angan bersatu di benakku. Perjalanan panjang telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas di benakku.

Tapi sampai berapa lama aku berada dalam kesunyian seperti ini. Gunung diam di hadapanku justru mempertebal kebosananku. Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku. Kulihat sekelilingku… Sepi…

Aku harus segera berlari, kembali ke rombongan. Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi. Aku harus bergabung bersama mereka, kembali melintasi semak berduri. Seraya terus menetapkan angan, akan suatu peristirahatan abadi. Akan suatu taman yang rindang, yang kaya dengan aneka buah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai……

Ya Rabbi, walau berat kurasa, tetapkanlah kakiku di jalan dakwah ini…….. selamanya……

 Maraji’:

  1. Ibnu Ibrani, di majalah Islah
  2. Syaikh Musthafa Masyhur, Al-Qiyadah wal Jundiyah
Sumber: dakwatuna

Monday, 27 June 2011

Membebaskan Diri dari "Mental Block"


Dua bulan berada dalam kungkungan rutinitas kantor, bikin saya jenuh yang amat sangat. Bahkan tadi ketika memasuki gerbang kantor, secara refleks terlontar kata-kata: Saatnya berjuang, berjuang tuk membunuh rasa bosan dan jenuh

Ya, dua bulan ini aktivitas saya di gedung ini cuma berhubungan dengan berkas-berkas, berhadapan dengan kompi yang setia membawaku menjelajah dunia, jurnal-jurnal, dan sebagainya... hooo.... sungguh daku kangen ngelab

Baca-baca tulisan di dunia maya, nemuin artikel yang bagus banget. Pas banget nih buat di-sharing. Sumbernya dari kompas.


Membebaskan Diri dari "Mental Block"

Sekelompok eksekutif di divisi penjualan pada sebuah perusahaan dengan nama besar mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk bersaing, survive, dan menembus pasar. Tim yang menjadi ujung tombak untuk mencetak profit ini pun ketar-ketir dengan masa depan perusahaan. Kompetitor yang begitu agresif dengan berbagai terobosan telah merebut pasar mereka. Kini, mereka seakan tertampar karena menyadari selama ini alpa mendorong kreativitas sebagai sumber energi di dalam tim dan organisasi. Kita lihat, bukan lagi perlombaan modal yang kita hadapi sekarang, melainkan perlombaan kreativitaslah yang akan menentukan siapa yang melesat ke depan.

Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan business as usual. Istilah think out of the box bahkan sudah tidak relevan lagi karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy.

Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "kotak" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan kerangka pikir lama? Cepat atau lambat, semua keterikatan, peraturan, atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, perlu ditinjau kembali, dan diperbarui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang harus setiap saat berpikir beda?

Sadar tidak sadar, kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, melainkan kita justru kerap menerima bahwa kita sudah terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi, dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya kita mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, "Mungkin saya memang tidak kreatif...."

Terobosan, pembaruan, dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreativitas yang istimewa. Secepatnya, kita harus segera berpikir bahwa box yang kita rasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Di saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti, dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.

Berpikir = saat bergembira
Kita sering merasa sudah menggunakan daya pikir kita secara all out, apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita merasa stres dan lelah. Seorang teman berkomentar, "Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"

Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah, anggapan bahwa "berpikir" adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir. Sementara, ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, "The brain is a wonderful organ. It starts the moment you get up and doesn’t stop until you get into the office."

Marilah kita memerhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang pintar, logis, ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan, tidak membuatnya stres, bahkan membuatnya bahagia.

Bagaimana dengan kita dalam situasi kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat kita memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha se-rasional mungkin? Kita pun kerap membatasi berpikir hanya di saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi, kita sering menginstruksikan diri kita untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, dan perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa mental block sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah memblok mental, tentunya akan mati langkah.

Asik berpikir dan mengamati
Seorang teman mengatakan bahwa saat sekarang orang sudah tidak perlu susah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua informasi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan pada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila kita sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan, apa bedanya kita dengan orang yang hidup di era 30 tahun yang lalu?

Seorang teman selalu berkeyakinan bahwa solusi tidak datang begitu saja. Itu sebabnya dia piawai dalam proses mencari jalan keluar. Ia terbiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong, dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak ia ketahui. Ia pun terbiasa menikmati film, memerhatikan gambar, bahkan menunda rapat untuk "mengendapkan" masalahnya semalaman.

Banyak tokoh yang kita kenal luas dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan ke mana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung, dan matanya tajam-tajam, dan menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membaca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?

Hiiiii.... jangan sampai deh, aturan-aturan kantor menghambat kreativitas kita

Tuesday, 10 May 2011

Arti kehadiranmu


Bermacam kisah kudengar, tentang kehadiran dalam kajian pekanan. Kurekam baik-baik dalam ingatan. Dan inilah kisah-kisah itu...


Ada seorang bapak, penjual bubur ayam di daerah trans. Untuk bisa datang ke kajian pekanan, dia harus meliburkan diri 3 hari dari menjual buburnya karena jarak tempat mengaji yang cukup jauh dari rumahnya, di kota. Karena kondisi ekonominya yang pas-pasan, dia sering kesulitan ongkos. Hingga ia memilih naik sepeda tuanya, seharian. Ya, seharian! Menuju tempat kajian. Nasib mujur kalau ada truk besar yang mau ditumpangi. Maka ia dan sepedanya bisa menumpang barang sebentar, mempersingkat jarak dan menghemat tenaga. Tetapi itu jarang sekali.

Hari kedua, ia gunakan untuk mengaji di kota. Sekaligus menghadiri berbagai kajian lain yang memungkinkan, mumpung ke kota.

Lalu hari ketiganya, ia kayuh lagi sepeda tuanya seharian, pulang ke rumah. Dan itu terjadi sepekan sekali. Dia rela hanya bekerja 4 hari dalam seminggu, demi kajian pekanan yang tak ingin ia cederai.

Ada juga seorang ibu rumah tangga, tinggal di ibukota, yang untuk datang ke kajian pekanan, karena tak ada ongkos dan suaminya lama belum pulang dari ikhtiar mencari nafkah, dia terpaksa menjual beberapa peralatan dapurnya ke tukang rombeng. Tak ada yang mengetahui hal ini, kalau saja tak secara kebetulan ada teman satu kajian yang sedang berkunjung ke rumahnya, dan melihat transaksi jual beli itu. Yang lalu dia ceritakan pada guru ngajinya, dan disambut rasa trenyuh oleh sang guru.

Lalu ada lagi, seorang ibu rumah tangga, sebut saja Arni, masih di ibu kota, saat harus hadir dalam kajian pekanan, dengan malu-malu dia sms pada guru ngajinya,
“Bu, maaf… boleh tidak nanti siang saya ijin tidak datang? Saya tak punya ongkos untuk pulang balik ngaji ke tempat ibu. Suami juga belum pulang jadi saya gak bisa minta ongkos”
Trenyuh gurunya membaca sms itu. Menitik perlahan air matanya, diketiknya balasan via sms, “Bu, ibu masih punya ongkos untuk sekali jalan ke sini? Kalau ada, silahkam datang, Semoga Allah mudahkan”.
Tak ada lagi balasan dari bu Arni.

Beranjak guru itu menyiapkan sedikit bingkisan untuk anak-anak bu Arni, juga menyelipkan selembar uang biru bergambar I Gusti Ngurah Rai ke dalam amplop, sekedar pengganti ongkos untuk binaannya. Sambil tetap berharap, bu Arni akan datang.

Lalu, saat siang tiba, dengan berdebar, guru itu menunggu kedatangan bu Arni. Apakah ia akan datang?
Subhanallah.. ternyata bu Arni datang, tampak kerepotan membawa serta 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Si guru mengelus dada, berlega hati, dan sembunyi-sembunyi menitikkan air mata.
Saat kajian usai, dia serahkan bingkisan dan amplop itu pada bu Rani, yang disambut dengan wajah terperangah campur malu “Haduuh, gak usah ibu, Kok jadi repot begini”
“Ini rizqun minal-Lah, tidak baik kalau ditolak bu. Kalau ibu tidak berkenan, mungkin anak2 tetap membutuhkan”, kata si guru.
Dan berangsur, Bu Rani menerima bingkisan dan amplop itu, sambil memeluk gurunya, hangat..

Di sudut ibu kota yang lain, seorang ummi bingung, dari 10 binaannya, kenapa yang datang sekarang hanya 2-3 orang saja. Dia tanyakan pada yang hadir, mungkin ada yang tahu kabar temannya. Salah seorang lalu berkata, ”Iya nih Mi, si A sms saya, minta dipamitin ke ummi, katanya hari ini dia lagi tangggung, lagi perawatan cream bath di salon”
Masya Allah! Gara-gara cream bath lalu jadwal mengaji pun digugurkan? Si Ummi yang suaminya bekerja di luar pulau dan hanya pulang menengok anak istri sebulan sekali tersenyum kecut, berkata dalam hati, “Halah, lha saya kalau si Abi mau pulang gak gitu-gitu amat persiapannya. Ini yang masih gadis kok malah rajin amat ya perawatan? Sampe bolos ngaji?”

Saat yang lain lagi, seorang ibu muda memberitahukan lewat sms pada guru ngajinya,
“Bu, afwan gak bisa datang yaa. Saya mau kontrol bulanan untuk kandungan saya”

Hmm, dalam seminggu ada 7 hari. Apakah kontrol bulanan harus pada saat kajian pekanan? Apakah demikian sibuknya 6 hari yang lain hingga tak bisa mengagendakan untuk kontrol bulanan, sore atau malam harinya?

Lalu, pekan depannya lagi, ”Bu, maaf ijin tidak datang lagi. Saya mual benar hari ini”

Duhai, bukankah untuk mencetak kader mujahid sejati, justru mestinya sejak sang buah hati berada dalam kandungan? Bahkan jauh sejak sebelum itu, saat aqad nikah diucapkan? Jika seorang ibu yang hamil lalu tidak datang karena kajian dengan alasan mual, lalu bagimana jika mendapatkan cobaan yang lebih dari itu? Bagaimana kalau semua binaan semuanya sedang hamil, dan bersikap sama? Kosong melompong pada jam taklim?

Ayolah sayang, kita lawan rasa mual itu, jika kau ingin janin dalam perutmu menjadi mujahid tangguh. Lupakah kau, waktu aku ceritakan tentang kisah seorang ummahat yang sudah menunggu hari melahirkan, tetapi tetap bertekad baja datang ke kajian? Hingga akhirnya benar-benar mulas perut siap untuk melahirkan, saat sedang kajian?

Teringat si guru akan ucapan Sang Murabbi, Ust Rahmat Abdullah alm, saat sering mengikuti kajian di IQRO Islamic Center, ”Kalau kaki belum benar-benar gempor, tak ada alasan untuk tidak datang ke kajian”
”Ya ustad, sungguh aku rindu tausiyahmu…” desahnya dalam hati.

sementara di kesempatan yang lain, seorang ummi bingung, karena salah satu binaannya lama tak terdengar kabar berita. Sudah dua kali kajian. Datang tidak, memberi kabar pun tidak. La salam wa la kalam. Akhirnya, si guru menelponnya. Ah, ternyata dia malu untuk minta ijin, karena 2 pekan sebelumnya dia sulit menolak ajakan teman-teman SMA-nya untuk reunian. Sementara sepekan yang lalu, sebenarnya sudah siap mau berangkat, tetapi tiba- ada ada tamu saudara jauh yang datang.
Tinggal si ummi garuk-garuk kepala. Sangat berharap pekan depan tidak ada lagi alasan bagi si gadis untuk tidak datang.

Di suatu kota, ada seorang ibu yang lapor via sms pada guru ngajinya, sesaaat setelah jadwal kajian usai dan dia tak nampak hadir,”Bu, maaf ya tadi gak bisa hadir. Anak-anak mendadak ngajak berenang”
“Ya Rabb, semoga besok-besok lagi anak-anak itu tidak mengajak ibunya berenang pada saat jam kajian” kata si guru, dalam hati.

Lalu, di pinggiran ibukota, seorang ibu muda yang juga pekerja, bingung saat esok hari dia tak bisa hadir kajian pekanan karena sedang bertugas di luar kota.

“Bu, maaf besok tidak bisa hadir. Saya ada tugas ke luar kota. Mmm, iqob untuk saya apa bu? Gak enak hati nih jadinya”

”Wah tugas keluar kota lagi ya? Seperti kesepakatan, selain infaq 10% sisa uang SPPD, sekarang tambah dengan hafalan Surat Al-Mumtahanah dan buat makalah 4 lembar tentang peran akhwat dalam dakwah ya” balas gurunya via sms.

”Gleg, banyak juga nih PR-nya. Ya sudahlah, Siapa suruh gak datang kajian pekanan. Bismillah, semoga pekan depannya bisa, sambil menyetor iqob hafalan dan makalah,” begitu tekadnya dalam hati.

Lalu, aku pun tertunduk malu
Dimana aku berdiri, kini?
Dimana pula kau berdiri, kini?



sumber : email dari milis sebelah, atas nama Faturrahman...

Wednesday, 3 November 2010

Dua umar dan gempa bumi


Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"

Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"

Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.

Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."

"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15).  Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."

"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."

Jika saja kedua Umar  ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras,  inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Wallahu a'lam.

sumber: Republika

Saturday, 30 October 2010

Agar Cinta Tak Bertepuk Sebelah Tangan


Karena pembuktian cinta haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang kekasih percaya bahwa kita mencintainya.

Engkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima ujian, rusak oleh pujian, tidak sepenuhnya menerima pimpinan dan tidak begitu setiakawan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban, tidak sanggup terima cobaan dan hanya ingin jadi pemimpin agar pengikut menjadi agak segan 
Engkau ingin berjuang, tapi kesehatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan dan waktu tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, tapi dirimu tidak engkau tingkatkan, disiplin diri engkau abaikan, janji kurang engkau tunaikan dan kasih sayang engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, tapi para tamu engkau abaikan, anak isteri engkau lupakan dan ilmu berjuang engkau tinggalkan
Engkau ingin berjuang, tapi pandangan engkau tidak diselaraskan, rasa bertuhan engkau abaikan dan iman taqwa engkau lupakan
- Qathrunnada -

Benarkah engkau seorang pejuang? Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah, sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid, namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sindir di dalam Al Qur’an, “Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)

Sang Pejuang Sejati

Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3:142)
Ya, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan hukum ekonomi kapitalis, “Mendapatkan output yang sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input yang seminimal mungkin.” Aduhai…, sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara yang besar. Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW bersabda, “Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah.”Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang. Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang nyata. 
Demi Allah…, keimanan bukanlah dilihat dari yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan bukan pula dari yang paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang paling banyak simbol-simbol keagamaannya. Karena itu semua hanya sesaat. Sesungguhnya keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur’an. Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal akhir, surga.

Pengorbanan

Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda’wah, sudah menganggap diri telah melakukan totalitas perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan da’wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5, "....Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam." Pun dalam surat Al Muzzamil, “Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah." Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk menegakkan Al Haq.Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian. Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap mendapatkan syurga? Sangatlah jauh… bagaikan punduk merindukan rembulan. Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Mush’ab bin Umair dan para sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup. Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela menikmati dunia yang melalaikan. Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya surga dan neraka. Ada amanah da’wah yang besar di pundaknya, lantas bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak bercanda? Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan “keseriusan” atau tidak banyak bergurau sebagai bagian dari 10 wasiatnya. Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan. Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah- jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir. Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak ketika Al Qur’an dibacakan di dalam pembukaan ta’lim. Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur’an itu baru sampai di tenggorokan saja. “Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk ke dalam hatinya).” (HR. Muslim). Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi…, ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu…Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang pergerakan dan mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.

20 Muwashofat Sang Pejuang

Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki pejuang, yang disarikan dari Al Qur’an dan hadits, yaitu :
1. Aqidahnya bersih (saliimul ‘aqiidah)
2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)
3. Ibadahnya benar (Shohiihul I’baadah)
4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)
6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun ‘alal kasbi)
8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun ‘alal waqti)
9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi)
10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun ‘anisy syubuhat)
11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul lisaan)
12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun filhaqqi)
13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul ‘afwi)
15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq, Al-amanah-wasyja’ah)
16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun fil’amal)
17. Rendah hati (Tawadhu’)
18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’)
19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun lighoirihi)
20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir (Asysyidda’u ‘alal kuffar)

Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria (muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita terkena hadits ini, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya.” (Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita. 
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya….” (QS. Al Maidah : 54 – 56).


*diambil dari Hudzaifah.org, lupa kapan tepatnya -artikel yang sdh lama disimpan-*


Thursday, 2 September 2010

10 Jam, 10 Juz, dan 10 Ribu Pembaca Alquran

Start:     Sep 5, '10 08:00a
End:     Sep 5, '10 6:00p
Location:     Masjid Baitul Ihsan (Bank Indonesia)
akhirnya.... acara ini akan diadakan lagi, setelah tanggal 2 agustus kemaren (di At-Tin) sy tidak berkesempatan untuk hadir :-)
semoga kali ini Allah memberikan kesempatan bagi saya dan teman-teman untuk hadir... amiin


eramuslim: Lembaga dakwah Daarut Tarbiyah (DATA) akan menggelar acara “10 Jam, 10 Juz, dan 10 Ribu Pembaca Alquran” di Masjid Agung At-Tin, Jakarta, pada 29 Agustus 2010 mendatang. Menurut Pimpinan Daarut Tarbiyah, Fadlyl Usman Baharun, ini merupakan momen untuk meningkatkan kecintaan kepada Alquran. Fadlyl berharap masyarakat kemudian akan semakin dekat dengan Alquran. “Kita ingin mencoba menghadirkan nuansa Alquran, minimal sehari dalam seumur hidup, dengan sama-sama membaca Alquran,” kata Fadly. Di acara tersebut, masyarakat membaca 10 juz Alquran dalam waktu 10 jam.

Pembacaan Alquran mulai dari pukul 08.00 sampai 18.30 WIB. Para peserta membaca sendiri-sendiri, seperti Yasinan. Namun, acara ini dipandu seorang pimpinan yang kemudian seluruh peserta diminta mengikuti bacaannya. Fadlyl mengatakan, mereka yang masih terbata dalam membaca Alquran tak perlu khawatir. Peserta dengan kondisi demikian, tetap bisa mengikuti acara ini tentu dengan membaca Alquran sesuai dengan kemampuannya. Fadlyl menjelaskan, biasanya seseorang yang membaca Alquran dengan lancar, membutuhkan waktu 40 menit untuk menghabiskan bacaan satu juz Alquran. Kalau agak lambat, mungkin membutuhkan waktu satu jam untuk satu juz. Selain membaca Alquran secara massal, acara ini juga diselingi dengan ceramah oleh sejumlah ustaz, yaitu Ahmad Sahal, Ali Akhmadi Al-Hafidzh, dan tazkiyatun nafs oleh Ustaz Ibnu Jarir. Acara ditutup dengan buka puasa bersama.

Daarut Tarbiyah menyelenggarakan acara serupa di Balikpapan dan Samarinda pada 15 Agsutus, Mataram 21 Agustus dengan menghadirkan 300 orang, dan Palembang pada 22 Agustus 2010. “Di Palembang acara dipusatkan di Masjid Al-Aqobah yang dihadiri 1.000 lebih pencinta Alquran,” kata Fadlyl. Ia menyatakan, setelah di Masjid Agung At-Tin, hal serupa akan diadakan di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, pada 5 September 2010. Daarut Tarbiyah yang terkenal melalui kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (MABIT), kini juga mendirikan Rumah Alquran di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Wednesday, 25 August 2010

10 jam, 10 juz, bersama 10 rb hafidz

Start:     Aug 29, '10 08:00a
End:     Aug 29, '10 6:30p
Location:     Masjid At Tin Jakarta
Mari raih keberkahan Ramadhan dengan menghadiri acara ini.
Bersama Ust. Ahmad Sahal, Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf (al-Hafidz)
Muhasabah: Ibnu Jarir.
Dianjurkan membawa bekal ifthor masing-masing...
Semoga dimudahkan untuk datang.

*info dari seorang ukhtifillah*

Friday, 20 August 2010

Death note: Dia meninggal di tanganku!

Denyut nadinya makin melemah, kakinya mulai dingin... matanya yang basah mulai menutup... Innalillahi wa innailaihi rajiun... nenek ini telah tiada. Kutempelkan cermin ke lubang hidungnya untuk memastikan lagi. Tidak berembun! Benarlah ia sudah tidak bernafas lagi, "nenek sudah meninggal..." dan langsung saja anak-anak dan cucu dari sang nenek menangis histeris. Sayapun bergetar melihat ini... Dia meninggal di tanganku! Subhanallah baru kali ini diberikan kesempatan untuk menyaksikan langsung proses terlepasnya ruh dari jasad... begitu nyata! Kematian begitu dekat!

Jantungku berdegup kencang, bagaimana jika ini terjadi kepadaku? yakinkah aku bisa mendapatkan tempat yang tenang "di sana"? ...perasaan resah, gundah, gelisah... tak bisa diungkapkan dengan kata-kata...


Maha suci Allah yang selalu mengingatkan hamba-Nya kan sebuah kepastian yang dijanjikan.. Vonis kematian untuk kita.. tapi kenapa vonis dokter itu lebih menakutkan dibanding vonis Allah?? padahal janji Allah itu pasti...

Dulu semasa kecil saya sering diberikan nasehat oleh orang-orang tua saya. Kata mereka kematian itu ibarat jatuhnya buah kelapa dari pohonnya. biasanya kelapa tua yang jatuh karna fisik sudah tidak bisa menopang namun tidak jarang pula kelapa muda, “bluluk” atau bahkan manggar (yang masih berbentuk bunga) pun terjatuh.

Ia datang tanpa mengenal usia... Itulah kematian...

Kematian memang menjadi misteri besar dalam hidup, menurut Qatadah ia adalah satu diantara lima perkara yang hanya diketahui oleh Allah. Tidak ada seorang manusiapun yang tahu kapan datangnya waktu itu, bahkan malaikat yang dekat dengan Allah ‘Azza wa Jalla sekalipun.

Dia akan datang meskipun kamu mencoba berlari darinya, dia akan hadir meskipun engkau berlindung dibalik teknologi kedokteran tercangih dan jutaan dokter terbaik sekalipun. Dia sekali-kali tidak akan tertangguh (bi idznillah). Tidak ada sesuatu apapun yang mampu menyelamatkan diri dari kematian.

Engkau juga tidak akan tahu di bumi manakah engkau akan mati, di daratankah atau di lautan. Di daratan datarkah atau di pegunugan, di medan perang kah atau di tempat pembaringan. Sungguh bila Allah telah menghendaki engkau mati di suatu tempat maka Allah akan menciptakan urusan yang akan membawamu ke tempat yang telah ditentukan. Selaras dengan matan sebuah hadist shahih riwayat Al Hakim :
“jika Allah hendak merenggut nyawa seorang hamba di sebuah tempat, maka Allah ciptakan sebuah keperluan yang menjadikan hamba tersebut berkunjung ke tampat tadi”
Hingga seorang prajurit perang pun belum tentu akan mati di dalam medan pertempuran. Khalid bin Walid ra di saat ajalnya datang, sementara ia berada dalam pembaringannya : “Aku telah mengikuti berbagai peperangan. Tidak ada satupun dari anggota tubuhku, kecuali disana terdapat luka karena tusukan atau karena anak panah. Akan tetapi, kini aku mati di atas pembaringanku...”

Wahai jiwa yang lemah, persiapankanlah diri ini untuk menyambut tamu yang pasti akan datang, sedang engkau tidak tahu kapan tamu itu akan datang. Ketika ujian kita berjuang keras untuk menguasai seluruh materi karena memang belum tahu materi manakah yang akan keluar dalam ujian. Kita bisa belajar SKS karena tahu kapan jadwal ujiannya. Berbeda halnya bila ujian itu tidak ada jadwalnya dan bisa datang kapan pun, tentu kita akan berusaha belajar setiap bila ada kesempatan untuk itu.

Begitu juga dengan kematian, harusnya kita juga bekerja keras untuk melaksanakan amalan dan menjauhi larangan setiap saat. Karena kita tidak tahu kapan waktu itu datang. Bisa besok, lusa, bisa juga sekarang. Dalam kitabnya “Ahaditsul Jumu’ah”, ustadz Hasan Al Banna mengatakan,“Kematian merupakan suatu seni tersendiri. Terkadang ia menjadi suatu seni yang indah meski terasa pahit. Bahkan mungkin menjadi sebuah seni yang paling indah bila dirancang oleh seniman yang sangat mahir.” Para Nabi dan Rasul, para shahabat, dan para mujahid sama dengan kita, mereka pun tidak dapat mengatur datangnya kematian, namun keahlian mereka adalah bagaimana “memilih” cara untuk menghadapi kematian. Mereka tidak mau saat kematian datang sementara mereka dalam kemaksiatan, dalam keadaan hati yang lupa pada Allah, dan dalam keadaan yang sia-sia belaka.

Tentunya hal ini dilakukan dengan cara mengisi setiap detik kehidupan dengan amalan sholih, dengan dzikir pada Allah dan berserah diri kepada-Nya serta segera bertaubat bila diri terlena dari-Nya. Hingga bila dilihat secara statistik probabilitas untuk husnul khotimah menjadi lebih besar (bi idznillah).
 
“...Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu, Allah maha mengetahui segala isi hati...” (QS Ali Imran : 154)

Dalam tafsir Ibnu Katsir di sebutkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memberikan ujian dengan peristiwa yang menimpa kalian untuk memisahkan yang buruk dari yang baik serta menampakan perbedaan orang-orang mukmin dengan orang-orang munafik kepada umat manusia, dalam ucapan maupun  tingkah laku mereka...

Saya berpendapat bahwa rahasia kematian adalah salah satu nikmat Allah yang patut disyukuri.

Sungguh andaikan saja ajal itu sudah diketahui, tentunya mungkin ada orang jahil yang “sengaja” bermaksiat dulu sepuasnya baru setelah diketahuinya ajal telah dekat maka sekonyong-konyong ia akan bertaubat dan beribadah dengan giat.

Maha Suci Allah yang telah mengatur ajal itu sedemikian rupa. Sehingga orang  dituntut untuk selalu berada dalam keshalihan dan segera bertaubat bila lalai kepada Allah, karena ajal bisa datang kapanpun dan dimanapun. ia juga tidak melihat apakah dia sedang maksiat ataupun dia sedang bertaubat. Hingga Allah dapat menampakan mana orang yang mukmin dan mana orang yang munafik kepada umat manusia...

Maha Suci Allah...

Di Lauhul Mahfuzh sudah ditulis Death note kita. Semoga kita dan orang-orang yang kita cintai mendapatkan husnul khotimah dan kedudukan yang mulia di sisi Allah, dan semoga kita yang masih dalam antrian ini diberikan hidayah, inayah dan kekuatan oleh Allah agar tetap dalam keimanan dan ketaqwaan hingga ajal menjemput, amien...
Allahu a’lam bi shawab




Untuk keluarga nenek (tetanggaku) semoga diberi kesabaran...
Referensi dari sini, dengan beberapa perubahan



--tulisan di pagi ini, mudah2an bisa jadi penyemangat aktivitas sepanjang hari ini--
Ramadhan ke-11, Sudah berapa juz tilawah Ramadhannya?
Sudah seberapa tercapai target Ramadhannya?
terus mengejar pelangi...