Showing posts with label tafakuralam. Show all posts
Showing posts with label tafakuralam. Show all posts

Friday, 14 January 2011

Gunung Kapur: Jalan-jalan after nge-Lab


meluncur atau memanjat ya?? seru juga kayaknya.

Rabu kemarin, sempet jalan-jalan (sebenernya di sempet-sempetin) ke tirta sanita hotspring di daerah Cisarua. Baru tau juga sih dari internet kalo disana ada gunug kapur. Gak terlalu jauh dari lab Puspitek serpong. So, abis ngeLab, saya, mba li and mas kur langsung meluncur kaesana (sekitar jam 16), menikmati sepanjang jalan dengan kehangatan mentari sore.... Jalan ke sana pake motor cuma 20 memit dengan kecepatan 50 Km/jam (naik turun sih, karena jalanannya rame).

Sekilas review:

Tempat ini menawarkan pemandian air panas alami yang berasal dari gunung kapur Ciseeng. Air panas tersebut dapat menyembuhkan penyakit kulit, tulang dan lain sebagainya, bahkan sudah diuji oleh TEMAC Thai Engineering Materials Analysis C. Ltd.

Kalo libur: Tiket masuk ke lokasi sebesar Rp 8.000 untuk dewasa dan Rp 6000 untuk anak2. Di dalamnya terdapat kolam renang anak2. Kolam tersebut ukurannya kecil dan saat itu cukup padat oleh pengunjung. Lalu ada lagi pemandian untuk dewasa, sebesar Rp 7.000 per orang untuk kamar biasa (ukuran 2×2 m) atau Rp 10.000 per orang untuk kamar VIP (ukuran 4x4m). Tapi tempat pemandian ini suka Full..

Selain pemandian air panas, di Tirta Sanita juga terdapat taman, bukit kapur, area outbound dan juga beberapa permainan anak. Memang kawasannya tidak terlalu luas, tapi lumayan untuk beristirahat sejenak. Jika kita menaiki bukit kapur, maka dari atas kita dapat melihat pemandangan yang cukup indah. Hamparan sawah dan pepohonan membuat suasana hati menjadi sejuk, walaupun cuaca di lokasi cukup panas.

Jangan takut akan kelaparan atau kehausan, karena banyak sekali penjual makanan & minuman di dalam kawasan ini. Bahkan begitu Anda duduk, langung ditawarkan kelapa muda juga makanan lainnya. Berhubung cuaca yang cukup panas, minum sebutir kelapa muda menyegarkan tenggorokan yang kering. Harganya pun cukup murah, hanya Rp 5.000. Disana juga terdapat sebuah panggung hiburan, yang saat itu menampilkan musik live yaitu dangdut .

Di sana juga terdapat area outbound, yang berupa flying fox, meniti tali seharga Rp 25.000 / orang. Flying foxnya cukup tinggi lho. Juga terdapat arena mainan anak2 yang berupa mobil/motor yang menggunakan batterai dengan harga Rp 5.000, dan motor kecil yang menggunakan bensin dengan harga Rp 7.000 masing2 selama 15 menit.

Ada juga restoran yang menyajikan makanan dengan harga cukup terjangkau. Rasanya pun lumayan enak, restoran ini terletak di tengah danau. Tidak jauh dari restoran terdapat sebuah bangunan,yang ternyata penginapan. Penginapannya sederhana, tapi tiap kamar dilengkapi AC. Tarifnya Rp 135.000 untuk yg kamar mandi di luar, dan Rp 165.000 untuk kamar mandi di dalam. Juga tersedia untuk istirahat saja (per 6 jam).

Tempat ini bisa jadi alternatif untuk berwisata hemat bersama keluarga :)

Detail daftar harga nya, bisa dilihat dari webnya http://www.tirtasanitahotspring.com

Wednesday, 3 November 2010

Dua umar dan gempa bumi


Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, "Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"

Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah, "Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"

Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.

Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."

"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15).  Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."

"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."

Jika saja kedua Umar  ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras,  inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Wallahu a'lam.

sumber: Republika

Monday, 31 May 2010

Journey To 4 Cities: Gede - Pangrango

Setelah menikmati indahnya pagi di halaman masjid At-Ta'awun, menanti bulan tenggelam ddari balik hamparan kebun teh, kami pun bergegas untuk membersihkan diri dan menghadap sang pencipta dalam dhuha. Brrr... bener-bener dingin banget nih air di puncak. keren! rasanya badan jadi beku. tapi yang pasti jadi fresh banget. Segera kami menghangatkan badan dengan sarapan bubur ayam.. yummy juga makan bubur ayam pagi-pagi di puncak. Mobil-mobil yang penumpangnya semalam bermalam di sini ternyata masih banyak juga, ditambah beberapa mobil baru memasuki halaman masjid. Memang benar, masjid ini tidak pernah sepi. Selalu ramai... subhanallah, barakallah...

Perjalananpun dilanjutkan ke taman nasional gunung gede pangrango. kalau dari masjid At-Ta'awun ini lumayan jauh. Posisinya sudah masuk Cipanas, bukan Kab. Bogor lagi. Untuk mencapainya perlu naik 2 kali angkot kuning dari At-Ta'awun. tapi menyenangkan banget kok, soalnya jalannya gak macet kayak jakarta dsk, pemandangannnya juga bagus banget.., kebun teh, pegunungan, villa, dsb. dan yang pasti udaranya seger banget. makanya saya pribadi menikmati banget naik angkot di puncak ini. Terlihat juga Gunung Gede yang berdampingan dengan Gunung Pangrango. Subhanallah, Allah memang maha keren, menciptakan pemandangan sekeren ini...

Sebenernya ingin banget mendaki gunung gede ini, minimal melihat telaga biru atau air terjun Cibeureum, tapi untuk sekarang sepertinya belum bisa, karena diperlukan beberapa syarat untuk menuju tempat tersebut, apalagi itu termasuk jalur pendakian. hiks... akhirnya kamipun berjalan menuju pintu masuk kebun raya cibodas. Setelah membeli tiket, saya meminta peta kebun raya ini kepada petugas. Karena dengan adanya peta, akan lebih mudah untuk menjelajahi Cibodas ini, walau cuma bisa melihat gunung gede dan pangrango dari sini, hiks... T_T

Sebenernya jalur Cibodas ini adalah jalur pendakian yang paling aman dan yang paling banyak dilewati pendaki. 2 kilometer selepas Cibodas, jalan landai dan nyaman memotong Ciwulan, di sini bisa rehat sejenak di Telaga Biru sungguh menyenangkan. Setelah melintasi Panyancangan Kuda teruslah mendaki menuju pertigaan Cibeurem. Di sini ada air terjun Cibeureum yang indah. Saya berencana ingin mengunjungi air terjun ini T_T. Ada beberapa air terjun yang bisa dinikmati seperti air terjun Ciwalen, Cikundul dimana airnya berasal dari sungai yang sama. Didaerah ini juga katanya ada Goa Lalay or Goa kelelawar. Jika naik ke atas lagi akan bertemu sungai air panas, suhunya air panasnya berkisar 75' c tetapi katanya sih bisa berubah menjadi sangat dingin saat hujan turun. Setelah mendaki melewati Lebak Saat atau lembah tanpa air dan Kandang Batu nanti akan menemukan pos Kandang Badak. Nah di kandang badak ini ada persimpangan. Yang ke kiri menuju puncak Gede, dan yang ke kanan menuju puncak Pangrango. Puncak Pangrango jarang didaki karena datarannya sangat rimbun dan sepi, dari sini katanya akan terlihat alun-alun Mandalawangi. Jika ingin ke puncak Gede dari Kandang Badak belok ke kiri menuju puncak Gede melewati Tanjakan Setan, selepas tanjakan akan ditemukan kawah Ratu dan Kawah Wadon, kawah Baru,kawah Lanang serta kawah Sela dan terakhir kawah gunung Gede di ketinggian 2958 mdpl dengan uap belerang yang menyengat. i hope, one day i can climb the mountain...
Anyway, ternyata ada lokasi baru di kebun raya cibodas ini, diantaranya sakura garden. Taman ini letaknya di antara bukit. Bersebelahan dengan Rhodhodendron  garden yang Indah juga. 

So untuk mencapai lokasi ini, kita harus menuruni bukit yang lumayan terjal. Taman dikelilingi dengan pohon bunga sakura. Tapi sayang pohon ini hanya berbunga 2 kali setagun (Jan-Feb dan Agust-Sep). 

Ditengah-tengahnya ada jalan air, mirip sungai kecil yang jernih lengkap dengan batu-batunya. Banyak anak-anak main air disini. tempatnya cukup aman untuk anak-anak, tapi tetap harus dengan pengawasan orang tua. Ada juga air terjun buatan (Air terjun Cibogo). pokoknya it's a cozy place to rihlah with your family.

Setelah puas futu-futu dan jalan-jalan di taman ini, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki bukit seberang... terus... dan terus... lumayan juga bikin ngos-ngosan. Apalagi pake acara dikejar tawon hutan segala.. fhhuhhh, bener-bener capek. gak tau berapa panjangnya melintasi bukit-bukit ini, yang pasti naik turun, dan akhirnya sampailah kita di Kolam besar dan lapangan luas. tempat yang biasa saya kunjungi kalau ke sini. bedanya kali ini lewat jalur yang berbeda. Jam saya menunjukkan pukul 09.30 WIB. Hmm... pantesan masih lowong nih tempat, soalnya biasanya sih ramenya sekitar jm 11-an. Begitu juga kalau berangkat dari jakarta, biasanya sampai sini sekitar jm 11.

Tidak menyia-nyiakan pemandangan yang indah ini, kami mengambil anggel yang bagus untuk diabadikan dalam kamera *futu-futu lagi*. Tiba-tiba seorang bapak tua *atau kakek ya?* berseragam LIPI menghampiri saya dan dewi yang lagi asik dengan kamera kami, "ngapain foto-foto kok susah banget kayaknya?" dengan senyum yang ramah beliau menyapa kami. "iya nih pak, soalnya kita cuma berdua, jadi harus pake timer kameranya supaya bisa foto berdua." jawabku. Bapak yang ramah, kamipun berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Ternyata pak Samsuri ini *namanya* adalah pegawai unit konservasi kebun raya cibodas ini. Sayangnya dia pensiun bulan Mei ini... dilihat dari mimiknya waktu berbicara, sepertinya beliau begitu sedih... mungkin sudah sangat mencintai pekerjaannya dan lingkungan disini.

Pak Samsuri bercerita banyak kepada kami, tentang keluarganya, anak-anaknya, pengalamannya sejak masih muda dalam mendaki gunung gede, gunung pangrango, juga pengalamannya semasa menjadi petugas konservasi cagar alam ini. Mendengar ceritanya, kami bisa merasakan serunya mendaki gunung gede... sangat persis apa yang digambarkan literatur2 yang saya baca tentang gunung gede. Mendengarnya membuat keinginan saya untuk mendaki gunung gede semakin besar. tapi keinginan itu saya urungkan, mengingat dulu semasa di kampus pernah mengusulkan kegiatan pendakian ini ke proker DKM, tapi segera 'dikomentari' oleh mba2 dan mas2 DKM... hiks.. hiks.. T_T

Jam menunjukkan pukul 11 siang. Pengunjung mulai berdatangan, membuat suasana semakin ramai. Pak Samsuri mengajak kami untuk melihat Air Terjun Ciismun. Kami setuju. Sejak kecil saya kesini saya belum pernah mengunjungi air terjun ini, hmm... jadi penasaran. 

Jalan menuju air terjun Ciismun ternyata sangat dahsyat. terjal, berliku, penuh onak dan duri (apa coba??). pokoknya saya sarankan jangan membawa oarang yang sudah renta ke air terjun ini... kasihan! kalaupun mau, anda bisa lewat pintu cipanas (pintu belakang kebun raya cibodas) karena jalannya lebih landai. Pak Samsuri jalan di depan dengan lincah, begitu juga saat melewati batu-batu kali. Sepatu Pantofelnya menginjak batu2 kali dengan cekatan. Padahal walau pake sendal gunung, saya dan Dewi sangat berhati-hati banget, takut tergelincir. Hebat juga nih si bapak...

Subhanallah... Kelelahan yang dirasakan segera sirna saat melihat air yang memacar dari atas ditopang oleh tebing yang kokoh. it's very amazing ^_^ Air Terjun Ciismun ternyata tinggi banget, sekitar 2x tinggi air terjun cibogo. Airnya deras sekali, mengalir ke sungai berbatu di bawahnya. Banyak orang yang basah-basahan dan foto2 di bawah air terjun. Mungkin ada sekitar 120 orang di sini. Awalnya saya hanya mau melihat air terjun dari jauh saja,  karena takut basah (maklum persiapan baju ganti dah habis). Tapi ternyata asik juga kalau mendekat ;-) gak sampai kena airnya sih, cuma kena percikan uap airnya. That's enough to make me (and also my soul) cool and fresh. Pokoknya refresh your self here ^_^

Untuk kembali ke Lapangan tadi, ternyata harus melewati jalan yang sama, tapi kali ini Menanjak!! beberapa kali kami berhenti untuk mengambil nafas... tapi Pak Samsuri berjalan dengan santainya. Beberapa kali kami bertemu dengan rombongan yang mau turun ke bawah, pak Samsuri tersenyum menyapa beberapa orang yang ia kenal. Sedang saya dan Dewi hanya bisa fokus pada tanjakan demi tanjakan di depan.. berharap cepat sampai ke atas lagi. Duh, kebayang deh tanjakan setan-nya gunung gede bakalan lebih dahsyat dari ini..

Dengan penuh perjuangan akhirnya sampai juga ke lokasi awal, lapangan besar. Banyak orang-orang yang tadi habis dari air terjun Ciismun duduk melepas lelah. Kami pun langsung merebahkan kaki di atas rerumputan. "minum pak." tawarku kepada Pak Samsuri yang masih berdiri. "gak. makasih. saya gak haus." jawabannya membuat kami cukup tercengang. Kok bisa?? padahal track nya lumayan berat *atau berat banget ya?* dan Pak Samsuri kan dah berumur. Kuat juga nih si bapak. Bahkan beliau tidak keringetan sedikitpun... padahal kita yang muda aja dah ngos-ngosan kayak gini... lalu Dewi menawarkan cokelat yang kami bawa, "ayo pak diambil cokelatnya." akhirnya setelah saya paksa, beliau mau menerima cokelat pemberian Dewi.

Setelah lelah berkurang, Pak Samsuri mengajak kami ke taman lumut. Kayaknya nih lumayan baru juga, atau saya gak ngeh ya kalau ada taman lumut. Isinya berbagai macam lumut dan tumbuhan paku-pakuan. Dari taman lumut akhirnya kami menuju masjid untuk shalat. Yang aneh, pengunjung lain harus bayar untuk masuk toilet, tapi penjaga toilet malah tidak mau menerima uang kami, "udah neng, gak usah bayar." kata ibu penjaga toilet ramah. Kenapa ya? tadi sih saya sempat melihat Pak Samsuri menyapa penjaga toilet itu. Apa karena kita bareng Pak Samsuri kah??

Awalnya setelah shalat kami ingin langsung pulang ke Jakarta, karena khawatir macet kalau pulang sore. Maklum long week end, dan berlaku jalur buka tutup. Tapi Pak Samsuri memaksa kami untuk makan dulu, katanya biar ntar gak kelaparan di jalan. Kami menuruti, karena awalnya kami mengira Pak Samsuri juga lapar. Tapi ternyata dugaan kami salah, ketika ditawarkan makanan beliau berkata, " saya gak lapar." Tapi akhirnya saya pesankan satu mangkuk bakso untuk beliau dan akhirnya beliau mau makan. Saat membayar di kasir, kaget juga sih. Soalnya harga yang tertera untuk bakso dll 8000 per porsi, tapi kami hanya ditagih 6000 per porsi plus gratis untuk minummya. Hmm... kayaknya sih karena ada Pak Samsuri deh makanya harga makanan yang kita makan didiskon.

Sebenernya sih saya hafal jalan menuju pintu keluar dari sini. However, i often go to this beautiful place. Tapi beliau memaksa untuk mengantar kami sampai gerbang... "duh jadi gak enak banget. dari tadi didampingi terus kemana-mana... dah kayak guide kita aja..." Inginnya sih Pak Samsuri cukup nganterin sampai disini aja. Tapi gimana ya, diminta pun beliau tetap bersikeras mengantar kami sampai gerbang. Bahkan beliau menanyakan apakah kami ingin membeli oleh-oleh atau tidak. Karena beliau bisa bantu menawarkannya. Pastinya kita akan dapat harga yang lebih murah.

Kami sempat berpikiran, "jangan-jangan kami harus membayar nih karena sudah dipandu sejak ke air terjun tadi.." karena sebelumnya beliau pernah bercerita kalau beliau sering memandu orang yang naik gunung gede, tapi kalau sekarang sih seringnya cuma sampai gua kelelawar... mengingat keadaaan fisiknya. Biasanya dibayar sekitar 150 rb sampai 300 rb. Kami sepakat untuk patungan memberikan uang kepada Pak Samsuri, yah minimal sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi guide kami.

Sebelum berpisah beliau minta nomor HP kami, katanya untuk menjalin silaturrahim. Karena HP beliau di rumah dan beliau tidak hafal nomornya, maka nanti setelah sampai di rumah beliau akan mengirimkan nomornya kepada kami. Saya mengambil secarik kertas, menuliskan nomor HP kami, dan menyerahkannya kepada beliau. "Lia, tulis nama saya. Jangan sampai salah lagi." haha.. memang saya sering lupa memanggil beliau dengan sebutan Pak Samsudin..
Beliau menyampaikan sebuah pesan *rahasia deh :-D* supaya kami bisa masuk ke kebun raya cibodas ini dengan gratis!! hmm... that's good idea ^_^

Tiba di gerbang, kami berpamitan dengan beliau. Beliau menolak saat saya memberikan uang sebagai tanda terima kasih kami. "Gak usah, pakailah uang itu buat ongkos pulang...." katanya. Baerkali-kali saya memaksanya untuk menerima uang itu, tapi kali ini paksaan saya gak berhasil... Beliau keukeuh tidak mau menerima uang pemberian kami.  Akhirnya saya menyerah. Makasih banyak pak, telah mengantarkan kami keliling cibodas.. mohon maaf jika ada kesalahan. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang lebih banyak...

Tidak habis pikir, kok ada ya orang sebaik itu. Padahal baru kenal.
Setelah membeli oleh-oleh buat orang-orang rumah, kami menaiki angkot menuruni puncak. Saat merogoh kantong jaket, mengambil uang untuk membayar angkot, "Wi, ini kan kertas yang tadi saya kasih ke Pak Samsuri... kok ada di  kantong jaket saya ya???" Kami pun tercengang melihat kertas yang ada nomor HP saya dan Dewi. Kok bisa?? saya inget betul kertas itu tadi sudah saya serahkan ke Pak Samsuri dan saya melihat dia menerimanya...


..: end of journey to 4 cities (Tangerang-Jakarta-Bogor-Cipanas) :..
Hmm, kayaknya next time kudu berkunjung ke Cibodas lagi deh... ^_-

Sunday, 30 May 2010

Journey To 4 Cities: Gn Mas - Masjid At-Ta'awun

Rencana untuk "menggunung" long week end ini akhirnya tercapai sudah. Kesibukan yang dipilih selama ini ternyata telah membersitkan dalam hati perlunya untuk merefresh diri.. cuci mata dengan keindahan pemandangan hijau pegunungan, menyegarkan kulit dengan dinginnya udara puncak, mengisi paru-paru dengan udara segar yang terhampar luas di kebun teh.. i think i need it all for my body, mind, and soul.

Sama seperti perjalanan 2008 silam (klik disini dan disini), kali ini saya pergi hanya berdua dengan Dewi. berhubung tanggal tua, beberapa teman yang saya ajak memilih untuk tetap di rumah, hemat lah... but it didn't dampen our step.

Lagi-lagi harus naik kereta ekonomi Jkt-Bogor, karena angkutan yang cepat dan memungkinkan di pagi ini cuma KA. Dari statsiun sambung menyambung naek angkot ke Cisarua. Karena keasyikan ngobrol (plus dah lama gak ke bogor juga kali ye...) sempet nyasar juga hehe... inginnya sampai ke ekalokasari eh ternyata angkotnya cuma muter-muter empang and nyampe ke BTM 

Rencananya ingin ke telaga biru gunung gede, namun karena satu alasan maka diputuskan hari pertama ini ke gunung mas dulu, besok pagi baru ke gunung gede. karena jalur puncak macet bangeeet (long week end gitu lho), maka nih angkot lewat jalan alternatif lewat balai diklat DepTan Ciawi... jalan yang amazing banget, kayak naik turun bukit. jalannya kecil dan terjal. bayangin aja, kemiringannya bia lebih dari 45 derajat... tapi nih angkot keren juga bisa melalui jalan kayak gini, dan Alhamdulillah kita semua selamat sampai pasar cisarua. Sebenernya pemandangan jalan yang dilewati bagus juga, but i will not recommend to you untuk lewat jalan ini kalo kondisi mesin, rem, ban, kendaraanmu tidak fit!

Gunung Mas, masih tetep kayak dulu. tapi yang saya suka sih pemandangannya. Gak akan pernah bosen deh melihat pohon teh yang terhampar luas... karena sampai sini sudah siang, gak bisa lama-lama disini, gak bisa jalan jauh-jauh kayak dulu. Tapi seneng juga bisa main dan foto-foto disini lagi :-) segaar..

Rencana selanjutnya adalah ke At-Ta'awun... inginnya mabit disana supaya bisa melihat matahari terbit di puncak... pasti indah banget yaa.. Tidak seperti tahun 2008, kali ini kami naik angkot menuju ke At-Ta'awun. Sesampai disana ternyata banyak banget pengunjungnya. setiap sudut pasti ada orang, baik yang foto-foto maupun duduk santai. beberapa kali saya dan dewi sempat foto-foto, tapi akhirnya kami lebih menyukai makan sambil ngobrol santai disana.

Matahari terbenam... indah banget dilihat dari beranda masjid. Feeling saya tidak akan masalah kalau kami bermalam di At-Ta'awun, tapi Dewi masih kurang yakin. akhirnya saya bertanya pada tukang jualan di sekitar sana. Jawaban mereka, banyak kok orang yang bermalam disini. kebanyakan alasan pengunjug sih menghindari macet. makanya warung/ lapak mereka tetap buka sampai subuh. kecuali kalau bukan hari libur, sampai jam2 pagi. kami lega mendengarnya... setidaknya dah dapat tempat bermalam yang pasti. Saya pribadi agak-agak takut kalau tidur di vila atau penginapan yang belum pernah saya singgahi, apalagi cuma berdua. Temen-temen ada yang tau gak vila di sekitar gunung mas yang save dan terjangkau?

Karena dah cape banget, tidak sulit bagi saya untuk tidur. Tapi ternyata susah untuk nyenyak. Soalnya hawa disini dingin abizz... pake jaket satu gak cukup, tidur beralaskan sajadah juga masih kedinginan... padahal banyak lho yang tidur disini. harusnya bia lebih hangat hawanya... apa karena saking dinginnya ya suhu di sini... hmm, kalo nginep disni lagi kayaknya kudu bawa sarung tidur nih :-D


Yang ditunggu akhirnya tiba... pagi hari! setelah shalat subuh kita, duduk di halaman masjid. melihat bulan menghilang berangsur-angsur tergantikan dengan matahari pagi yang hangat... sayang gak bisa melihat mataharinya, hanya melihat sinarnya. karena terhalang oleh perbukitan... Subhanallah.... tapi pemandangan ini juga amazing banget! cukup untuk merefresh pikiran dan membangkitkan arruhul jadid :-)



"Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami-(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. An-Nahl, 16: 10-17)

----to be continue to Journey to Gede-Pangrango---

Thursday, 21 January 2010

Goresan IsEng


Kurang tepat kayaknya nih gambar... rationya kurang tepat... maklum amatiran ^_^

Sore-sore di pinggir danau...
cuacanya cerah dan menghangatkan..
banyak aktivitas disini..
ada keluarga yang sedang bercengkrama
ada ayah dan anak2nya yang sedang bermain bola
ada juga muda mudi yang sedang "menyepi"

sendiri duduk di sebuah batu,
bingung mau ngapain
ada ide buat mengabadikan keindahan ni danau
bukan pake film karena tak bawa kamera
akhirnya mencari alat2 seadanya
yang tersedia hanya selembar kertas dengan 1 halaman kosong
dan sebuah pena dengan tinta berwarna hitam..

mulailah pena menggores kertas
mencoba melukis indahnya danau
walau hasil tidak dapat dibanggakan
setidaknya bisa berbuat sesuatu yang menyenangkan
di sore ini...
sebelum kembali ke rumah tercinta

Friday, 15 January 2010

Mengapa kita harus shalat gerhana?

Beritanya ntar sekitar jam15.33 akan terjadi gerhana matahari. Iseng-iseng browsing melalui prof. google tentang gerhana, eh dapet tulisan yang bagus. Sumbernya dari sini (penyusun: M. Abduh Tuasikal, ST) Silakan dinikmati ^_^


Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih mengenai tata caranya.
Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud.
Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435-437)

Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah kami sebutkan:

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901)

“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari, no. 1044)

Ringkasnya, agar tidak terlalu berpanjang lebar, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:

[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.

[2] Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.

[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:

جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ
”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

[4]Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.

[5]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’

[6]Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

[7]Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

[8]Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

[9]Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

[10]Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

[11]Salam.

[12]Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438)

Nasehat Terakhir


writing1

Saudaraku, takutlah dengan fenomena alami ini. Sikap yang tepat ketika fenomena gerhana ini adalah takut, khawatir akan terjadi hari kiamat. Bukan kebiasaan orang seperti kebiasaan orang sekarang ini yang hanya ingin menyaksikan peristiwa gerhana dengan membuat album kenangan fenomena tersebut, tanpa mau mengindahkan tuntunan dan ajakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika itu. Siapa tahu peristiwa ini adalah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiamat.
Lihatlah yang dilakukan oleh Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ ».

Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.” (HR. Muslim no. 912)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya:
Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. (Lihat Syarh Muslim, 3/322)
Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba yang paling dicintai Allah. Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.
*******
Demikian penjelasan yang ringkas ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Semoga kaum muslimin yang lain juga dapat mengetahui hal ini.
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dapat beramal sholih dan semoga kita selalu diberkahi rizki yang thoyib. amiin..


Friday, 22 May 2009

Petualangan baru bersama teman-teman baru

Setelah hampir satu bulan ga ke bogor, akhirnya berkesempatan mengunjungi bogor lagi..  tapi kali ini ga ke kampus darmaga.. cuma lewatin aja. tujuan akhirnya sih ke curug Cigamea di kawasan wisata gunung salak endah. hehe... lima tahun saya di bogor, baru kali ini berkesempatan kesana. Rihlah kali ini sangat spesial, coz bareng sama orang-orang DPRa Sudimara Jaya, dah gitu gratis pula (yah.. sebagai satu bentuk refreshing setelah pileg.. hadiah dari DPRa buat para kader dan simpatisan PKS yang telah bersedia bersungguh-sungguh mengawal pemungutan suara di Kelurahan Sudimara Jaya Ciledug).

Seneng banget, bisa ketemu dan kenal sama orang2 DPRa sini. maklum baru maret ini saya gabung sama mereka.. belum lama, dan belum semuanya saya kenal. paling hanya orang2 yang sering ikut DS, datang ke acara koordinasi2 pemilu, pelatihan saksi. So, ketika ditanya oleh panitia mengenai harapan saya ikut acara ini, " mudah-mudahan bisa kenal sama rekan-rekan DPRa, yah minimal tau nama.. trus semoga DPRa sudimara jaya makin solid, kompak n keep smangat"

Salut buat pak ali, bu lasmi, dan semua pejuang-pejuang DPRa SudJa yang tetap semangat berdakwah dan melayani masyarakat, meskipun banyak sekali rintangan-rintangan yang harus dilalui. mendengar cerita bu lasmi tentang cobaan yang harus beliau dan teman2 lalui, saya sempat menangis.. betapa ujian dakwah mereka lebih besar, bahkan teramat besar dibandingkan ujian dakwah yang saya lalui di kampus.. belum ada apa-apanya.. (memang inilah ranah yang sebenarnya, kampus memberikan kita banyak pelajaran untuk terjun kesini, walaupun butuh penyesuaian juga..) kesungguhan kita terhadap jalan ini benar-benar diuji. jangan berharap untuk bisa eksis kalo masih manja dan tergantung sama orang lain..
Merupakan suatu rahmat Allah yang luar biasa, akhirnya saya berkesempatan bergabung dengan mereka.. bravo Sudimara Jaya!

Ngomong tentang curug cigamea,curug ini berada di desa Gunung Picung di kaki Gunung Salak, sekitar 40 km arah Leuwiliang, Bogor. Untuk mencapai lokasi ini sebaiknya menggunakan kendaraan yang tidak besar, naik motor juga boleh tuh.. sebab ada lokasi jalan yang mengalami kerusakan cukup amat sangat parah sekali. Dengan kendaraan umum, perjalanan dapat ditempuh sekitar 1,5 - 2 jam sedangkan bila dengan kendaraan pribadi hanya 1 - 1,5 jam (kalo tahu jalannya) dari kota Bogor. Kebetulan DPRa menggunakan bis besar (60 kursi) jadi agak susah jalannya karena banyak tanjakan curam dan jalan sangat kecil.. dag dig dug banget tuh jantung.. bahkan bu lasmi sempet mo turun aja. habisnya pas tanjakan paling terjal, tuh bis berhenti, susah jalan, dan sempet mundur ke bawah... gimana gak ngeriii!! Alhamdulillah akhirnya bis bisa jalan lagi menanjak ke atas. huff.. lega juga akhirnya, thaks Allah..

Jalan setapak menuju lokasi tidak terlalu jauh dan relatif mudah.
Kalo menurut saya sih biasa aja curugnya, tapi bukan berarti saya tidak mengagumi ciptaan Allah.. cuma bagi saya yang paling berkesan justru perjalanan menuju curug, Pemandangannnya indah banget euy.. subhanallah! untung saya sempat merekamnya, walau cuma sedikit.. Turunnya hujan deras disana membuat aliran air di curug makin deras, trus airnya menyebar di dinding curug.. nah saat itulah curug cigamea kelihatan kereeeen banget. tapi sayangnya saya ga sempat foto.

Pokoknya seru banget rihlah hari ini, walau badan pegel-pegel karena malamnya habis mabit n cuma tidur 2 jam! tapi melihat lukisan Allah yang nyata plus ketemu dengan rekan2 seperjuangan DPRa bikin pegel gak terasa!!

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan makhluknya dalam bentuk yang sebaik-baiknya...

Friday, 8 August 2008

Huaaah.....

Huaahh... alhamdulillah.. akhirnya wktu itu tiba juga
yup, akhirnya jd juga jelajah kebun teh...
mulai dari gunung mas..pagi jam7 dingiiin banget...mlh anginnya kenceng pisan! setelah puas menejelajah gunung mas akhirny ekspedisi berlanjut ke masjid At-Ta'awun...dikiraiin deket... tapi ternyata harus melewati 5 bukit... weleh2 cape pisan euy..tapi seneng juga, menerobos kebun teh.menyusuri sungai...terjebak di tengah ulat bulu&ulat jengkal(tragedi ulat!!!).. bikin udara kotor dan racun2 di paru2ku brganti dg oksigen nan segaarrrr...target shalat zuhur di masjid At-Ta'awun akhirnya tercapai. Subhanallah..betapa indahnya dan sejuknya shalat di masjid At-Ta'awun. berhubung masih siang... perjalanan dilanjutkan ke kebun raya cibodas..

Subhanallahh..betapa besarnya kekuasaan Allah..lama ku terpaku melihat gugusan gunung gede dan pangrango dari dekat..Tuhanku memang Maha KEREN...!!! Lama ku berbaring direrumputan, memandangi birunya langit sore yang menempelkan puncak gunung gede.. mengevaluasi diri, bertafakur alam... ternyata Allah sangat sayang padaku!!! tidak ada alasan bagiku untuk menyerah dan putus asa!!!
setelah shalat ashar, ku melangahkan kaki, menyusuri puncak tertinggi...merendam kaki di aliran mata air murni..subhanallah, nikmat..matahari semakin menghilang di balik puncak gunung gede, kulangkahkan kaki meninggalkan cibodas menuju masjid At-Ta'awun..shalat Maghrib di masjid yang dikelilingi gugusan bintang dan lampu2 gunung...tak henti ku memuji keagungan Tuhanku yang Maha Hebat!!!!
Beban yang selama ini menghimpit dada akhirnya sirna,,,,berganti dengan semangat baru..semangat untuk terus berjuang...menuntaskan perubahan. dalam hidupku.