Showing posts with label tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label tarbiyah. Show all posts

Thursday, 26 May 2016

Maryam-san, Mualaf Jepang dari Hamamatsu

Di tengah hari yang terik ini, yang mana seminggu lagi Ramadhan, saya jadi kepikiran bagaimana sih Ramadhan di Hamamatsu ini. Maklum baru tahun pertama disini. Coba-coba googling, siapa tau ketemu tulisan orang yang pernah merasakan Ramdhan di negeri yang muslimnya minoritas, terutama di kota Hamamatsu ini. 

Penelusuran ini membuat saya tertarik untuk membaca artikel yang ditulis tahun 2006.Tentang kondisi masyarakat Jepang yang ternyata tidak percaya dengan Tuhan. Artikel tersebut menceritakan sebuah sudut pandang tentang Islam di mata masyarakat Jepang dari seorang mualaf yang saya kenal di sini, Maryam-san. Entah mengapa saya tidak bisa membendung air mata ini. Saya bisa merasakan bagaimana berada sebagai muslim di tengah-tengah mayoritas non muslim. Aahh.. betapa kagumnya saya kepada Maryam-san dan Pak Bambang (suaminya). Juga kepada sensei saya Pak ratno dan Bu ervin. Betapa beruntungnya saya, dipertemukan Allah kepada mereka yang telah membuat kehidupan di sini (sebagai muslim) menjadi lebih mudah. 

"Yaa muqollibal qulub tsabbit qulubana ‘ala diinik
‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu’
 Aaamin...
Foto saya dan bu ervin sebelum beliau balik ke Indonesia (November 2015)

Sumber: Hudzaifah.org

Nama Maryam barangkali tidak terlalu asing bagi telinga muslim dimanapun. Nama ini terpatri dalam Al Qur'an (Surat Maryam). Menandakan posisi sang empunya nama (Maryam binti Imran) yang memang istimewa dalam sejarah Islam.

Sebaliknya, Maryam keturunan Jepang yang satu ini bukan siapa-siapa. Tak banyak orang mengenalnya. Tidak di Hamamatsu kota tempat tinggalnya, tidak di Jepang negaranya, apalagi di Indonesia. Kendati demikian, kisah hidup hamba Allah yang satu ini menarik untuk disimak. Apalagi, semangat dan performa keislamannya tak kalah dengan mereka yang berislam sejak lahir.

Nama Maryam memang bukan nama asli. Sebagai orang asli Jepang jelas ia memiliki nama Jepang. "Tapi tolong jangan paksa saya menyebutkan nama asli saya. Saya tak ingin membangkitkan kenangan lama saya. Kenangan yang tak ingin saya ingat-ingat lagi. Maka, panggil saya Maryam saja,"‌ ujar Maryam tenang..
Maryam-san dan bu ervin (November 2015)
Kisah tentang Maryam adalah juga kisah sukses pengajian Hamamatsu dalam membina anggota pengajiannya. Hamamatsu adalah tempat dimana ia tinggal dan kemudian mengikuti pengajian-pengajian Islam. Kota ini berpenduduk 800.000 jiwa yang terletak di Pulau Honshu bagian tengah, dan dapat ditempuh dalam waktu empat jam saja dari Tokyo ke arah Selatan. Empat jam saja dari Tokyo ke arah selatan dengan menggunakan kereta biasa.

Muslim di Hamamatsu cukup banyak. Terdiri atas orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang (lazim disebut kenshusei alias trainee), muslim Pakistan, muslim keturunan Jepang karena perkimpoian campuran (Nikkei) dan penduduk asli Jepang sendiri (Nihon jin).
Banyaknya muslim pekerja di Hamamatsu tak lepas dari keberadaan kota ini sebagai kota industri. Perusahaan multinasional seperti Yamaha dan Suzuki bermarkas besar di kota ini. Asal mula raksasa Honda-pun dari kota ini. Saratnya industri otomatis mengundang banyak pekerja asing. Termasuk pekerja asal Indonesia.

Pengajian rutin di Hamamatsu telah berlangsung lama. Pesertanya cukup banyak, dan semakin lama semakin bertambah. Muslimah asli Jepang sendiri terlibat secara aktif. Sebagian besar muslimah Jepang menjadi muslim melalui pernikahan, baik dengan muslim Indonesia, Pakistan, Malaysia, ataupun Bangladesh.

Salah satu muslimah asli Jepang aktivis pengajian Hamamatsu adalah Maryam, atau sering disebut Maryam-san oleh warga pengajian Indonesia di Hamamatsu. Maryam lahir pada 19 Juli 1977 di Shizuoka Jepang, kota yang berjarak satu jam perjalanan dari Hamamatsu ke arah utara. Ia adalah putri pertama dari empat bersaudara.

Maryam menikah dengan Bambang Harianto, pekerja Indonesia yang semula bekerja di salah satu industri di Hamamatsu, pada 16 Desember 2001. Lima hari sebelumnya dia mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh pengajian Hamamatsu.

Pernikahan Maryam dengan Bambang berlangsung unik dan terkesan aneh bagi kebanyakan masyarakat Jepang, apalagi bagi orangtua Maryam. Ketika Bambang memberanikan diri untuk melamar Maryam, sang calon mertua tak berkomentar. Bingung. Karena biasanya pemudi pemuda Jepang hidup bersama dulu sebelum menikah (atau malah tidak menikah selamanya namun hidup bersama dengan pasangan yang sama atau bergonta ganti pasangan). Apalagi, Maryam kenal Bambang kurang dua bulan. Namun dasar pemuda Bambang ini baik imannya, maka kendati sang mertua rada bingung, namun pernikahan-pun tetap dilangsungkan di kampung halaman Bambang, Pasuruan-Jawa Timur, melalui perantaraan wali hakim.

Dari pernikahan yang penuh barokah ini Maryam dan Bambang (sementara ini) dikaruniai dua orang anak, masing-masing bernama Sakinah (lahir tahun 2002) dan Abdullah Alim (Lahir tahun 2004). Wajah kedua hamba Allah yang mungil ini cukup unik. Berkulit putih dan bermata agak sipit ala Maryam, namun sesekali bisa berbahasa Indonesia mengikuti Ayah-nya.

Komunikasi dalam keluarga ini cukup unik. Mereka lebih banyak bicara dalam bahasa Jepang, yang sesekali dicampur bahasa Indonesia. Maryam sendiri belum bisa berbahasa Indonesia kendati sudah paham banyak kata Indonesia. Bambang sebaliknya, sudah pintar berbahasa Jepang karena telah tinggal di Jepang nyaris sepuluh tahun. Namun, apabila bertemu dengan komunitas Indonesia, Bambang lebih banyak berbahasa Jawa logat Jawa Timur-an, apalagi ketika yang dijumpainya adalah orang Jawa.

Dua sejoli ini adalah pasangan serasi di dalam dan di luar rumah. Keduanya sama-sama aktif menggerakkan pengajian di Hamamatsu dan sekitarnya. Bambang, setelah usai kontrak tiga tahunnya dengan perusahaan di Jepang, lantas menetapkan untuk tinggal di Jepang. Apalagi ia telah beristrikan orang Jepang. Bambang kini berwirausaha jual beli mobil dan aktif memimpin Keluarga Masyarakat Indonesia Hamamatsu (KMIH). Juga, ia aktif menggerakkan aktivitas da`wah di masjid Muhammadi Hamamatsu, masjid satu-satunya di Hamamatsu yang berdiri pada tahun 2006 dan didominasi komunitas pekerja Indonesia.

Maryam sendiri disamping menjadi ibu rumah tangga, juga aktif menjadi penggerak da`wah di kalangan muslimah Jepang (Nihon jin). "Maryam-san termasuk pioneer disini, ia sudah bisa disebut ustadzah, apalagi bacaan Al Qur`an-nya sudah lancar sekali,"‌ komentar Ervin, seorang ibu muda Indonesia yang tinggal di Hamamatsu.

Apa yang membuat Maryam tertarik dengan Islam? Awalnya sederhana saja. Maryam remaja memiliki hobi menari. Hobi ini mengantarnya bertemu dengan orang Indonesia dalam acara-acara kebudayaan. Dalam sejumlah interaksi tersebut, ia heran mengapa orang Indonesia yang dijumpainya tak makan daging babi dan juga tak minum alkohol ataupun sake. Padahal, bagi kebanyakan orang Jepang, alkohol adalah bagian dari budaya keseharian.
Kemudian, setelah peristiwa WTC 11 September 2001, Maryam makin penasaran lagi dengan Islam. Mengapa Islam dikaitkan dengan terorisme? Mengapa muslim diidentikkan dengan kekerasan? Maka berbekal kegelisahan tersebut, Maryam-pun mendatangi pertemuan yang dihadiri orang Jepang dan orang Indonesia yang antara lain membahas persoalan tersebut.

Tak dinyana, Allah SWT punya kuasa, dari interaksi dengan muslim Indonesia dalam forum-forum diskusi tersebut, ia bertemu dengan Bambang Harianto, pemuda Pasuruan yang kini jadi suaminya, pada pertengahan bulan Oktober 2001. Dari interaksi-interaksi tersebut, ia juga sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa 11 September 2001 tak ada hubungannya dengan Islam. Muslim Indonesia di Hamamatsu tampak ramah, hangat, dan tak ada kesan sebagai teroris sama sekali. Tak seburuk yang digambarkan media massa.

Menurut Maryam, Islam tidak banyak dikenal di Jepang. Karena di Jepang tak ada pelajaran agama. Ia sendiri mengenal Islam pertama kali justru dari pelajaran sejarah di sekolah. Ketika ia di sekolah menengah, ada pelajar muslim yang mengikuti pertukaran pelajar di sekolahnya. Dimana ia banyak bertanya dan bertukar pikiran tentang agama dan masalah ketuhanan. Kemudian, ia juga mengenal Islam dari presentasi teman kuliahnya di universitas yang mempresentasikan tentang Islam sebagai bagian dari tugas kuliah..

Sepengetahuan Maryam selaku muslimah asli Jepang, orang Jepang masa kini umumnya tidak fanatik pada satu agama. Atau malah tidak beragama sama sekali. Mereka bisa lahir sebagai penganut Shinto, kemudian ketika menikah menggunakan ritual Kristen, dan ketika meninggal memilih ritual ala Budha. Maka, menerima konsep Tuhan yang satu ala Islam adalah persoalan besar bagi orang Jepang. Menurut Maryam, orang Jepang mengenal konsep Tuhan namun berbeda dengan monotheisme ala Islam. Sebagian merasakan kebutuhan terhadap adanya Tuhan namun mereka tidak punya perangkat untuk mengakses Tuhan tersebut. Namun, pada umumnya apabila mereka mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam, mereka juga tak terlalu sulit untuk menerima.

Menanamkan rasa percaya akan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta dan Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusanNya adalah suatu perjalanan yang panjang bagi muslim Jepang. Menurut penuturan sejumlah mualaf Jepang, sebelum menjadi muslim, sebagian besar orang Jepang tidak percaya atau tidak yakin dengan adanya Tuhan. Mereka meyakini bahwa apa-apa yang sudah dan akan didapatkan semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Maka, hidup terasa kosong. Bila kebutuhan terhadap Tuhan mereka rasakan di suatu waktu, mereka bingung kemana mencariNya. Maka, mereka mencari Tuhan dimana-mana dan menentukan Tuhan mana saja yang bisa dimintakan pertolongan. Karena kebiasaan ini, orang Jepang banyak memiliki dewa dan jimat sebagai sebagai manifestasi kebutuhannya terhadap Tuhan. "Itulah mengapa saya katakan bahwa bagian tersulit mengajarkan Islam bagi orang Jepang adalah untuk mencerna konsep ketuhanan yang satu tersebut,"‌ jelas Maryam.

Maryam masih percaya bahwa terlepas dari masalah hidayah Allah SWT, jalan pernikahan adalah satu cara efektif untuk memperkenalkan Islam bagi orang Jepang. Kemudian, setelah mereka masuk Islam juga harus dibimbing. Ia menisbatkan pada dirinya sendiri, dimana ketika ia masuk Islam tahun 2001 sebenarnya iman dia pun belum begitu mantap. Alhamdulillah dia bertemu dengan suami yang baik dan senantiasa siap membimbingnya. "Jangan sampai ketika sang mualaf masuk Islam lantas ditinggal sendiri karena ternyata sang pasangannya juga tak terlalu taat dengan ajaran Islam, bimbinglah mereka karena mereka sangat perlu dibimbing,"‌ pinta Maryam.

Oleh karenanya, Maryam bersyukur bahwa di Hamamatsu ada pengajian rutin yang dikelola oleh masyarakat muslim di kota tersebut. Pengajian muslimah Hamamatsu memiliki aktivitas beragam. Bisa berupa belajar membaca Al-qur'an, menghafal surat-surat pendek, belajar bacaan sholat dan do'a-do'a keseharian. Alhamdulillah, pada saat ini sudah ada beberapa orang yang bisa lancar membaca Al-Qur'an.

Bersama pengajian Hamamatsu, para muslimah dan mualaf Jepang ini mulai memahami Islam dengan benar. Bila pada awalnya mereka mengakui, masuk Islam karena pernikahan, namun kini Alhamdulillah mereka menjadi bersyukur dipertemukan dengan Islam dan meyakini bahwa karena Islam-lah hati mereka menjadi tenang, hidup terarah dan menjadi punya pegangan hidup. Seperti suatu waktu, ketika diselipkan kabar tentang kasus karikatur Rasulullah di koran Denmark yang sangat menyinggung umat Islam, mereka mencucurkan air mata. Bukan air mata tanpa makna, namun air mata yang lahir dari rasa cinta pada Rasulullah SAW yang telah bersemi di hati mereka.

Namun, menjadi muslimah di Jepang bukan berarti tanpa tantangan. Beragam masalah timbul sebagai konsekuensi hidup sebagai minoritas. Layaknya menjadi orang asing di negerinya sendiri. Salah satunya adalah benturan dengan keluarga yang tidak menerima keberadaan mereka sebagai muslim. Bahkan, ada pula yang tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi oleh orang tua dan sanak saudaranya. Namun selepas anak-anak tercinta lahir dari rahim mereka, Alhamdulillah biasanya sebagian orang tua kembali mau menerima mereka. Kendati, yang lainnya tetap saja menjaga jarak dengan anak, menantu, dan cucu-cucunya.

Hal ini terjadi juga pada orang tua Maryam. Orangtuanya tidak pernah tegas-tegas menolak keislamannya, namun juga tidak pernah menyatakan menerima secara terbuka. Orangtua Maryam memberikannya pilihan bebas karena Maryam sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Suatu sikap khas Jepang. Alhamdulillah, hingga kini komunikasi Maryam dan suaminya dengan orangtua Maryam tetap baik. Mereka tetap bersilaturrahmi dan berkomunikasi secara wajar.

Masalah berikutnya bagi Maryam, dan juga para mualaf lainnya adalah kesulitan mendapatkan makanan yang halal. Makanan dan minuman yang ada di Jepang sebagian besar mengandung unsur haram, seperti babi (butaniku), arak/sake, wine ataupun bersifat syubhat, seperti banyaknya daging atau ayam yang tidak dipotong dengan menyebut asma Allah SWT. Maryam sangat menyadari hal tersebut. Ia tahu betul mana-mana produk makanan Jepang yang tak layak dikonsumsi karena sifat haramnya.

Alhamdulillah di Hamamatsu ada beberapa toko yang menjual daging halal. Keuntungan bagi Maryam, sebagai orang Jepang ia mudah saja membaca huruf kanji ketika berbelanja di supermarket. Maka ia dapat segera mengidentifikasi ingredients/ bahan kandungan yang ada dalam suatu produk makanan.

Berbeda halnya dengan muslim non Jepang. Banyak diantaranya yang tak bisa membaca huruf Jepang (hiragana-katakana-kanji). Akibatnya, mereka tak dapat memahami kandungan bahan makanan. Dalam kasus ini, muslim tersebut-lah yang harus proaktif. Contohnya, bila harus membeli roti atau datang ke restoran umum, maka harus berani bertanya pada penjualnya, kandungan makanan yang akan di makan. Memang terdengar merepotkan, namun bagi muslimah Jepang dan warga muslim lainnya, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Terbukti, sudah bertahun-tahun mereka menjalaninya tanpa sekalipun merasa repot. Alhamdulillah, rata-rata penjual atau penjaga toko diJepang sangat menghargai pembeli. Betul-betul menjadikan pembeli sebagai raja. Sehingga, sangat jarang ditemui penjual atau penjaga toko yang marah atau kesal saat ditanyakan kandungan makanan atau minuman yang dijualnya.

Masalah berikutnya adalah menanamkan dan memperkuat aqidah anak-anak utamanya ketka memasuki dunia sekolah. Kendati anak-anak Maryam belum masuk sekolah dasar, namun iapun memahami kendala ini dari hasil interaksinya dengan muslim yang lain. Kesulitannya adalah mulai dari menjelaskan pihak sekolah terkait makan siang yang 'khusus' alias bebas dari zat-zat haram seperti babi dan alkohol. Pelaksanaan sholat dzuhur bagi anak yang sudah menginjak remaja. Hingga, penjelasan ekstra tentang ketidakhadiran anak-anak pada acara-acara khusus di sekolah yang menyangkut kepercayaan orang Jepang, acara-acara mana berpotensi mendatangkan syirik.

Sudah bukan rahasia umum, di Hamamatsu dan di bagian Jepang yang lain. Sebagian anak muslim ada yang mengalami 'ijime' atau kebiasaan diejek oleh sekelompok anak di sekolahnya. Biasanya karena adanya perbedaan pakaian atau makanan. Namun Alhamdulillah, melalui komunikasi aktif dengan pihak sekolah dan bersikap tidak menutup diri, masalah-masalah yang timbul bisa di selesaikan dengan baik.

Penggunaan busana muslimah terkadang masih juga mengundang pertanyaan. Beberapa orang Jepang merasa aneh atas penggunaan jilbab dan busana muslimah. Misalnya saja saat musim panas (natsu), di Hamamatsu bisa mencapai 38 derajat celcius. Ketika semua orang Jepang berpakaian minim keberadaan muslimah berbusana 'rapat' jelas mengundang keanehan. Padahal, biasanya ketika musim panas, para muslimah menggunakan pakaian yang berbahan tidak tebal namun menyerap keringat. Begitupun dengan jilbabnya, diusahakan tidak berbahan tebal, namun tentunya tidak pendek dan tidak tembus pandang.

Maryam-san termasuk muslimah yang selalu mengenakan busana muslimah di semua tempat dan keadaan. Ia tak malu mengenakan baju gamis dan jilbab lebar untuk pergi ke pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Bagi yang tak mengenalnya dan tak melihat wajahnya, takkan mengira bahwa ia adalah seorang muslimah Jepang. Dalam bayangan kebanyakan warga Jepang, muslimah berprofil demikian adalah melulu berasal dari Timur Tengah ataupun Afrika Utara.

Kendati sangat bahagia hidup dalam Islam, Maryam-pun memiliki kritik terhadap muslim, utamanya muslim Indonesia. Menurutnya, masih banyak muslim Indonesia yang belum mengamalkan Islam dengan benar. "Saya tidak mengatakan saya sudah benar, namun hal ini amat disayangkan karena sebenarnya umat Islam Indonesia sangat berpotensi dan amat dimudahkan Allah untuk beribadah. Apalagi dari segi jumlah-pun terbesar di dunia. Karena, ketika seorang muslim tidak menjalankan ajaran Islam atau bahkan berbuat keburukan, terkadang orang Jepang, yang saya ketahui, dengan mudah menisbatkannya ke Islam dan bukan orang itu sendiri. Akhirnya yang jelek adalah nama Islamnya dan bukan individu yang bersangkutan. Masih sulit bagi orang Jepang memisahkan antara Islam dan muslim, " tukas Maryam.

Kritik Maryam berikutnya, dari pengamatannya ketika berkunjung ke Indonesia, kaum muda Indonesia cenderung berperilaku kebarat-baratan. "Banggalah sebagai muslim. Jangan terlalu condong ke barat,"‌ ujar Maryam. Namun, Maryam juga senang dengan Indonesia untuk banyak hal. Bukan semata-mata karena suaminya orang Indonesia. Namun ia kagum dengan kehangatan dan suasana kekeluargaan orang Indonesia. "Saya juga senang dengan makanan Indonesia dan punya buah favorit bernama mangga,"‌ ujar Maryam.

Maryam begitu cinta dengan Indonesia. Sama halnya dengan kecintaannya kepada Jepang. Namun, sejauh ini baru dua kali ia mengunjungi Indonesia. Ke kampung halaman suaminya di Pasuruan. Dan Maryam cukup populer di Pasuruan. Karena ketika ia disana, ia sempat diwawancara media setempat yang merasa aneh, karena ada perempuan Jepang yang masuk Islam dan menikah dengan warga asli Pasuruan.

Kecintaan Maryam pada Indonesia dan muslim Indonesia memiliki dasar yang tulus. Ia melihat muslim Indonesia, khususnya yang ada di Jepang, amat mudah bergaul dan tak menunjukkan perbedaan. Agak berbeda dengan kebanyakan orang Jepang yang biasanya tak bisa langsung akrab. Perlu waktu sedikit demi sedikit untuk dapat saling percaya. "Maka, manfaatkanlah modal silaturrahmi dan keluwesan pendekatan ala Indonesia untuk menda'wahi orang Jepang. Karena sesungguhnya orang Jepang amat senang mempelajari budaya asing," tambah Maryam.

Terakhir, Maryam-san berpesan kepada warga muslim Indonesia, "Tolonglah bantu kami para mualaf di Jepang. Kirimkan para da'i dan bantulah membangun pendidikan Islam di Jepang. Jangan terlalu pelit dengan ilmu yang anda miliki. Saya melihat banyak orang pintar agama Islam di Indonesia. Maka, bagi-bagilah ilmunya ke Jepang,"‌ ujar Maryam.

*Kisah ini dituturkan langsung oleh narasumber kepada Heru Susetyo di kediamannya di Hamamatsu-shi, Shizuoka-ken, Jepang pada 9 Oktober 2006. Narasumber menuturkan kisahnya dalam bahasa Jepang dengan bantuan translasi ke dalam bahasa Indonesia oleh suaminya Bambang Harianto dan tokoh muslim Indonesia di Hamamatsu, Dr. Ratno Nuryadi. Data tambahan dituturkan oleh Ervin Hidayati, Ibu Indonesia yang juga adalah aktivis pengajian di Hamamatsu " Jepang.
Pak bambang, pak ratno, dan sensei daniel sesaat sebelum kepulangan pak ratno (November 2015) 

Sunday, 3 May 2015

Jiwa

Jiwa, begitu menyenangi kelalaian
Jiwa, begitu menikmati kemalasan
Jiwa, begitu memaafkan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan

Kesalahan demi kesalahan,
Ketidakmampuan dan keterbatasan di dalam memenuhi kebaikan,
Dianggap sebagai pemakluman.

Duhai jiwaku, ada apa denganmu?

Untuk jiwaku yang senantiasa merindu
Untuk jiwaku yang terus mencari
Untuk jiwaku yang mempelajari
Bawa hatimu pada Rabb..
Dan tetapkan kembali kisahmu disini,
Di perhentian sejenak, dalam munajat

Rana jiwaku di penghujung waktu
Rana jiwaku mengumpulkan serpihan, hingga kembali utuh
Rana jiwaku berusaha menyikap tabir-Nya dengan tulus
Dekap erat, jangan lepaskan lagi...
Sebab apa yang menghadirkanmu disini
Teramat berharga bila dibandingkan dengan perhiasan duniawi

Untuk jiwaku... dalam tiap ruhnya yang baru...


Ahad, 3 Mei 2015
Pukul 01.01 WIB
Malam ini terang..
Ya Rabb, terangi jiwaku selalu dengan cahaya-Mu..

Tuesday, 7 April 2015

Hati yang damai

Dalam hati ini ada kekusutan yang tak bisa terurai kecuali dengan menghamparkan pada Allah.
Dalam jiwa ini ada kebuasan yang tak akan bisa terjinakkan kecuali dengan mengingat kebesaran Allah.
Dalam hati ini selalu ada kesedihan yang tak akan pernah hilang kecuali dengan perasaan damai bersama Allah dan kembali pada Allah.
(Ibnu Qayyim Al Jauziyyah)

Selamat milad.. Semoga berkah umurnya dan bahagia selalu :)


Friday, 19 December 2014

Renungan malam...

🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀

"Ketika kita sudah berada di jalur menuju Allah, maka berlarilah. Jika itu sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jka itu pun tak bisa, merangkaklah. Namun jangan pernah berbalik arah atau berhenti." (Imam Syafi'i) 

Karena ketika kita istiqamah...
bukan berarti kita tidak boleh lelah..
istiqamah mengajarkan bahwa kita ga boleh menyerah...

Inshaa Allah, ada kemudahan di tengah kesulitan (kesibukan) kita. 
"Sesungguhnya, pertolongan itu mengiringi kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu mengiringi kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan yang menyertainya.” (HR. Ahmad)

Berikanlah yang terbaik dengan amanah yg sekarang kita miliki disini, jadikan ladang amal utk akhirat kita. Terus melangkah...
Tetap semangat...
Allahu Akbar ✊

🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀🚀

*Fwd dari grup DPRa Sudimara Jaya*

Sunday, 27 April 2014

Menunggu sesuatu yang besar

Hari ini harus pulang ke Tangerang dengan penerbangan 17.40 WIB.

Setelah check in di Maskapai Lion, sayapun menunggu di waiting room bandara Adisucipto ini.
Saya datang terlalu awal, sekitar 2 jam sebelum waktu yang tertera di tiket.

Saya bergabung dengan beberapa teman sambil berusaha membunuh waktu penantian ini.
Ketika waktu penerbangan hampir tiba, kami mulai cemas karena pesawat Lion rute penerbangan Jogja-Jakarta belum juga terlihat. 
Sekalipun ada, pesawat Lion tersebut bertujuan Lombok.

Saya dan teman-temanpun mulai cemas... khawatir pesawat datang telat di waktu penerbangan yang nyaris tiba ini
Kami melihat ke luar, ke seluruh gate bandara. Namun Lion yang kami nanti tak kunjung terlihat sedangkan pesawat tujuan Lombok segera diberangkatkan.
Saat itu rasanya... pasrah. Mungkin akan delay dan akhirnya kami akan lebih malam sampai di Jakarta... 
Padahal saat ini, orang tua saya yang akan menjemput sudah tiba di bandara Soekarno Hatta.
Cuaca yang hujan ini mungkin saja menjadi salah satu penyebab lambatnya kedatangan pesawat kami.

Saya tetap berdoa agar pesawat itu segera datang dan melanjutkan bacaan tilawah saya yang belum kholas... Semuanya saya serahkan kepada Allah SWT.

Tidak lama kemudian terdengar panggilan boarding untuk penerbangan Lion 551 tujuan Jkt. Kami jelas kaget, karena sepenglihatan kami, di luar tidak ada pesawat Lion tujuan Jakarta.
Saya dan teman-teman juga calon penumpang lain saling bertanya apakah benar panggilan tersebut untuk penerbangan tujuan Jakarta. Semua merasa tidak percaya dengan alasan yang sama, yaitu merasa tidak ada pesawat Lion yang lainnya di halaman luar bandara.

Kami pun berjalan ke luar melalui pintu yang telah ditentukan.
Petugas pintu bandara hanya berkata, "pesawat yang ke arah kanan ya bu..."
Sayapun keluar dan menoleh ke kanan...
Ternyata pesawat Boeing berukuran sangat besar telah berdiri dengan gagahnya di bawah langit senja nan indah, siap mengantarkan saya dan penumpang lainnya menuju Jakarta.
Lokasi pesawat ini memang tidak terlihat dari dalam waiting room bandara karena letaknya yang paling ke kanan.
Pesawat Lion Air rute Jogja-Jakarta
Hikmah yang saya ambil adalah harus tetap bersabar.
Kita harus bersabar terhadap apa yang terjadi pada kita karena kita tidak pernah tau bahwa di sisi lain yang tidak kita duga, Allah sedang mengabulkan doa-doa kita.
Penglihatan dan pemikiran manusia memang terbatas, tetapi itu bukan alasan untuk kita berputus asa dan bersu'udzhon.
Karena Allah pasti sedang mempersiapkan sesuatu yang besar yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Seperti penantian kali ini... untuk sesuatu yang besar.
Maka,
Tetaplah bersabar dan berhusnudzhon. Do the best!!

Sunday, 2 March 2014

Ibu tangguh

Bogor, Enam tahun lalu...

Seorang ibu muda berjalan sambil menggendong putrinya yang baru berusia tiga bulan. Panas terik matahari siang itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus melangkah. Sambil memayungi putri kecilnya, ia terus menebar senyum dan singgah menghampiri beberapa warga yang ditemui di jalan itu. Tak jarang persinggahannya itu membuat warga tertawa, atau bahkan menangis. Ya, sang ibu menyapa masyarakat dan mencoba berbicara secara langsung dengan warga tersebut tentang keluhan-keluhan mereka saat ini. Tak heran kalau persinggahannya selalu menjadi tempat curhat warga...

Aku merasa beruntung dipertemukan Allah dengan beliau, yang tak lain adalah guru saya. Darinya saya belajar bahwa kebenaran itu harus kita yakini dan kita sebarkan. Darinya saya belajar bahwa kebahagiaan adalah saat kita bisa membantu orang lain, meski hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya. Darinya saya belajar bahwa perempuan itu kuat dan tidak manja, tetapi juga lembut dan tegas. Darinya saya belajar bahwa kondisi apapun tidak bisa menggoyahkan tekad kita.

Tangerang hari ini...

Sosok yang mengingatkanku pada saat enam tahun silam. Perempuan itu sibuk mengurusi pasien di pelayanan kesehatan gratis ini. Sambil menunggu antrian, para pasien berbicara dengan kami tentang kesulitan dan penyakit yang dihadapi. Perempuan itu dengan sigap dan lembut mengatur para pasien yang akan berkonsultasi dengan dokter maupun yang mengambil resep obatnya. Semakin siang, para warga yang berdatangan semakin banyak.

Di sampingku, tertidur bayi mungil berusia empat bulan. Bayi yang menyenangkan menurutku. Karena tidak rewel jika diajak ibunya beraktivitas. Bayi imut itu juga tidak menangis saat terbangun dari tidurnya. Seakan mengerti aktivitas ibunya hari ini. Menurut teman, perilaku bayi itu sesuai dengan hati dan perilaku ibunya... Saya sangat kagum pada ibu bayi itu, yang tidak lain adalah guru saya.

Alhamdulillah,
Hari ini, saya sangat bersyukur karena telah diperkenankan oleh Allah untuk mengenal para wanita tangguh yang membaktikan hidupnya bagi agama ini. Para wanita sholihah yang taat pada suami dan cinta pada keluarga, namun hal itu bukan menjadikan alasan tuk mundur atau mengambil posisi aman pada jalan ini. Para ibu yang memberikan contoh kepadaku bahwa mempunyai bayi bukan berarti harus berhenti melangkah.

Allah, tunjukilah kami jalan lurus yang Engkau ridhoi.
Allah, perkenankanlah aku dan keluarga yang aku cintai untuk terus berada di lingkungan orang-orang shalih.

Monday, 27 January 2014

Pada akhirnya kita harus berdamai dengan realita

Hari ini mendapatkan tausiyah yang sangat berharga dari seorang kawan  (yang sebenarnya saya belum pernah bertemu dengannya) dari group Whatsapp Miftahul Wadud. Saya menuliskannya kembali dengan judul yang sama.
Setiap kita pasti punya impian. Setiap waktu kita berusaha untuk menggapainya. Penuh kesungguhan, penuh perjuangan, kadang penuh dg air mata

Impian itu lebih dalam dari keinginan. Sakit yg dirasa krn gagal meraih impian itu pun lebih "menenggelamkan" kesedihan kita dibandingkan keinginan yg gagal dicapai.. Impian itu melibatkan emosi.. Bahkan tak kadang prinsip dan idealisme hidup kita pun diselaraskan dg impian kita...

Tapi tak ada yg bisa menjamin bahwa yg kita impikan itu yg akan terjadi pada diri kita. Karena adakalanya impian yg kita anggap baik itu belum tentu bisa membawa kebaikan bagi diri kita. Kadang ada hal yg justru mungkin kita benci, malah itu yg terbaik untuk kita... Sejatinya manusia memang hanya bisa berusaha dan berdoa, mengenai hasil akhirnya ttp lah Allah yg berkehendak..

Jika yg dikehendaki-Nya tak seperti yg kita harapkan, sebagai org yg beriman pun kita tak boleh kufur atau menafikannya... Namun terkadang kesabaran yg terlalu dangkal, atau keluhan yg terlalu menyesak, sering kali membuat kita hanyut dlm kesedihan yg menyesakkan.. Dan byk yg terjebak untuk menikmati kesedihannya, bukan berusaha utk bangkit membangun impian yg baru di atas jalan yg telah ditapakinya...

Pada akhirnya kita memang harus berdamai dengan realita meskipun tak pernah terbayang bagi kita sebelumnya. Namun rasa damai, dan kelapangan itu lah yg mampu menguatkan kita utk ttp berdiri tegar dan kokoh menghadapi tantangan selanjutnya, dan seiring dg itu kita pun menemukan impian baru yg akan kita bangun di atasnya...

Semoga kita semua diberikan kelapangan hati utk menerima kenyataan dr usaha yg telah kita upayakan.. Aamiinn..

(ini catatan utk diri saya sendiri, diambil dr pelajaran berharga yg saya dapat dr seorang dosen yg saya temui hari ini... Berdamai dengan realita)

 Sebagai manusia, kita hanyalah bisa berusaha berproses dengan baik atas takdir-Nya. 
Di dalam proses tersebut kita pasti akan menemukan titik yang terasa sangat terjal untuk dilewati, tapi ternyata kita lebih kuat dari yang kita bayangkan.
Dan akhirnya pasti kita akan menyadari, seindah-indah rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.

Semangat!

Wednesday, 30 October 2013

Percayailah yang terbaik

mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka
berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik



Lelaki itu menyipitkan mata di terjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.
Di pintu biara, Rahib ahli badah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tangannya. Dia letakkan salah satu di hadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.
“Rahib yang suci,” kata si lelaki. Dia diam sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku diampuni?”
Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”
Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh,” katanya, “Sebanyak sembilanpuluh sembilan jiwa.”
Hampir saja gelas di tangan sang rahib jatuh. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.
“Mungkinkah dosaku diampuni?” lanjut si lelaki sambil menatap harap-harap. Tangannya cemas menggaruki permukaan gelas logam. Dia lalu menunduk menanti sabda. Tetapi Rahib itu memalingkan muka. Rautnya tampak tak suka. Lelaki itu menangkap mimik jijik di garis-garis wajah sang Rahib. Sayup dia menggumamkan sebuah ayat dalam Taurot, “Membunuh satu jiwa sama artinya membinasakan seluruh jiwa, memusnahkan segala kehidupan. Sembilanpuluh sembilan… Sungguh dosa yang tak terperikan. Tak terampunkan.”

Entah mengapa si lelaki pembunuh tiba-tiba disergap benci yang bergulung-gulung pada si Rahib. Batinnya yang luka dan tersiksa oleh dosa serasa disiram cuka yang memedihkan mendengar gumam itu. Cara Rahib itu memperlakukannya, bersikap, berkatakata, dan menjawab tanya seolah mereka dibatasi dinding tak tertembus. Si Rahib suci. Tanpa dosa. Dan dia adalah lelaki hina, najis, tak terampuni.
Sekuncup harap yang tadi bersemi, kini gugur disengat api. Maka sekali lagi syaithon mengalahkannya. Dalam detikan saja, pedangnya telah memenggal si Rahib, membelahnya menjadi dua. Dan dia disergap sesal yang jauh lebih menyakitkan. Genap sudah seratus nyawa. Darah sang Rahib yang mengalir merah terlihat bagai neraka menyala, siap membakarnya. Dia tergidik. Dia beringsut mundur. Nafasnya tersengal, jangganya terasa tercekik hebat, keringat dinginnya merembesi baju. Dengan tenaga yang dihimpun sepicak-sepicak, dia berlari. Terus berlari. Untuk beberapa waktu, dia bersembunyi. Tapi dia tahu, yang dia takuti bukan apa yang ada di luar sana. Yang paling menakutkannya ada di dalam dada. Tak tampak. Tak pernah membiarkannya nyenyak. Tak pernah mengizinkannya hening. Satu hari dia tak tahan lagi. Diberanikannya menemui orang yang dianggapnya mampu memberi jawab gelisah hatinya. Kali ini bukan Rahib yang dipilihnya. 

Kali ini seorang ‘alim yang didatanginya. Dan lelaki berilmu itu menerimanya dengan senyum tulus.
“Alloh itu Maha Pengampun, Saudaraku,” ujar sang ‘alim ramah. “Taubatmu pasti diterima. Hanya saja, selain menyesali segala yang telah berlalu dan menebusnya dengan kebaikankebaikan, engkau juga harus meninggalkan negeri yang selama ini kau tinggali. Pergilah ke negeri lain untuk memulai hidupmu yang baru. Engkau harus berhijrah.”
Lelaki pembunuh itu, kita tahu, benar-benar berhijrah. Tapi dia mati di perjalanan. Dan malaikat rohmat pun memenangi perdebatannya dengan malaikat adzab. Sebab ketika diukur jaraknya, lelaki itu sejengkal lebih dekat ke arah negeri pertaubatannya. Dia benar-benar telah meninggalkan kejahatan, meski baru sejengkal. Maka Alloh memerintahkan agar dia dibawa ke surga.

Kebaikan itu hanya menyembul sedikit, mengintip di balik terbunuhnya seratus nyawa. Seorang Rahib memang ahli ibadah. Tetapi dia bukan ahli ilmu. Dia tak kuasa mengenali kebaikan yang tersembunyi. Begitulah kita hari-hari ini, banyak terpesona dan dengan mudah menyebut seseorang sebagai “Ustadz!” Padahal boleh jadi dia bukan ahli ilmu. Dia bisa saja ‘Abid, ahli ibadah. Atau juga Khothib, seorang yang fasih bicara. Atau bisa juga Katib, seorang yang pandai menulis. Adapun ulama, adalah mereka yang benar-benar mengenal Alloh dan takut pada-Nya. Seperti ‘alim yang menuntun sang pembunuh untuk bertaubat. Dia lelaki jernih yang penuh prasangka baik. Jika si Rahib lebih tertekan oleh kata “membunuh”, sang ahli ilmu lebih terkesan oleh kata “taubat”. Kebaikan itu memang belum wujud, tapi dia memperlakukan sang pembunuh dengan penuh cinta, mempercayai yang terbaik dalam dirinya, dan menjadikan lelaki itu mampu menyongsong jalan surga. Itulah ulama. 

Dalam dekapan ukhuwah kita belajar dari mereka untuk takut kepada Allah dan tak mudah memvonis pada sesama hamba. 
Dalam dekapan ukhuwah kita belajar untuk mengenali kebaikan yang mengintip, mempercayainya, dan memberinya kesempatan untuk tampil mengemuka.


rewrite from "Dalam dekapan ukhuwah" by Salim A Fillah.

Thursday, 8 August 2013

I'tikafku tahun ini (1434 H) dan tahun depan (1435 H)

Ini adalah itikaf saya yang ke enam, sejak tahun 2008. Alhamdulillah Allah selalu memberikan kesempatan saya untuk beritikaf pada tiap bulan Ramadhan-Nya. Setiap tahun saya selalu beritikaf di masjid agung At-Tin, sehingga dapat saya katakan bahwa ini adalah itikaf yang ke enam di masjid At-aTin TMII.
Bagi saya, tiap itikaf selalu memberikan pelajaran dan kesan tersendiri. Allah selalu mempertemukan saya dengan sosok-sosok luar biasa yang menginspirasi saya untuk mendalami makna itikaf dan syahruttarbiyah ini. Misalnya, pada itikaf pertama saya, Allah mempertemukan saya dengan mba Ade yang juga ternyata satu kompi dengan saya di Santika kota Bogor. Dari beliau saya belajar bagaimana menuntaskan target-target Ramadhan saat itikaf. Saya juga bertemu dengan ibu yang selalu menyemangati dan menginspirasi saya lewat wejangan dan kisah hidupnya (baca disini), juga temen-temen lain yang tidak kalah kerennya :)
 
Itikaf kali ini, qadarullah, saya bertemu lagi dengan bu husni (panggilan saya dan teman-teman) yang dengan kerendahan hatinya mau berbagi semangat kepada saya lewat kisah hidupnya. Pelajaran yang saya dapat adalah bahwa Allah akan selalu mendengar doa-doa kita dan mengabulkannya pada waktu yang tepat. Bu husni yang (tadinya) bekerja dengan berjualan makanan di stasiun pernah berdoa, "saya sudah lelah dengan pekerjaan seperti ini. saya ingin pekerjaan yang lebih baik dari segi waktu dan tidak mengabaikan amanah saya di masyarakat.." begitu kira-kira isinya. Ya, saya fikir memang pekerjaan yang lebih berat dibanding pekerjaan saya, bahkan katanya terkadang untuk berbuka puasa saja nyaris tidak sempat.

Beberapa bulan kemudian Allah mengabulkan doanya. PT. KAI menggusur pedagang-pedagang di sekitar rel kereta api, termasuk lapak bu husni yang berada di stasiun cawang. Akhirnya bu husni memutuskan untuk berhenti berjualan di stasiun dan memilih usaha rumahan, catering. Kata bu husni, "Kita bisa belajar apapun kalau kita mau. Saya pun belajar otodidak di usaha catering ini... mulai dari me-manage usaha hingga memasak menunya. Bener-bener dari awal. Untungnya saya suka masak." Keren dan penuh semangat menurut saya :)

Alhamdulillah usaha catering beliau berjalan lancar. Meski awalnya sempat sedih karena penggusuran PT. KAI tetapi beliau segera menyadari bahwa inilah petunjuk Allah dalam menjawab doa-doanya. Jika bersabar dan berusaha, insya Allah akan mendapatkan banyak kebaikan. Karena Allah selalu mendengar doa-doa kita, karena Allah akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Di itikaf ini, seperti biasa, bu husni lebih banyak persiapan dan lebih banyak harinya dari saya. Meski tahun kemarin bertekad akan beritikaf full 10 hari terakhir di tahun ini tapi saya baru bisa mulai itikaf di malam ke-25 :(

Saya jadi lebih memaknai urgensi itikaf dan berhasil menuntaskan target tilawah yang sempat tersendat dan tertinggal jauh... Alhamdulillah atas inspirasi dari seorang teman bahwa masih ada waktu untuk #kejar target, saya bisa menyelesaikan target-terget itu. Saya juga merasakan bahwa itikaf pada malam genap pun bisa lebih khusyu dan nyaman dibanding malam ganjil. Mungkin karena kebanyakan orang memilih itikaf hanya pada malam ganjil saja... seperti saya dahulu :D

Setelah berdiskusi bersama bu husni, mba lela, dan mba ita akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan itikaf tahun depan di Masjid Habiburrahman Bandung, insya Allah. Kami berharap, salah satunya, dengan qiyamullail 3 juz @malam bisa meng-upgrade ruhiyah kami dan menambah kecintaan kami pada Al-Quran. Kami juga berharap bisa beritikaf di 10 malam terakhir.
 So..
Langkah-langkah yang saya lakukan mulai saat ini dan akan saya lakukan adalah:
1. Berdoa dan menguatkan tekad
2. Mengkomunikasikan rencana ini ke ibu mulai saat ini
3. Menabung 50rb @bulan (Bikin celengan I'tikaf 1435 H)
4. Mencari info tentang teknis i'tikaf di Masjid Habiburrahman
5. Mengajukan cuti pada hari kerja yang bersinggungan dengan 10 hari terakhir Ramadhan
6. Dan tentunya mulai dari sekarang mulai Qiyamullail dengan surat-surat panjang serta lebih semangat menghafal Al-Quran.

Semoga Allah memudahkan rencana ini, memberikan kami kesehatan, kecukupan materi, dan dimudahkan semua urusan kebaikan kami...
Semoga tahun depan bisa i'tikaf dengan lebih baik lagi...
 

Note:
Terima kasih kepada Bu Husni, Mba lela, Mba ita, Tia, Herlin, Tami, Bu Mini, Mba iley, dan tentunya si kecil cerdas Zeezee atas kebersamaan beritikaf di masjid indah ini, Masjid Agung At-Tin Jakarta.

Saya Lia Aprilia mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
Semoga semangat Ramadhan senantiasa mengiringi kita hingga bertemu dengan Ramadhan selanjutnya
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin


Saturday, 18 August 2012

[I'tikafku] Tahun depan harus lebih baik


Ramadhan telah pergi,
Itikaf tahun ini pun telah berakhir...
Dan aku masih termangu di sini dengan lembaran target yang telah kutulis...
Ahh... ternyata target-targetku belum tercapai sepenuhnya...

Rencana untuk beritikaf full di tahun ini ternyata belum bisa terealisasi
Beragam hal yang harus dikerjakan di kantor membuat saya mengurungkan niat untuk cuti
Menjadi musafir *bolak balik masjid-kantor-masjid-kantor* pun menjadi pilihan
Sambil tetap berusaha menyelesaikan target dengan sisa waktu dan tenaga ini

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang saya hanya memprioritaskan itikaf pada malam-malam ganjil saja, kali ini saya berusaha beritikaf di setiap malam di 10 hari terakhir Ramadhan... meski akhirnya belum bisa full 10 malam. Semoga tahun depan bisa itikaf full dan lebih berkualitas. Karena itikaf adalah kebutuhan kita akan Allah... seperti yang disampaikan oleh Dr. Nazarudin Umar dalam sebuah kajian Dhuha *redaksi dengan bahasa saya sendiri*,

Apakah yang kau kejar? apakah yang kau butuhkan?
Kau butuh Allah atau Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar hanyalah mahluk, sedangkan Allah adalah maha berkuasa atas segalanya.
Jika yang kau kejar adalah Allah, maka Lailatul Qadar akan mengikutimu, dan kau akan mendapatkannya. Jadi janganlah terpaku untuk mengejar lailatul Qadar, tapi beribadahlah karena kau butuh Allah... maka kau akan mendapatkan Lailatu Qadar.

Jika kau memang butuh Allah, tentu kau tidak akan menyianyiakan waktu 10 hari terakhir Ramadhan ini. Lailatul Qadar bisa datang setiap saat.
Jika pada malam ganjil... pada malam ganjil menurut siapa? padahal di negeri ini menentukan awal puasa saja sudah berbeda, dapatkah kau menentukan malam ganjil yang sebenarnya... padahal kita hanya bisa berijtihad dimana kebenaran hakiki hanyalah milik Allah..
Jika pada waktu malam... pada malam di belahan bumi mana? jika Allah ingin menurunkannya pada malam di belahan bumi Amerika, tentulah di sini siang hari...

Yang bisa kita lakukan adalah terus mendekat kepada-Nya di waktu paling istimewa di Bulan suci ini. Maka Dialah yang berkehendak memilih hamba-hamba Nya untuk berada dalam ibadah optimal pada Lailatul Qadar ini...

Pada itikaf kali ini Allah berkenan mempertemukan saya kembali dengan Bu husni (kusrimining) yang berbagi semangat lewat ceritanya. Seorang ibu dari 3 anak yang semangat nya tidak kalah dengan pemuda. "Usia boleh tua, tapi semangat berbuat baik jangan kalah sama anak muda." katanya padaku. Keren! padahal usianya sudah tidak muda lagi dan anak-anaknya sudah menjadi para pemuda tangguh. Fastabiqul khairat...

Bahkan untuk itikaf ini, beliau yang bekerja sebagai tukang jual sarapan di stasiun setiap harinya rela untuk tidak berdagang dan tidak melayani pesanan di 10 hari terakhir ini. Padahal untuk catering, ini tergolong waktu-waktu yang banyak order. Tapi baginya ibadah ini jauh lebih penting dari apapun. Akupun sempat bertanya, "kalau tidak jualan berarti tidak ada pemasukan dong bu..."
"Saya sudah menabung untuk ini selama 11 bulan, agar saya bisa beribadah dengan tenang dan kebutuhan sehari-hari bisa ter-cover."
"Waaa...." sayapun takjub. "rezeki itu muncul dari jalan yang tak terduga, Lia. Insya Allah, Dia akan selalu mencukupi kebutuhan kita yang sungguh-sungguh berusaha dan beribadah." katanya yakin.
Hmmm... benar juga, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang berusaha mendekat pada-Nya.
"Lalu bagaimana dengan suami dan anak-anak ibu? tanyaku lagi.
"Mereka itikaf di masjid dekat rumah, kebetulan disana disediakan makan sahur dan buka puasa. Kebutuhan mereka lainnya sudah saya siapkan sebelum Ramadhan. Termasuk kebutuhan untuk Idul Fitri."
Huaaaa.... Kereeen  Saya jadi malu sendiri karena untuk itikaf dan juga Ramadhan ini, persiapan saya masih minim... tidak terencana dengan baik seperti Bu husni. Sehingga saat itikaf pun saya masih kerepotan menyelesaikan beberapa urusan duniawi


Semoga tahun depan bisa itikaf dengan lebih baik secara kualitas dan kuantitas
#FightFor

Note:
Terima kasih kepada Bu husni yang telah berbagi tips, cerita, dan semangat kepadaku.

Juga kepada Mba Ida, Tia, Melly, dan Fahri atas kebersamaan beritikaf di masjid megah ini, Masjid At-Tin Jakarta.

=======================

Kepada teman-teman yang membaca tulisan ini, saya ucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H
Semoga semangat Ramadhan senantiasa mengiringi kita hingga bertemu dengan Ramadhan selanjutnya
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin

=Lia Aprilia=

Wednesday, 11 April 2012

Karena Allah Selalu Mengirimkan Malaikat-Nya Untukku

*forward-an dari milis. tulisan lama tapi selalu bisa jadi penawar penat :)
karena.. SAAT LELAH, SAAT PENING, ALLAH SELALU MENGIRIMKAN 'MALAIKATNYA UNTUKKU..

 

Di sebuah keheningan malam, dingin terasa menusuk tulang …, seorang pemuda duduk terpekur  seraya sesekali memandangi langit …, ada guratan-guratan keletihan diwajahnya, ada  gundah yang menggelayuti  perasaannya … Otaknya mencoba untuk memutar kembali memori-memori yang ada …, mengingat rangkaian peristiwa demi peristiwa yang telah dilalui. Ada desahan nafas yang terdengar seiring dengan nyayian jangkrik dalam pekatnya malam …

Segudang aktivitasnya yang menuntut meminta prioritas, memaksanya menghabiskan lebih dari 18 jam di luar rumah. Tak jarang ia mengetuk pintu rumah bersamaaan dengan terbitnya sang fajar. Saat sebagian besar manusia terlelap …, ia semakin akrab dengan lembabnya udara malam…, setia berada dalam ruang-ruang pertemuan membahas agenda yang sering kali sangat jauh dari irisan kehidupan dan tak luput kuliah pun dinomor sekiankan karena tuntutan
 

Tak bisa dipungkiri, bahwa semua itu terasa melelahkan…, sepertinya otaknya sudah sangat  penuh dengan berbagai masalah. Sebagai seorang manusia sangat fitrah jika ia memiliki keterbatasan kapasitas  menampung semua permasalahan yang ada..., Tanpa terasa butiran-butiran hangat  itu jatuh membasahi pipi …

Teringat nasihat dari seorang al-akh yang terngiang di telinganya “sahabat … layaknya sebuah perjalanan yang sangat panjang, jalan da’wah selalu dipenuhi oleh kesulitan dan kepahitan. Berbagai fitnah, tantangan dan hambatan terus mendera tak putus-putusnya.

Tak sedikit  tenaga, waktu dan pikiran yang terkuras, peluh yang terkucur, sayatan-sayatan luka yang menganga  bahkan tetesan-tetesan darah pun tak luput mewarnai jalan panjang ini. Maka laluilah ia dengan segenap kesungguhan, karena di ujung jalan ini  Allah  menyiapkan berbagai keindahan. Sahabat … terkadang muncul pertanyaan dalam hati kita “Kenapa kita diuji ?” Allah memberikan jawaban “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan “Kami telah Beriman?” dan mereka tidak diuji ? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (Qs. Al-Ankabut:2-3),

lalu timbul pertanyaan kembali “Kenapa kita tidak mendapatkan apa yang kita idam-idamkan ?” Allah menjawab “…boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui …”(Qs. Al-Baqarah:216), kemudian “Mengapa ujian seberat ini?” “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya …” (Qs. Al-Baqarah:286) dan terkadang kita sering merasa begitu lelah dan lemah, Allah menjawab “ … janganlah kamu merasa lemah  dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman” (Qs. Ali Imran:139), lalu “Bagaimana kita harus menghadapinya?” Allah berkata “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung “ (Qs. Ali Imran:200), kemudian “Kepada siapa kita berharap?” jawabnya “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aku bertawakal …” (Qs. At Taubah:129),  dan “Jika kita tidak mampu bertahan lagi?” maka “… janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah …” (Qs. Yusuf:87), kemudian “Apa yang kita dapatkan dari semua ini?” “ Sesungguhnya Allah membeli orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…”(Qs. At Taubah:111). Sahabat … mari kita berbenah diri dan terus berbenah untuk mempersembahkan yang terbaik dalam masa hidup dengan torehan kemuliaan dan semangat pantang menyerah.

Dimanapun … kapanpun dan dimanapun selama Allah menjadi Just the one goal. Jadikanlah hidup ini selalu penuh dengan harapan kepada Sang pemilik Jiwa. Bersiaplah menghadapi putaran waktu hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada-Nya. Kalaulah keletihan itu melanda baurlah dengan ayat Illahi…, semoga Allah melapangkan hati-hati kita, selamat berjuang sahabat …”

Percikan air wudhu itu menyegarkan kembali tubuh yang letih dan meluruhkan rasa gundah yang melanda hati, pemuda itu mencoba mengembalikan semua permasalahan pada Sang Pemilik Jiwa, menghamparkan sajadah dan meratakan kening diatasnya… ada guncangan yang begitu dashyat ditubuhnya… sebuah kenikmatan tersendiri yang tidak bisa dirasakan oleh siapapun pada saat seorang hamba bermunajat kepada Sang Kekasih, memohon ampunan dalam jutaan butir do’a. Bersimpuh seraya merenungkan semua kekhilafan…

Duhai Sang Pemilik Jiwa…
Ikhlaskanlah hati-hati ini sehingga bisa menerima semua bagian dari perjalanan hidup dengan kebesaran hati dan kebesaran jiwa serta menemukan jawaban dari sebuah  rahasia dibalik titian kehidupan yang telah dijalani…

Duhai Sang Pemilik Jiwa…

Jadikanlah amal-amal ini sebagai pemberat timbangan di hari akhir nanti … istiqomahkanlah hati ini agar tetap berada di jalan,  bersihkanlah hati yang pekat ini untuk mudah dicelupi cahaya-Mu, illahi Rabbi.

Wallahu’alam bishowab

Semoga kita semakin semangat dalam menjalani setiap episode kehidupan yang dipersembahkan-Nya dengan segala cinta …

Monday, 5 December 2011

Kultwit @AyoTarbiyah: Siapakah Mereka #100pahlawantarbiyah?

Rating:★★★★
Category:Other

Hidup Pahlawan!!

Islamedia - Hari ini hari Pahlawan. Izinkan kami mentwit #100pahlawan yang ada di disekitar kita. Sila menikmati....

100. Pahlawan itu orang yang menjaga dan membersihkan masjid shg bisa ditempati sholat jutaan manusia di jutaan masjid #100pahlawan

99. Pahlawan itu seorang yang membersihkan jalan raya dengan sapu lidi di subuh hari hingga jalan raya beraspal bersih dan rapi #100pahlawan

98. Ibu bidan yang betugas di pelosok pulau yang sadarkan warga desa untuk hidup sehat dan bantu kelahiran bayi dg sehat #100pahlawan

97. Petugas penjaga perlintasan kereta api yang tanpa disertai palang pintu, membantu ribuan kendaraan selamat dari Kereta #100pahlawan

96. orang yang tiap pagi memungut sampah di kampung-kampung hingga bak sampah di kampung kita kosong tiap ganti hari>> #100pahlawan

95. pemuda yang rela membersihkan jalanan ibu kota dari paku-paku yg bersebaran di jalan raya yg bisa bahayakan jutaan orang>>#100pahlawan

94. Petugas pengatur lalu lintas di sudut-sudut perempatan dan perlintasan jalan, tapi mereka bukan aparat kepolisian >> #100pahlawan

93. Pelajar yang mengharumkan nama sekolah, daerah dan negara dalam lomba-lomba internasional bernuansa pendidikan #100pahlawan

92. Orang tua yang masih menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA, walaupun dia hrs menjadi pengayuh becak di jalanan ibu kota >> #100pahlawan

91. Mahasiswa gemar ke masjid yang rajin turun ke jalan menumbangkan rezim orba tapi mereka tak tertulis di tinta sejarah. >> #100pahlawan

90. Anggota DPR/DPRD yang tidak mau menerima suap atau riswah atau gratifikasi dan mengembalikannya ke KPK selama 1999-2009 >> #100pahlawan

89. Para profesional muda yang sibuk tapi masih sempat mengisi tarbiyah anak-anak SMA di kotanya >> #100pahlawan

88. Mahasiswa tingkat akhir yang masih sempat mengisi pengajian untuk adik-adik pelajar di sela-sela kesibukannya >> #100pahlawan

87. Aktivis yang peduli terhadap pendangkalan aqidah dan akhlaq bagi remaja di daerah-daerah di Indonesia >> #100pahlawan

86. ibu shalihah yang rela membimbing ibu-ibu di kampungnya untuk belajar membaca Al Qur'an tiap pekan >> #100pahlawan

85. Seorang pelajar yang tidak hanya sekolah pulang sekolah pulang, tap dia terus memberbaiki akhlaq teman2nya >> #100pahlawantarbiyah

84. Petani yang bertani di sawah tapi dia juga rajin mengajak kelompok tani untuk rajin ke masjid di dusunnya >>#100pahlawantarbiyah

83. Nelayan yang pergi 3 bulan mencari ikan di lautan lepas , tapi tak lupa sholat di kapal perahunya setiap hari >>#100pahlawantarbiyah

82. Pegawai bank yang tidak mau menerima dana riba karena keteguhan prinsipnya >> #100pahlawantarbiyah

81. Orang tidak mau uang belanjanya habis untuk membeli rokok karena merokok itu membahayakan diri dan keluarganya #100pahlawantarbiyah

80. anak muda yang akun twitternya mayoritas berisi kebaikan, taujih dan taushiyah kpd semua orang, dakwah bil twitter #100pahlawantarbiyah

79. ibu-ibu perempuan karier yang pulang kerja masih sempat untuk hadir pertemuan tarbiyah dan dakwah setiap pekan >>#100pahlawantarbiyah

78. Ayahanda yang selalu mengajari anak-anaknya untuk rajiin sholat subuh di masjid sejak dini >> #100pahlawantarbiyah

77. orang tua yang mendidik anaknya untuk tidak berpacaran saat remaja dan dewasa untuk menahan diri dan kehormatan >>#100pahlawantarbiyah

76. ibunda yang selalu memberi asupan ASI kepada jundinya, walau dia sibuk dakwah dan bekerja >> #100pahlawantarbiyah

75. ayahanda yang dekat sama anak-anaknya hingga anaknya menemukan jati diri dan berakhlaq mulia #100pahlawantarbiyah

74. Orang tua yang selektif menyekolahkan anaknya yang bisa mendidik nya menjadi anak tarbiyah >> #100pahlawantarbiyah

73. Ayahanda yang setiap hari berkeringat untuk membawa nafkah yang halal untuk istri dan anak-anaknya >> #100pahlawantarbiyah

72. ibunda yang sedang hamil tapi masih gigih masuk keluar kampung untuk mentarbiyah ibu-ibu di RT/RW nya >> #100pahlawantarbiyah

71. Ayahanda yang mengajak anaknya yang masih kecil untuk turut bersama saat dia aktif dakwah dan kerja sosial >> #100pahlawantarbiyah

70. Para guru TPA di kampung-kampung, di mushola-masjid kampung yang tiap hari ngajar anak2 mengaji >> #100pahlawantarbiyah

69. Pemuda yang berjaga di pos penanggulangan bencana menjaga pengungsi korban bencana tidur >> #100pahlawantarbiyah

68. Dokter Baru lulus kuliah , yang rela ditugaskan di Pelosok desa, bukan hanya karena PTT, tp krn misi dakwah >> #100pahlawantarbiyah

67. Perempuan shalihah yg rela resign dari kantornya, krn jilbab yg dikenakan tak bisa dipakai dg bebas di kantornya. #100pahlawantarbiyah

66. Ibunda yang rela dikeluarkan dari sekolah negeri, di era 80an, karena berjilbab. Dan kini jilbab bisa berkibar >> #100pahlawantarbiyah

65. Pelajar yang dipanggil kepala sekolah karena tidak mau ikut ekstrakurikuler , karena kostumnya tdk tutup auratnya #100pahlawantarbiyah

64. Aktivis Mahasiswi yang tidak mau dibonceng teman kuliah yg laki2, saat perjalanan KKN di desa krn prinsip tarbiyah #100pahlawantarbiyah

63. Aktivis buruh yang terus berjuang membela rekan kerjanya agar bisa sholat jumat saat di pabrik/kantor >> #100pahlawantarbiyah

62. Aktivis pendamping/penyuluh pertanian yang didik petani untuk bertani profesional, juga akhlaq dan aqidah >> #100pahlawantarbiyah

61. Profesional yg keahlian IT nya dimanfaatkan utk berdakwah, menerangi umat di dunia maya, memblock situs buruk >> #100pahlawantarbiyah

60. Seorang pemuda shalih yang memilih jodohnya, tidak karena harta dan dunia, tapi krn dakwah dan agamanya >> #100pahlawantarbiyah

59. Anggota DPRD yang tidak disukai temannya karena tidak mau menerima amplop tak jelas >> #100pahlawantarbiyah

58. Pegawai Negeri, baru masuk, yg tidak disukai temannya karena tdk mau diajak ke tempat2 yang buruk di malam hari >> #100pahlawantarbiyah

57. Pejabat publik yang tegas dan santun dalam bersikap, tapi dekat dan bersahabat dengan rakyatnya >> #100pahlawantarbiyah

56. Pedagang yang tdk mengurangi timbangan dan suka memberi infaq kepada yang membutuhkan >> #100pahlawantarbiyah

55. Pebisnis kontraktor yang tidak menyuap dan tidak me-mark-up anggaran proyek, demi keuntungan pribadinya.. >> #100pahlawantarbiyah

54. Pejabat publik yang sibuk bekerja tapi tak lupa mengisi pengajian di kampung-kampung >> #100pahlawantarbiyah

53. Mubaligh yang waktunya habis untuk bertemu dan melayani umat, dari surau, mushola, masjid hingga perkantoran >> #100pahlawantarbiyah

52. Orang yang bertugas menjadi pengurus jenazah di mushola, masjid dan pemakaman >> #100pahlawantarbiyah

51. orang yang bertugas menjadi sopir ambulans yang akan mengangkut pasien sakit atau orang yang wafat. #100pahlawantarbiyah

Alhamdulillah 50 dari #pahlawantarbiyah sudah terposting. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari 50 karakter diatas... #100pahlawantarbiyah

50. Grup nasyid yang syair nya bisa memotivasi orang untuk dekat kepada Allah, giat dakwah dan berbuat baik >> #100pahlawantarbiyah

49. Penulis novel, cerpen, dongeng, dan sastrawan umumnya yang karta sastranya bisa menggairahkan hidup utk dakwah #100pahlawantarbiyah

48. Lekaki shalih yang berupaya keras untuk tidak khalwat dengan perempuan di tempat-tempat umum krn Allah semata. #100pahlawantarbiyah

47. Dosen yang tidak hanya mengajar mata kuliah, tapi juga mentarbiyah sebagian mahasiswanya hingga jadi orang besar >> #100pahlawantarbiyah

46. Guru yang tak hanya mengajar di kelas, tapi juga mendidik siswa untuk jadi pemuda pengemban risalah kebaikan >> #100pahlawantarbiyah

45. Profesional muda yang bekerja profesional dan juga memakmurkan masjid di perkantorannya untuk kebaikan semua >>#100pahlawantarbiyah

44. Pengusaha yang mampu menyediakan lapangan kerja untuk menyantuni keluarga para pengemban risalah kebaikan >> #100pahlawantarbiyah

43. aktivis remaja yang giat berkampanye untuk mencegah pergaulan bebas dan kenakalan pelajar di kotanya >> #100pahlawantarbiyah

42. Kyai yang pesantren atau boarding madrasahnya melahirkan banyak duat yang siap ditugaskan kemana2.. #100pahlawantarbiyah

41. aktivis remaja masjid yang rutin makmurkan masjid, ajak rekan remaja untuk cinta masjid dan kebaikan >> 100pahlawantarbiyah

40. Pemuda yang saat lajang sejak sekolah/kuliah sdh bekerja mencari nafkah untuk membiayai dirinya dan dakwah >> #100pahlawantarbiyah

39. Orang tua yang selektif memilih menantu untuk puterinya, karena tak rela puterinya hidup jauh dari agamanya >> #100pahlawantarbiyah

38. Desainer yang membuat desain baju, jilbab, dan busana muslim-muslimah hingga dicintai dan marak dimana-mana #100pahlawantarbiyah

37. Produsen dan distributor segala produk menyehatkan untuk mencegah umat dari sakit dan bahan pengawet yang bahaya #100pahlawantarbiyah

36. Pengacara yang suka membela du'at dan umat dari ketidakadilan dan mafia hukum, rela membela rakyat demi kebaikan #100pahlawantarbiyah

35. buruh Migran yang ada di Luar Negeri, selain bekerja, ada yang menjadi guru ngaji bagi dan konselor bagi temannya #100pahlawantabiyah

34. Aktivis yang bolak-balik pergi ke negara lain, untuk mendampingi TKI dan bimbing mereka dari pengajian ke pengajian #100pahlawantarbiyah

33. Anak-anak muda kekar perkasa yang menjadi pengawal pribadi tokoh dan pengamanan saat acara dakwah dan kebaikan #100pahlawantarbiyah

32.. Wanita shalihah yg bertugas menjaga anak-anak , bayi dan balita di tempat "hadlonah" anak saat kegiatan dakwah >> #100pahlawantarbiyah

31. Orang bekerja atau sekolah di tanah rantau, yang tetap istiqomah disana untuk bekal kembali di daerah asal >> #100pahlawantarbiyah

30. Wartawan atau jurnalis yg gigih bekerja untuk menghasilkan karya jurnalistik yang membela dakwah dan umat >> #100pahlawantarbiyah

29. Imam masjid yang senantiasa memimpin jamaah di masjid 5 waktu sehari >> #100pahlawantarbiyah

28. Bilal yang kumandang adzannya membangunkan orang sholat shubuh dan magnet jamaah 5 waktu sehari >> #100pahlawantarbiyah

27. Petugas Amil Zakat, berjaga di hari libur, bertugas setiap hari, masuk keluar kantor dan rumah utk ambil ziswaf #100pahlawantarbiyah

Termasuk RT @BerZakat: @mungkin perlu tambahan referensi lembaga penyalur zakat, buka aja bit.ly/udSMvs

26. penulis Buku-buku kebaikan, buku dasar2 agama dan buku-buku fikrah dakwah, yg bukunya jd motor gerakan kebaikan >> #100pahlawantarbiyah

25. orang yang membiayai program-program kebaikan, donatur bagi kegiatan dakwah >> #100pahlawantarbiyah

24. para qori' yg suaranya dibutuhkan masyarakat, di berbagai kegiatan utk menggugah hati akan keindahan Al Qur'an >> #100pahlawantarbiyah

23. Khatib yg khutbahnya menyentuh masyarakat, menggugah hati dan perasaan pendengar untuk berubah ke arah kebaikan >> #100pahlawantabiyah

22. Para atlet dan guru olahraga yang senantiasa berprestasi dan mendidik masyarakat untuk sehat dan qowiyul jism. >> #100pahlawantarbiyah

21. para pegiat kemansiaan, pekerja sosial yang diutus di daerah bencana hingga ke daerah konflik dan Palestina >> #100pahlawantarbiyah

20. Para WNI yg berjuang belajar /studi di Negeri lain untuk membangun negeri ini kelak dengan teknologi dan kepakaran #100pahlawantarbiyah

19.Syuhada, veteran, yg berjuang bebaskan negeri ini dr penjajahan asing hingga negeri ini merdeka & terbuka utk dakwah #100pahlawantarbiyah

18. Para pejuang RI yg tak tertulis & tak disebut dalam pusara dan gelar "pahlawan" agar negeri ini barokah untuk umat #100pahlawantarbiyah

17. Para du'at penyebar agama sejak awal hingga era kemerdekaan, era demokrasi liberal, terpimpin, orla dan orba. #100pahlawantarbiyah

16. para duat yang turut membuka pintu gelora reformasi di Indonesia dan negeri2 lain agar berubah ke arah kebaikan #100pahlawantarbiyah

15. orang yg merekrut kita, mengajak pertama kali ke arah kebaikan. tak terduga perkenalan dgn dia, membuat istiqomah #100pahlawantarbiyah

14. Semua profesi dan pekerjaan yang mendukung dakwah dan membela umat, baik kecil sampai besar, baik jauh atau dekat #100pahlawantarbiyah

13. Petugas dakwah yang bekerja di balik layar untuk mengembangkan kreativitas dan menjaga asholah kemurnian >> #100pahlawantarbiyah

12. Kaum Cerdik cendikia tempat kita belajar, seminar, training untuk kapasitas diri dan ummat dan terus belajar #100pahlawantarbiyah

11. kaum Ulama, fuqoha, 'Alim dan halihin yang kita belajar tentang ilmu agama kepadanya #100pahlawantarbiyah

10. Murid-murid, mutarabbi dan anak-anak shalih kita, yang selalu mendoakan agar terus istiqomah dalam kebaikan #100pahlawantarbiyah

9. Seluruh guru SMP-SMA – Kuliah yang mendidik kita saat remaja – dewasa hingga kita berilmu dan berkapasitas #100pahlawantarbiyah

8. Seluruh guru SD yang mengajari kita menulis, membaca dan berpengetahuan dasar dan mendidik nilai2 kebaikan #100pahlawantarbiyah

7. Seluruh Guru TK / PAUD yang mengajari kita membaca, menyanyi dan berhitung #100pahlawantarbiyah

6. Istri dan / suami kita yang mendampingi kita dalam perjuangan dakwah, mengarungi bahtera keluarga pejuang #100pahlawantarbiyah

5. Ibunda & ayahanda, Orang tua kita yg telah melahirkan, membesarkan, mendidik & merestui kita utk aktif berjuang #100pahlawantarbiyah

4. Muassis, perintis dakwah di perkotaan dan perdesaan. Di sekolah dan kampus, di kantor dan di mana-mana #100pahlawantarbiyah

3. Mujahid mujahidah dakwah yang telah mendahului kita yang amal dakwahnya terasa hingga sekarang dan masa depan #100pahlawantarbiyah

2. Para qiyadah (pemimpin) yg memimpin dan memikirkan da'i, keluarga da'i, umat & bangsa ini, dimanapun mereka berada #100pahlawantarbiyah

1. Para Murobbi / Murabbiyah yang gigih berjuang metarbiyah kita kemarin, sekarang dan insya Allah hari-hari kedepan #100pahlawantarbiyah

Alhamdulillah tuntas sudah #100pahlawantarbiyah yg didedikasikan untuk semua.Mari kita sampaikan salam, rasa terima kasih, dan doakan mereka


sumber: http://www.islamedia.web.id/2011/11/siapakah-mereka-100pahlawantarbiyah.html

Thursday, 25 August 2011

Jadilah Manusia yang Tenang

Jadilah Manusia yang Tenang...
Tenang adalah satu dari sekian banyak karakter kesuksesan.
Tenang adalah ekspresi dari kepribadian yang kuat dan solid.
Tenang adalah simbol bagi seorang manusia yang sadar (ngeh) dan maju (bukan kampungan).

Kebalikannya seratus delapan puluh derajat.
Seorang manusia yang berang (marah besar) oleh penyebab yang remeh temeh,
bereaksi secara berlebih terhadap urusan yang sepele,
adalah ekspresi dari seorang manusia yang lemah kepribadiannya,
lemah akalnya dan lemah kemauannya.

“Sesungguhnya, kedudukan hikmah (kebijaksanaan, wisdom) seorang manusia yang paling tinggi adalah pengetahuannya dalam mengarungi berbagai situasi dan kondisi dan kemampuan menciptakan ketenangan dan ketenteraman dalam internal dirinya, meskipun banyak badai menerjangnya dari luar”.

Pakar psikologi berkata:
Sesungguhnya, manusia yang marah oleh penyebab yang remeh temeh adalah seorang manusia yang ringkih. Persis seperti pohon yang lemah, sedikit hembusan angin mempengaruhinya.

Adapun seorang manusia yang kuat, ibarat pohon yang kuat; di mana pokoknya kokoh, cabang dan dahannya menjulang ke angkasa. Akar-akarnya menghunjam jauh ke dalam bumi, sehingga, hembusan angin yang kuat semakin membuatnya tegar dan kokoh.

Dan seorang manusia yang tenang adalah, manusia yang mampu meraih simpati dan hati orang lain, mampu mendapatkan kekaguman mereka.

Oleh karena itu, dalam hal ini, ada peribahasa lama mengatakan: “Satu tetes madu dapat menjerat lalat, jauh lebih kuat kemampuan jeratannya dibandingkan dengan satu drum empedu”

Demikian halnya dengan manusia.

Jika engkau bermaksud meraih simpati orang lain, maka, pertama kali pastikan bahwa engkau adalah temannya yang tulus. Ketulusan ini ibaratnya adalah satu tetes madu yang menjerat hatinya. Itulah jalan satu-satunya untuk meraih hatinya. Sikap tenang, dengan seluruh makna yang dikandung olehnya, mampu membuat banyak keajaiban dan pengaruh terhadap jiwa yang keras sekalipun.

Jadi, jadilah manusia yang tenang saat berinteraksi dengan orang lain.
Pergunakan kebijakanmu terhadap orang-orang yang berbuat buruk kepadamu.
Berbicaralah dengan kosa kata yang mengekspresikan kecintaan dan ketenangan.
Hal ini adalah jalan terpendek untuk meraih hati orang lain.
Mendapatkan kekaguman mereka dan jalan menuju sukses.

Caranya: tenang .. logis dalam menjalin hubungan .. dan ikuti kehidupan pada umumnya atau lazimnya.


*copas tulisan Ust. Musyafa Ahmad Rahim, Lc, sumber: Dakwatuna*

Thursday, 18 August 2011

Penggugah Semangat Jiwa…


Imam Hasan Al-Banna pernah berpesan, kalian tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah kalian, lemahnya sarana dan kurangnya alat-alat pendukung, atau karena banyaknya musuh kalian, berkumpulnya musuh-musuh menentang kalian. Mengapa…? Karena walaupun semua isi bumi ini berhimpun menjadi satu memusuhi kalian, niscaya mereka tidak dapat membahayakan kalian kecuali apa yang telah ditentukan Allah kepada kalian.

Tetapi ada satu sebab yang dapat menghancurkan kalian, dan menyebabkan kalian kehilangan segala-galanya yaitu, JIKA HATI KALIAN TELAH RUSAK, Allah tidak memperbaiki amal kalian, suara kalian telah terpecah belah dan saling bertentangan pendapat. Sebaliknya selama kalian bersatu, selalu menghadap Allah SWT, senantiasa mengikuti dan taat kepada-Nya, berjalan sesuai dengan manhaj yang diridhai-Nya, kalian tidak akan pernah merasakan lemah dan hina. Jadilah kalian sebagai umat yang paling tinggi. Allah akan selalu bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan amal serta usaha kalian.

Subhanallah, pesan yang begitu mengena. Lemahnya semangat pasti senantiasa menghampiri kita, itu adalah hal yang biasa, yang luar biasa adalah, jika kita sadar, kemudian bangkit, dan tidak memberikan tempat sedikit pun pada setan untuk terus menggoda….

Satu lagi penggugah semangat jiwa, amat khusus untuk jiwa lemah seperti saya. Ku bersimpuh di halaman Allah, kusujudkan wajahku pada debu-Nya, tidak bisa ku sembunyikan hatiku dari pandangan Allah, tidak bisa, tetap ku ingin kembali pada-Nya….

Mulanya ku anggap mudah perjalanan ini. Dengan idealisme khas seorang remaja, kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajakku. Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan ini. Begitu pun arti perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagiaan manusia.

Agaknya kekurangpahaman ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuangan ku yang mengurungkan niat. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan. Namun aku tiada terganggu. Sementara jalan di hadapan ku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktu pun terus berlalu…Aku dan lainnya terus melangkah terseret-seret. Hampir seperempat abad usiaku aku habiskan di jalan ini. Dan kini makin kupahami tabiat jalan yang telah kupilih.

Entah sudah untuk yang keberapa kali lutut ini bergetar. Nafas pun mulai tersengal. Kadang kujumpai seseorang berdiri di tengah jalan. Ia tampaknya tidak menyukai kehadiranku. Tapi aku harus melewati jalan itu. Dengan segenap kemampuan kuhadapi ia. Terkadang saudara-saudaraku tinggal diam, membiarkan ku berkelahi sendirian.

Entah berapa kali sudah aku tersungkur. Orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan. Tapi aku tidak mau peduli. Masih pekat kepercayaan ku, Ia yang akan kujumpai di sana senantiasa akan memberikan kekuatan gaib-Nya kepadaku.

Kini di hadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak-semak liar, yang menatap kami dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak yang mengejek. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap jalan itu. Kupertajam tatapanku ke arah tebing angkuh tadi. Samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang-orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat adanya jejak sama sekali.

Dan babak baru perjalanan pun kami mulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya. Akupun harus melangkah naik.

Ah…seorang saudaraku tegelincir, tepat di sebelah ku! Kuulurkan tangan menahan lajunya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku turut terseret. Namun ia tidak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakanku pun semakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mengerti, ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan lain yang lebih ramah, walau entah menuju ke mana….

Bahkan sempat kudengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudaraku yang dulu turut membimbingku melewati masa-masa awal perjalanan. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka!

Di setiap jalur yang kami tempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempat kami melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya Ia akan menurunkan pembantu-pembantu-Nya untuk menghibur kami, orang-orang yang mendambakan perjumpaan dengan-Nya. Di sini aku biasa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah.

Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba ku atasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati.

Namun ampuni aku ya Rabbi. Betapa seringnya hamba tertegun ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi.

Kini pun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini? Akankah Kau hargai, apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu? Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu? Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!

Ada kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini kutempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa, dengan nyali melebihi singa. Mereka mempertaruhkan segalanya, hatta nyawa sekalipun. Mereka meyakini dan merasakan, meregangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan sang Kekasih.

Ada terpikir olehku untuk melewati pula jalan itu. Namun aku cukup arif untuk menyadari, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah aku ini, dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu, untuk membuktikan kecintaan kepada–Nya? Betapa lancangnya aku mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malam-malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cinta-Nya. Dan aku pun harus bersabar…..

Kupandangi tanah datar di hadapanku. Di salah satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah ke sana. Gemericik suara dedaunan dan teriakan serangga ilalang menemani kesunyianku.

Kulepas alas kaki. Hati-hati kumasukkan kaki ke beningnya air. Terus menuju ke tengah-tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah dan kepala, dan segera kurasakan kesegaran yang luar biasa. Selanjutnya aku telah tertunduk di sebongkah batu besar di tengah-tengah kali.

Sejuta pikiran dan angan bersatu di benakku. Perjalanan panjang telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas di benakku.

Tapi sampai berapa lama aku berada dalam kesunyian seperti ini. Gunung diam di hadapanku justru mempertebal kebosananku. Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku. Kulihat sekelilingku… Sepi…

Aku harus segera berlari, kembali ke rombongan. Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi. Aku harus bergabung bersama mereka, kembali melintasi semak berduri. Seraya terus menetapkan angan, akan suatu peristirahatan abadi. Akan suatu taman yang rindang, yang kaya dengan aneka buah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai……

Ya Rabbi, walau berat kurasa, tetapkanlah kakiku di jalan dakwah ini…….. selamanya……

 Maraji’:

  1. Ibnu Ibrani, di majalah Islah
  2. Syaikh Musthafa Masyhur, Al-Qiyadah wal Jundiyah
Sumber: dakwatuna