Showing posts with label muslim. Show all posts
Showing posts with label muslim. Show all posts

Thursday, 26 May 2016

Maryam-san, Mualaf Jepang dari Hamamatsu

Di tengah hari yang terik ini, yang mana seminggu lagi Ramadhan, saya jadi kepikiran bagaimana sih Ramadhan di Hamamatsu ini. Maklum baru tahun pertama disini. Coba-coba googling, siapa tau ketemu tulisan orang yang pernah merasakan Ramdhan di negeri yang muslimnya minoritas, terutama di kota Hamamatsu ini. 

Penelusuran ini membuat saya tertarik untuk membaca artikel yang ditulis tahun 2006.Tentang kondisi masyarakat Jepang yang ternyata tidak percaya dengan Tuhan. Artikel tersebut menceritakan sebuah sudut pandang tentang Islam di mata masyarakat Jepang dari seorang mualaf yang saya kenal di sini, Maryam-san. Entah mengapa saya tidak bisa membendung air mata ini. Saya bisa merasakan bagaimana berada sebagai muslim di tengah-tengah mayoritas non muslim. Aahh.. betapa kagumnya saya kepada Maryam-san dan Pak Bambang (suaminya). Juga kepada sensei saya Pak ratno dan Bu ervin. Betapa beruntungnya saya, dipertemukan Allah kepada mereka yang telah membuat kehidupan di sini (sebagai muslim) menjadi lebih mudah. 

"Yaa muqollibal qulub tsabbit qulubana ‘ala diinik
‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu’
 Aaamin...
Foto saya dan bu ervin sebelum beliau balik ke Indonesia (November 2015)

Sumber: Hudzaifah.org

Nama Maryam barangkali tidak terlalu asing bagi telinga muslim dimanapun. Nama ini terpatri dalam Al Qur'an (Surat Maryam). Menandakan posisi sang empunya nama (Maryam binti Imran) yang memang istimewa dalam sejarah Islam.

Sebaliknya, Maryam keturunan Jepang yang satu ini bukan siapa-siapa. Tak banyak orang mengenalnya. Tidak di Hamamatsu kota tempat tinggalnya, tidak di Jepang negaranya, apalagi di Indonesia. Kendati demikian, kisah hidup hamba Allah yang satu ini menarik untuk disimak. Apalagi, semangat dan performa keislamannya tak kalah dengan mereka yang berislam sejak lahir.

Nama Maryam memang bukan nama asli. Sebagai orang asli Jepang jelas ia memiliki nama Jepang. "Tapi tolong jangan paksa saya menyebutkan nama asli saya. Saya tak ingin membangkitkan kenangan lama saya. Kenangan yang tak ingin saya ingat-ingat lagi. Maka, panggil saya Maryam saja,"‌ ujar Maryam tenang..
Maryam-san dan bu ervin (November 2015)
Kisah tentang Maryam adalah juga kisah sukses pengajian Hamamatsu dalam membina anggota pengajiannya. Hamamatsu adalah tempat dimana ia tinggal dan kemudian mengikuti pengajian-pengajian Islam. Kota ini berpenduduk 800.000 jiwa yang terletak di Pulau Honshu bagian tengah, dan dapat ditempuh dalam waktu empat jam saja dari Tokyo ke arah Selatan. Empat jam saja dari Tokyo ke arah selatan dengan menggunakan kereta biasa.

Muslim di Hamamatsu cukup banyak. Terdiri atas orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang (lazim disebut kenshusei alias trainee), muslim Pakistan, muslim keturunan Jepang karena perkimpoian campuran (Nikkei) dan penduduk asli Jepang sendiri (Nihon jin).
Banyaknya muslim pekerja di Hamamatsu tak lepas dari keberadaan kota ini sebagai kota industri. Perusahaan multinasional seperti Yamaha dan Suzuki bermarkas besar di kota ini. Asal mula raksasa Honda-pun dari kota ini. Saratnya industri otomatis mengundang banyak pekerja asing. Termasuk pekerja asal Indonesia.

Pengajian rutin di Hamamatsu telah berlangsung lama. Pesertanya cukup banyak, dan semakin lama semakin bertambah. Muslimah asli Jepang sendiri terlibat secara aktif. Sebagian besar muslimah Jepang menjadi muslim melalui pernikahan, baik dengan muslim Indonesia, Pakistan, Malaysia, ataupun Bangladesh.

Salah satu muslimah asli Jepang aktivis pengajian Hamamatsu adalah Maryam, atau sering disebut Maryam-san oleh warga pengajian Indonesia di Hamamatsu. Maryam lahir pada 19 Juli 1977 di Shizuoka Jepang, kota yang berjarak satu jam perjalanan dari Hamamatsu ke arah utara. Ia adalah putri pertama dari empat bersaudara.

Maryam menikah dengan Bambang Harianto, pekerja Indonesia yang semula bekerja di salah satu industri di Hamamatsu, pada 16 Desember 2001. Lima hari sebelumnya dia mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh pengajian Hamamatsu.

Pernikahan Maryam dengan Bambang berlangsung unik dan terkesan aneh bagi kebanyakan masyarakat Jepang, apalagi bagi orangtua Maryam. Ketika Bambang memberanikan diri untuk melamar Maryam, sang calon mertua tak berkomentar. Bingung. Karena biasanya pemudi pemuda Jepang hidup bersama dulu sebelum menikah (atau malah tidak menikah selamanya namun hidup bersama dengan pasangan yang sama atau bergonta ganti pasangan). Apalagi, Maryam kenal Bambang kurang dua bulan. Namun dasar pemuda Bambang ini baik imannya, maka kendati sang mertua rada bingung, namun pernikahan-pun tetap dilangsungkan di kampung halaman Bambang, Pasuruan-Jawa Timur, melalui perantaraan wali hakim.

Dari pernikahan yang penuh barokah ini Maryam dan Bambang (sementara ini) dikaruniai dua orang anak, masing-masing bernama Sakinah (lahir tahun 2002) dan Abdullah Alim (Lahir tahun 2004). Wajah kedua hamba Allah yang mungil ini cukup unik. Berkulit putih dan bermata agak sipit ala Maryam, namun sesekali bisa berbahasa Indonesia mengikuti Ayah-nya.

Komunikasi dalam keluarga ini cukup unik. Mereka lebih banyak bicara dalam bahasa Jepang, yang sesekali dicampur bahasa Indonesia. Maryam sendiri belum bisa berbahasa Indonesia kendati sudah paham banyak kata Indonesia. Bambang sebaliknya, sudah pintar berbahasa Jepang karena telah tinggal di Jepang nyaris sepuluh tahun. Namun, apabila bertemu dengan komunitas Indonesia, Bambang lebih banyak berbahasa Jawa logat Jawa Timur-an, apalagi ketika yang dijumpainya adalah orang Jawa.

Dua sejoli ini adalah pasangan serasi di dalam dan di luar rumah. Keduanya sama-sama aktif menggerakkan pengajian di Hamamatsu dan sekitarnya. Bambang, setelah usai kontrak tiga tahunnya dengan perusahaan di Jepang, lantas menetapkan untuk tinggal di Jepang. Apalagi ia telah beristrikan orang Jepang. Bambang kini berwirausaha jual beli mobil dan aktif memimpin Keluarga Masyarakat Indonesia Hamamatsu (KMIH). Juga, ia aktif menggerakkan aktivitas da`wah di masjid Muhammadi Hamamatsu, masjid satu-satunya di Hamamatsu yang berdiri pada tahun 2006 dan didominasi komunitas pekerja Indonesia.

Maryam sendiri disamping menjadi ibu rumah tangga, juga aktif menjadi penggerak da`wah di kalangan muslimah Jepang (Nihon jin). "Maryam-san termasuk pioneer disini, ia sudah bisa disebut ustadzah, apalagi bacaan Al Qur`an-nya sudah lancar sekali,"‌ komentar Ervin, seorang ibu muda Indonesia yang tinggal di Hamamatsu.

Apa yang membuat Maryam tertarik dengan Islam? Awalnya sederhana saja. Maryam remaja memiliki hobi menari. Hobi ini mengantarnya bertemu dengan orang Indonesia dalam acara-acara kebudayaan. Dalam sejumlah interaksi tersebut, ia heran mengapa orang Indonesia yang dijumpainya tak makan daging babi dan juga tak minum alkohol ataupun sake. Padahal, bagi kebanyakan orang Jepang, alkohol adalah bagian dari budaya keseharian.
Kemudian, setelah peristiwa WTC 11 September 2001, Maryam makin penasaran lagi dengan Islam. Mengapa Islam dikaitkan dengan terorisme? Mengapa muslim diidentikkan dengan kekerasan? Maka berbekal kegelisahan tersebut, Maryam-pun mendatangi pertemuan yang dihadiri orang Jepang dan orang Indonesia yang antara lain membahas persoalan tersebut.

Tak dinyana, Allah SWT punya kuasa, dari interaksi dengan muslim Indonesia dalam forum-forum diskusi tersebut, ia bertemu dengan Bambang Harianto, pemuda Pasuruan yang kini jadi suaminya, pada pertengahan bulan Oktober 2001. Dari interaksi-interaksi tersebut, ia juga sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa 11 September 2001 tak ada hubungannya dengan Islam. Muslim Indonesia di Hamamatsu tampak ramah, hangat, dan tak ada kesan sebagai teroris sama sekali. Tak seburuk yang digambarkan media massa.

Menurut Maryam, Islam tidak banyak dikenal di Jepang. Karena di Jepang tak ada pelajaran agama. Ia sendiri mengenal Islam pertama kali justru dari pelajaran sejarah di sekolah. Ketika ia di sekolah menengah, ada pelajar muslim yang mengikuti pertukaran pelajar di sekolahnya. Dimana ia banyak bertanya dan bertukar pikiran tentang agama dan masalah ketuhanan. Kemudian, ia juga mengenal Islam dari presentasi teman kuliahnya di universitas yang mempresentasikan tentang Islam sebagai bagian dari tugas kuliah..

Sepengetahuan Maryam selaku muslimah asli Jepang, orang Jepang masa kini umumnya tidak fanatik pada satu agama. Atau malah tidak beragama sama sekali. Mereka bisa lahir sebagai penganut Shinto, kemudian ketika menikah menggunakan ritual Kristen, dan ketika meninggal memilih ritual ala Budha. Maka, menerima konsep Tuhan yang satu ala Islam adalah persoalan besar bagi orang Jepang. Menurut Maryam, orang Jepang mengenal konsep Tuhan namun berbeda dengan monotheisme ala Islam. Sebagian merasakan kebutuhan terhadap adanya Tuhan namun mereka tidak punya perangkat untuk mengakses Tuhan tersebut. Namun, pada umumnya apabila mereka mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam, mereka juga tak terlalu sulit untuk menerima.

Menanamkan rasa percaya akan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta dan Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusanNya adalah suatu perjalanan yang panjang bagi muslim Jepang. Menurut penuturan sejumlah mualaf Jepang, sebelum menjadi muslim, sebagian besar orang Jepang tidak percaya atau tidak yakin dengan adanya Tuhan. Mereka meyakini bahwa apa-apa yang sudah dan akan didapatkan semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Maka, hidup terasa kosong. Bila kebutuhan terhadap Tuhan mereka rasakan di suatu waktu, mereka bingung kemana mencariNya. Maka, mereka mencari Tuhan dimana-mana dan menentukan Tuhan mana saja yang bisa dimintakan pertolongan. Karena kebiasaan ini, orang Jepang banyak memiliki dewa dan jimat sebagai sebagai manifestasi kebutuhannya terhadap Tuhan. "Itulah mengapa saya katakan bahwa bagian tersulit mengajarkan Islam bagi orang Jepang adalah untuk mencerna konsep ketuhanan yang satu tersebut,"‌ jelas Maryam.

Maryam masih percaya bahwa terlepas dari masalah hidayah Allah SWT, jalan pernikahan adalah satu cara efektif untuk memperkenalkan Islam bagi orang Jepang. Kemudian, setelah mereka masuk Islam juga harus dibimbing. Ia menisbatkan pada dirinya sendiri, dimana ketika ia masuk Islam tahun 2001 sebenarnya iman dia pun belum begitu mantap. Alhamdulillah dia bertemu dengan suami yang baik dan senantiasa siap membimbingnya. "Jangan sampai ketika sang mualaf masuk Islam lantas ditinggal sendiri karena ternyata sang pasangannya juga tak terlalu taat dengan ajaran Islam, bimbinglah mereka karena mereka sangat perlu dibimbing,"‌ pinta Maryam.

Oleh karenanya, Maryam bersyukur bahwa di Hamamatsu ada pengajian rutin yang dikelola oleh masyarakat muslim di kota tersebut. Pengajian muslimah Hamamatsu memiliki aktivitas beragam. Bisa berupa belajar membaca Al-qur'an, menghafal surat-surat pendek, belajar bacaan sholat dan do'a-do'a keseharian. Alhamdulillah, pada saat ini sudah ada beberapa orang yang bisa lancar membaca Al-Qur'an.

Bersama pengajian Hamamatsu, para muslimah dan mualaf Jepang ini mulai memahami Islam dengan benar. Bila pada awalnya mereka mengakui, masuk Islam karena pernikahan, namun kini Alhamdulillah mereka menjadi bersyukur dipertemukan dengan Islam dan meyakini bahwa karena Islam-lah hati mereka menjadi tenang, hidup terarah dan menjadi punya pegangan hidup. Seperti suatu waktu, ketika diselipkan kabar tentang kasus karikatur Rasulullah di koran Denmark yang sangat menyinggung umat Islam, mereka mencucurkan air mata. Bukan air mata tanpa makna, namun air mata yang lahir dari rasa cinta pada Rasulullah SAW yang telah bersemi di hati mereka.

Namun, menjadi muslimah di Jepang bukan berarti tanpa tantangan. Beragam masalah timbul sebagai konsekuensi hidup sebagai minoritas. Layaknya menjadi orang asing di negerinya sendiri. Salah satunya adalah benturan dengan keluarga yang tidak menerima keberadaan mereka sebagai muslim. Bahkan, ada pula yang tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi oleh orang tua dan sanak saudaranya. Namun selepas anak-anak tercinta lahir dari rahim mereka, Alhamdulillah biasanya sebagian orang tua kembali mau menerima mereka. Kendati, yang lainnya tetap saja menjaga jarak dengan anak, menantu, dan cucu-cucunya.

Hal ini terjadi juga pada orang tua Maryam. Orangtuanya tidak pernah tegas-tegas menolak keislamannya, namun juga tidak pernah menyatakan menerima secara terbuka. Orangtua Maryam memberikannya pilihan bebas karena Maryam sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Suatu sikap khas Jepang. Alhamdulillah, hingga kini komunikasi Maryam dan suaminya dengan orangtua Maryam tetap baik. Mereka tetap bersilaturrahmi dan berkomunikasi secara wajar.

Masalah berikutnya bagi Maryam, dan juga para mualaf lainnya adalah kesulitan mendapatkan makanan yang halal. Makanan dan minuman yang ada di Jepang sebagian besar mengandung unsur haram, seperti babi (butaniku), arak/sake, wine ataupun bersifat syubhat, seperti banyaknya daging atau ayam yang tidak dipotong dengan menyebut asma Allah SWT. Maryam sangat menyadari hal tersebut. Ia tahu betul mana-mana produk makanan Jepang yang tak layak dikonsumsi karena sifat haramnya.

Alhamdulillah di Hamamatsu ada beberapa toko yang menjual daging halal. Keuntungan bagi Maryam, sebagai orang Jepang ia mudah saja membaca huruf kanji ketika berbelanja di supermarket. Maka ia dapat segera mengidentifikasi ingredients/ bahan kandungan yang ada dalam suatu produk makanan.

Berbeda halnya dengan muslim non Jepang. Banyak diantaranya yang tak bisa membaca huruf Jepang (hiragana-katakana-kanji). Akibatnya, mereka tak dapat memahami kandungan bahan makanan. Dalam kasus ini, muslim tersebut-lah yang harus proaktif. Contohnya, bila harus membeli roti atau datang ke restoran umum, maka harus berani bertanya pada penjualnya, kandungan makanan yang akan di makan. Memang terdengar merepotkan, namun bagi muslimah Jepang dan warga muslim lainnya, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Terbukti, sudah bertahun-tahun mereka menjalaninya tanpa sekalipun merasa repot. Alhamdulillah, rata-rata penjual atau penjaga toko diJepang sangat menghargai pembeli. Betul-betul menjadikan pembeli sebagai raja. Sehingga, sangat jarang ditemui penjual atau penjaga toko yang marah atau kesal saat ditanyakan kandungan makanan atau minuman yang dijualnya.

Masalah berikutnya adalah menanamkan dan memperkuat aqidah anak-anak utamanya ketka memasuki dunia sekolah. Kendati anak-anak Maryam belum masuk sekolah dasar, namun iapun memahami kendala ini dari hasil interaksinya dengan muslim yang lain. Kesulitannya adalah mulai dari menjelaskan pihak sekolah terkait makan siang yang 'khusus' alias bebas dari zat-zat haram seperti babi dan alkohol. Pelaksanaan sholat dzuhur bagi anak yang sudah menginjak remaja. Hingga, penjelasan ekstra tentang ketidakhadiran anak-anak pada acara-acara khusus di sekolah yang menyangkut kepercayaan orang Jepang, acara-acara mana berpotensi mendatangkan syirik.

Sudah bukan rahasia umum, di Hamamatsu dan di bagian Jepang yang lain. Sebagian anak muslim ada yang mengalami 'ijime' atau kebiasaan diejek oleh sekelompok anak di sekolahnya. Biasanya karena adanya perbedaan pakaian atau makanan. Namun Alhamdulillah, melalui komunikasi aktif dengan pihak sekolah dan bersikap tidak menutup diri, masalah-masalah yang timbul bisa di selesaikan dengan baik.

Penggunaan busana muslimah terkadang masih juga mengundang pertanyaan. Beberapa orang Jepang merasa aneh atas penggunaan jilbab dan busana muslimah. Misalnya saja saat musim panas (natsu), di Hamamatsu bisa mencapai 38 derajat celcius. Ketika semua orang Jepang berpakaian minim keberadaan muslimah berbusana 'rapat' jelas mengundang keanehan. Padahal, biasanya ketika musim panas, para muslimah menggunakan pakaian yang berbahan tidak tebal namun menyerap keringat. Begitupun dengan jilbabnya, diusahakan tidak berbahan tebal, namun tentunya tidak pendek dan tidak tembus pandang.

Maryam-san termasuk muslimah yang selalu mengenakan busana muslimah di semua tempat dan keadaan. Ia tak malu mengenakan baju gamis dan jilbab lebar untuk pergi ke pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Bagi yang tak mengenalnya dan tak melihat wajahnya, takkan mengira bahwa ia adalah seorang muslimah Jepang. Dalam bayangan kebanyakan warga Jepang, muslimah berprofil demikian adalah melulu berasal dari Timur Tengah ataupun Afrika Utara.

Kendati sangat bahagia hidup dalam Islam, Maryam-pun memiliki kritik terhadap muslim, utamanya muslim Indonesia. Menurutnya, masih banyak muslim Indonesia yang belum mengamalkan Islam dengan benar. "Saya tidak mengatakan saya sudah benar, namun hal ini amat disayangkan karena sebenarnya umat Islam Indonesia sangat berpotensi dan amat dimudahkan Allah untuk beribadah. Apalagi dari segi jumlah-pun terbesar di dunia. Karena, ketika seorang muslim tidak menjalankan ajaran Islam atau bahkan berbuat keburukan, terkadang orang Jepang, yang saya ketahui, dengan mudah menisbatkannya ke Islam dan bukan orang itu sendiri. Akhirnya yang jelek adalah nama Islamnya dan bukan individu yang bersangkutan. Masih sulit bagi orang Jepang memisahkan antara Islam dan muslim, " tukas Maryam.

Kritik Maryam berikutnya, dari pengamatannya ketika berkunjung ke Indonesia, kaum muda Indonesia cenderung berperilaku kebarat-baratan. "Banggalah sebagai muslim. Jangan terlalu condong ke barat,"‌ ujar Maryam. Namun, Maryam juga senang dengan Indonesia untuk banyak hal. Bukan semata-mata karena suaminya orang Indonesia. Namun ia kagum dengan kehangatan dan suasana kekeluargaan orang Indonesia. "Saya juga senang dengan makanan Indonesia dan punya buah favorit bernama mangga,"‌ ujar Maryam.

Maryam begitu cinta dengan Indonesia. Sama halnya dengan kecintaannya kepada Jepang. Namun, sejauh ini baru dua kali ia mengunjungi Indonesia. Ke kampung halaman suaminya di Pasuruan. Dan Maryam cukup populer di Pasuruan. Karena ketika ia disana, ia sempat diwawancara media setempat yang merasa aneh, karena ada perempuan Jepang yang masuk Islam dan menikah dengan warga asli Pasuruan.

Kecintaan Maryam pada Indonesia dan muslim Indonesia memiliki dasar yang tulus. Ia melihat muslim Indonesia, khususnya yang ada di Jepang, amat mudah bergaul dan tak menunjukkan perbedaan. Agak berbeda dengan kebanyakan orang Jepang yang biasanya tak bisa langsung akrab. Perlu waktu sedikit demi sedikit untuk dapat saling percaya. "Maka, manfaatkanlah modal silaturrahmi dan keluwesan pendekatan ala Indonesia untuk menda'wahi orang Jepang. Karena sesungguhnya orang Jepang amat senang mempelajari budaya asing," tambah Maryam.

Terakhir, Maryam-san berpesan kepada warga muslim Indonesia, "Tolonglah bantu kami para mualaf di Jepang. Kirimkan para da'i dan bantulah membangun pendidikan Islam di Jepang. Jangan terlalu pelit dengan ilmu yang anda miliki. Saya melihat banyak orang pintar agama Islam di Indonesia. Maka, bagi-bagilah ilmunya ke Jepang,"‌ ujar Maryam.

*Kisah ini dituturkan langsung oleh narasumber kepada Heru Susetyo di kediamannya di Hamamatsu-shi, Shizuoka-ken, Jepang pada 9 Oktober 2006. Narasumber menuturkan kisahnya dalam bahasa Jepang dengan bantuan translasi ke dalam bahasa Indonesia oleh suaminya Bambang Harianto dan tokoh muslim Indonesia di Hamamatsu, Dr. Ratno Nuryadi. Data tambahan dituturkan oleh Ervin Hidayati, Ibu Indonesia yang juga adalah aktivis pengajian di Hamamatsu " Jepang.
Pak bambang, pak ratno, dan sensei daniel sesaat sebelum kepulangan pak ratno (November 2015) 

Wednesday, 15 September 2010

Sang Pencerah -Light up your life-


Lagi-lagi dapet pencerahan lewat film. 'Sang Pencerah'. Meski awalnya sempet nolak tuk nonton film ini karena gak ada feeling or any chemistry with this film dan males aja tuk nonton, karena saya bukan orang sufi (suka film), tapi akhirnya ikutan juga nonton bareng di Botani Square IPB dengan harapan ada pelajaran yang bisa saya ambil dari film ini.

Inget kata-kata orang tua, belajarlah dari biografi orang sukses agar bisa jadi sukses juga. Karena dari sana kita tahu proses yang dijalani mereka dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Bener juga sih, belajar itu kan luas. Bukan cuma dengerin guru di kelas yang berkoar-koar menjelaskan satu persatu materi yang ada. Dari menonton film pun kita bisa belajar, sama seperti yang saya tulis dalam resesnsi 3 idiots sebelum ini. Moral dan makna yang tersirat maupun tersurat dari tiap film kadang bisa menjadi inspirasi atau suatu pencerahan bagi yang menontonnya.

Film ini related banget sama para da’i. Bener-bener bisa jadi pencerahan buat pelaku dakwah saat ini. Singkatnya film ini mengisahkan tentang perjuangan hidup KH Ahmad Dahlan sampai berhasil mendirikan organisasi Muhamadiyah.

Membuat film biografi tokoh sekaliber KH Ahmad Dahlan tentu saja tidak mudah, dan Hanung cukup berhasil mengatasinya. Khususnya, berbagai masalah sensitif yang menyangkut Sri Sultan Hamengku Buwono hingga Muslim tradisionalis. Persoalan mendasar adalah bagaimana menjelaskan karakter mulia KH Ahmad Dahlan yang santun dan toleran disukai baik oleh Muslim atau non-Muslim dan masuk dalam berbagai organisasi macam Jamiat Khaer, Syarikat Islam (SI), hingga Boedi Oetomo dengan visinya untuk pembaruan agama yang mau tidak mau, melawan mayoritas Muslim yang kala itu berbaur dengan mistik kejawen dan bahkan madzhab Masjid Agung Kauman, simbol aliran agama resmi kesultanan Yogyakarta. So, i gave applause for Mr. Hanung Bramantyo.


Sedikit cerita tentang KH. Ahmad Dahlan, nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy (Ihsan Taroreh). Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang Walisongo (pelopor penyebaran agama Islam di Jawa). Sejak masih remaja ia sudah punya tekad yang kuat tuk mendalami Islam, semangat belajar berbahasa arab agar bisa belajar Islam di Mekah… dan akhirnya pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah.

Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca), sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Siti Walidah juga telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria. Memang, di balik laki-laki yang hebat pasti ada perempuan-perempuan yang hebat (Ibunya dan istrinya). Dalam usianya yang baru 21 tahun, pemuda Ahmad Dahlan telah membuat perubahan besar meski untuk itu menimbulkan keguncangan di kalangan santri dan ulama lain.

Beliau mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah sesuai arah kompas di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai fanatik, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo). Masyarakat yang sulit dirubah… terlalu fanatik dengan keyakinan yang sebenarnya mereka tidak tahu kebenarannya. Disini terlihat kelihaian. Ahmad Dahlan dalam menggunakan ilmu falak, kompas, dan peta dunia. Saat itu peta adalah bikinan orang non-Islam, sehingga mereka tidak percaya dengan penjelasan KH. Ahmad dahlan. Bahkan beliau dituduh kafir. Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjamaah dan mengajar mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat.

Bukan sekali ini Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) membuat para kyai naik darah. Dalam khotbah pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung Kauman, Yogyakarta. "Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen, Allah itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia" katanya. Alhasil, Dahlan dimusuhi.

Ahmad Dahlan dituduh sebagai kyai Kejawen (padahal kalo nonton film ini, kamu bisa tahu, yang kejawen tuh siapa??) hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah dan lima murid murid setianya  Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah.

'hidupi Muhammadiyah, jangan hidup dari Muhammadiyah'

Organisasi Muhammadiyah bertujuan untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadist. Dan Ia ingin mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain.

Begitu banyak rintangan yang dialami Ahmad Dahlan. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Begitulah seorang Da’i. Pantang surut walau sesaat, pantang henti walau sejenak, hingga kemuliaan terwujud atau syahid didapatkannya.

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad:7)

Yang  menarik lainnya, Kyai kita ini bisa menguasai medan dakwah (lihat adegan di sekolah Belanda) atau menggunakan cara dakwah yang dianggap nyeleneh, bahkan mungkin hingga kini. Misalnya, mengajarkan agama dengan biola, atau memakai perumpamaan agama dengan musik. Teringat dialog yang keren ketika seorang santri bertanya, "AGAMA itu apa kyai?"
Dahlan  : *langsung memainkan alat musik* dan bertanya: "Apa yang kamu semua rasakan?"
Santri 1: "keindahan"
Santri 2: "ketentraman"
Santri 3: "semua masalah rasanya hilang..."
Dahlan  : "itulah agama, dengan agama, kita dapat merasakan keindahan, ketentraman, dan semua masalah bisa hilang... coba kamu mainkan ini" *nyuruh salah satu santri*
dan alat musik itu
dimainkan oleh salah satu santri, sementara yang lain dengan ogah2an mendengar karena nada yang sumbang, malah banyak yang mentertawakannya terang-terangan.
Dahlan   : "begitu pula agama, bila tidak dilaksanakan dengan baik, akan menjadi bahan tertawaan karena tidak dilaksanakan dengan benar"

KH. Ahmad Dahlan juga tidak hanya mengajarkan toleransi, tetapi juga koeksistensi alias bekerja sama dengan yang tidak sealiran. Memang harus ada musyarokah dalam berdakwah agar jangkauan dakwah makin luas dan dakwah bisa tetap eksis.

Ehm… kalo dirinci, tradisi/nilai-nilai yang masih dianut disana adalah:

1.    Sesajen
Budaya ini emang mengakar. Tapi Darwis/Ahmad Dahlan remaja menyadari bahwa ini tidak benar. Bahkan Darwis sering mencuri sesajen yang disajikan, kemudian dibagikannya makanan tersebut kepada fakir miskin.  Orang yang melihat sesajennya hilang justru senang, karena berarti persembahannya telah diterima.  Haha… mirip Robin hood.

2.    Tidak peduli arah kiblat, asal ikut leluhur
Menurut kiai yang berpengaruh saat itu, "Kiblat bukan masalah arah, tapi kiblat adalah masalah Qalbu. Tuhan itu ada dimana-mana". Dan Ahmad Dahlan menjawab: "kalau arah kiblat tidak masalah, lalu apa gunanya ada Masjidil Haram? Kita hanya perlu mengubah 23 derajat dari arah Utara", sambil menggelar peta dunia yang menunjukkan letak Indonesia dan arah Masjidil Haram. Lalu Kyai Siraj Pakualaman mematahkan argumen Dahlan dengan berkata: "sik, kelihatannya gambar itu dibuat oleh orang KAFIR, saya melihatnya di kantor gubernur, hati-hati dengan orang kafir ya Le, mereka akan mempengaruhi kita terus!".
Hmm.. gak peduli bener salah, mereka keukueh ngikutin leluhur. Bahkan untuk hal ini Mereka gak terima. Malah nuduh Dahlan tuh kafir. Padahal kalo ditanya alasannya kenapa kiblatnya kearah sana, saya yakin mereka bakal jawab, “emang udah dari sononya” :)

3.    Yasinan
Emang udah ada dari dulu ternyata yasinan ini. Padahal kan semua surat dalam Al-Quran tuh bagus buat dibaca. Jadi jangan Cuma baca yasin aja. Trus juga kalo jum’at tuh justru lebih bagus baca surat Al-Kahfi. Bukan Yasin…

4.    Tahlilan
KH. Ahmad Dahlan juga memprotes tradisi ini. Menurut beliau, Allah tuh memerintahkan zikir dan doa bukan tahlil. Itu juga tidak diperintahkan untuk dilakukan bareng-bareng. Sendiri aja, asal ada keikhlasan hati. Dan tidak perlu pake suara keras yang bisa mengganggu tentangga dan sekitarnya. Wong Allah tuh maha pendengar, gak perlu pake suara keras. Bisikan dalam hati kita juga bisa didengar Allah…

5.    Pesta pernikahan harus
Gak perlu maksain ada pesta yang meriah kalo memang gak ada uang. Yang penting syarat-syarat sah nikahnya terpenuhi. Seperti ada wali, saksi, mahar, dan calon pengantin pastinya.. intinya mah yang penting akad nikahnya tuh sah, setelah itu baru diberitahu ke tetangga atau orang sekitar agar tak terjadi fitnah.

6.    Anti-pakaian necis untuk berdakwah
Saat itu, yang namanya da’i/ustadz pasti kesannya berpakaian seadanya, bau, kakinya lebar, gak pake sepatu. Pokoknya gak indah deh (apa karena keasyikan ibadah kali ya? Sampe lupa ngurus diri). Nah KH. Ahmad Dahlan merubah paradigm itu, saat ia akan mengajar agama di sekolah belanda, ia tampil necis, rapih, wangi… pokoknya jauh dari kesan tadi dah. Tapi efeknya masyarakat malah menyebut ia kafir, karena berbusana mirip kompeni/ orang kafir…

7.    Pendidikan tidak merakyat
Pendidikan hanya untuk kalangan priyayi dan orang-orang kaya saja. Padahal setiap anak tuh berhak mendapatkan pendidikan. Minimal pendidikan agama Islam agar menjadi manusia yang bisa menjalankan amanahnya sebagai manusia ciptaan Allah. Maka itu KH. Ahmad Dahlan bela-belain nyari anak dari orang-orang gak mampu, kemuaian ia mandikan, diberi makan dan diajarkan pengetahuan umum dan agama, dan semuanya gratis! bener-bener pendidik sejati!

8.    Memakai peralatan orang kafir = kafir
Nah ini juga masih kebawa-bawa budaya konservatif. Mereka berfikiran bahwa yang belajarnya duduk di kursi tuh kafir, karena buatan orang kafir, budaya orang kafir. Jadi pas Ahmad Dahlan mendirikan sekolah dengan bangku-bangku dan meja di dalamnya, langsung deh dianggap sekolah kafir. Aneh banget emang. Padahal ada seorang kiai yang memprotes tapi justru beliau menggunakan kereta api untuk berpergian, Kiai tsb ditanya oleh Dahlan:
"naik apa kyai dari Magelang ke Yogya?" sambil tertawa ia berkata lagi: "hanya orang bodoh, yang berjalan kaki dari Magelang ke Yogya, ya saya naik kereeeeetaaa..."
Sambil tersenyum tenang Dahlan menyahut: "kalau begitu, hanya orang bodoh yang menyebut sekolah ini sekolah kafir, karena kereta dibuat oleh orang kafir..." haha..

9.    Masih ‘parno’ dengan organisasi
Saya bisa memahami betapa Boedi Oetomo sangat penting dalam mencerahkan pemikiran kebangsaan sang kiai, bahkan sampai bertemu dan berdiskusi dengan Dr Wahidin Sudirohusodo.
Menurut masyarakat saat itu, berjuang sendiri sudah cukup, tidak perlu terorganisir. Maka mereka masih anti dengan namanya Budi Utomo. Bahkan Dahlan ditakutkan akan menjadi Islam Kejawen akibat hubungannya dengan organisasi yang didominasi oleh Jawa Ningrat itu.
Padahal kan kita butuh wasilah/wadah untuk berjuang. Gak akan bisa sebatang lidi membersihkan halaman yang kotor. Kebaikan akan mudah dilakukan bersama-sama, terorganisir, dengan visi misi yang jelas. Maka itu KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, yang artinya pengikut Muhammad SAW.

10.    Antara dakwah dan keluarga
Segala yang terjadi pada anak pastilah berimbas ke orang tua dan keluarganya. Disinilah keluarga Dahlan marah padanya karena Dahlan telah dianggap kafir. Beliau dianggap telah mencemarkan nama baik keluarga. Dan atas nama keutuhan keluarga, Dahlan diminta untuk meninggalkan ajaran dan keyakinannya. Hmm… memang keluarga tuh obyek dakwah yang paling berat...

"Kita harus punya prinsip, tapi jangan fanatik. Karena fanatik adalah ciri orang bodoh".

Segitu point-point yang saya inget. Maklum nontonnya kemaren. Mudah-mudahan gak melenceng. Kalo kekurangan pasti ada, maka dari itu yang udah nonton, silakan dilengkapi ^^

Dan satu point yang saya garis bawahi adalah, dalam film ini ternyata masyarakat saat itu MUDAH SEKALI MENGKAFIRKAN ORANG. Padahal hal ini sangat berbahaya, didasari  kaidah, “Siapa yang telah tetap keislamannya dengan keyakinan, maka tidak akan hilang dengan sekedar keraguan. Yakni barangsiapa telah diketahui dengan yakin bahwa dia seorang muslim maka tidak hilang sifat islam itu hanya sekedar keraguan.”

Oleh karena itu Ahlussunnah sangat hati-hati dalam mengkafirkan seorang muslim, karena mengkafirkan seorang muslim sangat berbahaya akibatnya, baik bagi yang di uduh atau si penuduh. Seseorang hendaknya tidak masuk dalam perkara ini kecuali dengan dalil dan bukti yang jelas, dan selama masih ada jalan untuk menghindari perkara ini maka harus ditempuh, karena pengkafiran seorang muslim ini merupakan pintu yang sangat berbahaya dan tidak semua orang boleh memasukinya.

Tentang pengkafiran (takfir) terhadap seorang muslim Rasulullah telah memperingatkan hal ini, beliau bersabda, “Siapa saja seseorang yang mengatakan kepada saudaranya, “hai kafir” maka julukan itu akan kembali kepada salah seorang dari keduanya. Jika orang yang dituduh itu benar, maka sesuai dengan apa  yang dituduhkan, tapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada yang melemparkannya.” (HR. Muslim). Di dalam hadits yang lain Rasulullah  juga bersabda, “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, kecuali akan kembali kepada si penuduh jika orang yang dijuluki itu tidak demikian keadaannya.” (HR. Bukhori)

Karena pengkafiran ini adalah hukum syar’i yang konsekuensinya adalah halalnya darah seseorang yang tadinya telah nampak keislaman karena dua kalimat syahadat, sebagaimana Rosululloh  juga bersabda, “Barangsiapa telah menukar/merubah agamanya maka bunuhlah ia.“ (HR. Bukhori). Jadi seorang muslim yang murtad (meninggalkan Islam) maka halah untuk dibunuh menurut syari’at Islam. Dan bukan hanya ini saja, ada konsekuensi-konsekuensi lain yang harus ditegakkan setelah seseorang itu jelas-jelas dikafirkan. Makanya janganlah sembarangan mengkafirkan orang. Wallahu’alam.

“Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali dalam keadaan terasing,maka bergembiralah orang-orang yang terasing…”

‘Sang Pencerah' adalah sebuah film sejarah yang dibuat dengan layak dan  menjadikan sejarah sebagai pelajaran di masa kini. Mengutip  sejarahwan Kuntowijoyo:  sejarah itu seperti spiral, dia akan terus berulang tetapi selalu maju ke depan. Misalnya: toleransi, koeksistensi, kekerasan berbalut agama, dan semangat perubahan yang kurang. Bener-bener film yang wajib tonton saat liburan Lebaran.

Saya jadi berfikir untuk mendokumentasikan film-film yang bagus dan mendidik untuk aset ke depannya, untuk anak cucu kelak. agar mereka juga bisa mengambil pelajaran dari film-film ini. karena saya tidak tahu suguhan apa (film, hiburan, etc) yang nanti akan muncul di masa anak cucu kita. Masihkah ada hiburan yang bernilai edukatif, Islami, penuh dengan nilai-nilai moral??

Monday, 16 August 2010

Because he is muslim!




We will face challenges and be patient as a Muslim... and we should proud of our Islam...

There are double standard of the modern world.

Rasulullah SAW bersabda: “Islam bermula sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya, jadi berilah khabar gembira kepada orang asing itu!” (Sahih Muslim, #145)

--- I AM PROUD TO BE YOUNG MUSLIM --

*keep jihad in your heart*