Sunday, 2 March 2014
Ibu tangguh
Seorang ibu muda berjalan sambil menggendong putrinya yang baru berusia tiga bulan. Panas terik matahari siang itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus melangkah. Sambil memayungi putri kecilnya, ia terus menebar senyum dan singgah menghampiri beberapa warga yang ditemui di jalan itu. Tak jarang persinggahannya itu membuat warga tertawa, atau bahkan menangis. Ya, sang ibu menyapa masyarakat dan mencoba berbicara secara langsung dengan warga tersebut tentang keluhan-keluhan mereka saat ini. Tak heran kalau persinggahannya selalu menjadi tempat curhat warga...
Aku merasa beruntung dipertemukan Allah dengan beliau, yang tak lain adalah guru saya. Darinya saya belajar bahwa kebenaran itu harus kita yakini dan kita sebarkan. Darinya saya belajar bahwa kebahagiaan adalah saat kita bisa membantu orang lain, meski hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya. Darinya saya belajar bahwa perempuan itu kuat dan tidak manja, tetapi juga lembut dan tegas. Darinya saya belajar bahwa kondisi apapun tidak bisa menggoyahkan tekad kita.
Tangerang hari ini...
Sosok yang mengingatkanku pada saat enam tahun silam. Perempuan itu sibuk mengurusi pasien di pelayanan kesehatan gratis ini. Sambil menunggu antrian, para pasien berbicara dengan kami tentang kesulitan dan penyakit yang dihadapi. Perempuan itu dengan sigap dan lembut mengatur para pasien yang akan berkonsultasi dengan dokter maupun yang mengambil resep obatnya. Semakin siang, para warga yang berdatangan semakin banyak.
Di sampingku, tertidur bayi mungil berusia empat bulan. Bayi yang menyenangkan menurutku. Karena tidak rewel jika diajak ibunya beraktivitas. Bayi imut itu juga tidak menangis saat terbangun dari tidurnya. Seakan mengerti aktivitas ibunya hari ini. Menurut teman, perilaku bayi itu sesuai dengan hati dan perilaku ibunya... Saya sangat kagum pada ibu bayi itu, yang tidak lain adalah guru saya.
Alhamdulillah,
Hari ini, saya sangat bersyukur karena telah diperkenankan oleh Allah untuk mengenal para wanita tangguh yang membaktikan hidupnya bagi agama ini. Para wanita sholihah yang taat pada suami dan cinta pada keluarga, namun hal itu bukan menjadikan alasan tuk mundur atau mengambil posisi aman pada jalan ini. Para ibu yang memberikan contoh kepadaku bahwa mempunyai bayi bukan berarti harus berhenti melangkah.
Allah, tunjukilah kami jalan lurus yang Engkau ridhoi.
Allah, perkenankanlah aku dan keluarga yang aku cintai untuk terus berada di lingkungan orang-orang shalih.
Thursday, 12 March 2009
Tarbiyatul Aulad
Jadi inget sabtu kemaren jaulah ke rumah ustadzah Amiroh. Rumahnya di samping masjid Al-Hikmah Jl. Bangka Jakarta. Seru banget! berhubung teman2 banyak yang sudah memiliki momongan, jadi materi yang dipilih tentang tarbiyatul aulad. Saya jadi bisa nambah ilmu..itung-itung bekal buat masa depan, hehe..
buat para pembaca semoga bermanfaat ya.. selamat menikmati
Tarbiyatul Aulad
Tahap Awal sebelum kelahiran anak:
1) Taqwa
Sebelum anak lahir, sebelum mengandung, bahkan sebelum menikah, setiap prosesnya harus dilandasi dengan taqwa.
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisa:1)
2) Memiliki gambaran yang utuh terhadap Anak.
· Anak adalah hamba Allah, yang dititipkan Allah kepada kita melalui rahim kita.
So, harus dijaga dan dibentuk sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Kita harus ikhlas jika suatu saat Allah ingin mengambilnya kembali karena anak kita milik Allah, kita cuma dititipkan saja.
· Sebagai hiasan hidup.
Yang namanya hiasan
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)
· Nikmat yang luar biasa.
“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar”. (QS. Al Israa: 6 )
· Penyenang hati
“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqaan: 74)
· Kabar Gembira
Harus disambut dengan hati gembira, mulai dari kita tahu awal kehamilan, karena keluhan dapat mempengaruhi tanggung jawab yang kita berikan terhadap anak.
Ingat cerita tentang Abu Lahab yang diringankan siksanya setiap hari Senin karena dia sempat gembira mendengar berita kelahiran Rasulullah SAW (hari Senin).
Karakteristik Ibu → Ibu yang diabadikan dalam Al-Qur’an
1) Istri Imron (Ibunda Maryam)
QS. Ali Imran → tentang keluarga Imran [Imran, Istri Imran, Anak Imran (Maryam)]
Perhatian terhadap janin →Harus ada cita-cita besar, tentang penghambaan yang sesungguhnya sejak janin masih dalam kandungan.
2) Maryam (Ibunda Nabi Isa AS. )
QS. Tahrim → tentang sifat-sifat Maryam: menjaga kesucian dirinya, tidak banyak bicara tapi memberikan bukti.
3) Ibunda Nabi Musa AS.
QS. Al Qashash →tentang sifat-sifat Ibunda Nabi Musa AS.
· Cepat merespon perintah Allah SWT.
Segera menyusui ketika Musa lahir.
“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul”. (Al-Qashash: 7)
Menghanyutkan ke sungai karena khawatir akan lingkungan yang mengancam keselamatan si anak.
Melakukan Pemantauan.
“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya.” (Al-Qashash: 11)
· Tabah, tenang, tawakal → tidak lepas dari usaha dan tidak khawatir.
· Bisa mengendalikan emosi dengan tepat.
· Kesungguhan dalam meraih janji Allah →mengembalikan Musa kepadanya, dan menjadikan Musa sebagai rasul.
4) Istri Ibrahim AS → Siti Hajar (Ibunda nabi Ismail AS)
QS. Ibrahim → tentang keluarga Ibrahim AS.
Sifat Siti Hajar:
Pemahaman tentang Allah SWT.
Keyakinan kepada Allah yang sangat tinggi →saat ditinggalkan Ibrahim, dan saat meninggalkan Ismail yang masih bayi di
Profil Anak
QS. Maryam → tentang Nabi Yahya AS, anak Nabi
“Hai Yahya, ambillah[899] Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah[900] (maksudnya: kenabian, pemahaman taurat, dan pendalaman agama) selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalah seorang yang bertakwa, dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.” (QS. Maryam: 12-15)
Aspek-aspek yang harus ditanamkan kepada anak:
1) Keimanan kepada Allah (Baca kisah Luqman)
2) Emosional → lembut dan penuh kasih sayang.
3) Patuh kepada orang tua →kita yang harus mengajarkan kepada mereka.
Sejauh mana kita memuliakan orang tua, sejauh itu pula anak kita akan memuliakan kita!!
Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam mendidik anak:
1) Keikhlasan
Jika kita ikhlas maka Allah akan mengajarkan dan memberikan jalan kepada kita.
2) Memberikan contoh
Jika kita ingin anak kita hafal Al-Quran maka kita juga harus rajin tilawah dan menghafal Al-Quran.
3) Memberikan nasihat-nasihat sesuai dengan kebutuhannya.
4) Bersikap Adil.
5) Selalu berdoa kepada Allah.
6) Memberikan reward dan punishment dengan proporsional.
(Wallahu’alam bish shawab)
“Posisikan anak seperti apa yang Allah posisikan. Arahkan anak sesuai dengan apa yang Allah arahkan”