Showing posts with label itikaframadhan. Show all posts
Showing posts with label itikaframadhan. Show all posts

Thursday, 8 August 2013

I'tikafku tahun ini (1434 H) dan tahun depan (1435 H)

Ini adalah itikaf saya yang ke enam, sejak tahun 2008. Alhamdulillah Allah selalu memberikan kesempatan saya untuk beritikaf pada tiap bulan Ramadhan-Nya. Setiap tahun saya selalu beritikaf di masjid agung At-Tin, sehingga dapat saya katakan bahwa ini adalah itikaf yang ke enam di masjid At-aTin TMII.
Bagi saya, tiap itikaf selalu memberikan pelajaran dan kesan tersendiri. Allah selalu mempertemukan saya dengan sosok-sosok luar biasa yang menginspirasi saya untuk mendalami makna itikaf dan syahruttarbiyah ini. Misalnya, pada itikaf pertama saya, Allah mempertemukan saya dengan mba Ade yang juga ternyata satu kompi dengan saya di Santika kota Bogor. Dari beliau saya belajar bagaimana menuntaskan target-target Ramadhan saat itikaf. Saya juga bertemu dengan ibu yang selalu menyemangati dan menginspirasi saya lewat wejangan dan kisah hidupnya (baca disini), juga temen-temen lain yang tidak kalah kerennya :)
 
Itikaf kali ini, qadarullah, saya bertemu lagi dengan bu husni (panggilan saya dan teman-teman) yang dengan kerendahan hatinya mau berbagi semangat kepada saya lewat kisah hidupnya. Pelajaran yang saya dapat adalah bahwa Allah akan selalu mendengar doa-doa kita dan mengabulkannya pada waktu yang tepat. Bu husni yang (tadinya) bekerja dengan berjualan makanan di stasiun pernah berdoa, "saya sudah lelah dengan pekerjaan seperti ini. saya ingin pekerjaan yang lebih baik dari segi waktu dan tidak mengabaikan amanah saya di masyarakat.." begitu kira-kira isinya. Ya, saya fikir memang pekerjaan yang lebih berat dibanding pekerjaan saya, bahkan katanya terkadang untuk berbuka puasa saja nyaris tidak sempat.

Beberapa bulan kemudian Allah mengabulkan doanya. PT. KAI menggusur pedagang-pedagang di sekitar rel kereta api, termasuk lapak bu husni yang berada di stasiun cawang. Akhirnya bu husni memutuskan untuk berhenti berjualan di stasiun dan memilih usaha rumahan, catering. Kata bu husni, "Kita bisa belajar apapun kalau kita mau. Saya pun belajar otodidak di usaha catering ini... mulai dari me-manage usaha hingga memasak menunya. Bener-bener dari awal. Untungnya saya suka masak." Keren dan penuh semangat menurut saya :)

Alhamdulillah usaha catering beliau berjalan lancar. Meski awalnya sempat sedih karena penggusuran PT. KAI tetapi beliau segera menyadari bahwa inilah petunjuk Allah dalam menjawab doa-doanya. Jika bersabar dan berusaha, insya Allah akan mendapatkan banyak kebaikan. Karena Allah selalu mendengar doa-doa kita, karena Allah akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Di itikaf ini, seperti biasa, bu husni lebih banyak persiapan dan lebih banyak harinya dari saya. Meski tahun kemarin bertekad akan beritikaf full 10 hari terakhir di tahun ini tapi saya baru bisa mulai itikaf di malam ke-25 :(

Saya jadi lebih memaknai urgensi itikaf dan berhasil menuntaskan target tilawah yang sempat tersendat dan tertinggal jauh... Alhamdulillah atas inspirasi dari seorang teman bahwa masih ada waktu untuk #kejar target, saya bisa menyelesaikan target-terget itu. Saya juga merasakan bahwa itikaf pada malam genap pun bisa lebih khusyu dan nyaman dibanding malam ganjil. Mungkin karena kebanyakan orang memilih itikaf hanya pada malam ganjil saja... seperti saya dahulu :D

Setelah berdiskusi bersama bu husni, mba lela, dan mba ita akhirnya kami memutuskan untuk meneruskan itikaf tahun depan di Masjid Habiburrahman Bandung, insya Allah. Kami berharap, salah satunya, dengan qiyamullail 3 juz @malam bisa meng-upgrade ruhiyah kami dan menambah kecintaan kami pada Al-Quran. Kami juga berharap bisa beritikaf di 10 malam terakhir.
 So..
Langkah-langkah yang saya lakukan mulai saat ini dan akan saya lakukan adalah:
1. Berdoa dan menguatkan tekad
2. Mengkomunikasikan rencana ini ke ibu mulai saat ini
3. Menabung 50rb @bulan (Bikin celengan I'tikaf 1435 H)
4. Mencari info tentang teknis i'tikaf di Masjid Habiburrahman
5. Mengajukan cuti pada hari kerja yang bersinggungan dengan 10 hari terakhir Ramadhan
6. Dan tentunya mulai dari sekarang mulai Qiyamullail dengan surat-surat panjang serta lebih semangat menghafal Al-Quran.

Semoga Allah memudahkan rencana ini, memberikan kami kesehatan, kecukupan materi, dan dimudahkan semua urusan kebaikan kami...
Semoga tahun depan bisa i'tikaf dengan lebih baik lagi...
 

Note:
Terima kasih kepada Bu Husni, Mba lela, Mba ita, Tia, Herlin, Tami, Bu Mini, Mba iley, dan tentunya si kecil cerdas Zeezee atas kebersamaan beritikaf di masjid indah ini, Masjid Agung At-Tin Jakarta.

Saya Lia Aprilia mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H
Semoga semangat Ramadhan senantiasa mengiringi kita hingga bertemu dengan Ramadhan selanjutnya
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin


Saturday, 18 August 2012

[I'tikafku] Tahun depan harus lebih baik


Ramadhan telah pergi,
Itikaf tahun ini pun telah berakhir...
Dan aku masih termangu di sini dengan lembaran target yang telah kutulis...
Ahh... ternyata target-targetku belum tercapai sepenuhnya...

Rencana untuk beritikaf full di tahun ini ternyata belum bisa terealisasi
Beragam hal yang harus dikerjakan di kantor membuat saya mengurungkan niat untuk cuti
Menjadi musafir *bolak balik masjid-kantor-masjid-kantor* pun menjadi pilihan
Sambil tetap berusaha menyelesaikan target dengan sisa waktu dan tenaga ini

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang saya hanya memprioritaskan itikaf pada malam-malam ganjil saja, kali ini saya berusaha beritikaf di setiap malam di 10 hari terakhir Ramadhan... meski akhirnya belum bisa full 10 malam. Semoga tahun depan bisa itikaf full dan lebih berkualitas. Karena itikaf adalah kebutuhan kita akan Allah... seperti yang disampaikan oleh Dr. Nazarudin Umar dalam sebuah kajian Dhuha *redaksi dengan bahasa saya sendiri*,

Apakah yang kau kejar? apakah yang kau butuhkan?
Kau butuh Allah atau Lailatul Qadar?
Lailatul Qadar hanyalah mahluk, sedangkan Allah adalah maha berkuasa atas segalanya.
Jika yang kau kejar adalah Allah, maka Lailatul Qadar akan mengikutimu, dan kau akan mendapatkannya. Jadi janganlah terpaku untuk mengejar lailatul Qadar, tapi beribadahlah karena kau butuh Allah... maka kau akan mendapatkan Lailatu Qadar.

Jika kau memang butuh Allah, tentu kau tidak akan menyianyiakan waktu 10 hari terakhir Ramadhan ini. Lailatul Qadar bisa datang setiap saat.
Jika pada malam ganjil... pada malam ganjil menurut siapa? padahal di negeri ini menentukan awal puasa saja sudah berbeda, dapatkah kau menentukan malam ganjil yang sebenarnya... padahal kita hanya bisa berijtihad dimana kebenaran hakiki hanyalah milik Allah..
Jika pada waktu malam... pada malam di belahan bumi mana? jika Allah ingin menurunkannya pada malam di belahan bumi Amerika, tentulah di sini siang hari...

Yang bisa kita lakukan adalah terus mendekat kepada-Nya di waktu paling istimewa di Bulan suci ini. Maka Dialah yang berkehendak memilih hamba-hamba Nya untuk berada dalam ibadah optimal pada Lailatul Qadar ini...

Pada itikaf kali ini Allah berkenan mempertemukan saya kembali dengan Bu husni (kusrimining) yang berbagi semangat lewat ceritanya. Seorang ibu dari 3 anak yang semangat nya tidak kalah dengan pemuda. "Usia boleh tua, tapi semangat berbuat baik jangan kalah sama anak muda." katanya padaku. Keren! padahal usianya sudah tidak muda lagi dan anak-anaknya sudah menjadi para pemuda tangguh. Fastabiqul khairat...

Bahkan untuk itikaf ini, beliau yang bekerja sebagai tukang jual sarapan di stasiun setiap harinya rela untuk tidak berdagang dan tidak melayani pesanan di 10 hari terakhir ini. Padahal untuk catering, ini tergolong waktu-waktu yang banyak order. Tapi baginya ibadah ini jauh lebih penting dari apapun. Akupun sempat bertanya, "kalau tidak jualan berarti tidak ada pemasukan dong bu..."
"Saya sudah menabung untuk ini selama 11 bulan, agar saya bisa beribadah dengan tenang dan kebutuhan sehari-hari bisa ter-cover."
"Waaa...." sayapun takjub. "rezeki itu muncul dari jalan yang tak terduga, Lia. Insya Allah, Dia akan selalu mencukupi kebutuhan kita yang sungguh-sungguh berusaha dan beribadah." katanya yakin.
Hmmm... benar juga, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang berusaha mendekat pada-Nya.
"Lalu bagaimana dengan suami dan anak-anak ibu? tanyaku lagi.
"Mereka itikaf di masjid dekat rumah, kebetulan disana disediakan makan sahur dan buka puasa. Kebutuhan mereka lainnya sudah saya siapkan sebelum Ramadhan. Termasuk kebutuhan untuk Idul Fitri."
Huaaaa.... Kereeen  Saya jadi malu sendiri karena untuk itikaf dan juga Ramadhan ini, persiapan saya masih minim... tidak terencana dengan baik seperti Bu husni. Sehingga saat itikaf pun saya masih kerepotan menyelesaikan beberapa urusan duniawi


Semoga tahun depan bisa itikaf dengan lebih baik secara kualitas dan kuantitas
#FightFor

Note:
Terima kasih kepada Bu husni yang telah berbagi tips, cerita, dan semangat kepadaku.

Juga kepada Mba Ida, Tia, Melly, dan Fahri atas kebersamaan beritikaf di masjid megah ini, Masjid At-Tin Jakarta.

=======================

Kepada teman-teman yang membaca tulisan ini, saya ucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H
Semoga semangat Ramadhan senantiasa mengiringi kita hingga bertemu dengan Ramadhan selanjutnya
Taqabbalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan bathin

=Lia Aprilia=

Monday, 29 August 2011

Itikafku tahun ini dan nanti


Seperti dua malam sebelumnya, kali ini beliau juga tidak muncul untuk mengisi QL dan muhasabah pada itikaf kali ini. Penasaran, itu yang saya rasakan. Meski ustadz penggantinya (Ust. Budi Hasibuan, Lc.) tidak kalah bagus dengannya, tapi tetap saja penasaran, terlebih lagi ada pengumuman dari panitia bahwa salah satu ustadz yang mengisi acara pada malam itu baru saja meninggal dunia sehari sebelumnya... innalillahi wa inna ilahi raajiuun...

Ketika bincang-bincang dengan Bu Husni, "Ustadz ibnu jarir kemana ya bu?" tanyaku padanya yang beritikaf dari malam ke-21.
"nggak tau... saya juga nunnggu-nunggu, tapi gak ada ya tahun ini. apa meninggal ya..." katanya resah.
"masa sih bu?" tanyaku tidak percaya
"itu semalam ada pengumuman ustadz yang meninggal..." katanya (unsure).
"heh? itu bukannya ustadz pengisi kajian bada tarawih ya..." saya masih gak percaya....
tapi katanya kemudian, "nanti saya tanya temen yang rumahnya sedaerah dengan beliau deh..."

Bagi saya, sungguh menyedihkan jika prasangka tersebut benar. Kehilangan ustadz, ulama sungguh sebuah hal yang lebih dari kata menyedihkan. Bukan hanya tak akan berjumpa dengannya lagi, bukan hanya tak dapat mendengarkan nasihatnya lagi, bukan hanya tak dapat transfer semangat darinya lagi, tapi karena jika ulama telah wafat maka musibah akan muncul. Seperti yang telah dikatakan Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia (Allah) mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang ulama pun (diwilayah itu), maka orang-orang mengangkat ulama dan sesepuh dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (Shahih Bukhari)

Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan, semakin Allah panjangkan usia para ulama’ kita, musibah akan semakin menjauh.

Beberapa saat kemudian, Bu Husni mendekatiku sambil menunjukkan sebuah sms yang menyatakan bahwa Ust. Ibnu Jarir sedang ada tugas dakwah di Australia (dari sumber yang dapat di percaya). Kamipun tersenyum bahagia, Alhamdulillah...

Mengenai itikaf tahun ini, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa datang ke Masjid At-Tin ini hanya pada malam-malam ganjil (23, 25, 27, dan 29 Ramadhan). Iri juga sebenarnya dengan teman-teman yang beritikaf full sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Saya merasa rugi karena belum bisa memanajemen diri dari kesibukan duniawi hingga itikaf 10 hari terakhir saja belum bisa saya laksanakan seumur hidup saya.

Padahal saya sudah punya komunitas itikaf At-Tin yang selalu siap berbagi selama menjalankan itikaf ini, ukhuwah yang terjalin lima tahun ini sangatlah indah. Seharusnya ini menjadi sebuah penyemangat jiwa bagi saya untuk fokus beritikaf 10 hari terakhir ini, padahal tidak ada yang menjamin bahwa saya akan bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan...

******

Meninggalkan At-Tin ini dengan harapan akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan yang lebih baik, tanpa kekurangan apapun, tanpa kekurangan siapapun...

Sebuah tekad bahwa tahun depan saya harus berusaha segenap jiwa dan raga untuk beritikaf full 10 hari terakhir dan bisa mendapatkan lailatul qadar. Semoga Allah memudahkan dan mengabulkan permintaan ini...

Taqabbalallahu minna wa minkum, Semoga Allah menerima ibadahku dan ibadahmu. Semoga aktivitas ibadah kita di bulan Ramadhan ini bisa mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertaqwa...

Jazakumullah khair kepada Tia, Bu Husni, Mba ida, Betty, Velia, Herlin, Septi, Anah, Faridha, dan Auline yang telah beritikaf bersamaku.... Semoga kita berkesempatan itikaf lagi Ramadhan tahun depan


Monday, 20 September 2010

Dalam dekapan ukhuwah: Reuni itikaf


Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji. (Sallim A. Fillah)


Acara yang tidak biasa, bahkan teman-teman saya sempet kaget dan berkata, "subhanallah..." dan kemudian dilanjutkan dengan, "kok bisa?". salah satu bentuk ekspresi atas hal-hal yang tidak biasa. Yup, baru saja saya dan beberapa teman akhwat mengadakan reuni dengan teman-teman itikaf. Memang tidak biasa, bahkan diantara teman-teman saya yang saya tanyakan, mereka belum pernah. Biasanya reuni itu kan dengan teman sekelas, teman se-profesi, teman se-organisasi atau teman dalam satu kegiatan yang pernah kerja bareng cukup lama...

Yah memang saya akui, dan saya sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya. Ide ini awalnya hanya ingin silaturrahim biasa ke rumah salah satu teman (Umi), lalu mba Dn mencetuskan ide brilian, "gimana kalau kita undang temen-temen geng upinipin buat ngumpul (reuni)?" dan alhamdulillah beberapa teman merespon positif dan bisa ikut. walau tidak semua, karena memang menginfokannya sangat mendadak. Jadi ada yang sudah punya agenda, sedang sakit, dll... semoga selanjutnya bisa hadir semua...

Subhanallah... mahasuci Allah yang telah mengaruniakan ukhuwah ini kepada kami. Ukhuwah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ukhuwah yang membuat mata yang sayu menjadi bersinar, ukhuwah yang membuat wajah yang lelah menjadi bercahaya, ukhuwah yang mampu membuat bibir tersenyum ketika hati berada dalam sejuta duka. Ukhuwah Islamiyah yang sangat indah... bahkan jika bangsa Romawi tahu betapa indahnya ukhuwah Islamiyah, niscaya mereka akan merebutnya dengan pedang!

Bercerita tentang geng upinipin, sebenernya judul film animasi tersebut tidak ada hubungannya dengan kami. Cuma buat lucu-lucuan saja, sebutan dari beberapa teman. Whatever the name, yang terpenting adalah saat-saat bersama. Saat tertawa bersama... Saat besama berbuka puasa dengan betukar tajil... Saat sahur bersama dengan makanan seadanya... Saat menangis bersama terlarut dalam muhasabah diri... Saat sama-sama berusaha mengejar target tilawah masing-masing... Saat bersama menatap langit malam dengan sejuta asa, berharap saat itu Allah menganugerahkan Lailatul Qadr... saat-saat bersama yang tak terlupakan...

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan ikatan terkuat ini kepada kami... Setiap tahun bertemu (meski tak direncanakan), saat itulah ikatan ini semakin erat. Berawal dari niat masing2 untuk menjadikan Masjid At Tin sebagai tempat itikaf. Saya sendiri baru 4 tahun itikaf disini. Dua tahun pertama masih bareng teman-teman kuliah (karena masih mahasiswa), selanjutnya karena sudah lulus, teman-teman pun sudah sibuk bekerja dan ada juga yang sudah menikah, maka tidak bisa bareng mereka lagi. Akhirnya berangkatlah sendiri ke Masjid ini. Padahal kalau mau, di masjid BI juga ada itikaf #samping kantor gituh. Tapi entah mengapa rasanya ingin sekali merasakan itikaf di At Tin lagi... ternyata kita semua punya perasaan yang sama! misalnya Bu Hus, ibu yang ternyata sudah punya tiga anak (ikhwan) tangguh ini lebih memilih itikaf di At Tin dibanding di Masjid dekat rumahnya (Kalibata). Padahal suami dan anak-anaknya justru itikaf di masjid dekat rumahnya. "Rasanya gimana ya... udah biasa di At Tin... jadi ingin di At Tin aja. Alhamdulillah suami dan anak-anak mengerti... jadi saya diizinkan untuk itikaf disini deh" katanya. Juga mba Ann (yang tanpa direncanakan selama 3 tahun ini selalu bersebelahan tempat dengan saya) mengatakan "Ta'liful Qulub dengan Masjid ini..." Ta'liful Qulub (Kesatuan hati). Mungkin alasan yang tepat bagi saya, Mba Dn, Umi, Bu Hus, Mba Ann, Mba Min, dan semua anggota geng upinipin jika ditanyakan, "kenapa harus di At Tin?" Meski rumah saya yang paling jauh dari Masjid itu, tapi menyenangkan bisa bertemu dengan teman-teman baru ^^ saya rasa letak Masjid At Tin memang sangat strategis untuk menyatukan muslim di Depok, Bogor, Cibubur, Kalibata, Bekasi, Tangerang, Jakarta, dsk... makanya gak heran kalau kesana tiba-tiba banyak bertemu dengan anak-anak IPB lagi :D

Bertemu mereka mengingatkan akan bulan suci Ramadhan. Rasanya ingin sekali berada dalam bulan Ramadhan lagi... itikaf lagi. Ya Allah, izinkanlah kami bertemu kembali di itikaf Ramadhan tahun depan dengan keadaan yang lebih baik... dengan cinta yang lebih besar kepada-Mu, ya Rabb...

Semoga kita senantiasa berada dalam dekapan ukhuwah Islamiyah..

... karena mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati. Karena keimanan tak hanya diucapkan...

Iman itu pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura. Maka Allah dan RasulNya telah meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama. Setidaknya, terjaganya mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Dan itulah batas terendah dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. 

Dalam dekapan ukhuwah kita menghayati pesan Sang Nabi. “Jangan kalian saling membenci”, begitu beliau bersabda seperti dicatat Al Bukhari dalam Shahihnya, “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara..”

Kita ingin kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Karena peradaban ada dalam balutan ukhuwah, dimana iman menjadi pondasi terkuat...

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)

Ikhwahfillah, dengan ukhuwah ini kita ber-fastabiqul khairat menjadi pribadi terbaik di hadapan Allah, karena mengokohkan ukhuwah itu bukan hanya soal memperbaiki kesalahan-kesalahan orang lain yang tampak, tapi justru kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri. Karena kita dan saudara kita itu layaknya cermin. Kesalahan saudara kita yang terlihat, mungkin sebenarnya adalah kekurangan diri.

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)

Saudaraku... tak peduli apapun sukumu, apapun warna kulitmu, apapun profesimu, bagaimanapun latar belakangmu dan keluargamu, apapun kekurangan dan kelebihanmu, Sang pengukhuwah sejati tulus kan menyambutmu sepenuh jiwa... Marilah bersama merajut dan menjaga ukhuwah ini, mulai dari berhusnuzhon hingga tingkatan tertinggi yang akan membuat para nabi dan syuhada iri pada kita, itsar.

Semoga ukhuwah ini kan abadi hingga ke jannah-Nya...

"Kutitipkan rindu ini pada malam-malam Ramadhan. Bila raga ini tak sampai, jangan lupakan doa sederhanamu untukku..."


Referensi: Al-Quran, Hadist, Buku "Dalam Dekapan Dakwah" (Sallim akhukum fillah).


Monday, 13 September 2010

[Dokumenter] Itikaf 1431 H




meneruskan rekaman rangkaian itikaf dari tahun-tahun lalu...
sayang, saat ini hp nya gak ada fasilitas video recorder jadi gak bisa ngerekam orisinil keadaan saat itu.
ini cuma sekumpulan foto-foto iseng *emang sebenernya gak niat moto sih*. Jepretan pake kamera HP 1mp. saya rangkum jadi video amatir.
only for self documentation.
mudah-mudahan tahun depan pada waktu yang sama masih bisa melihat video ini lagi ^^

Thursday, 9 September 2010

Ramuan asa untuk sebuah perpisahan



Tempat yang setengah dekade selalu tersinggah
tetap berdiri kokoh dengan segala keindahannya
rumah Allah yang menjadi tempat pertemuan kami
detik ini harus juga menjadi tempat perpisahan kami

langit senja menjadi saksi perpisahan ini
langit yang tidak lagi berwajah ceria
langit yang dipenuhi awan murung
seakan mengerti segala perasaan yang tersirat

***
Hanya pamit, kata maaf, dan harapan yang bisa terucap
lidah kami kelu, hati kami beku, setiap kata begitu berarti
hanya mata yang dapat menggambarkan seluruh perasaan
tatapan yang menyiratkan satu perasaan diantara kami

selamat berpisah sahabat mulia...
sahabat-sahabat luar biasaku..saudariku seakidah..saudariku seperjuangan..
orang-orang hebat yang Allah perkenalkan lewat ibadah ini sejak tiga tahun lalu
meski tak pernah berjanji, tapi kita selalu dipertemukan-Nya di tempat ini 
dengan tujuan yang sama... setiap tahunnya... subhanallah

Beribu rasa syukur pada-Nya yang telah merekatkan tali ukhuwah di antara kami
mengikat kami dengan ikatan terkuat: ikatan ukhuwah islamiyah
ukhuwah islamiyah yang membuat kami seperti satu tubuh

***
hingga tibalah saat yang pasti
perpisahan yang menyisakan satu rasa yang indah
menyisakan semangat baru untuk terus berjuang 
semangat untuk terus memperbaiki diri dan orang lain..
agar Allah pertemukan kami kembali di surga-Nya kelak... Amiin...

***
satu per satu kaki melangkah menjauh
menuju arah yang telah ditetapkan sang empunya kaki
walau arah berbeda tapi hati kita tetap satu
jiwa akan selalu sejalan dan hati kita akan selalu pada-Nya

***
Berat rasanya mengayunkan langkah
langkah untuk menjauh dari tempat ini
Betapa ingin rasanya menetap saja disini 
hingga hilal baru akan muncul
melepas kepergian Ramadhan yang mulia di tempat ini...

bunda, haruskah aku pulang hari ini?
tak bisa terelakkan perasaan rindu ayah bunda
namun tak juga terelakkan keinginan melepas Ramadhan disini...

meluruskan niat, membulatkan tekad, dan mengikhlaskan hati
kupercepat langkah-langkah ini
meninggalkan ruang perpisahan ini

***
itikaf tahun ini telah usai...
semoga ini bukan itikaf terakhir dalam hidup kita
berharap Allah memberikan kita kesempatan itikaf lagi 
mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik
mengizinkan kita menggapai kembali kemuliaan Ramadhan
bersama orang-orang tercinta
tanpa berkurang satupun, satu apapun

***
meski Ramadhan nan mulia kan pergi
Syawal nan fitri kan datang menyapa

meski begitu berat melepas Ramadhan
rasanya tak pantas bersedih untuk menyambut Syawal
karena di hari kemenangan, seorang muslim harus bergembira

Akan kusambut Syawal sebagai kesempurnaan menutup Ramadhan
dengan azzam 'tuk menjaga hidayah-Nya, 
menjaga semangat Ramadhan ini
hingga perjumpaan dengan-Nya kelak


"kutitipkan rindu ini pada malam-malam Ramadhan. jika raga ini tak sampai, jangan lupakan doa sederhanamu untukku..."


Tuesday, 6 October 2009

Itikaf 25 Ramadhan 1430H




diambil waku itikaf kemarin..
Agak2 ga jelas, soalnya diambil pake video HP.
and gak fokus, karena tempat mengambilnya terbatas.. dari lantai atas.
lokasi: Masjid At-Tin

*btw ini ketiga kalinya saya merekam aktivitas ba'da subuh tanggal 25 Ramadhan*

mudah2an bisa berlanjut ke rekaman video itikaf 25 Ramadhan 1431 H ^_^ amiin..

Thursday, 17 September 2009

momen terindah dalam setiap Ramadhan

Mentari pagi bercahaya membawa kehangatan
mengisi setiap sudut ruang bumi Illahi
menembus daun-daun yang sedang bermain ditiup angin
nyanyian burung makin meyakinkan indahnya pagi ini
kutatap langit biru yang cerah
mengingatkanku bahwa aku harus meninggalkanmu sementara


mudah-mudahan Allah berkenan menyampaikanku kembali kesini
dipenghujung Ramadhan yang makin nyata
rasanya berat untuk meninggalkanmu
seakan ini Itikaf terakhir bagiku
karena tidak ada yang menjamin bahwa aku masih bisa merasakan Ramadhan tahun depan

Berharap ALLAH memberiku kesempatan untuk merasakan Ramadhan tahun depan
dengan keadaan yang lebih baik
tanpa kekurangan satu apapun tanpa kehilangan siapapun

"kutitipkan rindu ini pada malam-malam Ramadhan. jika raga ini tak sampai, jangan lupakan doa sederhanamu untukku..."

Friday, 19 June 2009

Itikaf 1429 H




setahun kemudian pada tanggal yang sama, pergi dengan orang yang sama.. ke tempat yang sama.
tapi kali ini peserta itikafnya tidak seramai tahun sebelumnya..
keesokan harinya baru nih masjid rame banget pengunjung..

Tuesday, 24 March 2009

Itikaf 1428 H




VIDEO ini diambil pada tanggal 25 ramadhan 1428 H.
waktu itu lagi itikaf bareng Dewi di masjid At Tin TMII.
Buanyaaak banget orangnya, seru..!
Pemandangan ini diambil waktu pagi hari, biasa setelah subuh banyak yang tidur lagi..
Duh.. jadi kangen sama bulan Ramadhan lagi..
Mudah2an masih diberi kesempatan oleh Allah tuk menikmati bulan Ramdhan..
Dewi... nanti itikaf bareng lagi ya...

NB: video ini diambil pake Hape Nokia 7260