Showing posts with label pahlawan. Show all posts
Showing posts with label pahlawan. Show all posts

Monday, 5 December 2011

Kultwit @AyoTarbiyah: Siapakah Mereka #100pahlawantarbiyah?

Rating:★★★★
Category:Other

Hidup Pahlawan!!

Islamedia - Hari ini hari Pahlawan. Izinkan kami mentwit #100pahlawan yang ada di disekitar kita. Sila menikmati....

100. Pahlawan itu orang yang menjaga dan membersihkan masjid shg bisa ditempati sholat jutaan manusia di jutaan masjid #100pahlawan

99. Pahlawan itu seorang yang membersihkan jalan raya dengan sapu lidi di subuh hari hingga jalan raya beraspal bersih dan rapi #100pahlawan

98. Ibu bidan yang betugas di pelosok pulau yang sadarkan warga desa untuk hidup sehat dan bantu kelahiran bayi dg sehat #100pahlawan

97. Petugas penjaga perlintasan kereta api yang tanpa disertai palang pintu, membantu ribuan kendaraan selamat dari Kereta #100pahlawan

96. orang yang tiap pagi memungut sampah di kampung-kampung hingga bak sampah di kampung kita kosong tiap ganti hari>> #100pahlawan

95. pemuda yang rela membersihkan jalanan ibu kota dari paku-paku yg bersebaran di jalan raya yg bisa bahayakan jutaan orang>>#100pahlawan

94. Petugas pengatur lalu lintas di sudut-sudut perempatan dan perlintasan jalan, tapi mereka bukan aparat kepolisian >> #100pahlawan

93. Pelajar yang mengharumkan nama sekolah, daerah dan negara dalam lomba-lomba internasional bernuansa pendidikan #100pahlawan

92. Orang tua yang masih menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA, walaupun dia hrs menjadi pengayuh becak di jalanan ibu kota >> #100pahlawan

91. Mahasiswa gemar ke masjid yang rajin turun ke jalan menumbangkan rezim orba tapi mereka tak tertulis di tinta sejarah. >> #100pahlawan

90. Anggota DPR/DPRD yang tidak mau menerima suap atau riswah atau gratifikasi dan mengembalikannya ke KPK selama 1999-2009 >> #100pahlawan

89. Para profesional muda yang sibuk tapi masih sempat mengisi tarbiyah anak-anak SMA di kotanya >> #100pahlawan

88. Mahasiswa tingkat akhir yang masih sempat mengisi pengajian untuk adik-adik pelajar di sela-sela kesibukannya >> #100pahlawan

87. Aktivis yang peduli terhadap pendangkalan aqidah dan akhlaq bagi remaja di daerah-daerah di Indonesia >> #100pahlawan

86. ibu shalihah yang rela membimbing ibu-ibu di kampungnya untuk belajar membaca Al Qur'an tiap pekan >> #100pahlawan

85. Seorang pelajar yang tidak hanya sekolah pulang sekolah pulang, tap dia terus memberbaiki akhlaq teman2nya >> #100pahlawantarbiyah

84. Petani yang bertani di sawah tapi dia juga rajin mengajak kelompok tani untuk rajin ke masjid di dusunnya >>#100pahlawantarbiyah

83. Nelayan yang pergi 3 bulan mencari ikan di lautan lepas , tapi tak lupa sholat di kapal perahunya setiap hari >>#100pahlawantarbiyah

82. Pegawai bank yang tidak mau menerima dana riba karena keteguhan prinsipnya >> #100pahlawantarbiyah

81. Orang tidak mau uang belanjanya habis untuk membeli rokok karena merokok itu membahayakan diri dan keluarganya #100pahlawantarbiyah

80. anak muda yang akun twitternya mayoritas berisi kebaikan, taujih dan taushiyah kpd semua orang, dakwah bil twitter #100pahlawantarbiyah

79. ibu-ibu perempuan karier yang pulang kerja masih sempat untuk hadir pertemuan tarbiyah dan dakwah setiap pekan >>#100pahlawantarbiyah

78. Ayahanda yang selalu mengajari anak-anaknya untuk rajiin sholat subuh di masjid sejak dini >> #100pahlawantarbiyah

77. orang tua yang mendidik anaknya untuk tidak berpacaran saat remaja dan dewasa untuk menahan diri dan kehormatan >>#100pahlawantarbiyah

76. ibunda yang selalu memberi asupan ASI kepada jundinya, walau dia sibuk dakwah dan bekerja >> #100pahlawantarbiyah

75. ayahanda yang dekat sama anak-anaknya hingga anaknya menemukan jati diri dan berakhlaq mulia #100pahlawantarbiyah

74. Orang tua yang selektif menyekolahkan anaknya yang bisa mendidik nya menjadi anak tarbiyah >> #100pahlawantarbiyah

73. Ayahanda yang setiap hari berkeringat untuk membawa nafkah yang halal untuk istri dan anak-anaknya >> #100pahlawantarbiyah

72. ibunda yang sedang hamil tapi masih gigih masuk keluar kampung untuk mentarbiyah ibu-ibu di RT/RW nya >> #100pahlawantarbiyah

71. Ayahanda yang mengajak anaknya yang masih kecil untuk turut bersama saat dia aktif dakwah dan kerja sosial >> #100pahlawantarbiyah

70. Para guru TPA di kampung-kampung, di mushola-masjid kampung yang tiap hari ngajar anak2 mengaji >> #100pahlawantarbiyah

69. Pemuda yang berjaga di pos penanggulangan bencana menjaga pengungsi korban bencana tidur >> #100pahlawantarbiyah

68. Dokter Baru lulus kuliah , yang rela ditugaskan di Pelosok desa, bukan hanya karena PTT, tp krn misi dakwah >> #100pahlawantarbiyah

67. Perempuan shalihah yg rela resign dari kantornya, krn jilbab yg dikenakan tak bisa dipakai dg bebas di kantornya. #100pahlawantarbiyah

66. Ibunda yang rela dikeluarkan dari sekolah negeri, di era 80an, karena berjilbab. Dan kini jilbab bisa berkibar >> #100pahlawantarbiyah

65. Pelajar yang dipanggil kepala sekolah karena tidak mau ikut ekstrakurikuler , karena kostumnya tdk tutup auratnya #100pahlawantarbiyah

64. Aktivis Mahasiswi yang tidak mau dibonceng teman kuliah yg laki2, saat perjalanan KKN di desa krn prinsip tarbiyah #100pahlawantarbiyah

63. Aktivis buruh yang terus berjuang membela rekan kerjanya agar bisa sholat jumat saat di pabrik/kantor >> #100pahlawantarbiyah

62. Aktivis pendamping/penyuluh pertanian yang didik petani untuk bertani profesional, juga akhlaq dan aqidah >> #100pahlawantarbiyah

61. Profesional yg keahlian IT nya dimanfaatkan utk berdakwah, menerangi umat di dunia maya, memblock situs buruk >> #100pahlawantarbiyah

60. Seorang pemuda shalih yang memilih jodohnya, tidak karena harta dan dunia, tapi krn dakwah dan agamanya >> #100pahlawantarbiyah

59. Anggota DPRD yang tidak disukai temannya karena tidak mau menerima amplop tak jelas >> #100pahlawantarbiyah

58. Pegawai Negeri, baru masuk, yg tidak disukai temannya karena tdk mau diajak ke tempat2 yang buruk di malam hari >> #100pahlawantarbiyah

57. Pejabat publik yang tegas dan santun dalam bersikap, tapi dekat dan bersahabat dengan rakyatnya >> #100pahlawantarbiyah

56. Pedagang yang tdk mengurangi timbangan dan suka memberi infaq kepada yang membutuhkan >> #100pahlawantarbiyah

55. Pebisnis kontraktor yang tidak menyuap dan tidak me-mark-up anggaran proyek, demi keuntungan pribadinya.. >> #100pahlawantarbiyah

54. Pejabat publik yang sibuk bekerja tapi tak lupa mengisi pengajian di kampung-kampung >> #100pahlawantarbiyah

53. Mubaligh yang waktunya habis untuk bertemu dan melayani umat, dari surau, mushola, masjid hingga perkantoran >> #100pahlawantarbiyah

52. Orang yang bertugas menjadi pengurus jenazah di mushola, masjid dan pemakaman >> #100pahlawantarbiyah

51. orang yang bertugas menjadi sopir ambulans yang akan mengangkut pasien sakit atau orang yang wafat. #100pahlawantarbiyah

Alhamdulillah 50 dari #pahlawantarbiyah sudah terposting. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari 50 karakter diatas... #100pahlawantarbiyah

50. Grup nasyid yang syair nya bisa memotivasi orang untuk dekat kepada Allah, giat dakwah dan berbuat baik >> #100pahlawantarbiyah

49. Penulis novel, cerpen, dongeng, dan sastrawan umumnya yang karta sastranya bisa menggairahkan hidup utk dakwah #100pahlawantarbiyah

48. Lekaki shalih yang berupaya keras untuk tidak khalwat dengan perempuan di tempat-tempat umum krn Allah semata. #100pahlawantarbiyah

47. Dosen yang tidak hanya mengajar mata kuliah, tapi juga mentarbiyah sebagian mahasiswanya hingga jadi orang besar >> #100pahlawantarbiyah

46. Guru yang tak hanya mengajar di kelas, tapi juga mendidik siswa untuk jadi pemuda pengemban risalah kebaikan >> #100pahlawantarbiyah

45. Profesional muda yang bekerja profesional dan juga memakmurkan masjid di perkantorannya untuk kebaikan semua >>#100pahlawantarbiyah

44. Pengusaha yang mampu menyediakan lapangan kerja untuk menyantuni keluarga para pengemban risalah kebaikan >> #100pahlawantarbiyah

43. aktivis remaja yang giat berkampanye untuk mencegah pergaulan bebas dan kenakalan pelajar di kotanya >> #100pahlawantarbiyah

42. Kyai yang pesantren atau boarding madrasahnya melahirkan banyak duat yang siap ditugaskan kemana2.. #100pahlawantarbiyah

41. aktivis remaja masjid yang rutin makmurkan masjid, ajak rekan remaja untuk cinta masjid dan kebaikan >> 100pahlawantarbiyah

40. Pemuda yang saat lajang sejak sekolah/kuliah sdh bekerja mencari nafkah untuk membiayai dirinya dan dakwah >> #100pahlawantarbiyah

39. Orang tua yang selektif memilih menantu untuk puterinya, karena tak rela puterinya hidup jauh dari agamanya >> #100pahlawantarbiyah

38. Desainer yang membuat desain baju, jilbab, dan busana muslim-muslimah hingga dicintai dan marak dimana-mana #100pahlawantarbiyah

37. Produsen dan distributor segala produk menyehatkan untuk mencegah umat dari sakit dan bahan pengawet yang bahaya #100pahlawantarbiyah

36. Pengacara yang suka membela du'at dan umat dari ketidakadilan dan mafia hukum, rela membela rakyat demi kebaikan #100pahlawantarbiyah

35. buruh Migran yang ada di Luar Negeri, selain bekerja, ada yang menjadi guru ngaji bagi dan konselor bagi temannya #100pahlawantabiyah

34. Aktivis yang bolak-balik pergi ke negara lain, untuk mendampingi TKI dan bimbing mereka dari pengajian ke pengajian #100pahlawantarbiyah

33. Anak-anak muda kekar perkasa yang menjadi pengawal pribadi tokoh dan pengamanan saat acara dakwah dan kebaikan #100pahlawantarbiyah

32.. Wanita shalihah yg bertugas menjaga anak-anak , bayi dan balita di tempat "hadlonah" anak saat kegiatan dakwah >> #100pahlawantarbiyah

31. Orang bekerja atau sekolah di tanah rantau, yang tetap istiqomah disana untuk bekal kembali di daerah asal >> #100pahlawantarbiyah

30. Wartawan atau jurnalis yg gigih bekerja untuk menghasilkan karya jurnalistik yang membela dakwah dan umat >> #100pahlawantarbiyah

29. Imam masjid yang senantiasa memimpin jamaah di masjid 5 waktu sehari >> #100pahlawantarbiyah

28. Bilal yang kumandang adzannya membangunkan orang sholat shubuh dan magnet jamaah 5 waktu sehari >> #100pahlawantarbiyah

27. Petugas Amil Zakat, berjaga di hari libur, bertugas setiap hari, masuk keluar kantor dan rumah utk ambil ziswaf #100pahlawantarbiyah

Termasuk RT @BerZakat: @mungkin perlu tambahan referensi lembaga penyalur zakat, buka aja bit.ly/udSMvs

26. penulis Buku-buku kebaikan, buku dasar2 agama dan buku-buku fikrah dakwah, yg bukunya jd motor gerakan kebaikan >> #100pahlawantarbiyah

25. orang yang membiayai program-program kebaikan, donatur bagi kegiatan dakwah >> #100pahlawantarbiyah

24. para qori' yg suaranya dibutuhkan masyarakat, di berbagai kegiatan utk menggugah hati akan keindahan Al Qur'an >> #100pahlawantarbiyah

23. Khatib yg khutbahnya menyentuh masyarakat, menggugah hati dan perasaan pendengar untuk berubah ke arah kebaikan >> #100pahlawantabiyah

22. Para atlet dan guru olahraga yang senantiasa berprestasi dan mendidik masyarakat untuk sehat dan qowiyul jism. >> #100pahlawantarbiyah

21. para pegiat kemansiaan, pekerja sosial yang diutus di daerah bencana hingga ke daerah konflik dan Palestina >> #100pahlawantarbiyah

20. Para WNI yg berjuang belajar /studi di Negeri lain untuk membangun negeri ini kelak dengan teknologi dan kepakaran #100pahlawantarbiyah

19.Syuhada, veteran, yg berjuang bebaskan negeri ini dr penjajahan asing hingga negeri ini merdeka & terbuka utk dakwah #100pahlawantarbiyah

18. Para pejuang RI yg tak tertulis & tak disebut dalam pusara dan gelar "pahlawan" agar negeri ini barokah untuk umat #100pahlawantarbiyah

17. Para du'at penyebar agama sejak awal hingga era kemerdekaan, era demokrasi liberal, terpimpin, orla dan orba. #100pahlawantarbiyah

16. para duat yang turut membuka pintu gelora reformasi di Indonesia dan negeri2 lain agar berubah ke arah kebaikan #100pahlawantarbiyah

15. orang yg merekrut kita, mengajak pertama kali ke arah kebaikan. tak terduga perkenalan dgn dia, membuat istiqomah #100pahlawantarbiyah

14. Semua profesi dan pekerjaan yang mendukung dakwah dan membela umat, baik kecil sampai besar, baik jauh atau dekat #100pahlawantarbiyah

13. Petugas dakwah yang bekerja di balik layar untuk mengembangkan kreativitas dan menjaga asholah kemurnian >> #100pahlawantarbiyah

12. Kaum Cerdik cendikia tempat kita belajar, seminar, training untuk kapasitas diri dan ummat dan terus belajar #100pahlawantarbiyah

11. kaum Ulama, fuqoha, 'Alim dan halihin yang kita belajar tentang ilmu agama kepadanya #100pahlawantarbiyah

10. Murid-murid, mutarabbi dan anak-anak shalih kita, yang selalu mendoakan agar terus istiqomah dalam kebaikan #100pahlawantarbiyah

9. Seluruh guru SMP-SMA – Kuliah yang mendidik kita saat remaja – dewasa hingga kita berilmu dan berkapasitas #100pahlawantarbiyah

8. Seluruh guru SD yang mengajari kita menulis, membaca dan berpengetahuan dasar dan mendidik nilai2 kebaikan #100pahlawantarbiyah

7. Seluruh Guru TK / PAUD yang mengajari kita membaca, menyanyi dan berhitung #100pahlawantarbiyah

6. Istri dan / suami kita yang mendampingi kita dalam perjuangan dakwah, mengarungi bahtera keluarga pejuang #100pahlawantarbiyah

5. Ibunda & ayahanda, Orang tua kita yg telah melahirkan, membesarkan, mendidik & merestui kita utk aktif berjuang #100pahlawantarbiyah

4. Muassis, perintis dakwah di perkotaan dan perdesaan. Di sekolah dan kampus, di kantor dan di mana-mana #100pahlawantarbiyah

3. Mujahid mujahidah dakwah yang telah mendahului kita yang amal dakwahnya terasa hingga sekarang dan masa depan #100pahlawantarbiyah

2. Para qiyadah (pemimpin) yg memimpin dan memikirkan da'i, keluarga da'i, umat & bangsa ini, dimanapun mereka berada #100pahlawantarbiyah

1. Para Murobbi / Murabbiyah yang gigih berjuang metarbiyah kita kemarin, sekarang dan insya Allah hari-hari kedepan #100pahlawantarbiyah

Alhamdulillah tuntas sudah #100pahlawantarbiyah yg didedikasikan untuk semua.Mari kita sampaikan salam, rasa terima kasih, dan doakan mereka


sumber: http://www.islamedia.web.id/2011/11/siapakah-mereka-100pahlawantarbiyah.html

Thursday, 10 November 2011

Pahlawan Tanpa Harta

Kelangkaan Pahlawan merupakan isyarat kematian sebuah bangsa...

Selamat Hari Pahlawan!
Di Hari Pahlawan ini, ada baiknya untuk menelusuri lebih dalam tentang Para Pejuang Kebenaran, sehingga kita bisa termotivasi dan terinspirasi dari kisah-kisah mereka. Buku (lama) tentang kepahlawanan yang masih sangat berkesan bagi saya salah satunya adalah buku yang ditulis oleh Anis Matta: Mencari Pahlawan Indonesia.

Pahlawan yang digambarkan disini bukan saja pahlawan yang membebaskan bangsa dari krisis besar atau pahlawan di medan peperangan gawat, tapi jauh lebih luas lagi bentangannya—pahlawan dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan, pebisnis, kesenian dan kebudayaan. Dan tentu saja mereka pernah bergelut dengan yang namanya kegagalan, kesulitan, bahkan musibah. Namun semua itu tidak menyurutkan langkah Para Pahlawan untuk terus berjuang.

Salah satu yang sering terlupakan adalah Pahlawan mukmin sejati, yang selalu mengajarkan dan mengingatkan kita tentang cahaya iman yang dibawa Rasulullah SAW. Ulama, guru, ustadz, apapun namanya.... sungguh agung perjuanganmu...

Jangan pernah menyangka bahwa seorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam perjalanan ini menuju kepahlawanan. Karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. "Kalau hukan karena kesulitan, maka semua orang akan jadi pahlawan [Al-Mutanahhi - penyair Arab].

Pahlawan Tanpa Harta

Tidak semua medan kepahlawanan membutuhkan sarana dan harta yang melimpah. Perang, politik, dan ekonomi adalah 'industri duaniawi' yang membutuhkan daya cipta material yang hebat. Tapi ada industri yang sebagian besar proses penciptaannya justru lebih bersifat 'ukhrawi; profesi nabi-nabi yang diwariskan kepada para ulama. Kedua 'industri' itu tidaklah terpisah pada tujuannya, tapi pada tabiat pekerjaannya. Proses penciptaan dalam dunia ilmu pengetahuan, spiritual dan pendidikan, lebih banyak bertumpu pada paduan antara kekuatan spiritual dan intelektual. Harta dan sarana hanya mempunyai peranan yang sederhana dalam proses. Sebaliknya, produk kepahlwanan dalam dunia ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan keagamaan, juga tidak dapat mengantar seorang ulama menuju kekayaan.

Para ulama, kata Ibnu Khaldun, sulit menjadi kaya dengan ilmu agamanya. Sebab, harta hanya berputar dalam titik-titik tertentu dimana kebutuhan sebagian besar manusia ada disitu. Sementara, manusia pada umumnya tidak setiap saat membutuhkan nasihat keagamaan. Ada lagi faktor yang disebut Ibnu Khaldun. Para ulama berada pada posisi moral yang tinggi dan terhormat, yang biasanya tidak akan mereka rusak dengan berbagai macam praktik tidak terhormat, yang 'biasanya' memenuhi dunia bisnis. Maka, kata Ibnu Khaldun, pemerintahlah yang bertugas menjaga kehormatan para ulama, dengan memberi mereka fasilitas duniawi yang cukup untuk menjalankan fungsi sosial mereka.

Tapi ini mengandung bahaya. Sebab ulama yang 'dihidupi' pemerintah biasanya kehilangan harga diri dan wibawa di depan penguasa. Itu menyulitkan mereka melakukan fungsi kontrol terhadap penguasa. Tapi disinilah letak kepahlawanan mereka; kemampuan untuk melahirkan karya ilmiah yang hebat di tengah kemiskinan, dan kemampuan untuk mempertahankan harga diri dan wibawa di depan penguasa di tengah kemiskinannya. Mereka mendirikan kerajaan spiritual dalam dunia material kita; maka mereka menjadi raja dalam hati masyarakat, bukan penguasa di atas kepala rakyat. Mereka adalah orang-orang miskin yang terhormat. Sebab kemiskinan bagi mereka adalah pilihan hidup, bukan akibat ketidakberdayaan. Kemiskinan adalah resiko profesi yang mereka sadari sejak awal. Dan ketika mereka memilih profesi itu, mereka menanggung semua akibatnya.

Lahir sebagai anak yatim di tengah keluarga miskin, Imam Syafi'i, pada mulanya menuntut ilmu (agama) untuk menjadi kaya. "Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah," kata beliau. "Tapi," katanya lagi, "Setelah aku mendapatkan ilmu ini, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh, jika dituntut ia untuk kejayaan akhirat."

Bisnis Kehormatan

Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen. Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya. Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untoucheble. Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalat. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan murid beliau. Misalnya, Kitab Al-Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.

Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah. Sebab, bisnis tidak boleh mengganggu 'bisnis' mereka yang lain. Sebab, mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu. Sebab, mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu. Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses. Demikianlah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, maha guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqah, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab AlZuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses. Namun, beliau hanya menjawab dengan enteng, "Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa."

Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah SWT.

Membuka kaca jendela, menatap realita:
Dengan berbagai gejolak yang ada di negeri ini, meski mungkin peneliti masih belum layak disebut sebagai pahlawan, dengan segala keterbatasan fasilitas dan materil yang mereka dapat, bisnis bisa menjadikan mereka sebagai orang bebas. Sebab, mereka bisa mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu dengan tanpa menghianati sang pemberi kepercayaan.


Referensi: Mencari Pahlawan Indonesia (Anis Matta)

Monday, 16 August 2010

Belajar dari Pahlawan Sains Indonesia


Sepanjang 65 Tahun Republik Indonesia berdiri, dunia sains dan teknologi kita jarang tampil ke permukaan. Mungkin karena penelitinya bekerja dalam diam, banyak pencapaian penting bahkan bertaraf dunia, luput dari perhatian publik. Dr. Warsito (Penemu scanner 4D pertama di dunia yang karyanya dipakai NASA, lembaga antariksa Amerika), Dr. Khoirul Anwar (Penemu sistem komunikasi 4G) dan Dr. Yogi Erlangga (Jagoan matematika yang teorinya dipakai sejumlah perusahaan minyak dunia) adalah segelintir dari banyak ilmuwan anak bangsa. Tidak semua mereka bekerja di dalam negeri. Ada yang menyebar ke penjuru bumi. Mereka membuat kita bangga dan percaya bahwa sebenarnya Indonesia mampu mandiri secara ilmu dan teknologi. Dari mereka kita dapat belajar banyak... Mereka juga pernah kalah, gagal dan salah. Namun itu semua tidak menjadikan mereka berhenti berkarya, 'coz winner never quit and quitter never win... Dirgahayu Indonesia ke-65. Hargai ilmuwan dalam negeri dan Jayalah sains dan teknologi Indonesia!



Belajar dari Jurus Dragon Ball
Mendapatkan ilham dari tokoh anime Goku, Dr Khoirul Anwar menggoyang dunia nirkabel.

INSPIRASI besar memang bisa datang dari mana saja, termasuk dari film animasi untuk anak-anak. Anda mungkin tak pernah mengira, sebuah film anime Jepang ternyata bisa mengilhami penemuan penting yang merevolusi anggapan tak terpatahkan di jagad transmisi telekomunikasi nirkabel.

Tapi cerita itulah yang terjadi pada diri Khoirul Anwar, dosen sekaligus peneliti asal Indonesia yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.

Saat terdesak karena harus mengajukan tema penelitian untuk mendapatkan dana riset, Khoirul memeras otaknya. Akhirnya ide itu muncul juga dari Dragon Ball Z, film animasi Jepang yang kerap ia tonton.

Ketika Goku, tokoh utama Dragon Ball Z, hendak melayangkan jurus terdahsyatnya, 'Genki Dama' alias Spirit Ball, Goku akan menyerap semua energi mahluk hidup di alam, sehingga menghasilkan tenaga yang luar biasa.

"Konsep itu saya turunkan formula matematikanya untuk diterapkan pada penelitian saya," kata Khoirul, kepada VIVAnews melalui surat elektroniknya, Jumat 13 Agustus 2010.

Maka inspirasi itu kini mewujud menjadi sebuah paper bertajuk "A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval."

Perhitungan efisiensi spektrum Dr Khoirul Anwar

Khoirul memisalkan jurus Spirit Ball Goku sebagai Turbo Equalizer (dekoder turbo) yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.

Asisten Profesor berusia 31 tahun itu dapat mematahkan anggapan yang awalnya 'tak mungkin' di dunia telekomunikasi. Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Turbo equalizer-lah yang akan membatalkan interferensi sehingga receiver bisa menerima sinyal tanpa distorsi.

Dengan mengenyahkan GI, dan memanfaatkan dekoder turbo, secara teoritis malah bisa menghilangkan rugi daya transmisi karena tak perlu mengirimkan daya untuk GI. Hilangnya GI juga bisa diisi oleh parity bits yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahan akibat distorsi (error correction coding).

"GI sebenarnya adalah sesuatu yang ‘tidak berguna’ di receiver selain hanya untuk menjadi pembatas. Jadi mengirimkan power untuk sesuatu yang ‘tidak berguna’ adalah sia-sia," kata Khoirul.

Gagasan ini sendiri, dikerjakan Khoirul bersama Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki Mobile Wireless Center.

Setelah menurunkan formula matematikanya secara konkrit, Khoirul meminta rekannya Hui Zhou, untuk membuat programnya.

Cara kerja Chained Turbo Equalization

Metode ini bisa dibilang mampu memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA (3G), dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.

Ia juga bisa diterapkan Indonesia, terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit, maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah tadi biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang.

Tak heran bila temuan ini membesut penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan.

Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.

Ini bukan sukses pertama bagi Khoirul. Pada 2006, pria asal Kediri, Jawa Timur itu juga telah menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division multiple access (MC-CDMA).

Caranya yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya. Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan untuk daya yang tinggi.

Belakangan, temuan ini ia patenkan. Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga membuatnya membuatnya kaget, sistem 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang ia patenkan itu.

Namun, putra dari pasangan (almarhum) Sudjianto dengan Siti Patmi itu, tak pernah lupa dengan asalnya. Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup bertani di Kediri. "Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua, terutama Ibu," katanya.

Ayah Khoirul meninggal karena sakit, saat ia baru lulus SD pada 1990. Ibunyalah kemudian berusaha keras menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus SD.

Sejak kecil, Khoirul hidup dalam kemiskinan. Tapi ada saja jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalkan, ketika melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos gratis untuknya.

Saat ia meneruskan kuliah di ITB Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa. "Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi," kata Khoirul mengenang masa lalunya. Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang tinggi.

Ia mendapatkan beasiswa S2 dari Panasonic, dan selanjutnya beasiswa S3 dari perusahaan Jepang. "Alhamdulillah, meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa." katanya.

Sukses di negeri orang tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. "Suatu saat saya juga akan tetap pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri," kata Khoirul.

Di luar kehidupannya sebagai seorang periset, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah agama di Jepang, bahkan menjadi Khatib shalat Iedul Fitri.

Tak hanya itu, Khoirul juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. "Keberadaaan kita di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai duta Indonesia," kata dia.

Selama mengajar kebudayaan Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk yang terakhir itu, ia biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu (Indonesia sedang berusaha dan berjuang).

Kini, Khoirul tinggal di Nomi, Ishikawa, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani, dan tiga putra tercintanya. "Semua anak saya memenuhi formula deret aritmatika dengan beda 1.5 tahun," Khoirul menjelaskan.

Yang paling besar lahir di Kawasaki, Yokohama, berusia 7 tahun. Yang kedua lahir di Nara berusia 5,5 tahun, dan ketiga juga lahir di Nara, kini berusia 4 tahun. Ia tak sependapat dengan beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan mengganggu risetnya.

Baginya keluarga banyak memberikan inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. "Belakangan ini saya berhasil menemukan teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan anak-anak," katanya.

Malahan, Khoirul sering mengajak anak-anaknya melakukan riset kecil-kecilan di rumahnya. Bersama anak-anaknya pula, Khoirul sering menyempatkan waktu menonton bersama, terutama film animasi kegemarannya: Dragon Ball Z, Kungfu Panda, Gibli, atau Detektif Conan.

"Film animasi mengajarkan anak kita nilai yang harus kita pahami dalam kehidupan," kata Khoirul. Film animasi Gibli, misalnya, banyak bercerita bagaimana seharusnya manusia bisa bersahabat dengan alam, tidak merusaknya, serta mencintai mahluk hidup.

Bahkan ide dan semangat baru terkadang muncul dari menonton film. Misalnya nilai kehidupan yang dia petik dari film Kungfu Panda: 'There is no secret ingredient, just believe'. "Nilai ini saya artikan bahwa tidak ada rahasia sukses, percayalah bahwa apapun yang kita kerjakan bisa membuat kita sukses." kata Khoirul.


Menembus Empat Dimensi
Dari ruko kecil di Tangerang, Dr Warsito menemukan teknologi 4D yang diakui NASA.


WARSITO nyaris gila saat komputer kerjanya hangus terbakar disambar petir. Hanya satu laptop tersisa, dan itu juga tiba-tiba jebol. Ini cobaan berat: di komputer itu, hasil riset belasan tahun hilang tak berjejak.

Hampir sepekan dia berdiam diri di kamar. Mimpinya seperti kandas. Dia ingin menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) berbasis teknologi Electrical Capacitance Volume-Tomography (ECVT). Itu teknologi pemindaian tiga dimensi (3D), dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi, sehingga menghasilkan citra 4D.

Getir. Tapi dia harus bangkit, dan tak boleh menyerah. Musibah itu memaksanya kembali membongkar arsip, dan catatan riset. Satu tim ahli dibentuknya membantu kerja besar itu. Mereka dari Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs).

Barangkali itu hikmah di balik musibah. Sebelumnya, dia malas membongkar data yang tersimpan belasan tahun. Semuanya bertumpuk seperti bangunan tumpang tindih. Tak ada cara lain merapikannya, kecuali membongkar, dan membangun ulang dari nol. "Mungkin di sini kunci keberhasilan itu," katanya kepada VIVAnews.

Pada 2004, riset itu kelar. Tapi masih dalam bentuk simulasi. Meski begitu, temuan Warsito segera menjadi incaran sejumlah perusahaan terkemuka dunia. Teknologi pemindai 4D  pertama di dunia itu akhirnya dipatenkan di Amerika Serikat, dan lembaga paten internasional PTO/WO pada 2006.

Tak kurang, yang naksir berat adalah NASA, lembaga antariksa Amerika. "NASA adalah lembaga luar yang pertama kali mengakui teknologi ini, dan kemudian memakainya meskipun masih taraf riset," katanya.

NASA memakai teknologi temuannya itu, untuk mengembangkan sistem pemindai tumpukan embun di dinding luar pesawat ulang-alik. Saat pesawat itu meluncur, ada perubahan suhu sangat tinggi. Tumpukan embun itu bisa merusak dinding pesawat  yang terbuat dari keramik.

Setelah NASA, temuan Warsito dilirik oleh lembaga top lainnya, seperti Ohio State University, perusahaan B&W, Departemen Energi Amerika, University of Cambridge, dan sejumlah lembaga besar lain.

Teknologi Warsito itu diperkirakan bakal membawa perubahan drastis dalam perkembangan riset dan teknologi. Jangkauannya juga luas. Mulai dari bidang energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.

Menekuni riset tomografi sejak 1992, persisnya saat dia kelar tugas akhir S1, Warsito mengatakan hasil yang dicapainya adalah buah dari kerja keras. Tomografi yang dia kembangkan bukan ada secara tiba-tiba. “Proses pengembangannya panjang, diikuti improvisasi terus-menerus sampai saat ini,"  ujarnya.

Tomografi adalah teknologi memindai berbagai obyek, dari luar hingga kondisi bagian dalam, tanpa harus merusak penampangnya. Teknologi ini terdiri dari rangkaian sistem sensor, elektronika, dan komputer.

Dengan teknologi ini, pemindaian bisa dilakukan dari luar, tanpa menyentuh obyek. Contoh paling umum adalah mesin CT Scan, dan MRI yang digunakan di bidang kedokteran. Hanya, dua alat itu sekadar menghasilkan citra dua dimensi (2D), dengan obyek tidak bergerak.

Sedangkan tomografi  ciptaan Warsito mampu memindai 3D, atau volumetrik dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi. "Jadi bisa 4D yakni tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu," ujarnya. Aplikasinya pun, kata Warsito, sangat luas. “Dari reaktor yang dipakai di pabrik-pabrik, tubuh manusia, obyek-obyek skala nano, hingga perut bumi."

Menurut Warsito, pemindaian dari dalam menuju luar dinding itu bisa dilakukan karena teknologi tomografi 4D kreasinya memakai gelombang listrik non-linear. Teknologi pemindai lain menggunakan gelombang linear, sehingga hanya bisa memindai dari luar obyek, ke dalam obyek.

Di Indonesia, teknologi yang masih terus dikembangkan Warsito ini, digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.

Tabung gas bertekanan tinggi perlu dipindai untuk memeriksa apabila ada retakan di dalam tabung yang tidak terlihat. Sebab, retakan itu bisa mengakibatkan ledakan, dan berdampak fatal. Sistem pemindai ini telah dipakai di pabrik tabung gas tekanan tinggi di Cikarang.

"Ada banyak teknologi turunan dari sensor dan tomografi ini yang sekarang sedang kami kembangkan, seperti sensor untuk treatment kanker, sistem pemindaian aktivitas otak manusia, hingga sensor untuk kebocoran tabung gas," Warsito menambahkan.

Di bidang kedokteran, teknologi temuan Warsito jelas mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Penemu CT Scan, Sir Godfrey Hounsfield dan Dr. Alan Cormack, diganjar Nobel Bidang Fisiologi  dan Kedokteran 1979. Pun penemu MRI, Paul Lauterbur dan Sir Peter Mansfield, yang meraih penghargaan sama tahun 2003.

Akankah Warsito menjadi peraih Nobel di masa mendatang?

"Rasanya terlalu tinggi untuk bangga dengan ini semua. Yang saya pikirkan hanyalah keinginan memberikan harapan bagi bangsa agar tidak terlalu pesimis dengan kemampuan mereka, dan tidak harus merasa rendah terhadap bangsa mana pun juga," ujar Warsito.

Bukan Superman, tokoh kartun DC Comics itu,  yang memberi ilham bagi Warsito menciptakan teknologi 'tembus pandang' ini. Ia bahkan berkelakar tak percaya kehebatan Superman.

Temuan ini hanya serpihan imajinasinya sewaktu SMA. Kala itu, ia terpaku dengan sosok jenius dalam komik yang berhasil mengembangkan mesin foto copy yang mampu mengkloning benda sama persis aslinya.

"Cerita itu tidak pernah saya lupa. Itu sedikit memberi inspirasi untuk mengembangkan teknologi tomografi ini. Karena teknologi ini bisa 'meng-copy' seluruh obyek menjadi data digital 3D," ujar lelaki yang kini menjabat sebagai staf ahli Menristek.

Lahir di Solo, 16 Mei 1967, dia yang bernama lengkap Warsito Purwo Taruno ini, bukanlah anak yang tumbuh dengan mimpi besar. Sebagai anak desa di lereng Gunung Lawu, ia menjalani hidup ala kadarnya. Ia habiskan masa kecil bergumul dengan sawah, dan ternak.

Tapi memang, kemampuan intelektualitasnya ditempa karena dia gemar membaca buku. "Saya meminjam buku apa saja yang bisa saya pinjam dan baca. Saya membacanya di mana saja, bisa di sawah, ladang, sungai. Kambing saya kenyang makan tanaman orang, saya kenyang baca buku," ujarnya. Aktivitas itu dilakoninya hingga lepas masa SMA.

Sebagai siswa cemerlang, Warsito kemudian pindah ke Yogyakarta, setelah namanya tertera sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM. Tapi dia gagal sekolah ke kampus itu, karena terbentur masalah biaya. Ia lalu merantau ke Jakarta. Beruntung, dia mendapat beasiswa di Universitas Shizuoka, Jepang, 1987. Beasiswa mengantarnya meraih gelar tertinggi akademik (S3), 1997.

Pada 1999, dia hijrah ke Amerika Serikat. Berbekal riset tentang tomografi, dia menjadi satu dari 15 peneliti papan atas dunia di Industrial Research Consortium, Ohio State University. Sebuah lembaga riset terpandang yang menjadi acuan sejumlah perusahaan minyak raksasa di dunia semisal ExxonMobil, Conoco Phillips, dan Shell.

Di tengah kesibukan riset, ia meluangkan waktu menulis di sejumlah jurnal ilmiah bertaraf internasional. Tak jarang, ia juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam sejumlah forum ilmuwan dunia.

Momen tak terlupakan adalah tatkala ia selesai memberi sesi paripurna (plenary lecture) di konferensi internasional tentang reactor engineering di Delft, Belanda, 1999. "Itu adalah sesi paripurna sebuah konferensi besar, yang dihadiri pakar dan professor dari seluruh dunia. Sepertinya tak ada penghargaan lebih besar dari itu, yang pernah saya rasakan dalam hidup saya. Bagaikan cerita di film."

Empat tahun dia curahkan tenaga dan waktu di Amerika. Mulai 2003 hingga 2006, ia memilih wara-wiri antara Amerika dan Indonesia. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke Indonesia, membesarkan CTECH Labs yang dibangunnya di satu ruko mungil di kawasan Tangerang. “Cita-cita saya membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset mana pun di dunia, dan itu di Indonesia.”

Di matanya, dunia sains di Indonesia kurang tantangan. Bukan hanya wadah yang terbatas, tapi juga interaksi antarilmuwan di ajang internasional lemah. Tantangan nyata dari industri juga minim. "Tanpa tantangan, dunia sains kita tidak akan maju,” ujarnya.


Matematika Rumit dari Tasikmalaya
Dr. Yogi Erlangga memecahkan persamaan rumit matematika yang dicari perusahaan minyak dunia.

Usia 36 tahun. Lahir di Tasikmalaya. Yogi Erlangga meraih gelar doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 31 tahun. Dia mencintai ilmu yang dibenci banyak orang, matematika. Di negeri kincir angin itu, dia dinobatkan sebagai doktor matematika terapan.

Dan matematika itulah yang melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak raksasa dunia. Dia adalah efisiensi. Rumus matematika yang dikembangkannya membuat ribuan insinyur minyak bisa bekerja cepat. Akurasi tinggi.  Dan akhirnya si raja minyak banyak berhemat.

Penelitian  yang dilakukan Yogi dalam meraih gelar doktor  berhasil memecahkan persoalan matematika atas gelombang yang bisa digunakan oleh perusahaan minyak untuk mencari cadangan emas hitam itu.  Rumus yang dikembangkan Yogi ini seratus kali lebih cepat dari yang berlaku sebelumnya.

Bukan cuma perusahaan minyak yang riang, sejumlah perusahaan raksasa dunia yang mengunakan unsur gelombang juga bersukaria. Rumus matematika anak Tasikmalaya itu juga manjur untuk teknologi keping Blu-Ray.  Keping itu bisa memuat data komputer dalam jumlah yang jauh lebih besar. Rumus itu juga mempermudah cara kerja radar di dunia penerbangan.

Dalam siaran pers --saat wisuda doktor Desember 2005--  Universitas Delft  sungguh bangga akan pencapaian Yogi. Siaran per situ menyebutkan bahwa penelitian Yogi adalah murni Matematika.

Dia berhasil mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem komputer untuk menyesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal, persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai perusahaan-perusahaan minyak.

Penelitian Yogi itu didasarkan pada “Ekuasi Helhmholtz.” Bagi kalangan ilmuwan, metode ekuasi itu penting dalam mengintepretasi ukuran-ukuran akustik yang digunakan untuk mensurvei cadangan minyak.

Sebelumnya, pengukuran itu dilakukan secara dua dimensi. Namun, dalam penelitian doktoralnya, Yogi berhasil membuat metode kalkulasi yang digunakan untuk memecahkan ekuasi Helmholtz ratusan kali lebih cepat dari yang biasa.

Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan minyak bisa memanfaatkan kalkulasi secara tiga dimensi untuk mencari cadangan minyak. Itulah sebabnya Delft yakin bahwa metode yang dikembangkan Yogi bisa mengundang daya tarik perusahaan-perusahaan minyak.

Profesor pembimbing tesis Yogi, Dr. Kees Vuik, bangga dengan kerja keras anak didiknya itu. “Berdasarkan respon-respon yang kami terima dari industri maupun universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan masalah yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun,” kata Vuik dalam siaran pers Universitas Delft.

Peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Khairul Ummah, menyatakan kekagumannya atas pencapaian Yogi. “Riset PhD dia cukup dahsyat, memecahkan persoalan matematika gelombang yang digunakan oleh perusahaan minyak Shell untuk mencari cadangan minyak,” tulis Khairul dalam laman blog ilmiah SEPIA yang dia kelola bersama sejumlah akademisi lain.

“Hasil riset dia [Yogi] cukup menghebohkan dunia minyak, terutama dengan kemungkinan membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak. Metode dia berhasil memproses data-data seismik seratus kali lebih cepat dari metode yang sekarang biasa digunakan,” tulis Khairul.

Yogi meraih gelar sarjana ilmu aeronautika dari ITB pada 1998. Kemudian dia menimba ilmu di Belanda dan meraih gelar Master (Msc) di Universitas Teknologi Delft pada 2001 di bidang Matematika Terapan.

Empat tahun kemudian, di alma mater dan disiplin ilmu yang sama, Yogi meraih gelar Doktor. Sempat mengikuti program post-doctoral di Jerman, Yogi selanjutnya tercatat sebagai Asisten Profesor bidang Matematika di Universitas Alfaisal, Arab Saudi.  Menurut data dari Universitas Alfaisal, Yogi sibuk dalam proyek penelitian aljabar linear dan analisis matriks.

Menurut Khairul, Yogi sempat merasa sedih bahwa dirinya lebih dihargai perusahaan-perusahaan asing ketimbang di Indonesia. Saat tidak ada perusahaan tanah air yang mengetahui karyanya, Yogi malah gencar didekati sejumlah perusahaan top dunia.

"Setelah hasil dia dipublikasikan, maka dia mendapat kontak dari Schlumberger untuk menindaklanjuti hal itu. Shell tentu saja sudah memakainya. Bahkan di Belanda dia diliput oleh media massa, juga media TV Belanda berencana mewawancarainya (tapi dia keburu pingin pulang, jadi tidak sempat). Jelas hal ini menunjukkan potensi ekonomi luar biasa dari algoritma matematik yang dia temukan,” tulis Khairul di blognya.

Di laman blog SEPIA, Mei 2006, Yogi mencurahkan uneg-unegnya atas tiadanya perhatian perusahaan-perusahaan asal Indonesia kepada karyanya. “Dari bangsa ini, sudah banyak yang memberikan kontribusinya masing-masing pada dunia keilmuan yang digelutinya. Sayangnya bangsa kita belum terbiasa untuk menghargai hasil karya keilmuan mereka,” tulis Yogi.

Dia mencontohkan, tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea, China were nothing [sama-sama tidak ada apa-apanya]. Tahun 1980, Korea became something. Tahun 1990 Malaysia started to be something. “Sekarang, China is everything. Unfortunately, we are still nothing, sadly speaking,” tulis Yogi.

Namun, dia yakin bahwa masih banyak anak bangsa yang akan merasa bangga jika mereka menghasilkan segala prestasi terbaiknya di negeri sendiri dan untuk kejayaan bangsanya. Tinggal kemauan bangsa dan negara untuk menyambut keinginan mereka dengan sambutan yang “appropriate” [layak], kata Yogi.


sumber: vivanews

Tuesday, 27 July 2010

Harapan untuk sebuah keadilan


Pagi yang cerah untuk jalan-jalan ke galeri nasional. Niat awalnya sih mau lihat pameran lukisan... tapi ada yang membuat saya lebih terkesan dibanding lukisan-lukisan indah tersebut... memang tidak indah namun maknanya sangat dalam, hingga membuat saya berdiri cukup lama disana, karena melihat tulisan ini:

Sebuah tulisan sederhana. Mungkin sang penulis sudah tidak tahu lagi harus menyampaikan kemana aspirasinya, hingga akhirnya ia memilih untuk menempelkan aspirasinya pada tembok di jalan medan merdeka ini... walaupun pasti mengotori tembok. Tapi menurutnya kehidupan yang diperjuangkan lebih besar dari itu semua...

Menyedihkan... melihat beberapa kasus janda-janda pahlawan dan veteran Indonesia yang dimunculkan di TV beberapa saat lalu... seakan negara tidak peduli dengan kehidupan mereka. Negara hanya memberikan tanda jasa (yang tak dapat dimakan) juga uang bulanan dalam jumlah yang minim, bahakan tidak rutin dibayarkan... gimana gak bikin miris??
Melihat tulisan ini juga mengingatkan saya pada catatan Asvi W. Adam (Sejarahwan LIPI)

The story is... Sore itu dalam pinggiran jalan protokol cuaca cukup cerah meski dihiasi awan kelabu. Suara kendaraan bermotor menelurkan asapnya yang gelap. Mata saya tertuju pada sebuah pemandangan unik dan mengharukan. Buritan trotoar terduduk seorang kakek tua baya. Berpakaian rapi yang tak serapi nasibnya. Tangan kirinya memegang sebungkus nasi warteg. Tangan kanannya yang sudah terlukis pembuluh-pembuluh darah memegang dengan kuat sendok plastik mentransfer energi kepada tubuhnya yang lunglai. Satu, dua, tiga suap nasi tergiling dalam mulut tak bergigi yang tampak kesusahan mengunyah. Di pundaknya terpampang lambang LVRI, sebuah pangkat semu yang berharga dalam sejarah. Sepatu but yang tampak rajin disemir melekat sebagai pelindung kaki-kakinya yang sudah tak sekuat dulu.
 
Dialah satu dari lebih kurang 32.000 prajurit dan PNS veteran yang telah berandil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Mereka bertempur dengan bermodalkan keberanian dan resiko kehilangan nyawa. Perjuangan dan kegigihannyalah yang membawa republik ini menjadi negeri berdaulat. Bambu-bambu rucingnya telah membakar sendi-sendi kekejaman penjajah.

Namun, gambaran di alenia pertama tadi cukup mendiskripsikan bahwa mereka sama sekali belum dihargai layaknya pahlawan. Nasib veteran cenderung diabaikan di negeri ini. Kesejahteraan para pejuang Tanah Air ini kerap dikesampingkan. Penghasilan mereka pun bahkan di bawah UMR. Mereka harusnya mendapat perbaikan nasib dan pemakaman yang layak. Kini, mereka hanya mengeluh dan meratapi nasib mereka yang berjuang membebaskan kita dari jajahan bangsa manapun, dengan mempertaruhkan jiwa dan raga mereka. Dahulu mereka yang menumpahkan darah, meninggalan rumah dan anak istri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu Pertiwi Ini.
 
Sekarang jasa mereka dilupakan oleh kita. Tahun 2006, Para veteran itu mencurahkan isi hati mereka dalam sebuah surat ke Istana Merdeka. Karena, sejak 1994, satu potong tubuh pahlawan yang cacat dalam perang kemerdekaan hanya dihargai Rp 22.000 per bulan. Sekali lagi, mereka memohon perhatian yang lebih layak. Sungguh sangat memilukan. Pertanyaannya, apakah pemerintah tidak mampu memberikan perhatian yang lebih layak. Bukankah usia para veteran itu sekarang sudah 70 hingga 75 tahun, sehingga tidak perlu memakan waktu lama untuk sekadar menyenangkan dan memberikan penghargaan yang pantas.


Mereka adalah orang-orang tua kita yang ikut membantu menegakkan berdirinya sebuah negara bernama Republik Indonesia. Sangat wajar untuk sebuah penghargaan. Tapi inilah raut muka negeri ini di usianya yang ke-65. Raut ironi yang tampak dimana-mana. Lihat saja, gaji dan tunjangan para anggota DPR, menteri atau anggota berbagai Komisi yang kini marak di Indonesia . Lalu, bandingkan dengan para veteran yang hanya dihargai Rp 22.000. Bahkan, anggota DPR diberi hingga 30 jutaan rupiah hanya untuk dana serap aspirasi. Padahal, kita belum merasakan hasil kerja para wakil rakyat itu. Inikah wajah negeri yang sudah merdeka 65 tahun. Beginikah sebuah negeri menghargai para veteran? Lalu dimanakah keadilan itu? Ketika sepucuk surat melayang ke Istana Presiden, kita pun tidak tahu, bagaimana nasib surat itu. Kita hanya bisa berharap, semoga ada titik cerah bagi para veteran ketika sinar kemerdekaan menyentuh usia ke-65. Sekadar harapan untuk sebuah keadilan. Maka, dengarkanlah...

Tidakkah hatimu bersedih karenanya??


Thursday, 27 May 2010

Biografi “Ibu Bangsa” Hasri Ainun Habibie

Rating:★★★★★
Category:Other
Copas dari Kompasianer Mas Sehat Ihsan...thanks for sharing this beautiful love story
“Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan, yaitu ibu dan istri,”
(B.J. Habibie)

Siapakah Hasri Ainun Habibie? Kenapa ia begitu dibanggakan oleh B. J. Habibie? Dari penelesuran saya, ternyata apa yang dilakukan oleh Habibie adalah suatu hal sangat wajar. Bahkan jika laki-laki lain yang mempersuntingnya, maka pasti mereka akan melakukan hal yang sama. Ini bukanlah suatu hal yang berlebihan. Setidaknya terlihat dari bagaimana ia melakoni hidup sepanjang sejarahnya. Sejak kecil hingga meninggal dunia, ia adalah seorang perempuan yang nyaris sempurna.

Saya mendapatkan banyak informasi mengenai kehidupan Ainun Habibie dari internet. Beberapa referensi saya sertakan dalam bagian akhir tulisan ini. Salah satu sumber yang sangat membantu saya adalah buku biografi Habibie yang ditulis oleh Makmur Makka. Selain itu informasi yang tidak kalah penting berasal dari ungkapan-ungkapan pendek dari beberapa tokoh yang saya dapatkan di internet.

Tulisan ini adalah untaian dari penelusuran saya di internet. Saya membagi tulisan ini tidak terlalu periodik karena tidak ada data yang cukup untuk melakukan itu. Meskipun beberapa bagian nampak seperti sebuah periodesasi, namun isi di dalamnya terkadang meloncat dari satu peride ke periode lainnya. Tujuan utama tulisan ini tidak lain untuk mengenal dan mengenang Ibunda Bangsa yang telah berpulang kerahmatullah 22 Mei 2010 yang lalu. Semoga bermanfaat!

Ainun Habibie

Latar Belakang keluarga
Hasri Ainun Habibie atau lebih popular dengan Ainun Habibie memiliki nama asli Hasri Ainun Besari. Hasri Ainun adalah nama dari bahasa Arab yang berarti seorang anak yang memiliki mata yang indah. Ainun merupakan anak keempat dari delapan bersaudara dari orang tua bernama H.Mohammad Besari. Ia dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 11 Agustus 1937. Keluarga Ainun adalah keluarga yang mencintai pendidikan. Salah satu orang yang paling penting dalam mendorongnya untuk rajin belajar adalah ibunya. Ibu dari Ainun Habibie merupakan tokoh penting di balik kesuksesan putrinya dalam pendidikan.

Pendidikan dan Pekerjaan
Ainun menyelesaikan pendidikan dasarnya di Bandung. Namun saya belum menemukan data yang pasti nama sekolahnya. Ia melanjutkan pendidikan di SLTP dan SLTA yang juga di Bkota yang sama. Sekolahnya di LSTP bersebelahan dengan sekolah B.J. Habibie yang kemudian menjadi suaminya. Bahkan saat di LSTA mereka belajar di sekolah yang sama. Hanya saja Habibie menjadi kakak kelasnya. Setelah menamatkan pendidikan SLTA, ia merantau ke Jakarta untuk elanjutkan pendidikan. Ainun mengambil Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia, Jakarta. Ia lulus sebagai dokter pada tahun 1961.

Berbekal ijazah kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut, Ainun Habibie diterima bekerja di rumah sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Di RSCM Ainun bekerja di bagian perawatan anak-anak. Kesan pertama dengan pekerjaan ini secara tidak langsung menjadikan Ainun sangat perhatian pada kondisi anak-anak sepanjang hayatnya. Saat bekerja di sana ia tinggal di sebuah asrama di belakang RSCM, tepatnya di Jalan Kimia, Jakarta. Ia bekerja di rumah sakit tersebut hanya setahun saja, sampai tahun 1962. Setelah menikah dengan Habibie pada tahun 1962 itu juga, ia harus meninggalkan pekerjaan sebagai dokter anak lalu ikut dengan suaminya pergi ke Jerman untuk menyelesaikan pendidikan.

Kisah CInta dan Pernikahan
Makmur Makka, penulis Biografi Habibie mendapatkan informasi menarik mengenai kisah cinta Habibie. Ternyata cinta Ainun dan Habibie sudah bersemi sejak mereka remaja. Ainun mengaku kalau ia dan Habibie sudah kenal sejak kecil, bahkan sekolah menenagah mereka berdekatan. Pada tahun 1986, Majalah Femina memuat cerita mengenai kisah ini. Ainun saat itu mengatakan:
“Kami kenal sejak kecil, dia teman bermain kelereng kaka saya. Rumah kami berdekatan ketika di Bandung. Di SLTP letak sekolah kami bersebelahan. Di SLTA malah satu sekolah, hanya Rudy (panggilan Habibie) satu kelas lebih tinggi. Dia selalu menjadi siswa paling kecil dan paling muda di kelas, begitu juga saya. Guru dan teman-teman acap kali berkelakar menjodoh-jodohkan kami. Yah, gadis mana yang suka diperolok demikian?”
Ainun dan Habibie memang banyak kesamaan sehingga mereka sering dijodoh-jodohkan oleh guru dan teman-temannya. Antara lain mereka sama-sama anak ke empat dari delapan bersaudara; sama-sama dibesarkan dalam keluarga yang berpendidikan. Selain itu mereka juga menjadi anak-anak yang beruntung karena memiliki ibu yang mendorong mereka untuk mengutamakan pendidikan. Kesamaan lain adalah, mereka sama-sama tinggal di Bandung dan sekolah di tempat yang sama. Yang tidak kalah unik adalah, mereka sama-sama hobi berenang.

Kisah cinta antara dua anak manusia ini memang sudah terlihat sejak mereka sama-sama sekolah. Rasa cinta tersebut mulai terbesit saat mereka sekolah di SMAK Dago, Kota Bandung. Ainun adalah seorang gadis yang sangat suka berenang. Karena terlalu banyak dan sering berenang, kulitnya menjadi lebih hitam. Pada suatu hari, saat jam istirahat belajar, Habibie lewat di depannya. Saat melihat Ainun Habibie mengatakan: “Hei, kamu sekarang kok hitam dan gemuk?” Ungkapan ini menjadikan Ainun berfikir dan merasakan sebuah getaran aneh di dalam dadanya. “Apakah Habibie perhatian padanya?” Apalagi teman-temannya heran dengan kejadian itu dan mengatakan kalau Habibie memang perhatian padanya. Memang, saat itu Ainun memang menjadi pujaan di sekolahnya dan menjadi incaran banyak siswa laki-laki, termasuk Habibie. Habibie pernah mengomentari tentang Ainun dengan ungkapan: “Wah cakep itu anak, si item gula Jawa”.

Namun mereka berpisah cukup lama. Setelah lulus SMA, Habibie melanjutkan pendidikannya ke ITB Bandung, namun tidak sempat selesai. Habibie dikirimkan oleh orang tunya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Adalah ibunya yang sangat semangat menyuruhnya belajar ke negeri “Panzeer” tersebut. Ia berangkat dengan biaya dari orang tunya sendiri, dan tidak mendapat beasiswa pemerintah Indonesia, namun pemerintah memberinya izin belajar ke sana. Lalu ia berangkat ke Jerman Barat, untuk melanjutkan pendidikan di sana. Ia masuk ke Universitas Technische Hochscheule di kota Achen, Jerman. Tahun 1960 terhitung Habibie tidak pulang ke Indonesia selama tujuh tahun. Ini membuatnya sangat home sick, terutama ia sangat ingin mengunjungi pusara Bapaknya.
Setelah menanti agak lama, akhirnya Habibie punya kesempatan pulang ke Indonesia. Saat Habibie pulang ke Indonesia, ia berkesempatan menziarahi makam bapaknya di Ujung Pandang. Menjelang lebaran ia pulang ke Bandung dan bertamu ke rumah tetangganya yang lama, keluarga Ainun. Saat itu pula Ainun secara kebetulan sedang mengambil cuti dari tempat kerjanya di RSCM dan pulang ke Bandung. Di sanalah cinta lama bersemi kembali setelah sekian lama mereka tidak bersua. Saat berjumpa dan bertatp mata Habibie mengatakan: “Kok gula Jawa sekarang sudah menjadi gula pasir?”. Pertemuan mereka berlanjut di Jakarta. Habibie mengikuti Ainun yang kembali ke Jakarta untuk masuk kerja di RSCM. Di Jakarta Habibie tinggal di Jl. Mendut, rumah kakaknya yang tertua.

Sama-sama tinggal di Jakarta membuat cinta mereka semakin bersemi. Mereka saling berjanji untuk sering bertemu dan merindukan satu sama lain. Habibie kerap menjemput Ainun yang bekerja di RSCM. Pada malam hari mereka pacaran dan melewati waktu dengan sangat indah. Sesekali mereka naik becak dengan jok tertutup, meskipun sebenarnya malam tidak diguyur hujan. Dan ketika mereka semakin dekat, Habibie menguatkan hati untuk mejatuhkan pilihannya pada Ainun. Ia melamar Ainun dan mempersunting menjadi istrinya.

Ainun disunting oleh BJ Habibie menjadi istrinya pada tanggal 12 Mei 1962. Mereka menghabiskan bulan madu di tiga kota. Kaliurang, Yogyakarta, dilanjutkan ke Bali lalu diakhiri di Ujung Pandang, daerah asal B. J. Habibie. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai dua orang putra; llham Akbar dan Thareq Kemal dan enam orang cucu. Namun demikian dalam penganugerahan gelar Doktor kehormatan kepadanya oleh Universitas Indonesia, Habibie mengatakan kalau ia punya cucu ribuan jumlahnya: “Saya mau garis bawahi. Di usia saya yang 74 tahun ini, anak biologis saya cuma dua. Cucu biologis saya hanya enam. Tetapi anak cucu intelektual saya ribuan jumlahnya.” Tentu saja yang dimaksudkan Habibie adalah mahasiswanya yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Menjadi Ibu dua Pangeran
Setelah menikah Ainun ikut dengan Habibie yang harus menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Jerman. Kehidupan awal di sana dilalui dengan perjuangan yang luar biasa. Setidaknya ia harus bersabar dengan pendapatan yang teramat kecil dari beasiswa Habibie. Namun dengan tekun dan sabar ia tetap menyertai Habibie. Bahkan untuk menghemat ia menjahit sendiri keperluan pakaian bayi yang dikandungnya. Dan disanalah ia mengandung dua putranya, melahirkan dan mebesarkannya.
Ainun adalah seorang ibu yang sangat bertanggung jawab dalam mebesarkan anak-anaknya. Sejak kecil ia membiasakan anak untuk mengembangkan kepribadian mereka sendiri. Ia membebaskan anak-anak untuk berani bertanya tentang hal yang tidak diketahuinya. Dan Ainun akan memberikan jawaban jika ia mampu atau ia akan meminta Habibie jika tidak mampu. Hal ini tentu saja karena ia sadar kalau anak-anak sejak kecil harus dibangun keingintahuan dan kreatifitasnya.

Selain itu Ainun juga membiasakan anaknya hidup sederhana. Uang jajan diberikan pas untuk satu minggu. Dengan demikian si anak memiliki kebebasan untuk memilih jajanan yang mereka sukai., dan mengelola uang mereka sendiri. Anak-anak Ainun tumbuh sebagai anak yang menghargai kesederhanaan itu. Pernah mereka harus bolak-balik dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan harga yang pas sebelum membeli suatu barang.
Hal yang juga tidak kalah penting dalam mendidik anak adalah membiasakan mereka mengemukakan pendapat dengan mengajak mereka berdiskusi di rumah. Menurut Ainun, jika anak-anak berani mengeluarkan pendapat, artinya mereka sedang belajar dalam hidupnya. Dan bagi orang tua, itulah saatnya melaksanakan kewajiban memberikan bekal bagi kehidupan mereka.
Dan benar saja, hasil didikan itu menjadikan kedua anak mereka tumbuh sebagai seorang yang luar biasa. Seperti kita tahu bahwa Ilham Habibie menyelesaikan pendidikan di Muenchen dalam ilmu aeronautika dan meraih gelar PdD dengan predikat summa cumlaude, lebih tinggi dari predikat ayahnya. Sementara Thareq Kemal menyelesaikan Diploma Inggeneur di Braunsweig, Jerman.

Mendampingi Suami
Dalam acara Penganugerahan gelar doktor honoris causa (Dr HC) dari UI, Habibie mengungkapkan sebuah kalimat yang menceriminkan bagaimana peran Ainun di belakang kesuksesannya. “”Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan, yaitu ibu dan istri,” Oleh sebab itu pula dalam sambutannya Habibie mempersembahkan gelar tersebut untuk istrinya. “Saya juga menerima penghargaan ini atas nama keluarga, anak-anak dan cucu-cucu saya, khususnya istri saya yang terus mendampingi saya dengan tulus dan ikhlas, sehingga saya menjadi hamba Allah seperti sekarang ini.”
Penghargaan yang begitu besar oleh Habibie kepada istrinya memang tidak berlebihan. Hal ini terlihat sejak awal kebersamaan mereka sewaktu di Jerman. Pada saat mula-mula hidup di Jerman mereka adalah keluarga kecil dengan penghasilan suami yang sangat kecil pula. Dalam kondisi inilah ia menjadi pendamping yang dapat diandalkan. Untuk menghemat pengeluaran, ia menjahit sendiri perlengkapan bayi mereka. Selain itu, Ainun juga kerap menjadi motivator bagi Habibie. Misalnya ia menyemangati Habibie saat Habibie hampir putus asa karena thesisnya diambil alih oleh pembimbing. Berkat dorongan dan semangat dari Ainun, Habibie malah mendapatkan ide yang jauh lebih baik dan sempurna.

Ainun memang mendampingi Habibie dalam segala hal. Saat mula-mula Habibie menjadi tekhnokrat, ia menjadi sosok yang mengatur Habibie di belakang layar. Misalnya, ia yang selalu mengingatkan Habibie dalam masalah waktu kerja. Ketika jam telah menunjukkan pukul 22.00, Ainun menelpon Habibie dan mengingatkannya agar menjaga kesehatan. Habibie terkadang meminta stafnya menjawab kalau ia sudah di lift hendak pulang. Padahal ia terus duduk di belakang meja kerjanya. Ainun juga menjadi pengingat waktu saat Habibie memberikan kuliah atau ceramah. Kita tahu kalau Habibie yang memberi kuliah ia sering lupa waktu. Memeng secara isi materi tidak ada masalah, sebab semua orang akan senang. Namun hal ini dapat mengganggu jadwal acara yang lain yang mengikutinya. Nah, Ainun dengan cara tertentu akan memberikan isyarat kalau habibie sudah harus berhenti. Setelaha melihat Isyarat Ainun, Habibie akan mengatakan: “Saya akhiri ceramah ini, saya sudah diperingatkan oleh Ainun.” Sungguh, sebuah penghargaan yang jujur dan menyentuh hati.

Wardiman Djojonegoro, mantan menteri pendidikan (1993-1998) pada era Soeharto mengatakan kalau Ainun juga sangat memperhatikan makanan untuk Habibie. Dilaah yang menetukan asupan gizi yang baik untuk sang suami. Sebagai Dokter hal ini memang mungkin dilakukannya. Sehingga kalau di depan Ainun, Habibie sangat taat dengan aturan makan yang diterapkan istrinya. Namun terkadang kalau Habibie makan berpisah dengan Ainun, ia sering lupa dengan aturan makan dari istrinya. Hal ini terjadi karena tidak ada orang yang tahu bagaimana makanan yang pas untuk Habibie keculai Ainun, istrinya.

Pada saat Habibie menjadi Wakil Presiden republik Indonesia, Ainun adalah seorang yang dengan tulus ikhlas membantu suaminya mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Dalam buku karangan Habibie “Detik-detik Yang Menentukan” tergambar dengan sangat baik bagaimana Ainun mendampingi Habibie dalam kondisi yang sangat gawat dan krusial. Habibie dalam sebuah cerita yang panjang memasukkan dengan gamblang apa saja yang dilakukan Ainun dalam mendampinginya. Dan Ainun pula yang menjadikan Habibie selalu tenang dan matang dalam mengambil sebuah keputusan.

Menjadi Ibu Negara
Pada 23 Mei 1998 Ainun menjadi menjadi Ibu Negara setelah B. J. Habibie dilantik sebagai presiden Negera Kesatuan Republik Indonesia yang ketiga menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri karena desakan masyarakat pada awal reformasi. Tidak lama memang, hanya setahun lebih sedikit, setelah Habibie tidak bersedia untuk mengikuti pemilihan kepemimpinan karena laporan pertanggungjawabannya ditolak oleh DPR/MPR yang saat itu diangap –mengutip Almarhum Gusdur- seperti anak TK. Meskipun secara konstitusi ia dibenarkan menjadi calon presiden, namun secara nurani dan moralitas Habibie merasa tidak nyaman. Selama itu pula Ainun menjadi seorang inspirator untuk sang presiden.

Selama menjadi Ibu negara Ainun menunjukkan dedikasi dan pengabdiannya pada suami dan pada negara sekaligus. Bayak orang yang merasa terkagum-kagum bahkan heran bagaimana Ainun dalam usinya yang tidak lagi muda memiliki energi dan stamina yang seolah tidak pernah habis dalam mengikuti ritme kerja Habibie. Kita tahu tahun 1999 saya menjadi presiden Indonesia dalam keadan kacau beliau. Namun di tengah gemuruh kekacauan ini Ainun mampu menempatkan diri sebagai Ibu Bangsa yang melayani dan mendukung suami seklaigus menjadi “Ibu” buat 200 juga rayat Indonesia.

Penghargaan dan Dedikasi
Ainun memiliki kepedulian yang besar dalam kegiatan sosial. Ia mendirikan dan terlibat dalam beberapa yayasan, seperti Bank Mata untuk penyantun mata tunanetra. Ia bahkan masih menjadi sebagai Ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) pada saat Habibie tidak lagi menajadi Pejabat. Dalam usaha memperkenalkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat Indoensia, Ainun pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pendiri Yayasan SDM Iptek, Selain itu ia mendirikan Yayasan Beasiswa Orbit (Yayasan amal abadi-orang tua bimbingan terpadu) dengan cabang di seluruh Indonesia. Ainun juga memprakarsai penerbitan majalah teknologi anak-anak Orbit. Khusus untuk Aceh, semasa Aceh dalam gejolak pada tahun 2000-an, Ainun mengadakan beasiswa ORBIT khusus untuk siswa Aceh.

Ia juga mencatat segudang prestasi besar selama hidupnya. Atas sumbangsihnya tersebut, Ainun mendapatkan beberapa penghargaan tertinggi bintang mahaputra. Penghargaan tersebut diberikan oleh pemerintah sebagai penghargaan kepada warga yang dianggap memiliki peran besar terhadap negara. Antara lain ia mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Adipurna, juga Mahaputera Utama pada 12 Agustus 1982 serta Bintang Mahaputra Adipradana pada 6 Agustus 1998. Untuk alasan ini pula Ainun Habibie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.
Sebuah dedikasi yang tidak kalah pentingnya dalam hubungannya dengan tunanetra adalah harapan Ainun agar pemerintah memberikan keleluasaan dan aturan yang menganjurkan untuk dilaksanakan donor mata. Menurut Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimmly Assidiqie, Bu Ainun mengharapkan adanya fatwa yang bukan hanya membolehkan donor mata tetapi menganjurkan dilakukannya donor mata. Karena menurut beliau ketentuan untuk donor mata di Indonesia penuh dengan syarat tertentu, beliau ingin donor mata bukan dibolehkan dengan syarat-syarat tetapi dianjurkan dengan prosedur tertentu. Ini jelas menunjukkan bagaimana ia berdedikasi pada persoalan yang dihadapi orang cacat dan berharap kita semua bisa membantunya.

Kehidupan religius
Habibie dan Ainun memang bukan ahli agama. Namun tidak ada yang menolak kalau dikatakan keluarga ini adalah keluarga yang religius. Perhatian pada agama dan religiusitas tersebut bukan hanya dalam ranah pribadi, namun juga dalam ranah sosial yang lebih besar dan luas. Habibie pada masa Soeharto berhasil membangun sebuah komunikasi diantara para sarcana muslim sehingga berkumpul dalam Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Salah satu produk besar ICMI adalah Bank Muamalat Indonesia, yang konon katanya salah satu diantara bank yang tidak bangkrut pada saat indonesia dilanda resesi. BMI pula yang menjadi inspirasi awal lahirnya bank syariah sebagai bagian dalam bank-bank konvensional yang ada di Indonesia saat ini.
Dalam tataran individu, keluarga Habibi menunjukkan religiusitasnya yang konsisten. Sampai saat ini keluarga Haibie adalah keluarga yang melakukan puasa senin kamis. Puasa sunat senin kamis adalah sebuah praktik religius yang tidak semua orang Islam mampu melakukannya. Hanya orang dengan ketaqwaan yang kuat dan rasa tawakkal yang tinggi saja yang mampu melakukannya. Menkumham, Patrialis Akbar mengatakan kalau ia pernah diceritakan oleh Habibie tentang kehidupan religius istrinya, Ainun Habibie. Ainun adalah orang yang melewatkan malam-malamnya dengan shalat tahajut dan mengaji al-Qur’an. Ia telah menamatkan al-Qur’an puluhan kali. Bahkan dari satu sumber dikatakan Ainun menamatkan al-Qur’an dua kali dalam satu bulan. Sebuah prestasi keagmaan yang tidak semua orang Islam dapat melakukannya. Apalagi ditengah kesibukan dan kepadatan jadwal kegiannya sebagai istri petinggi negara.
Kehidupan religius Ainun jelas tergambar dalam Detik-detik yang menentukan, karya Habibie. Beberapa kali Habibie menulis mengenai istrinya, saat Ainun sedang di atas sajadah. “Ainun yang sedang membaca al-Qur’an” atau “Ainun yag baru saja selesai melaksanakan shalat malam” dan lain sebagainya. Di rumah mereka di Jakarta pada saat Habibie masih menjadi menristek, lalu wakil presiden, sampai menjadi presiden, dilaksanakan pengajian rutin yang diikuti warga sekitar dan istri-istri pejabat negara.

Keluarga Besar Habibie
Kisah-Kisah Unik
Ada beberapa pengalaman dari orang dekat Ibu Ainun yang tersiar di internet. Salah satunya adalah pengalaman yang dirasakan oleh Adrie Soebono, kemenakannya yang saat ini menjadi promotor musik ternama di Indonesia. Katanya, sampai saat terakhir berjumpa, yakni dua bulan sebelum beliau meninggal dunia, ia masih dianggap sebagai anak-anak oleh Ibu Ainun. Ia dinasehati layaknya seorang anak kecil yang bandel. Memang, Adrie Soebono pernah tinggal bersama keluarga Habibie di Jerman selama delapan tahun. Dan selama itu pula ia mengatahui dengan persis bagaimana keluarga tersebut.
Ibu Ainun juga paling hobi jogging. Hampir setiap hari di Jerman ia melakukan Jogging. Bahkan terkadang tidak peduli panas dingin. Namun hobi Jogging tersebut hanya dilakukan Ainun saat berada di Jerman. Jika di Indonesia Ainun hanya fitnes atau lari di atas treadmill. Hal ini disebabkan Ainun sensitif dengan debu, mungkin kena sinus. Udara di Jakarta dan kota lain di Indoensia banyak debu, jadi Ainun tidak pernah jogging. Kondisi kesehatan ini juga menjadi salah satu alasan Habibie untuk menetap di Jerman setelah ia tidak lagi menjadi pejabat negara. Dalam cara seminar atau ceramah yang Habibie menjadi penceramahnya, Ainun menjadi “tukang tekan bel,” memperingatkan Habibie mengenai waktu. Pernah Habibie diberikan kesempatan untuk menjadi penceramah dalam bulan Ramadhan. Ceramah diberikan setelah shalat isya sebelum tarawih. Biasanya ceramah ini hanya berlangsung selama sepuluh atau lima belas menit. Namun Habibie melakukannya lebih lama, sehingga membuat para jamaah gelisah. Sebab ada agenda lain yang harus dilaksanakan yaitu shalat tarawih. Ainun tahu kondisi ini. Ia meminta seorang cucunya untuk memberikan isyarat pada Habibie karena ia duduk agak jauh. Cucunya datang ke tempat yang terlihat oleh Habibie dan membuat sebuah gerakan layaknya orang Shalat. Habibie-pun paham. Sebelum mengkhiri ceramahnya, Habibie mengatakan: “Ini pasti Ainun yang suruh.”
Ada pengalaman unik dari Ibu Linda, mantan wartawan Majalah Tempo saat bertugas di istana pada masa Soeharto. Ia sering menjumpai Habibie dengan pipi yang ada bekas lipstiknya sebelum masuk kantor. Saat ditegur, Habibie dengan santai mengatakan kalau istrinya sering mencium sebelum ia berangkat, bahkan ketiak sudah digarasi mobil. Dan itu terjadi berkali-kali. Saat diberitahu ia Habibie menjawab dengan bangga: “‘Ya begini nih istri Oom….. seperti nggak mau pisah dan ditinggal ke kantor lama-lama. Senang ya punya pasangan seperti begini?”. Ibu Linda yang kebetulan berjumpa dengan Ibu Ainun, Istri Habibie “melaporkan” kejadian itu pada Ainun. Ainun menjawab: “Aduuuh, bikin malu ya? Artinya suami saya nggak hapus lagi dong kalau memang masih ada bekas lipstik?, Awas saja nanti sampai di rumah mau saya tanya ah …hahahaaa… !”.

Cerita unik lain adalah Ainun memempengaruhi Habibie utuk mengikuti sinetron Cinta Fitri yang tayangkan oleh sebuah TV Swasta di tanah air. Semula Habibie tidak tahu mengenai sinetron ini, namun setelah diceritakan sedikit latar belakangnya oleh Ainun, Habibie menjadi tertarik dan mengikutinya dengan rutin. Bahkan karena begitu kagum dengan kisah cinta dalam sinetron tersebut Habibie pernah mengundang para pemain sinetron untuk makan malam di kediamannya di Jakarta. Apa yang Ainun dan Habibie tertarik? Menurut pengakuan mereka, kisah cinta dalam sinetron tersebut hampir sama dengan kisah cinta mereka sendiri, karena itu mereka seakan kembali ke masa silam dan menikmatinya.

Cinta Sang Suami
“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya”
(B.J. Habibie)

Berbagai kiprah selama hidup bersama Habibie, membuat Habibie menempatkan Ainun sebagai orang yang sangat dekat di hatinya. Yusran Darmawan pernah melihat sendiri bagaimana wujud perhatian mantan presiden ini pada Istrinya. Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di kantor BPPT Jakarta, Habibie menjadi keynote speaker. Saat datang Habibie ditemani oleh istrinya, Ainun. Setelah selesai memberikan kuliahnya, semua wartawan datang mengerubunginya untuk wawancara. Pada saat itu pula Habibie tidak peduli dan ia nampak mencari-cari di mana Ainun. Ketika seorang wartawan bertanya tentang pendapatnya atas situasi di Timor Leste, Habibie hanya menjawab singkat. “Maafkan, saya sedang mencari di mana mantan pacar saya. Mana Ainun? Saya belum pernah pisah dengan Ainun. Mana Ainun?”

Wujud cinta ini juga terlihat saat Ainun sudah terbaring di rumah sakit. Selama hampir tiga bulan ini Habibie dikabarkan tidak beranjak dari sisi istrinya. Sejak masuk rumah sakit pada tanggal 24 Maret 2010 silam Habibie memberikan perhatian dan menunjukkan cinta kepada ibu dari anak-anaknya itu. Tentu saja ini terjadi karena Habibie dan Ainun telah banyak melewati berbagai perjuangan dalam menempuh hidup ini. Perjuangan tersebut telah memupuk cinta mereka begitu kuat dan terasa takkan terpisahkan. Selama di rumah sakit juga Habibie menuntun istrinya untuk shalat. Dari sebuah sumber saya dapatkan, pada hari sebelum meninggal dunia, Habibie sempat membimbing istrinya shalat subuh, zuhur dan ashar di rumah sakit tersebut.
Hanya sampai di rumah sakit? Ternyata tidak.!Dalam proses penantian pengurusan administrasi sebelum jenazah diterbangkan ke tanah airpun Habibie masih mendampingi istrinya. Dalam pesawat beliau masih dekat dengan jenazah almarhumah. Saat tiba di tanah air jenazah diturunkan dari pesawat, beliau masih mendampingi peti jenazah tersebut. Dalam beberapa foto yang diabadikan wartawan jelas nampak Habibie dengan peci hitam berjalan dengan memegang peti jenazah istrinya. Bahkan saat jenazah dibawa ke pemakaman dari rumah duka, Habibie tidak mau naik ke mobil yang telah disediakan untuknya. Ia malah memilih masuk ke dalam ambulan dan duduk di sisi peti jenazah istrinya. Mungkin tidak semua masyarakat yang menyaksikan iring-iringan mobil itu tahu kalau mantan menteri, manatan presiden, orang besar yang dikenal tidak hanya di Indonesia itu berada berdua dengan sang istri dalam ambulan menuju pemakaman.

Dalam sebuah sambutan yang diberikan Habibie setelah upacara pemakaman istrinya ia mengungkapkan rasa cinta itu dengan sebuah kalimat puitis nan indah: “12 Mei 1962 kami dinikahkan. Bibit cinta abadi dititipkan di hati kamu dan hati saya, pemiliknya Allah. Cinta yang abadi dan sempurna. Kamu dan saya, sepanjang masa. Nikmatnya dipatri dalam segala-galanya, satu batin dan perasaanya.” Ungkapan ini bukan hanya pemanis bibir. Habibie telah menunjukkan dalam laku dan perbuatannya. Ia mencurahkan seluruh cinta dan hatinya pada sang istri, Ainun Haibie, sampai ia menutup mata.

Selamat Jalan Ibu
Seperti telah diberikatakan oleh banyak media, pada 24 Maret 2010, Hasri Ainun Habibie masuk ke rumah sakit Ludwig-Maximilians-Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen, Jerman. Ainun berada di bawah pengawasan direktur Rumah Sakit Prof Dr Gerhard Steinbeck, yang juga spesialis penyakit jantung. Ia telah menjalani sembilan kali operasi dan empat kali dari sembilan operasi tersebut merupakan operasi utama. Sisanya merupakan operasi eksplorasi. Pukul 17.05 waktu Jerman, hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010, Nyonya Ainun wafat dalam usia 72 tahun, setelah 45 tahun hidup bersama Habibie. Sebelum wafat, Nyonya Ainun sempat beberapa kali mengalami kritis. Namun jiwanya tidak terselamatkan lagi. Semua orang berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Selamat jalan ibu, kebaikan dan dedikasimu menjadi pelajaran sangat berharga bagi kami.

Sumber Rujukan
1. The True Life of Habibie
2. Beberapa tulisan di
3. Kuntum Cinta Habibie Untuk Ainun
4. Beberapa laporan dari Metro TV dan TV One
5. Beberapa tulisan dalam LKBN Antara
6. RIP Asri Ainun Habibie
7.Mengenang Ibu Ainun Habibie
8. Dan lainnya hasil browsing di Internet, seperti kompas.com, inilah.com, dan lain-lain
9. Beberapa tulisan kompasianer: Djamaluddin, Nila,

Sumber foto: Satu Dua Tiga Empat Lima Enam Tujuh Delapan Sembilan
Seperti saya tulis di bagian judul, tulisan ini belum selesai sepenuhnya. Beberapa bagian akan saya masukkan kembali belakangan. Informasi dan masukan dari teman-teman kompasianers akan sangat mebantu saya dalam menjadikan tulisan ini lebih baik.


==di copas dari http://indonesiancommunity.multiply.com/journal/item/4038==