Showing posts with label ilmuwanmuslim. Show all posts
Showing posts with label ilmuwanmuslim. Show all posts

Thursday, 23 December 2010

PII Award, Habibie, dan Balada tukang foto


Yang namanya rezeki memang datangnya gak disangka-sangka... seperti kemarin misalnya. Alhamdulillah.. setelah makin ngefans dengan baca bukunya beliau, akhirnya berkesempatan tuk mendengarkan kuliah dari BJ Habibie secara langsung.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Award 2010. Awalnya gak pede tuk ikutan ke acara itu, maklum saya kan bukan siapa-siapa, bukan nominator, undangan, ataupun engineer keren. tapi setelah tau bahwa Keynote speaker-nya Pak Habibie, jadi mupeng banget ikutan acara itu. Semoga bisa dengerin inspirasi-nya pak Habibie secara langsung *full of hope*.
kemudian, Leader saya (Pak Ratno) masuk ke ruangan, "Lia, ikutan acara PII yuk."
Hah, kebetulan banget! tapi kemudian... "wah seru banget pak, ada pak Habibie juga ya... pasti keren :D tapi saya gak enak, kan bukan undangan.." kata saya terus terang.
"yah gak apa2, ikutan aja ya. Datengnya bareng saya, nanti sekalian pegang kamera saya buat foto-foto."
Waaah.. tawaran yang menarik! Leader saya merupakan nominator dari bidang "Adhicipta Rekayasa", jadi beliau dapet undangan khusus. Meski belum tau siapa para pemenangnya, kok rasanya Beliau bakalan menang ya... amiin. Akhirnya Saya ikutan juga ke acara itu bersama winda dan our Leader, juga mba nun (meski akhirnya mba nun balik lagi karena ada rapat).

Tiba di Lantai 3 gedung ini, ternyata udah banyak wartawan (maklum yang dateng selain Pak Habibie, ada para pejabat dan menteri-menteri) dan tamu-tamu undangan. hihi... merasa salah kostum aja, soalnya dress code nya batik. tapi gak papa lah, yang penting rapih dan sopan *menenangkan diri sendiri*. Setelah masuk, biasa, saya and winda nyobain foto2 pake kameranya Pak Ratno, untuk mengatur settingan kameranya supaya dapet gambar yang bagus. Setiap yang menang selalu kami foto, hingga muncul tanda merah di kamera.... *LOW battery* "hah, kok lowbat gini... gawat kita kan belum foto Pak Ratno!!" saya dan winda terkejut. waduh gimana nih...

Dan benar saja perkiraan kami, Leader kami menang kategori "Adhicipta Rekayasa" individu (Emas), dengan Nanoskop buatannya. Bravo, Pak! selanjutnya adalah harapan agar kameranya berfungsi dengan baik dan bisa memoto our Leader saat menerima penghargaan...
Meski hasil fotonya gak begitu baik, akhirnya kami bisa memoto Pak Ratno, meski cuma 2 kali jepretan, setelah itu kamera off gak bisa hidup lagih..!! Dudul banget sih, nyesel jg tadi udah foto2 gak jelas gitu. Pas giliran diperluin, kameranya jadi mati deh. Padahal belum sempet moto Pak Habibie juga, hiks....

Jadi teringat sama rekan kerja satu unit. Bu Eniya Dewi (Penerima Habibie award termuda 2010), pada malam penghargaan beliau malah menyewa khusus tukang foto (Mas Ivan, rekan kerja kami yang bisa fotografi) tuk mendokumentasikan penghargaan tersebut. Maklumlah, momen-momen kayak gini emang perlu didokumentasi. Karena langka banget! Denger cerita Mas Ivan, gimana dia sampai adu pendapat sama paspampres saat itu. Maklum Habibie award 2010 dihadiri para pejabat, ilmuan terkemuka, beberapa menteri, mantan presiden, sampai wakil presiden (mewakilkan Pesiden), jadi penjagaannya ketat, dan gak bebas tuk foto-foto.

Saat ingin maju memoto Bu Dewi, dan beberapa momen, paspampres melarang Mas Ivan. Merasa bertanggung jawab atas tugas yang diberikan Bu Dewi, Mas ivan bilang gini ke paspampres, "Saya disini dibayar Bu Dewi, yang menang Habibie award, tuk moto2 beliau. Jadi saya harus mendapatkan foto-foto yang bagus dan memuaskan beliau. Emang situ mau nanggung kalo hasil foto-fotonya jelek?? saya juga punya ID card nih! saya orang BPPT, bukan wartawan." akhirnya paspampres mengizinkan ka ivan tuk melenggang sebebasnya, mengambil dokumentasi yang ditugaskan Bu Dewi.

Dengan matinya pocket kamera itu, akhirnya saya dan winda pake kamera hp kami tuk moto-moto dan berfoto dengan our Leader, yah menggunakan yang bisa digunakan... untungnya ada fotografer panitia yang berbaik hati yang mau jadi juru foto kami dengan kamera DSLR nya, dan akan mengirimkan by email. Lain kali kalau dapet award kayaknya mending nyewa khusus fotografer buat mendokumentasikan award tersebut deh... kayak bu Dewi itu.. biar lebih memuaskan :D

Mengenai acara ini, tema PII award 2010 adalah Membangun kembali kemampuan engineering nasional. tujuannya adalah pertama, untuk memberikan penghargaan terhadap putra-putri bangsa Indonesia yang memiliki reputasi dan berprestasi menonjol dalam bidang engineering, teknologi dan lingkungan, baik terhadap institusi (korporasi) maupun individu. Kedua, melalui peningkatan program PII Award 2010 diharapkan PII bisa dikenal oleh masyarakat luas serta diakui eksistensinya. Pemenang award, sebagai dinominasikan oleh PII dalam ajang “ASEAN Engineering Award”.

Perkembangan teknologi di Indonesia perlu dipacu dengan mengandalkan sinergi dari segenap potensi bangsa, ilmuwan, insinyur, teknolog serta tenaga ahli dari berbagai bidang dan masyarakat. Sinergi ini penting bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai keterbatasan sebagai upaya mengejar kemajuan dunia. Untuk membangkitkan semangat penemuan dan inovasi teknologi serta semangat konsistensi pengabdian, maka perlu adanya penghargaan bagi para insinyur-insinyur Indonesia yang berprestasi.

Penghargaan PII Award 2010 ini terdiri dari :
a. LIFE TIME ACHIEVMENT AWARD
b. Engineering Award
    ADHIDARMA PROFESI AWARD
    ADHIKARA REKAYASA AWARD – PERUSAHAAN
    ADHIKARA REKAYASA AWARD – INDIVIDUAL
    ADHICIPTA REKAYASA AWARD – PERUSAHAAN
    ADHICIPTA REKAYASA AWARD – INDIVIDUAL
c. Sustainable Engineering Award
    SUSTAINABLE ENGINEERING AWARD – PERUSAHAAN
    SUSTAINABLE ENGINEERING AWARD – INDIVIDUAL
d. Corporate Technology Achievement Award
    CORPORATE TECH ACHIEVEMENT AWARD

BJ Habibie datang sekitar pukul 15.30, didampingi oleh putera pertamanya yang juga anggota PII, Ketua umum Presidium ICMI 2010; Ilham Akbar Habibie. Ini adalah pertama kali saya melihat pak Habibie secara langsung setelah kematian Istri tercintanya, yang biasanya mendampingi beliau pada acara-acara seperti ini; (alm) Hasri Ainun Besari. Meski *saya rasa* tampangnya masih menyiratkan kesedihan, tapi Pak Habibie tetap semangat memberi kuliah dan motivasi kepada kami. Pandangannya sangat visioner.

BJ Habibie mengatakan, hampir semua pusat perbelanjaan di Indonesia dipenuhi barang-barang luar negeri. Hal itu berarti rakyat Indonesia harus membayar ongkos pekerja luar negeri untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari”,katanya. Tersisihnya produk dalam negeri menciptakan defisit jam kerja antara pekerja di Tanah Air dan di luar negeri. Ironisnya, kondisi itu terjadi saat banyak masyarakat Indonesia mengeluhkan kecilnya lapangan kerja dan naiknya pengangguran.

”Membeli produk buatan dalam negeri itu sama dengan mengamankan lapangan kerja serta menjamin pemerataan dan kesejahteraan bangsa,” ujarnya.

Defisit jam kerja itu dapat diatasi dengan meningkatkan daya saing industri manufaktur melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan teknologi. Langkah ini membutuhkan perencanaan jangka panjang yang konsisten serta produk hukum yang melindungi industri dan mengamankan pasar dalam negeri. ”Ini bukan proteksionisme, tetapi untuk menciptakan lapangan kerja. Negara-negara lain juga melakukannya,” tuturnya.

BJ Habibie menyarankan agar Persatuan Insinyur Indonesia dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan nasional, merancang UU yang berkaitan dengan jam kerja dan lapangan kerja. BJ Habibie menghimbau agar menggalakkan kerjasama dengan Pemerintan Daerah dan Pusat serta melanjutkan Pola Industri Strategis, salah satunya adalah yaitu tadi, engamankan pasar dalam negeri agar industri manufaktur dapat menyerap banyak tenaga kerja. Oleh karena itu, perlunya suatu rancangan produk hukum yang dapat mengamankan pasar dalam negeri dan meningkatkan daya saing pelaku industri lokal. Selanjutnya ia juga mengatakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan teknologi harus ditingkatkan untuk mendukung pengembangan industri manufaktur dalam jangka panjang.

*File presentasinya bisa di download pada lampiran di halaman ini*

Ya, banyak sekali yang disampaikan Pak Habibie, bahkan beberapa memang seperti yang beliau tuliskan dalam bukunya "Habibie&Ainun". Keren dan sangat menginsipirasi. Sampai salah satu perekayasa berkata begini, "sudah lama saya tidak mendengarkan ceramah beliau, rindu dengan semangatnya, dengan pandangannya... memang kita butuh orang yang bisa mengorganisir orang-orang pandai di Indonesia." saya dan winda menggangguk setuju...

Kita memang butuh orang-orang seperti beliau yang berpandangan jauh ke depan, yang tulus mengabdikan segenap kemampuan dan yang dia miliki untuk membangun negeri... Semoga Allah memberkahi Pak Habibie dan keluarga...

Jayalah insinyur Indonesia!!

        

Wednesday, 22 December 2010

Habibie & Ainun

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Bacharuddin Jusuf Habibie
Buku ini merupakan terapi untuk mengobati kerinduan pak Habibie kepada almarhumah Hj. Hasri ainun habibie binti R. Mohamad besari, yang telah berada dalam kehidupannya selama 48 tahun 10 hari. Selain itu, beliau berusaha untuk memenuhi anjuran tim dokter dari Hamburg, Munchen, dan Indonesia agar beliau terhindar dari gangguan psikosomatik, sebuah gejala penyakit yang sangat erat hubungannya antara factor fisik, psikologis, dan social. ..
BJ. Habibie berharap semog tulisan ini bisa member hikmah baginya pribadi, semoga pula apa yang tertulis di buku ini bisa memenuhi harapan public yang mendorong beliau mengungkapkannya, “Sejumlah fakta sejarah dalam buku ini, memang seharusnya bukan milik saya pribadi, bukan milik Ainun, tetapi menjadi milik public, milik bangsa ini untuk dicatat dalam sejarah.”

Mengingat alur buku ini yang ditulis layaknya novel, maka akan lebih nikmat jika anda membeli buku ini dan membacanya sendiri. Semua keuntungan dari penjualan buku ini akan disumbangkan ke yayasan Pak Habibie dan Ibu Ainun (almh). Saya hanya akan mengulas beberapa poin yang saya anggap menarik.

Sekilas beberapa pekerjaan engineering di Jerman

Bekerja di Perusahaan Talbot: Tender gerbong ruang luas untuk mengangkut muatan ringan seperti produk komponen elektronik. Volumina dari suatu gerbong dibatasi oleh panjang gerbong yang ditentukan oleh stabilitas dan tikungan rel X potongan terowongan KA. Karena muatannya ringan, gerbong yang direkayasa cukup dengan memanfaatkan 2 sumbu roda. Berarti ruang antara 2 sumbu roda gerbong dapat dimanfaatkan, dengan memperhatikan tekanan horizontal sebesar 200 Ton yang disalurkan melalui seluruh badan gerbong, membutuhkan perhitungan dan rekayasa sendiri.

Bekerja di Institut konstruksi ringan, Aachen; Belajar konstruksi kapal selam. Ternyata semuanya berbentuk silinder dangan penguat yang berbentuk silinder pula. Berbeda dengan balon udara yang dapat pecah jika tekanan balon ditingkatkan karena tegangan kulit balon naik pula, maka pada kapal selam peningkatan tekanan air di luar kapal selam akan berakibat runtuhnya/ koleps-nya kapal selam. Karena tekanan dari luar silinder, mengakibatkan tegangan pada kulit silinder menjadi dua kali lebih tinggi dibandingkan tekanan pada bola, maka rekayasa ruang kapal selam dengan memanfaatkan beberapa bola yang saling berhubungan dan berbentuk “ulat bulu”, dalam bahasa Jerman BJ. Habibie member nama “kugel-raupe”, dapat menyelam dua kali lebih dalam dibandingkan kapal selam konvensional yang berbentuk silinder.

Penemuan metode Thermoelastisitas untuk menghitung tegangan akibat pemanasan kinetic yang dapat memperhatikan semua kendala pangkal, batas garis depan, ujung dan batas garis belakang sayap dan sirip dengan memperhatikan kekakuan yang tidak homogen. Hasil perhitungan dengan metode yang sudah ada, ternyata hasilnya sama jika memanfaatkan metode ini dan menghiraukan kendala pangkal atau ujung sayap dan sirip.
Perusahaan Hamburger Flugzeugbau: metode perhitungan kecepatan suatu retkan berjalar pada bahan yang elastoplastik, dan masih banyak lagi.

Penolakan tawaran demi kepentinga bangsa
1. tawaran menjadi guru besar atau professor di institute konstruksi ringan (Rheinisch westfahlische technische hochschule).
2. tawaran bergabung di perusahaan amerika Boeing dalam pembuatan supersonic transporter yang lebih unggul dari pesawat concord.
3. tawaran menjadi warga Negara Jerman, karena nilai moral dan etik tidak dapat menerima tawaran tersebut, sehingga sebagai jalan tengah BJ Habibie dan Ainun Habibie diberi izin tinggal dan bekerja seumur hidup di Republik Federal Jerman.
4. dan masih banyak lagi.

"Saya selalu menganggap keberadaan saya di rantau sebagai masa transisi untuk mencari pengalaman. Pengalaman ini akan saya perlukan kelak untuk dapat membantu bangsa saya dalam perjuangan yang sedang mereka laksanakan. Kapan saya pulang, hanya ditentukan oleh keadaan dan kesempatan yang diberikan."

Prinsip Ainun
1. Istri yang tidak mengikuti suami akan ketinggalan.
2. falsafah hidup mengutamakan anak dan keluarga daripada mencari kepuasan professional dan penghasilan tinggi.
“buat apa uang tambahan dan kepuasan bathin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan professional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memilih hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu”

Langkah BJ Habibie dalam membangun teknologi Indonesia:
1. mengembangkan prasarana IPTEK --> membangun puspiptek serpong dengan lahan seluas 4 juta meter persegi milik BATAN, mempersiapkan berdirinya BPPT ebagai mitra Bappenas.
2. menyiapkan kader-kader teknologi yang memungkinkan Indonesia merekayasa dan membuat pesawat terbang baik militer maupun sipil --> beasiswa ke luar negeri, pemagangan di perusahan Jerman tempatnya bekerja.
3. bekerja sama dengan mitra luar negeri yang berpengalaman.

Terkait dengan BPPT, tempat saya bekerja sekarang, saya ingin mengulas sedikit tentang pendiriannya. Ini berawal dari Rencana dan pelaksanaan pembangunan nasional, Indonesia banyak sekali memanfaatkan jasa dari konsultan nasional maupun konsultan mancanegara. Masalahnya selain biayanya tinggi, mereka tidak dapat dituntut jika ada kesalahan pada pelaksanaannya. Jika proyek yang mereka sarankan berjalan dengan baik, maka konsultan tersebut yang mendapat kreditibilitasnya. Untuk menghadapi masalah tersebut, tanggapan BJ Habibie; “ kita sudah memiliki badan perencanaan pembangunan nasional atau bappenas yang terus berkembang dan berfungsi dengan baik. Pelaksanaan rencana pembangunan tersebut diserahkan kepada Departemen atau lembaga bersangkutan yang sebelumnya telah mengusulkan proyek mereka. Di bappenas proyek-proyek tersebut dicek dan dikaji prioritas dan kelayakannya, berdasarkan criteria yang ditentukan. Jika bappenas menilaiproyek tersebut kelayakannya secara makro, maka untuk menekan resiko sekecil mungkin dengan biaya serendah mungkin, sehingga proyek dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal dan berkualitas setinggi mungkin, maka departemen yang bersangkutan memanfaatkan konsultan untuk melaksanakan penilaian secara mikro. Penilaian mikro tidak dapat dipisahkan dari penilaian kelayakan teknologi. Oleh karena itu harus dikembangkan “mitra” bappenas yang memiliki fasilitas dan kemampuan untuk menilai semua program dan rencana pembangunan dari sudut kelayakan mikro atau kelayakan teknologi. Mitra bappenas ini dapat diberi nama badan pengkajian dan penerapan teknologi (BPPT). Namun demikian kita akan memanfaatkan konsultan, tetapi minimal.
Cikal bakal BPPT dan IPTN berasal dari divisi advanced technology dan teknologi penerbangan Pertamina (ATTP), divisi itu kemudian berubah menjadi divisi advanced technology pertamina (ATP).

“Semoga Allah SWT sepanjang masa dimanapun kami berada selalu melindungi, memberkahi, dan mendampingi Ainun dan Saya.” (Doa yang tiap saat selalu dipanjatkan Pak Habibie dan Bu Ainun).

Kegiatan Bu Ainun dalam mendampingi Pak Habibie
1. Tiap hari selasa minggu pertama dan kedua tiap bulan dilaksanakan ceramah mengenai ajaran agama Islam dan Al-Quran di kediaman beliau di Jalan Patra Kuningan XIII No. 1-3.
2. Mendirikan Perkumpulan penyantun mata tunanetra Indonesia (PPMTI) untuk membantu menanggulangi kebutaan yang tidak hanya diakibatkan dari kornea namun juga dari katarak dan glaucoma.
“dipandang dari sudut biaya atau produktivitas, penyakit mata atau buta akan meningkatkan biaya dan menurunkan produktivitas, karena orang buta sangat bergantung dar orang lain sehingga membutuhkan biaya tambahan yang berdampak menurunkan produktivitas. Kalau orang mati, prestasinya akan hilang tanpa meningkatkan biaya.”
3. Pimpinan Dharma Wanita BPPT, Ristek, IPTN, Pindad, PAL…
4. Ketua Balai Bina Kertaharja, lembaga masyarakat yang bergerak dalam bidang social bersama Departemen transmigrasi mendidik tuna karya dan tuna wisma
5. Pendiri Yayasan amal abadi beasiswa ORBIT.
6. dll.
NB. Kalo kegiatan Pak Habibie mah gak usah dicantumin, yang pasti banyak bangeeet. Kayaknya Pak Habibie orang tersibuk di Indonesia pada masa itu deh ;)

Bukan materi atau uang yang harus dikejar, namun kesempatan bekerja bagi semua yang haru diciptakan --> yang harus dikejar adalah penguasaan IPTEK, produktivitas, daya saing, dan akhirnya adalah jam kerja.
Memang uang penting, tapi tidak selalu menentukan. Yang menentukan adalah daya saing.

Jam Kerja

Yang diperhatikan bukan hanya “neraca perdagangan” dan “neraca pembayaran” namun juga “neraca jam kerja”. Khususnya dalam proses globalisasi, “neraca jam kerja” ini harus dapat perhatian khusus.
Untuk memperbaiki “neraca jam kerja”, perencanaan jangka panjang yang konsisten dan berkesinambungan harus diamankan. Tidak mungkin penyelesaiannya dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat.
Kebijakan peningkatan kualitas dan daya saing SDM, harus senantiasa mengandalkan pada kualitas iptek dan imtak yang seimbang. Berarti proses pendidikan dan pembudayaan terus ditingkatkan.

Bagi-bagi tugas:
Ainun --> tugas berkaitan dengan proses pembudayaan dan kesejahteraan SDM.
Habibie --> tugas pada pengembangan dan penerapan teknologi untuk proses nilai tambah.
*sumpah, KEREN BANGET ya ETOS KERJAnya Pak Habibie, kayak orang etos kerjanya orang Jepang*

Karya dirgantara bangsa Indonesia
1. CN-235 “tetuko”: Pengembangan dan produksi bersama perusahaan spanyol (1986).
2. N-250 “gatotkoco”: pesawat canggih pengembangan dan produksi mandiri. Terbang perdana 10 Agustus 1995 --> saking kerennya, pemerintah RI menobatkannya sebagai hari kebangkitan teknologi nasional. artikel terkait: http://adiewicaksono.wordpress.com/2009/03/22/n-250-dimana-dirimu-kini/
3. N-2130 yang rencananya akan terbang perdana 2002, namun saya belum tau kepastiannya. Sampai saat ini saya sangat berharap agar pesawat ini jadi diproduksi dan dikembangkan oleh putra bangsa ini…

Tanggapan BJ Habibie ketika diminta tuk jadi wapres RI: "Tempat saya adalah di science, titik! Saya mengatakan ini dengan tulus dan ini juga sama dengan yang saya yakini dengan Ainun. Namun saya menyadari juga sebagai warga negara yang baik, bahwa jika rakyat Indonesia menghendaki seseorang menjadi pemimpinnya, dan orang itu mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa cinta kepada rakyatnya, apa mungkin manusia tersebut bisa mengatakan “tidak”? jika orang yang dipilih itu mengatakan “tidak”, itu arogan namanya…"

Kontribusi untuk Indonesia setelah tidak lagi menjadi pejabat --> bersama Ainun, Ilham, dan Thareq mendirikan "The Habibie center"
“Kita harus tetap mendorong proses demokratisasi, dalam posisi apapun kita nanti!”
Semboyan The Habibie Center: Democratization must go on

The Habibie center --> lembaga non-profit dan non-politik, yang berkhidmat dalam mendorong dan –bersama kekuatan bangsa lain-- “mengawal” proses demokratisasi bangsa.
Pertimbangan: basis suatu negara untuk dapat langgeng adalah negara tersebut harus demokratis. Karena demokrasi dan HAM itulah yang menjaga harkat dan martabat manusia dalam negara tersebut.

---for lovely wife---

Manunggal….

Jika sampai waktunya
Tugas kami di alam dunia dan di alam baru selesai
Tempatkanlah kami manunggal di sisi-Mu
Karena cinta murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi
Dalam “raga” yang abadi, dibangun Ainun manunggal denga Saya sesuai kehendak-Mu di alam baru sepanjang masa
Jiwa, roh, bathin, “raga”, dan nurani kami abadi sampai akhirat

Friday, 17 December 2010

Habibie-Ainun & Hutang Review!!


waaw... gak kerasa udah mau akhir weekend ini. Itu berarti tinggal dikit waktu tuk nyelesain baca buku yang ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie. Dan saya harus segera buat review nya.

Buku ini menarik banget! awalnya saya berfikir, ow... pasti buku tentang percintaan yang penuh dengan puisi2 romantis yang ditulis dengan bercucuran air mata.. *engga tau kenapa males aja baca buku romantic rhapsody model2 gituh...* tapi perkiraan saya ternyata salah besar!! buku itu adalah buku perjalanan hidup Pak Habibie sebagai seorang engineer dan putra bangsa berbakti yang tentunya penuh dengan cinta

Suatu sore, "ibuku" Bu Had menawarkan sebuah buku,
"Li, suka baca kan? saya punya buku baru nih. Dijamin masih fresh karena hari ini baru diluncurkan.." katanya sambil menawarkan sebuah buku dengan tulisan Habibie&Ainun. Saya mengambilnya dan melihat-lihat isinya... Waw, ada tangdatangan Pak Habibie!
"saya dapet langsung dari Pak Habibie"
wah senangnya
Keluarga Bu Had emang deket dengan keluarga Pak Habibie. Bahkan saat keponakannya menikah, Pak Habibie yang jadi saksinya.

Yup dan sampai sekarang buku ini masih ada ditangan saya, masih belum selesai membacanya. Meski Pak Habibie menulisnya dengan berlinangan air mata, buku ini bukan buku yang mellow. Kalo baca buku ini, jadi ngerasa bahwa Pak Habibie tuh bukan hanya sebagai Pangeran Engineer tapi juga Pangeran Cinta

Buku ini menceritakan mulai dari awal Pak Habibie bertemu dengan Bu Ainun, kehidupan Pak habibie semasa menempuh riset S3 di Jerman dengan rekayasa konstruksi ringannya, keterlibatannya dalam pengembangan teknologi di Jerman mulai dari Kereta Api, Kapal selam, hingga Pesawat Terbang. Juga tentang kehidupannya bersama ibu Hasri Ainun Besari (almh) beserta dua putra tercinta; Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie yang penuh semangat, cinta, dan nilai-nilai religius meski berada di negeri yang mayoritas non-islam. Hingga akhirnya Presiden (saat itu) Soeharto memanggil beliau tuk berkarya membangun teknologi Indonesia.

Yup, itu adalah tujuan Pak Habibie dan Bu Ainun tuk membangun teknologi bangsa ini... meski banyak tawaran menggiurkan, seperti tawaran tuk bekerja di perusahan konstruksi pesawat terbang paling maju di Jerman dengan posisi yang menggiurkan, dll. Bahkan Pemerintah Jerman telah memberikan status sebagai warga negara kehormatan Jerman kepada Pak Habibie dan Bu Ainun atas prestasi-prestasinya...
Buku ini juga banyak menceritakan awal berdirinya lembaga-lembaga penyokong teknologi seperti kawasan PUSPIPTEK serpong, BPPT yang awalnya adalah divisi adavance technologi-nya PERTAMINA, IPTN, PT. PAL, PT. INKA, PT. PINDAD... dst

Dibuku ini juga kita bisa melihat cara berfikirnya seorang Hasri Ainun Habibie yang menjadi seorang Istri Shalihah plus wanita yang berjiwa sosial tinggi... Falsafah hidupnya yang lebih mengutamakan keluarga, pembentukan pribadi anak-anaknya, daripada bekerja dan mendapatkan kepuasan profesional, meski pendapatannya sebagai dokter anak di Jerman hampir menyamai pendapatan suaminya.

Ayo-ayo beli buku ini. Dijamin kereen abisss!! Hasil penjualan buku ini semuanya akan disumbangkan buat membiayai yayasan sosial dan pengembangan SDM yang didirikan Pak Habibie bersama (almh) Bu Ainun... #lho, kok jadi promosi ya??#

Hiks... hingga friday ini saya baru baca setengah buku yang berjumlah halaman 323 ini. Sebenernya membaca buku ini sama dengan membaca cerpen, gak membosankan! namun kesibukan di kantor dan di rumah yang membuat saya belum bisa memprioritaskan ini

So, hari ini bertekad tuk menyelesaikan buku ini dan membuat resensinya akhir pekan ini.
Teringat tumpukan buku yang masih harus saya selesaikan juga dan membuat reviewnya di my goodreads:
Api Sejarah 1&2 -baru baca yang no.1 nya aja, no.2 masih terbungkus plastik
Outliers -bukunya winda yang udah lama dipinjem tapi baru dibaca setengah
Man Jada wa Jadda -almost finished
Anne of Green gables -novel bahasa inggris tebel tapi menarik, dipinjemin winda juga

Deadline tahun ini!!
Ayo-ayo semangat membaca lagi ya liaaaaa..........#menyemangati diri sendiri








*postingan di (hampir) akhir pekan yang banyak hutang, setelah lama gak nulis di MP*
---menulis sambil diiringi lagu Radetzky March-nya Johann Strauss I, berharap bisa semangat tuk menyelesaikan tulisan ini, bukan di "save as draft" lagi :P

Friday, 1 October 2010

Penganugerahan Tertinggi Bagi Pendesain CHIPSET: Eko Fajar Nurprasetyo

Rating:★★★★★
Category:Other
Manusia merupakan pembawa ilmu pengetahuan dan teknologi, karena teknologi terkandung dalam diri manusia. Sebagaimana virus mempunyai kemampuan untuk dapat bermutasi dan berkembang, begitupun juga manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi.

Untuk ketiga kalinya sejak pertama kali diadakan 2008 lalu, BPPT kembali memberikan penghargaan Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) kepada pelaku teknologi yang berjasa kepada bangsa Indonesia dalam berinovasi dan berkreasi untuk menghasilkan karya nyata di bidangnya masing-masing. Tahun 2010 ini, BJHTA diberikan kepada Eko Fajar Nurprasetyo, pendiri industri desain chipset pertama di Indonesia.
Pak Eko ini temen baiknya Leader saya (Pak Ratno)... emaaang deh orang hebat tuh rata-rata temennya juga orang hebaaaattt....

Tahun ini juga merupakan kali pertama BJ Habibie dapat menghadiri langsung pemberian award, yang didedikasikan dengan menggunakan namanya. Saya senang waktu melihat Pak Habibie di acara ini, setidaknya saya mulai melihat senyumnya kembali setelah beberapa lama kemarin berduka karena kematian istri tercinta. Semangaaaat terus ya paaak!!

"Figur Habibie menjadikan sebuah motivasi saya sejak saat saya sekolah," ujar Eko Fajar Nurprasetyo. Eko adalah salah satu contoh peneliti yang berdedikasi dan mencintai penelitian demi kemajuan bangsa dan negara dimata mancanegara khususnya penelitian dibidang teknologi Informasi dan komunikasi yang digelutinya sejak muda. Sebelum kembali ke Indonesia Eko telah sejak tahun 2001 berkecimpung di sebuah perusahaan semi konduktor Sony LSI di Jepang. Di tahun 2004 Eko terpilih sebagai Distinguised Enginer (DE) diperusahaan SONY semiconductor, ia adalah DE termuda dan satu-satunya orang asing diantara 40 DE lainnya.

Penghargaan BJHTA adalah salah satu upaya BPPT untuk memberikan dorongan timbulnya hasrat inovasi dan penciptaan teknologi kepada para pelaku teknologi berprestasi. Penghargaan ini adalah penghargaan tertinggi kepada insan pelaku teknologi yang berjasa kepada bangsa dan negara Indonesia dalam berinovasi dan berkreasi menghasilkan karya nyata di bidang teknologi.

“Kemajuan suatu bangsa diukur dari daya saing dan kemandiriannya yang tergantung pada penguasaan ilmu pengetahuan dan inovasinya. Dengan demikian, kemajuan suatu bangsa tergantung pada para pelaku teknologi baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. BPPT selaku institusi yang bertangung jawab terhadap perkembangan dan pemanfaatan teknologi, memandang sangat perlu adanya penghargaan bagi pelaku teknologi yang berprestasi secara luar biasa karena itu BPPT menggelar Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award 2010”, ungkap Kepala BPPT Marzan A Iskandar saat acara pembukaan BJHTA, Selasa malam (28/09).

Dengan adanya penghargaan ini, kata Kepala BPPT, diharapkan akan dapat memberikan dorongan serta menginspirasi pelaku teknologi lainnya diseluruh tanah air (Indonesia), untuk terus menghasilkan inovasi-inovasi teknologi. “Kesemua hasil-hasil inovasi teknologi, akan dapat meningkatkan daya saing nasional dan menciptakan kemandirian bangsa”, lanjutnya.

Penilaian terhada insan para pelaku teknologi didasarkan atas azas penemuan (invention); Azas kreatif; Azas efesien; Azas Nilai tambah dan Azas manfaat. Sedangkan kriteria penilain terbagi atas tingkat keunggulan dan keterkinian teknologi; besarnya dampak; drajat komleksitas atau banyaknya factor berpengaruh; jumlah upaya atau seberapa besar kesulitan dalam perekayasaan; derajat kematangan; keorsinilan; unik; derajat kemanfaatan; merupakan hasilakhir siap pakai dan terakhir mampu memberikan nilai ekonomis.

Eko yakin bahwa 5-10 tahun lagi Indonesia akan mampu memproduksi chipset sendiri secara massal di Indonesia. Ujarnya. Selanjutnya ia mengatakan, harga produksi chipset sangat rendah tapi bisa dijual sangat mahal, karena itu jika Indonesia bisa memproduksi sendiri kebutuhan dalam negerinya, maka akan banyak devisa yang bisa dihemat.

Awal mulai usaha Eko di tanah air di bawah logo Versatile Silicon Technology, perusahaan desain IC pertama di Indonesia bersama beberapa temannya dari ITB, kemudian pada tahun pada 2008 ia bergabung dengan Xirka perusahaan satu-satunya di Asia Tenggara yang mendesain chip untuk wimax.

Menurut Eko, sesaat setelah menerima penghargaan, mengatakan sudah sejak lama dirinya memliki cita-cita untuk membuat chip khusus Indonesia. “Semiconductor (chip) pada umumnya, atau IT pada garis besarnya, merupakan teknologi infrastruktur yang perlu dikuasai oleh setiap negara maju. Saya ingin menjadikan Indonesia negara yang kuat dalam bidang semiconductor sepertihalnya Jepang dan Taiwan”.

“Award ini saya dedikasikan kepada semua ilmuan di tanah air, yang telah mendedikasikan dirinya untuk terus mengembangkan dan mendalami kemampuan ilmu mereka. Ini juga merupakan pesan kepada seluruh teknolog dan generasi muda, untuk terus berkarya dan berinovasi”, ucap Eko.


Bravo, Pak Eko!!!

Monday, 16 August 2010

Belajar dari Pahlawan Sains Indonesia


Sepanjang 65 Tahun Republik Indonesia berdiri, dunia sains dan teknologi kita jarang tampil ke permukaan. Mungkin karena penelitinya bekerja dalam diam, banyak pencapaian penting bahkan bertaraf dunia, luput dari perhatian publik. Dr. Warsito (Penemu scanner 4D pertama di dunia yang karyanya dipakai NASA, lembaga antariksa Amerika), Dr. Khoirul Anwar (Penemu sistem komunikasi 4G) dan Dr. Yogi Erlangga (Jagoan matematika yang teorinya dipakai sejumlah perusahaan minyak dunia) adalah segelintir dari banyak ilmuwan anak bangsa. Tidak semua mereka bekerja di dalam negeri. Ada yang menyebar ke penjuru bumi. Mereka membuat kita bangga dan percaya bahwa sebenarnya Indonesia mampu mandiri secara ilmu dan teknologi. Dari mereka kita dapat belajar banyak... Mereka juga pernah kalah, gagal dan salah. Namun itu semua tidak menjadikan mereka berhenti berkarya, 'coz winner never quit and quitter never win... Dirgahayu Indonesia ke-65. Hargai ilmuwan dalam negeri dan Jayalah sains dan teknologi Indonesia!



Belajar dari Jurus Dragon Ball
Mendapatkan ilham dari tokoh anime Goku, Dr Khoirul Anwar menggoyang dunia nirkabel.

INSPIRASI besar memang bisa datang dari mana saja, termasuk dari film animasi untuk anak-anak. Anda mungkin tak pernah mengira, sebuah film anime Jepang ternyata bisa mengilhami penemuan penting yang merevolusi anggapan tak terpatahkan di jagad transmisi telekomunikasi nirkabel.

Tapi cerita itulah yang terjadi pada diri Khoirul Anwar, dosen sekaligus peneliti asal Indonesia yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.

Saat terdesak karena harus mengajukan tema penelitian untuk mendapatkan dana riset, Khoirul memeras otaknya. Akhirnya ide itu muncul juga dari Dragon Ball Z, film animasi Jepang yang kerap ia tonton.

Ketika Goku, tokoh utama Dragon Ball Z, hendak melayangkan jurus terdahsyatnya, 'Genki Dama' alias Spirit Ball, Goku akan menyerap semua energi mahluk hidup di alam, sehingga menghasilkan tenaga yang luar biasa.

"Konsep itu saya turunkan formula matematikanya untuk diterapkan pada penelitian saya," kata Khoirul, kepada VIVAnews melalui surat elektroniknya, Jumat 13 Agustus 2010.

Maka inspirasi itu kini mewujud menjadi sebuah paper bertajuk "A Simple Turbo Equalization for Single Carrier Block Transmission without Guard Interval."

Perhitungan efisiensi spektrum Dr Khoirul Anwar

Khoirul memisalkan jurus Spirit Ball Goku sebagai Turbo Equalizer (dekoder turbo) yang mampu mengumpulkan seluruh energi dari blok transmisi yang ter-delay, maupun blok transmisi terdahulu, untuk melenyapkan distorsi data akibat interferensi gelombang.

Asisten Profesor berusia 31 tahun itu dapat mematahkan anggapan yang awalnya 'tak mungkin' di dunia telekomunikasi. Kini sebuah sinyal yang dikirimkan secara nirkabel, tak perlu lagi diperisai oleh guard interval (GI) untuk menjaganya kebal terhadap delay, pantulan, dan interferensi. Turbo equalizer-lah yang akan membatalkan interferensi sehingga receiver bisa menerima sinyal tanpa distorsi.

Dengan mengenyahkan GI, dan memanfaatkan dekoder turbo, secara teoritis malah bisa menghilangkan rugi daya transmisi karena tak perlu mengirimkan daya untuk GI. Hilangnya GI juga bisa diisi oleh parity bits yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesalahan akibat distorsi (error correction coding).

"GI sebenarnya adalah sesuatu yang ‘tidak berguna’ di receiver selain hanya untuk menjadi pembatas. Jadi mengirimkan power untuk sesuatu yang ‘tidak berguna’ adalah sia-sia," kata Khoirul.

Gagasan ini sendiri, dikerjakan Khoirul bersama Tadashi Matsumoto, profesor utama di laboratorium tempat Khoirul bekerja. Saat itu ia dan Tadashi hendak mengajukan proyek ke Kinki Mobile Wireless Center.

Setelah menurunkan formula matematikanya secara konkrit, Khoirul meminta rekannya Hui Zhou, untuk membuat programnya.

Cara kerja Chained Turbo Equalization

Metode ini bisa dibilang mampu memecahkan problem transmisi nirkabel. Apalagi ia bisa diterapkan pada hampir semua sistem telekomunikasi, termasuk GSM (2G), CDMA (3G), dan cocok untuk diterapkan pada sistem 4G yang membutuhkan kinerja tinggi dengan tingkat kompleksitas rendah.

Ia juga bisa diterapkan Indonesia, terlebih di kota besar yang punya banyak gedung pencakar langit, maupun di daerah pegunungan. Sebab di daerah tadi biasanya gelombang yang ditransmisikan mengalami pantulan dan delay lebih panjang.

Tak heran bila temuan ini membesut penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring yang digelar 16-19 Mei 2010, di Taiwan.

Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang. Bahkan teknologi ini juga tengah dijajaki oleh raksasa telekomunikasi China, Huawei Technology.

Ini bukan sukses pertama bagi Khoirul. Pada 2006, pria asal Kediri, Jawa Timur itu juga telah menemukan cara mengurangi daya transmisi pada sistem multicarrier seperti Orthogonal frequency-division multiplexing (OFDM) dan Multi-carrier code division multiple access (MC-CDMA).

Caranya yaitu dengan memperkenalkan spreading code menggunakan Fast Fourier Transform sehingga kompleksitasnya menjadi sangat rendah. Dengan metode ini ia bisa mengurangi fluktuasi daya. Maka peralatan telekomunikasi yang digunakan tidak perlu menyediakan cadangan untuk daya yang tinggi.

Belakangan, temuan ini ia patenkan. Teknik ini telah dipakai oleh perusahaan satelit Jepang. Dan yang juga membuatnya membuatnya kaget, sistem 4G ternyata sangat mirip dengan temuan yang ia patenkan itu.

Namun, putra dari pasangan (almarhum) Sudjianto dengan Siti Patmi itu, tak pernah lupa dengan asalnya. Hasil royalti paten pertamanya itu ia berikan untuk ibunya yang kini hidup bertani di Kediri. "Ini adalah sebagai bentuk penghargaan saya kepada orang tua, terutama Ibu," katanya.

Ayah Khoirul meninggal karena sakit, saat ia baru lulus SD pada 1990. Ibunyalah kemudian berusaha keras menyekolahkannya, walaupun kedua orang tuanya tidak ada yang lulus SD.

Sejak kecil, Khoirul hidup dalam kemiskinan. Tapi ada saja jalan baginya untuk terus menuntut ilmu. Misalkan, ketika melanjutkan SMA di Kediri, tiba-tiba ada orang yang menawarkan kos gratis untuknya.

Saat ia meneruskan kuliah di ITB Bandung, selama 4 tahun ia selalu mendapatkan beasiswa. "Orang tua saya tidak perlu mengirimkan uang lagi," kata Khoirul mengenang masa lalunya. Otaknya yang moncer terus membawa Khoirul ke pendidikan yang tinggi.

Ia mendapatkan beasiswa S2 dari Panasonic, dan selanjutnya beasiswa S3 dari perusahaan Jepang. "Alhamdulillah, meski saya bukan dari keluarga kaya, tetap bisa sekolah sampai S3. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pemberi beasiswa." katanya.

Sukses di negeri orang tak membuatnya lupa dengan tanah kelahiran. "Suatu saat saya juga akan tetap pulang ke Indonesia. Setelah meraih ilmu yang banyak di luar negeri," kata Khoirul.

Di luar kehidupannya sebagai seorang periset, Khoirul juga mengajar dan membimbing mahasiswa master dan doktor. Kedalaman pengetahuan agama pria yang sempat menjadi takmir masjid di SMA-nya itu, juga membawanya sering didaulat memberi ceramah agama di Jepang, bahkan menjadi Khatib shalat Iedul Fitri.

Tak hanya itu, Khoirul juga kerap diundang memberikan kuliah kebudayaan Indonesia. "Keberadaaan kita di luar negeri tak berarti kita tidak cinta Indonesia, tapi justru kita sebagai duta Indonesia," kata dia.

Selama mengajar kebudayaan Indonesia, ia banyak mendengar berbagai komentar tentang tanah airnya. Ada yang memuji Indonesia, tentu, ada pula yang menghujat. Untuk yang terakhir itu, ia biasanya menjawab dalam bahasa Jepang: Indonesia ha mada ganbatteimasu (Indonesia sedang berusaha dan berjuang).

Kini, Khoirul tinggal di Nomi, Ishikawa, tak jauh dari tempat kerjanya, bersama istrinya, Sri Yayu Indriyani, dan tiga putra tercintanya. "Semua anak saya memenuhi formula deret aritmatika dengan beda 1.5 tahun," Khoirul menjelaskan.

Yang paling besar lahir di Kawasaki, Yokohama, berusia 7 tahun. Yang kedua lahir di Nara berusia 5,5 tahun, dan ketiga juga lahir di Nara, kini berusia 4 tahun. Ia tak sependapat dengan beberapa rekan Jepangnya, yang mengatakan kehadiran keluarga justru akan mengganggu risetnya.

Baginya keluarga banyak memberikan inspirasi dalam menemukan ide-ide baru. "Belakangan ini saya berhasil menemukan teknik baru dan sangat efisien untuk wireless network saat bermain dengan anak-anak," katanya.

Malahan, Khoirul sering mengajak anak-anaknya melakukan riset kecil-kecilan di rumahnya. Bersama anak-anaknya pula, Khoirul sering menyempatkan waktu menonton bersama, terutama film animasi kegemarannya: Dragon Ball Z, Kungfu Panda, Gibli, atau Detektif Conan.

"Film animasi mengajarkan anak kita nilai yang harus kita pahami dalam kehidupan," kata Khoirul. Film animasi Gibli, misalnya, banyak bercerita bagaimana seharusnya manusia bisa bersahabat dengan alam, tidak merusaknya, serta mencintai mahluk hidup.

Bahkan ide dan semangat baru terkadang muncul dari menonton film. Misalnya nilai kehidupan yang dia petik dari film Kungfu Panda: 'There is no secret ingredient, just believe'. "Nilai ini saya artikan bahwa tidak ada rahasia sukses, percayalah bahwa apapun yang kita kerjakan bisa membuat kita sukses." kata Khoirul.


Menembus Empat Dimensi
Dari ruko kecil di Tangerang, Dr Warsito menemukan teknologi 4D yang diakui NASA.


WARSITO nyaris gila saat komputer kerjanya hangus terbakar disambar petir. Hanya satu laptop tersisa, dan itu juga tiba-tiba jebol. Ini cobaan berat: di komputer itu, hasil riset belasan tahun hilang tak berjejak.

Hampir sepekan dia berdiam diri di kamar. Mimpinya seperti kandas. Dia ingin menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) berbasis teknologi Electrical Capacitance Volume-Tomography (ECVT). Itu teknologi pemindaian tiga dimensi (3D), dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi, sehingga menghasilkan citra 4D.

Getir. Tapi dia harus bangkit, dan tak boleh menyerah. Musibah itu memaksanya kembali membongkar arsip, dan catatan riset. Satu tim ahli dibentuknya membantu kerja besar itu. Mereka dari Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs).

Barangkali itu hikmah di balik musibah. Sebelumnya, dia malas membongkar data yang tersimpan belasan tahun. Semuanya bertumpuk seperti bangunan tumpang tindih. Tak ada cara lain merapikannya, kecuali membongkar, dan membangun ulang dari nol. "Mungkin di sini kunci keberhasilan itu," katanya kepada VIVAnews.

Pada 2004, riset itu kelar. Tapi masih dalam bentuk simulasi. Meski begitu, temuan Warsito segera menjadi incaran sejumlah perusahaan terkemuka dunia. Teknologi pemindai 4D  pertama di dunia itu akhirnya dipatenkan di Amerika Serikat, dan lembaga paten internasional PTO/WO pada 2006.

Tak kurang, yang naksir berat adalah NASA, lembaga antariksa Amerika. "NASA adalah lembaga luar yang pertama kali mengakui teknologi ini, dan kemudian memakainya meskipun masih taraf riset," katanya.

NASA memakai teknologi temuannya itu, untuk mengembangkan sistem pemindai tumpukan embun di dinding luar pesawat ulang-alik. Saat pesawat itu meluncur, ada perubahan suhu sangat tinggi. Tumpukan embun itu bisa merusak dinding pesawat  yang terbuat dari keramik.

Setelah NASA, temuan Warsito dilirik oleh lembaga top lainnya, seperti Ohio State University, perusahaan B&W, Departemen Energi Amerika, University of Cambridge, dan sejumlah lembaga besar lain.

Teknologi Warsito itu diperkirakan bakal membawa perubahan drastis dalam perkembangan riset dan teknologi. Jangkauannya juga luas. Mulai dari bidang energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.

Menekuni riset tomografi sejak 1992, persisnya saat dia kelar tugas akhir S1, Warsito mengatakan hasil yang dicapainya adalah buah dari kerja keras. Tomografi yang dia kembangkan bukan ada secara tiba-tiba. “Proses pengembangannya panjang, diikuti improvisasi terus-menerus sampai saat ini,"  ujarnya.

Tomografi adalah teknologi memindai berbagai obyek, dari luar hingga kondisi bagian dalam, tanpa harus merusak penampangnya. Teknologi ini terdiri dari rangkaian sistem sensor, elektronika, dan komputer.

Dengan teknologi ini, pemindaian bisa dilakukan dari luar, tanpa menyentuh obyek. Contoh paling umum adalah mesin CT Scan, dan MRI yang digunakan di bidang kedokteran. Hanya, dua alat itu sekadar menghasilkan citra dua dimensi (2D), dengan obyek tidak bergerak.

Sedangkan tomografi  ciptaan Warsito mampu memindai 3D, atau volumetrik dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi. "Jadi bisa 4D yakni tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu," ujarnya. Aplikasinya pun, kata Warsito, sangat luas. “Dari reaktor yang dipakai di pabrik-pabrik, tubuh manusia, obyek-obyek skala nano, hingga perut bumi."

Menurut Warsito, pemindaian dari dalam menuju luar dinding itu bisa dilakukan karena teknologi tomografi 4D kreasinya memakai gelombang listrik non-linear. Teknologi pemindai lain menggunakan gelombang linear, sehingga hanya bisa memindai dari luar obyek, ke dalam obyek.

Di Indonesia, teknologi yang masih terus dikembangkan Warsito ini, digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.

Tabung gas bertekanan tinggi perlu dipindai untuk memeriksa apabila ada retakan di dalam tabung yang tidak terlihat. Sebab, retakan itu bisa mengakibatkan ledakan, dan berdampak fatal. Sistem pemindai ini telah dipakai di pabrik tabung gas tekanan tinggi di Cikarang.

"Ada banyak teknologi turunan dari sensor dan tomografi ini yang sekarang sedang kami kembangkan, seperti sensor untuk treatment kanker, sistem pemindaian aktivitas otak manusia, hingga sensor untuk kebocoran tabung gas," Warsito menambahkan.

Di bidang kedokteran, teknologi temuan Warsito jelas mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Penemu CT Scan, Sir Godfrey Hounsfield dan Dr. Alan Cormack, diganjar Nobel Bidang Fisiologi  dan Kedokteran 1979. Pun penemu MRI, Paul Lauterbur dan Sir Peter Mansfield, yang meraih penghargaan sama tahun 2003.

Akankah Warsito menjadi peraih Nobel di masa mendatang?

"Rasanya terlalu tinggi untuk bangga dengan ini semua. Yang saya pikirkan hanyalah keinginan memberikan harapan bagi bangsa agar tidak terlalu pesimis dengan kemampuan mereka, dan tidak harus merasa rendah terhadap bangsa mana pun juga," ujar Warsito.

Bukan Superman, tokoh kartun DC Comics itu,  yang memberi ilham bagi Warsito menciptakan teknologi 'tembus pandang' ini. Ia bahkan berkelakar tak percaya kehebatan Superman.

Temuan ini hanya serpihan imajinasinya sewaktu SMA. Kala itu, ia terpaku dengan sosok jenius dalam komik yang berhasil mengembangkan mesin foto copy yang mampu mengkloning benda sama persis aslinya.

"Cerita itu tidak pernah saya lupa. Itu sedikit memberi inspirasi untuk mengembangkan teknologi tomografi ini. Karena teknologi ini bisa 'meng-copy' seluruh obyek menjadi data digital 3D," ujar lelaki yang kini menjabat sebagai staf ahli Menristek.

Lahir di Solo, 16 Mei 1967, dia yang bernama lengkap Warsito Purwo Taruno ini, bukanlah anak yang tumbuh dengan mimpi besar. Sebagai anak desa di lereng Gunung Lawu, ia menjalani hidup ala kadarnya. Ia habiskan masa kecil bergumul dengan sawah, dan ternak.

Tapi memang, kemampuan intelektualitasnya ditempa karena dia gemar membaca buku. "Saya meminjam buku apa saja yang bisa saya pinjam dan baca. Saya membacanya di mana saja, bisa di sawah, ladang, sungai. Kambing saya kenyang makan tanaman orang, saya kenyang baca buku," ujarnya. Aktivitas itu dilakoninya hingga lepas masa SMA.

Sebagai siswa cemerlang, Warsito kemudian pindah ke Yogyakarta, setelah namanya tertera sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM. Tapi dia gagal sekolah ke kampus itu, karena terbentur masalah biaya. Ia lalu merantau ke Jakarta. Beruntung, dia mendapat beasiswa di Universitas Shizuoka, Jepang, 1987. Beasiswa mengantarnya meraih gelar tertinggi akademik (S3), 1997.

Pada 1999, dia hijrah ke Amerika Serikat. Berbekal riset tentang tomografi, dia menjadi satu dari 15 peneliti papan atas dunia di Industrial Research Consortium, Ohio State University. Sebuah lembaga riset terpandang yang menjadi acuan sejumlah perusahaan minyak raksasa di dunia semisal ExxonMobil, Conoco Phillips, dan Shell.

Di tengah kesibukan riset, ia meluangkan waktu menulis di sejumlah jurnal ilmiah bertaraf internasional. Tak jarang, ia juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam sejumlah forum ilmuwan dunia.

Momen tak terlupakan adalah tatkala ia selesai memberi sesi paripurna (plenary lecture) di konferensi internasional tentang reactor engineering di Delft, Belanda, 1999. "Itu adalah sesi paripurna sebuah konferensi besar, yang dihadiri pakar dan professor dari seluruh dunia. Sepertinya tak ada penghargaan lebih besar dari itu, yang pernah saya rasakan dalam hidup saya. Bagaikan cerita di film."

Empat tahun dia curahkan tenaga dan waktu di Amerika. Mulai 2003 hingga 2006, ia memilih wara-wiri antara Amerika dan Indonesia. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke Indonesia, membesarkan CTECH Labs yang dibangunnya di satu ruko mungil di kawasan Tangerang. “Cita-cita saya membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset mana pun di dunia, dan itu di Indonesia.”

Di matanya, dunia sains di Indonesia kurang tantangan. Bukan hanya wadah yang terbatas, tapi juga interaksi antarilmuwan di ajang internasional lemah. Tantangan nyata dari industri juga minim. "Tanpa tantangan, dunia sains kita tidak akan maju,” ujarnya.


Matematika Rumit dari Tasikmalaya
Dr. Yogi Erlangga memecahkan persamaan rumit matematika yang dicari perusahaan minyak dunia.

Usia 36 tahun. Lahir di Tasikmalaya. Yogi Erlangga meraih gelar doktor dari Universitas Teknologi Delft, Belanda pada usia yang terbilang muda, 31 tahun. Dia mencintai ilmu yang dibenci banyak orang, matematika. Di negeri kincir angin itu, dia dinobatkan sebagai doktor matematika terapan.

Dan matematika itulah yang melambungkan Yogi Erlangga ke perusahaan minyak raksasa dunia. Dia adalah efisiensi. Rumus matematika yang dikembangkannya membuat ribuan insinyur minyak bisa bekerja cepat. Akurasi tinggi.  Dan akhirnya si raja minyak banyak berhemat.

Penelitian  yang dilakukan Yogi dalam meraih gelar doktor  berhasil memecahkan persoalan matematika atas gelombang yang bisa digunakan oleh perusahaan minyak untuk mencari cadangan emas hitam itu.  Rumus yang dikembangkan Yogi ini seratus kali lebih cepat dari yang berlaku sebelumnya.

Bukan cuma perusahaan minyak yang riang, sejumlah perusahaan raksasa dunia yang mengunakan unsur gelombang juga bersukaria. Rumus matematika anak Tasikmalaya itu juga manjur untuk teknologi keping Blu-Ray.  Keping itu bisa memuat data komputer dalam jumlah yang jauh lebih besar. Rumus itu juga mempermudah cara kerja radar di dunia penerbangan.

Dalam siaran pers --saat wisuda doktor Desember 2005--  Universitas Delft  sungguh bangga akan pencapaian Yogi. Siaran per situ menyebutkan bahwa penelitian Yogi adalah murni Matematika.

Dia berhasil mengembangkan suatu metode kalkulasi, yang memungkinkan sistem komputer untuk menyesaikan ekuasi krusial secara lebih cepat. Padahal, persamaan krusial itu sulit diatasi oleh sistem komputer yang dipakai perusahaan-perusahaan minyak.

Penelitian Yogi itu didasarkan pada “Ekuasi Helhmholtz.” Bagi kalangan ilmuwan, metode ekuasi itu penting dalam mengintepretasi ukuran-ukuran akustik yang digunakan untuk mensurvei cadangan minyak.

Sebelumnya, pengukuran itu dilakukan secara dua dimensi. Namun, dalam penelitian doktoralnya, Yogi berhasil membuat metode kalkulasi yang digunakan untuk memecahkan ekuasi Helmholtz ratusan kali lebih cepat dari yang biasa.

Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan minyak bisa memanfaatkan kalkulasi secara tiga dimensi untuk mencari cadangan minyak. Itulah sebabnya Delft yakin bahwa metode yang dikembangkan Yogi bisa mengundang daya tarik perusahaan-perusahaan minyak.

Profesor pembimbing tesis Yogi, Dr. Kees Vuik, bangga dengan kerja keras anak didiknya itu. “Berdasarkan respon-respon yang kami terima dari industri maupun universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan masalah yang telah berlangsung selama tiga puluh tahun,” kata Vuik dalam siaran pers Universitas Delft.

Peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB), Khairul Ummah, menyatakan kekagumannya atas pencapaian Yogi. “Riset PhD dia cukup dahsyat, memecahkan persoalan matematika gelombang yang digunakan oleh perusahaan minyak Shell untuk mencari cadangan minyak,” tulis Khairul dalam laman blog ilmiah SEPIA yang dia kelola bersama sejumlah akademisi lain.

“Hasil riset dia [Yogi] cukup menghebohkan dunia minyak, terutama dengan kemungkinan membuat profil 3 dimensi dari cadangan minyak. Metode dia berhasil memproses data-data seismik seratus kali lebih cepat dari metode yang sekarang biasa digunakan,” tulis Khairul.

Yogi meraih gelar sarjana ilmu aeronautika dari ITB pada 1998. Kemudian dia menimba ilmu di Belanda dan meraih gelar Master (Msc) di Universitas Teknologi Delft pada 2001 di bidang Matematika Terapan.

Empat tahun kemudian, di alma mater dan disiplin ilmu yang sama, Yogi meraih gelar Doktor. Sempat mengikuti program post-doctoral di Jerman, Yogi selanjutnya tercatat sebagai Asisten Profesor bidang Matematika di Universitas Alfaisal, Arab Saudi.  Menurut data dari Universitas Alfaisal, Yogi sibuk dalam proyek penelitian aljabar linear dan analisis matriks.

Menurut Khairul, Yogi sempat merasa sedih bahwa dirinya lebih dihargai perusahaan-perusahaan asing ketimbang di Indonesia. Saat tidak ada perusahaan tanah air yang mengetahui karyanya, Yogi malah gencar didekati sejumlah perusahaan top dunia.

"Setelah hasil dia dipublikasikan, maka dia mendapat kontak dari Schlumberger untuk menindaklanjuti hal itu. Shell tentu saja sudah memakainya. Bahkan di Belanda dia diliput oleh media massa, juga media TV Belanda berencana mewawancarainya (tapi dia keburu pingin pulang, jadi tidak sempat). Jelas hal ini menunjukkan potensi ekonomi luar biasa dari algoritma matematik yang dia temukan,” tulis Khairul di blognya.

Di laman blog SEPIA, Mei 2006, Yogi mencurahkan uneg-unegnya atas tiadanya perhatian perusahaan-perusahaan asal Indonesia kepada karyanya. “Dari bangsa ini, sudah banyak yang memberikan kontribusinya masing-masing pada dunia keilmuan yang digelutinya. Sayangnya bangsa kita belum terbiasa untuk menghargai hasil karya keilmuan mereka,” tulis Yogi.

Dia mencontohkan, tahun 1970, Indonesia, Malaysia, Korea, China were nothing [sama-sama tidak ada apa-apanya]. Tahun 1980, Korea became something. Tahun 1990 Malaysia started to be something. “Sekarang, China is everything. Unfortunately, we are still nothing, sadly speaking,” tulis Yogi.

Namun, dia yakin bahwa masih banyak anak bangsa yang akan merasa bangga jika mereka menghasilkan segala prestasi terbaiknya di negeri sendiri dan untuk kejayaan bangsanya. Tinggal kemauan bangsa dan negara untuk menyambut keinginan mereka dengan sambutan yang “appropriate” [layak], kata Yogi.


sumber: vivanews

Thursday, 5 August 2010

Dari Ratno untuk Indonesia, Nanoscope pertama di Indonesia

Rating:★★★★★
Category:Other
Tidak menjadi hal yang penting seberapa panjang gelar kita, juga seberapa banyak ilmu kita jika kita tidak berbagi dan mengamalkannya. Akan lebih baik jika ilmu yang kita punya (walaupun sedikit) diamalkan sehingga bermanfaat untuk umat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya.

Tulisan yang tidak banyak ini mengulas tentang Leader saya yang rasa patut diteladani. Pak Ratno yang aktif, kreatif, dan prestatif. Beragam prestasi telah ia raih, sejak di Jepang maupun di Indonesia. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengulas tentang Leader saya yang pernah mendapat penghargaan Peneliti Muda terbaik tahun 2008 versi LIPI dan Finalis Toray Science & Technology award 2009 dalam blog ini, karena begitu banyak yang ingin saya tulis sementara media belum banyak menulisnya, sampai-sampai writthless (analogi speachless haha... *maksa*). Diblog ini sebelumnya saya telah mereview sahabat beliau satu almamater; Dr. Warsito, M. Eng (Penemu scanner 4D pertama di dunia). Saya rasa ini saat yang tepat untuk mereview nya. Karena baru-baru ini beliau mendapat sebuah award peneliti berprestasi 2010 versi Bakrie.

Berikut tulisan hasil wawancara pagi ini dengan Leader saya yang pernah menjabat ketua ISTECS Jepang yang dimuat di web BPPT.

Berangkat dari keterbatasan alat riset di Indonesia, khususnya alat riset yang mendukung pengembangan bidang nanoteknologi, peneliti bidang teknologi material BPPT, Ratno Nuryadi, berhasil menciptakan alat pengukur nano pertama di Indonesia.

Alat yang ia beri nama NANOSCOPE ini berhasil mengantarnya mendapat penghargaan Achmad Bakrie untuk kategori peneliti muda di bawah 40 tahun.

"Selama masa pendidikan saya di Jepang, saya memperhatikan bahwa lembaga riset Jepang itu dalam memenuhi kebutuhan alat pendukung risetnya mereka buat sendiri. Saya berpikir mengapa kita tidak menerapkan hal yang sama juga disini?", ungkap pria yang menghabiskan masa kecilnya di daerah Bantul Jawa Tengah tersebut.

Ratno mengungkapkan bahwa pengalaman masa kecilnyalah yang mejadikan dia sosok seperti sekarang ini. "Dengan ayah yang berprofesi sebagai guru SD memacu saya untuk belajar dengan keras sehingga saya pun akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa Science and Technology for Industrian Development (STAID) BPPT III".

Disanalah awal mula anak ke-2 dari tiga bersaudara ini bergelut dengan dunia nano. Berawal sebagai user mikroskop gaya atom (atomic force microscope, AFM), Ratno mulai mencoba mengembangkan sendiri AFM tersebut, mulai dari sensor partikel hingga NANOSCOPE seperti sekarang ini.

Sekembalinya Ratno ke Indonesia tahun 2008, ia mulai menyelesaikan tahap akhir pengembangan AFM yang digabungkan dengan local content di Indonesia. "50% komponen NANOSCOPE merupakan komponen dalam negeri. Inilah yang membuat NANOSCOPE menjadi lebih murah dibandingkan produk sejenis yang didatangkan dari luar negeri".

NANOSCOPE tidak hanya berfungsi untuk melihat struktur nano tapi juga dapat mengukur sifat kimia, sifat magnet serta sifat fisika lainnya yang ada pada nano dengan resolusi yang sangat tajam. Pada prinsipnya NANOSCOPE sama dengan microscope, yang membedakan adalah NANOSCOPE menggunakan teknologi peraba seperti jarum yang sangat kecil yang akan menyusuri struktur nano dan menampilkannya di komputer.

Pria yang lebih senang menghabiskan waktunya di laboratorium ini mengungkapkan keinginannya untuk selalu memajukan nanoteknologi di Indonesia. Ia berharap dengan adanya NANOSCOPE ini dapat menstimulasi dan memberikan rangsangan bagi para peneliti khususnya di bidang nanoteknologi untuk berbuat yang lebih bagi Indonesia.

"Saat ini geliat nanoteknologi di Indonesia sudah mulai terlihat baik itu di lembaga penelitian pemerintah, swasta maupun lembaga pendidikan. Bahkan Kementerian Perindustrian sudah memiliki roadmap akan pengembangan nanoteknologi untuk industri di Indonesia. Tentunya agar roadmap tersebut dapat berjalan, perlu adanya sinergi diantara pihak-pihak yang terkait", ungkap pria kelahiran 17 Oktober ini.

"Seperti yang dikatakan orang tua saya, dalam hidup itu kita harus selalu berusaha, tidak boleh menyerah dalam kondisi apapun juga. Itulah yang menjadi semangat saya dalam menjalani kehidupan. Saya juga ingin teman-teman peneliti lain merasakan hal yang sama", ujarnya. (humas BPPT)

Semangat Terus ya Pak Ratno !!
Tetap Berkarya untuk Indonesia ^_^

NB. Hari ini, 5 Agustus 2010 di Antv Jam 20.30 WIB ada acara Achmad Bakrie award (live).


Friday, 31 July 2009

Dr. Warsito Purwo Taruno, M.Eng. (Anggota Majelis Pertimbangan Pusat PKS)

Rating:★★★★★
Category:Other
Dr. Warsito adalah salah satu dari “50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus Akhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” Versi Majalah Gatra (Mei 2008).
Di dunia akademisi Internasional, Dr. Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam objek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hinga perut bumi.
Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi temuannya telah digunakan oleh NASA (Lembaga Antarikas Amerika Serikat) untuk memindai obyek dielektrika pada pesawat ulang-alik selama misi ke antariksa.
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh American Chemistry Society, teknologi temuan Dr. Warsito diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi berbagai bidang dari energi, proses kimia , kedokteran hingga nano teknologi.

Saat ini Dr. Warsito telah membangun pusat riset dan produksi system tomografi 4D yang pertama didunia yang berpusat di Tangerang, banten. Produk institusinya 100% diproduksi didalam negeri dengan melibatkan ilmuwan lokal dan telah mulai di pasarkan di Amerika Serikat (Baca “Produk Tangerang di Ohio, Koran Tempo, Oktober 2008)
Di bidang keorganisasian, Warsito adalah salah satu pendiri dan ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI). Selama menjabat sebagai ketua umum MITI sejak tahun 2005, Dr. Warsito telah membangun jaringan MITI diseluruh Indonesia dan luar negeri terutama MITI-Mahasiswa di kurang lebih 50 kampus di 26 Propinsi di seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI adalah meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa Indonesia, serta membantu pengembangan SDM mahasiswa Indonesia.
Dr. Warsito juga aktif sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera di Komisi Kebijakan Publik yang salah satunya bertanggung jawab langsung dalam merancang dan menyusun Platform Pembangunan PKS Bidang Perekonomian. Ekonomi adalah bidang kedua yang digelutinya sejak tahun 1994 secara otodidak.
Biodata singkat Dr. Warsito:
lahir: 15 Mei, 1967

Pendidikan
1. SMAN 1 Karanganyar, Solo 1986
2. Tokyo International Japanese School, Tokyo 1988
3. Shizouka University, B. Eng, Chemical Engineering, 1992
4. Shizouka University, M.Eng, 1994
5. Shizouka University, Ph.D Electronic Science and Technology
Pengalaman Kerja
1. Researcher, Satellite Venture Businee Laboratory Shizouka University, (1997-1999)
2. Lecturer, Graduate School of Engineering, Shizouka University, Japan (1997-1999)
3. Research Associate, Dept of Chemical Engineering, Ohio State University, USA (1999-2006)
4. Dosen Pascasarjana, MIPA-FISIKA UI, Jakarta (2005-Sekarang)
5. Visiting Lecturer, Dept of Chemical Engineering (2005-Sekarang)
6. Visiting Lecturer, Dept of Chemical Engineering Shizouka University, Japan (2005)
7. Director, CTECH Centre for Tomography Research, PT. EDWAR Tech , Tangerang (2008-Sekarang)
8. Visitor Senior Scientist, National Laboratory of Physics and Chemistry (RIKEN), Japan (2008-Sekarang)
9. Visiting Professor, Dept Of Chemical Engineering, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia (2008-Sekarang)
10. Visiting Professor, Dept Of Chemical and Biomolecular Rngineering, Nanyang Technological University, Singapore (2009)
11. Visiting Professor for Advance Studies, King Saud University, Saudi Arabia.
Aktivitas lain
1. Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (2005-Sekarang)
2. Editor tamu/Reviewer jurnal Internasional IEEE Sonsor Journals (US), Measurement Scuence and technology (UK)
3. Anggota International Committee for Industrial Process Tomography
4. Pembimbing Tesis/tugas akhir FMIPA Fisika-UI
website
http://www.edwartechnology.com
http://www.tech4imaging.com
http://myview-indonesia.blogspot.com
(sumber:http://www.facebook.com/group.php?gid=60505632443n(utama); miti.or.id; eng.shizuoka.ac.jp;thestar.com.my)

====================
artikel yang berkaitan
====================

Dunia industri energi, perminyakan dan kimia di Amerika digemparkan dengan rilis teknologi terapan anyar yang dikeluarkan oleh Ohio State University. Adalah ECVT, atau electrical capacitance volume tomography, sebuah teknologi yang menggunakan sensor medan listrik statis yang bisa menampilkan gambar 3 dimensi dari tingkah laku gas dan partikel di dalam reaktor tertutup. Teknologi ini mengadopsi cara scanning atau fotokopi yang bisa melihat secara real time dan 3 dimensi gerak gas dan partikel di dalam boiler maupun reaktor industri. ECVT ini memiliki akurasi yang tinggi, dan menjadi cikal bakal teknologi berbasis clean energy.

Teknologi yang lahir di “research center” yang tidak lebih dari sebuah ruangan kecil di sebuah warnet di Tangerang ini telah dipatenkan oleh Dr. Warsito, yang menjadi penemunya. Para industriawan dan ilmuwan teknologi terapan bisa menggunakan ECVT ini untuk observasi komposisi bahan di dalam reaktor kimia di industri, kelakuan minyak di pengilangan, kepekatan gas di reaktor untuk instalasi tenaga listrik, kelakuan gas di dalam reaktor nuklir, dan masih banyak reaktor terapan lainnya yang bertekanan tinggi dan suhu tinggi. Teknologi yang sama bisa diterapkan pula ke dalam berbagai bidang dari kedokteran, pertambangan, proses kimia hingga body scan untuk keperluan security.

Sebagaimana rumah sakit yang memakai USG maupun MRI untuk mengetahui gejala penyakit di dalam tubuh, maka kalangan industri pun memerlukan teknologi yang sama. Yaitu menggunakan tomography untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam boiler, tangki reaktor maupun reaktor tekanan tinggi secara akurat dan real time. Demikian ditekankan oleh Dr. Warsito, yang menjadi penemu sekaligus pemilik paten teknologi ECVT ini.

Sistem ECVT diperlihatkan seperti di Gambar 1. Sistem ini bisa melihat tembus secara 4 dimensi: 3 dimensi hasil rekonstruksi dan online/realtime. Sistem ECVT ini terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display. Gambar 2 memperlihatkan hasil deteksi kelakuan “Boiling Sand”: Ini dihasilkan dari snapshot imaging dengan kecepatan 1/100 detik menggunakan ECVT terhadap pasir yang sedang “mendidih” di dalam reaktor pemrosesan partikel katalis. Teknologi yang sama bisa digunakan untuk melakukan pencitraan terhadap aktifitas di dalam gunung berapi atau semburan lumpur dari kebocoran sumur gas miliki Lapindo seperti yang terjadi di Sidoarjo.

Gambar 1: Skema sistem ECVT – Melihat tembus secara 4 dimensi: Terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display
Gambar 2 “Boiling Sand”: Hasil snapshot imaging dengan kecepatan 1/100 detik menggunakan ECVT terhadap pasir yang sedang “mendidih” di dalam reaktor pemrosesan partikel katalis

Dr. Warsito meraih gelar doktor dari Universitas Shizuoka Jepang tahun 1997. Dia memulai research tomography ini sejak tahun 1991 ketika masih menjadi mahasiswa S1. Ketika itu Dr. Warsito mengembangkan Ultrasound Tomography untuk tujuan yang sama yaitu mendeteksi kepekatan gas dan partikel di dalam reaktor multi fase.

Teknologi tomography ini kemudian dibawa ke Amerika bekerja sama dengan Profesor L. S. Fan dari OSU dengan merintis teknologi tomography baru berbasis medan listrik statis. Profesor Fan sendiri semula tidak percaya dan bahkan tidak memahami temuan canggih ini. Tetapi setelah Dr. Warsito mendapat pengakuan dari asosiasi teknik kimia di Amerika dan juga asosiasi industri minyak di sana, baru Profesor Fan tertarik. Profesor Fan kini menjadi terkenal karena ECVT, meskipun telah dipatenkan oleh Dr. Warsito yang beralamat di Tangerang. Paten ECVT tersebut bernomor 60/664,026 tahun 2005 dan 60/760,529 tahun 2006 yang terdaftar dalam dokumen paten AS.

Bangsa Indonesia harus bangga dengan temuan yang bisa diaplikasikan langsung secara luas di dunia industri ini. Temuan atas teknologi pencitraan secara 3 dimensi sempat menjadi headlines di media electronik maupun cetak yang menyangkut sains dan teknologi di seluruh dunia belum lama ini. Berita yang pertama kali dirilis oleh Ohio State Research News pada tanggal 27 Maret 2006 itu kemudian dikutip oleh ScienceDaily (AS), Scenta (Inggris), Chemical Online, Electronics Weekly dan hampir seluruh media pemberitaan iptek di segala bidang dari energi, kedokteran, fisika, biologi, kimia, industri, elektronika hingga nano-teknologi dan antariksa di seluruh dunia. Akankah Dr. Warsito menjadi penerima Nobel di bidang ini? Semoga. (mbu)

Ringkasan:
- Teknologi ECVT adalah teknologi scanning atau fotokopi yang bisa melihat secara real time dan 3 dimensi gerak bahan di dalam boiler, reaktor industri, pipa, dsb. meskipun bertekanan dan bersuhu tinggi.
- Dr. Warsito adalah penemu dan pengembang teknologi ECVT ini dan pemilik paten yang didaftarkan di dokumen paten AS
- Teknologi ECVT bisa diterapkan di berbagai bidang dari industri, kedokteran, pertambangan, proses kimia, body scan untuk keperluan security, pencitraan aktifitas di dalam gunung berapi atau semburan lumpur panas, dll.

ditulis oleh :D r. Marsudi Budi Utomo, Senior Staf Shindengen Electric Japan, Peneliti ISTECS Jepang, dan Ketua PIP PKS Jepang

Subhanallah… Allah Akbar..
Dunia Islam menunggu karya bapak…

------------------------------------------------------------------------------

Dr Warsito, Ahli “Tembus Pandang” yang Bukan Klenik

JAKARTA – Melihat tembus pandang di zaman dulu hanya sebatas wacana. Bahkan, dihubungkan dengan ilmu klenik. Tapi di masa kini, dengan keandalan teknologi, hal itu bukan suatu yang mustahil. Berkat teknologi tomografi, kita bisa melihat suatu objek tanpa harus membuka penampangnya.
Inilah yang ditekuni Dr Warsito, ilmuwan senior bidang kimia dan biomolekuler Ohio State University, Amerika Serikat (AS). Lelaki kelahiran Solo, 15 Mei 1967 ini telah mengembangkan tomografi volumetrik. Apa pula ini?
“Ini merupakan prototip tomografi terkini yang mampu melakukan rekonstruksi objek secara real time dan tiga dimensi dengan kecepatan hingga milidetik per volume,” papar Warsito dalam presentasinya di acara “Meeting of Indonesian Scientist in the 21st Century” di Jakarta baru-baru ini.
Walau sudah melanglang buana belajar di negeri orang, Warsito masih tercatat sebagai warga negara Indonesia. Ilmu kimia memang sudah diminati Warsito sejak belia. Tak heran ia menuntut ilmu tersebut sampai ke Negeri Sakura, tepatnya Universitas Shizouka.
Setelah itu, ia melanjutkan ke jenjang S2 di kampus serupa. Pada 1997 Warsito berhasil menuntaskan PhD-nya di kampus itu juga dengan disertasi tentang yomografi ultrasonik. Kini ia tercatat sebagai ilmuwan senior di Department of Chemical and Biomolecular Engineering di Ohio State University. Di sinilah ia bersama timnya mengembangkan tomografi bolumeytrik.
Walau lama di negeri orang, Warsito masih menjadi dosen tamu di jurusan fisika Universitas Indonesia hingga saat ini. Ia juga sempat menjadi dosen tamu di kampus yang membesarkannya, Universitas Shizouka.
Ada serangkaian penghargaan yang pernah diraih lelaki murah senyum ini. Tahun 2002 ia dianugerahi American Institute of Chemist Foundation Outstanding Post-doctoral Award. Ia juga menjadi lulusan terbaik bidang kimia di Universitas Shizouka. Bahkan di awal kariernya pada 1985 Warsito sempat meraih Baiquni Award bidang sains dan matematika dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Berkat segudang prestasinya itu, lelaki ini termasuk dalam 16 ilmuwan Indonesia yang diberi kesempatan unjuk gigi di depan Douglas D Osheroff, peraih Nobel Fisika 1996 yang berkunjung ke Indonesia, akhir pekan silam. (mer)
Copyright © Sinar Harapan 2003
-----------------------------------------------------------------



[Koran Tempo] Produk Tangerang di Universitas Ohio
Koran Tempo, Senin, 10 November 2008.
Sistem pemindai empat dimensi ciptaan Warsito dipasarkan di Amerika
Serikat. Laboratoriumnya cuma sebuah ruko di tangerang.
Jakarta– Hasil perjuangan di sebuah ruko di Tangerang, Provinsi
Banten, akhirnya sampai ke kampus Ohio State University di Amerika
Serikat. Kamis pekan lalu, Dr. Warsito, yang mengepalai grup riset
Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs), menyerahkan
prototipe sistem scanner 4D untuk reaktor kimia pertama di dunia
kepada Professor Liang-Shih Fan.
Acara serah terima itu berlangsung di Koffolt Laboratories milik
Departement of Chemical and Bio-molecular Engineering, Ohio State
University. Di kampus itu, Professor Fan menjadi guru besar dan
mengepalai kelompok riset.
“Wow menakjubkan. Bagaimana anda dapat melakukan ini? ” kata William
Wong, salah seorang peneliti. Tamu lain dari Tsinghua University,
Beijing, mengakui temuan itu sangat hebat.
Waktu itu, Warsito memperagakan model reaktor kecil yang dipasangi
sensor disekelilingnya. Didalamnya diisi cairan kimia dan
dikocok-kocok. Kemudian dengan sensor yang dipasang diluar reaktor,
data sinyal diambil dengan sistem data akuisisi dan dikirim ke
komputer. Komputer lantas memproses sinyal dan membentuk citra tiga
dimensi secara real time. Jadi, seolah olah seluruh isi reaktor di
kopi secara digital serta direkonstruksi lagi dan bisa dilihat secara
langsung di layar monitor laptop.
Teknologi ini mengadopsi tehnik scanning atau fotokopi yang bisa
melihat gerak gas dan partikel di dalam boiler maupun reaktor industri
secara real time dan tiga dimensi. Sistem pemindai atau scanner ini
berbasis teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi atau
electrical capacitance volume tomography (ECVT).
Pemindai ini mirip denganCT Scan dan MRI untuk melihat apa yang
terjadi di dalam tubuh manusia. Tapi, perangkat ini lebih canggih
karena pasien tak perlu masuk ke dalam tabung seperti alat MRI yang
cuma menampilkan gambar dua dimensi. Pasien cukup melewati pintu
detektor dan pada saat itu juga bakal terlihat apa yang terjadi di
dalamnya. Gambar yang dihasilkan juga tiga dimensi.
Selain untuk bidang kesehatan, teknologi yang sudah dipatenkan oleh
Warsito itu mampu memindai gas di dalam tabung, reaktor nuklir, perut
gunung api serta semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur. Tapi Warsito
dan teman temannya di CTECH Labs belum merancang peralatan itu untuk mengganti CT Scan ata MRI.
Menurut Warsito, Teknologi tomografi itu akan menjadi tools utama
untuk riset di bidang aliran fluida di seluruh dunia. “Selama ini
penelitian hanya bisa dilakukan dengan simulasi komputer” ujar Warsito yang tengah berada di Colombus kepada Tempo melalui surat elektronik.
Maklum, sistem ECVT itu bisa melihat tembus dengan empat dimensi,
yaitu tiga dimensi hasil rekonstruksi dan satu dimensi waktu yg online
atau real time.
Bersama Professor Fan, Warsito mengaplikasikannya untuk memindai atau menfotokopi proses yang terjadi di reaktor kimia. “Kelompok riset
Professor Fan adalah pengguna pertama di dunia sistem ini.” kata pria
kelahiran solo, 1967, itu. Keduanya membentuk Tech4Imaging, perusahaan
yang memasarkan teknologi ini di Amerika Serikat. Sementara itu, di
luar Amerika Serikat, pemasarannya dilakukan oleh PT Edwar Technology yang berkantor di kawasan Tangerang.
Di Ohio State University, teknologi ini digunakan untuk melakukan
studi terhadap tingkah laku partikel dan gas di dalam reaktor kimia.
“Tujuannya untuk mengembangkan energi baru pengganti minyak bumi,” ujarnya. Professor Fan adalah ketua konsorsium penelitian teknologi pemrosesan minyak yang beranggotakan pakar terkemuka dari hampir seluruh perusahaan minyak raksasa seperti Exxon Mobil, Shell, British Petroleum (BP), Air Product dan Dow Chemical.
Warsito mendalami tomografi sejak 1991, ketika kuliah S-1 di
Universitas Shizuoka, Jepang. Dari perguruan tinggi itu, dia meraih
gelar doktor bidang electronic science and technology pada 1997.
Setelah itu dia berangkat ke Amerika Serikat dan bertemu dengan
Professor Fan. Keduanya bekerja sama di laboratorium milik Ohio State
University.
Pada 16 November ini, Professor Fan akan memaparkan hasil pencitraan
4D dengan ECVT pada sesi utama pertemuan 100 tokoh dunia dalam teknik kimia di Philadelphia, Amerika Serikat. American Institute of Chemical Engineers (AIChE) yang menyelenggarakan hajatan pertama kali itu memang memilih Professor Fan sebagai salah satu dari 100 tokoh.
Sistem ECVT generasi kedua ini terdiri atas sistem sensor, sistem data
akuisisi, serta perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi, data
dan display. Semuanya mengontrol dan memproses data untuk diolah
menjadi citra volumetrik tiga dimensi (3D) secara real time. Temuan
ini merupakan pengembangan dari generasi pertama yang tidak bisa
melihat obyek secara online. “Jadi, data diproses dulu secara offline
dan kemudian baru diputar kembali (playback),” ujar Warsito.
Generasi kedua ECVT ini mampu melakukan pemindaian dengan kecepatan tinggi sehingga bisa melihat secara langsung proses yang terjadi di dalam reaktor kimia tertutup secara 3D dan real time. Jadi fitur utama sistem baru ini mampu melihat obyek yang sedang bergerak di reaktor tertutup secara langsung (online) dan 3D.
Tak hanya itu, generasi kedua ini juga jauh lebih kompak. Jumlah
channelnya bisa diatur hingga tak terbatas dan kemampuannya dalam
melakukan scanning terhadap obyek di dalam ruang sendor (gantry) jauh lebih besar. Kalau gengerai pertama hanya mampu melakukan scanning terhadap sebagian kecil dari reaktor, generasi kedua bisa melakukannya secara keseluruhan sekaligus.
Pada dasarnya, peralatannya pun masih sama dengan ECVT generasi
pertama. Antara lain, sistem sensornya masih sama, hanya desain
hardwarenya yang jauh lebih kompak dan portable. Selain itu
pemindainya memakai sistem yang disebut programmable multi-stage
scanning, sehingga bisa melakukan scanning terhadap reaktor yang besar dan panjang dengan bentuk bermacam macam sekaligus.
Pada sisi perangkat lunak, generasi kedua mempunyai fitur baru yang
disebut velocity mapping. Perangkat ini semacam tracking terhadap
gerakan sebuah obyek, misalnya partikel di dalam reaktor lengkap
dengan distribusi kecepatannya.
Selama ini, semua proses hanya bisa diperoleh dengan simulasi
komputer.Kini partikel ukuran nano, fluida, zat kimia, hingga jaringan
tubuh manusia dan lapisan tanah bisa dipindai dengan teknologi yang
diproses dari sebuah ruko di Tangerang, Provinsi Banten.

DR. Warsito, M.Eng adalah salah satu dari “ 50 Tokoh” Revolusi Kaum
Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi
majalah Tempo (Edisi Khusus AKhir Tahun 2006) dan juga terpilih
menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” versi
Majalah Gatra (Mei, 2008).

Di dunia akademisi internasional, beliau dikenal sebagai pioneer dalam
teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai (scanning)
berbagai macam obyek dari tubuh manusia, proses kimia, industri
perminyakan, reactor nuklir hingga perut bumi. Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi ini diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi diberbagai bidang dari energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.

Saat ini Warsito sedang membangun sebuah institusi riset swasta
pertama di Indonesia untuk mengembangkan teknologi tomografi
volumetric untuk berbagai aplikasi. Meskipun masih berskala kecil,
institusi yang dibangunnya mempunyai reputasi tinggi di dunia dan
telah mampu menjalin kerja sama riset dengan lembga riset dan
universitas kelas dunia seperti Ohio State University (OH, AS),
National Natural Scince Laboratory of Japan (RIKEN, Japan), Nanyang
Technology University (Singapore) dan Universiti Kebangsaan Malaysia
(Malaysia). Produk dari institusinya telah dipakai di berbagai
institusi dunia termasuk Ohio State University (AS), Cambrige
University (UK), B&W Company (OH, AS) dan Morgantown National
Laboratory (Dept. of Energy, WA, AS). Institusi yang dibangunnya juga
telah menjadi standar bagi teknologi tomografi volumetric dan yang
berkaitan yang dikembangkan di seluruh dunia dan dipublikasikan di dua jurnal internasional terkemuka yaitu Measurement Science and
Technology (UK) dan IEE Sensors Journal (AS). Lembaga penelitian yang
juga memberikan beasiswa dan bimbingan penelitian bagi mahasiswa
Indonesia dari seluruh tanah air untuk menyelesaikan tugas akhir
dengan pembinaan riset kelas dunia bekerja sama dengan lembaga-lembaga riset dunia yang terikat dalam kerjasama penelitian.

Di bidang keorganisasian, Warsito adalah salah satu pendiri dan saat
ini ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).
Selama menjabat sebagai ketua umum MITI sejak tahun 2005, Warsito
telah membangun jaringan MITI di seluruh Indonesia dan luar negeri
terutama MITI-Mahasiswa di kurang lebih 50 kampus di 26 Propinsi di
seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI adalah
meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa
Indonesia, serta membantu pengembangan SDM mahasiswa Indonesia melalui program pengiriman mahasiswa Indonesia untuk belajar ke luar negeri.
Tahun 2007 MITI telah bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan
Kebudayaan KBRI di Riyadh berhasil mengirim mahasiswa untuk program belajar S2 dan S3 sebanyak 51 orang atas beasiswa dari pemerintah Saudi Arabia. Saat ini MITI juga sedang membangun kelompok-kelompok belajar dan riset bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh pelosok tanah air untuk membudayakan riset ilmiah dan mendorong segera terwujudnya universitas riset di universitas-universitas seluruh Indonesia. Selain di MITI, Warsito juga aktif sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Komisi Kebijakan Publik yang salah satunya bertanggung jawab langsung dalam merancang dan menyusun Platform Pembangunan PKS Bidang Perekonomian. Ekonomi adalah bidang
kedua yang digeluti Warsito sejak tahun 1994 secara otodidak.

Di sela-sela kunjungannya pekan lalu ke Riyadh dalam rangka merintis
sebuah kerjasama riset dengan King Saud University, pks-arabsaudi.org
berhasil mewawancarai beliau. Berikut hasil wawancara tersebut:

Bisa diceritakan latar belakang kehidupan Bapak? Di antaranya kota
asal, kelahiran, keluarga, dan pengalaman kecil lainnya?

Saya lahir di Solo, Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 16 Mei 1967.
Daerah saya dekat dengan Mantan Bapak Presiden Soeharto dan Ibu Tien. Saya lahir dari keluarga petani, anak keenam dari 8 bersaudara. Saya menempuh pendidikan dari SD Sampai SMA di Karanganyar Solo. Setelah selesai dari SMAN 1 Karanganyar, Solo pada tahun 1986, saya
melanjutkan ke UGM selama satu bulan. Saya berhenti dari UGM karena
mendapatkan beasiswa ke Jepang. S-1 saya tempuh di Tokyo international Japanese School, Tokyo tamat tahun 1988. Kemudian lanjut ke S-2 di Shizouka University, B. Eng, Chemical Engineering, Lulus tahun 1992.
Masih di Universitas yang sama, Shizouka University, M.Eng, lulus
tahun 1994. Dan S-3 di Shizouka University, Ph.D Electronic Science
and Technology, Lulus tahun 1997. Saya menjadi staf peneliti (riset) 2
tahun dan asisten dosen 2 tahun di universitas bersangkutan. Setelah
menyelesaikan S-3, saya menghadiri suatu comfrence di Belanda dan
bertemu dengan seorang proffesor dari Amerika dan kemudian diajak
untuk melakukan riset di Amerika. Penelitian juga tentang tomografi
volumetrik. 2003, penelitian selesai di Indonesia dan merupakan bidang
yang pertama di dunia karena kemampuan memperoleh objek yang 4
dimensi. Saya pulang ke Indonesia dan menjadi ketua MITI (Masyarakat
Ilmuwan dan Teknologi Indonesia).

Bagaimana tentang keluarga Bapak saat ini?

Saya memiliki 4 orang anak, semuanya laki-laki. Anak yang pertama
lahir di Jepang, umurnya sekarang 16 tahun. Yang kedua lahir di
Indonesia, yang ketiga di Jepang dan yang terakhir lahir di Indonesia.

Bagaimana karir pekerjaan Bapak selepas menyelesaikan pendidikan?

Pemilihan karier sebagai peneliti ditempuh dengan pemikiran yang cukup mendalam. Hal ini terjadi setelah lulus studi S3 karena butuh waktu untuk menentukan posisi yang tersedia (berkarir di akademis atau peneliti yang tidak terikat). Alasannya adalah riset ini merupakan
yang pertama atau pionir di dunia sehingga tidak ada tempat yang
sesuai untuk menampung.

Setelah pulang ke Indonesia, saya menjadi ketua MITI (Masyarakat dan
Ilmuwan Teknologi Indonesia) pada tahun 2005. MITI Berdiri tahun 2004
dan dipercaya menjadi ketua MITI tahun 2005. Tujuannya untuk
meningkatkan daya mampu kemampuan riset mahasiswa Indonesia dengan membangun jejaring (Networking). Mengembalikan mahasiswa pada core competence-nya. Disamping itu, di tahun 2007 saya mendirikan institusi riset dalam ilmu tomografi yang diberi nama Edwar Technology. Sebenarnya, saya mulai riset tentang tomografi sudah mulai 1991. Pada waktu itu teknologinya tidak disebut dengan tomografi, namun suatu riset yang digunakan untuk menembus pandang sebuah objek. Target pertama dari penelitian tomografi ini diharapkan dapat dikembangkan pada dunia kedokteran. Teknologi untuk diagnosa yang murah dan aman (scanner 4 dimensi untuk ibu hamil yang merupakan update dari USG). Scanner ini adalah proyek yang dimulai tahun ini dan diharapkan sampai 3 tahun kedepan sudah bisa dipergunakan hingga puskesmas. Target kedua dari research tomografi adalah dapat mendiagnosa penyakit seperti kanker, teknologi ini diharapkan dapat menggantikan PET. Sedangkan target pengembangan ke 3 adalah untuk penggunaan sekuriti scanning
(Body scanning). Di Saudi Arabia sendiri, kami dipercaya untuk
mengembangkan riset center KSU (PSATRI) yang diharapkan dapat
memperoleh pengakuan dunia. Salah satu upaya dari MITI sendiri adalah dengan mengirim mahasiswa Indonesia untuk belajar ke KSU. Di MITI juga dapat membuka peluang mahasiswa untuk belajar ke luar negeri dengan beasiswa untuk top 20%. Program lainnya dari MITI adalah program aplikasi tepat guna pada para mahasiswa Indonesia dengan beberapa kegiatan seperti lomba inovasi dan lomba penelitian.

Bisa diceritakan lebih jauh tentang ECVT (Electrical Capacitance
Volume Tomography) yang menjadi temuan Bapak?

Tomografi adalah teknologi untuk menembus dalam sebuah objek. Pada
waktu di Ohio State University, muncul ide untuk tomografi volumetric.
Saya sering bolak balik Amerika Indonesia untuk menyelesaikan research mengenai tomografi volumetric ini. Maka pada tahun 2003 dan
setelahnya, selesailah teknologi itu di Indonesia, yang disebut tomografi volume.

Kalau tomografi konvensional, yang dilihat adalah penampangnya.
Sedangkan tomografi volumetric, tidak hanya melihat penampang,
melainkan volumenya juga secara keseluruhan. Hal ini diibaratkan,
kalau kita ingin melihat objek manusia, maka akan seperti melihat air
dalam gelas. CD-Scan hanya terbatas kepada 128 penampang yg bisa
dilihat, sedangkan tomografi volumetric bisa tak terhingga, bisa
continuous, bisa didalam kecepatan tinggi, dan real time.

Dalam waktu dekat akan dikembangkan aplikasi di berbagai bidang,
misalnya untuk kesehatan. Adapun sifat yang digunakan adalah radiasi
atau tegangan tinggi. Tantangannya adalah diharapkan ada scanning
untuk tubuh manusia yang murah dan aman. Akan membuat scanner 4
dimensi di Puskesmas-Puskesmas untuk ibu hamil, untuk rumah sakit
menengah ke bawah. Akan memproduksi scanner 4 dimensi, bs melihat bayi didalam kandungan secara keseluruhan. Yg ada sekarang hanya melihat sebagian saja (4 dimensi yg sebagian kecil saja), misalnya bagian kepala saja. Proyek ini sudah dimulai tahun ini, dan semoga 5 tahun ke depan bisa tercapai seluruhnya. Target kami adalah 100 rumah sakit menengah ke bawah. Adapun Untuk rumah sakit menengah ke atas, maka bisa menggunakan resolusi tinggi.

Saya sangat optimis, teknologi tomografi volumetric ini bisa
menggantikan PET (Positron emission tomography). Bisa melihat mana
jaringan yang sakit dan yang tidak sakit dalam tubuh. Dan teknologi
tomografi inilah yang paling dekat, dan paling mungkin untuk menggantikan PET.

Di KSU (King Saud University) akan memulai menerapkan teknologi ini,
yaitu di Riyadh Technology Incubation Center dan Psatri (Prince Sultan
Advance Technology Research Institute). Karena dua lembaga riset ini
ingin mendapatkan reputasi di dunia sesegera mungkin. Untuk tahun
pertama, akan memulai untuk membangun aplikasi dalam bidang industry dan akan memulai dengan membangun lab untuk aplikasi reaktor.

Apakah Bapak tidak khawatir dengan institusi swasta yang bapak bangun, dalam hal ini Edwar Technology?

Swasta itu memang berat, tetapi akan selalu dicari jalannya untuk
menyelesaikan berbagai permasalahan terutama mengenai dana. Selama inikan kita melihat melihat dunia penelitian itu dunia cost, research center berarti cost center. Nah, di sini kita ubah dengan sebuah
research center yang visinya yang dibangun tidak seperti itu. Karena
bisnis yang paling bersaing ke depan adalah bisnis teknologi. Dengan
pertimbangan yg cukup rasional, insya Allah akan survive di Indonesia.
Bisa membiayai sendiri semua research serta mendapatkan profit.
Investasi yg dilakukan sederhana saja, kita mulai dari apa yang kita
bisa. Kalau berani melakukannya, maka kita akan bisa.