Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Friday, 5 August 2011

Bisakah orang Indonesia meraih Nobel?


"Tentukan bidang apa yang ingin anda pelajari. Seketika anda menemukannya, pelajarilah sebanyak yang anda bisa." (Robert Huber)


Kemarin ada kuliah umum
IA-ITB Lecture Road to Nobel Prize, bersama Prof. Robert Hubber (peraih nobel Kimia). Temanya sangat menarik “Peluang Indonesia Meraih Nobel”. Tema ini merupakan tantangan yang nyata, relevan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-66 di bulan Agustus ini. Harapannya, acara ini dapat memotivasi kita agar bekerja keras untuk mengembangkan sains dan teknologi. Semoga suatu saat akan lahir Nobel laureate dari Indonesia.

Berikut merupakan beberapa point yang bisa kita renungi dari pidato Menristek (Suharna Surapranata) di acara ini:

“Bisakah orang Indonesia meraih hadiah Nobel?”

Pertanyaan ini mirip judul buku yang sedikit provokatif yang ditulis Kishore Mahbubani, Can Asians think?
Pertanyaan ini memang terasa merendahkan bagi bangsa-bangsa Asia dan dunia ketiga termasuk Indonesia. Mahbubani sendiri adalah orang Asia. Tetapi paparannya akan membuat orang Asia dan semua orang berpikir lebih baik.
Pertanyaan yang sama pantas ditujukan kepada kita bangsa Indonesia yang tengah membangun dalam segala bidang. "Bisakah orang Indonesia berpikir?" Rasanya terlalu ketus untuk judul tulisan ini.

Berpikir menyelesaikan soal ujian akan sangat berbeda dengan proses berpikir dalam arti sesungguhnya untuk menyelesaikan persoalan hidup. Mental seperti ini hanya akan tumbuh dari didikan alam untuk mandiri dalam menghadapi segala macam tantangan hidup sejak seseorang masih kecil. Budaya berpikir ilmiah adalah budaya hidup mandiri. Orang yang tidak terbiasa mandiri akan cenderung menempuh jalan short cut. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa "disuapi" dengan layanan baik dari orang lain maupun dari alam di mana dia tinggal.

Langkah pertama untuk meraih hadiah Nobel adalah memang berpikir yang benar. Apabila kita tidak bisa berpikir dengan benar, janganlah kita bermimpi untuk bisa meraih suatu penghargaan, apalagi meraih hadiah Nobel.

Aktivitas riset untuk menghasilkan sesuatu yang berarti, apalagi agar bisa meraih hadiah Nobel, hasil riset tersebut harus memiliki pengaruh yang nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi kita, sekecil apapun pengaruh itu.

Pertama, Sebuah invensi yang baik biasanya berasal dari sebuah serendipitas dan keuletan dalam menekuni proses berpikir ilmiah untuk menyelesaikan persoalan dalam dunia nyata. Kata serendipitas berasal dari kata bahasa Inggris serendipity yang berarti mental atau karakter yang bisa merasakan "kenikmatan" yang tidak ternilai harganya saat melakukan penemuan yang tidak terduga-duga. Kenikmatan seperti ini hanya dirasakan oleh orang yang menjadikan hidupnya senantiasa penuh dengan aktifitas berpikir (learning) dan dzikir (reasoning).

Orang yang mempunyai jiwa serendipitas adalah orang menjadikan laboratorium (lab) sebagai hidupnya dan hidupnya adalah lab. Lab adalah ajang berpikir dengan segala bentuk dan kondisi fisiknya, tidak terbatas pada lab dalam arti yang sebenarnya.

Seperti yang dikatakan Newton: “Cara terbaik untuk menjadi seorang ilmuwan yang baik, anda harus berpikir tentang itu sepanjang waktu, baik di waktu anda bangun maupun di waktu anda tidur.”

Sebuah penemuan yang baik pasti berasal dari sebuah budaya berpikir yang baik.
Kita harus membangun sebuah lingkungan untuk menumbuh suburkan budaya riset di masyarakat kita. Kompetisi dan forum-forum ilmiah adalah kesempatan yang baik untuk membangun lingkungan seperti itu. Para ilmuwan atau peneliti biasanya lebih termotivasi dengan berkompetisi dan lebih terinspirasi dengan saling bertukar pendapat di dalam forum ilmiah. Karena itu kita harus mendorong agar para ilmuwan dan peneliti kita bisa berpartisipasi sebanyak mungkin dalam acara-acara ilmiah internasional.

Kedua adalah dampak sosial dan ekonomi dari sebuah penemuan atau invensi. Di sini ditekankanpada pemanfaatan atau pendayagunaan sebuah penemuan. Ada proses yang panjang antara sebuah penemuan sampai munculnya impak ekonomi dan sosial dari penemuan tersebut.

Proses ini meliputi proof-of-concept atau uji kelayakan di tingkat laboratorium, komersialisasi sampai akhirnya terjadi adopsi yang meluas terhadap hasil penemuan itu.

Akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dihasilkannya sebuah produk komersial dari sebuah penemuan, dan bahkan mungkin akan memerlukan puluhan tahun lagi agar produk itu memiliki impact secara sosial dan ekonomi. Saat itulah, sebuah invensi berubah menjadi sebuah inovasi.

Agar sebuah penelitian menghasilkan impact sosial dan ekonomi, maka penelitian itu harus menjawab sesuatu. Penelitian itu harus memberikan kontribusi kepada pemecahan masalah, apakah itu permasalahan ilmiah ataupun permasalahan nyata di masyarakat atau di dalam sebuah proses ekonomi.

Untuk menjamin tersedianya solusi ilmiah dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita, maka harus ada upaya yang berkesinambungan dalam aktivitas penelitian dan pengembangan. Upaya yang kontinyu dan berkesinambungan ini akan membangun sebuah akumulasi pengetahuan dan know-how yang akan mengantarkan kita kepada solusi substantif dari permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Sebuah break-through atau penemuan besar yang dapat menyelesaikan permasalahan besar, sehingga layak untuk mendapatkan hadiah Nobel, hanya akan muncul dari pengetahuan dan know-how yang terakumulasi.

Karena itulah, upaya kontinyu dan berkesinambungan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, harus tersambung dengan upaya kita untuk mendayagunakan pengetahuan dan know-how yang kita miliki. Apabila pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ilmiah itu tidak didayagunakan, maka semua upaya penelitian kita tidak akan berkesinambungan.
Pemecahan masalah muncul dari inovasi, dan apa yang tidak didayagunakan bukanlah sebuah inovasi, jadi tidak memberikan solusi apa-apa.

Meniti karir ilmiah, khusunya untuk peneliti muda dan cemerlang, di negara berkembang seperti Indonesia, tidaklah mudah. Dituntut motivasi, disiplin dan komitmen profesional yang kuat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ilmuwan muda Indonesia sama pandainya, sama bersemangatnya, juga tentu sama kreatif dan inovatifnya dengan ilmuwan-ilmuwan di luar negeri.

Terutama di era informasi global seperti sekarang ini, kita mengenal perumpamaan the world is flat. Seorang mahasiswa di sini dapat memiliki kesempatan yang sama dengan rekannya di belahan dunia mana pun, untuk dapat mengakses ilmu pengetahuan global yang diperlukannya untuk meniti karir ilmiahnya. Karena itu, akumulasi pengetahuan seharusnya tidak dibatasi kepada akumulasi di dalam sebuah individu atau sebuah masyarakat atau perusahaan yang tertutup.

Akumulasi pengetahuan dapat terjadi melalui jaringan pengetahuan global. Dunia kita hari ini sudah lebih terbuka daripada sebelum-sebelumnya. Setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan global yang sudah terakumulasi oleh ummat manusia selama berabad-abad, dan setiap dari kita dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan kita masing-masing.

Apa yang diperlukan adalah komunikasi, pembangunan jaringan dan kolaborasi, untuk menutup jurang pemisah ilmu pengetahuan dan untuk menjembatani keterpisahan informasi, hal yang sudah menjadi lebih biasa sekarang ini daripada di masa lampau, dikarenakan kemajuan teknologi komunikasi global.

Ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia memiliki kesempatan yang lebih banyak sekarang ini untuk dapat berpartisipasi langsung dalam berbagai aktivitas penelitian kelas dunia, meskipun mereka berada di Indonesia. Jadi bukanlah sebuah angan-angan muluk bagi seorang ilmuwan Indonesia untuk bisa menjalankan sebuah penelitian yang layak mendapatkan hadiah Nobel. Tentu kita mengharapkan hal ini suatu saat akan betul-betul terjadi.

*and the answer has been answered*
Untuk isi ceramahnya Prof. Robert Huber, masih menunggu postingan dari @winiwin

Referensi: ristek

Monday, 4 July 2011

Strawberry Motivation

catatan kecil (oleh-oleh acara Strawberry 2011).
Spititual motivation training by Ust. Nanang Mubarok

karena daku datengnya telat, alias setengah jam sebelum acara berakhir, jadinya cuma dikit aja yang didapat 

Sikapmu bagaikan aroma hatimu 

 Tahapan perkembangan diri :

  • Survive : berjalan menunduk, lambat, tidak percaya diri.
  • Stabil : berjalan ke depan, tanpa terangkat sebelah.
  • Sukses : berjalan mantap ke depan, kedua tangan bergerak.
  • Signifikan : mengajak dan membina orang lain menuju sukses di atas sukses.

Orang yang hanya hidup untuk survive tidak akan mengalami sesuatu yang lebih di dalamnya. Dari pagi hingga petang, hidup hanya untuk mengejar sesuap nasi. 
Banyak orang mengejar sukses, mengejar kekayaan, mengejar nama dll. 
Tapi banyak orang sukses yang merasa suksess saja tidak cukup. Mereka mau hidup yang lebih berarti, bermakna bagi orang lain. Itu yang dinamakan signifikan, yaitu hidup yang membawa arti kepada orang lain. Hidup yang mau membawa perubahan, hidup yang memiliki tujuan. 

 *so, kita harus meraih signifikan, bukan hanya sukses. Signifikan untuk diri sendiri juga untuk orang lain*


Untuk meraih signifikan kita harus punya:
1. Tujuan --> harus punya tujuan yang jelas, agar fokus, tidak terombang-ambing dan mudah terpengaruh.
2. Perencanaan --> planning yang baik, strategi, rekomendasi, dll
3. Mentor --> yang membimbing, evaluasi bersama, sharing, sumber ilmu, dll
4. Mengetahui talenta dan bakat --> agar bisa fokus mengembangkannya
5. Keyakinan kepada Allah --> Allah maha kuasa atas segala sesuatu, yakin bisa pasti bisa.

 insight... be the best

B = break the limit --> tidak membatasi diri untuk bermimpi, meski keadaan tidak mendukung tapi kita harus punya mimpi dan harapan. karena tidak ada orang yang bisa hidup sedetikpun tanpa harapan.
E = enthusiastic --> antusias, semangat, tidak boleh kehilangan harapan, selalu berada jadi yang terdepan dalam kebaikan.
S = sincerity --> ketulusan
T = thoughness --> kegigihan. Selalu berusaha dengan segenap potensi kita meraih mimpi.

anyway, ngikutin motivation training ini sebentar aja kerasa banget "nendang" nya 
jadi menyesal dateng telat, hiks..

Monday, 27 June 2011

Membebaskan Diri dari "Mental Block"


Dua bulan berada dalam kungkungan rutinitas kantor, bikin saya jenuh yang amat sangat. Bahkan tadi ketika memasuki gerbang kantor, secara refleks terlontar kata-kata: Saatnya berjuang, berjuang tuk membunuh rasa bosan dan jenuh

Ya, dua bulan ini aktivitas saya di gedung ini cuma berhubungan dengan berkas-berkas, berhadapan dengan kompi yang setia membawaku menjelajah dunia, jurnal-jurnal, dan sebagainya... hooo.... sungguh daku kangen ngelab

Baca-baca tulisan di dunia maya, nemuin artikel yang bagus banget. Pas banget nih buat di-sharing. Sumbernya dari kompas.


Membebaskan Diri dari "Mental Block"

Sekelompok eksekutif di divisi penjualan pada sebuah perusahaan dengan nama besar mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk bersaing, survive, dan menembus pasar. Tim yang menjadi ujung tombak untuk mencetak profit ini pun ketar-ketir dengan masa depan perusahaan. Kompetitor yang begitu agresif dengan berbagai terobosan telah merebut pasar mereka. Kini, mereka seakan tertampar karena menyadari selama ini alpa mendorong kreativitas sebagai sumber energi di dalam tim dan organisasi. Kita lihat, bukan lagi perlombaan modal yang kita hadapi sekarang, melainkan perlombaan kreativitaslah yang akan menentukan siapa yang melesat ke depan.

Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan business as usual. Istilah think out of the box bahkan sudah tidak relevan lagi karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy.

Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "kotak" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan kerangka pikir lama? Cepat atau lambat, semua keterikatan, peraturan, atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, perlu ditinjau kembali, dan diperbarui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang harus setiap saat berpikir beda?

Sadar tidak sadar, kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, melainkan kita justru kerap menerima bahwa kita sudah terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi, dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya kita mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, "Mungkin saya memang tidak kreatif...."

Terobosan, pembaruan, dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreativitas yang istimewa. Secepatnya, kita harus segera berpikir bahwa box yang kita rasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Di saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti, dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.

Berpikir = saat bergembira
Kita sering merasa sudah menggunakan daya pikir kita secara all out, apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita merasa stres dan lelah. Seorang teman berkomentar, "Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"

Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah, anggapan bahwa "berpikir" adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir. Sementara, ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, "The brain is a wonderful organ. It starts the moment you get up and doesn’t stop until you get into the office."

Marilah kita memerhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang pintar, logis, ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan, tidak membuatnya stres, bahkan membuatnya bahagia.

Bagaimana dengan kita dalam situasi kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat kita memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha se-rasional mungkin? Kita pun kerap membatasi berpikir hanya di saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi, kita sering menginstruksikan diri kita untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, dan perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa mental block sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah memblok mental, tentunya akan mati langkah.

Asik berpikir dan mengamati
Seorang teman mengatakan bahwa saat sekarang orang sudah tidak perlu susah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua informasi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan pada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila kita sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan, apa bedanya kita dengan orang yang hidup di era 30 tahun yang lalu?

Seorang teman selalu berkeyakinan bahwa solusi tidak datang begitu saja. Itu sebabnya dia piawai dalam proses mencari jalan keluar. Ia terbiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong, dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak ia ketahui. Ia pun terbiasa menikmati film, memerhatikan gambar, bahkan menunda rapat untuk "mengendapkan" masalahnya semalaman.

Banyak tokoh yang kita kenal luas dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan ke mana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung, dan matanya tajam-tajam, dan menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membaca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?

Hiiiii.... jangan sampai deh, aturan-aturan kantor menghambat kreativitas kita

Sunday, 22 May 2011

Belajar Kebaikan dari (almh) Ustadzah. Yoyoh Yusroh


Masih seperti mimpi...


Berita duka yang kuterima sabtu selepas subuh kemarin, seperti mimpi, karena begitu cepat terjadi. Bahkan seorang teman bertanya heran, tentang kebenarannya. Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. Perasaanku, sama dengan yang ia alami. Hampir tidak percaya...

Tapi begitulah kematian... ia datang tanpa ada yang bisa mengiranya. Sebuah kepastian yang mengingatkan kita, bahwa setiap manusia pasti akan merasakan mati.


Banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Banyak semangat yang telah ditransfer darinya. Banyak kebaikan yang telah diinspirasikan olehnya.... meski lebih banyak lagi palajaran, semangat dan kebaikan yang belum kita serap... marilah sejenak kita mengenang kebaikan beliau, kebaikan dan hanya kebaikanlah yang layak untuk dikenang dari setiap insan. Mari belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh.

*Pertama: Teladan Fisik yang Kuat dan Komitmen dalam menjaga kesehatan*

Aktifitas dakwah membutuhkan energi yang luar biasa. Ini yang disadari oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, maka beliau punya komitmen yang sangat tinggi dalam menjaga kesehatan, dan juga mengingatkan kader dakwah yang lain agar peduli kesehatan. Afifah Afra menuliskan kenangannya bersama ustadzah Yoyoh Yusroh dalam suatu kesempatan memberikan tausiah di depan para muslimah Semarang. Beliau sangat menganjurkan para muslimah untuk menjaga kesehatan. Menekankan untuk mengkonsumsi banyak sayur dan buah-buahan, serta meninggalkan segala jenis makanan instan yang berpengawet. Lebih tegas ustadzah Yoyoh Yusroh menjelaskan: “Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib.”

Komitmen beliau yang tinggi ini pun bisa dengan mudah dibuktikan di depan mata. Melahirkan 13 putra dan putri tentu dibutuhkan penjagaan fisik yang luar biasa, belum ditambahi aktifitas dakwah dan kegiatan yang sangat padat. Beliau mampu melewati hari-hari sibuknya dengan stamina yang kuat. Saat ditanya seorang akhwat tentang resep fitnya, beliau mengingatkan untuk jangan lupa mengonsumsi habbatussauda dan madu.

*Kedua: Kesabaran Luar Biasa*

Melahirkan, merawat dan membesarkan 13 orang anak adalah hal luar biasa yang mutlak membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Betapa banyak kader dakwah yang hari ini mengumbar keluhkesah dan berteriak kerepotan, sementara mereka baru dikarunia satu dua anak, dengan amanah dakwah yang tak seberapa. Kegiatan beliau yang begitu padat tentulah membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga beliau adalah contoh kesabaran seorang ummahat, karena beliau seringkali diminta –terkadang bersama suaminya- untuk mengisi talkshow dan seminar dengan teman keluarga islami. Beliau berpesan tentang kunci sukses membina rumah tangga: Dalam membina rumah tangga, yang penting prinsipnya saling memberi. Tidak ada yang superordinat atau subordinat antara laki-laki dan wanita. Sejak awal menikah komitmen itu harus ada. Laki dan wanita punya keistimewaan.” Banyak lagi pesan dan petuah beliau tentang rumah tangga, yang sungguh telah dibuktikan sejak awal dalam kesabaran beliau mengarungi rumah tangga. Sekali lagi, dengan 13 orang anak!

*Ketiga: Aktif Bergerak *

Ustadzah Yoyoh Yusroh juga menjadi teladan akhwat muslimah dalam kiprah bagi dakwah dan masyarakat. Amanah beliau yang begitu banyak senantiasa beliau tuntaskan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya dalam konteks internal partai atau dalam negeri, namun juga tampil aktif dalam organisasi internasional bahkan perjuangan internasional membela Palestina. Beliau memimpin rombongan Viva Palestina yang dikoordinir oleh Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP), dan melalui perjuangan berat akhirnya mampu menembus Gaza dengan dikawal barisan panser tentara Mesir. Kiprah beliau yang sangat padat bisa dilihat dari rentetan tugas dan penghargaan yang beliau dapat. Selain di DPR beliau juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI (Tahun 2005-2010), bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia. Tak hanya itu, sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama RI tahun 2001. Sebuah gambaran sekaligus teladan, seorang ummahat yang sukses meramu antara ranah domestik
dengan pengabdian kemasyarakatan.

*Keempat: Ruhiyah Tinggi*

Aktivitas dakwah dan kemasyarakatan yang begitu padat akan sangat melelahkan tanpa siraman ruhiyah yang teratur dan pada porsi yang istimewa. Ustadzah Yoyoh Yusroh tahu dan meyakini dengan pasti hal tersebut. Karenanya beliau senantiasa menghiasi hari-hari padat aktifitasnya dengan charger ruhiyah yang terus dijaga dan ditingkatkan. Tilawah dan mengulang hafalan Quran adalah rutinitas harian yang tak terlewatkan. Salim A Fillah pernah mendapati beliau bersama suami tengah asyik mengulang hafalan berdua, bergantian menyimak dan membenarkan. Secara khusus, beliau senantiasa menyelesaikan tilawah tiga juz setiap harinya. Tentu sebuah capaian yang luar biasa, yang barangkali tak terbayangkan dalam benak banyak kader yang selalu gagal menyelesaikan satu juz tilawah karena alasan kesibukan. Ketika ditanya bagaimana mungkin menyempatkan diri untuk tilawah sebanyak itu dalam setiap harinya, ustadzah Yoyoh Yusroh menjawab dengan yakin dan mantap: “Justru karena sibuk dan banyak hadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka harus memperbanyak Al-Qur’an”. Subhanallah

*Kelima: Penyayang dan Peduli*

Banyak akhwat yang terkesan dengan kesederhanaan dan ketawadhukan beliau, dan lebih dari itu kedekatan personal dan ukhuwah yang dibuktikan dengan langkah nyata. Panggilan bunda dan ummi menandakan tempat khusus di hati para akhwat. Seorang akhwat muda begitu terkesan saat dalam sebuah pertemuan kedua dengan beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh masih mengingat betul nama dan asalnya, serta menanyakan tentang kegiatan dan aktifitas terbarunya. Hal ini jelas menunjukkan kepedulian dan kasih sayang beliau yang tulus kepada para akhwat, tanpa pamrih, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

...tentulah masih banyak teladan kebaikan yang telah ditorehkan oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, coretan singkat ini tak akan pernah mampu mewakili kebaikan dan keteladanan dari sosok daiyah dan mujahidah ini...

M
arilah belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh! Mari belajar memuhasabahi diri atas langkah yang amal yang telah kita torehkan setiap hari...!

Beberapa hari sebelum meninggal, beliau menuliskan SMS berisikan kegelisahan dan muhasabah hatinya kepada seorang akhwat: “ Ya rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak diakhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khadijah Al-Kubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah binti Umar yang dibela oleh Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa-red) dan qawwamahnyaI (rajin tahajud-red) ? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…. ehm 500 juga belum… atau dengan Ummu Sulaim yang shabiroh (penyabar) atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad… atau dengan siapa ya. Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka… sehingga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman firdaus-Mu." Subhanallah... seorang ahlul Qur'an yang visioner...

Dalam sebuah pidato dengan suara yang lembut namun perkasa, beliau menyampaikan kepada kami dengan berapi-api, “Saudara-saudara kita di Palestina, Masih sempat melaksanakan Qiyamullail dan Hafalan Qur’an. Padahal di kanan, Kiri, depan dan belakang Mereka adalah BOM, Ranjau yang sengaja dipasang oleh Zionis laknatullah dan siap meledak kapanpun. Sementara Kita, yang nyaman, enak, damai dan tidak dilanda konflik bersenjata, dengan tanpa merasa bersalah meningalkan TAHAJUD, melupakan hafalan Qur’an dengan dalih yang remeh temeh,  Sibuk Bekerja.”  Sebuah hentakkan yang membuatku malu atas hafalan-hafalanku.. Sebuah hentakkan yang membuatku semangat tuk konsisten menghafal...

“Ya Allah , Ampuni kelalaian kami selama ini......”


Selamat jalan mujahidah tangguh
Selamat jalan ya ahlul Qur'an

“Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima amal Sholihmu dan menempatkanmu di tempat terindah di SisiNya. Amiin."


Sumber: Tulisan Hatta Syamsuddin dengan beberapa perubahan dari saya

Monday, 17 January 2011

Mencari - cari Alasan, Kita, dan Mereka


Menjelang mukhoyyam;

'maaf, saya ada agenda keluarga keluar kota.'
'Apa tidak bisa ditunda?'
'Soalnya besuknya juga ada acara lagi.'
'Tapi ini kan mukhoyam sapu jagad akh?'
'iya, habis gimana ya....'
tetap tidak bisa

kadang2, kita menemukan kondisi diatas... atau saat liqa

'liqa sdh mulai ini. antum dimana?'
kali ini sms
'maaf pak, saya masih kecapekan pulang kerja. izin dulu.'
capek. Bisakah jadi alasan..?

atau saat rapat

'akh, katanya antum kemarin ngga datang saat rapat abis shubuh?
katanya cuma DPC kita yg ngga ada wakilnya?'
'afwan akh, kemarin itu hujan deras abis shubuh. makanya saya ngga bisa berangkat.'
'hujan deras? bukannya antum punya jas hujan?
antum pernah ngga lihat saya ngga adatang karena hujan. bukankah rumah saya lebih jauh dari antum?'
tak ada tanggapan.
Hujan. akankah jadi penghalang...?

soal alasan, kita memang suka mencari-carinya. apalagi kalau murabbi atau pembina mudah ngasih izin dan dari pengalaman tak pernah ada masalah dengan izin tak ada iqab atau amarah dari atas. kitapun menikmati 'izin' yg diberikannya. Tetapi, apakah dihadapan Allah masalahnya juga 'selesai'?

Dalam masalah2 dakwah, tarbiyah, dan akhirat. orang-orang beriman tidak semestinya banyak minta izin. para pendahulu kita, selalu bersedia memenuhi panggilan mereka tidak minta izin.

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa(QS.9:4)

satu kali, datanglah sekumpulan orang islam minta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut
dalam perang tabuk dan Rasulullah mengizinkannya, maka turunlah firman Allah:

Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (QS 9:43)

itulah maksudnya, andaikan pun kita diizinkan dengan alasan kita belum tentu selesai urusan dengan Allah karena IA Maha Tahu apa yg dalam hati kita. apakah kita merasa capek saat hendak berangkat? tiba2 motor mogok? tiba2 anak-anak rewel? tiba2 inget punya PR?

waspadalah, waspadalah! ada kalanya karena dari awal azzam kita kurang kuat. niat kita kurang bulat. maka Allah tidak redho dengan itu, dan dijadikanlah kita golongan yg tertinggal.

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (QS 9:46)

maka jika dari awal kita berniat untuk tidak hadir, biasanya, akan selalu muncul alasan untuk itu. sebabnya bisa jadi, karena Allah tidak menghendaki mereka yg niatnya tidak bulat, azzamnya kurang kuat jika mereka ikut, bisa2 malah menambah masalah.

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. (QS 9:47)

karena itu jika al akh, saya maksudnya, berniat tidak hadir karena alasan:
hujan lah
capek lah
panas lah
habis bensinlah
kendaraan sudah terlanjur dimasukin lah
dll lah

waspadalah, jangan2 memang niat kita dari awal kurang bulat dan Allah tidak suka dengan itu.

tetapi ada yg lebih berat dari itu:
al akh yg tidak (ingin) hadir
dan ia tidak minta izin
ia justru menyampaikan alasan2nya ke al akh yg lain
siapa tahu ada yg mengikutinya ^_^

yg ini ayatnya agak berat
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.


Mereka juga mencari-cari alasan

Para shahabat ra yang mulia, mereka juga mencari-cari alasan saat terbentang sebuah amalan. lihatlah beberpa contoh berikut:

tersebutlah seorang shahabat yg mulia, Abdullah bin Mughfil namanya. saat genderang perang tabuh berkumandang ia ingin ikut berangkat berperang. tapi ia tidak punya bekal
tidak punya senjata, tidak punya binatang tunggangan

beberapa shahabat lain juga bernasib sama, seperti Ulyah bin Yazid ra. tapi mereka semua ingin ikut tetap berangkat ke medan jihad. datanglah mereka menemui Nabi minta perbekalan tapi nabi bilang sudah habis itu perbekalan' merekapun kembali dengan air mata bercucuran sedih tak ikut berangkat.

turunlah firman Allah
dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan[654]. (QS. 9:92)

contoh lain, orang2 miskin di zaman Nabi SAW:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sahabat Muhajirin yang miskin datang kepada Rasulullah saw. dan mengadu: "Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi." Beliau bertanya : "Mengapa demikian?" Mereka menjawab: "Mereka mengerjakan salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka juga bersedekah. Sedangkan kami tidak, serta mereka memerdekakan budak, tetapi kami tidak dapat memerdekakannya." Kemudian beliau bersabda: "Bolehkah aku memberitahu kalian tentang sesuatu yang dapat mengejar mereka, dan kalian akan berada dalam barisan terdepan bagi orang-orang sesudahmu, serta tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukan seperti apa yang kalian lakukan?" Mereka menjawab: "Baiklah, wahai Rasulullah."Beliau menjawab: "Yaitu supaya kalian membaca tasbih (Subhanallah) membaca takbir (Allahu akbar) dan membaca tahmid (Alhamdulillah) setiap selesai salat masing-masing tiga puluh tiga kali". Tetapi, setelah itu sahabat-sahabat Muhajirin yang miskin kembali lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: ""Saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan, kemudian mereka melakukan seperti apa yang kami lakukan." Maka Rasulullah saw. bersabda: "Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki." (HR. Bukhari dan Muslim)

mengapa disebutkan para shahabat diatas mencari2 alasan?

Ya, sebenarnya mereka kekurangan. mereka tak punya senjata, bekal. Mereka miskin, tak bisa berinfaq harta, apatah lg memerdekakan budak. tetapi mereka mencari2 alasan agar bisa berjihad. mereka mencari2 alasan agar menjadi yg terbaik di hadapan Allah.

dan itulah bedanya mencari alasan kita dan mereka:

kita (khususnya saya), dengan segala kelebihan yg kita miliki mencari2 alasan untuk tidak berperan serta dalam kebaikan.

adapun para shahabat, dengan segala kekurangan yg mereka alami mereka mencari2 alasan agar tetap berperan dalam jihad dan dakwah.

maka begitulah, setiap menjelang perang:

shahabat yg masih muda, memakai sepatu berhak tinggi, mereka ingin tampak dewasa dan diikutkan dalam jihad.shahabat yg tua, mereka tunjukkan ahli memanahnya, mereka sampaikan ingin beroleh syahid di jalan-Nya

tetapi ada yg sangat monumental dari itu semua:
kisah wafatnya Abdullah bin Ummi maktum. lelaki buta yg mulia ini, dengan kekurangannya mencari2 alasan biar ikut berperang biar bisa syahid. tetapi khalifahpun punya alasan melarang lelaki buta berbahaya jika ikut berperang. iya kalau yg ditebas adalah musuhnya, bagaimana jika keliru temannya?

tetapi, lelaki buta yg mulia itu selalu punya alasan untuk menggapai cita2 syahidnya dan inilah kisah akhir hayatnya:

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.” Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. ‘Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa’ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pndahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘ Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin.

jikapun harus izin

tetapi apakah selamanya kita dilarang minta izin?
tidak juga. seperti Abdullah bin Mughfil diatas. karena itu jikapun kita minta izin karena uzur, beritahukanlah kepada yg berwenang, dengan cara yg melegakan si penerima kabar:

1. sampaikan sebelum acara
2. kemukakan mengapa anda 'layak' tidak hadir
3. berikan alternatif lain.
4. lihatlah perasaan kita, apa kita nyaman dan menikmati ketidakhadiran ini?

'maaf ustadz, saya tidak bisa hadir. capek'
'afwan, ada urusan keluarga. izin'
'saya lagi lemah iman, saya mundur dari kepanitiaan'

sms2 seperti diatas, bukan melegakan, tapi bisa mendatangkan zhan:
secapek apa sih...?
sepenting apa sih..?
selemah apa sih...?

Ironis memang, tapi cara seperti ini masih agak lumayan ketimbang yg tidak pernah mencari dan menyampaikan alasan ghoib atau keterlambatannya... paling tdk masih ada rasa tanggung jawab terhadap ikhwah dan dakwah. Meski kondisi seperti ini tdk bisa dibenarkan dan dibiarkan merajalela.

seorang pemuda menemui Nabi SAW
'Ya nabi, saya ingin berjihad, tapi ibu saya sakt keras,
mana yg harus saya dahulukan?'

'Ya Nabi, saya ingin ikut perang, tapi saya tidak punya bekal, berilah saya bekal?
'

Abdullah bin Mughfil berkaca dari hal tsb.

jadi kalaupun minta izin, sms lah yg lengkap.
'pak, saya sakit, sudah 2 hari tidak masuk kerja, apa diizinkan?'
tak ada alasan kecuali si penerima sms akan mengizinkan

'pak, ibu saya meminta saya pulang, katanya penting, apa boleh jika saya tidak hadir?'

'tad, saya harus jaga anak2, umminya sakit, bagaimana kalau liqa dipindah di rumah saya saja?'

'tadz, saya harus lembur kerja menddadak, tidak bisa hadir. iqab apa yg perlu saya tunaikan untuk ini?'

seorang ksatria, selalu punya alasan layak untuk disampaikan

Ada juga kabar gembiranya, dalam shahihain, dari Anas ra Rasulullah SAW bersabda:
di Madinah ada sekelompok orang, tidaklah kalian melintasi lembah atau menempuh perjalanan, melainkan ia bersama kalian. Shabat bertanya, sekalipun mereka tetap di Madinah? kata Rasulullah, ya, uzur telah menahan mereka

jika memang kita punya alasan dan alasan itu layak
jika kita menangis saat tidak berangkat seperti Abdullah bin Mughfil
jika kita resah karena ketidakikutsertaan kita

semoga Allah mencatat kita termasuk dalam kafilah yang ikut berangkat serta.
wallahu a'alam

Epilog


yg ghoib karena udzur syar'i (sepanjang prosedurnya dg baik dijalani) pasti merasakan kealfaan diagenda2 tarbawi/da'awi reguler adalah sebuah KERUGIAN...hatinya selalu terpaut kepada ikhwahnya dan agenda yang dia tinggalkan...
Sesungguhnya dia tetap HADIR bersama dakwah dan ikhwah...bersama kerja besar ini...sehingga tdk bernikmat2 ria dg udzurnya.
Dengan begitu dia akan segera mencari, perkembangan apa yg terjadi dg ikhwah dan dakwah saat dia alfa. Dg begitu dia akan akan bersegera untuk kembali ke mahadhin tarbawiyyah dg jiwa, raga dan kalau perlu harta (sbg konvensasi kealfaannya...misalnya). Orang yg ghoib karena udzur syar'i akan cenderung 'kembali'


sumber: [ini] dengan beberapa perubahan.


Thursday, 30 December 2010

Mutiara negeri 5 menara


Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya juga tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkannya dengan doa, uhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing…. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh maha mendengar. (A. Fuadi - Negeri 5 menara)


Buku yang udah lama ada dalam tumpukan waiting list to read-ku. Dulu udah sempet baca sih setengahnya, dan akhirnya (setelah sekian lama berada di tumpukan paling bawah) alhamdulillah selesai juga bacanya. Keren, jadi pengen ikutan belajar di Pondok Madani juga

Biar gak menguap hikmah-hikmah yang didapat dari buku ini, maka saya tuliskan kembali mutiara-mutiara dari buku ini. Semoga bisa menginspirasi teman-teman semua


Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan menuai sukses. 

Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. Allah berfirman, Dia tidk akan mengubah suatu kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan berdoa, tapi berbuatlah, berubahlah, lakukan saat ini. Sekarang juga!

Man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. Jangan  risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup.

Misi yang dimaksud adalah ketika kita melakukan sesuatu hal positif dengan kualitas sangat tinggi dan di saat yang sama menikmati prosesnya. Bila kita merasakan sangat baik melakukan suatu hal dengan usaha minimum, mungkin itu adalah misi hidup yang diberikan Tuhan. Carilah misi hidupmu!

**Dua hal penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses:**
  Going the extra miles = tidak menyerah dengan rata-rata --> lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari orang lain. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai detik 20. Selalu berusaha meninkatkan diri lebih dari orang biasa. Karena itu mari budayakan going the extra miles. Maka kalian akan sukses.
 Tidak pernah mengizinkan diri kita dipengaruhi oleh unsur di luar diri kita. Oleh siapapun, apapun, dan suasana bagaimanapun. Artinya, jangan mau sedih, marah, kecewa, dan takut karena ada faktor luar. Kitalah yang berkuasa terhadap diri kita sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kita punya pilihan, untuk takut atau tetap tegar. Kita punya pilihan di lapisan diri kita paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar.

Pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses.

Ilmu bagaikan nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu, bersihkan hati dan kepala, supaya sinar itu bisa datang, menyentuh, dan menerangi kalbu kita semua.

Kerahkan semua kemampuan belajar kalian! Berikan yang terbaik! Baru setelah segala usaha disempurnakan berdoalah dan bertawakal lah. Tugas kita hanya sampai usaha dan doa, serahkan kepada Tuhan selebihnya, ikhlaskan keputusan kepadaNya sehingga kita tidak akan pernah stres dalam hidup ini. Stres hanya bagi orang yang belum berusaha dan tawakal.

Allahummaftah alaina hikmatan wansur alaina birahmatika ya arhamarrahimin. Tuhan kami, bukakanlah kepada kami hikmah dan bantulah kami dengan rahmatMu, wahai sang Maha Pengasih. 

Inti hidup ini adalah kombinasi niat ikhlas, keja keras, doa dan tawakal. Ikhlaskan semuanya, sehingga tidak ada kepentingan apa-apa selain ibadah. Niatkan hanya demi memberi kebaikan kepada alam raya, seperti yang diamanatkan Tuhan. Kalu tidak ada kepentingan, kan seharusnya kita tidak tegang dan kaget...

Kalau ingin sukses dan berprestasi dalam bidang apapun, maka lakukanlah dengan prinsip “saajtahidu fauqa mustawa al-akhar“, berjuang dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan orang lain.

  Hidup sekali, hiduplah yang berarti...

Syair Imam Syafii ra. :

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu danmerantaulah ke negeri orang.
Merantaulah kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karen diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang takkan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

"Man thalabal ‘ula sahiral layali" siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan maka bekerjalah sampai larut malam.
Dan aku ingin mencari kemuliaan itu....


Monday, 27 December 2010

untuk Timnas: Keajaiban dari final Liga Champion


Bismillah...

Kekalahan Timnas kemarin dalam AFF 2010 melawan Malaysia membuat Indonesia bergelora. Siapa yang tidak geram, Tim yang dibanggakan dari Sabang sampai Merauke yang sudah diprediksikan akan menang pada pertandingan final #1 ini harus menerima kekalahan yang tidak disangka-sangka: 3-0, terlepas adanya insiden YANG SANGAT TIDAK SPORTIF (laser). Sungguh sebuah pukulan telak bagi Timnas yang sebelumnya telah mengalahkan Malaysia 5-1. 

Mental, adalah yang paling penting saat pertandingan ini. Euforia kemenangan Timnas sedikit banyak telah mempengaruhi mental pemain. Pada saat gol 1-0, para pemain mulai kehilangan kepercayaan diri, ditambah lagi tak lama kemudian gol menjadi 2-0, dan 3-0. Pergerakan negatif yang dinamis tersebut mampu membuat mental pemain Timnas down...

Ditanya prediksi siapa yang akan menjadi "winner of AFF 2010", saya pikir jika besok mental pemain masih sama seperti kemarin, saya tidak bisa berharap banyak pada mereka untuk menang. Namun jika mental mereka bagus, kepercayaan diri meningkat dan penuh semangat, bukan mustahil kan gol 5-1 (Indonesia=5, malaysia=1) itu tercipta kembali :)


Mari kita bawa ingatan kita pada drama sepak bola pada final Liga Champion musim 2004/2005 antara kesebelasan AC Milan dan Liverpool. Kedua kesebelasan saat itu secara teknis berada dalam posisi yang seimbang. pada babak pertama, permainan berlangsung berat sebelah. AC Milan langsung mengambil kendali permainan. tidak tanggung-tanggung, 3 gol disarangkan oleh pasukan Carlo Ancelloti ke gawang Liverpool. 45 menit babak pertama usai, para pemain AC Milan menuju kamar ganti dengan penuh gelak tawa, seakan-akan kemenangan sudah menajadi milik mereka.

Hal itu sangat lumrah terjadi. Betapa tidak, dengan defisit 3 gol yang harus dikejar di 45 menit babak kedua, sungguh bukan hal yang mudah. Apalagi lawan yang dihadapi adalah AC Milan, tim yang penuh talenta. Hampir setiap orang, pendukung liverpool sekalipun, berfikir bahwa hanya keajaiban yang mampu mengeluarkan liverpool dan membalikkan keadaan menuju kemenangan. Dan mereka hanya bisa berharap bahwa keajaiban itu bisa terjadi.

Para pemain liverpool berjalan bergegas menuju kamar ganti. Kapten Steven Gerrard terlihat berfikir keras. Pelatih Rafael Benitez di kamar ganti memompa semngat para pemain Liverpool dan mengarahkan strategi berbeda di babak kedua.

Dan apa yang terjadi di lapangan pada babak kedua sungguh luar biasa. Steven Gerrard dengan semangat luar biasa memimpin rekan-rekannya mengejar defisit gol tersebut. akhirnya, dengan kepercayaan yang sangat tinggi, para pemain Liverpool mulai memetik hasilnya. di menit ke-60 tercipta gol pertama Liverpool yang membangkitkan kembali semangat juang para pemain Liverpool. Mereka kemudian bangkit, seakan dengan energi dan kekuatan berlebih. dan anehnya, para pemain AC Milan seakan terkesima dengan keadaan yang ada. tidak tanggung-tanggung, hanya dalam kurun waktu 12 menit, 3 gol balasan diciptakan oleh tim Liverpool. 

Kedudukanpun akhirnya berubah menjadi 3-3, dan meruntuhkan mental para pemain AC Milan. pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu,tetapi tidak ada gol yang tercipta. pada saat pertandingan harus dilakukan dengan adu penalti, kekuatan mental menjadi sangat menentukan. akhirnya, AC Milan yang sudah kalah mental dikalahkan Liverpool melalui tendangan penalti itu. pendukun Liverpool bersorak gembira, sementara pendukung Milan tertundk lesu. Keajaiban itu telah terjadi.

Walau Milan akhirnya memenangkan Liga Champion pada dua tahun berikutnya, drama final itu masih melekat sebagai salah satu pertandingan yang ironis, bagaimana mungkin tim sekelas Milan tidak mampu mempertahankan diri dari kebobolan 3 gol?

Selain drama keajaiban sepak bola pada Liga Champion di atas, ada juga keajaiban pada final Liga Champion 1999 antara Bayern Munchen dan Manchester United, yang dimenangkan oleh MU dengan skor 2-1, dengan 2 gol tercipta pada saat injury time. Kemudian pada final Liga Champion 2007 antara MU dengan Chelsea yang dimenangkan oleh MU karena terpelesetnya John Terry (Spesialis tendangan penalti yang dimiliki Chelsea) lewat adu penalti yang akhirnya tendangan terakhir MU yang berhasil masuk dan penendang Chelsea gagal.

Sesungguhnya kita bisa belajar dari kisah di atas, benang merahnya adalah bahwa keajaiban itu tidak datang dengan sendirinya. Ia datang bersama usaha-usaha yang kita bangun untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan. Keajaban tidak pernah datang dengan tiba-tiba tanpa didahului usaha-usaha yang kita lakukan.

Lihatlah apa yang terjadi pada Liverpool. ketika mengejar ketertinggalan 3 gol dari AC Milan, sang pelatih dan jenderal lapangan tengah Steven Gerrard sangat berperan membangkitkan kembali semangat dan mental bermain dari keseluruhan permain liverpool. Keajaiban dengan melesakkan 3 gol ke gawang Milan mungkin tidak akan terjadi seandainya Gerrard tidak mampu memompa motivasi dan kepercayaan diri rekan-rekannya untuk bangkit dan kembali menyerang Milan. Keajaiban itu memang datang, tetapi didahului dengan usaha dan kerja keras Rafa Benitez dan Gerrard dari tengah lapangan. Tanpa adanya motivasi besar dari keduanya, akan sulit mengangkat moral dan mental bermain dari para pemain Liverpool yang sudah tertinggal dengan defisit gol cukup besar.

Sama dengan apa yang terjadi pada Liga Champion 2007. Saat para pemain MU menyaksikan bola tendangan Ronaldo sebagai penendang terakhir MU tidak masuk, mereka hanya bisa berdoa agar tuhan menurunkan keajaiban bagi mereka. Jika John Terry dari chelsea bisa memasukkan bola, chelsea akan merebut gelar. Tetapi jika Terry gagal menyarangkan bola, masih ada peluang MU untuk meraih gelar. Akhirnya, MU memang memenangkan pertarungan tersebut.

Disini keajaiban memang terjadi, tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa pemain sekelas John Terry bisa melakukan kesalahan fatal pada saat dibutuhkan. Spesialis tendangan penalti itupun cuma bisa tertunduk lesu menangisi kegagalan tendangannya. Sementara itu bagi MU, ini merupakan berkah sekaligus keajaiban karena  penendang penalti selanjutnya berhasil memasukkan bola ke gawang Chelsea.

Belajar dari drama sepak bola tersebut, terinspirasi dari buku Man Jadda Wajada;
Al-Jaddu bil jiddi wwal hirmanu bil kasali, fanshab tushib an qariibin ghayatal-'amali.
artinya: "Rejeki didapatkan dengan kerja keras,  dan kemiskinan didapatkan karena kemalasan. Maka bekerja keraslah, niscaya engkau akan dapatkan apa yang engkau cita-citakan."

Ya, keajaiban tidak pernah datang jika kita tidak meminta, jika kita tidak berusaha. Keajaiban itu terjadi karena kita tidak berpasrah diri dengan apa yang sudah terjadi. karena itulah, jangan jauh-jauh mengharapkan datangnya keajaiban, coz the miracle is you! Jangan cari keajaiban dari mana-mana. carilah dari dalam dirimu. Dalam dirimu terpaku berbagai potensi yang memungkinkan engkau meledakkan potensi tersebut untuk kemajuan di masa datang.

Kita harus selalu optimis bahwa keajaiban itu akan datang pada diri kita. Keajaiban akan datang saat kita dengan sekuat tenaga mengeluarkan segala potensi yang kita miliki tuk menyelesaikan suatu pekerjaan.

for Timnas,,,
Jangan pernah berputus asa.
Jangan juga berhenti berharap akan datangnya keajaiban.
Berdoa dan berusaha
dan pastikan The miracle is you!



"garuda di dadaku, garuda kebanggaanku. kuyakin kali ini pasti menang!"









*Selamat Bertanding 29 Desember 2010*
semoga bisa menorehkan the success story di AFF 2010 ini v(^_^)