Monday, 27 June 2011

Membebaskan Diri dari "Mental Block"


Dua bulan berada dalam kungkungan rutinitas kantor, bikin saya jenuh yang amat sangat. Bahkan tadi ketika memasuki gerbang kantor, secara refleks terlontar kata-kata: Saatnya berjuang, berjuang tuk membunuh rasa bosan dan jenuh

Ya, dua bulan ini aktivitas saya di gedung ini cuma berhubungan dengan berkas-berkas, berhadapan dengan kompi yang setia membawaku menjelajah dunia, jurnal-jurnal, dan sebagainya... hooo.... sungguh daku kangen ngelab

Baca-baca tulisan di dunia maya, nemuin artikel yang bagus banget. Pas banget nih buat di-sharing. Sumbernya dari kompas.


Membebaskan Diri dari "Mental Block"

Sekelompok eksekutif di divisi penjualan pada sebuah perusahaan dengan nama besar mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk bersaing, survive, dan menembus pasar. Tim yang menjadi ujung tombak untuk mencetak profit ini pun ketar-ketir dengan masa depan perusahaan. Kompetitor yang begitu agresif dengan berbagai terobosan telah merebut pasar mereka. Kini, mereka seakan tertampar karena menyadari selama ini alpa mendorong kreativitas sebagai sumber energi di dalam tim dan organisasi. Kita lihat, bukan lagi perlombaan modal yang kita hadapi sekarang, melainkan perlombaan kreativitaslah yang akan menentukan siapa yang melesat ke depan.

Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan business as usual. Istilah think out of the box bahkan sudah tidak relevan lagi karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy.

Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "kotak" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan kerangka pikir lama? Cepat atau lambat, semua keterikatan, peraturan, atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, perlu ditinjau kembali, dan diperbarui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang harus setiap saat berpikir beda?

Sadar tidak sadar, kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, melainkan kita justru kerap menerima bahwa kita sudah terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi, dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya kita mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, "Mungkin saya memang tidak kreatif...."

Terobosan, pembaruan, dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreativitas yang istimewa. Secepatnya, kita harus segera berpikir bahwa box yang kita rasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Di saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti, dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.

Berpikir = saat bergembira
Kita sering merasa sudah menggunakan daya pikir kita secara all out, apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita merasa stres dan lelah. Seorang teman berkomentar, "Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"

Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah, anggapan bahwa "berpikir" adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir. Sementara, ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, "The brain is a wonderful organ. It starts the moment you get up and doesn’t stop until you get into the office."

Marilah kita memerhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang pintar, logis, ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan, tidak membuatnya stres, bahkan membuatnya bahagia.

Bagaimana dengan kita dalam situasi kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat kita memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha se-rasional mungkin? Kita pun kerap membatasi berpikir hanya di saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi, kita sering menginstruksikan diri kita untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, dan perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa mental block sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah memblok mental, tentunya akan mati langkah.

Asik berpikir dan mengamati
Seorang teman mengatakan bahwa saat sekarang orang sudah tidak perlu susah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua informasi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan pada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila kita sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan, apa bedanya kita dengan orang yang hidup di era 30 tahun yang lalu?

Seorang teman selalu berkeyakinan bahwa solusi tidak datang begitu saja. Itu sebabnya dia piawai dalam proses mencari jalan keluar. Ia terbiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong, dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak ia ketahui. Ia pun terbiasa menikmati film, memerhatikan gambar, bahkan menunda rapat untuk "mengendapkan" masalahnya semalaman.

Banyak tokoh yang kita kenal luas dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan ke mana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung, dan matanya tajam-tajam, dan menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membaca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?

Hiiiii.... jangan sampai deh, aturan-aturan kantor menghambat kreativitas kita

Friday, 24 June 2011

Kopdar Goodreads Indonesia 2011 (Ultah ke-4)


jadi peraga terpavorit. gayanya yang out of power bikin kita semua terhibur, haha :D :D

Kopdar tahunan Goodreads Indonesia, sekaligus memperingati Ultah Goodreads yang ke-4. Diadakan pada tanggal 12 Juni 2011 di Museum Bank Mandiri.

foto-foto lengkapnya (gabungan dari berbagai kamera, hehe) ada di sini:
http://www.flickr.com/photos/bacaituseru/sets/72157626823642839/with/5827689136/

Wednesday, 22 June 2011

Tentang orang-orang tersayang


Disaat kamu ingin melepaskan seseorang.. ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya
Disaat kamu mulai tidak menyayanginya.. ingatlah saat pertama kamu mulai meyayanginya
Disaat kamu mulai bosan dengannya.. ingatlah selalu saat terindah bersamanya
Saat kamu ingin membohonginya.. ingatlah disaat dia jujur padamu
Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu.

Jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu,
Kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu

Yang indah hanya sementara
Yang abadi adalah kenangan
Yang ikhlas hanya dari hati
Yang tulus hanya dari sanubari

Tidak mudah mencari yang hilang
Tidak mudah mengejar impian

Namun yg lebih susah mempertahankan yg ada,
Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga

ingatlah pada pepatah,
"Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini"

Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif....

Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa, namun...
Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi
Sehelai benang pun tak bisa dimiliki
Apalagi yang mau diperebutkan

Tubuh dan paras yg selama hidup di dunia kamu bangga2kan
akhirnya akan hancur juga menjadi tanah

Apalagi yang mau disombongkan

Maka..

Jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani
Jangan terlalu perhitungan
Jangan hanya mau menang sendiri
Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita

Belajarlah tiada hari tanpa kasih
Selalu berlapang dada dan mengalah
Hidup ceria, bebas leluasa...

Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan....
Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan
Tak ada dendam yang tak bisa terhapus..


*mungkin lebih tepat ini tentang sahabat, tentang orang-orang tersayang....*


SAHABAT, aku ingin menjadi sahabatmu selamanya. Saling menguatkan dalam ukhuwah islamiyah....


sumber plurk dengan beberapa perubahan.

Tuesday, 7 June 2011

Filfot: Untuk apa saya memotret?


Awalnya saya berfikir, fotografi hanyalah tentang keindahan. Bagaimana mengambil gambar yang indah yang membuat diri ini dan orang lain berdecak kagum dengan keindahan tersebut. Tapi ternyata sesuatu yang indah itu akan mudah dilupakan...

Awalnya saya berfikir, untuk menghasilkan gambar yang bagus harus pake kamera yang canggih, seperti SLR digital.Tapi ternyata dalam fotografi tidak penting kamera apa yang digunakan, yang terpenting adalah orang (fotografer) yang memotret suatu peristiwa. Bagus tidaknya suatu foto tidak hanya tergantung pada kualitas gambar yang ditampilkan, tapi lebih pada pesan yang ingin disampaikan melalui foto tersebut yang hanya bisa ditampilkan oleh ide/imajinasi sang fotografer. The man behind the gun...

Sejak pertama punya kamera, saya selalu berfikir, kamera ini saya gunakan untuk apa? meski jujur awalnya saya membeli kamera adalah untuk mengabadikan keindahan ciptaan-Nya, tapi apakah hanya tentang keindahan? Apa ya esensinya fotografi? 

Selama seorang fotografer masih menuruti kaidah 'foto indah' atau foto salon sesuai selera umum, ia akan terus terjebak untuk menyenangkan orang lain, tanpa memberi kesempatan kepada dirinya untuk menghadirkan dimensi lain dari karya-karyanya. Mungkin akan lebih bermakna jika kita menjadikan foto karya kita sebagai 'potret diri', seperti layaknya menjadi seorang chef
yang menciptakan resep baru, bukan hanya sekedar  jadi tukang masak. Maka kita akan berekspreimen dengan segala teknik fotografi yang dikuasai dan pengalaman yang pernah dicap. Mulailah membuat foto dengan sebuah pemahaman lain, dengan sesuatu yang baru...

Seorang fotografer dikatakan berhasil bukan karena berhasil memotrek wanita berbikini di pinggir pantai atau kolam. Inilah persepsi fotografi (sejak lama) yang justru membuat rusaknya image fotografi itu sendiri, pada akhirnya fotografi selalu dikaitakan dengan hal-hal yang negatif. Padahal fotografi itu harusnya mencerdaskan, dan  berhasil membuat siapapun yang melihat foto tersebut tuk berbuat baik lebih banyak, bukan hanya soal menumbuhkan rasa simpati terhadap objek foto, tapi juga action.

Gak lucu banget kan kalo dimarahin pengemis gara motoin pengemis itu lagi kepanasan tengah hari, atau digebukin warga gara2 pas ada kebakaran fotografer malah sibuk foto daripada ngebantuin warga. Ada aspek2 tertentu seperti situasi, sosial, perasaan orang ternyata tidak semua bisa seenaknya diambil asal jepret.

Fotografi juga tentang gagasan, perasaan dalam hati, dan interaksi dengan objek foto. Maka Robert Capa mengatakan: “If your picture aren’t good enough, that’s mean you’re not close enough”. Dan memang foto-foto penuh pesan hanya dihasilkan ketika diambil dari kedekatan sang fotografer dengan objeknya. Itu dihasilkan karena sang fotografer memotret momen-momen dramatis tersebut secara dekat bahkan turut merasakan nuansa  yang  terjadi disana. Itulah makna kedekatan.

 

Contoh lain adalah para fotografer wildlife di National Geographic. Mereka adalah sosok-sosok tangguh baik secara fisik maupun mental. Bahkan konon kabarnya setiap fotografer tersebut melatih kekuatan fisiknya untuk mampu bertahan hidup (survival) dalam alam liar yang ganas. Foto-foto menakjubkan yang dihasilkan mereka bukan dihasilkan dari sekedar memotret sejam dua jam, namun membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan momen yang pas. Bahkan Sang fotografer menunggu selama lebih dari 3 bulan di tempat yang sama hanya untuk mendapatkan foto seeokor gorilla tengah meminum air di sebuah mata air. Dan selama 3 bulan itu sang fotografer berada dalam tenda kecil yang dibangunnya di atas pohon! Adalagi kisah seorang fotografer (jurnalis) dalam sebuah perang yang berhasil memotret seorang tentara yang tertembak peluru sebelum tentara tersebut jatuh ke tanah. Begitu dekatnya sang fotografer dengan tentara tersebut sehingga yang melihat fiti tersebut dapat ikut merasakan peristiwa mencekam saat itu. Padahal bisa saja justru sang fotografer itu ikut tertembak! itulah ketangguhan seorang fotografer dalam mengambil makna sebuah kedekatan.


Fotografi juga soal mengabadikan momen atau peristiwa, menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Bayangkan jika Frans Soemarto Mendoer tidak memfoto peristiwa proklamasi RI atau negatif film tersebut dirampas tentara Jepang... tentu saja menjadi perjuangan sangat berat untuk mencetak foto tersebut. Wartawan senior Alwi Shahab menulis “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” (Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60).


Mengenai kamera, tak terlalu penting kamera jenis apa yang Anda miliki. Asal mengerti teknik dasar, lalu bukalah hati dan pikiran. Biarkan energi dari subjek yang Anda foto merasuki. Seorang pemuda di Filipina yang mengupload foto-fotonya ke situs Flickr.com sehingga akhirnya jepretannya itu ditemukan oleh salah satu fotografer dan reviewer fotografi terkemuka dunia, Kenrock Well, dan mendapat pujian atas jepretan-jepretannya itu. Dan yang mencengangkan adalah pemuda itu memotret semua foto nan indah itu hanya dengan kamera di HP-nya yang resolusinya sangat kecil.

Nacthwey cenderung memakai lensa yang tidak lebih panjang daripada 50mm (andalan dia adalah 16/20-35L dan 35 1.4L) simpel dengan alasan lebih dekat dengan subjeknya, dia bisa ajak mereka
berinteraksi dan "merasakan" apa yang mereka rasakan saat itu.

sumber: kaskus

Henri Cartier Bresson sepanjang hidupnya cuma memakai lensa 50mm, cuma karena dia TIDAK MAMPU membeli lensa lain pada saat itu (bahkan dia hanya membeli Leica yang saat itu bisa dibilang kelas bawah dibanding dengan Contax/Zeiss atau SINAR) tapi yang terpenting adalah kemampuannya untuk MELIHAT apa yang dia bilang "decisive moments" (momen yang gak akan terjadi dua kali sepanjang hidup) dan menerjemahkannya ke dalam gambar.


Dan saya, atas saran dari seorang teman, mulai belajar dengan menggunakan kamera manual jadul (Pentax K1000). Rasanya puas banget, meski hasil 1 roll belum bagus semua (maklum masih newbie). Emang bener sih belajar teknik fotografinya kena banget, mulai dari memahami fungsi dan hubungan antara Speed/kecepatan dengan Apeature/Rana dengan ISO/ASA... yang paling asik tuh pada saat mencuci pilem nya itu, hati serasa dag dig dug deeeerrr... bener-bener menegangkan plus penasaran abis dengan hasil fotonya :D

Belajar dengan kamera manual tidak menutup kemungkinan kalau kita mau belajar teknik kamera film, kita akan menemukan hal2 yang tidak di temukan di kamera digital, seperti proses cuci film, seperti film BW, proses cetak nya dll ....

Sekian ulasan singkat tentang filosofi fotografi dari saya yang baru mengenal ilmu perfotoan ini. Banyak hal yang tidak bisa dituliskan, hanya bisa dirasakan sendiri :)


Teringat saran seorang suhu fotografi. Jika ingin belajar fotografi, rajin memotretlah... dengan jenis kamera apapun, memotret apapun... karena proses belajar itu tidak sekali saja lalu berhenti, tapi berkelanjutan... dan akhirnya kamu tahu perbedaan foto-foto hasil jepretanmu dari awal kamu memotret hingga saat terbaru ;)


Selamat menghasilkan foto-foto yang bermakna

Sunday, 22 May 2011

Belajar Kebaikan dari (almh) Ustadzah. Yoyoh Yusroh


Masih seperti mimpi...


Berita duka yang kuterima sabtu selepas subuh kemarin, seperti mimpi, karena begitu cepat terjadi. Bahkan seorang teman bertanya heran, tentang kebenarannya. Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. Perasaanku, sama dengan yang ia alami. Hampir tidak percaya...

Tapi begitulah kematian... ia datang tanpa ada yang bisa mengiranya. Sebuah kepastian yang mengingatkan kita, bahwa setiap manusia pasti akan merasakan mati.


Banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Banyak semangat yang telah ditransfer darinya. Banyak kebaikan yang telah diinspirasikan olehnya.... meski lebih banyak lagi palajaran, semangat dan kebaikan yang belum kita serap... marilah sejenak kita mengenang kebaikan beliau, kebaikan dan hanya kebaikanlah yang layak untuk dikenang dari setiap insan. Mari belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh.

*Pertama: Teladan Fisik yang Kuat dan Komitmen dalam menjaga kesehatan*

Aktifitas dakwah membutuhkan energi yang luar biasa. Ini yang disadari oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, maka beliau punya komitmen yang sangat tinggi dalam menjaga kesehatan, dan juga mengingatkan kader dakwah yang lain agar peduli kesehatan. Afifah Afra menuliskan kenangannya bersama ustadzah Yoyoh Yusroh dalam suatu kesempatan memberikan tausiah di depan para muslimah Semarang. Beliau sangat menganjurkan para muslimah untuk menjaga kesehatan. Menekankan untuk mengkonsumsi banyak sayur dan buah-buahan, serta meninggalkan segala jenis makanan instan yang berpengawet. Lebih tegas ustadzah Yoyoh Yusroh menjelaskan: “Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib.”

Komitmen beliau yang tinggi ini pun bisa dengan mudah dibuktikan di depan mata. Melahirkan 13 putra dan putri tentu dibutuhkan penjagaan fisik yang luar biasa, belum ditambahi aktifitas dakwah dan kegiatan yang sangat padat. Beliau mampu melewati hari-hari sibuknya dengan stamina yang kuat. Saat ditanya seorang akhwat tentang resep fitnya, beliau mengingatkan untuk jangan lupa mengonsumsi habbatussauda dan madu.

*Kedua: Kesabaran Luar Biasa*

Melahirkan, merawat dan membesarkan 13 orang anak adalah hal luar biasa yang mutlak membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Betapa banyak kader dakwah yang hari ini mengumbar keluhkesah dan berteriak kerepotan, sementara mereka baru dikarunia satu dua anak, dengan amanah dakwah yang tak seberapa. Kegiatan beliau yang begitu padat tentulah membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga beliau adalah contoh kesabaran seorang ummahat, karena beliau seringkali diminta –terkadang bersama suaminya- untuk mengisi talkshow dan seminar dengan teman keluarga islami. Beliau berpesan tentang kunci sukses membina rumah tangga: Dalam membina rumah tangga, yang penting prinsipnya saling memberi. Tidak ada yang superordinat atau subordinat antara laki-laki dan wanita. Sejak awal menikah komitmen itu harus ada. Laki dan wanita punya keistimewaan.” Banyak lagi pesan dan petuah beliau tentang rumah tangga, yang sungguh telah dibuktikan sejak awal dalam kesabaran beliau mengarungi rumah tangga. Sekali lagi, dengan 13 orang anak!

*Ketiga: Aktif Bergerak *

Ustadzah Yoyoh Yusroh juga menjadi teladan akhwat muslimah dalam kiprah bagi dakwah dan masyarakat. Amanah beliau yang begitu banyak senantiasa beliau tuntaskan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya dalam konteks internal partai atau dalam negeri, namun juga tampil aktif dalam organisasi internasional bahkan perjuangan internasional membela Palestina. Beliau memimpin rombongan Viva Palestina yang dikoordinir oleh Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP), dan melalui perjuangan berat akhirnya mampu menembus Gaza dengan dikawal barisan panser tentara Mesir. Kiprah beliau yang sangat padat bisa dilihat dari rentetan tugas dan penghargaan yang beliau dapat. Selain di DPR beliau juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI (Tahun 2005-2010), bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia. Tak hanya itu, sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama RI tahun 2001. Sebuah gambaran sekaligus teladan, seorang ummahat yang sukses meramu antara ranah domestik
dengan pengabdian kemasyarakatan.

*Keempat: Ruhiyah Tinggi*

Aktivitas dakwah dan kemasyarakatan yang begitu padat akan sangat melelahkan tanpa siraman ruhiyah yang teratur dan pada porsi yang istimewa. Ustadzah Yoyoh Yusroh tahu dan meyakini dengan pasti hal tersebut. Karenanya beliau senantiasa menghiasi hari-hari padat aktifitasnya dengan charger ruhiyah yang terus dijaga dan ditingkatkan. Tilawah dan mengulang hafalan Quran adalah rutinitas harian yang tak terlewatkan. Salim A Fillah pernah mendapati beliau bersama suami tengah asyik mengulang hafalan berdua, bergantian menyimak dan membenarkan. Secara khusus, beliau senantiasa menyelesaikan tilawah tiga juz setiap harinya. Tentu sebuah capaian yang luar biasa, yang barangkali tak terbayangkan dalam benak banyak kader yang selalu gagal menyelesaikan satu juz tilawah karena alasan kesibukan. Ketika ditanya bagaimana mungkin menyempatkan diri untuk tilawah sebanyak itu dalam setiap harinya, ustadzah Yoyoh Yusroh menjawab dengan yakin dan mantap: “Justru karena sibuk dan banyak hadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka harus memperbanyak Al-Qur’an”. Subhanallah

*Kelima: Penyayang dan Peduli*

Banyak akhwat yang terkesan dengan kesederhanaan dan ketawadhukan beliau, dan lebih dari itu kedekatan personal dan ukhuwah yang dibuktikan dengan langkah nyata. Panggilan bunda dan ummi menandakan tempat khusus di hati para akhwat. Seorang akhwat muda begitu terkesan saat dalam sebuah pertemuan kedua dengan beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh masih mengingat betul nama dan asalnya, serta menanyakan tentang kegiatan dan aktifitas terbarunya. Hal ini jelas menunjukkan kepedulian dan kasih sayang beliau yang tulus kepada para akhwat, tanpa pamrih, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

...tentulah masih banyak teladan kebaikan yang telah ditorehkan oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, coretan singkat ini tak akan pernah mampu mewakili kebaikan dan keteladanan dari sosok daiyah dan mujahidah ini...

M
arilah belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh! Mari belajar memuhasabahi diri atas langkah yang amal yang telah kita torehkan setiap hari...!

Beberapa hari sebelum meninggal, beliau menuliskan SMS berisikan kegelisahan dan muhasabah hatinya kepada seorang akhwat: “ Ya rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak diakhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khadijah Al-Kubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah binti Umar yang dibela oleh Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa-red) dan qawwamahnyaI (rajin tahajud-red) ? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…. ehm 500 juga belum… atau dengan Ummu Sulaim yang shabiroh (penyabar) atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad… atau dengan siapa ya. Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka… sehingga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman firdaus-Mu." Subhanallah... seorang ahlul Qur'an yang visioner...

Dalam sebuah pidato dengan suara yang lembut namun perkasa, beliau menyampaikan kepada kami dengan berapi-api, “Saudara-saudara kita di Palestina, Masih sempat melaksanakan Qiyamullail dan Hafalan Qur’an. Padahal di kanan, Kiri, depan dan belakang Mereka adalah BOM, Ranjau yang sengaja dipasang oleh Zionis laknatullah dan siap meledak kapanpun. Sementara Kita, yang nyaman, enak, damai dan tidak dilanda konflik bersenjata, dengan tanpa merasa bersalah meningalkan TAHAJUD, melupakan hafalan Qur’an dengan dalih yang remeh temeh,  Sibuk Bekerja.”  Sebuah hentakkan yang membuatku malu atas hafalan-hafalanku.. Sebuah hentakkan yang membuatku semangat tuk konsisten menghafal...

“Ya Allah , Ampuni kelalaian kami selama ini......”


Selamat jalan mujahidah tangguh
Selamat jalan ya ahlul Qur'an

“Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima amal Sholihmu dan menempatkanmu di tempat terindah di SisiNya. Amiin."


Sumber: Tulisan Hatta Syamsuddin dengan beberapa perubahan dari saya

Wednesday, 11 May 2011

Journey of Agustinus Wibowo

http://avgustin.net/gallery.php
Agustinus Wibowo, itulah nama pemuda yang lahir 25 tahun lalu. Lahir dan besar di Lumajang, kemudian kuliah di ITS dan kemudian melanjutkannya di China. Seorang kutu buku yang tertarik pada backpacking setelah berkenalan dengan backpacker cewek asal Jepang. Pada tahun 2001, dia pun memulai perjalanannya ke Mongolia. Kemudian melanjutkannya lagi pada tahun 2005, setelah lulus kuliah, dengan melintasi Tibet, Nepal, lalu ke gurun pasir India, pegunungan di Pakistan Utara. Dia juga sempat bekerja sebagai sukarelawan gempa Kashmir, ke pedalaman Pakistan, berkeliling Afghanistan dengan hitchhiking, lalu ke Iran, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Perjalanannya terus berlanjut hingga Mei 2009, ketika akhirnya dia harus pulang ke Lumajang karena Mamanya divonis kanker dan harus menjalani pengobatan. Kini, dia telah kembali ke Mongolia dan akan memulai lagi perjalanan berikutnya.

Sungguh kutertarik pada kisahnya. Kisah pemuda Indonesia berkelana ke negara-negara asing yang jarang kudengar, kecuali dalam berita. Sungguh kutakjub dengan keteguhannya dan kegigihannya untuk melalui jalur-jalur yang justru dihindari oleh backpacker lain. Dia berani menyusuri wilayah yang sama sekali belum pernah dikunjungi orang asing atau bahkan oleh penduduk dari daerah lain. Sungguh kukagum pada ketabahannya saat menghadapi hal-hal tak diinginkan dalam perjalanannya.

Dari kisahnya, aku melihat Afganistan pun kadang sama dengan Indonesia. Multietnis dan menghadapi masalah keberagaman, namun pada tingkat yang lebih ekstrim. Stereotipe salah satu suku terhadap suku lain membuat mereka mendapat perlakuan yang beda. Hiks.. Kehancuran Afganistan akibat perang memaksa warganya membanjiri Iran dan Pakistan yang dianggap lebih makmur. Namun di sana mereka dianggap warga kelas dua. Dominan di sektor informal, kuli bangunan dan buruh. Tak jarang mendapat perlakuan diskriminan hanya karena mengaku dirinya adalah seorang Afgan. Membaca kisah ini, mengingatkanku pada nasib jutaan TKI di Malaysia.

Terlepas dari keheroikannya menjelajah remote area, dalam kisahnya di bukunya (selimut debu), dia menampilkan dirinya apa adanya. Seorang petualang dari jenis manusia biasa. Dia adalah manusia biasa yang kadang cengeng, emosional, suka berprasangka buruk, penakut dan panikan. Just like us.. Dia pun merengek dan memelas agar mendapat harga yang lebih murah saat berkendara. Dia pun panik minta ampun ketika hardisk yang berisi foto-foto perjalanannya menghilang. Dia pun terkesan polos, berkali-kali tertipu oleh budaya basa-basi lokal meskipun telah mengenal budaya itu. Dia juga geram dan marah ketika diperlakukan tidak manusiawi oleh polisi lokal. Dia juga kesal ketika harus menjelaskan berkali-kali di mana itu Indonesia pada seorang kakek tua yang terus bertanya, “Indonesha tu bagian mananya Afganistan..?”. Dia juga naïf, mengingatkan berhati-hatilah kalian laki-laki yang bertampang manis, mulus tak berbulu seperti layaknya orang Afganistan yang umumnya berbulu, berjenggot dan bercambang. Bersiaplah kalianlah menjadi objek sodomi. Terkesan pede mengucapkannya. Dia lupa bahwa fisiknya juga seperti yang dicirikannya itu. Dia baru menyadarinya ketika suatu malam dia akan dijadikan objek sodomi oleh tuan rumah. Dia pun lari ketakutan karenanya.

Menurutku, sisi manusiawi dari sosoknya yang diungkapkan dalam setiap kisahnya ini bukanlah kelemahan, justru kekuatan. Sepertinya dengan cara inilah Agustinus Wibowo mengingatkan pada kita bahwa siapa pun sebenarnya bisa melakukan perjalanan sepertinya. Itu bukan suatu kemustahilan!! Membaca buku ini benar-benar mencerahkan, menyadarkan banyak hal, terutama tentang kata syukur!! AW begitu apiknya menyajikan bahwa apa yang Afganistan hadapi mungkin ada persamaan dengan yang kita hadapi, bahkan lebih buruk !! Namun mereka tetap bisa menikmatinya, kadang juga dalam tawa. Dan mereka tak berhenti untuk bertahan dan berjuang !! Seburuk-buruknya kondisi Afganistan yang selalu diselimuti khaak, debu, Afganistan tetaplah khaak, watan, tanah air mereka. (kompasiana)

Tuesday, 10 May 2011

Arti kehadiranmu


Bermacam kisah kudengar, tentang kehadiran dalam kajian pekanan. Kurekam baik-baik dalam ingatan. Dan inilah kisah-kisah itu...


Ada seorang bapak, penjual bubur ayam di daerah trans. Untuk bisa datang ke kajian pekanan, dia harus meliburkan diri 3 hari dari menjual buburnya karena jarak tempat mengaji yang cukup jauh dari rumahnya, di kota. Karena kondisi ekonominya yang pas-pasan, dia sering kesulitan ongkos. Hingga ia memilih naik sepeda tuanya, seharian. Ya, seharian! Menuju tempat kajian. Nasib mujur kalau ada truk besar yang mau ditumpangi. Maka ia dan sepedanya bisa menumpang barang sebentar, mempersingkat jarak dan menghemat tenaga. Tetapi itu jarang sekali.

Hari kedua, ia gunakan untuk mengaji di kota. Sekaligus menghadiri berbagai kajian lain yang memungkinkan, mumpung ke kota.

Lalu hari ketiganya, ia kayuh lagi sepeda tuanya seharian, pulang ke rumah. Dan itu terjadi sepekan sekali. Dia rela hanya bekerja 4 hari dalam seminggu, demi kajian pekanan yang tak ingin ia cederai.

Ada juga seorang ibu rumah tangga, tinggal di ibukota, yang untuk datang ke kajian pekanan, karena tak ada ongkos dan suaminya lama belum pulang dari ikhtiar mencari nafkah, dia terpaksa menjual beberapa peralatan dapurnya ke tukang rombeng. Tak ada yang mengetahui hal ini, kalau saja tak secara kebetulan ada teman satu kajian yang sedang berkunjung ke rumahnya, dan melihat transaksi jual beli itu. Yang lalu dia ceritakan pada guru ngajinya, dan disambut rasa trenyuh oleh sang guru.

Lalu ada lagi, seorang ibu rumah tangga, sebut saja Arni, masih di ibu kota, saat harus hadir dalam kajian pekanan, dengan malu-malu dia sms pada guru ngajinya,
“Bu, maaf… boleh tidak nanti siang saya ijin tidak datang? Saya tak punya ongkos untuk pulang balik ngaji ke tempat ibu. Suami juga belum pulang jadi saya gak bisa minta ongkos”
Trenyuh gurunya membaca sms itu. Menitik perlahan air matanya, diketiknya balasan via sms, “Bu, ibu masih punya ongkos untuk sekali jalan ke sini? Kalau ada, silahkam datang, Semoga Allah mudahkan”.
Tak ada lagi balasan dari bu Arni.

Beranjak guru itu menyiapkan sedikit bingkisan untuk anak-anak bu Arni, juga menyelipkan selembar uang biru bergambar I Gusti Ngurah Rai ke dalam amplop, sekedar pengganti ongkos untuk binaannya. Sambil tetap berharap, bu Arni akan datang.

Lalu, saat siang tiba, dengan berdebar, guru itu menunggu kedatangan bu Arni. Apakah ia akan datang?
Subhanallah.. ternyata bu Arni datang, tampak kerepotan membawa serta 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Si guru mengelus dada, berlega hati, dan sembunyi-sembunyi menitikkan air mata.
Saat kajian usai, dia serahkan bingkisan dan amplop itu pada bu Rani, yang disambut dengan wajah terperangah campur malu “Haduuh, gak usah ibu, Kok jadi repot begini”
“Ini rizqun minal-Lah, tidak baik kalau ditolak bu. Kalau ibu tidak berkenan, mungkin anak2 tetap membutuhkan”, kata si guru.
Dan berangsur, Bu Rani menerima bingkisan dan amplop itu, sambil memeluk gurunya, hangat..

Di sudut ibu kota yang lain, seorang ummi bingung, dari 10 binaannya, kenapa yang datang sekarang hanya 2-3 orang saja. Dia tanyakan pada yang hadir, mungkin ada yang tahu kabar temannya. Salah seorang lalu berkata, ”Iya nih Mi, si A sms saya, minta dipamitin ke ummi, katanya hari ini dia lagi tangggung, lagi perawatan cream bath di salon”
Masya Allah! Gara-gara cream bath lalu jadwal mengaji pun digugurkan? Si Ummi yang suaminya bekerja di luar pulau dan hanya pulang menengok anak istri sebulan sekali tersenyum kecut, berkata dalam hati, “Halah, lha saya kalau si Abi mau pulang gak gitu-gitu amat persiapannya. Ini yang masih gadis kok malah rajin amat ya perawatan? Sampe bolos ngaji?”

Saat yang lain lagi, seorang ibu muda memberitahukan lewat sms pada guru ngajinya,
“Bu, afwan gak bisa datang yaa. Saya mau kontrol bulanan untuk kandungan saya”

Hmm, dalam seminggu ada 7 hari. Apakah kontrol bulanan harus pada saat kajian pekanan? Apakah demikian sibuknya 6 hari yang lain hingga tak bisa mengagendakan untuk kontrol bulanan, sore atau malam harinya?

Lalu, pekan depannya lagi, ”Bu, maaf ijin tidak datang lagi. Saya mual benar hari ini”

Duhai, bukankah untuk mencetak kader mujahid sejati, justru mestinya sejak sang buah hati berada dalam kandungan? Bahkan jauh sejak sebelum itu, saat aqad nikah diucapkan? Jika seorang ibu yang hamil lalu tidak datang karena kajian dengan alasan mual, lalu bagimana jika mendapatkan cobaan yang lebih dari itu? Bagaimana kalau semua binaan semuanya sedang hamil, dan bersikap sama? Kosong melompong pada jam taklim?

Ayolah sayang, kita lawan rasa mual itu, jika kau ingin janin dalam perutmu menjadi mujahid tangguh. Lupakah kau, waktu aku ceritakan tentang kisah seorang ummahat yang sudah menunggu hari melahirkan, tetapi tetap bertekad baja datang ke kajian? Hingga akhirnya benar-benar mulas perut siap untuk melahirkan, saat sedang kajian?

Teringat si guru akan ucapan Sang Murabbi, Ust Rahmat Abdullah alm, saat sering mengikuti kajian di IQRO Islamic Center, ”Kalau kaki belum benar-benar gempor, tak ada alasan untuk tidak datang ke kajian”
”Ya ustad, sungguh aku rindu tausiyahmu…” desahnya dalam hati.

sementara di kesempatan yang lain, seorang ummi bingung, karena salah satu binaannya lama tak terdengar kabar berita. Sudah dua kali kajian. Datang tidak, memberi kabar pun tidak. La salam wa la kalam. Akhirnya, si guru menelponnya. Ah, ternyata dia malu untuk minta ijin, karena 2 pekan sebelumnya dia sulit menolak ajakan teman-teman SMA-nya untuk reunian. Sementara sepekan yang lalu, sebenarnya sudah siap mau berangkat, tetapi tiba- ada ada tamu saudara jauh yang datang.
Tinggal si ummi garuk-garuk kepala. Sangat berharap pekan depan tidak ada lagi alasan bagi si gadis untuk tidak datang.

Di suatu kota, ada seorang ibu yang lapor via sms pada guru ngajinya, sesaaat setelah jadwal kajian usai dan dia tak nampak hadir,”Bu, maaf ya tadi gak bisa hadir. Anak-anak mendadak ngajak berenang”
“Ya Rabb, semoga besok-besok lagi anak-anak itu tidak mengajak ibunya berenang pada saat jam kajian” kata si guru, dalam hati.

Lalu, di pinggiran ibukota, seorang ibu muda yang juga pekerja, bingung saat esok hari dia tak bisa hadir kajian pekanan karena sedang bertugas di luar kota.

“Bu, maaf besok tidak bisa hadir. Saya ada tugas ke luar kota. Mmm, iqob untuk saya apa bu? Gak enak hati nih jadinya”

”Wah tugas keluar kota lagi ya? Seperti kesepakatan, selain infaq 10% sisa uang SPPD, sekarang tambah dengan hafalan Surat Al-Mumtahanah dan buat makalah 4 lembar tentang peran akhwat dalam dakwah ya” balas gurunya via sms.

”Gleg, banyak juga nih PR-nya. Ya sudahlah, Siapa suruh gak datang kajian pekanan. Bismillah, semoga pekan depannya bisa, sambil menyetor iqob hafalan dan makalah,” begitu tekadnya dalam hati.

Lalu, aku pun tertunduk malu
Dimana aku berdiri, kini?
Dimana pula kau berdiri, kini?



sumber : email dari milis sebelah, atas nama Faturrahman...