Showing posts with label fotografi. Show all posts
Showing posts with label fotografi. Show all posts

Monday, 6 February 2012

[Fotografi] Teknik Refleksi Pada Embun


http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12809433
Siapapun bisa menyebut dirinya seorang fotografer di era hi-tech kamera DSLR dengan semua mode shot-canggih dan lensa. Tetapi masih ada beberapa bidang fotografi yang memerlukan pengetahuan untuk sebagian orang selain dari sisi kamera yang dipakai. seperti mengambil gambar dari tetesan air untuk menangkap adegan di belakang embun ke dalamnya. Ini salah satu seni paling sulit untuk dikuasai dalam fotografi tapi anda yang ingin mencoba Fotografi Refleksi air, inilah teknik yang mudah dan cepat.

Fokus susun adalah teknik yang sangat berguna untuk meningkatkan ketajaman saat di lapangan untuk mempertahankan tingkat menarik dari latar belakang yang blur. Fokus susun menciptakan dasar yang kuat untuk aspek teknis susun. Berbekal pengetahuan ini, kita dapat menjelajahi sebuah metode untuk memotret bunga melalui tetesan embun yang di biaskan.

Alat-alat yang diperlukan untuk membuat foto-foto ini:

kamera
lensa makro
Flash (sebaiknya off-kamera)
Tikar (opsional, tetapi dianjurkan!)
Daisy kecil, jenis bunga dengan diameter sekitar 2-3cm
Embun pagi di rumput Anda

Teknik:

1. Set flash E-TTL dan Flash Kompensasi Eksposur ke posisi normal (+1 FEC dengan 430ex). Jumlah refleksi yang Anda akan dapatkan dalam tetes embun dengan banyak bervariasi, tetapi mereka cenderung sedikit dengan bunga berwarna berukuran kecil, mungkin karena bunga kecil kurang mengambil kekuatan flash untuk tergekspos.

2. Hati-hati mengatur tikar di atas tanah dan berlutut di atasnya untuk menemukan sebuah titik embun yang menarik (sebaiknya lebih kecil dari 2mm) atau sekelompok embun.

3. Hati-hati menempatkan bunga sekitar 2cm dibelakang embun dalam posisi vertikal dan kemudian menemukan embun di jendela bidik. (Jika Anda perlu untuk memindahkan bunga, ingat: gambar dibiaskan adalah yang terbalik jika dilihat melalui embun.)

4. Pegang kamera di tangan Anda sebagai serendah yang Anda bisa. Ambil beberapa gambar sambil bergerak maju sedikit sampai Anda telah memotret seluruh rentang fokus yang berisi semua embun itu sendiri dan gambar masing-masing dibiaskan. Pastikan Anda tetap FOV yang sama diseluruh tembakan dan tidak memutar kamera saat mengambil foto.

5. Fokus susun, fokus susun dapat digunakan untuk meningkatkan ketajaman yang tersedia dilapangan menggunakan CombineZM. Anda mungkin ingin melakukan ini di mana Anda tidak bisa mendapatkan DOF yang diperlukan, tidak peduli apa aperture yang Anda gunakan, atau di mana Anda menggunakan bukaan yang cukup terbuka untuk meminimalkan pelunakan difraksi tapi masih menginginkan DOF yang signifikan.



NB. Hasil foto-fotonya bisa dilihat pada link di atas.

Sunday, 29 January 2012

Yuk Membuat Kamera Sendiri!


http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12758271
-Kamera Lubang Jarum-

Bagi penggemar fotografi, alat menjadi tidak terlalu penting. Kecanggihan kamera kadang justru menjadi salah satu kendala untuk mengeksplorasi seni fotografi. Siapa sangka, sebuah foto indah bisa dihasilkjan dari sebuah kaleng.

Kamera lubang jarum menawarkan pemanjaan idealisme yang luar biasa. Sangat pantas jika KLJ digunakan sebagai kendaraan untuk pendidikan dan seni.

KLJ merupakan suatu tantangan yang baru didalam era digital ini walaupun kehadirannya sudah lama ada didunia fotografi, bahkan kamera lubang jarum adalah nenek moyang dari semua jenis macam kamera. Dengan KLJ juga kita dapat berkreasi sesuai dengan imajinasi kita dalam membuat suatu kamera.

~Cara Pembuatan~
1.Gunakan kaleng atau kotak kecil sebagai badan kamera. Kemarin yang digunakan untuk kamera adalah kaleng biskuit.
2.Keseluruhan badan kamera (interior maupun eksteriornya) di cat hitam (biasanya pake cat doff bukan yang glossy) untuk mencegah adanya refleksi cahaya
3.Buat sebuah lubang kecil di salah satu sisi sebagai jalan masuk cahaya (diafragma). Bila lubang terlalu besar, tutup lubang dengan aluminium, lalu lubangi aluminium dengan jarum.
4.Tempelkan sebuah penutup yang berfungsi sebagai rana (bisa menggunakan lakban hitam) di lubang tersebut untuk mencegah masuknya cahaya saat kita sedang tidak melakukan pemotretan. Untuk mengecek apakah lubang tersebut telah sesuai dengan yang diinginkan, kita dapat mengetahuinya dengan melihat ke dalam sisi belakang kamera.
5.Pada sisi dalam kaleng a.k.a kamera yang berhadapan dengan lubang tersebut, tempelkan juga sebuah double tape untuk menahan kertas foto (biasanya memakai lakban hitam dengan sisi yang lengket ada diluar)
6.Sebagai media perekam cahaya, kita bisa memakai film atau kertas foto. Kertas foto lebih banyak dipilih karena lebih mudah dipegang dan mudah untuk memasangnya di safelight. Sedangkan jika menggunakan film, harus dipasang pada ruang yang gelap total. Yang perlu diperhatikan, kertas foto kurang sensitif terhadap cahaya jika dibandingkan dengan film.
7.Pasang kertas foto yang akan kita gunakan, dengan cara menempelkannya pada dinding dalam kamera pada arah yang berlawanan dengan lubang jarum. Emulsinya harus terletak berhadapan dengan lubang jarum (sisi yang mengandung emulsi biasanya terasa agak lengket bila dipegang)

Note:
1. Semakin besar lubang, dan semakin lama bukaan lubang: maka citra menjadi semakin terang, tapi detilnya semakin kabur.
2. Semakin kecil lubang, dan semakin singkat bukaan lubang: maka citra menjadi semakin gelap, tapi detilnya semakin tajam.

Tuesday, 7 June 2011

Filfot: Untuk apa saya memotret?


Awalnya saya berfikir, fotografi hanyalah tentang keindahan. Bagaimana mengambil gambar yang indah yang membuat diri ini dan orang lain berdecak kagum dengan keindahan tersebut. Tapi ternyata sesuatu yang indah itu akan mudah dilupakan...

Awalnya saya berfikir, untuk menghasilkan gambar yang bagus harus pake kamera yang canggih, seperti SLR digital.Tapi ternyata dalam fotografi tidak penting kamera apa yang digunakan, yang terpenting adalah orang (fotografer) yang memotret suatu peristiwa. Bagus tidaknya suatu foto tidak hanya tergantung pada kualitas gambar yang ditampilkan, tapi lebih pada pesan yang ingin disampaikan melalui foto tersebut yang hanya bisa ditampilkan oleh ide/imajinasi sang fotografer. The man behind the gun...

Sejak pertama punya kamera, saya selalu berfikir, kamera ini saya gunakan untuk apa? meski jujur awalnya saya membeli kamera adalah untuk mengabadikan keindahan ciptaan-Nya, tapi apakah hanya tentang keindahan? Apa ya esensinya fotografi? 

Selama seorang fotografer masih menuruti kaidah 'foto indah' atau foto salon sesuai selera umum, ia akan terus terjebak untuk menyenangkan orang lain, tanpa memberi kesempatan kepada dirinya untuk menghadirkan dimensi lain dari karya-karyanya. Mungkin akan lebih bermakna jika kita menjadikan foto karya kita sebagai 'potret diri', seperti layaknya menjadi seorang chef
yang menciptakan resep baru, bukan hanya sekedar  jadi tukang masak. Maka kita akan berekspreimen dengan segala teknik fotografi yang dikuasai dan pengalaman yang pernah dicap. Mulailah membuat foto dengan sebuah pemahaman lain, dengan sesuatu yang baru...

Seorang fotografer dikatakan berhasil bukan karena berhasil memotrek wanita berbikini di pinggir pantai atau kolam. Inilah persepsi fotografi (sejak lama) yang justru membuat rusaknya image fotografi itu sendiri, pada akhirnya fotografi selalu dikaitakan dengan hal-hal yang negatif. Padahal fotografi itu harusnya mencerdaskan, dan  berhasil membuat siapapun yang melihat foto tersebut tuk berbuat baik lebih banyak, bukan hanya soal menumbuhkan rasa simpati terhadap objek foto, tapi juga action.

Gak lucu banget kan kalo dimarahin pengemis gara motoin pengemis itu lagi kepanasan tengah hari, atau digebukin warga gara2 pas ada kebakaran fotografer malah sibuk foto daripada ngebantuin warga. Ada aspek2 tertentu seperti situasi, sosial, perasaan orang ternyata tidak semua bisa seenaknya diambil asal jepret.

Fotografi juga tentang gagasan, perasaan dalam hati, dan interaksi dengan objek foto. Maka Robert Capa mengatakan: “If your picture aren’t good enough, that’s mean you’re not close enough”. Dan memang foto-foto penuh pesan hanya dihasilkan ketika diambil dari kedekatan sang fotografer dengan objeknya. Itu dihasilkan karena sang fotografer memotret momen-momen dramatis tersebut secara dekat bahkan turut merasakan nuansa  yang  terjadi disana. Itulah makna kedekatan.

 

Contoh lain adalah para fotografer wildlife di National Geographic. Mereka adalah sosok-sosok tangguh baik secara fisik maupun mental. Bahkan konon kabarnya setiap fotografer tersebut melatih kekuatan fisiknya untuk mampu bertahan hidup (survival) dalam alam liar yang ganas. Foto-foto menakjubkan yang dihasilkan mereka bukan dihasilkan dari sekedar memotret sejam dua jam, namun membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan momen yang pas. Bahkan Sang fotografer menunggu selama lebih dari 3 bulan di tempat yang sama hanya untuk mendapatkan foto seeokor gorilla tengah meminum air di sebuah mata air. Dan selama 3 bulan itu sang fotografer berada dalam tenda kecil yang dibangunnya di atas pohon! Adalagi kisah seorang fotografer (jurnalis) dalam sebuah perang yang berhasil memotret seorang tentara yang tertembak peluru sebelum tentara tersebut jatuh ke tanah. Begitu dekatnya sang fotografer dengan tentara tersebut sehingga yang melihat fiti tersebut dapat ikut merasakan peristiwa mencekam saat itu. Padahal bisa saja justru sang fotografer itu ikut tertembak! itulah ketangguhan seorang fotografer dalam mengambil makna sebuah kedekatan.


Fotografi juga soal mengabadikan momen atau peristiwa, menjadi bukti sejarah hidup manusia dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya. Dengan keberadaan foto, banyak orang bisa diingatkan dan disadarkan tentang suatu hal. Bayangkan jika Frans Soemarto Mendoer tidak memfoto peristiwa proklamasi RI atau negatif film tersebut dirampas tentara Jepang... tentu saja menjadi perjuangan sangat berat untuk mencetak foto tersebut. Wartawan senior Alwi Shahab menulis “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…” (Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60).


Mengenai kamera, tak terlalu penting kamera jenis apa yang Anda miliki. Asal mengerti teknik dasar, lalu bukalah hati dan pikiran. Biarkan energi dari subjek yang Anda foto merasuki. Seorang pemuda di Filipina yang mengupload foto-fotonya ke situs Flickr.com sehingga akhirnya jepretannya itu ditemukan oleh salah satu fotografer dan reviewer fotografi terkemuka dunia, Kenrock Well, dan mendapat pujian atas jepretan-jepretannya itu. Dan yang mencengangkan adalah pemuda itu memotret semua foto nan indah itu hanya dengan kamera di HP-nya yang resolusinya sangat kecil.

Nacthwey cenderung memakai lensa yang tidak lebih panjang daripada 50mm (andalan dia adalah 16/20-35L dan 35 1.4L) simpel dengan alasan lebih dekat dengan subjeknya, dia bisa ajak mereka
berinteraksi dan "merasakan" apa yang mereka rasakan saat itu.

sumber: kaskus

Henri Cartier Bresson sepanjang hidupnya cuma memakai lensa 50mm, cuma karena dia TIDAK MAMPU membeli lensa lain pada saat itu (bahkan dia hanya membeli Leica yang saat itu bisa dibilang kelas bawah dibanding dengan Contax/Zeiss atau SINAR) tapi yang terpenting adalah kemampuannya untuk MELIHAT apa yang dia bilang "decisive moments" (momen yang gak akan terjadi dua kali sepanjang hidup) dan menerjemahkannya ke dalam gambar.


Dan saya, atas saran dari seorang teman, mulai belajar dengan menggunakan kamera manual jadul (Pentax K1000). Rasanya puas banget, meski hasil 1 roll belum bagus semua (maklum masih newbie). Emang bener sih belajar teknik fotografinya kena banget, mulai dari memahami fungsi dan hubungan antara Speed/kecepatan dengan Apeature/Rana dengan ISO/ASA... yang paling asik tuh pada saat mencuci pilem nya itu, hati serasa dag dig dug deeeerrr... bener-bener menegangkan plus penasaran abis dengan hasil fotonya :D

Belajar dengan kamera manual tidak menutup kemungkinan kalau kita mau belajar teknik kamera film, kita akan menemukan hal2 yang tidak di temukan di kamera digital, seperti proses cuci film, seperti film BW, proses cetak nya dll ....

Sekian ulasan singkat tentang filosofi fotografi dari saya yang baru mengenal ilmu perfotoan ini. Banyak hal yang tidak bisa dituliskan, hanya bisa dirasakan sendiri :)


Teringat saran seorang suhu fotografi. Jika ingin belajar fotografi, rajin memotretlah... dengan jenis kamera apapun, memotret apapun... karena proses belajar itu tidak sekali saja lalu berhenti, tapi berkelanjutan... dan akhirnya kamu tahu perbedaan foto-foto hasil jepretanmu dari awal kamu memotret hingga saat terbaru ;)


Selamat menghasilkan foto-foto yang bermakna