Monday, 29 August 2011

Itikafku tahun ini dan nanti


Seperti dua malam sebelumnya, kali ini beliau juga tidak muncul untuk mengisi QL dan muhasabah pada itikaf kali ini. Penasaran, itu yang saya rasakan. Meski ustadz penggantinya (Ust. Budi Hasibuan, Lc.) tidak kalah bagus dengannya, tapi tetap saja penasaran, terlebih lagi ada pengumuman dari panitia bahwa salah satu ustadz yang mengisi acara pada malam itu baru saja meninggal dunia sehari sebelumnya... innalillahi wa inna ilahi raajiuun...

Ketika bincang-bincang dengan Bu Husni, "Ustadz ibnu jarir kemana ya bu?" tanyaku padanya yang beritikaf dari malam ke-21.
"nggak tau... saya juga nunnggu-nunggu, tapi gak ada ya tahun ini. apa meninggal ya..." katanya resah.
"masa sih bu?" tanyaku tidak percaya
"itu semalam ada pengumuman ustadz yang meninggal..." katanya (unsure).
"heh? itu bukannya ustadz pengisi kajian bada tarawih ya..." saya masih gak percaya....
tapi katanya kemudian, "nanti saya tanya temen yang rumahnya sedaerah dengan beliau deh..."

Bagi saya, sungguh menyedihkan jika prasangka tersebut benar. Kehilangan ustadz, ulama sungguh sebuah hal yang lebih dari kata menyedihkan. Bukan hanya tak akan berjumpa dengannya lagi, bukan hanya tak dapat mendengarkan nasihatnya lagi, bukan hanya tak dapat transfer semangat darinya lagi, tapi karena jika ulama telah wafat maka musibah akan muncul. Seperti yang telah dikatakan Rasulullah SAW,

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia (Allah) mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang ulama pun (diwilayah itu), maka orang-orang mengangkat ulama dan sesepuh dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (Shahih Bukhari)

Rasanya tidak berlebihan jika saya mengatakan, semakin Allah panjangkan usia para ulama’ kita, musibah akan semakin menjauh.

Beberapa saat kemudian, Bu Husni mendekatiku sambil menunjukkan sebuah sms yang menyatakan bahwa Ust. Ibnu Jarir sedang ada tugas dakwah di Australia (dari sumber yang dapat di percaya). Kamipun tersenyum bahagia, Alhamdulillah...

Mengenai itikaf tahun ini, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa datang ke Masjid At-Tin ini hanya pada malam-malam ganjil (23, 25, 27, dan 29 Ramadhan). Iri juga sebenarnya dengan teman-teman yang beritikaf full sepuluh hari terakhir Ramadhan ini. Saya merasa rugi karena belum bisa memanajemen diri dari kesibukan duniawi hingga itikaf 10 hari terakhir saja belum bisa saya laksanakan seumur hidup saya.

Padahal saya sudah punya komunitas itikaf At-Tin yang selalu siap berbagi selama menjalankan itikaf ini, ukhuwah yang terjalin lima tahun ini sangatlah indah. Seharusnya ini menjadi sebuah penyemangat jiwa bagi saya untuk fokus beritikaf 10 hari terakhir ini, padahal tidak ada yang menjamin bahwa saya akan bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan...

******

Meninggalkan At-Tin ini dengan harapan akan bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan dalam keadaan yang lebih baik, tanpa kekurangan apapun, tanpa kekurangan siapapun...

Sebuah tekad bahwa tahun depan saya harus berusaha segenap jiwa dan raga untuk beritikaf full 10 hari terakhir dan bisa mendapatkan lailatul qadar. Semoga Allah memudahkan dan mengabulkan permintaan ini...

Taqabbalallahu minna wa minkum, Semoga Allah menerima ibadahku dan ibadahmu. Semoga aktivitas ibadah kita di bulan Ramadhan ini bisa mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertaqwa...

Jazakumullah khair kepada Tia, Bu Husni, Mba ida, Betty, Velia, Herlin, Septi, Anah, Faridha, dan Auline yang telah beritikaf bersamaku.... Semoga kita berkesempatan itikaf lagi Ramadhan tahun depan


Thursday, 25 August 2011

Jadilah Manusia yang Tenang

Jadilah Manusia yang Tenang...
Tenang adalah satu dari sekian banyak karakter kesuksesan.
Tenang adalah ekspresi dari kepribadian yang kuat dan solid.
Tenang adalah simbol bagi seorang manusia yang sadar (ngeh) dan maju (bukan kampungan).

Kebalikannya seratus delapan puluh derajat.
Seorang manusia yang berang (marah besar) oleh penyebab yang remeh temeh,
bereaksi secara berlebih terhadap urusan yang sepele,
adalah ekspresi dari seorang manusia yang lemah kepribadiannya,
lemah akalnya dan lemah kemauannya.

“Sesungguhnya, kedudukan hikmah (kebijaksanaan, wisdom) seorang manusia yang paling tinggi adalah pengetahuannya dalam mengarungi berbagai situasi dan kondisi dan kemampuan menciptakan ketenangan dan ketenteraman dalam internal dirinya, meskipun banyak badai menerjangnya dari luar”.

Pakar psikologi berkata:
Sesungguhnya, manusia yang marah oleh penyebab yang remeh temeh adalah seorang manusia yang ringkih. Persis seperti pohon yang lemah, sedikit hembusan angin mempengaruhinya.

Adapun seorang manusia yang kuat, ibarat pohon yang kuat; di mana pokoknya kokoh, cabang dan dahannya menjulang ke angkasa. Akar-akarnya menghunjam jauh ke dalam bumi, sehingga, hembusan angin yang kuat semakin membuatnya tegar dan kokoh.

Dan seorang manusia yang tenang adalah, manusia yang mampu meraih simpati dan hati orang lain, mampu mendapatkan kekaguman mereka.

Oleh karena itu, dalam hal ini, ada peribahasa lama mengatakan: “Satu tetes madu dapat menjerat lalat, jauh lebih kuat kemampuan jeratannya dibandingkan dengan satu drum empedu”

Demikian halnya dengan manusia.

Jika engkau bermaksud meraih simpati orang lain, maka, pertama kali pastikan bahwa engkau adalah temannya yang tulus. Ketulusan ini ibaratnya adalah satu tetes madu yang menjerat hatinya. Itulah jalan satu-satunya untuk meraih hatinya. Sikap tenang, dengan seluruh makna yang dikandung olehnya, mampu membuat banyak keajaiban dan pengaruh terhadap jiwa yang keras sekalipun.

Jadi, jadilah manusia yang tenang saat berinteraksi dengan orang lain.
Pergunakan kebijakanmu terhadap orang-orang yang berbuat buruk kepadamu.
Berbicaralah dengan kosa kata yang mengekspresikan kecintaan dan ketenangan.
Hal ini adalah jalan terpendek untuk meraih hati orang lain.
Mendapatkan kekaguman mereka dan jalan menuju sukses.

Caranya: tenang .. logis dalam menjalin hubungan .. dan ikuti kehidupan pada umumnya atau lazimnya.


*copas tulisan Ust. Musyafa Ahmad Rahim, Lc, sumber: Dakwatuna*

Monday, 22 August 2011

Mundur mundur belok


Harusnya kursus ini berakhir dalam satu bulan. Namun karena Ramadhan kali ini saya punya aktivitas baru yang memerlukan penanganan khusus, maka saya tidak bisa datang full kursus di hari sabtu dan minggu. Kadang seminggu hanya sekali, kadang malah dua minggu sekali. Wajar saja saya dapat peringatan dari instruktur. Sejatinya dalam belajar stir mobil ini, harus kontinue dan waktunya jangan putus-putus, agar feel-nya tidakhilang dan tekniknya tidak lupa. Karena walau bagaimanapun praktik tidak bisa mengalahkan sehafal apapun kita tentang teori tersebut.

Minggu ini saya mengambil jam kursus hari sabtu dan minggu. Awalnya saya berniat untuk menghabiskan seluruh jam yang tersisa dalam bulan Ramadhan ini, tapi saya tidakpunya pilihan. Itikaf lebih penting bagi saya. Untung saja instruktur maklum adanya. Kebetulan tempat kursus juga libur dari tanggal 24 Agustus - 7 September 2011. Jadi saya akan meneruskan pelajaran ini setelah idul fitri.

Terakhir praktik, saya menggunakan mobil Xenia hijau lagi. Masih dengan pelajaran Belok, menanjak, dan ada satu yang baru, yaitu mundur dan menikung/ belok. Untukpelajaran terakhir ini lumayan pegel, maklum mobilnya agak lama jadi koplingnya keras. Praktik mundur-menikung ini saya lakukan selama 45 menit! karena saat itu saya kebagian urutan terakhir praktik,kebetulan saya dan instruktur juga laginyantai, jadi bisa lebih lama latihannya. Kalo dihitung-hitung saya menghabiskan waktu 1,5 jam sendiri untuk latihan (padahal jatahnya 1 jam), puaaaas bangeeeeet! apalagi pulangnya dibeliin es kelapa muda sama instruktur buat buka puasa, hehe.

Mundur-Belok:
1) Injak kopling habis, pindahkan gigi ke gigi R.
2) Mundurkan mobil hanya dengan menggerakkan kopling sedikit,
# Caranya:  injak kopling habis, angkat kopling sekuku, tahan biarkan mobil merayap, injak lagi sekuku, tahan.

# Mata selalu lihat ke spion.
# Perhatikan: Mundur mobil harus diusahakan lurus segaris dengan trotoar.
# Jika pantat mobil sudah sampai di ujung jalan atau kurang sedikit dari ujung jalan tempat parkir maka Injak kopling.
3) Putar stir mobil 2 x ke kiri/kanan (putar habis).
4) Angkat kopling sekuku.
5) Mobil luruskan (ban luruskan) dengan cara putar balik stir 2x putaran ke kanan/kiri (kebalikannya).
6) Mundurkan lagi mobil sedikit agar mobil menjadi lurus (segaris dengan trotoar).

Jika sudah lurus, berhentikan mobil ketika mundur:
1) Angkat gas
2) Injak kopling habis
3) Injak rem perlahan-lahan

Aplikasi teknik mundur-belok ini adalah untuk parkir di masuk ke halaman rumah atau parkirdi mall *perlu banget tuh pastinya*

Friday, 19 August 2011

Uang Receh Lebaran


Lebaran yang tinggal beberapa hari lagi ini semakin semarak aja. Salah satunya adalah penyediaan uang receh buat bagi-bagi ke adik-adik, sepupu, dan anak tetangga. Anak-anak tersebut sangat senangmenerima uang yangmasih baru, apalagi kalo jumlahnya banyak, hehe *pengalaman masa kecil*

Di kantor kebetulan lagi booming tuker uang receh baru. Berawal dari seorang teman yang menawarkan jasa tuker uang secara gratis maka saya dan teman-teman langsung menyambut tawarannya dengan mantap, karena males aja tuker di bank yang biasanya harus pesan dahulu untuk jumlah tertentu


Melihat uang baru yang segar-segar ini seperti melihat jus strawberry di siang hari yang panas *lebay mode on*

Tapi emang gak bisa disangkal, memegang uang baru yang masihrapi tanpa lecek lebih menyenangkan, sampai akhirnya tibalah saat melepas uang-uang tersebut....


Thursday, 18 August 2011

Penggugah Semangat Jiwa…


Imam Hasan Al-Banna pernah berpesan, kalian tidak akan terkalahkan karena sedikitnya jumlah kalian, lemahnya sarana dan kurangnya alat-alat pendukung, atau karena banyaknya musuh kalian, berkumpulnya musuh-musuh menentang kalian. Mengapa…? Karena walaupun semua isi bumi ini berhimpun menjadi satu memusuhi kalian, niscaya mereka tidak dapat membahayakan kalian kecuali apa yang telah ditentukan Allah kepada kalian.

Tetapi ada satu sebab yang dapat menghancurkan kalian, dan menyebabkan kalian kehilangan segala-galanya yaitu, JIKA HATI KALIAN TELAH RUSAK, Allah tidak memperbaiki amal kalian, suara kalian telah terpecah belah dan saling bertentangan pendapat. Sebaliknya selama kalian bersatu, selalu menghadap Allah SWT, senantiasa mengikuti dan taat kepada-Nya, berjalan sesuai dengan manhaj yang diridhai-Nya, kalian tidak akan pernah merasakan lemah dan hina. Jadilah kalian sebagai umat yang paling tinggi. Allah akan selalu bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan amal serta usaha kalian.

Subhanallah, pesan yang begitu mengena. Lemahnya semangat pasti senantiasa menghampiri kita, itu adalah hal yang biasa, yang luar biasa adalah, jika kita sadar, kemudian bangkit, dan tidak memberikan tempat sedikit pun pada setan untuk terus menggoda….

Satu lagi penggugah semangat jiwa, amat khusus untuk jiwa lemah seperti saya. Ku bersimpuh di halaman Allah, kusujudkan wajahku pada debu-Nya, tidak bisa ku sembunyikan hatiku dari pandangan Allah, tidak bisa, tetap ku ingin kembali pada-Nya….

Mulanya ku anggap mudah perjalanan ini. Dengan idealisme khas seorang remaja, kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah mengajakku. Pada awalnya, aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan ini. Begitu pun arti perjumpaan dengan Yang Maha Agung, yang konon merupakan puncak kebahagiaan manusia.

Agaknya kekurangpahaman ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuangan ku yang mengurungkan niat. Atau mereka segera merasa letih, atau memilih jalan lain yang tampaknya lebih menjanjikan kemudahan. Namun aku tiada terganggu. Sementara jalan di hadapan ku semakin menanjak dan menyempit. Dan waktu pun terus berlalu…Aku dan lainnya terus melangkah terseret-seret. Hampir seperempat abad usiaku aku habiskan di jalan ini. Dan kini makin kupahami tabiat jalan yang telah kupilih.

Entah sudah untuk yang keberapa kali lutut ini bergetar. Nafas pun mulai tersengal. Kadang kujumpai seseorang berdiri di tengah jalan. Ia tampaknya tidak menyukai kehadiranku. Tapi aku harus melewati jalan itu. Dengan segenap kemampuan kuhadapi ia. Terkadang saudara-saudaraku tinggal diam, membiarkan ku berkelahi sendirian.

Entah berapa kali sudah aku tersungkur. Orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan seluruh perjalanan. Tapi aku tidak mau peduli. Masih pekat kepercayaan ku, Ia yang akan kujumpai di sana senantiasa akan memberikan kekuatan gaib-Nya kepadaku.

Kini di hadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak. Di pinggirnya ada semak-semak liar, yang menatap kami dengan masam. Sementara dari sudut mataku, dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku tergelincir. Tak ada semak yang mengejek. Jalannya pun lapang dan teduh. Tapi aku tak mau menatap jalan itu. Kupertajam tatapanku ke arah tebing angkuh tadi. Samar dapat kulihat jejak-jejak kaki orang-orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat adanya jejak sama sekali.

Dan babak baru perjalanan pun kami mulai. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak, hampir pasti akan tergelincir. Terpaksa kuakui kalau nyali ini agak menciut. Namun kututupi sedapatnya. Akupun harus melangkah naik.

Ah…seorang saudaraku tegelincir, tepat di sebelah ku! Kuulurkan tangan menahan lajunya. Tapi terlalu berat. Dengan pasti aku turut terseret. Namun ia tidak berusaha untuk turut naik. Sementara pijakanku pun semakin tak pasti. Dengan berat kuputuskan untuk melepaskan peganganku. Ia mengerti, ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalan kami dengan jalan lain yang lebih ramah, walau entah menuju ke mana….

Bahkan sempat kudengar kabar, terhentinya perjalanan salah seorang saudaraku yang dulu turut membimbingku melewati masa-masa awal perjalanan. Dan semakin banyak saja yang mengikuti jejak mereka!

Di setiap jalur yang kami tempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempat kami melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya Ia akan menurunkan pembantu-pembantu-Nya untuk menghibur kami, orang-orang yang mendambakan perjumpaan dengan-Nya. Di sini aku biasa menangis sejadinya. Menghimpun keberanian, guna melanjutkan langkah.

Rabbku, telah kupenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah kucoba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba ku atasi sedapatnya panasnya hari-hari kulewati.

Namun ampuni aku ya Rabbi. Betapa seringnya hamba tertegun ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini. Semuanya memang dikarenakan kelemahan hati ini yang masih saja berharap mencicipi kenikmatan duniawi.

Kini pun hati yang peragu ini masih diguncang gundah. Akankah Kau terima buah karya tangan lemah ini? Akankah Kau hargai, apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu? Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu? Juga masih kudambakan pujian selain dari pujian-Mu? Betapa semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu!

Ada kudengar jalan lain yang jauh lebih sulit dari yang kini kutempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa, dengan nyali melebihi singa. Mereka mempertaruhkan segalanya, hatta nyawa sekalipun. Mereka meyakini dan merasakan, meregangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan sang Kekasih.

Ada terpikir olehku untuk melewati pula jalan itu. Namun aku cukup arif untuk menyadari, betapa diri ini tak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah aku ini, dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu, untuk membuktikan kecintaan kepada–Nya? Betapa lancangnya aku mengukur diri dengan mereka yang menghabiskan malam-malamnya dengan sujud tersungkur, mengharapkan ampunan dan cinta-Nya. Dan aku pun harus bersabar…..

Kupandangi tanah datar di hadapanku. Di salah satu sisinya ada lembah yang terus menyatu dengan kaki gunung. Perlahan kudengar gemericik air kali. Kuseret langkah ke sana. Gemericik suara dedaunan dan teriakan serangga ilalang menemani kesunyianku.

Kulepas alas kaki. Hati-hati kumasukkan kaki ke beningnya air. Terus menuju ke tengah-tengah arus. Kuresapi dan kunikmati kesejukannya. Kuusap wajah dan kepala, dan segera kurasakan kesegaran yang luar biasa. Selanjutnya aku telah tertunduk di sebongkah batu besar di tengah-tengah kali.

Sejuta pikiran dan angan bersatu di benakku. Perjalanan panjang telah mengantarkanku kemari. Kuharap kesunyian tempat ini dapat meneduhkan gejolak panas di benakku.

Tapi sampai berapa lama aku berada dalam kesunyian seperti ini. Gunung diam di hadapanku justru mempertebal kebosananku. Kicauan burung yang ramai pun tak mampu menembus kekosongan hatiku. Kulihat sekelilingku… Sepi…

Aku harus segera berlari, kembali ke rombongan. Pesona tempat ini ternyata tak mampu mengobati hatiku yang sunyi. Aku harus bergabung bersama mereka, kembali melintasi semak berduri. Seraya terus menetapkan angan, akan suatu peristirahatan abadi. Akan suatu taman yang rindang, yang kaya dengan aneka buah, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai……

Ya Rabbi, walau berat kurasa, tetapkanlah kakiku di jalan dakwah ini…….. selamanya……

 Maraji’:

  1. Ibnu Ibrani, di majalah Islah
  2. Syaikh Musthafa Masyhur, Al-Qiyadah wal Jundiyah
Sumber: dakwatuna