Thursday, 20 January 2011

No resolution



until today, i don't have trully target. it's not mean that don't have any target.. i have many target exactly, but i don't know which have to my priority.
oh God, i really need Your guidance :(

i think i too bad to understand your guidedance. help me to understand it.
in my life, i want to do activities what i want. but i don't know whether it's good for me or not. please, don't let me go astray, God :(

Monday, 17 January 2011

Mencari - cari Alasan, Kita, dan Mereka


Menjelang mukhoyyam;

'maaf, saya ada agenda keluarga keluar kota.'
'Apa tidak bisa ditunda?'
'Soalnya besuknya juga ada acara lagi.'
'Tapi ini kan mukhoyam sapu jagad akh?'
'iya, habis gimana ya....'
tetap tidak bisa

kadang2, kita menemukan kondisi diatas... atau saat liqa

'liqa sdh mulai ini. antum dimana?'
kali ini sms
'maaf pak, saya masih kecapekan pulang kerja. izin dulu.'
capek. Bisakah jadi alasan..?

atau saat rapat

'akh, katanya antum kemarin ngga datang saat rapat abis shubuh?
katanya cuma DPC kita yg ngga ada wakilnya?'
'afwan akh, kemarin itu hujan deras abis shubuh. makanya saya ngga bisa berangkat.'
'hujan deras? bukannya antum punya jas hujan?
antum pernah ngga lihat saya ngga adatang karena hujan. bukankah rumah saya lebih jauh dari antum?'
tak ada tanggapan.
Hujan. akankah jadi penghalang...?

soal alasan, kita memang suka mencari-carinya. apalagi kalau murabbi atau pembina mudah ngasih izin dan dari pengalaman tak pernah ada masalah dengan izin tak ada iqab atau amarah dari atas. kitapun menikmati 'izin' yg diberikannya. Tetapi, apakah dihadapan Allah masalahnya juga 'selesai'?

Dalam masalah2 dakwah, tarbiyah, dan akhirat. orang-orang beriman tidak semestinya banyak minta izin. para pendahulu kita, selalu bersedia memenuhi panggilan mereka tidak minta izin.

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa(QS.9:4)

satu kali, datanglah sekumpulan orang islam minta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut
dalam perang tabuk dan Rasulullah mengizinkannya, maka turunlah firman Allah:

Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (QS 9:43)

itulah maksudnya, andaikan pun kita diizinkan dengan alasan kita belum tentu selesai urusan dengan Allah karena IA Maha Tahu apa yg dalam hati kita. apakah kita merasa capek saat hendak berangkat? tiba2 motor mogok? tiba2 anak-anak rewel? tiba2 inget punya PR?

waspadalah, waspadalah! ada kalanya karena dari awal azzam kita kurang kuat. niat kita kurang bulat. maka Allah tidak redho dengan itu, dan dijadikanlah kita golongan yg tertinggal.

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (QS 9:46)

maka jika dari awal kita berniat untuk tidak hadir, biasanya, akan selalu muncul alasan untuk itu. sebabnya bisa jadi, karena Allah tidak menghendaki mereka yg niatnya tidak bulat, azzamnya kurang kuat jika mereka ikut, bisa2 malah menambah masalah.

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. (QS 9:47)

karena itu jika al akh, saya maksudnya, berniat tidak hadir karena alasan:
hujan lah
capek lah
panas lah
habis bensinlah
kendaraan sudah terlanjur dimasukin lah
dll lah

waspadalah, jangan2 memang niat kita dari awal kurang bulat dan Allah tidak suka dengan itu.

tetapi ada yg lebih berat dari itu:
al akh yg tidak (ingin) hadir
dan ia tidak minta izin
ia justru menyampaikan alasan2nya ke al akh yg lain
siapa tahu ada yg mengikutinya ^_^

yg ini ayatnya agak berat
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.


Mereka juga mencari-cari alasan

Para shahabat ra yang mulia, mereka juga mencari-cari alasan saat terbentang sebuah amalan. lihatlah beberpa contoh berikut:

tersebutlah seorang shahabat yg mulia, Abdullah bin Mughfil namanya. saat genderang perang tabuh berkumandang ia ingin ikut berangkat berperang. tapi ia tidak punya bekal
tidak punya senjata, tidak punya binatang tunggangan

beberapa shahabat lain juga bernasib sama, seperti Ulyah bin Yazid ra. tapi mereka semua ingin ikut tetap berangkat ke medan jihad. datanglah mereka menemui Nabi minta perbekalan tapi nabi bilang sudah habis itu perbekalan' merekapun kembali dengan air mata bercucuran sedih tak ikut berangkat.

turunlah firman Allah
dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan[654]. (QS. 9:92)

contoh lain, orang2 miskin di zaman Nabi SAW:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sahabat Muhajirin yang miskin datang kepada Rasulullah saw. dan mengadu: "Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi." Beliau bertanya : "Mengapa demikian?" Mereka menjawab: "Mereka mengerjakan salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka juga bersedekah. Sedangkan kami tidak, serta mereka memerdekakan budak, tetapi kami tidak dapat memerdekakannya." Kemudian beliau bersabda: "Bolehkah aku memberitahu kalian tentang sesuatu yang dapat mengejar mereka, dan kalian akan berada dalam barisan terdepan bagi orang-orang sesudahmu, serta tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukan seperti apa yang kalian lakukan?" Mereka menjawab: "Baiklah, wahai Rasulullah."Beliau menjawab: "Yaitu supaya kalian membaca tasbih (Subhanallah) membaca takbir (Allahu akbar) dan membaca tahmid (Alhamdulillah) setiap selesai salat masing-masing tiga puluh tiga kali". Tetapi, setelah itu sahabat-sahabat Muhajirin yang miskin kembali lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: ""Saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan, kemudian mereka melakukan seperti apa yang kami lakukan." Maka Rasulullah saw. bersabda: "Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki." (HR. Bukhari dan Muslim)

mengapa disebutkan para shahabat diatas mencari2 alasan?

Ya, sebenarnya mereka kekurangan. mereka tak punya senjata, bekal. Mereka miskin, tak bisa berinfaq harta, apatah lg memerdekakan budak. tetapi mereka mencari2 alasan agar bisa berjihad. mereka mencari2 alasan agar menjadi yg terbaik di hadapan Allah.

dan itulah bedanya mencari alasan kita dan mereka:

kita (khususnya saya), dengan segala kelebihan yg kita miliki mencari2 alasan untuk tidak berperan serta dalam kebaikan.

adapun para shahabat, dengan segala kekurangan yg mereka alami mereka mencari2 alasan agar tetap berperan dalam jihad dan dakwah.

maka begitulah, setiap menjelang perang:

shahabat yg masih muda, memakai sepatu berhak tinggi, mereka ingin tampak dewasa dan diikutkan dalam jihad.shahabat yg tua, mereka tunjukkan ahli memanahnya, mereka sampaikan ingin beroleh syahid di jalan-Nya

tetapi ada yg sangat monumental dari itu semua:
kisah wafatnya Abdullah bin Ummi maktum. lelaki buta yg mulia ini, dengan kekurangannya mencari2 alasan biar ikut berperang biar bisa syahid. tetapi khalifahpun punya alasan melarang lelaki buta berbahaya jika ikut berperang. iya kalau yg ditebas adalah musuhnya, bagaimana jika keliru temannya?

tetapi, lelaki buta yg mulia itu selalu punya alasan untuk menggapai cita2 syahidnya dan inilah kisah akhir hayatnya:

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.” Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. ‘Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa’ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pndahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘ Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin.

jikapun harus izin

tetapi apakah selamanya kita dilarang minta izin?
tidak juga. seperti Abdullah bin Mughfil diatas. karena itu jikapun kita minta izin karena uzur, beritahukanlah kepada yg berwenang, dengan cara yg melegakan si penerima kabar:

1. sampaikan sebelum acara
2. kemukakan mengapa anda 'layak' tidak hadir
3. berikan alternatif lain.
4. lihatlah perasaan kita, apa kita nyaman dan menikmati ketidakhadiran ini?

'maaf ustadz, saya tidak bisa hadir. capek'
'afwan, ada urusan keluarga. izin'
'saya lagi lemah iman, saya mundur dari kepanitiaan'

sms2 seperti diatas, bukan melegakan, tapi bisa mendatangkan zhan:
secapek apa sih...?
sepenting apa sih..?
selemah apa sih...?

Ironis memang, tapi cara seperti ini masih agak lumayan ketimbang yg tidak pernah mencari dan menyampaikan alasan ghoib atau keterlambatannya... paling tdk masih ada rasa tanggung jawab terhadap ikhwah dan dakwah. Meski kondisi seperti ini tdk bisa dibenarkan dan dibiarkan merajalela.

seorang pemuda menemui Nabi SAW
'Ya nabi, saya ingin berjihad, tapi ibu saya sakt keras,
mana yg harus saya dahulukan?'

'Ya Nabi, saya ingin ikut perang, tapi saya tidak punya bekal, berilah saya bekal?
'

Abdullah bin Mughfil berkaca dari hal tsb.

jadi kalaupun minta izin, sms lah yg lengkap.
'pak, saya sakit, sudah 2 hari tidak masuk kerja, apa diizinkan?'
tak ada alasan kecuali si penerima sms akan mengizinkan

'pak, ibu saya meminta saya pulang, katanya penting, apa boleh jika saya tidak hadir?'

'tad, saya harus jaga anak2, umminya sakit, bagaimana kalau liqa dipindah di rumah saya saja?'

'tadz, saya harus lembur kerja menddadak, tidak bisa hadir. iqab apa yg perlu saya tunaikan untuk ini?'

seorang ksatria, selalu punya alasan layak untuk disampaikan

Ada juga kabar gembiranya, dalam shahihain, dari Anas ra Rasulullah SAW bersabda:
di Madinah ada sekelompok orang, tidaklah kalian melintasi lembah atau menempuh perjalanan, melainkan ia bersama kalian. Shabat bertanya, sekalipun mereka tetap di Madinah? kata Rasulullah, ya, uzur telah menahan mereka

jika memang kita punya alasan dan alasan itu layak
jika kita menangis saat tidak berangkat seperti Abdullah bin Mughfil
jika kita resah karena ketidakikutsertaan kita

semoga Allah mencatat kita termasuk dalam kafilah yang ikut berangkat serta.
wallahu a'alam

Epilog


yg ghoib karena udzur syar'i (sepanjang prosedurnya dg baik dijalani) pasti merasakan kealfaan diagenda2 tarbawi/da'awi reguler adalah sebuah KERUGIAN...hatinya selalu terpaut kepada ikhwahnya dan agenda yang dia tinggalkan...
Sesungguhnya dia tetap HADIR bersama dakwah dan ikhwah...bersama kerja besar ini...sehingga tdk bernikmat2 ria dg udzurnya.
Dengan begitu dia akan segera mencari, perkembangan apa yg terjadi dg ikhwah dan dakwah saat dia alfa. Dg begitu dia akan akan bersegera untuk kembali ke mahadhin tarbawiyyah dg jiwa, raga dan kalau perlu harta (sbg konvensasi kealfaannya...misalnya). Orang yg ghoib karena udzur syar'i akan cenderung 'kembali'


sumber: [ini] dengan beberapa perubahan.


Saturday, 15 January 2011

Nibiru? Tasaro? diskusi buku?!!!


oh my God! entah sedih atau senang denger kabar ini: Terpilih jadi utusan goodreads Indonesia (GRI) tuk mewakili GRI di diskusi buku nya Tasaro; Nibiru. Diskusi buku ini akan masuk di Media Indonesia rubrik jendela buku. Ini merupakan kerjasama antara GRI dengan media Indonesia.

Sebenernya gak tau apa2 tentang Tasaro dan Nibiru,,, hiks. Kemaren pas di Lab dapet tawaran dari winda tuk ikutan daftar jadi peserta diskusi buku. karena kalo ikut diskusi itu dapet buku gratis, saya langsung mau. "lumayan li, kalo buku itu harganya 78rb" kata winda. hmm, tapi diskusi terbatas ya? cuma 5 orang lagi... jadi otomatis setiap orang kudu ngomong nih. duh sebenernya rada2 gak pede. habisnya labelnya kan perwakilan goodreads Indonesia... padahal saya aja jarang banget update goodreads karena buku yg saya baca belum selesai-selesai. malah sebenernya tmn2 goodreads tuh keren2, dalam sehari malah ada yang berhasil melahap 3 buku... ffuuhh, betapa payahnya saya. Baru belajar mengatur waktu baca buku soalnya, diantara sederet kesibukan2 saya :p

tapi akhirnya dengan ragu-ragu, saya berniat tuk nyoba, mudah2an tidak terpilih... *lho??*

Saya coba buka akun goodreads saya dari kompi lab. beberapa kali mencoba tuk login ternyata ditolak, setelah utak-atik settingan alhamdulillah berhasil, dan langsung kirim pm ke mas harun harahap sebagai koordinatornya. daaan.... gak lama kemudian pesan saya langsung dibales, "oke lia. bukunya akan saya kirim, sampai ketemu tanggal 29 januari ditempat yang akan diberitahu lebih lanjut." denggg! bingung deh sedih atau seneng ya?

seneng sih bisa dapet buku gratis, tapi dag dig dug nih buat diskusi. kata winda buku nibiru ini setebal 600 halaman! maakk... kalo Harry potter sih saya tahan tuh ngelahap dalam waktu 2 hari. kalo buku ini...?? semoga bisa.

http://www.goodreads.com/topic/show/396950-kerjasama-goodreads-indonesia-dan-media-indonesia-januari-2011?comment_id=25164715&format=html&page=2

Nibiru... buku tentang apa ya? sama sekali cuma denger namanya aja. gak tau cerita tentang apa, gak tau sampulnya kayak apa. Tasaro... kayak apa ya orangnya? orang jepang kah? gimana ya alur penulisannya...? apa aja ya buku2 yang udah dia tulis? banyak pertanyaan yang belum terjawab. harus segera nyari jawabannya nih,, biar gak blank kalo ditanyain about penulis, hiyy...

melihat profil beliau dari goodreads, ternyata tidak satupun buku beliau yang pernah saya baca, hiks... :'(

Sekarang cuma berharap buku nibiru ini cepet dateng, biar bisa kubaca dan diskusi dulu bareng winda sebelum on air. Untung ada winda juga :D

Bagaimanapun juga harus bersyukur ya... alhamdulillah.
Semoga semua akan baik-baik saja... all is well


475407
Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan "GK", singkatan dari Gunung Kidul, pada pen-name nya) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta, berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karier sebagai penulis sekaligus editor. Sebagai penyunting naskah, kini Tasaro memegang amanat kepala editor di Salamadani Publishing. Sedangkan sebagai penulis, Tasaro telah menerbitkan buku, dua di antaranya memeroleh penghargaan Adikarya Ikapi dan kategori novel terbaik; Di Serambi Mekkah (2006) dan O, Achilles (2007). Beberapa karya lain yang menjadi yang terbaik tingkat nasional antara lain: Wandu; novel terbaik FLP Award 2005, Mad Man Show; juara cerbung Femina 2006, Bubat (juara skenario Direktorat Film 2006), Kontes Kecantikan, Legalisasi Kemunafikan (penghargaan Menpora 2009), dan Galaksi Kinanthi (Karya Terpuji Anugerah Pena 2009). Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah; menimang anak dan terus menulis buku.


Friday, 14 January 2011

Gunung Kapur: Jalan-jalan after nge-Lab


meluncur atau memanjat ya?? seru juga kayaknya.

Rabu kemarin, sempet jalan-jalan (sebenernya di sempet-sempetin) ke tirta sanita hotspring di daerah Cisarua. Baru tau juga sih dari internet kalo disana ada gunug kapur. Gak terlalu jauh dari lab Puspitek serpong. So, abis ngeLab, saya, mba li and mas kur langsung meluncur kaesana (sekitar jam 16), menikmati sepanjang jalan dengan kehangatan mentari sore.... Jalan ke sana pake motor cuma 20 memit dengan kecepatan 50 Km/jam (naik turun sih, karena jalanannya rame).

Sekilas review:

Tempat ini menawarkan pemandian air panas alami yang berasal dari gunung kapur Ciseeng. Air panas tersebut dapat menyembuhkan penyakit kulit, tulang dan lain sebagainya, bahkan sudah diuji oleh TEMAC Thai Engineering Materials Analysis C. Ltd.

Kalo libur: Tiket masuk ke lokasi sebesar Rp 8.000 untuk dewasa dan Rp 6000 untuk anak2. Di dalamnya terdapat kolam renang anak2. Kolam tersebut ukurannya kecil dan saat itu cukup padat oleh pengunjung. Lalu ada lagi pemandian untuk dewasa, sebesar Rp 7.000 per orang untuk kamar biasa (ukuran 2×2 m) atau Rp 10.000 per orang untuk kamar VIP (ukuran 4x4m). Tapi tempat pemandian ini suka Full..

Selain pemandian air panas, di Tirta Sanita juga terdapat taman, bukit kapur, area outbound dan juga beberapa permainan anak. Memang kawasannya tidak terlalu luas, tapi lumayan untuk beristirahat sejenak. Jika kita menaiki bukit kapur, maka dari atas kita dapat melihat pemandangan yang cukup indah. Hamparan sawah dan pepohonan membuat suasana hati menjadi sejuk, walaupun cuaca di lokasi cukup panas.

Jangan takut akan kelaparan atau kehausan, karena banyak sekali penjual makanan & minuman di dalam kawasan ini. Bahkan begitu Anda duduk, langung ditawarkan kelapa muda juga makanan lainnya. Berhubung cuaca yang cukup panas, minum sebutir kelapa muda menyegarkan tenggorokan yang kering. Harganya pun cukup murah, hanya Rp 5.000. Disana juga terdapat sebuah panggung hiburan, yang saat itu menampilkan musik live yaitu dangdut .

Di sana juga terdapat area outbound, yang berupa flying fox, meniti tali seharga Rp 25.000 / orang. Flying foxnya cukup tinggi lho. Juga terdapat arena mainan anak2 yang berupa mobil/motor yang menggunakan batterai dengan harga Rp 5.000, dan motor kecil yang menggunakan bensin dengan harga Rp 7.000 masing2 selama 15 menit.

Ada juga restoran yang menyajikan makanan dengan harga cukup terjangkau. Rasanya pun lumayan enak, restoran ini terletak di tengah danau. Tidak jauh dari restoran terdapat sebuah bangunan,yang ternyata penginapan. Penginapannya sederhana, tapi tiap kamar dilengkapi AC. Tarifnya Rp 135.000 untuk yg kamar mandi di luar, dan Rp 165.000 untuk kamar mandi di dalam. Juga tersedia untuk istirahat saja (per 6 jam).

Tempat ini bisa jadi alternatif untuk berwisata hemat bersama keluarga :)

Detail daftar harga nya, bisa dilihat dari webnya http://www.tirtasanitahotspring.com

Tuesday, 11 January 2011

Kisah Pengajar Muda IM - A story about Rizki, My Genius Student


Dear temen-temen,
Just wanna share satu kisah inspiratif dari salah satu Pengajar Muda Indonesia Mengajar bernama Mb Wiwin (Erwin Puspaningtyas Irjayanti) aka Waheeda El Humayra (alumni IPB) yang saat ini ditempatkan di Majene, Sulawesi Barat.

Selamat membaca

========================================

A story about Rizki, My Genius Student

By : Erwin "Wiwin" Puspaningtyas Irjayanti


"The Old Man said, Everyday has its miracle. I am not the Old Woman, but I believe it too: EVERYDAY HAS ITS MIRACLE"


Kisah ini hadir di layar komputermu setelah seorang guru di SD terpencil berlari-lari riang selama 45 menit sembari membawa parang bersama 3 muridnya yang menggenggam bambu runcing untuk menghalau babi--jika sewaktu-waktu ketemu--menuju "Bukit Harapan", demikian bukit itu diberi nama baru-baru ini karena di bukit itu telah ditemukan sinyal GPRS. Diketik dengan penuh kesabaran di atas keyboard HP Nokia E63, inilah kisah yg ingin diceritakan oleh guru SD terpencil itu:

Tentang Rizki.
Teman-temannya, murid kelas 3, bercerita tentang dia kepada saya: anak itu, namanya Rizki. Rizki Ramlan. 9 tahun. Sejak 4 bulan belakangan, dia tak pernah berangkat ke sekolah. Tanpa alasan. Namun desas desus menyebutkan, bahwa ia malas bangun pagi. Dengan kehadirannya yang tak lebih dari 20 kali dalam 1 semester, teman2nya mengenal ia sebagai anak pandai. Rizki, ia tinggal di Tamaluppu.

Tentang Tamaluppu.
Ialah sebuah tempat yg lebih terpencil dari Passau--tempat terpencil dimana saya tinggal saat ini.

Ini adalah statistik tentang Tamaluppu (T) Vs. Passau (P):
*Jumlah rumah: 13 (T) Vs. 60 (P).
*Listrik: sama sekali tidak ada (T) Vs. genset desa dr jam 19.00-22.00 (P).
*Sinyal GSM: sama sekali tidak ada (T) Vs. Maksimal utk SMS di spot tertentu (P)
*Jarak dari jln.poros Majene-Mamuju: 6-7 km / 1,5-2 jam perjalanan (T) Vs. 3 km / 45 menit perjalanan (P).
*Dapat dicapai menggunakan: hanya dengan jalan kaki dari Passau (T) Vs. Motor, jika tidak turun hujan (P)

Tentang Ide Mengajar di Tamaluppu
Pada hari dimana saya mengemukakan ide bahwa saya ingin seminggu 2x memberi pelajaran tambahan bagi anak-anak di Tamaluppu, banyak orang menganjurkan untuk tidak usah, karena itu jauh, susah, repot. Anak2 Tamaluppu juga lebih pemalu dari anak2 super pemalu di Passau. Buat apa? Kenapa tidak menyuruh mereka saja yang ke sini utk mendapatkan pelajaran tambahan?
Saya bergeming. Hanya tersenyum dan dengan halus menjawab keberatan orang2, "saya akan tetap ke sana, meski sendirian."

Tentang Tamaluppu yang Saya Kenal.
Sudah tiga minggu ritual ini berjalan: Jam 3 sore, setiap Selasa dan Jumat, pergi ke Tamaluppu mengajar anak-anak di sana. Kami belajar dimana saja: di rumah Ali (murid kelas 6), di halaman langgar, di bawah pohon kelapa (yg sedang tidak berbuah). Saya mengenang Tamaluppu dalam beberapa potongan memori:
--ialah suatu tempat dimana 8 dari 63 murid saya tinggal. Yang jika hari hujam, dipastikan anak2 itu tidak akan berangkat sekolah.
--Sebab jika hari hujan, jalan setapak yg sedianya mereka lewati berubah menjadi sungai dan air terjun.
--Anak2 itu berangkat ke sekolah dengan membawa bambu runcing, sebab di perjalanan dari Tamaluppu menuju Passau, seringkali mereka musti berhadapan dengan babi hutan.

Antara Saya dan Rizki Ramlan
Saya tidak pernah mengenal anak itu. Menyentuhnya. Berbicara dengannya. Saya tidak mampu. Ia begitu tak tersentuh. Begitu jauh. Setiap kali saya berusaha mendekatinya sehabis saya mengajar anak2 Tamaluppu yang lain, ia selalu lari. Menjauh. Mengintai saya dari tempat yang menurutnya paling aman sedunia: persembunyiannya. Saya mengalah. Saya memilih tidak memaksa.

Hingga pada suatu sore yg berhujan deras, yg tak henti-henti sampai petang dan malam tiba, saya memutuskan untuk menerima kesopanan orangtua Ali yg menawarkan saya bermalam di rumah mereka. Singkatnya malam itu, Rizki yg malu-malu itu, pada suatu kesempatan saat saya habis salat isya, dari balik pintu dia melemparkan: selembar kertas yg bulat karena diremas, dua lembar, tiga lembar, sampai 6 lembar. Lalu, dia lari. Dia berlari dan menjauh. Tak tersentuh untuk kesekian kalinya.

Saya membuka kertas2 itu. Isinya, membuat saya mematung:
Coretan soal2 matematika yg tiga minggu ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu, kelas 4, kelas 6. Di kertas yg lain, coretan soal yg dia buat sendiri, dan dia jawab sendiri. Dan 80% jawabannya adalah benar: materi kelas 4, materi kelas 6. Rizki, kelas 3, sudah 4 bulan tidak masuk sekolah.

Aku tertegun. Mematung.

Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas: "Pintar sekali kamu! Sekolah di mana?". Kuremas kertas itu. Lalu keluar rumah: mencari sosoknya di kegelapan dan menemukannya sedang mengintaiku dari bawah tangga. Kulempar kertas itu di tempat yg terlihat namun agak jauh darinya, lalu pergi seolah-olah yg barusan kulempar adalah sampah.

Tak lama, dari jendela yg sengaja kubuka, masuklah segumpal kertas:
"Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya."
Aku tersenyum. Benar dugaanku bahwa dia akan membalas suratku. Tanpa sempat menutup jendela, aku tertidur. Tak tahu bahwa seorang anak meringkuk di bawah jendela, menanti ada balasan atas segumpal kertas yg dilemparnya. Hanya karena dia berpikir bahwa jendela itu masih terbuka. Ketika pagi, baru aku sadar: jendela terbuka, aku melongok, menemukan tubuh kecil meringkuk di atas bangku dari bambu. Tertidur. Tangannya menggenggam kertas, dan pulpen.

Tentang suatu hari bernama Selasa, 14 Desember 2010, sekira pukul 15.30 WITA
Hari hampir hujan. 30 menit perjalanan dari Passau sudah saya tempuh. 15 menit lagi, saya tiba di Tamaluppu. Antara ya dan tidak, sembari menatap langit berawan pekat, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit, hujan turun. Langsung sangat deras. Saya berteduh di bawah pohon jambu mete, bersama kakak angkat saya yang juga guru sukarela, Kak Yani. Semenit, dua menit.

...

Di kejauhan, di bawah butiran air yg menyamarkan pandangan mata, samar-samar kulihat sesosok bocah. Bertelanjang dada, bercelana yang warnanya seperti coklat. Parang di tangan kirinya, daun pisang di tangan kanannya. Dia mendekat. Semakin dekat dan dia menuju kami. Menuju saya. Mengulurkan daun pisang di tangan kanannya, satu untuk saya, satu untuk Kak Yani. Aku dan Kak Yani saling bertatapan.

Aku bertanya yg segera diterjemahkan oleh Kak Yani yang intinya, "ngapain kamu di sini? Dari kebun?"

Dia tak menjawab.
Dadanya naik turun. Naik, turun. Naik, turun. Naik turun dengan cepat. Air hujan, mungkin, telah mengaburkan--jika benar--air matanya.

Dia menangis.
Ya, dia menangis.

Lalu, dengan bahasa Mandar yg kacau, saya bertanya, "mangappai i'o sumangiq, Rizki? Mengapa kamu menangis, Rizki?"

Aku mengulurkan tangan. Meraih tubuh basan kuyupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia diam. Tak berlari. Tak menjauh. Rizki, akhirnya, aku dapat menyentuh tubuh kecilnya.

Lalu tiba-tiba, Tiba-tiba saja, dia menyambutku. Memeluk pinggangku. Melingkarkan tangannya yang masih memegang parang di pinggangku.
"Puang, yakkuq meloq massikola." Dalam hujan, dia menenggelamkan kepalanya di perutku, mengalahkan derasnya suara hujan dengan suaranya, "Puang, saya mau sekolah."

Dia memelukku. Erat.

Aku mematung. Haru. Sakit. Sesak. Bahagia. Sesak oleh perasaan bahagia.

Teringat olehku tentang pagi itu, ketika bocah itu masih meringkuk tertidur di bangku bambu bersama segenggam kertas dan pulpen, saat kuletakkan segenggam kertas di dekat kepalanya, "Pergilah ke sekolah. Aku guru di sana. Akan kuajar kau tentang rahasia-rahasia yang ingin kau tahu. Semua rahasia. Pergilah ke sekolah."

Pagi ini, 15 Desember 2010
Kebahagiaan adalah ketika dari jendela rumahm saya melihat anak-anak Tamaluppu tiba di sekolah. Ada Rizki di sana. Dengan seragam kusut robek-robeknya. Saat aku masuk halaman sekolah, ia tengah memegang raket badminton. Saat ia kutatap, ia melengos. Pura-pura tak melihat. Dia masih malu-malu.

Saat kudekati, ia kembali berlari.
Ia kembali menjauh.
Ia kembali tak tersentuh.
Tapi aku tahu, hari-hari esok, dia akan melemparkan bola-bola kertasnya kepadaku. Lagi. Seperti tadi siang ketika tiba-tiba ia melemparku segenggam kertas, "Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?"

***

Salam hangat dari Bukit Harapan

(^_^)

===============================================

PS:
kunjungi website IM di www.indonesiamengajar.org untuk membaca kisah inspiratif dari para Pengajar Muda Indonesia Mengajar lainnya :)

Oya, pendaftaran untuk menjadi PM IM masih dibuka lho, hingga akhir Januari 2011 ini 

Monday, 10 January 2011

resign: that's life

Dimana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Dimana ada awal, pasti akan ada akhir. That’s life.

Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, dan sebuah perpisahan akan menjadi pertemuan dengan sesuatu yang baru. And that’s life.

senin yang kelabu di awal tahun yang mendung... lagi-lagi harus kehilangan partner kerja. the sad story in this morning, meski sebenarnya perpisahan bukanlah duka.

Entah sedih atau gembira ketika seorang partner kerja menyampaikan keinginannya tuk tidak dalam pekerjaan ini lagi. entah sedih atau gembira ketika harus berpisah dengan orang yang telah satu suhu dan pikiran selama ini. entah sedih atau gembira melihatnya berjuang di tempat lain yang dipilihnya. meski sama sekali tidak nyambung dengan keilmuannya, yang seakan menyianyiakan potensi keilmuannya itu... tapi semoga disana ia bisa lebih berkembang dengan bidang ilmu lain yang akan dikuasainya...

Memang tidak mudah memutuskan untuk berhenti dari tempat kita bekerja. Apalagi jika yang kita kerjakan adalah yang kita minati dan kita senangi, meski ritmenya naik turun. Kita akan selalu dibuat ragu, apakah sudah cukup alasan untuk membuat keputusan ekstrem itu? Apakah keputusan yang kita ambil itu sudah tepat dan terbaik?  saya yakin hal ini juga dialami oleh para rekan kerja saya.

Seorang teman pernah memberikan beberapa "wejangan" saatnya mengundurkan diri. Ya, mengundurkan diri bukanlah hal yang buruk untuk dilakukan, jika:

1. Benar-benar membenci pekerjaan kita

Sebab, meskipun hidup ini singkat, melakukan sesuatu yang tidak kita sukai hanya akan membuat hidup yang singkat itu menjadi sangat panjang dan sangat tidak enak. karena hidup ini lebih dari sekedar urusan uang. hiduplah dengan melakukan segala hal yang kita sukai. Saya PRIBADI berfikir; dalam kehidupan saya yang cuma sekali ini, saya akan mengerjakan hal-hal yang saya sukai... tidak akan membuat diri saya ini sengsara dengan keputusan yang saya buat sendiri...

2. Bekerja untuk perusahaan yang tidak kita hargai (lagi)

Jika kita tidak dibayar sesuai kelayakan dan tidak mendapatkan kenaikan gaji, dan kita tidak lagi menghargai perusahaan, melewatkan 40 jam atau lebih dalam seminggu, mending keluar aja deh.

Kasus yang paling parah menurut saya, seorang teman pernah bekerja di suatu institusi litbang pemerintah. karena statusnya bukan cpns/ pns (hanya honor proyek) maka namanya tidak dipublikasikan/ diakui sebagai anggota tim penelitian tersebut pada saat produknya berhasil, padahal dia yang menemukan formula produk terssebut. Huh! kalo gini rasanya gak etis banget ya. masa begitu perilaku orang2 terdidik, padahal tidak bisa dipungkiri ia telah bekerja penuh untuk produk itu :(

3. Bekerja pada perusahaan yang tidak mempedulikan kita

Poin ini agak nyambung dengan poin di atas, Meski tidak semua perusahaan diciptakan sama. Ada yang buruk, ada yang bagus dan ada yang luar biasa, dan semuanya memperlakukan karyawannya dengan cara yang berbeda-beda. Tapi kita harus berikir apakah perusahaan yang mempekerjakan kita peduli pada kita? Setelah yang kita lakukan untuk perusahaan apakah kita layak mendapatkan balasan dari perusahaan seperti itu, kita sendiri yang tahu bukan ;) tapi kasus yang berbeda ya untuk PNS. Karena yang dituntut dari PNS adalah PENGABDIAN kepada rakyat dan negara. Jadi sekeras apapun bekerja, sesering apapun lembur, jangan mengharapkan kenaikan gaji, kalau tidak kiat sendiri berusaha menaikkan golongan fungsional/ struktural kita :D

4. Sudah sangat bosan dan merasa tak ada lagi tantangan

Kadang ini dialami oleh para PNS, berada pada zona nyaman (kerja keras ato gak gaji tetep), kurang dinamis, alias kadang terlalu nyantai --> bikin bosen, karena gak ada tantangan. Untuk jiwa muda cenderung tidak suka dengan tempat kerja yang tidak dinamis, maka saat sebuah tempat kerja membuatnya tidak nyaman lagi maka ia akan "loncat" mencari tempat kerja lainnya yang lebih membuatnya bergairah berkreativitas. Sayangnya bagi para PNS kadang ada sanksi jika memutuskan resign dari kantor tsb, hmm..

Terlepas dari alasan-alasan tersebut, saya yakin para rekan kerja saya punya alasan yang kuat tuk membuatnya harus rela meninggalkan tempat yang selama ini menjadi wadah kreativitasnya, mengembangkan kemampuannya, mengerjakan apa yang disenanginya... banyak hal yang membuatnya gembira, tertawa, was-was, terharu, termenung, atau mungkin juga tangis dan sedih...

Memang keluar dari tempat kerja kadang juga berarti meningalkan tempat dan lingkungan yang menyenangkan -sehingga tidak selalu mudah dilakukan. Tapi, kata rekan saya itu, sekali kita melakukannya, kesempatan-kesempatan baru menunggu dan siap mengejutkan kita. Semoga sukses selalu menyertai mereka...

Kata orang, berhenti bekerja merupakan sebuah pengalaman yang susah terlukiskan. Mengejutkan, mendebarkan sekaligus membingungkan. Pada satu sisi, kita akan dihadapkan pada situasi untuk memulai sebuah fase hidup yang baru dan dituntut untuk segera berpikir mengupayakan pekerjaan baru. Namun, pada sisi lain, kita tentu juga tak ingin memutuskan begitu saja hubungan baik yang telah terjalin di tempat kerja yang akan ditinggalkan. Berharap semoga silaturrahim kita tetap terjalin ya temans...

Hari Terakhir

Ya, hari ini adalah hari terakhir baginya disini. Setelah akhir pekan kemarin menjadi hari yang sibuk. Memberesi barang-barang di lab, transfer informasi pada saya, juga hari pertama dan terakhirnya membimbing langsung mahasiswa yang akan mulai penelitian di lab kami, dan yang terpenting, mengucapkan selamat tinggal kepada semua teman lab... 

Perilaku pada hari ini akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan pada semua orang di proyek ini. Semoga bisa dikenang dalam kesan yang baik. Selamat menempuh kesempatan baru.

Hari ini saya telah kehilangan lima rekan kerja saya (Zc, Ans, Ags, Tr, Put). 

They say "That's life". Ya, hidup memang terdiri dari keputusan atas pilihan-pilihan kita... semoga bisa memilih yang terbaik...

Harapan: semoga saya dan teman-teman saya diberikan petunjuk yang lurus oleh Allah dalam urusan ini... Aamiin..

 

Saturday, 8 January 2011

biarkan orang baik

Mengagumi pribadinya, sebagai pribadi yang setia, penuh cita, keibuan, berjiwa sosial, cerdas... banyak lagi hal yang saya kagumi dari beliau, banyak pelajaran yang saya ambil dari beliau. Meski saya tidak mengenalnya langsung.

Seorang teman yang mengenalnya personal berkata. 'iya sih.. tapi sayang pelit!" dan dia terus bercerita tentang sisi negatif orang yang saya kagumi tersebut.

ah, perasaan saya jadi campur aduk. sedih karena tahu sifat buruknya, menyesal karena telah mendengar ini, menyesal karena teman saya menceritakan ini pada saya.

ah, rasanya mendingan saya gak tahu jelek-jeleknya beliau. sebanyak apapun jua asalkan tidak merugikan rakyat Indonesia, asalkan tidak merugikan umat, asalkan tidak merugikan orang-orang yang menyayanginya dan dia sayangi. Bahkan sesungguhnya dia telah memberikan inspirasi bagi banyak orang melebihi kekurangannya (sifat negatifnya).

yang namanya manusia, tidak akan sempurna. pasti punya kelemahan, pasti punya kekurangan, dan pasti pernah berbuat salah. Jadi mengapa harus melihat sisi buruknya jika sebenarnya sifat buruknya tidak sebesar dampak sifat baiknya. memang manusia lebih suka fokus pada sebuah noda kecil pada gaun putih yang begitu sempurna..

meski tidak bisa dipungkiri, setiap manusia punya sifat buruk, tapi bukan berarti kita harus mengumbarnya. bukankah sesama muslim kita wajib menutupi aib saudara kita? mengapa harus senang jika orang lain tahu sifat buruk saudara kita jika itu tidak membahayakan orang tersebut?

bener-bener nyesel tau sifat buruk beliau. meski tidak mengurangi rasa hormat dan kekaguman saya padanya. sebisa mungkin saya tidak mau mengetahui keburukan2 orang lain, selagi tidak membahayakan nyawa.