Thursday, 6 November 2014
Sensei yang mana
Monday, 19 May 2014
Bicara Sex Pada Anak
Ahad, 18 Mei 14 di Masjid Al-Ikhlas, komplek karang tengah permai, Tangerang
Pendidikan itu untuk semua. Apapun profesi dan tugas, ada ilmu yg jadi panduan agar gak salah. Maka jangan merasa pintar dengan ilmu yg dimiliki karena tidak cukup dan harus belajar lagi.
Seks itu segala sesuatu yg berkaitan dengan alat kelamin dan hubungan kelamin. Selain sex, perlu dijelaskan juga seksualitas. Seksualitas itu segala sesuatu yang menyangkut cara berpikir, merasa, berpakaian, mengutarakan pendapat dan bersikap. Ya, bersikap itu seksualitas yang perlu kita bangun agar tidak kebablasan.
Anak perempuan dan laki2 bisa jadi korban sekaligus pelaku kekerasan seksual. Ada target aktivitas seksual kenapa anak laki2 jadi korban. Begitu jadi korban, persentase jadi pelaku lebih besar. Hampir semua korban sodomi akan menjadi pelaku sodomi pula di kemudian hari.
Jangan nyantai dan merasa anak kita aman!
2. Anak tidak diasuh oleh ortu.
3. Stimulasi dan rangsangan yang luar biasa bagi anak.
4. Lingkungan yang abai/cuek.
Kita menitipkan anak pada lingkungan masyarakat. Kalau lingkungan kotor maka sedikit banyak anak akan terkena kotor. Maka lingkungan perlu didakwahi. Pedulilah dengan tetangga. Lingkungan kita sangat abai. Let's do something karena kondisinya sudah darurat. Bicarakan seks sama anak biar mereka nggak punya pemahaman yang salah ttg seks dan perilakunya.
Apa yang harus kita omongin?
Tahapan Perkembangan Seks
1. Fase oral (0-8 bulan): sumber kenikmatan di mulut.
2. Anal (8-18 bulan): tahap BAB/BAK
Kita sering temukan anak tahan BAB/BAK. Karena ada sumber kenikmatan di depan dan belakang, tidak semua anak, tapi ada anak merasakan kenikmatan ini. Melihat seperti itu kadang respon kita salah. 18 bulan itu batas akhir anak boleh pakai pampers tanpa alasan. Boleh dipakai jika pergi jauh. Dia harus sudah tahu toilet training, kontrol diri. Jika tidak begitu, dia akan cenderung ngeyel, ego lebih tinggi karena itu saja tidak bisa mengontrol.
3. Phailic (18 bulan - 6 tahun) : manipulasi genital.
Anak pegang2 alat kelamin. Kalau kita omelin: pesan yang diterima anak: "Yang enak2 di -sini- gak usah diomongin ke mama." Berikan pengertian.
4. Latency (6-11 th) : Identifikasi ortu sejenis.
Pengasuhan gak bisa dilakukan ibu2, harus juga oleh bapak2. Kehadiran ayah dalam keluarga sangat penting bagi anak. Sesekali ayah mengasuh anak, jalan2 dengan anak. Di sini anak akan menyimpan fungsi peran ayah dan ibu. Hasil penelitian di USA, org lesbi/gay akibat pengasuhan yg tidak lengkap.
5. Genital (11 th ke atas): perhatian terhadap seks dan seksualitas orang dewasa.
Sering lihat anak ke kamar mandi bareng dan ado lomba jauh2an pipis. Memang fasenya.
Yang harus dilakukan
0-5 tahun
1. Konsep kepemilikan.
2. Tubuhnya berharga
Ortu harus ngomong kenapa harus menutup aurat. Kasih penjelasan apa saja yang bisa kita berikan informasi, jangan sama terus. Cari alasan dan informasi yang lain. Banyak baca dan belajar agar bisa kasih
alasan. Bahas yang lain, kalau sudah besar bisa dikasih tulisan ttg kanker kulit.
3. Jenis-jenis bersentuhan.
Harus diberitahukan saat 0-5 tahun. 3 jenis sentuhan yg harus dijelaskan ke anak2. Dari bahu ke kepala boleh disentuh. Sentuhan membingungkan dan harus action: dari bahu-paha. Sentuhan haram: Sentuhan yang menutup pakaian dalam, di payudara dan alat kelamin. Berkali2 harus dikasih tahu. Diulang2 dengan berbagai macam versi. Kejahatan seksual dilakukan pada usia ini karena anak mudah dirayu.
Lakukan role play (bermain peran) bersama umi/Abi, harus dengan ortu sejenis, anak laki2 dengan Abi, anak perempuan dengan umi. Kalau ada yg pegang pinggan bergeser. Kalau pegang daerah terlarang harus teriak dan bicara pada ortu, siapa yang lakukan. Kalau tidak melakukan role play, akan tertanam di otak anak dan anak akan beraksi jika ada kejahatan seksual.
5-7 tahun
1. Kenalkan bedanya: muhrim, kerabat (saudara), sahabat, kenalan, orang asing.
Siapa saja muhrim kita dari garis ayah dan ibu. Apa haknya muhrim. Muhrim boleh melihat aurat yang wajar. Bahkan pada ortu hanya boleh menampilkan aurat yang wajar. Pada kenalan, boleh masuk ke ruang2 tertentu, gak boleh memberitahukan informasi detil ortu pada orang asing.
2. Ajarkan anak mengenali perasaan.
Jika anak nangis, tanyakan kenapa alasannya. Jangan langsung dimarahi agar anak tahu perasaannya.
3. Ajarkan berkata "tidak"--> dipraktikkan. (Role play)
4. Menahan pandangan dan jaga kemaluan, jadikan kebiasaan.
Harus jaga pandangan karena apa2 yang masuk ke pandangan akan masuk ke otak.
5. Tertib.
Saat tidur: pisah kamar, tutup pintu, tidak seranjang. Kakak adik sama2 perempuan tidak disarankan tidur seranjang krn sentuhan berkepanjangan bisa timbul. Saat tidur pakaian harus dijaga.
Saat mandi: mandi/istinja mandiri, tutup badan, malu di tempat umum.
Harus diprogram anak bisa mandi dan istinja sendiri karena kita ingin berpesan bahwa anak itu berharga. Kalau berharga, umur 5 th harus bisa mandi sendiri, tidak dimandikan pembantu, yang bukan siapa2. Kalau masih dimandikan, nggak dapat pesannya kalau tubuhnya berharga. Misal di tempat umum: mandikan anak telanjang bulat di shower umum kolam renang. Bagaimana pesan berharga sampai?
Usia 7-10 tahun.
Harus Kenalkan baligh. Persiapan baligh sebelum usia baligh.
1. Persiapan ttg reproduksi. Kenalkan alat reproduksi laki2 dan perempuan dan fungsi2 alat secara biologi. Jika anak tidak tahu dari ortu, tahu dari siapa???? Film?? Google??
2. Persiapan remaja: perubahan hormon. Baca buku puber aktif. Ajak anak bicara.
3. Berhati2: memilih teman, perlukah pacaran?
A. Putra: muncul 138 jenis pertanyaan yang berbeda dari 50 responden --- jauh lebih penasaran.
B. Putri: muncul 30 jenis pertanyaan standar dari 50 responden.
Pertanyaan : Persepsi ttg pacaran
A. Putra : pegang tangan, ciuman, make love --- orientasi fisik.
B. Putri : menyayangi, menuju pernikahan.
Umur 10-12 tahun
1. Bijak menggunakan gadget.
Anak2 umur ini harus kontrol ortu thd gadget dan Internet. Harus disepakati ortu pinjam hp anak. Ibu harus bisa buka histori hp/Internet.
2. Batasi main games.
Tidak hanya muatan merusak otak tapi juga selalu ada muatan pornografi. Jika otak sudah terkena adiksi pornografi, maka seperti mobil Ferrari berlari kencang dan menabrak. Yang terjadi anak tidak akan bisa kontrol.
3. Kontrol ortu thd gadget dan Internet.
4. Ceritakan kerusakan otak.
5. Facebook: teman, upload foto, status. Hati2 terima pertemanan, update status.
6. Waspada: teman, kopi darat. Waspada orang baca status galau dan didekati perlahan2 lama kopi darat dan terjadi kejahatan seksual.
Pornografi ----> sumber kerusakan. Ini lingkaran setan karena korban akan jadi pelaku.
1. Gozwul Fikri
Pornografi adalah perang pemikiran barat terhadap muslim. Hati2 ajak anak ke pameran otomotif, banyak tampilan pornografi. Apa yang dilihat itu apanya ditangkap.
2. Bisnis
Bisnis yang angka keuntungannya lebih besar daripada narkoba.
Targetnya --- LGBT (Lesby, Gay, Bisexuals, Transgender) is ok : mengarahkan pada silakan pilih LGBT.
1. Program TV ---> Anak2 malas mikir.
2. Open mind opinion ---->hiburan, lucu.
Thrillers pornografi meski sebentar bikin penasaran. Lalu merasa itu adalah hiburan. Padahal itu adalah nilai yang ditanam orang2 barat bahwa LGBT is ok.
Kenapa Mudah diakses pornografi?
1. Fatherless country.
Negara berkembang termasuk ini, TIDAK ADA PERAN AYAH. Ayah ada tapi tidak mengasuh.
2. BLASTed generation.
B : boring -- bosan dg rutinitas. Ortu gak bisa menyediakan rutinitas yang menyenangkan. Bangun pagi, makan diomelin. Sebagian besar waktu anak ada di sekolah. Dan anak senang ke sekolah karena bertemu teman.
L : lonely -- kesepian. Ortu kerja seharian atau ortu ada di rumah tapi sibuk sendiri. Jika anda bekerja, punya komitmen dengan anak kapan meluangkan waktu dengan anak. Service dengan apa yang anak suka jadi anak merasa ortu ada dan bermakna. Anak butuh diservis dan dilayani, tidak hanya sekadar fasilitas. Kategori rumah yang nyaman hasil penilaian di US:
A : angry/afraid - marah atau takut. Anak introvert yang muncul ketakutan. Takut mencoba sesuatu yang baru. Anak extrovert yang muncul pemarah. Anak kita yang mana?
S: stress -- misal anak sekolah di SDIT, 9 jam di luar rumah dan ada tuntutan, capek. Tapi sampai rumah dia dapat tuntutan buat PR, ngaji, dll. Maka anak jangan dimarahi, harus dibuat rileks.
T : tired -- capek. Dengan aktivitas harian spt di atas pasti capek. Rata2 anak usia SD kurus, punya masalah dengan pola makan dan istirahat.
Regulasi dari Google ada aturan. Di US kalau mau googling aturannya umur 13 th, Facebook minimal umur 18 th. Aturan di Indonesia belum ketat. Bahkan, sama gurunya anak SD disuruh googling tuk cari tugas.
Anak2 difasilitasi dengan gadget dan Internet, yang memberikan ortu tanpa kontrol pemakaian dari ortunya.
Sasaran pornografi yang utama adalah anak laki2, usia 8-10 th. Mereka ditargetkan harus sudah adiksi dengan hal2 pornografi. Jika sudah ketagihan ya harus dapat, karena laki-laki itu.....
A. Otak kiri dominan -- jika sdh ketagihan ya harus.
B. Hormon testosteron lebih banyak.
C. Organ vital ada di luar, mudah dirangsang.
Target pornografi oleh Mark Kastleman
1. Anak punya perpustakaan pornografi.
2. Kerusakan otak permanen.
Di atas alis bagian kanan ada PFC - pre frontal cortex yang matangsaat umur 25 tahun, berfungsi menyaring pornografi. Jika belum usia 25 th dan melihat gambar pornografi maka lgs masuk ke syaraf responden. 1 rangsangan yang masuk akan direspon 3. Jika otak sdh rusak karena pornografi maka akan meminta yang aneh2, seperti seks dengan ayam. Fakta: ratusan ayam mati korban perilaku seksual.
3. Jadi pelanggan seumur hidup.
4. Incest.
Kerusakan utama pada anak penyebab utamanya adalah ayah -- Ibnu Qoyim dalam Tuhfatul Maudud 1/242
Thursday, 1 May 2014
Start line: English ability
Walau bagaimanapun juga, I must improve my english ability... ya mulai dari speakin' sampe TOEFL.
Terakhir test TOEFL ITP dapet score over 500 tapi masih di bawah 550.
Hmm...
Tahun ini saya mau ambil test TOEFL lagi.
Merasa english ability yang makin menurun, was was juga kalo score nya jadi menurun juga, hiks... -aku tak mau aku tak mau aku tak mau-
Target kali ini sebenernya ingin memenuhi requirement beasiswa presiden yang butuh TOEFL ITP 587 untuk tujuan luar negeri. Semoga bisa...
Maka mulailah saya mengumpulkan scipt dan buku-buku yang dulu sempat saya pelajari di Kp. Inggris. Alhamdulillah sangat bermanfaat. Saya tidak harus mulai dari nol lagi :)
Buku nya memang tidak banyak, tapi dulu saya sudah mencatat trik-trik yang disampaikan oleh Mizzu Eddy. Beliau juga sempat kasih saya beberapa software TOEFL, yang sampai sekarang belum sempat saya instal semua (filenya banyaaak). Nah sekarang rasanya saat yang tepat buat melahap file-file itu. Lumayan jadi ga perlu les atau beli buku TOEFL kan...
Kalo udah pegang buku-buku ini lagi jadi inget masa-masa mengembara di Kp. Inggris.
Huaaaa... rasanya pengeeeeen lagi scoring TOEFL bareng mizzu Eddy dan temen-temen.
Pagi, siang, malem... scoring, scoring, scoring. Sampai-sampai teman sy tidurpun di atas buku TOEFL. Weeehh... kita emang gila :D
Semangaaaaat Lia!!
Target TOEFL ITP kali ini 590, atau 570 dengan sesi listening benar 95% haha..
daaaan semboyan ini berlaku lagi pada diri sayah
"Burning our midnight oil to master english as second language"
mari kita mulai setiap malam :*
Monday, 6 February 2012
Academic Joy: Every Researcher has a Story to Tell
http://www.academicjoy.net/index-en.html
This is the place where experts, researchers and graduate students in science, engineering and the humanities around the world converge to tell the unique stories of their life in research in academia and industry. Here, it is about
sharing ideas with others to spread knowledge;
networking with peers around the world;
seeking help when it is necessary;
finding resources and tools for research;
telling your side of the story in innovation.
Academic Joy is an original idea of an academic who realized that behind the achievements of every reseacher there is a hidden story, an inspiring struggle, an emotional journey that should be told to the world. It is the other side of success made of obstacles, insights, failures, persistence and determination against odds.
A well known American inventor Thomas Edison (1847–1931) said in Harper's Monthly (September 1932): "Genius is one percent inspiration, ninety-nine percent perspiration". Unfortunately, the part of the story made of so much perspiration, the hidden side of the iceberg, is seldom made public. Academic Joy aims at helping researchers enjoy their time in research by sharing its inspiring moments.
In addition, to help foster a sense of community, Academic Joy invites you to join its team of experts/mentors who will provide advice and guidance to peers, graduate students and young researchers. Conversely, we encourage researchers to submit (see support page) a condensed version of their articles for a brief review, advice and recommendations from anonymous experts before any formal submission to a conference, journal or book project.
Instead of the uncomfortable "publish or perish" pressure prevailing nowdays in research circles, Academic Joy would like to propose to researchers the positive "publish and cherish" idea.
Friday, 20 January 2012
OCW Consortium - OpenCourseWare Websites
Belajar/kuliah dari berbagai universitas ternama di seluruh penjuru dunia. Universitas Tokyo, MIT, Nottingham, TU Delft, Korea University and many more...
Thanks Ega (/ayyeshakn.multiply.com) for the information ^___^
Monday, 11 July 2011
Rhenald Kasali: Sekolah untuk Apa?
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.
Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.
Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.
Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.
Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di situ.
Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.
Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.
”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.
Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,”ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di Selandia Baru.
Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10 besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.
Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah. Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek.
Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri,mungkin guruguru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri.
Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya? ”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.
Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.
Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.
Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing. Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai.
Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super.Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi,ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.
Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1 yang digabung hingga S-3 di Amerika.
Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!
Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala resources.
Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.
RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
source: seputar indonesia
Wednesday, 16 March 2011
Kecelakaan PLTN Chernobyl & Fukushima-I
Berikut saya dokumentasikan tulisan dari Pak Ma'rufin Sudibyo, salah satu pakar fisika Indonesia yang menjelaskan mengenai kronologi kecelakaan pada PLTN Chernobyl. Tulisan ini saya dapatkan dari sini. Mudah mudahan bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua.
Kecelakaan Nuklir Chernobyl, Ukraina
Kecelakaan nuklir Chernobyl itu sejajar dengan kasus lumpur panas sumur Banjar Panji-1 di Porong Sidoarjo.Yakni sama2 berangkat dari tujuan baik (pada Chernobyl berpangkal dari eksperimen pembangkitan daya darurat, pada Banjar Panji-1 untuk mencari migas), namun dilaksanakan tanpa mematuhi prosedur standar (pada Chernobyl semua prosedur standar keamanan operasi reaktor dilanggar, pada Banjar Panji-1 ngebornya ugal2an dan ngeyel). Akhirnya terjadilah bencana. Andaikata dua operator reaktor unit 4 PLTN Chernobyl tidak nekat melanjutkan eksperimennya pada 26 April 1986 lepas tengah malam, barangkali tragedi takkan pernah terjadi. Namun tragedi itu juga membuka mata dunia akan persoalan cacat desain reaktor dan manajemen pembangkit yang "ajaib" di eks-Uni Soviet.
Sebelum tragedi April 1986 PLTN Chernobyl hanyalah kompleks pembangkit tak terlalu dikenal di Ukraina, bahkan juga di kalangan petugas pemadam kebakaran setempat (yang akhirnya justru menjadi korban pertamanya). PLTN ini berlokasi di koordinat 51,3872 LU 30,1114 BT, berdekatan dengan perbatasan Belarus. Terdapat 4 unit reaktor : reaktor unit 1 mulai beroperasi pada 1977, reaktor unit 2 pada 1978, reaktor unit 3 pada 1981 dan reaktor unit 4 pada 1983. Keseluruhan unit menghasilkan daya 4.000 MWe yang menyuplai 10 % kebutuhan listrik Ukraina.

PLTN ini memakai reaktor RBMK-1000, yakni reaktor air mendidih (boiling water reactor/BWR) berdaya termal 3.200 MWt dengan moderator (bahan pelambat neutron) dari grafit (karbon). Pendinginnya air biasa, yang diambilkan dari Sungai Pripyat didekatnya dan didestilasi dulu, untuk kemudian dialirkan secara vertikal dengan inlet dibawah dan dididihkan di dalam reaktor untuk memproduksi uap bertekanan tinggi yang memutar turbogenerator pembangkit listrik. Grafit dipilih sebagai moderator karena murah dan tersedia melimpah di Siberia. Untuk mengendalikan reactor digunakan batang kendali dari batang boron karbida berujung grafit. Di antara ujung grafit dan batang boron karbida terdapat ruang kosong sepanjang 1 m yang bakal terisi air pendingin ketika dimasukkan ke dalam reaktor. Ada dua tipe batang kendali : manual dan otomatis. Sebagai bahan bakar digunakan Uranium diperkaya (kadar U-235 3,8 %) sejumlah 220 ton.Konsekuensinya ukuran reaktor RBMK-1000 memang besar.
Reaktor RBMK-1000 unggul dalam efisiensi (34 %, bandingkan dengan reaktor2 tipe tekan/pressurized reactor yang berkisar 29 - 31 %) dan penggantian bahan bakar saat tetap menyala. Reaktor2 tipe lainnya (kecuali PHWR-CANDU yang dipasarkan Canada) harus dimatikan dahulu untuk mengganti bahan bakarnya. Meski begitu dalam prosedur pengoperasiannya, selama 1 tahun penuh reaktor hanya dijalankan 9 bulan saja dengan 3 bulan sisanya untuk perbaikan dan perawatan rutin, termasuk penggantian bahan bakar.
Namun keunggulan2 ini tidak seberapa dibandingkan dengan kelemahan2nya. Sebagai reaktor air mendidih bermoderator grafit, RBMK-1000 memiliki "problem gelembung", kondisi dimana adanya gelembung2 dalam pendingin saat proses pembentukan uap bisa mengacaukan pengendalian reaktor, karena gelembung2 itu meningkatkan jumlah neutron lambat. Kondisi ini sangat dirasakan RBMK-1000 ketika berada dalam daya rendah, baik ketika dalam proses dinyalakan (start-up) maupun dimatikan (shut-down).
Kelemahan lain ada pada batang kendalinya. Grafit dan ruang kosong berisi air di batang kendali mengakibatkan peningkatan daya temporal di detik2 pertama saat batang kendali masuk ke reaktor, karena sifat grafit dan air pendingin yang memoderasi neutron. Bila terjadi kondisi batang kendali gagal masuk sepenuhnya karena macet (entah kejepit atau apa) sehingga bagian boron karbidanya tidak bisa masuk, maka reaktor tidak bisa mati, justru dayanya malah melambung terus.
Aliran pendingin juga menjadi salah satu titik lemah. Dengan model aliran vertikal dan inletnya dari bawah, maka terdapat suhu pendingin di dalam reaktor jadi takhomogen, dimana di bagian atas lebih besar dibanding bagian bawah. Kondisi ini bisa berbahaya jika terjadi penguapan total pada bagian atas sehingga bahan bakar disana tak terdinginkan sepenuhnya. Selain bisa meningkatkan daya secara mendadak, kondisi ini juga beresiko pada melelehnya bahan bakar. Pendinginan vertikal juga memaksa pompa pendingin untuk terus menerus bekerja meski daya reaktor sudah sangat rendah sehingga tidak sanggup lagi membangkitkan listrik yang cukup.
Dan akhirnya, sebagai reaktor berukuran besar, RBMK-1000 hanya dilindungi oleh satu lapis dinding beton tipis guna menghemat biaya. Tak ada system pelindung bergandab sebanyak lima lapis sebagaimana yang distandarkan pada reaktor2 tipe lainnya. So, reaktor yang secara desain sudah cacat ini tidak mempunyai pelindung yang layak, sehingga jika terjadi kecelakaan peluang terlepasnya radioisotop ke lingkungan cukup besar dibanding reaktor2 tipe lain.
Kompleks PLTN Chernobyl dilayani oleh manajemen "ajaib" yang tidak berpengalaman sama sekali dalam mengoperasikan reaktor bertenaga besar. V.P. Bryukhanov, direktur, hanya berpengalaman di PLTU tanpa pernah sekalipun ke PLTN. Nikolai Fomin, insinyur kepala, juga lama bekerja di lingkungan PLTU. Hanya Anatoliy Dyatlov, wakil insinyur kepala, yang pernah bekerja dengan reaktor itupun hanya pada reaktor berdaya rendah.
Diduga kuat pemilihan manajemen tidak didasarkan pada kepakaran dan kemampuannya dalam teknologi nuklir, namun lebih pada loyalitasnya terhadap Partai Komunis Uni Soviet. Manajemen juga tidak pernah diberitahu otoritas ketenaganukliran Uni Soviet tentang sifat khas RBMK-1000 dan prosedur operasi daruratnya ketika berada dalam daya rendah. Singkatnya, manajemen 'buta' terhadap titik2 lemah RBMK-1000. Kombinasi cacat desain dan manajemen "ajaib" inilah yang berpuncak pada tragedi 26 April 1986.
Ekskursi Nuklir
Salah satu masalah yang menggayuti manajemen adalah bagaimana menjaga pompa pendingin tetap bekerja meski aliran listrik putus. Reaktor RBMK-1000 membutuhkan aliran pendingin terus menerus karena sifatnya vertikal. Sementara jika terjadi kerusakan sistim pembangkit listrik, aliran listrik ke pompa pendingin menghilang. Memang tiap unit reaktor telah dilengkapi dengan sepasang generator diesel otomatis, namun baru bisa menyuplai aliran listrik 40 detik setelah aliran listrik utama putus. Kondisi ini bisa menyebabkan perlambatan aliran pendingin, dan berpotensi menimbulkan kehilangan aliran pendingin (LOHSA : lostof heat sink accident).
Manajemen tidak menghendaki hal itu terjadi terutama setelah kasus LOCA (lost of coolant accident, setingkat lebih parah dibanding LOHSA) yang sampai melelehkan sebagian reaktor unit 2 PLTN Three Mile Islands, Pennsylvania (AS), 28 Maret 1979. Untuk itu dicoba memanfaatkan putaran sisa turbogenerator guna pembangkitan daya darurat untuk menggerakkan pompa pendingin selama minimum 40 detik. Eksperimen sejenis pernah sukses dilakukan pada 1983 di reaktor unit 1 tanpa masalah apapun dengan mematuhi semua prosedur standar, meski hasilnya negatif : turbogenerator tak sanggup memasok daya mencukupi.
Setelah dilakukan pengembangan2 tambahan pada turbogenerator, dirasakan perlu adanya eksperimen ulang. Pilihan jatuh pada reaktor unit 4 dengan setting waktu pada Jumat 25 April 1986, mengingat reaktor ini memang hendak dimatikan guna menjalani perawatan dan perbaikan rutin setelah menyala selama lebih dari setahun penuh.
Eksperimen sudah siap dijalankan pada tengah hari 25 April. Sebagai awalnya system pendingin darurat (ECCS : emergency core coolant system) dimatikan, meski
dalam prosedur operasi standar hal ini sama sekali tidak diperbolehkan. Namun mendadak otoritas kelistrikan Kiev meminta manajemen PLTN Chernobyl menjaga pasokan listriknya ke jaringan sampe jam 11 malam untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan daya. Manajemen menyetujui hal itu sehingga daya reactor yang sudah terlanjur diturunkan ke 1.600 MWt tidak direduksi lagi. Selama 12 jam kemudian reaktor beroperasi dengan output 50 % dari normal dan tanpa ECCS.
Eksperimen dilanjutkan kembali pasca jam 23:00 setempat, kali ini oleh dua operator malam yang kedua-duanya berlatarbelakang teknik listrik dan tak satupun yang sebelumnya pernah bekerja di lingkungan reaktor. Daya reaktor diturunkan ke 700 - 1.000 MWt dengan memasukkan batang2 kendali otomatis, namun rupanya dua kru tak terlatih ini tak menyadari penurunan dayanya terlalu cepat. Pada kondisi ini produksi radioisotop Xenon-135 (salah satu produk samping reaksi fissi) jadi berlebih, padahal radioisotop ini dikenal sebagai "racun reaktor" karena menyerap neutron lambat dalam jumlah besar. Kontan daya reaktor anjlok ke 30 MWt. Operator tak menyadari adanya peracunan ini dan menganggap anjloknya daya lebih karena kegagalan daya, sehingga memutuskan menaikkan kembali batang kendali otomatis. Tindakan ini sangat menyalahi aturan, karena pada prosedur standarnya, begitu daya anjlok maka reaktor harus segera dimatikan.
Naiknya batang kendali otomatis hanya sanggup mengangkat daya ke 200 MWt saja, atau sepertiga dari daya nominal yang dibutuhkan untuk eksperimen. Namun operator merasa pada daya rendah itupun eksperimen bisa dilakukan. Maka pada pukul 01:05 setempat, operator menghidupkan seluruh pompa pendingin cadangan yang mengirimkan air pendingin berlebihan ke dalam reaktor, melampaui batas maksimum volume air dalamb reaktor yang diperkenankan. Selanjutnya batang kendali manual pun diangkat, hal yang lagi2 menyalahi prosedur operasi standar. Reaktor kini jadi sangat berbahaya karena tidak lagi memiliki batang kendali. Jika pada saat itu daya reaktor masih tetap rendah, alias jumlah neutron lambatnya tetap kecil, itu lebih disebabkan oleh kombinasi berlebihnya air dan Xenon-135 yang bisa menggantikan peran batang kendali.
Dalam keadaan demikian operator memutuskan untuk memulai eksperimen. Pukul 01:23, operator menutup katup uap ke turbogenerator. Putaran turbogenerator pun berkurang sehingga pasokan listrik ke pompa pendingin berkurang dan aliran pendingin jadi menyusut. Di dalam reaktor kini terbentuk lebih banyak uap dan celakanya diikuti dengan pembentukan gelembung2 air. Problem gelembung pun terjadi, sehingga daya reaktor segera menanjak. Dalam 5 detik pertama daya reaktor sudah bergerak ke angka 510 MWt. Pada tahap ini Xenon-135 mulai menghilang seiring makin banyaknya jumlah neutron. Sehingga dengan makin banyaknya air pendingin yang berubah menjadi uap, menghilangnya Xenon-135 dan dimatikannya ECCS, pengontrol daya reaktor menjadi tidak ada. Terjadilah ekskursi nuklir : kenaikan daya teramat cepat secara eksponensial pada waktu teramat singkat.
Operator yang panik segera menekan tombol SCRAM guna memasukkan semua batang kendali (baik manual maupun otomatis) ke dalam reaktor. Namun butuh waktu 20 detik agar batang kendali bisa masuk sepenuhnya ke dalam reaktor. Ketika suhu reaktor kian tinggi, gerak batang kendali pun macet, hanya bagian ujung grafit dan ruang kosong saja yang sempat masuk. Ini malah makin meningkatkan intensitas ekskursi nuklir. Dalam 20 detik itu daya reaktor sudah meningkat hingga 30.000 MWt alias sepuluh kali lipat dari daya normalnya.
Peningkatan daya luar biasa menghasilkan penguapan teramat brutal dimana semua cairan berubah jadi uap. Ini menghasilkan tekanan teramat besar yang merusak batang kendali, bahan bakar, grafit dan akhirnya menjebol atap beton reaktor yang tipis dalam ledakan uap. Andaikata reaktor dilindungi kubah double containment Mark-II setebal 2 meter seperti yang diterapkan pada reaktor2 lainnya, maka ledakan uap ini tidak akan terjadi. Ledakan uap ini segera disusul oleh reaksi uap air dengan grafit dan oksigen (dari udara luar yang masuk lewat lubang) dengan grafit sehingga timbul ledakan kedua yang tak kalah besarnya.
The China Syndrome
Pasca ledakan, reaksi oksigen dan grafit menyebabkan kebakaran besar pada reaktor. Inilah penyebab 4 % radioisotop - setara 9 ton - terloloskan ke lingkungan. Meski 4 dekade sebelumnya dunia sudah menyaksikan dahsyatnya bom nuklir Hiroshima dan Nagasaki, pada 26 April 1986 itulah, untuk pertama kalinya sebuah reaktor bertenaga besar melepaskan radioisotopnya ke lingkungan dalam jumlah besar. Sekitar 5,4 ton radioisotop itu mendarat di Belarus. Namun sisanya terbang dibawa angin ke barat hingga menjangkau Kepulauan Inggris. Paparan radiasi tertinggi berada di gedung reactor mencapai 5,6 Roentgen/detik, 202 kali lipat lebih besar daripada ambang batas dosis mematikan 0,028 Roentgen/detik. Celakanya ledakan menyebabkan kerusakan dua dosimeter (pengukur radiasi) dengan limit 1.000 Roentgen/detik. Hanya tersisa dosimeter2 kecil dengan limit 0,001 Roentgen/detik, dan semuanya "off scale." Karena itu kru reaktor dipimpin Alexander Akimov menganggap dosis radiasi saat itu paling banter 0,001 Roentgen/detik, mengabaikan tanda2 seperti potongan grafit, pipa bahan bakar dan batang kendali yang berceceran di sekitar gedung reaktor. Sehingga mereka memutuskan bertahan dan terus memompakan air ke gedung reaktor.
Bantuan segera datang dari brigade pemadam kebakaran Chernobyl, dipimpin Vladimir Pravnik, yang tak diberitahu sama sekali bahwa yang dihadapi adalah reaktor RBMK-1000 yang telah bolong. Kerja keras mereka bersama kru reaktor berhasil memadamkan api di atas gedung reaktor dan gedung turbin pada jam 05:00. Namun dalam tiga minggu kemudian, sebagian besar kru reaktor dan pemadam ini telah meregang nyawa.
Pada senja 26 April, Kremlin membentuk komite penyelidik dan memerintahkan Valeri Legasov dari otoritas ketenaganukliran Uni Sovet ke Chernobyl. Ia menjumpai 2 orang telah tewas dan 52 dirawat di rumah sakit, dengan gejala2 nyata akibat paparan radiasi berlebihan. Dosimeternya juga menunjukkan tingkat paparan radiasi yang sangat tinggi di sejumlah titik. Pada 27 April 14:00 ia memerintahkan dimulainya evakuasi penduduk kota Pripyat dan sekitarnya. Agar tidak timbul kepanikan, detil bencana tidak diberitahukan kepada penduduk, dan agar beban tidak terlalu berat, diberitahukan kepada penduduk bahwa evakuasi bersifat temporal, hanya untuk 3 hari. Total penduduk yang dievakuasi sejumlah 336.000 orang.
Kepanikan justru merebak di Swedia, 1.100 km dari Chernobyl. Pada 27 April itu juga kru PLTN Forsmark mendeteksi lonjakan paparan radiasi yang spektakuler di lingkungan mereka. Anehnya dosis paparan radiasi di luar gedung jauh lebih besar dibanding di dalam gedung. Setelah konfirmasi ke PLTN2 lain di Swedia memastikan tidak ada reaktor mereka yang bocor, kecurigaan diarahkan ke PLTN2 Uni Soviet di kawasan Barat. Atas desakan Swedia, tak lama kemudian Mikhail Gorbachev mengumumkan bocornya salah satu reactor Soviet. Pernyataan sama juga dikeluarkan Boris Yeltsin yang sedang mengunjungi Berlin.
Horor Chernobyl belum usai. Meski reaktor RBMK-1000 telah jadi puing, sisa bahan bakar Uranium yang masih cukup besar (> 200 ton) dan puing2 grafit ternyata masih sanggup menjalankan reaksi fissi. Meski daya yang dihasilkan kecil, tiadanya cairan pendingin membuat grafit terus memanas. Maka kebakaran pun berlanjut di interior puing. Pada dasar puing, panas kebakaran bahkan cukup tinggi hingga sanggup membuat bahan bakar dan beton penyangga reaktor meleleh membentuk lava. Jika lava ini bisa menembus dasar bangunan dan tanah dibawahnya hingga mencapai cadangan air tanah dalam, maka kontak lava dengan air akan menciptakan erupsi freatoradiatik ("The China Syndrome"), ledakan uap berkekuatan besar yang sanggup membongkar tanah diatasnya membentuk kawah. Letusan ini akan memuntahkan debu terkontaminasi radioisotope hingga ketinggian 1 km. Jika ini terjadi, area yang tercemar dipastikan akan jauh lebih besar.
Untuk mencegah erupsi freatoradiatik, otoritas memutuskan puing reaktor RBMK-1000 harus dimatikan dan didinginkan. Lewat ratusan sorti penerbangan helikopter, ke bangunan reaktor dijatuhkan 5.000 ton bahan penyerap neutron berupa campuran pasir, lempung dan asam borat. Setelah puing reaktor dipastikan telah mati dan dingin, sebuah struktur sarkofagus raksasa dibangun untuk menyelubungi seluruh puing pada Desember 1986.
Jumlah radioisotop yang dilepaskan 160 kali lipat lebih besar dibanding bom Hiroshima (9 ton vs 55 kg). Sampai 2005, IAEA dan WHO mencatat jumlah korban tewas 56 orang (47 kru reaktor dan petugas pemadam kebakaran serta 9 anak2 penderita kanker tiroid). Dari 6,6 juta orang yang terpapar radioisotop, diperkirakan 9.000 diantaranya terpapar berat. Hingga 2002 dideteksi terdapat 4.000 kasus anak penderita kanker tiroid.
Kecelakaan PLTN Fukushima, Japan
PLTN fukusima Daichi unit 1 dan unit 3 yang bermasalah merupakan PLTN generasi awal yang dioperasikan di Jepang dan mendekati akhir masa baktinya. Sebagai PLTN BWR generasi awal, maka “ragam keselamatan” nya tiadk selengkap PLTN generasi berikutnya, misalnya PLTN belum menerapkan passive safety system untuk sistem pendingin. Kejadian gempa dan diikuti dengan tsunami yang sedemikian besar tidak terdapat dalam design basic accident yang harus dihadapi oleh PLTN tersebut.
Penyebab utama dari kejadian adalah berhentinya sistem pendinginan darurat (emergency cooling system) setelah satu jam beroperasi, dan hal ini diduga besar disebabkan karena tsunami. Pendinginan yang terhenti ini mengakibatkan akumulasi panas (decay heat) yang akhirnya mengakibatkan ada bagian bahan bakar yang tidak tertutup air, dan selanjutnya menghasilkan gas H2 dari reaksi cladding dari bahan zirkonium dengan uap air pada suhu tinggi. Saat mendekati batas maksimum, kanduang uap air dan gas H2 itu dilepas ke ruang kontaimen luar di sisi atas bangunan pengukur reaktor. Gas H2 ini karena suatu pemicu bereaksi dengan oksigen yang menimbulka ledakan.
Ledakan gas H2 di ruang kontainmen luar tidak merusakkan bagian dalam kontainmen utama, sehingga hanya sebagian zat radioaktif yang ikut lolos saat pelepasan gas H2 yang kemudian terlepas ke lingkungan. Menurut otoritas Jepang, tingkat radiasi yang lolos ini sangat kecil. Sebagian besar zat radioaktif masih berada dalam bejana kontainmen teras reaktor bersama dengan bahan bakar.
Dengan pendinginan air laut (ditambah asam borat sebagai penyerap neutron) pada bagian luar reaktor, maka kondisi pemanasan karena decay heat dapat diatasi. Tindak lanjut masih harus dilakukan untuk menangani bahan bakar di dalam reaktor dan zat radioaktif yang terdapat di dalamnya.
Kejadian seperti PLTN Fukusima Daichi unit 1 dan 3 tidak terjadi di tempat lain karena beberapa hal, antara lain; unit PLTN lain dibangun dengan unit keselamatan yang lebih baik (reaktor lebih baru), tidak diterjang tsunami karena dibuat lebih tinggi (Onagawa), dan getaran gempa yang sampai kesana tidak terlalu besar serta tidak diikuti oleh tsunami.
Anyway, kecelakaan PLTN Fukusima-I unit 1 dikategorikan sebagai skala-4 pada INES (International Nuclear Event Scale) yang artinya kecelakaan tanpa resiko signifikan di luar kawasan. Begitulah siaran pers yang dikeluarkan BATAN.
Monday, 7 February 2011
Gila Gelar
Kemarin seorang teman mengeluh, "masa orang tuanya gak mau anaknya diajari les bahasa inggris sama saya. cuma karena saya bilang kalau saya cuma tamatan SMA... huh! padahal kalau dari segi kemampuan, bahasa inggris saya kan gak jelek. saya mampu kok berbahasa inggris dengan baik. tidak kalah dengan bahasa inggris-nya anak-anak kuliahan. saya bener-bener sakit hati li..." saya cuma bisa terbelalak, "heh, beneran. masa sih cuma karena belum sarjana kamu ditolak jadi pengajar bahasa inggris anak smp?" dia mengangguk sedih, "iya, orang tuanya bilang gituh..." saya jadi ikutan sedih, padahal bahasa inggrisnya keren, malah bisa nglahin anak-anak kuliahan. karena dia selalu belajar otodidak.
Katanya lagi, "padahal waktu saya privat bahasa indonesia sama orang asing, dia gak keberatan diajarin sama saya meski saya cuma tamatan SMA. dia bilang, no problem selama saya punya kemampuan itu..." hmm... jadi gini ya orang-orang Indonesia, gelar itu penting melebihi kemampuannya... makanya banyak orang yang rela ngeluarin duit banyak cuma buat beli gelar (ilegal) yang diterbitkan lembaga pendidikan fiktif. Tangisan dunia pendidikan yang sungguh menyayat
Memang orang akan bangga jika memiliki gelar sarjana, doktor, bahkan profesor untuk menaikkan posisi tawarnya. Namun, kemampuan finansial yang tidak diimbangi dengan kemampuan intelektual mengakibatkan banyak orang yang memotong jalur (ambil jalan ternatif) untuk memudahkannya mendapatkan gelar akademik. Hal itulah yang menjadi penyebab perdagangan gelar kesarjaan dan gelar akademik lainnya. Tanpa kuliah, ujian skripsi, tesis, dan disertasi, orang bisa mendapatkan gelar yang diinginkannya. Itu adalah penipuan besar. Padahal, gelar tersebut tidak akan berguna jika tidak diimbangi dengan kemampuan intelektual dan skill. Apalah berharganya gelar doktor, jika kemampuannya tidak lebih baik dari yang bergelar sarjana S1.
Orang Indonesia itu gila gelar? menjawab ini, rasanya tidak berlebihan jika saya jawab, ya. Ssaat ini memang tingkat keparahan sindrom ini di Indonesia sangat tinggi. Meski sindrom ini juga merasuk dan merusak segenap penjuru bumi, termasuk negara adidaya seperti Amerika Serikat, tapi sindrom ini tidak separah di Indonesia (sharing dengan seorang kawan).
Menengok lebih jauh ke belakang, fenomena gila gelar itu tidak terlepas dari budaya kerajaan di Indonesia. Orang Jawa akan dihormati jika mereka memiliki gelar yang diberikan kerajaan. Misalnya, orang akan dihormati dalam kehidupan sosial masyarakat jika menyandang gelar-gelar yang membuatnya disegani. Bahkan, seorang raja merasa perlu menaikkan gelar untuk melegitimasi kekuasaannya. Jadi tidak heran pada masa modern seperti sekarang pun, orang ramai memburu gelar dengan berbagai cara untuk menaikkan prestise diri di hadapan masyarakat. Mulai dari akademisi, profesional hingga birokrat. Bahkan gelar 'haji' pun turut jadi incaran (padahal, Rasulullah saja tidak pernah memamerkan gelar tersebut meskipun beliaulah manusia yang paling sempurna melaksanakannya). Masyarakat masih lebih menghormati seseorang dengan melihat gelarnya dan bukan karyanya.
Kehebatan para peneliti di Jepang bukan dilihat dari banyaknya gelar yang dipunyainya. Banyak professor yang telah mendalami dan mengikuti program pendidikan dari berbagai major yang terkait dengan penelitiannya, tetapi namanya tidak semakin panjang dengan gelar-gelar yang didapatnya.
Di Jepang tidak ada istilah guru besar. Sehingga para dosen tidak perlu disibukkan dengan mengejar target ini itu untuk mendapatkan gelar ini.Oleh karenanya mereka lebih enjoy melakukan penelitian apa saja yang diinginkannya. Seorang asisten professor di kampus, jika melihat hasil penelitian dan tulisan-tulisannya yang tersebar di jurnal Jepang dan internasional, seandainya dia berada di Indonesia, dengan mudahnya dia akan mendapatkan gelar guru besar. Tetapi tidak dengan di Jepang, statusnya tetap sebagai asisten professor sekalipun dia layak sekali disebut professor, dan bukan asisten.
Meski banyak yang bilang, "Itu mah bukan gila gelar, tetapi gelar gila!" Ah, biar saja! Tidak melanggar hukum ini. Kalau titel-titel formal itu manfaatnya untuk personal branding, sebenarnya titel non-formal yang terkesan guyonan itu juga tidak jauh berbeda. Malah efeknya bisa lebih greget dan bisa bikin kaget!
Tuesday, 11 January 2011
Kisah Pengajar Muda IM - A story about Rizki, My Genius Student
Dear temen-temen,
Just wanna share satu kisah inspiratif dari salah satu Pengajar Muda Indonesia Mengajar bernama Mb Wiwin (Erwin Puspaningtyas Irjayanti) aka Waheeda El Humayra (alumni IPB) yang saat ini ditempatkan di Majene, Sulawesi Barat.
Selamat membaca
========================================
A story about Rizki, My Genius Student
By : Erwin "Wiwin" Puspaningtyas Irjayanti
"The Old Man said, Everyday has its miracle. I am not the Old Woman, but I believe it too: EVERYDAY HAS ITS MIRACLE"
Kisah ini hadir di layar komputermu setelah seorang guru di SD terpencil berlari-lari riang selama 45 menit sembari membawa parang bersama 3 muridnya yang menggenggam bambu runcing untuk menghalau babi--jika sewaktu-waktu ketemu--menuju "Bukit Harapan", demikian bukit itu diberi nama baru-baru ini karena di bukit itu telah ditemukan sinyal GPRS. Diketik dengan penuh kesabaran di atas keyboard HP Nokia E63, inilah kisah yg ingin diceritakan oleh guru SD terpencil itu:
Tentang Rizki.
Teman-temannya, murid kelas 3, bercerita tentang dia kepada saya: anak itu, namanya Rizki. Rizki Ramlan. 9 tahun. Sejak 4 bulan belakangan, dia tak pernah berangkat ke sekolah. Tanpa alasan. Namun desas desus menyebutkan, bahwa ia malas bangun pagi. Dengan kehadirannya yang tak lebih dari 20 kali dalam 1 semester, teman2nya mengenal ia sebagai anak pandai. Rizki, ia tinggal di Tamaluppu.
Tentang Tamaluppu.
Ialah sebuah tempat yg lebih terpencil dari Passau--tempat terpencil dimana saya tinggal saat ini.
Ini adalah statistik tentang Tamaluppu (T) Vs. Passau (P):
*Jumlah rumah: 13 (T) Vs. 60 (P).
*Listrik: sama sekali tidak ada (T) Vs. genset desa dr jam 19.00-22.00 (P).
*Sinyal GSM: sama sekali tidak ada (T) Vs. Maksimal utk SMS di spot tertentu (P)
*Jarak dari jln.poros Majene-Mamuju: 6-7 km / 1,5-2 jam perjalanan (T) Vs. 3 km / 45 menit perjalanan (P).
*Dapat dicapai menggunakan: hanya dengan jalan kaki dari Passau (T) Vs. Motor, jika tidak turun hujan (P)
Tentang Ide Mengajar di Tamaluppu
Pada hari dimana saya mengemukakan ide bahwa saya ingin seminggu 2x memberi pelajaran tambahan bagi anak-anak di Tamaluppu, banyak orang menganjurkan untuk tidak usah, karena itu jauh, susah, repot. Anak2 Tamaluppu juga lebih pemalu dari anak2 super pemalu di Passau. Buat apa? Kenapa tidak menyuruh mereka saja yang ke sini utk mendapatkan pelajaran tambahan?
Saya bergeming. Hanya tersenyum dan dengan halus menjawab keberatan orang2, "saya akan tetap ke sana, meski sendirian."
Tentang Tamaluppu yang Saya Kenal.
Sudah tiga minggu ritual ini berjalan: Jam 3 sore, setiap Selasa dan Jumat, pergi ke Tamaluppu mengajar anak-anak di sana. Kami belajar dimana saja: di rumah Ali (murid kelas 6), di halaman langgar, di bawah pohon kelapa (yg sedang tidak berbuah). Saya mengenang Tamaluppu dalam beberapa potongan memori:
--ialah suatu tempat dimana 8 dari 63 murid saya tinggal. Yang jika hari hujam, dipastikan anak2 itu tidak akan berangkat sekolah.
--Sebab jika hari hujan, jalan setapak yg sedianya mereka lewati berubah menjadi sungai dan air terjun.
--Anak2 itu berangkat ke sekolah dengan membawa bambu runcing, sebab di perjalanan dari Tamaluppu menuju Passau, seringkali mereka musti berhadapan dengan babi hutan.
Antara Saya dan Rizki Ramlan
Saya tidak pernah mengenal anak itu. Menyentuhnya. Berbicara dengannya. Saya tidak mampu. Ia begitu tak tersentuh. Begitu jauh. Setiap kali saya berusaha mendekatinya sehabis saya mengajar anak2 Tamaluppu yang lain, ia selalu lari. Menjauh. Mengintai saya dari tempat yang menurutnya paling aman sedunia: persembunyiannya. Saya mengalah. Saya memilih tidak memaksa.
Hingga pada suatu sore yg berhujan deras, yg tak henti-henti sampai petang dan malam tiba, saya memutuskan untuk menerima kesopanan orangtua Ali yg menawarkan saya bermalam di rumah mereka. Singkatnya malam itu, Rizki yg malu-malu itu, pada suatu kesempatan saat saya habis salat isya, dari balik pintu dia melemparkan: selembar kertas yg bulat karena diremas, dua lembar, tiga lembar, sampai 6 lembar. Lalu, dia lari. Dia berlari dan menjauh. Tak tersentuh untuk kesekian kalinya.
Saya membuka kertas2 itu. Isinya, membuat saya mematung:
Coretan soal2 matematika yg tiga minggu ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu, kelas 4, kelas 6. Di kertas yg lain, coretan soal yg dia buat sendiri, dan dia jawab sendiri. Dan 80% jawabannya adalah benar: materi kelas 4, materi kelas 6. Rizki, kelas 3, sudah 4 bulan tidak masuk sekolah.
Aku tertegun. Mematung.
Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas: "Pintar sekali kamu! Sekolah di mana?". Kuremas kertas itu. Lalu keluar rumah: mencari sosoknya di kegelapan dan menemukannya sedang mengintaiku dari bawah tangga. Kulempar kertas itu di tempat yg terlihat namun agak jauh darinya, lalu pergi seolah-olah yg barusan kulempar adalah sampah.
Tak lama, dari jendela yg sengaja kubuka, masuklah segumpal kertas:
"Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya."
Aku tersenyum. Benar dugaanku bahwa dia akan membalas suratku. Tanpa sempat menutup jendela, aku tertidur. Tak tahu bahwa seorang anak meringkuk di bawah jendela, menanti ada balasan atas segumpal kertas yg dilemparnya. Hanya karena dia berpikir bahwa jendela itu masih terbuka. Ketika pagi, baru aku sadar: jendela terbuka, aku melongok, menemukan tubuh kecil meringkuk di atas bangku dari bambu. Tertidur. Tangannya menggenggam kertas, dan pulpen.
Tentang suatu hari bernama Selasa, 14 Desember 2010, sekira pukul 15.30 WITA
Hari hampir hujan. 30 menit perjalanan dari Passau sudah saya tempuh. 15 menit lagi, saya tiba di Tamaluppu. Antara ya dan tidak, sembari menatap langit berawan pekat, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit, hujan turun. Langsung sangat deras. Saya berteduh di bawah pohon jambu mete, bersama kakak angkat saya yang juga guru sukarela, Kak Yani. Semenit, dua menit.
...
Di kejauhan, di bawah butiran air yg menyamarkan pandangan mata, samar-samar kulihat sesosok bocah. Bertelanjang dada, bercelana yang warnanya seperti coklat. Parang di tangan kirinya, daun pisang di tangan kanannya. Dia mendekat. Semakin dekat dan dia menuju kami. Menuju saya. Mengulurkan daun pisang di tangan kanannya, satu untuk saya, satu untuk Kak Yani. Aku dan Kak Yani saling bertatapan.
Aku bertanya yg segera diterjemahkan oleh Kak Yani yang intinya, "ngapain kamu di sini? Dari kebun?"
Dia tak menjawab.
Dadanya naik turun. Naik, turun. Naik, turun. Naik turun dengan cepat. Air hujan, mungkin, telah mengaburkan--jika benar--air matanya.
Dia menangis.
Ya, dia menangis.
Lalu, dengan bahasa Mandar yg kacau, saya bertanya, "mangappai i'o sumangiq, Rizki? Mengapa kamu menangis, Rizki?"
Aku mengulurkan tangan. Meraih tubuh basan kuyupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia diam. Tak berlari. Tak menjauh. Rizki, akhirnya, aku dapat menyentuh tubuh kecilnya.
Lalu tiba-tiba, Tiba-tiba saja, dia menyambutku. Memeluk pinggangku. Melingkarkan tangannya yang masih memegang parang di pinggangku.
"Puang, yakkuq meloq massikola." Dalam hujan, dia menenggelamkan kepalanya di perutku, mengalahkan derasnya suara hujan dengan suaranya, "Puang, saya mau sekolah."
Dia memelukku. Erat.
Aku mematung. Haru. Sakit. Sesak. Bahagia. Sesak oleh perasaan bahagia.
Teringat olehku tentang pagi itu, ketika bocah itu masih meringkuk tertidur di bangku bambu bersama segenggam kertas dan pulpen, saat kuletakkan segenggam kertas di dekat kepalanya, "Pergilah ke sekolah. Aku guru di sana. Akan kuajar kau tentang rahasia-rahasia yang ingin kau tahu. Semua rahasia. Pergilah ke sekolah."
Pagi ini, 15 Desember 2010
Kebahagiaan adalah ketika dari jendela rumahm saya melihat anak-anak Tamaluppu tiba di sekolah. Ada Rizki di sana. Dengan seragam kusut robek-robeknya. Saat aku masuk halaman sekolah, ia tengah memegang raket badminton. Saat ia kutatap, ia melengos. Pura-pura tak melihat. Dia masih malu-malu.
Saat kudekati, ia kembali berlari.
Ia kembali menjauh.
Ia kembali tak tersentuh.
Tapi aku tahu, hari-hari esok, dia akan melemparkan bola-bola kertasnya kepadaku. Lagi. Seperti tadi siang ketika tiba-tiba ia melemparku segenggam kertas, "Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?"
***
Salam hangat dari Bukit Harapan
(^_^)
===============================================
PS:
kunjungi website IM di www.indonesiamengajar.org untuk membaca kisah inspiratif dari para Pengajar Muda Indonesia Mengajar lainnya :)
Oya, pendaftaran untuk menjadi PM IM masih dibuka lho, hingga akhir Januari 2011 ini
Saturday, 1 January 2011
Now Open! Registrasi Pengajar Muda - Indonesia Mengajar #2
| Kriteria PM | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Indonesia Mengajar (IM) percaya bahwa kualitas pendidikan berkait erat dengan kualitas tenaga pengajar. Dengan demikian, IM berkepentingan untuk merekrut generasi muda dengan kriteria sebagai berikut:
|


