Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Thursday, 6 November 2014

Sensei yang mana

Hari ini hari berdiskusi dengan promotor dan co-promotor untuk memilih sensei yang akan dituju. Co-promotor saya sebenarnya sudah dari bulan lalu memberikan 3 nama untuk dipertimbangkan; M*mura, Shim*mura, dan Ik*da sensei. Masing2 punya main riset yg berbeda, meski ujung2nya ke divais. Hmm... 

You know? Sampai sekarang daku masih bingung mau ke sensei mana... Ada sensei yg rada2 nyambung sama background study saya tapi porsi divaisnya sedikit. Padahalkan tujuan saya ke Shizouka mau memperdalam spesifikasi saya di bidang electronic devices. Selanjutnya ada sensei yg fokusnya di imaging/vision. Jujur, Saya masih belum kebayang dg riset beliau. Ada juga sensei yg divais bangeeet.. Hmm tapi saya masih harus search info riset sensei tersebut. 
Dan akhirnya tibalah promotor saya menanyakan "mau ke siapa kamu?" saya masih tertegun.. Kemudian saya bilang kalau saya cukup tertarik dengan sensei yg cocok dg background study saya. Tapiii sepertinya beliau tidak terlalu setuju dengan pilihan saya. Dengan beberapa pertimbangan tentunya... Dengan meminta pertimbangan co-promotor saya, akhirnya diputuskan prioritas sensei yg saya tuju adalah yg dipilih promotor saya. 

Sebenarnya saya masih belum kebayang nantinya saya mau riset apa di lab beliau. Saya tadinya ingin riset apa yang ingin saya pelajari. Tapi kata promotor saya: 

"Jangan terfokus pada produk. Tapi fokuslah pada penguasaan basic fenomena/filosofi nya. Dengan begitu kamu bisa menghasilkan banyak produk. Bukan hanya satu. Ibarat memancing ikan kakap.. Kamu bukan terfokus pada ikan kakap nya. Tapi kamu harus belajar bagaimana teknik memancing yang baik. Dengan begitu kamj akan mudah untuk memancing ikan kakap. Bahkan kalau kamu mau memancing ikan paus, tidak akan sulit bagimu. That's philosophy. Makanya gelar S3 lebih cocok PhD (doctor of philosophy) daripada Dr (Doktor)." 

Thanks prof :)

Monday, 19 May 2014

Bicara Sex Pada Anak

Ahad ini berkesempatan untuk ikut seminar dari Yayasan Keluarga Indonesia (YKI). Temanya tentang sex education for children. Seperti yang kita tahu, fenomena pelecehan seksual pada anak-anak seperti gunung es sejak terbongkarnya kejahatan sex pada JIS (Jakarta International School). So, orang tua wajib tahu bagaimana mengenalkan sex pada anak sejak dini. Dan para calon ibu dan calon istri, termasuk saya yang masih single inih, penting juga untuk tau. Buat persiapan hehe...

Saya share materi seminar tersebut. Karena saya datangnya telat maka saya copy poin-poinnya dari catetan teman saya yang wartawan. Berikut tulisannya, dengan beberapa editan dari saya.

Bicara Sex Pada Anak

Pembicara: Ustadzah Suratmi, S.Pd,MM.
Ahad, 18 Mei 14 di Masjid Al-Ikhlas, komplek karang tengah permai, Tangerang


Pendidikan itu untuk semua. Apapun profesi dan tugas, ada ilmu yg jadi panduan agar gak salah. Maka jangan merasa pintar dengan ilmu yg dimiliki karena tidak cukup dan harus belajar lagi.

Seks itu segala sesuatu yg berkaitan dengan alat kelamin dan hubungan kelamin. Selain sex, perlu dijelaskan juga seksualitas. Seksualitas itu segala sesuatu yang  menyangkut cara berpikir, merasa, berpakaian, mengutarakan pendapat  dan bersikap. Ya, bersikap itu seksualitas yang perlu kita bangun agar tidak kebablasan.

Anak perempuan dan laki2 bisa jadi korban sekaligus pelaku kekerasan seksual. Ada target aktivitas seksual kenapa anak laki2 jadi korban. Begitu jadi korban, persentase jadi pelaku lebih besar. Hampir semua korban sodomi akan menjadi pelaku sodomi pula di kemudian hari.

Jangan nyantai dan merasa anak kita aman! 
Ada perubahan zaman:
1. Percepatan usia baligh. 
Dulu baligh usia 12-13 th. Sekarang 51% anak perempuan dapat  haidh pertama umur 9 th. Kita harus tahu kapan anak kita baligh, mimpi basah dan mens pertama. Jika orang tua tidak tahu, anak akan bertanya sama teman atau orang lain.

2. Anak tidak diasuh oleh ortu. 
Yang paling gampang lihat anak kita diasuh kita atau orang lain, dia nurutnya sama siapa? Biasanya anak nurut sama ibunya karena faktor takut. Mungkin bukan karena pengasuhan yang kita lakukan. Pengasuhan itu menanam nilai dan menimbulkan perilaku. Apa nilai yang kita tangkap dari ortu dan membuat kita senang dan ingin mengamalkan? Jika kita sudah meninggal, apa nilai yang akan dikenang anak? Nilai diamalkan oleh anak karena dia punya kenangan luar biasa. Seberapa banyak anak kita diasuh oleh media?

3. Stimulasi dan rangsangan yang luar biasa bagi anak. 
Semakin banyak dan detil tayang kriminal, semakin banyak tindak kejahatan.Itu seperti menjadi referensi untuk berbuat kejahatan.

4. Lingkungan yang abai/cuek.
Kita menitipkan anak pada lingkungan masyarakat. Kalau lingkungan kotor maka sedikit banyak anak akan terkena kotor. Maka lingkungan perlu didakwahi. Pedulilah dengan tetangga. Lingkungan kita sangat abai. Let's do something karena kondisinya sudah darurat. Bicarakan seks sama anak biar mereka nggak punya pemahaman yang salah ttg seks dan perilakunya.

Apa yang harus kita omongin?

Tahapan Perkembangan Seks
1. Fase oral (0-8 bulan): sumber kenikmatan di mulut. 
Bayi bertemu puting ibunya di umur 0-8 bulan. Kalau ada anak umur 2 tahun masih suka pegang puting lazim? Jika didiamkan, itu pesan ke otak. Harus dialihkan. Kasih rangsangan lain.

2. Anal (8-18 bulan): tahap BAB/BAK
Kita sering temukan anak tahan BAB/BAK. Karena ada sumber kenikmatan di depan dan belakang, tidak semua anak, tapi ada anak merasakan kenikmatan ini. Melihat seperti itu kadang respon kita salah. 18 bulan itu batas akhir anak boleh pakai pampers tanpa alasan. Boleh dipakai jika pergi jauh. Dia harus sudah tahu toilet training, kontrol diri. Jika tidak begitu, dia akan cenderung ngeyel, ego lebih tinggi karena itu saja tidak bisa mengontrol.

3. Phailic (18 bulan - 6 tahun) : manipulasi genital.
Anak pegang2 alat kelamin. Kalau kita omelin: pesan yang diterima anak: "Yang enak2 di -sini- gak usah diomongin ke mama." Berikan pengertian.

4. Latency (6-11 th) : Identifikasi ortu sejenis.
Pengasuhan gak bisa dilakukan ibu2, harus juga oleh bapak2. Kehadiran ayah dalam keluarga sangat penting bagi anak. Sesekali ayah mengasuh anak, jalan2 dengan anak. Di sini anak akan menyimpan fungsi peran ayah dan ibu. Hasil penelitian di USA, org lesbi/gay akibat pengasuhan yg tidak lengkap.

5. Genital (11 th ke atas): perhatian terhadap seks dan seksualitas orang dewasa.
Sering lihat anak ke kamar mandi bareng dan ado lomba jauh2an pipis. Memang fasenya.

Yang harus dilakukan
0-5 tahun
1. Konsep kepemilikan.  
Anak harus paham mana punya dia, bapak, ibu, kakak. Yang konkret dari barang2 miliknya. Jangan melulu kakak disuruh ngalah. Buat Aturan jika Adik pinjam mainan Kakak, apa yang harus dilakukan? Kondisikan adiknya, jangan selalu kakak mengalah. Kakaknya juga diedukasi, ajak ngomong. Hati2. Dan Atur caranya. Kakak akan mengalah ketika dia punya ilmunya.

2. Tubuhnya berharga
Ortu harus ngomong kenapa harus menutup aurat. Kasih penjelasan apa saja yang bisa kita berikan informasi, jangan sama terus. Cari alasan dan informasi yang lain. Banyak baca dan belajar agar bisa kasih
alasan. Bahas yang lain, kalau sudah besar bisa dikasih tulisan ttg kanker kulit.

3. Jenis-jenis bersentuhan.
Harus diberitahukan saat 0-5 tahun. 3 jenis sentuhan yg harus dijelaskan ke anak2.  Dari bahu ke kepala boleh disentuh. Sentuhan membingungkan dan harus action: dari bahu-paha. Sentuhan haram: Sentuhan yang menutup pakaian dalam, di payudara dan alat kelamin. Berkali2 harus dikasih tahu. Diulang2 dengan berbagai macam versi. Kejahatan seksual dilakukan pada usia ini karena anak mudah dirayu.

Lakukan role play (bermain peran) bersama umi/Abi, harus dengan ortu sejenis, anak laki2 dengan Abi, anak perempuan dengan umi. Kalau ada yg pegang pinggan bergeser. Kalau pegang daerah terlarang harus teriak dan bicara pada ortu, siapa yang lakukan. Kalau tidak melakukan role play, akan tertanam di otak anak dan anak akan beraksi jika ada kejahatan seksual.

5-7 tahun
1. Kenalkan bedanya: muhrim, kerabat (saudara), sahabat, kenalan, orang asing.
Siapa saja muhrim kita dari garis ayah dan ibu. Apa haknya muhrim. Muhrim boleh melihat aurat yang wajar. Bahkan pada ortu hanya boleh menampilkan aurat yang wajar. Pada kenalan, boleh masuk ke ruang2 tertentu, gak boleh memberitahukan informasi detil ortu pada orang asing.

2. Ajarkan anak mengenali perasaan.
Jika anak nangis, tanyakan kenapa alasannya. Jangan langsung dimarahi agar anak tahu perasaannya.

3. Ajarkan berkata "tidak"--> dipraktikkan. (Role play)

4. Menahan pandangan dan jaga kemaluan, jadikan kebiasaan.
Harus jaga pandangan karena apa2 yang masuk ke pandangan akan masuk ke otak.

5. Tertib.
Saat tidur: pisah kamar, tutup pintu, tidak seranjang. Kakak adik sama2 perempuan tidak disarankan tidur seranjang krn sentuhan berkepanjangan bisa timbul. Saat tidur pakaian harus dijaga.
Saat mandi: mandi/istinja mandiri, tutup badan, malu di tempat umum.
Harus diprogram anak bisa mandi dan istinja sendiri karena kita ingin berpesan bahwa anak itu berharga. Kalau berharga, umur 5 th harus bisa mandi sendiri, tidak dimandikan pembantu, yang bukan siapa2. Kalau masih dimandikan, nggak dapat pesannya kalau tubuhnya berharga. Misal di tempat umum: mandikan anak telanjang bulat di shower umum kolam renang. Bagaimana pesan berharga sampai?

Usia 7-10 tahun.
Harus Kenalkan baligh. Persiapan baligh sebelum usia baligh.
1. Persiapan ttg reproduksi. Kenalkan alat reproduksi laki2 dan perempuan dan fungsi2 alat secara biologi. Jika anak tidak tahu dari ortu, tahu dari siapa???? Film?? Google??
2. Persiapan remaja: perubahan hormon. Baca buku puber aktif. Ajak anak bicara.
3. Berhati2: memilih teman, perlukah pacaran?
Kenapa anak gak boleh pacaran: pertanyaan ttg seks oleh yayasan kita dan buah hati: apa yang ingin kamu tahu ttg seks?
A. Putra: muncul 138 jenis pertanyaan yang berbeda dari 50 responden --- jauh lebih penasaran.
B. Putri: muncul 30 jenis pertanyaan standar dari 50 responden.


Pertanyaan : Persepsi ttg pacaran
A. Putra : pegang tangan, ciuman, make love --- orientasi fisik.
B. Putri : menyayangi, menuju pernikahan.

Umur 10-12 tahun
1. Bijak menggunakan gadget.
Anak2 umur ini harus kontrol ortu thd gadget dan Internet. Harus disepakati ortu pinjam hp anak. Ibu harus bisa buka histori hp/Internet.
2. Batasi main games.
Tidak hanya muatan merusak otak tapi juga selalu ada muatan pornografi. Jika otak sudah terkena adiksi pornografi,  maka seperti mobil Ferrari berlari kencang dan menabrak. Yang terjadi anak tidak akan bisa kontrol.
3. Kontrol ortu thd gadget dan Internet.
4. Ceritakan kerusakan otak.
5. Facebook: teman, upload foto, status. Hati2 terima pertemanan, update status.
6. Waspada: teman, kopi darat. Waspada orang baca status galau dan didekati perlahan2 lama kopi darat dan terjadi kejahatan seksual.

Pornografi ----> sumber kerusakan. Ini lingkaran setan karena korban akan jadi pelaku.
1. Gozwul Fikri
Pornografi adalah perang pemikiran barat terhadap muslim. Hati2 ajak anak ke pameran otomotif, banyak tampilan pornografi. Apa yang dilihat itu apanya ditangkap.
2. Bisnis
Bisnis yang angka keuntungannya lebih besar daripada narkoba.

Targetnya --- LGBT (Lesby, Gay, Bisexuals, Transgender) is ok : mengarahkan pada silakan pilih LGBT.
1. Program TV ---> Anak2 malas mikir.
2. Open mind opinion ---->hiburan, lucu.

Thrillers pornografi meski sebentar bikin penasaran. Lalu merasa itu adalah hiburan. Padahal itu adalah nilai yang ditanam orang2 barat bahwa LGBT is ok.

Kenapa Mudah diakses pornografi?
1. Fatherless country.
Negara berkembang termasuk ini, TIDAK ADA PERAN AYAH. Ayah ada tapi tidak mengasuh.

2. BLASTed generation.
B : boring -- bosan dg rutinitas. Ortu gak bisa menyediakan rutinitas yang menyenangkan. Bangun pagi, makan diomelin. Sebagian besar waktu anak ada di sekolah. Dan anak senang ke sekolah karena bertemu teman.
L : lonely -- kesepian. Ortu kerja seharian atau ortu ada di rumah tapi sibuk sendiri. Jika anda bekerja, punya komitmen dengan anak kapan meluangkan waktu dengan anak. Service dengan apa yang anak suka jadi anak merasa ortu ada dan bermakna. Anak butuh diservis dan dilayani, tidak hanya sekadar fasilitas. Kategori rumah yang nyaman hasil penilaian di US: 
1. fasilitas perpustakaan buku dan mainan sesuai usia. 
2. Responsivitas ortu - seberapa banyak ortu memeluk, memuji, bermain dan berinteraksi langsung dengan anak, mampu menjawab pertanyaan anak di 30 pertanyaan. Harus punya manajemen waktu anak.
A : angry/afraid - marah atau takut. Anak introvert yang muncul ketakutan. Takut mencoba sesuatu yang baru. Anak extrovert yang muncul pemarah. Anak kita yang mana?
S: stress -- misal anak sekolah di SDIT, 9 jam di luar rumah dan ada tuntutan, capek. Tapi sampai rumah dia dapat tuntutan buat PR, ngaji, dll. Maka anak jangan dimarahi, harus dibuat rileks.
T : tired -- capek. Dengan aktivitas harian spt di atas pasti capek. Rata2 anak usia SD kurus, punya masalah dengan pola makan dan istirahat.
3. Government regulations.
Regulasi dari Google ada aturan. Di US kalau mau googling aturannya umur 13 th, Facebook minimal umur 18 th. Aturan di Indonesia belum ketat. Bahkan, sama gurunya anak SD disuruh googling tuk cari tugas. 

4. Fasilitas: gadgets, Internet.
Anak2 difasilitasi dengan gadget dan Internet, yang memberikan ortu tanpa kontrol pemakaian dari ortunya.
Pornografi itu penyakit yang harus diselesaikan di RS, bukan sekadar hukuman.

Sasaran pornografi yang utama adalah anak laki2, usia 8-10 th. Mereka ditargetkan harus sudah adiksi dengan hal2 pornografi.  Jika sudah ketagihan ya harus dapat, karena laki-laki itu.....
A. Otak kiri dominan -- jika sdh ketagihan ya harus.
B. Hormon testosteron lebih banyak.
C. Organ vital ada di luar, mudah dirangsang.

Target pornografi oleh Mark Kastleman

1. Anak punya perpustakaan pornografi. 
Gak mesti lihat gambar telanjang, lihat bibir seksi langsung terangsang karena sudah ada perpustakaan pornografi di otaknya. Gak mesti distimulasi gambar telanjang, nyium wangi orang lewat langsung terangsang. Dan anak umur 8-10 th itu hormonnya sangat aktif.

2. Kerusakan otak permanen.
Di atas alis bagian kanan ada PFC - pre frontal cortex yang matangsaat umur 25 tahun, berfungsi menyaring pornografi. Jika belum usia 25 th dan melihat gambar pornografi maka lgs masuk ke syaraf responden. 1 rangsangan yang masuk akan direspon 3. Jika otak sdh rusak karena pornografi maka akan meminta yang aneh2, seperti seks dengan ayam. Fakta: ratusan ayam mati korban perilaku seksual.

3. Jadi pelanggan seumur hidup.
4. Incest.

Kerusakan utama pada anak penyebab utamanya adalah ayah -- Ibnu Qoyim dalam Tuhfatul Maudud 1/242

Thursday, 1 May 2014

Start line: English ability

Si pinky bulan ini nampaknya tidak akan lama berada di tanganku. Maaf ya pinky....
Walau bagaimanapun juga, I must improve my english ability... ya mulai dari speakin' sampe TOEFL.
Terakhir test TOEFL ITP dapet score over 500 tapi masih di bawah 550.
Hmm...

Tahun ini saya mau ambil test TOEFL lagi.
Merasa english ability yang makin menurun, was was juga kalo score nya jadi menurun juga, hiks... -aku tak mau aku tak mau aku tak mau-
Target kali ini sebenernya ingin memenuhi requirement beasiswa presiden yang butuh TOEFL ITP 587 untuk tujuan luar negeri. Semoga bisa...

Maka mulailah saya mengumpulkan scipt dan buku-buku yang dulu sempat saya pelajari di Kp. Inggris. Alhamdulillah sangat bermanfaat. Saya tidak harus mulai dari nol lagi :)
Buku nya memang tidak banyak, tapi dulu saya sudah mencatat trik-trik yang disampaikan oleh Mizzu Eddy. Beliau juga sempat kasih saya beberapa software TOEFL, yang sampai sekarang belum sempat saya instal semua (filenya banyaaak). Nah sekarang rasanya saat yang tepat buat melahap file-file itu. Lumayan jadi ga perlu les atau beli buku TOEFL kan...

Kalo udah pegang buku-buku ini lagi jadi inget masa-masa mengembara di Kp. Inggris.
Huaaaa... rasanya pengeeeeen lagi scoring TOEFL bareng mizzu Eddy dan temen-temen.
Pagi, siang, malem... scoring, scoring, scoring. Sampai-sampai teman sy tidurpun di atas buku TOEFL. Weeehh... kita emang gila :D

Semangaaaaat Lia!!
Target TOEFL ITP kali ini 590, atau 570 dengan sesi listening benar 95% haha..

daaaan semboyan ini berlaku lagi pada diri sayah
"Burning our midnight oil to master english as second language"

mari kita mulai setiap malam :*

Monday, 6 February 2012

Academic Joy: Every Researcher has a Story to Tell


http://www.academicjoy.net/index-en.html
This is the place where experts, researchers and graduate students in science, engineering and the humanities around the world converge to tell the unique stories of their life in research in academia and industry. Here, it is about

sharing ideas with others to spread knowledge;
networking with peers around the world;
seeking help when it is necessary;
finding resources and tools for research;
telling your side of the story in innovation.

Academic Joy is an original idea of an academic who realized that behind the achievements of every reseacher there is a hidden story, an inspiring struggle, an emotional journey that should be told to the world. It is the other side of success made of obstacles, insights, failures, persistence and determination against odds.

A well known American inventor Thomas Edison (1847–1931) said in Harper's Monthly (September 1932): "Genius is one percent inspiration, ninety-nine percent perspiration". Unfortunately, the part of the story made of so much perspiration, the hidden side of the iceberg, is seldom made public. Academic Joy aims at helping researchers enjoy their time in research by sharing its inspiring moments.

In addition, to help foster a sense of community, Academic Joy invites you to join its team of experts/mentors who will provide advice and guidance to peers, graduate students and young researchers. Conversely, we encourage researchers to submit (see support page) a condensed version of their articles for a brief review, advice and recommendations from anonymous experts before any formal submission to a conference, journal or book project.

Instead of the uncomfortable "publish or perish" pressure prevailing nowdays in research circles, Academic Joy would like to propose to researchers the positive "publish and cherish" idea.

Friday, 20 January 2012

OCW Consortium - OpenCourseWare Websites

http://www.ocwconsortium.org/en/courses/ocwsites/ocwsites/country
Belajar/kuliah dari berbagai universitas ternama di seluruh penjuru dunia. Universitas Tokyo, MIT, Nottingham, TU Delft, Korea University and many more...

Thanks Ega (/ayyeshakn.multiply.com) for the information ^___^

Monday, 11 July 2011

Rhenald Kasali: Sekolah untuk Apa?


just wanna share a nice article...

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.

Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.

Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.

Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?


Kesadaran Membangun SDM

Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.

Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di situ.

Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.

Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.

”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik.

Seleksinya sangat ketat. Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,”ujarnya.

Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di Selandia Baru.

Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10 besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.

Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah. Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek.

Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.

Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri,mungkin guruguru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri.

Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya? ”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.

Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.

Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.

Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing. Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai.

Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Bayangkan, bukankah citacita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super.Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi,ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.

Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1 yang digabung hingga S-3 di Amerika.

Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!

Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala resources.

Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.


Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, ”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode diperbarui,fasilitas baru dibangun,” ujar seorang guru.

Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah dan untuk apa kita bersekolah? Mudahmudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik.

RHENALD KASALI Ketua Program MM UI

source: seputar indonesia

Wednesday, 16 March 2011

Kecelakaan PLTN Chernobyl & Fukushima-I

Seminggu sebelum terjadi tsunami Jepang, kebetulan berkesempatan mengikuti kuliah tentang Nuclear Energy dari Profesor Ohgaki from Kyoto University. Pembahasan yang sangat menarik, yang membuat saya makin tertarik untuk tau lebih jauh tentang nuklir. Kecelakaan PLTN Fukushima-I (Fukushima Daichi) unit 1 membuat saya makin penasaran mengenai kecelakaan-kecelakaan yang pernah terjadi pada reaktor nuklir di dunia. Seakan Nuklir jadi sebuah momok yang sangat mengerikan, sebagai mesin penghancur. Padahal itu penilaian yang tidak objektif. Kalau saya memandang nuklir sebagai sebuah kesempatan tuk mendapatkan energi yang lebih besar. Bukan hanya berguna dalam bidang energi, tapi juga dalam bidang kesehatan, pertanian, food, dll.

Berikut saya dokumentasikan tulisan dari Pak Ma'rufin Sudibyo, salah satu pakar fisika Indonesia yang menjelaskan mengenai kronologi kecelakaan pada PLTN Chernobyl. Tulisan ini saya dapatkan dari sini. Mudah mudahan bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua.

Kecelakaan Nuklir Chernobyl, Ukraina

Kecelakaan nuklir Chernobyl itu sejajar dengan kasus lumpur panas sumur Banjar Panji-1 di Porong Sidoarjo.Yakni sama2 berangkat dari tujuan baik (pada Chernobyl berpangkal dari eksperimen pembangkitan daya darurat, pada Banjar Panji-1 untuk mencari migas), namun dilaksanakan tanpa mematuhi prosedur standar (pada Chernobyl semua prosedur standar keamanan operasi reaktor dilanggar, pada Banjar Panji-1 ngebornya ugal2an dan ngeyel). Akhirnya terjadilah bencana. Andaikata dua operator reaktor unit 4 PLTN Chernobyl tidak nekat melanjutkan eksperimennya pada 26 April 1986 lepas tengah malam, barangkali tragedi takkan pernah terjadi. Namun tragedi itu juga membuka mata dunia akan persoalan cacat desain reaktor dan manajemen pembangkit yang "ajaib" di eks-Uni Soviet.

Sebelum tragedi April 1986 PLTN Chernobyl hanyalah kompleks pembangkit tak terlalu dikenal di Ukraina, bahkan juga di kalangan petugas pemadam kebakaran setempat (yang akhirnya justru menjadi korban pertamanya). PLTN ini berlokasi di koordinat 51,3872 LU 30,1114 BT, berdekatan dengan perbatasan Belarus. Terdapat 4 unit reaktor : reaktor unit 1 mulai beroperasi pada 1977, reaktor unit 2 pada 1978, reaktor unit 3 pada 1981 dan reaktor unit 4 pada 1983. Keseluruhan unit menghasilkan daya 4.000 MWe yang menyuplai 10 % kebutuhan listrik Ukraina.

PLTN ini memakai reaktor RBMK-1000, yakni reaktor air mendidih (boiling water reactor/BWR) berdaya termal 3.200 MWt dengan moderator (bahan pelambat neutron) dari grafit (karbon). Pendinginnya air biasa, yang diambilkan dari Sungai Pripyat didekatnya dan didestilasi dulu, untuk kemudian dialirkan secara vertikal dengan inlet  dibawah dan dididihkan di dalam reaktor untuk memproduksi uap bertekanan tinggi yang memutar turbogenerator pembangkit listrik. Grafit dipilih sebagai moderator karena murah dan tersedia melimpah di Siberia. Untuk mengendalikan reactor digunakan batang kendali dari batang boron karbida berujung grafit. Di antara ujung grafit dan batang boron karbida terdapat ruang kosong sepanjang 1 m yang bakal terisi air pendingin ketika dimasukkan ke dalam reaktor. Ada dua tipe batang kendali : manual dan otomatis. Sebagai bahan bakar digunakan Uranium diperkaya (kadar U-235 3,8 %) sejumlah 220 ton.Konsekuensinya ukuran reaktor RBMK-1000 memang besar.

Reaktor RBMK-1000 unggul dalam efisiensi (34 %, bandingkan dengan reaktor2 tipe tekan/pressurized reactor yang berkisar 29 - 31 %) dan penggantian bahan bakar saat tetap menyala. Reaktor2 tipe lainnya (kecuali PHWR-CANDU yang dipasarkan Canada) harus dimatikan dahulu untuk mengganti bahan bakarnya. Meski begitu dalam prosedur pengoperasiannya, selama 1 tahun penuh reaktor hanya dijalankan 9 bulan saja dengan 3 bulan sisanya untuk perbaikan dan perawatan rutin, termasuk penggantian bahan bakar.

Namun keunggulan2 ini tidak seberapa dibandingkan dengan kelemahan2nya. Sebagai reaktor air mendidih bermoderator grafit, RBMK-1000 memiliki "problem gelembung", kondisi dimana adanya gelembung2 dalam pendingin saat proses pembentukan uap bisa mengacaukan pengendalian reaktor, karena gelembung2 itu meningkatkan jumlah neutron lambat. Kondisi ini sangat dirasakan RBMK-1000 ketika berada dalam daya rendah, baik ketika dalam proses dinyalakan (start-up) maupun dimatikan (shut-down).

Kelemahan lain ada pada batang kendalinya. Grafit dan ruang kosong berisi air di batang kendali mengakibatkan peningkatan daya temporal di detik2 pertama saat batang kendali masuk ke reaktor, karena sifat grafit dan air pendingin yang memoderasi neutron. Bila terjadi kondisi batang kendali gagal masuk sepenuhnya karena macet (entah kejepit atau apa) sehingga bagian boron karbidanya tidak bisa masuk, maka reaktor tidak bisa mati, justru dayanya malah melambung terus.

Aliran pendingin juga menjadi salah satu titik lemah. Dengan model aliran vertikal dan inletnya dari bawah, maka terdapat suhu pendingin di dalam reaktor jadi takhomogen, dimana di bagian atas lebih besar dibanding bagian bawah. Kondisi ini bisa berbahaya jika terjadi penguapan total pada bagian atas sehingga bahan bakar disana tak terdinginkan sepenuhnya. Selain bisa meningkatkan daya secara mendadak, kondisi ini juga beresiko pada melelehnya bahan bakar. Pendinginan vertikal juga memaksa pompa pendingin untuk terus menerus bekerja meski daya reaktor sudah sangat rendah sehingga tidak sanggup lagi membangkitkan listrik yang cukup.

Dan akhirnya, sebagai reaktor berukuran besar, RBMK-1000 hanya dilindungi oleh satu lapis dinding beton tipis guna menghemat biaya. Tak ada system pelindung bergandab sebanyak lima lapis sebagaimana yang distandarkan pada reaktor2 tipe lainnya. So, reaktor yang secara desain sudah cacat ini tidak mempunyai pelindung yang layak, sehingga jika terjadi kecelakaan peluang terlepasnya radioisotop ke lingkungan cukup besar dibanding reaktor2 tipe lain.

Kompleks PLTN Chernobyl dilayani oleh manajemen "ajaib" yang tidak berpengalaman sama sekali dalam mengoperasikan reaktor bertenaga besar. V.P. Bryukhanov, direktur, hanya berpengalaman di PLTU tanpa pernah sekalipun ke PLTN. Nikolai Fomin, insinyur kepala, juga lama bekerja di lingkungan PLTU. Hanya Anatoliy Dyatlov, wakil insinyur kepala, yang pernah bekerja dengan reaktor itupun hanya pada reaktor berdaya rendah.

Diduga kuat pemilihan manajemen tidak didasarkan pada kepakaran dan kemampuannya dalam teknologi nuklir, namun lebih pada loyalitasnya terhadap Partai Komunis Uni Soviet. Manajemen juga tidak pernah diberitahu otoritas ketenaganukliran Uni Soviet tentang sifat khas RBMK-1000 dan prosedur operasi daruratnya ketika berada dalam daya rendah. Singkatnya, manajemen 'buta' terhadap titik2 lemah RBMK-1000. Kombinasi cacat desain dan manajemen "ajaib" inilah yang berpuncak pada tragedi 26 April 1986.

Ekskursi Nuklir

Salah satu masalah yang menggayuti manajemen adalah bagaimana menjaga pompa pendingin tetap bekerja meski aliran listrik putus. Reaktor RBMK-1000 membutuhkan aliran pendingin terus menerus karena sifatnya vertikal. Sementara jika terjadi kerusakan sistim pembangkit listrik, aliran listrik ke pompa pendingin menghilang. Memang tiap unit reaktor telah dilengkapi dengan sepasang generator diesel otomatis, namun baru bisa menyuplai aliran listrik 40 detik setelah aliran listrik utama putus. Kondisi ini bisa menyebabkan perlambatan aliran pendingin, dan berpotensi menimbulkan kehilangan aliran pendingin (LOHSA : lostof heat sink accident).

Manajemen tidak menghendaki hal itu terjadi terutama setelah kasus LOCA (lost of coolant accident, setingkat lebih parah dibanding LOHSA) yang sampai melelehkan sebagian reaktor unit 2 PLTN Three Mile Islands, Pennsylvania (AS), 28 Maret 1979. Untuk itu dicoba memanfaatkan putaran sisa turbogenerator guna pembangkitan daya darurat untuk menggerakkan pompa pendingin selama minimum 40 detik. Eksperimen sejenis pernah sukses dilakukan pada 1983 di reaktor unit 1 tanpa masalah apapun dengan mematuhi semua prosedur standar, meski hasilnya negatif : turbogenerator tak sanggup memasok daya mencukupi.

Setelah dilakukan pengembangan2 tambahan pada turbogenerator, dirasakan perlu adanya eksperimen ulang. Pilihan jatuh pada reaktor unit 4 dengan setting waktu pada Jumat 25 April 1986, mengingat reaktor ini memang hendak dimatikan guna menjalani perawatan dan perbaikan rutin setelah menyala selama lebih dari setahun penuh.

Eksperimen sudah siap dijalankan pada tengah hari 25 April. Sebagai awalnya system pendingin darurat (ECCS : emergency core coolant system) dimatikan, meski
dalam prosedur operasi standar hal ini sama sekali tidak diperbolehkan. Namun mendadak otoritas kelistrikan Kiev meminta manajemen PLTN Chernobyl menjaga pasokan listriknya ke jaringan sampe jam 11 malam untuk mengantisipasi lonjakan penggunaan daya. Manajemen menyetujui hal itu sehingga daya reactor yang sudah terlanjur diturunkan ke 1.600 MWt tidak direduksi lagi. Selama 12 jam kemudian reaktor beroperasi dengan output 50 % dari normal dan tanpa ECCS.

Eksperimen dilanjutkan kembali pasca jam 23:00 setempat, kali ini oleh dua operator malam yang kedua-duanya berlatarbelakang teknik listrik dan tak satupun yang sebelumnya pernah bekerja di lingkungan reaktor. Daya reaktor diturunkan ke 700 - 1.000 MWt dengan memasukkan batang2 kendali otomatis, namun rupanya dua kru tak terlatih ini tak menyadari penurunan dayanya terlalu cepat. Pada kondisi ini produksi radioisotop Xenon-135 (salah satu produk samping reaksi fissi) jadi berlebih, padahal radioisotop ini dikenal sebagai "racun reaktor" karena menyerap neutron lambat dalam jumlah besar. Kontan daya reaktor anjlok ke 30 MWt. Operator tak menyadari adanya peracunan ini dan menganggap anjloknya daya lebih karena kegagalan daya, sehingga memutuskan menaikkan kembali batang kendali otomatis. Tindakan ini sangat menyalahi aturan, karena pada prosedur standarnya, begitu daya anjlok maka reaktor harus segera dimatikan.

Naiknya batang kendali otomatis hanya sanggup mengangkat daya ke 200 MWt saja, atau sepertiga dari daya nominal yang dibutuhkan untuk eksperimen. Namun operator merasa pada daya rendah itupun eksperimen bisa dilakukan. Maka pada pukul 01:05 setempat, operator menghidupkan seluruh pompa pendingin cadangan yang mengirimkan air pendingin berlebihan ke dalam reaktor, melampaui batas maksimum volume air dalamb reaktor yang diperkenankan. Selanjutnya batang kendali manual pun diangkat, hal yang lagi2 menyalahi prosedur operasi standar. Reaktor kini jadi sangat berbahaya karena tidak lagi memiliki batang kendali. Jika pada saat itu daya reaktor masih tetap rendah, alias jumlah neutron lambatnya tetap kecil, itu lebih disebabkan oleh kombinasi berlebihnya air dan Xenon-135 yang bisa menggantikan peran batang kendali.

Dalam keadaan demikian operator memutuskan untuk memulai eksperimen. Pukul 01:23, operator menutup katup uap ke turbogenerator. Putaran turbogenerator pun berkurang sehingga pasokan listrik ke pompa pendingin berkurang dan aliran pendingin jadi menyusut. Di dalam reaktor kini terbentuk lebih banyak uap dan celakanya diikuti dengan pembentukan gelembung2 air. Problem gelembung pun terjadi, sehingga daya reaktor segera menanjak. Dalam 5 detik pertama daya reaktor sudah bergerak ke angka 510 MWt. Pada tahap ini Xenon-135 mulai menghilang seiring makin banyaknya jumlah neutron. Sehingga dengan makin banyaknya air pendingin yang berubah menjadi uap, menghilangnya Xenon-135 dan dimatikannya ECCS, pengontrol daya reaktor menjadi tidak ada. Terjadilah ekskursi nuklir : kenaikan daya teramat cepat secara eksponensial pada waktu teramat singkat.

Operator yang panik segera menekan tombol SCRAM guna memasukkan semua batang kendali (baik manual maupun otomatis) ke dalam reaktor. Namun butuh waktu 20 detik agar batang kendali bisa masuk sepenuhnya ke dalam reaktor. Ketika suhu reaktor kian tinggi, gerak batang kendali pun macet, hanya bagian ujung grafit dan ruang kosong saja yang sempat masuk. Ini malah makin meningkatkan intensitas ekskursi nuklir. Dalam 20 detik itu daya reaktor sudah meningkat hingga 30.000 MWt alias sepuluh kali lipat dari daya normalnya.

Peningkatan daya luar biasa menghasilkan penguapan teramat brutal dimana semua cairan berubah jadi uap. Ini menghasilkan tekanan teramat besar yang merusak batang kendali, bahan bakar, grafit dan akhirnya menjebol atap beton reaktor yang tipis dalam ledakan uap. Andaikata reaktor dilindungi kubah double containment Mark-II setebal 2 meter seperti yang diterapkan pada reaktor2 lainnya, maka ledakan uap ini tidak akan terjadi. Ledakan uap ini segera disusul oleh reaksi uap air dengan grafit dan oksigen (dari udara luar yang masuk lewat lubang) dengan grafit sehingga timbul ledakan kedua yang tak kalah besarnya.

The China Syndrome

Pasca ledakan, reaksi oksigen dan grafit menyebabkan kebakaran besar pada reaktor. Inilah penyebab 4 % radioisotop - setara 9 ton - terloloskan ke lingkungan. Meski 4 dekade sebelumnya dunia sudah menyaksikan dahsyatnya bom nuklir Hiroshima dan Nagasaki, pada 26 April 1986 itulah, untuk pertama kalinya sebuah reaktor bertenaga besar melepaskan radioisotopnya ke lingkungan dalam jumlah besar. Sekitar 5,4 ton radioisotop itu mendarat di Belarus. Namun sisanya terbang dibawa angin ke barat hingga menjangkau Kepulauan Inggris. Paparan radiasi tertinggi berada di gedung reactor mencapai 5,6 Roentgen/detik, 202 kali lipat lebih besar daripada ambang batas dosis mematikan 0,028 Roentgen/detik. Celakanya ledakan menyebabkan kerusakan dua dosimeter (pengukur radiasi) dengan limit 1.000 Roentgen/detik. Hanya tersisa dosimeter2 kecil dengan limit 0,001 Roentgen/detik, dan semuanya "off scale." Karena itu kru reaktor dipimpin Alexander Akimov menganggap dosis radiasi saat itu paling banter 0,001 Roentgen/detik, mengabaikan tanda2 seperti potongan grafit, pipa bahan bakar dan batang kendali yang berceceran di sekitar gedung reaktor. Sehingga mereka memutuskan bertahan dan terus memompakan air ke gedung reaktor.

Bantuan segera datang dari brigade pemadam kebakaran Chernobyl, dipimpin Vladimir Pravnik, yang tak diberitahu sama sekali bahwa yang dihadapi adalah reaktor RBMK-1000 yang telah bolong. Kerja keras mereka bersama kru reaktor berhasil memadamkan api di atas gedung reaktor dan gedung turbin pada jam 05:00. Namun dalam tiga minggu kemudian, sebagian besar kru reaktor dan pemadam ini telah meregang nyawa.

Pada senja 26 April, Kremlin membentuk komite penyelidik dan memerintahkan Valeri Legasov dari otoritas ketenaganukliran Uni Sovet ke Chernobyl. Ia menjumpai 2 orang telah tewas dan 52 dirawat di rumah sakit, dengan gejala2 nyata akibat paparan radiasi berlebihan. Dosimeternya juga menunjukkan tingkat paparan radiasi yang sangat tinggi di sejumlah titik. Pada 27 April 14:00 ia memerintahkan dimulainya evakuasi penduduk kota Pripyat dan sekitarnya. Agar tidak timbul kepanikan, detil bencana tidak diberitahukan kepada penduduk, dan agar beban tidak terlalu berat, diberitahukan kepada penduduk bahwa evakuasi bersifat temporal, hanya untuk 3 hari. Total penduduk yang dievakuasi sejumlah 336.000 orang.

Kepanikan justru merebak di Swedia, 1.100 km dari Chernobyl. Pada 27 April itu juga kru PLTN Forsmark mendeteksi lonjakan paparan radiasi yang spektakuler di lingkungan mereka. Anehnya dosis paparan radiasi di luar gedung jauh lebih besar dibanding di dalam gedung. Setelah konfirmasi ke PLTN2 lain di Swedia memastikan tidak ada reaktor mereka yang bocor, kecurigaan diarahkan ke PLTN2 Uni Soviet di kawasan Barat. Atas desakan Swedia, tak lama kemudian Mikhail Gorbachev mengumumkan bocornya salah satu reactor Soviet. Pernyataan sama juga dikeluarkan Boris Yeltsin yang sedang mengunjungi Berlin.

Horor Chernobyl belum usai. Meski reaktor RBMK-1000 telah jadi puing, sisa bahan bakar Uranium yang masih cukup besar (> 200 ton) dan puing2 grafit ternyata masih sanggup menjalankan reaksi fissi. Meski daya yang dihasilkan kecil, tiadanya cairan pendingin membuat grafit terus memanas. Maka kebakaran pun berlanjut di interior puing. Pada dasar puing, panas kebakaran bahkan cukup tinggi hingga sanggup membuat bahan bakar dan beton penyangga reaktor meleleh membentuk lava. Jika lava ini bisa menembus dasar bangunan dan tanah dibawahnya hingga mencapai cadangan air tanah dalam, maka kontak lava dengan air akan menciptakan erupsi freatoradiatik ("The China Syndrome"), ledakan uap berkekuatan besar yang sanggup membongkar tanah diatasnya membentuk kawah. Letusan ini akan memuntahkan debu terkontaminasi radioisotope hingga ketinggian 1 km. Jika ini terjadi, area yang tercemar dipastikan akan jauh lebih besar.

Untuk mencegah erupsi freatoradiatik, otoritas memutuskan puing reaktor RBMK-1000 harus dimatikan dan didinginkan. Lewat ratusan sorti penerbangan helikopter, ke bangunan reaktor dijatuhkan 5.000 ton bahan penyerap neutron berupa campuran pasir, lempung dan asam borat. Setelah puing reaktor dipastikan telah mati dan dingin, sebuah struktur sarkofagus raksasa dibangun untuk menyelubungi seluruh puing pada Desember 1986.

Jumlah radioisotop yang dilepaskan 160 kali lipat lebih besar dibanding bom Hiroshima (9 ton vs 55 kg). Sampai 2005, IAEA dan WHO mencatat jumlah korban tewas 56 orang (47 kru reaktor dan petugas pemadam kebakaran serta 9 anak2 penderita kanker tiroid). Dari 6,6 juta orang yang terpapar radioisotop, diperkirakan 9.000 diantaranya terpapar berat. Hingga 2002 dideteksi terdapat 4.000 kasus anak penderita kanker tiroid.

Kecelakaan PLTN Fukushima, Japan

Semua PLTN yang sedang beroperasi di kawasan Fukusima dan sekitarnya langsung padam otomatis setelah sistem sensor mendeteksi kekuatan gempa yang melebihi ambang yang ditetapkan (SSE, safe shutdown earthquake). Walau sudah padam, teras reaktor harus tetap didinginkan karena adanya panas sisa (decay heat). Karena listrik off-side juga padam akibat gempa, pendinginan ini dilakukan otomatis oleh genset. Genset ini kemudian juga mati tampaknya karena dilanda tsunami, sehingga pendinginan teras dilakukan dengan baterai yang kuat hingga 8 jam sambil menunggu genset cadangan.
PLTN fukusima Daichi unit 1 dan unit 3 yang bermasalah merupakan PLTN generasi awal yang dioperasikan  di Jepang dan mendekati akhir masa baktinya. Sebagai PLTN BWR generasi awal, maka “ragam keselamatan” nya tiadk selengkap PLTN generasi berikutnya, misalnya PLTN belum menerapkan passive safety system untuk sistem pendingin. Kejadian gempa dan diikuti dengan tsunami yang sedemikian besar tidak terdapat dalam design basic accident yang harus dihadapi oleh PLTN tersebut.
Penyebab utama dari kejadian adalah berhentinya sistem pendinginan darurat (emergency cooling system) setelah satu jam beroperasi, dan hal ini diduga besar disebabkan karena tsunami. Pendinginan yang terhenti ini mengakibatkan akumulasi panas (decay heat) yang akhirnya mengakibatkan ada bagian bahan bakar yang tidak tertutup air, dan selanjutnya menghasilkan gas H2 dari reaksi cladding dari bahan zirkonium dengan uap air pada suhu tinggi. Saat mendekati batas maksimum, kanduang uap air dan gas H2 itu dilepas ke ruang kontaimen luar di sisi atas bangunan pengukur reaktor. Gas H2 ini karena suatu pemicu bereaksi dengan oksigen yang menimbulka ledakan.
Ledakan gas H2 di ruang kontainmen luar tidak merusakkan bagian dalam kontainmen utama, sehingga hanya sebagian zat radioaktif yang ikut lolos saat pelepasan gas H2 yang kemudian terlepas ke lingkungan. Menurut otoritas Jepang, tingkat radiasi yang lolos ini sangat kecil. Sebagian besar zat radioaktif masih berada dalam bejana kontainmen teras reaktor bersama dengan bahan bakar.
Dengan pendinginan air laut (ditambah asam borat sebagai penyerap neutron) pada bagian luar reaktor, maka kondisi pemanasan karena decay heat dapat diatasi. Tindak lanjut masih harus dilakukan untuk menangani bahan bakar di dalam reaktor dan zat radioaktif yang terdapat di dalamnya.
Kejadian seperti PLTN Fukusima Daichi unit 1 dan 3 tidak terjadi di tempat lain karena beberapa hal, antara lain; unit PLTN lain dibangun dengan unit keselamatan yang lebih baik (reaktor lebih baru), tidak diterjang tsunami karena dibuat lebih tinggi (Onagawa), dan getaran gempa yang sampai kesana tidak terlalu besar serta tidak diikuti oleh tsunami.

Anyway, kecelakaan PLTN Fukusima-I unit 1 dikategorikan sebagai skala-4 pada INES (International Nuclear Event Scale) yang artinya kecelakaan tanpa resiko signifikan di luar kawasan. Begitulah siaran pers yang dikeluarkan BATAN.

Ini berdasarkan data tanggal 13 Maret 2011. sudah ada perkembangan terbaru yang makin mengkhawatirkan, berdasarkan berita tanggal 19 Maret 2011, ternyata kecelakaan PLTN Fukushima Jepang sudah memasuki skala 5 dari 7 skala. Pembahasannya akan saya posting selanjutnya (in my other blog).


Monday, 7 February 2011

Gila Gelar


Kemarin seorang teman mengeluh, "masa orang tuanya gak mau anaknya diajari les bahasa inggris sama saya. cuma karena saya bilang kalau saya cuma tamatan SMA... huh! padahal kalau dari segi kemampuan, bahasa inggris saya kan gak jelek. saya mampu kok berbahasa inggris dengan baik. tidak kalah dengan bahasa inggris-nya anak-anak kuliahan. saya bener-bener sakit hati li..." saya cuma bisa terbelalak, "heh, beneran. masa sih cuma karena belum sarjana kamu ditolak jadi pengajar bahasa inggris anak smp?" dia mengangguk sedih, "iya, orang tuanya bilang gituh..." saya jadi ikutan sedih, padahal bahasa inggrisnya keren, malah bisa nglahin anak-anak kuliahan. karena dia selalu belajar otodidak.

Katanya lagi, "padahal waktu saya privat bahasa indonesia sama orang asing, dia gak keberatan diajarin sama saya meski saya cuma tamatan SMA. dia bilang, no problem selama saya punya kemampuan itu..." hmm... jadi gini ya orang-orang Indonesia, gelar itu penting melebihi kemampuannya... makanya banyak orang yang rela ngeluarin duit banyak cuma buat beli gelar (ilegal) yang diterbitkan lembaga pendidikan fiktif. Tangisan dunia pendidikan yang sungguh menyayat

Memang orang akan bangga jika memiliki gelar sarjana, doktor, bahkan profesor untuk menaikkan posisi tawarnya. Namun, kemampuan finansial yang tidak diimbangi dengan kemampuan intelektual mengakibatkan banyak orang yang memotong jalur (ambil jalan ternatif) untuk memudahkannya mendapatkan gelar akademik. Hal itulah yang menjadi penyebab perdagangan gelar kesarjaan dan gelar akademik lainnya. Tanpa kuliah, ujian skripsi, tesis, dan disertasi, orang bisa mendapatkan gelar yang diinginkannya. Itu adalah penipuan besar. Padahal, gelar tersebut tidak akan berguna jika tidak diimbangi dengan kemampuan intelektual dan skill. Apalah berharganya gelar doktor, jika kemampuannya tidak lebih baik dari yang bergelar sarjana S1.

Orang Indonesia itu gila gelar? menjawab ini, rasanya tidak berlebihan jika saya jawab,  ya. Ssaat ini memang tingkat keparahan  sindrom ini di Indonesia sangat tinggi. Meski sindrom ini juga merasuk dan merusak segenap penjuru bumi, termasuk negara adidaya seperti Amerika Serikat, tapi sindrom ini tidak separah di Indonesia (sharing dengan seorang kawan).

Menengok lebih jauh ke belakang, fenomena gila gelar itu tidak terlepas dari budaya kerajaan di Indonesia. Orang Jawa akan dihormati jika mereka memiliki gelar yang diberikan kerajaan. Misalnya, orang akan dihormati dalam kehidupan sosial masyarakat jika menyandang gelar-gelar yang membuatnya disegani. Bahkan, seorang raja merasa perlu menaikkan gelar untuk melegitimasi kekuasaannya. Jadi tidak heran pada masa modern seperti sekarang pun, orang ramai memburu gelar dengan berbagai cara untuk menaikkan prestise diri di hadapan masyarakat. Mulai dari akademisi, profesional hingga birokrat. Bahkan gelar 'haji' pun turut jadi incaran (padahal, Rasulullah saja tidak pernah memamerkan gelar tersebut meskipun beliaulah manusia yang paling sempurna melaksanakannya). Masyarakat masih lebih menghormati seseorang dengan melihat gelarnya dan bukan karyanya.

Jika mau membandingkan dengan ilmuwan Jepang, ceritanya mas ramli, mereka tidak biasa untuk tidak menuliskan gelar. Jika ada seminar atau kuliah umum yang diadakan di kampus, sehebat apapun professor yang akan diundang untuk berbicara, belum pernah beliau melihat ada embel-embel gelar di depan atau di belakang namanya.Tetapi lain halnya jika yang diundang berbicara adalah professor dari luar Jepang, maka biasanya dilengkapi dengan embel-embel.

Kehebatan para peneliti di Jepang bukan dilihat dari banyaknya gelar yang dipunyainya. Banyak professor yang telah mendalami dan mengikuti program pendidikan dari berbagai major yang terkait dengan penelitiannya, tetapi namanya tidak semakin panjang dengan gelar-gelar yang didapatnya.

Di Jepang tidak ada istilah guru besar. Sehingga para dosen tidak perlu disibukkan dengan mengejar target ini itu untuk mendapatkan gelar ini.Oleh karenanya mereka lebih enjoy melakukan penelitian apa saja yang diinginkannya. Seorang asisten professor di kampus, jika melihat hasil penelitian dan tulisan-tulisannya yang tersebar di jurnal Jepang dan internasional, seandainya dia berada di Indonesia, dengan mudahnya dia akan mendapatkan gelar guru besar. Tetapi tidak dengan di Jepang, statusnya tetap sebagai asisten professor sekalipun dia layak sekali disebut professor, dan bukan asisten.

Esensi pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membebaskan diri dari segala bentuk kebodohan. Bukan sekadar selembar ijazah atau embel-embel gelar kesarjanaan. Seharusnya orang tidak butuh gelar untuk menegaskan kemampuan intelektualnya. Seharusnya dengan karya, kemampuannya bisa diakui semua orang. Bahkan, orang tidak akan merasa perlu sekolah formal jika merasa mampu membebaskan diri dari kebodohan. Dengan menyandang gelar tinggi tapi tidak mampu melakukan apa-apa, mereka malah menjadi bahan gunjingan dan tertawaan orang. Apalagi, yang disandang gelar palsu. 

Teringat kata Ippho Santosa (Penulis Qalbu Marketing), "kenapa tidak kita sendiri yang memberikan gelar pada kita (self-titling)?" jangan cuma kampus, agama, pemerintah dan masyarakat yang selalu memberikan gelar kepada diri kita. Bukan ide yang gendeng menurut saya, motivator Andrie Wongso saja punya predikat SDTT TBS alias Sekolah Dasar Tidak Tamat Tetapi Bisa Sukses. Pas dan pantas 'kan? Pengusaha Joger pun ndak mau kalah. Dia punya predikat BAA, BSS. Maksudnya, Bukan Apa-Apa, Bukan Siapa-Siapa. Benar-benar lugas dan cerdas 'kan? tidak perlu susah-susah mendapatkan gelar yang ilegal

Meski banyak yang bilang, "Itu mah bukan gila gelar, tetapi gelar gila!" Ah, biar saja! Tidak melanggar hukum ini. Kalau titel-titel formal itu manfaatnya untuk personal branding, sebenarnya titel non-formal yang terkesan guyonan itu juga tidak jauh berbeda. Malah efeknya bisa lebih greget dan bisa bikin kaget!

Tuesday, 11 January 2011

Kisah Pengajar Muda IM - A story about Rizki, My Genius Student


Dear temen-temen,
Just wanna share satu kisah inspiratif dari salah satu Pengajar Muda Indonesia Mengajar bernama Mb Wiwin (Erwin Puspaningtyas Irjayanti) aka Waheeda El Humayra (alumni IPB) yang saat ini ditempatkan di Majene, Sulawesi Barat.

Selamat membaca

========================================

A story about Rizki, My Genius Student

By : Erwin "Wiwin" Puspaningtyas Irjayanti


"The Old Man said, Everyday has its miracle. I am not the Old Woman, but I believe it too: EVERYDAY HAS ITS MIRACLE"


Kisah ini hadir di layar komputermu setelah seorang guru di SD terpencil berlari-lari riang selama 45 menit sembari membawa parang bersama 3 muridnya yang menggenggam bambu runcing untuk menghalau babi--jika sewaktu-waktu ketemu--menuju "Bukit Harapan", demikian bukit itu diberi nama baru-baru ini karena di bukit itu telah ditemukan sinyal GPRS. Diketik dengan penuh kesabaran di atas keyboard HP Nokia E63, inilah kisah yg ingin diceritakan oleh guru SD terpencil itu:

Tentang Rizki.
Teman-temannya, murid kelas 3, bercerita tentang dia kepada saya: anak itu, namanya Rizki. Rizki Ramlan. 9 tahun. Sejak 4 bulan belakangan, dia tak pernah berangkat ke sekolah. Tanpa alasan. Namun desas desus menyebutkan, bahwa ia malas bangun pagi. Dengan kehadirannya yang tak lebih dari 20 kali dalam 1 semester, teman2nya mengenal ia sebagai anak pandai. Rizki, ia tinggal di Tamaluppu.

Tentang Tamaluppu.
Ialah sebuah tempat yg lebih terpencil dari Passau--tempat terpencil dimana saya tinggal saat ini.

Ini adalah statistik tentang Tamaluppu (T) Vs. Passau (P):
*Jumlah rumah: 13 (T) Vs. 60 (P).
*Listrik: sama sekali tidak ada (T) Vs. genset desa dr jam 19.00-22.00 (P).
*Sinyal GSM: sama sekali tidak ada (T) Vs. Maksimal utk SMS di spot tertentu (P)
*Jarak dari jln.poros Majene-Mamuju: 6-7 km / 1,5-2 jam perjalanan (T) Vs. 3 km / 45 menit perjalanan (P).
*Dapat dicapai menggunakan: hanya dengan jalan kaki dari Passau (T) Vs. Motor, jika tidak turun hujan (P)

Tentang Ide Mengajar di Tamaluppu
Pada hari dimana saya mengemukakan ide bahwa saya ingin seminggu 2x memberi pelajaran tambahan bagi anak-anak di Tamaluppu, banyak orang menganjurkan untuk tidak usah, karena itu jauh, susah, repot. Anak2 Tamaluppu juga lebih pemalu dari anak2 super pemalu di Passau. Buat apa? Kenapa tidak menyuruh mereka saja yang ke sini utk mendapatkan pelajaran tambahan?
Saya bergeming. Hanya tersenyum dan dengan halus menjawab keberatan orang2, "saya akan tetap ke sana, meski sendirian."

Tentang Tamaluppu yang Saya Kenal.
Sudah tiga minggu ritual ini berjalan: Jam 3 sore, setiap Selasa dan Jumat, pergi ke Tamaluppu mengajar anak-anak di sana. Kami belajar dimana saja: di rumah Ali (murid kelas 6), di halaman langgar, di bawah pohon kelapa (yg sedang tidak berbuah). Saya mengenang Tamaluppu dalam beberapa potongan memori:
--ialah suatu tempat dimana 8 dari 63 murid saya tinggal. Yang jika hari hujam, dipastikan anak2 itu tidak akan berangkat sekolah.
--Sebab jika hari hujan, jalan setapak yg sedianya mereka lewati berubah menjadi sungai dan air terjun.
--Anak2 itu berangkat ke sekolah dengan membawa bambu runcing, sebab di perjalanan dari Tamaluppu menuju Passau, seringkali mereka musti berhadapan dengan babi hutan.

Antara Saya dan Rizki Ramlan
Saya tidak pernah mengenal anak itu. Menyentuhnya. Berbicara dengannya. Saya tidak mampu. Ia begitu tak tersentuh. Begitu jauh. Setiap kali saya berusaha mendekatinya sehabis saya mengajar anak2 Tamaluppu yang lain, ia selalu lari. Menjauh. Mengintai saya dari tempat yang menurutnya paling aman sedunia: persembunyiannya. Saya mengalah. Saya memilih tidak memaksa.

Hingga pada suatu sore yg berhujan deras, yg tak henti-henti sampai petang dan malam tiba, saya memutuskan untuk menerima kesopanan orangtua Ali yg menawarkan saya bermalam di rumah mereka. Singkatnya malam itu, Rizki yg malu-malu itu, pada suatu kesempatan saat saya habis salat isya, dari balik pintu dia melemparkan: selembar kertas yg bulat karena diremas, dua lembar, tiga lembar, sampai 6 lembar. Lalu, dia lari. Dia berlari dan menjauh. Tak tersentuh untuk kesekian kalinya.

Saya membuka kertas2 itu. Isinya, membuat saya mematung:
Coretan soal2 matematika yg tiga minggu ini kuajarkan pada anak-anak Tamaluppu, kelas 4, kelas 6. Di kertas yg lain, coretan soal yg dia buat sendiri, dan dia jawab sendiri. Dan 80% jawabannya adalah benar: materi kelas 4, materi kelas 6. Rizki, kelas 3, sudah 4 bulan tidak masuk sekolah.

Aku tertegun. Mematung.

Dalam nyala obor, aku menulis di sesobek kertas: "Pintar sekali kamu! Sekolah di mana?". Kuremas kertas itu. Lalu keluar rumah: mencari sosoknya di kegelapan dan menemukannya sedang mengintaiku dari bawah tangga. Kulempar kertas itu di tempat yg terlihat namun agak jauh darinya, lalu pergi seolah-olah yg barusan kulempar adalah sampah.

Tak lama, dari jendela yg sengaja kubuka, masuklah segumpal kertas:
"Tidak sekolah. Tidak ada yang diajarnya. Tidak ada gurunya."
Aku tersenyum. Benar dugaanku bahwa dia akan membalas suratku. Tanpa sempat menutup jendela, aku tertidur. Tak tahu bahwa seorang anak meringkuk di bawah jendela, menanti ada balasan atas segumpal kertas yg dilemparnya. Hanya karena dia berpikir bahwa jendela itu masih terbuka. Ketika pagi, baru aku sadar: jendela terbuka, aku melongok, menemukan tubuh kecil meringkuk di atas bangku dari bambu. Tertidur. Tangannya menggenggam kertas, dan pulpen.

Tentang suatu hari bernama Selasa, 14 Desember 2010, sekira pukul 15.30 WITA
Hari hampir hujan. 30 menit perjalanan dari Passau sudah saya tempuh. 15 menit lagi, saya tiba di Tamaluppu. Antara ya dan tidak, sembari menatap langit berawan pekat, saya memutuskan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 5 menit, hujan turun. Langsung sangat deras. Saya berteduh di bawah pohon jambu mete, bersama kakak angkat saya yang juga guru sukarela, Kak Yani. Semenit, dua menit.

...

Di kejauhan, di bawah butiran air yg menyamarkan pandangan mata, samar-samar kulihat sesosok bocah. Bertelanjang dada, bercelana yang warnanya seperti coklat. Parang di tangan kirinya, daun pisang di tangan kanannya. Dia mendekat. Semakin dekat dan dia menuju kami. Menuju saya. Mengulurkan daun pisang di tangan kanannya, satu untuk saya, satu untuk Kak Yani. Aku dan Kak Yani saling bertatapan.

Aku bertanya yg segera diterjemahkan oleh Kak Yani yang intinya, "ngapain kamu di sini? Dari kebun?"

Dia tak menjawab.
Dadanya naik turun. Naik, turun. Naik, turun. Naik turun dengan cepat. Air hujan, mungkin, telah mengaburkan--jika benar--air matanya.

Dia menangis.
Ya, dia menangis.

Lalu, dengan bahasa Mandar yg kacau, saya bertanya, "mangappai i'o sumangiq, Rizki? Mengapa kamu menangis, Rizki?"

Aku mengulurkan tangan. Meraih tubuh basan kuyupnya. Dan untuk pertama kalinya, ia diam. Tak berlari. Tak menjauh. Rizki, akhirnya, aku dapat menyentuh tubuh kecilnya.

Lalu tiba-tiba, Tiba-tiba saja, dia menyambutku. Memeluk pinggangku. Melingkarkan tangannya yang masih memegang parang di pinggangku.
"Puang, yakkuq meloq massikola." Dalam hujan, dia menenggelamkan kepalanya di perutku, mengalahkan derasnya suara hujan dengan suaranya, "Puang, saya mau sekolah."

Dia memelukku. Erat.

Aku mematung. Haru. Sakit. Sesak. Bahagia. Sesak oleh perasaan bahagia.

Teringat olehku tentang pagi itu, ketika bocah itu masih meringkuk tertidur di bangku bambu bersama segenggam kertas dan pulpen, saat kuletakkan segenggam kertas di dekat kepalanya, "Pergilah ke sekolah. Aku guru di sana. Akan kuajar kau tentang rahasia-rahasia yang ingin kau tahu. Semua rahasia. Pergilah ke sekolah."

Pagi ini, 15 Desember 2010
Kebahagiaan adalah ketika dari jendela rumahm saya melihat anak-anak Tamaluppu tiba di sekolah. Ada Rizki di sana. Dengan seragam kusut robek-robeknya. Saat aku masuk halaman sekolah, ia tengah memegang raket badminton. Saat ia kutatap, ia melengos. Pura-pura tak melihat. Dia masih malu-malu.

Saat kudekati, ia kembali berlari.
Ia kembali menjauh.
Ia kembali tak tersentuh.
Tapi aku tahu, hari-hari esok, dia akan melemparkan bola-bola kertasnya kepadaku. Lagi. Seperti tadi siang ketika tiba-tiba ia melemparku segenggam kertas, "Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?"

***

Salam hangat dari Bukit Harapan

(^_^)

===============================================

PS:
kunjungi website IM di www.indonesiamengajar.org untuk membaca kisah inspiratif dari para Pengajar Muda Indonesia Mengajar lainnya :)

Oya, pendaftaran untuk menjadi PM IM masih dibuka lho, hingga akhir Januari 2011 ini 

Saturday, 1 January 2011

Now Open! Registrasi Pengajar Muda - Indonesia Mengajar #2


Dear Friends,
Berikut ini informasi rekrutmen Pengajar Muda (PM) dari Indonesia Mengajar (IM) Angkatan II. 
(Diutamakan untuk teman-teman yang sudah lulus kuliah).

Kini saatnya kita menjadi World Class Leader yang memiliki Grass Root Understanding, Empathy, and Sympathy ^_____^!

"Satu tahun mengajar, seumur hidup memberi inspirasi"

Selamat mendaftar dan semoga sukses 

REGISTRASI PENGAJAR MUDA: http://registrasi.indonesiamengajar.org/

===========================================================
Kriteria PM

Indonesia Mengajar (IM) percaya bahwa kualitas pendidikan berkait erat dengan kualitas tenaga pengajar. Dengan demikian, IM berkepentingan untuk merekrut generasi muda dengan kriteria sebagai berikut:

  • Minimal lulusan S1.
  • Fresh graduate, maksimal dua tahun setelah lulus.
  • WNI, umur maksimal 25 tahun dan belum menikah.
  • IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0 dari berbagai disiplin ilmu.
  • Berprestasi baik di dalam maupun di luar kampus.
  • Mengedepankan jiwa kepemimpinan yang ditunjukkan dengan pengalaman berorganisasi.
  • Mengedepankan kepedulian sosial dan semangat pengabdian.
  • Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya untuk kegiatan belajar-mengajar
  • Menghargai dan berempati terhadap orang lain.
  • Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving.
  • Memiliki hobi atau keterampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat.
  • Sehat secara fisik dan mental.
  • Bersedia ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun.

Frequently Asked Questions
Tentang Indonesia Mengajar
1.Apakah Indonesia Mengajar?
2.Apakah fokus kegiatan dan tujuan IM?
3.Mengapa IM fokus pada Sekolah Dasar?
4.Di daerah mana saja wilayah kegiatan IM?
5.Siapakah pendiri IM?
6.Bagaimana caranya jika saya ingin terlibat dalam kegiatan IM?
1.Apakah Indonesia Mengajar?

Indonesia Mengajar (IM) adalah sebuah inisiatif yang didirikan oleh Anies Baswedan yang memiliki visi untuk memberikan akses pengetahuan ke seluruh anak di Indonesia. Tujuannya adalah mengisi kekurangan tenaga pengajar berkualitas di daerah di Indonesia hari ini, dan menyiapkan calon-calon pemimpin muda Indonesia yang memiliki pengetahuan grass-root tentang daerah di Indonesia. IM memberi kesempatan kepada lulusan terbaik dari berbagai universitas untuk menjadi jendela kemajuan di daerah melalui wahana bekerja sebagai guru selama minimal satu tahun. IM dimaksudkan menjadi sarana yang efektif untuk menempa jiwa pengabdian dan kepemimpinan seseorang dalam kegiatan sosial yang kreatif.

Kembali
2.Apakah fokus kegiatan dan tujuan IM?

Fokus kegiatan IM ialah merekrut, menyeleksi, dan melatih para lulusan terbaik perguruan tinggi dari berbagai disiplin keilmuan serta menempatkannya sebagai tenaga pengajar di Sekolah Dasar selama satu tahun di daerah yang membutuhkan. Lulusan yang direkrut tidak hanya dari jurusan kependidikan akan tetapi pelatihan berfokus pada materi kependidikan dan kepemimpinan.

Kembali
3.Mengapa IM fokus pada Sekolah Dasar?

IM memandang bahwa pendidikan dasar tidak hanya menjadi kebutuhan dasar setiap warga negara; tetapi juga menjadi tahapan awal yang sangat menentukan bagi perkembangan seseorang. IM percaya bahwa pendidikan seperti eskalator bagi kehidupan seseorang, sehingga jenjang pendidikan dasar merupakan langkah awal yang sangat menentukan bagi kualitas masa depan seseorang. Terlebih lagi, dari data dan laporan didapatkan kenyataan bahwa kualitas guru sekolah dasar merupakan yang paling buruk dibandingkan guru pada jenjang pendidikan lain. Jumlah guru SD yang belum berkualifikasi S-1 sebesar 75.2%; dan yang turut mengkhawatirkan adalah lebih dari 75% guru SD akan memasuki pensiun dalam lima tahun mendatang. (Analisis Data Guru 2009, Ditjen PMPTK, 2009).

Kembali
4.Di daerah mana saja wilayah kegiatan IM?

IM berkegiatan di seluruh wilayah Indonesia karena isu kekurangan guru tidak hanya menjadi masalah bagi daerah terpencil saja. Masalah umum selain kualitas guru adalah disalokasi guru. 21% sekolah di perkotaan kekurangan guru, 37% sekolah di pedesaan kekurangan guru dan 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan guru. Uniknya, 68% sekolah di perkotaan mengalami oversupply, sementara 66% sekolah di daerah terpencil mengalami kekurangan guru.

Kembali
5.Siapakah pendiri IM?

IM didirikan oleh Anies Baswedan bersama para pihak yang berkomitmen untuk ikut secara aktif membantu pemerintah dalam pembangunan pendidikan. Pihak lain tersebut adalah para pegiat, volunteers, serta dunia bisnis yang secara khusus membantu pendanaan program ini.

Kembali
6.Bagaimana caranya jika saya ingin terlibat dalam kegiatan IM?

Bagi Anda yang berminat menjadi pengajar muda dapat mengikuti proses seleksi. Bagi trainers/lembaga pelatihan, calon sponsor, Sekolah Dasar, maupun pihak ketiga lainnya; Anda dapat menghubungi kami di info@indonesiamengajar.org.

Kembali

Persyaratan dan Pendaftaran
1.Apa saja kriteria pengajar muda IM?
2.Mengapa IM memilih fresh graduate?
3.Mengapa pengajar muda IM harus S1?
4.Bagaimana jika saya tidak memiliki latar belakang atau pengalaman mengajar?
5.Apabila saya memiliki gelar master/magister dan dapat diselesaikan kurang dari dua tahun sejak tahun kelulusan strata satu, maka, dapatkah saya menjadi pengajar muda IM?
6.Mengapa saya sebagai fresh graduate lebih memilih bergabung dengan IM daripada bekerja di perusahaan atau menjadi PNS?
1.Apa saja kriteria pengajar muda IM?

Kriteria pengajar muda IM di antaranya fresh graduate perguruan tinggi dengan kualifikasi akademik yang baik, memiliki pengalaman kepemimpinan, memiliki minat, motivasi, serta semangat untuk mengajar serta tinggal di daerah terpencil. Persyaratan lengkap untuk menjadi pengajar muda dapat dilihat di sini.

Kembali
2.Mengapa IM memilih fresh graduate?

IM memandang bahwa bahwa fresh graduate dari bakat-bakat terbaik bangsa memiliki kapasitas dan kualifikasi yang mumpuni untuk diasah menjadi tenaga pengajar yang baik. Umumnya, mereka yang baru lulus memiliki kreatifitas dan inisiatif yang tinggi serta dapat memberikan inspirasi maupun model bagi anak bangsa di daerah. IM juga memandang bahwa kemampuan kepemimpinan fresh graduate akan semakin terasah selama satu tahun ditempa di daerah sehingga akan lebih siap untuk membangun nusantara dalam berbagai posisi kerjanya di kemudian hari.

Kembali
3.Mengapa pengajar muda IM harus S1?

Menurut UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen serta PP 74/2008 tentang Guru disebutkan bahwa untuk mendapatkan sertifikasi profesi dan tunjangan profesi disyaratkan minimal berpendidikan sarjana atau diploma empat. Hal ini dimaksudkan agar kualitas guru lebih meningkat dengan asumsi tingkat pendidikan terakhir memberikan pengaruh pada kapasitas mengajar mereka. Indonesia Mengajar juga percaya bahwa diperlukan input terbaik untuk dapat membentuk lapis generasi pengajar yang baik. Jenjang pendidikan S1 dipercaya cukup untuk menjadi landasan kapasitas untuk dikembangkan menjadi tenaga pengajar yang mumpuni.

Kembali
4.Bagaimana jika saya tidak memiliki latar belakang atau pengalaman mengajar?

Setelah Anda lolos seleksi IM, Anda akan mendapatkan pelatihan intensif selama dua bulan mengenai kependidikan/pengajaran dan kepemimpinan dengan trainers/providers dan individu yang kompeten di bidang masing-masing. Jadi, bila Anda tidak memiliki pengalaman mengajar tetap dapat turut serta dalam program ini.

Kembali
5.Apabila saya memiliki gelar master/magister dan dapat diselesaikan kurang dari dua tahun sejak tahun kelulusan strata satu, maka, dapatkah saya menjadi pengajar muda IM?

Anda dapat menjadi pengajar muda IM selama belum dua tahun lulus jenjang pendidikan strata satu. Hal ini dibuktikan dengan dokumen kelulusan yang ditunjukkan calon pengajar muda pada tahap seleksi langsung atau wawancara. Strata statu adalah syarat minimal untuk mendaftar sedangkan fresh graduate (belum 2 tahun sejak lulus S-1) merupakan syarat mutlak.

Kembali
6.Mengapa saya sebagai fresh graduate lebih memilih bergabung dengan IM daripada bekerja di perusahaan atau menjadi PNS?

IM memberikan kesempatan bagi fresh graduate untuk meningkatkan keterampilan kepemimpinan dengan menempa diri di masyarakat selama satu tahun, selain memberikan kesempatan untuk menyalurkan semangat volunteerism di daerah terpencil. IM memberikan gaji dan tunjangan yang kompetitif dibandingkan dengan korporasi maupun PNS. Di samping itu, IM hanya mengikat pengajar muda dalam skema kontrak selama satu tahun yang dapat diperpanjang menjadi dua tahun apabila sesuai dengan kesepakatan yang dibangun antara pengajar muda dengan IM, sehingga pengajar muda dapat mengembangkan karir dalam bidang apapun setelah masa kontrak selama satu tahun.

Kembali

Pelatihan dan Dukungan Lain
1.Fasilitas apa yang diperoleh pengajar muda IM?
2.Apa saja materi pelatihan pengajar muda IM?
3.Siapa saja yang terlibat dalam pelatihan pengajar muda IM?
4.Apakah saya harus mengikuti seluruh agenda pelatihan?
5.Apakah saya akan mendapatkan sertifikat dari IM setelah menyelesaikan pelatihan?
1.Fasilitas apa yang diperoleh pengajar muda IM?

Pengajar muda IM dibekali dengan berbagai fasilitas dan perlengkapan yang menunjang tugas di daerah seperti fasilitas akomodasi dan perangkat komputer. Sebagai kompensasi pekerjaan, IM menyediakan semacam gaji dengan besaran yang kompetitif, asuransi kesehatan, serta tunjangan transportasi dan komunikasi. Di samping itu, setiap pengajar muda akan mendapatkan pelatihan yang kredibel dan paket re-training dalam masa program. Selain itu, IM memberikan fasilitas pulang ke tempat asal selama satu kali dalam masa liburan sekolah.

Kembali
2.Apa saja materi pelatihan pengajar muda IM?

Secara umum, IM memberikan materi pelatihan berupa kependidikan/keguruan dan kepemimpinan yang akan membekali pengajar muda untuk menjalankan tugas di daerah. Materi pelatihan disampaikan dengan berbagai metode baik ceramah, diskusi, workshop, dan tugas-tugas individu maupun kelompok.

Kembali
3.Siapa saja yang terlibat dalam pelatihan pengajar muda IM?

IM bekerjasama dengan berbagai trainers maupun  lembaga pelatihan dan individu yang kompeten di bidang kependidikan dan kepemimpinan untuk membekali pengajar muda dengan pelbagai hal yang dibutuhkan selama menjalankan program di daerah penempatan.

Kembali
4.Apakah saya harus mengikuti seluruh agenda pelatihan?

Ya, karena pelatihan dilakukan secara intensif untuk menyiapkan pengajar muda agar mampu menjalankan tugas sebagai guru kelas SD; menyiapkan keterampilan, fisik, dan mental pengajar muda agar siap ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun.

Kembali
5.Apakah saya akan mendapatkan sertifikat dari IM setelah menyelesaikan pelatihan?

Ya, Anda akan mendapatkan sertifikat setelah menjalani pelatihan, termasuk surat tugas mengajar di SD yang telah ditentukan.

Kembali

Penugasan dan Penempatan
1.Apa yang dilakukan pengajar muda IM di daerah penempatan?
2.Apakah seseorang dapat menjadi pengajar muda di daerahnya sendiri?
3.Jika saya hanya bisa mengajar kurang dari satu tahun apa masih memungkinkan untuk menjadi pengajar muda?
4.Apakah satu tahun itu sudah menjadi batas minimum?
5.Apakah saya bisa memilih daerah di mana saya akan ditempatkan?
6.Apakah saya bisa memilih bidang studi yang akan saya ajarkan?
7.Bagaimana saya mendapatkan penginapan selama di daerah?
1.Apa yang dilakukan pengajar muda IM di daerah penempatan?

Tugas utama pengajar muda IM di daerah penempatan adalah mengajar di sebuah kelas di SD sesuai dengan kurikulum. Selain itu, pengajar muda juga melakukan kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang kegiatan pendidikan di SD yang bersangkutan, melakukan inisiatif kegiatan masyarakat terkait dengan pendidikan, serta membangun jaringan dan advokasi pendidikan di masyarakat daerah. Dengan kegiatan utama dan kegiatan pendukung tersebut, diharapkan pengajar muda dapat mengasah diri untuk menjadi calon pemimpin yang dapat menyatu dengan berbagai karakter masyarakat di seluruh Indonesia sekaligus menjadi pengajar yang mampu memberi inspirasi bagi anak-anak di daerah.

Kembali
2.Apakah seseorang dapat menjadi pengajar muda di daerahnya sendiri?

Tidak, IM ingin memberikan kesempatan bagi pengajar muda untuk mendapatkan pengalaman interaksi lintas budaya dan tradisi yang ada di seluruh negeri. IM percaya bahwa pengalaman lintas budaya dan tradisi dapat memperkaya pengalaman pribadi pengajar muda sehingga dapat menjadi modal tambahan di masa depan. Untuk itu, maka seorang pengajar muda TIDAK AKAN ditempatkan di daerah asalnya sendiri.

Kembali
3.Jika saya hanya bisa mengajar kurang dari satu tahun apa masih memungkinkan untuk menjadi pengajar muda?

Pengajar muda IM wajib untuk tinggal dan hidup bersama dengan masyarakat di daerah penempatan selama satu tahun sesuai dengan kontrak yang disepakati.

Kembali
4.Apakah satu tahun itu sudah menjadi batas minimum?

Ya, satu tahun adalah batas waktu minimum yang wajib dilalui oleh pengajar muda IM selama di daerah penempatan. Anda dapat memperpanjang kontrak bila memang diinginkan.

Kembali
5.Apakah saya bisa memilih daerah di mana saya akan ditempatkan?

Anda dapat memilih daerah penempatan dari pilihan yang ada, kecuali daerah asal Anda dengan memberikan alasan yang memadai serta meyakinkan. Namun, keputusan akhir berada di pihak IM dan akan disampaikan sebelum penempatan, khususnya pada saat pelatihan.

Kembali
6.Apakah saya bisa memilih bidang studi yang akan saya ajarkan?

Pengajar muda ditugaskan di daerah dengan harapan siap menjadi guru kelas di SD. Artinya, seorang pengajar muda harus sanggup mengampu sebuah kelas dan mengajar seluruh bidang studi bila ditugaskan oleh Kepala Sekolah. Dalam pelatihan, Anda akan belajar untuk menyiapkan hal ini dan setidaknya akan berlatih mengajar untuk sekurangnya bidang studi Matematika, IPA, IPS dan Bahasa Indonesia. Selain itu, Anda juga akan difasilitasi untuk belajar berbagai keterampilan lain yang terkait dengan aspek kepengajaran.

Kembali
7.Bagaimana saya mendapatkan penginapan selama di daerah?

IM bekerjasama dengan masyarakat setempat dalam menyediakan akomodasi bagi Anda selama satu tahun. Tiap pengajar muda tinggal (mondok) dengan salah satu keluarga di masyarakat. IM akan memastikan bahwa pengajar muda akan ditempatkan dalam satu kelompok, sehingga meskipun tinggal di lain desa/kecamatan tetap akan mudah untuk saling bertemu dan berkoordinasi.

Kembali

Pasca-Penugasan
1.Setelah menyelesaikan tugas di daerah, apakah pengajar muda mendapatkan sertifikasi guru atau sertifikasi lainnya?
2.Apakah pengajar muda IM harus menjadi guru di kemudian hari?
3.Apakah IM memiliki dukungan atau program bagi para alumni?
1.Setelah menyelesaikan tugas di daerah, apakah pengajar muda mendapatkan sertifikasi guru atau sertifikasi lainnya?

Sertifikasi guru oleh pemerintah dicapai dengan syarat dan kriteria tertentu. Kriteria minimum, yaitu lulusan S1, telah dimiliki oleh para pengajar muda. Dengan rekaman pengalaman kerja sebagai pengajar yang didokumentasikan secara rapi dan konsisten, para pengajar muda memiliki kesempatan besar untuk meraih sertifikasi profesi sebagai guru bila memilih untuk berkarir sebagai guru di kemudian hari.

Kembali
2.Apakah pengajar muda IM harus menjadi guru di kemudian hari?

Tidak. Pengajar muda IM tidak harus menjadi guru di kemudian hari karena pengajar muda hanya diikat dalam skema kontrak selama satu tahun yang dapat diperpanjang pada tahun berikutnya. Pasca-program, para pengajar muda dapat membina karir di bidang yang dipilihnya dengan bekal pengalaman kepemimpinan yang berharga selama bekerja sebagai pengajar SD di daerah.

Kembali
3.Apakah IM memiliki dukungan atau program bagi para alumni?

IM berupaya untuk tetap mendukung alumni IM, di antaranya dengan upaya memperkenalkan alumni IM sebagai bakat-bakat yang memiliki kemampuan leadership yang teruji di daerah kepada berbagai lembaga, organisasi, maupun perusahaan di Indonesia.