Friday, 31 December 2010
Thursday, 30 December 2010
Mutiara negeri 5 menara
Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya juga tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkannya dengan doa, uhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing…. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh maha mendengar. (A. Fuadi - Negeri 5 menara)

Buku yang udah lama ada dalam tumpukan waiting list to read-ku. Dulu udah sempet baca sih setengahnya, dan akhirnya (setelah sekian lama berada di tumpukan paling bawah) alhamdulillah selesai juga bacanya. Keren, jadi pengen ikutan belajar di Pondok Madani juga Biar gak menguap hikmah-hikmah yang didapat dari buku ini, maka saya tuliskan kembali mutiara-mutiara dari buku ini. Semoga bisa menginspirasi teman-teman semua
Syair Imam Syafii ra. :
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu danmerantaulah ke negeri orang.
Merantaulah kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.
Berlelah-lelahlah manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karen diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang takkan dapat mangsa.
Anak panah jika tak tinggalkan busur takkan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
Dan aku ingin mencari kemuliaan itu....
Wednesday, 29 December 2010
Tuesday, 28 December 2010
Monday, 27 December 2010
untuk Timnas: Keajaiban dari final Liga Champion
Kekalahan Timnas kemarin dalam AFF 2010 melawan Malaysia membuat Indonesia bergelora. Siapa yang tidak geram, Tim yang dibanggakan dari Sabang sampai Merauke yang sudah diprediksikan akan menang pada pertandingan final #1 ini harus menerima kekalahan yang tidak disangka-sangka: 3-0, terlepas adanya insiden YANG SANGAT TIDAK SPORTIF (laser). Sungguh sebuah pukulan telak bagi Timnas yang sebelumnya telah mengalahkan Malaysia 5-1.
Mental, adalah yang paling penting saat pertandingan ini. Euforia kemenangan Timnas sedikit banyak telah mempengaruhi mental pemain. Pada saat gol 1-0, para pemain mulai kehilangan kepercayaan diri, ditambah lagi tak lama kemudian gol menjadi 2-0, dan 3-0. Pergerakan negatif yang dinamis tersebut mampu membuat mental pemain Timnas down...
Ditanya prediksi siapa yang akan menjadi "winner of AFF 2010", saya pikir jika besok mental pemain masih sama seperti kemarin, saya tidak bisa berharap banyak pada mereka untuk menang. Namun jika mental mereka bagus, kepercayaan diri meningkat dan penuh semangat, bukan mustahil kan gol 5-1 (Indonesia=5, malaysia=1) itu tercipta kembali :)
Mari kita bawa ingatan kita pada drama sepak bola pada final Liga Champion musim 2004/2005 antara kesebelasan AC Milan dan Liverpool. Kedua kesebelasan saat itu secara teknis berada dalam posisi yang seimbang. pada babak pertama, permainan berlangsung berat sebelah. AC Milan langsung mengambil kendali permainan. tidak tanggung-tanggung, 3 gol disarangkan oleh pasukan Carlo Ancelloti ke gawang Liverpool. 45 menit babak pertama usai, para pemain AC Milan menuju kamar ganti dengan penuh gelak tawa, seakan-akan kemenangan sudah menajadi milik mereka.
Hal itu sangat lumrah terjadi. Betapa tidak, dengan defisit 3 gol yang harus dikejar di 45 menit babak kedua, sungguh bukan hal yang mudah. Apalagi lawan yang dihadapi adalah AC Milan, tim yang penuh talenta. Hampir setiap orang, pendukung liverpool sekalipun, berfikir bahwa hanya keajaiban yang mampu mengeluarkan liverpool dan membalikkan keadaan menuju kemenangan. Dan mereka hanya bisa berharap bahwa keajaiban itu bisa terjadi.
Para pemain liverpool berjalan bergegas menuju kamar ganti. Kapten Steven Gerrard terlihat berfikir keras. Pelatih Rafael Benitez di kamar ganti memompa semngat para pemain Liverpool dan mengarahkan strategi berbeda di babak kedua.
Dan apa yang terjadi di lapangan pada babak kedua sungguh luar biasa. Steven Gerrard dengan semangat luar biasa memimpin rekan-rekannya mengejar defisit gol tersebut. akhirnya, dengan kepercayaan yang sangat tinggi, para pemain Liverpool mulai memetik hasilnya. di menit ke-60 tercipta gol pertama Liverpool yang membangkitkan kembali semangat juang para pemain Liverpool. Mereka kemudian bangkit, seakan dengan energi dan kekuatan berlebih. dan anehnya, para pemain AC Milan seakan terkesima dengan keadaan yang ada. tidak tanggung-tanggung, hanya dalam kurun waktu 12 menit, 3 gol balasan diciptakan oleh tim Liverpool.
Kedudukanpun akhirnya berubah menjadi 3-3, dan meruntuhkan mental para pemain AC Milan. pertandingan dilanjutkan dengan perpanjangan waktu,tetapi tidak ada gol yang tercipta. pada saat pertandingan harus dilakukan dengan adu penalti, kekuatan mental menjadi sangat menentukan. akhirnya, AC Milan yang sudah kalah mental dikalahkan Liverpool melalui tendangan penalti itu. pendukun Liverpool bersorak gembira, sementara pendukung Milan tertundk lesu. Keajaiban itu telah terjadi.
Walau Milan akhirnya memenangkan Liga Champion pada dua tahun berikutnya, drama final itu masih melekat sebagai salah satu pertandingan yang ironis, bagaimana mungkin tim sekelas Milan tidak mampu mempertahankan diri dari kebobolan 3 gol?
Selain drama keajaiban sepak bola pada Liga Champion di atas, ada juga keajaiban pada final Liga Champion 1999 antara Bayern Munchen dan Manchester United, yang dimenangkan oleh MU dengan skor 2-1, dengan 2 gol tercipta pada saat injury time. Kemudian pada final Liga Champion 2007 antara MU dengan Chelsea yang dimenangkan oleh MU karena terpelesetnya John Terry (Spesialis tendangan penalti yang dimiliki Chelsea) lewat adu penalti yang akhirnya tendangan terakhir MU yang berhasil masuk dan penendang Chelsea gagal.
Sesungguhnya kita bisa belajar dari kisah di atas, benang merahnya adalah bahwa keajaiban itu tidak datang dengan sendirinya. Ia datang bersama usaha-usaha yang kita bangun untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan. Keajaban tidak pernah datang dengan tiba-tiba tanpa didahului usaha-usaha yang kita lakukan.
Lihatlah apa yang terjadi pada Liverpool. ketika mengejar ketertinggalan 3 gol dari AC Milan, sang pelatih dan jenderal lapangan tengah Steven Gerrard sangat berperan membangkitkan kembali semangat dan mental bermain dari keseluruhan permain liverpool. Keajaiban dengan melesakkan 3 gol ke gawang Milan mungkin tidak akan terjadi seandainya Gerrard tidak mampu memompa motivasi dan kepercayaan diri rekan-rekannya untuk bangkit dan kembali menyerang Milan. Keajaiban itu memang datang, tetapi didahului dengan usaha dan kerja keras Rafa Benitez dan Gerrard dari tengah lapangan. Tanpa adanya motivasi besar dari keduanya, akan sulit mengangkat moral dan mental bermain dari para pemain Liverpool yang sudah tertinggal dengan defisit gol cukup besar.
Sama dengan apa yang terjadi pada Liga Champion 2007. Saat para pemain MU menyaksikan bola tendangan Ronaldo sebagai penendang terakhir MU tidak masuk, mereka hanya bisa berdoa agar tuhan menurunkan keajaiban bagi mereka. Jika John Terry dari chelsea bisa memasukkan bola, chelsea akan merebut gelar. Tetapi jika Terry gagal menyarangkan bola, masih ada peluang MU untuk meraih gelar. Akhirnya, MU memang memenangkan pertarungan tersebut.
Disini keajaiban memang terjadi, tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa pemain sekelas John Terry bisa melakukan kesalahan fatal pada saat dibutuhkan. Spesialis tendangan penalti itupun cuma bisa tertunduk lesu menangisi kegagalan tendangannya. Sementara itu bagi MU, ini merupakan berkah sekaligus keajaiban karena penendang penalti selanjutnya berhasil memasukkan bola ke gawang Chelsea.
Belajar dari drama sepak bola tersebut, terinspirasi dari buku Man Jadda Wajada;
Al-Jaddu bil jiddi wwal hirmanu bil kasali, fanshab tushib an qariibin ghayatal-'amali.
artinya: "Rejeki didapatkan dengan kerja keras, dan kemiskinan didapatkan karena kemalasan. Maka bekerja keraslah, niscaya engkau akan dapatkan apa yang engkau cita-citakan."
Ya, keajaiban tidak pernah datang jika kita tidak meminta, jika kita tidak berusaha. Keajaiban itu terjadi karena kita tidak berpasrah diri dengan apa yang sudah terjadi. karena itulah, jangan jauh-jauh mengharapkan datangnya keajaiban, coz the miracle is you! Jangan cari keajaiban dari mana-mana. carilah dari dalam dirimu. Dalam dirimu terpaku berbagai potensi yang memungkinkan engkau meledakkan potensi tersebut untuk kemajuan di masa datang.
Kita harus selalu optimis bahwa keajaiban itu akan datang pada diri kita. Keajaiban akan datang saat kita dengan sekuat tenaga mengeluarkan segala potensi yang kita miliki tuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Jangan pernah berputus asa.
Jangan juga berhenti berharap akan datangnya keajaiban.
Berdoa dan berusaha
dan pastikan The miracle is you!
"garuda di dadaku, garuda kebanggaanku. kuyakin kali ini pasti menang!"
*Selamat Bertanding 29 Desember 2010*
semoga bisa menorehkan the success story di AFF 2010 ini v(^_^)
Saya hanya ingin mencintai Al-Quran
Sosok sederhana itu tertunduk dalam, "saya hanya ingin mencintai Al-Quran". Katanya pelan, namun tegas. Lanjutnya, "Saya ingin menjadi penghafal Al-Quran... jikapun saya tidak bisa, saya ingin anak-anak saya menjadi hafidzul Qur'an." Kesungguhan niatnya terpancar dari kata-katanya, ketika kami membicarakan tentang cita-cita.
Meski beberapa teman pun pernah menyampaikan keinginan yang sepertinya, namun entah kenapa kata-katanya yang sederhana namun membuat hati saya bergetar. entah karena dia menyampaikannya dengan kesungguhan hatinya sehingga sayapun merasakan getarannya.
Wajahnya tertunduk sedih. Lanjutnya kemudian, "namun sekarang ruhyah saya sedang turun. Sehingga susah rasanya untuk ikutan tahfidz lagi di LTQ Al-Hikmah saat ini..." saya merasakan kesedihannya, sepertinya dia merasakan rugi yang besar karena off dulu dari LTQ, seperti perasaan yang saya rasakan (mungkin lebih) ketika tidak bisa menghadiri kursus bahasa arab yang selalu bersemangat buat saya.
Obrolan sore dua hari lalu, yang cukup membuat saya terus mengingat kata-katanya "saya ingin mencintai Al-Quran" hingga pagi ini. Kata-kata yang diulangnya beberapa kali, dengan getaran yang makin meningkat, yang menggambarkan kesungguhan niat, kebulatan tekad, tanpa kesombongan sedikitpun. Kata-kata itu terus memberi insiprasi buat saya, untuk mengingatkan kembali cita-cita saya akan itu. Agar saya makin bersemangat tilawah, menghafal, dan memahami Al-Quran dengan segala daya dan upaya...
terima kasih saudaraku... semoga kita termasuk golongan ahlul Quran yang dicintai Allah, semoga cita-cita kita dapat terwujud...
Mendengar murottal di kompi kantor pagi ini (dari qori yang saya belum tahu siapa) bikin hati makin bergetar. sebabnya pertama adalah saya telah membaca tulisan ukhti Dewi (tentang mencintai Al-Quran) dan kedua adalah sepenggal cerita di atas yang masih saya rasakan getarannya hingga saat ini.
...mengulas tulisan ukhti Dewi,
Mencintai al-Qur’an adalah sebuah kenikmatan, yang tidak akan bisa dirasakan oleh orang yang belum pernah mendapatkannya. Karena itu setiap muslim pasti menginginkan agar dirinya bisa mencintai al-Qur’an. Lalu bisa mengajak keluarganya agar mencintai al-Qur’an, supaya bisa merasakan kenikmatan hidup bersama al-Qur’an.
Namun persoalannya, bagaimanakah cara menumbuhkan rasa cinta terhadap al-Qur’an ini?
Persoalan cinta adalah persoalan hati. Sementara kita tidak sanggup menguasai hati kita sendiri. Hati seseorang terletak di tangan Allah. Dia membuka dan menutup hati kapan saja Dia menghendaki, dengan hikmahNya, serta ilmuNya.
"dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya" (Q.S: al-Anfal:24)
"Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya," (Q.S: al-Kahf:57)
Dan Allah telah menjadikan sebab-sebab dan wasilah-wasilah agar hati terbuka atau tertutup. Orang yang meniti jalan-Nya maka ia akan mendapatkan taufiq, dan orang yang menyelisihi jalannya maka ia akan dibiarkan berada di dalam kesesatan. Apabila hati mencintai sesuatu maka ia akan tergantung kepadanya, merindukannya, menyukainya dan memutuskan segala hubungan dengan selainnya.
Jika hati telah mencintai al-Qur’an, ia akan merasakan nikmat dengan membacanya. Ia akan berusaha memadukan antara pemahaman qur’ani dengan kesadaran qur’ani. Sebaliknya, apabila pada seseorang tidak ada kecintaan, maka hati ini akan sulit menerima al-Qur’an, tunduk kepada Al-Qur’an terasa berat, dan tidak akan bisa dilakukan melainkan setelah melalui perjuangan yang berat.
Pertanyaan pada diri sendiri, sudah seberapa jauhkah mencintai Al-Quran wahai diri?
Tanda-tanda cinta kepada al-Qur’an
Ada beberapa hal yang menandakan adanya kecintaan kepada al-Qur’an di dalam hati, di antaranya adalah
1- sebagaimana cintanya seseorang pada sesuatu, cinta pada al-Qur’an pun ditandai dengan kesukaannya bertemu dengannya.
2- Duduk bersama dan membaca al-Qur’an dalam waktu yang panjang tanpa merasa bosan
3- Jika jauh darinya maka ia akan merindukannya, dan selalu mengharap bisa segera menjumpainya.
4- Banyak berdialog dengannya dan meyakini petunjuk dan arahannya serta kembali kepadanya ketika menghadapi berbagai problematika hidup, baik persoalan kecil maupun besar.
5- Mentaatinya, baik dalam perintah maupun larangan
Inilah tanda-tanda terpenting adanya kecintaan kepada al-Qur’an. Jika tanda-tanda itu ada pada seseorang, maka kecintaannya kepada al-Qur’an itu ada. Dan jika tidak ada tanda-tanda tersebut pada diri seseorang, maka kecintaannya kepada al-Qur’an pun tidak ada. Tetapi jika ada sebagian tanda-tanda tersebut, dan sebagian lagi tidak ada padanya, maka kecintaannya kepada al-Qur’an itu tidak sempurna. Ketidaksempurnaannya berbanding lurus dengan kurangnya sifat-sifat tersebut di dalam pribadinya.
Berapa point dari tanda-tanda di atas yang ada padamu wahai diri?
*semoga Allah memberikan kenikmatan dan semangat yang tak pernah padam pada kita tuk mempelajari kalam-Nya, kemudahan bagi kita dalam menjalankan point-point di atas, semoga kita termasuk dalam golongan Ahlul Quran, yang kelak akan menjadi keluarga Allah...*
****
Dalam membentuk keluarga ahlul Quran, saya jadi teringat buku yang berjudul "10 Bersaudara Bintang Al-Quran". Tentang keluarga Ust. Mutamimul ‘Ula (Pak Tamim) dan Ustadzah Wirianingsih (Bu Wiwi).
Pasangan tersebut memiliki visi menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur’an. Sebuah visi yang istimewa, karena Al-Qur’an adalah mukjizat yang di dalamnya terdapat segala pengetahuan duniawi dan ukhrawi. Jadi, ketika Al-Qur’an sudah digenggam dalam hati dan akal, dia telah menggenggam seluruh ilmu. Dan visi tersebut dijalankan dengan beberapa misi yang dirancang apik, sehingga terbentuk rencana strategis dan implementasi secara detailnya. Pasangan tersebut menjelma layaknya manajer handal dalam keluarga.
Ternyata, mendidik anak-anak menjadi hafiz Al Qur’an sangatlah mungkin dilakukan. Mengapa? Ternyata pasangan Pak Tamim dan Bu Wiwi ini bukanlah hafiz Al Qur’an. Artinya apa? Bagi orang tua yang tak hafiz Al Qur’an, tak perlu berkecil hati, belajarlah dari buku kecil bermanfaat luar biasa ini. Syaratnya hanya satu saja: YAKIN 100% bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidup yang paling benar dan wajib dijalankan. Kalau Anda ragu, atau sekedar “nice to have” saja, ya mana mungkin bisa mendidik anak sebagai hafiz Al Qur’an.
Pasangan tersebut memiliki visi menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al-Qur’an. Sebuah visi yang istimewa, karena Al-Qur’an adalah mukjizat yang di dalamnya terdapat segala pengetahuan duniawi dan ukhrawi. Jadi, ketika Al-Qur’an sudah digenggam dalam hati dan akal, dia telah menggenggam seluruh ilmu. Dan visi tersebut dijalankan dengan beberapa misi yang dirancang apik, sehingga terbentuk rencana strategis dan implementasi secara detailnya. Pasangan tersebut menjelma layaknya manajer handal dalam keluarga.
Ternyata, mendidik anak-anak menjadi hafiz Al Qur’an sangatlah mungkin dilakukan. Mengapa? Ternyata pasangan Pak Tamim dan Bu Wiwi ini bukanlah hafiz Al Qur’an. Artinya apa? Bagi orang tua yang tak hafiz Al Qur’an, tak perlu berkecil hati, belajarlah dari buku kecil bermanfaat luar biasa ini. Syaratnya hanya satu saja: YAKIN 100% bahwa Al Qur’an merupakan landasan hidup yang paling benar dan wajib dijalankan. Kalau Anda ragu, atau sekedar “nice to have” saja, ya mana mungkin bisa mendidik anak sebagai hafiz Al Qur’an.
Kenapa sih Al Qur’an itu harus dihafal? Yang penting kan dipahami dan dijalankan, betul? Ya betul. tapi kurang tepat. karena ternyata ada tingkatannya:
1. Meyakini
2. Membaca dengan tartil
3. Memahaminya
4. Mengamalkannya
5. Memperjuangkan, menyebarkan, mendakwahkan, dan
6. Menghafalkannya.
Lalu, apa resepnya Pak Tamim dan Bu Wiwi membangun keluarganya?
**Tidak ada Televisi di dalam rumah**
**Tidak ada gambar syubhat karena malaikat tak mau masuk rumah yang ada gambar syubhat**
**Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan musik Islami seperti nasyid**
**Tidak ada ucapan-ucapan kotor dan diganti dengan ucapan-ucapan baik.**
Bu Wiwi dan Pak Tamim sungguh konsisten terhadap program membimbing putra-putrinya menghafal Al-Qur’an, keduanya memasukkan putra-putrinya ke pesantren atau sekolah yang memiliki kurikulum utama menghafal Al-Qur’an. Prinsip pembiasaan dan konsistensi itulah yang menjadi pegangan pagi pasangan tersebut.
1. Meyakini
2. Membaca dengan tartil
3. Memahaminya
4. Mengamalkannya
5. Memperjuangkan, menyebarkan, mendakwahkan, dan
6. Menghafalkannya.
Lalu, apa resepnya Pak Tamim dan Bu Wiwi membangun keluarganya?
**Tidak ada Televisi di dalam rumah**
**Tidak ada gambar syubhat karena malaikat tak mau masuk rumah yang ada gambar syubhat**
**Tidak ada musik-musik laghwi yang menyebabkan lalai kepada Allah dan diganti dengan musik Islami seperti nasyid**
**Tidak ada ucapan-ucapan kotor dan diganti dengan ucapan-ucapan baik.**
Bu Wiwi dan Pak Tamim sungguh konsisten terhadap program membimbing putra-putrinya menghafal Al-Qur’an, keduanya memasukkan putra-putrinya ke pesantren atau sekolah yang memiliki kurikulum utama menghafal Al-Qur’an. Prinsip pembiasaan dan konsistensi itulah yang menjadi pegangan pagi pasangan tersebut.
Dan yang tidak kalah penting adalah menyampaikan tujuan dan memberikan reward. Mengkomunikasikan tujuan yang jelas akan memberikan efek psikologis yang positif bagi anak. Mereka tidak sekadar mendorong anak-anaknya menghafalkan Al-Qur’an tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman hidup dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan. Jangan sampai hafalan tersebut hanya sebatas di kerongkongan saja, tetapi harus benar-benar diamalkan.
Begitu juga dengan pentingnya pemberian hadiah dan hukuman. Hadiah dan hukuman tersebut tentunya tidak sama bagi setiap anak, sesuai kegemaran dan karakter masing-masing. Untuk yang sudah hafal 30 juz, orang tua menjanjikan hadiah umrah.
****
Hafidz itu dalam bahasa arab artinya menjaga atau melindungi. Jadi orang yang menghafal Al-Quran bisa diartikan sebagai orang yang menjaga Al-Qur'an. Dia akan selalu menerapkan Al-Quran dalam kehidupannya... Subhanallah...
Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:"Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya:
"Apakah anda mengenalku?"
Penghafal tadi menjawab; "Saya tidak mengenal kamu."
Al Quran berkata; "Saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya.
Kedua orang tua itu lalu bertanya: "Kenapa kami diberi dengan pakaian begini?".
Kemudian di jawab, "Kerana anakmu hafal Al Quran."
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi diperintahkan,
"Bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya."
Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)
"Apakah anda mengenalku?"
Penghafal tadi menjawab; "Saya tidak mengenal kamu."
Al Quran berkata; "Saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya.
Kedua orang tua itu lalu bertanya: "Kenapa kami diberi dengan pakaian begini?".
Kemudian di jawab, "Kerana anakmu hafal Al Quran."
Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi diperintahkan,
"Bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya."
Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil)
Subscribe to:
Posts (Atom)