Sebagai seorang bujangan, eh maksudnya single, akuh sering mendapat pertanyaan berulang... yang sama pertanyaannya, namun bisa dibuat beda jawabannyaa. Contohnya:
T: Kapan nih nyusul kite? (tanya temen yang baru aja married)
J: Hehe... doakan aja biar cepet nyusul
T: Kapan married?
J: Kapan ya? May... (sambil niru iklan)
T: Kapan nih bisa ngajak gandengan kalo kondangan?
J: He... (nyengir)
T: Kapan mau kasih cucu nih buat ortu lo?
J: Tar lah kalo udah nikah... sekarang kan lagi tesis dulu (modus hehe..)
T: Selamat udah wisuda... kapan nih nyebar "undangannya"?
J: Undangan apa ya? (pura-pura gak ngerti)
daann... seterusnya :D
Menikah itu bukan untuk dibicarakan yah, tapi untuk disiapkan.
Disini akuh cuma mau share link bagus buat souvenir dan undangan pernikahan.
Sekalian arsip juga buat daku.. hehe
Link nya: http://kuchiwalangartinvitationsouvenir.blogspot.com/
Maap kalo gak nyambung tulisannya hehe
*terinsirasi dari undangan anaknya temen kantor yang bakalan nikah Maret ini*
Monday, 3 March 2014
Sunday, 2 March 2014
Ibu tangguh
Bogor, Enam tahun lalu...
Seorang ibu muda berjalan sambil menggendong putrinya yang baru berusia tiga bulan. Panas terik matahari siang itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus melangkah. Sambil memayungi putri kecilnya, ia terus menebar senyum dan singgah menghampiri beberapa warga yang ditemui di jalan itu. Tak jarang persinggahannya itu membuat warga tertawa, atau bahkan menangis. Ya, sang ibu menyapa masyarakat dan mencoba berbicara secara langsung dengan warga tersebut tentang keluhan-keluhan mereka saat ini. Tak heran kalau persinggahannya selalu menjadi tempat curhat warga...
Aku merasa beruntung dipertemukan Allah dengan beliau, yang tak lain adalah guru saya. Darinya saya belajar bahwa kebenaran itu harus kita yakini dan kita sebarkan. Darinya saya belajar bahwa kebahagiaan adalah saat kita bisa membantu orang lain, meski hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya. Darinya saya belajar bahwa perempuan itu kuat dan tidak manja, tetapi juga lembut dan tegas. Darinya saya belajar bahwa kondisi apapun tidak bisa menggoyahkan tekad kita.
Tangerang hari ini...
Sosok yang mengingatkanku pada saat enam tahun silam. Perempuan itu sibuk mengurusi pasien di pelayanan kesehatan gratis ini. Sambil menunggu antrian, para pasien berbicara dengan kami tentang kesulitan dan penyakit yang dihadapi. Perempuan itu dengan sigap dan lembut mengatur para pasien yang akan berkonsultasi dengan dokter maupun yang mengambil resep obatnya. Semakin siang, para warga yang berdatangan semakin banyak.
Di sampingku, tertidur bayi mungil berusia empat bulan. Bayi yang menyenangkan menurutku. Karena tidak rewel jika diajak ibunya beraktivitas. Bayi imut itu juga tidak menangis saat terbangun dari tidurnya. Seakan mengerti aktivitas ibunya hari ini. Menurut teman, perilaku bayi itu sesuai dengan hati dan perilaku ibunya... Saya sangat kagum pada ibu bayi itu, yang tidak lain adalah guru saya.
Alhamdulillah,
Hari ini, saya sangat bersyukur karena telah diperkenankan oleh Allah untuk mengenal para wanita tangguh yang membaktikan hidupnya bagi agama ini. Para wanita sholihah yang taat pada suami dan cinta pada keluarga, namun hal itu bukan menjadikan alasan tuk mundur atau mengambil posisi aman pada jalan ini. Para ibu yang memberikan contoh kepadaku bahwa mempunyai bayi bukan berarti harus berhenti melangkah.
Allah, tunjukilah kami jalan lurus yang Engkau ridhoi.
Allah, perkenankanlah aku dan keluarga yang aku cintai untuk terus berada di lingkungan orang-orang shalih.
Seorang ibu muda berjalan sambil menggendong putrinya yang baru berusia tiga bulan. Panas terik matahari siang itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus melangkah. Sambil memayungi putri kecilnya, ia terus menebar senyum dan singgah menghampiri beberapa warga yang ditemui di jalan itu. Tak jarang persinggahannya itu membuat warga tertawa, atau bahkan menangis. Ya, sang ibu menyapa masyarakat dan mencoba berbicara secara langsung dengan warga tersebut tentang keluhan-keluhan mereka saat ini. Tak heran kalau persinggahannya selalu menjadi tempat curhat warga...
Aku merasa beruntung dipertemukan Allah dengan beliau, yang tak lain adalah guru saya. Darinya saya belajar bahwa kebenaran itu harus kita yakini dan kita sebarkan. Darinya saya belajar bahwa kebahagiaan adalah saat kita bisa membantu orang lain, meski hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya. Darinya saya belajar bahwa perempuan itu kuat dan tidak manja, tetapi juga lembut dan tegas. Darinya saya belajar bahwa kondisi apapun tidak bisa menggoyahkan tekad kita.
Tangerang hari ini...
Sosok yang mengingatkanku pada saat enam tahun silam. Perempuan itu sibuk mengurusi pasien di pelayanan kesehatan gratis ini. Sambil menunggu antrian, para pasien berbicara dengan kami tentang kesulitan dan penyakit yang dihadapi. Perempuan itu dengan sigap dan lembut mengatur para pasien yang akan berkonsultasi dengan dokter maupun yang mengambil resep obatnya. Semakin siang, para warga yang berdatangan semakin banyak.
Di sampingku, tertidur bayi mungil berusia empat bulan. Bayi yang menyenangkan menurutku. Karena tidak rewel jika diajak ibunya beraktivitas. Bayi imut itu juga tidak menangis saat terbangun dari tidurnya. Seakan mengerti aktivitas ibunya hari ini. Menurut teman, perilaku bayi itu sesuai dengan hati dan perilaku ibunya... Saya sangat kagum pada ibu bayi itu, yang tidak lain adalah guru saya.
Alhamdulillah,
Hari ini, saya sangat bersyukur karena telah diperkenankan oleh Allah untuk mengenal para wanita tangguh yang membaktikan hidupnya bagi agama ini. Para wanita sholihah yang taat pada suami dan cinta pada keluarga, namun hal itu bukan menjadikan alasan tuk mundur atau mengambil posisi aman pada jalan ini. Para ibu yang memberikan contoh kepadaku bahwa mempunyai bayi bukan berarti harus berhenti melangkah.
Allah, tunjukilah kami jalan lurus yang Engkau ridhoi.
Allah, perkenankanlah aku dan keluarga yang aku cintai untuk terus berada di lingkungan orang-orang shalih.
Wednesday, 26 February 2014
9 Maret [Remioromen]
Ini bukan tanggal kejadian, tapi judul lagu...
Source video: Youtube
Pertama denger lagu ini saat dingin, hujan, flu, dan sepi... *lengkap banget*
Awalnya denger di kumpulan instrumen "Happy Wedding", pas searching musisi dan judulnya, ternyata lagu ini dinyanyiin sama Remioromen (レミオロメン), grup musik asal Jepang. Oya, lagu ini adalah salah satu soundtrack dari Dorama 1 litre of tears. Tapi katanya sering dinyaiin pas Graduation di Jepang sih, meski sebenernya lagu ini diciptakan sebagai ucapan selamat pada pernikahan ;)
9 Maret
Di tengah pergantian musim ini
Tiba-tiba aku merasakan lamanya hari-hari
Di tengah hari yang cepat berlalu ini
Kau dan aku melukis mimpi
Menempatkan perasaanku pada angin bulan Maret
Kuncup Sakura akan menuju musim semi
Tetesan cahaya yang meluap
Satu persatu menghangatkan pagi
Setelah menguap lebar disampingmu
Aku merasa sedikit malu
Aku berdiri di depan pintu gerbang menuju dunia baru
Satu hal yang ku sadari adalah aku tak sendiri
Jika aku menutup mata
Kau berada di belakang kelopak mataku
Seseorang telah membantuku untuk menjadi lebih kuat, kan?
Demi dirimu, aku juga ingin menjadi seperti itu
Angin puyuh berdebu
Terjerat dalam cucian, tapi
Bulan putih di pagi hari
Begitu indah, membuatku tak bisa berpaling
Ada hal-hal yang tak berjalan seperti yang kita rencanakan
Tapi jika aku membandingkannya dengan langit, itu masih terlihat kecil
Langit biru itu dingin dan cerah
Awan halus melayang dengan tenang
Jika aku bisa berbagi denganmu kegembiraan menunggu mekarnya bunga
Aku akan bahagia
Mulai sekarang, aku ingin tersenyum disampingmu dengan tenang
Jika aku menutup mata
Kau berada di belakang kelopak mataku
Seseorang telah membantuku untuk menjadi lebih kuat, kan?
Demi dirimu, aku juga ingin menjadi seperti itu
*terjemahan lagu dicopas dari sini
Source video: Youtube
Pertama denger lagu ini saat dingin, hujan, flu, dan sepi... *lengkap banget*
Awalnya denger di kumpulan instrumen "Happy Wedding", pas searching musisi dan judulnya, ternyata lagu ini dinyanyiin sama Remioromen (レミオロメン), grup musik asal Jepang. Oya, lagu ini adalah salah satu soundtrack dari Dorama 1 litre of tears. Tapi katanya sering dinyaiin pas Graduation di Jepang sih, meski sebenernya lagu ini diciptakan sebagai ucapan selamat pada pernikahan ;)
9 Maret
Di tengah pergantian musim ini
Tiba-tiba aku merasakan lamanya hari-hari
Di tengah hari yang cepat berlalu ini
Kau dan aku melukis mimpi
Menempatkan perasaanku pada angin bulan Maret
Kuncup Sakura akan menuju musim semi
Tetesan cahaya yang meluap
Satu persatu menghangatkan pagi
Setelah menguap lebar disampingmu
Aku merasa sedikit malu
Aku berdiri di depan pintu gerbang menuju dunia baru
Satu hal yang ku sadari adalah aku tak sendiri
Jika aku menutup mata
Kau berada di belakang kelopak mataku
Seseorang telah membantuku untuk menjadi lebih kuat, kan?
Demi dirimu, aku juga ingin menjadi seperti itu
Angin puyuh berdebu
Terjerat dalam cucian, tapi
Bulan putih di pagi hari
Begitu indah, membuatku tak bisa berpaling
Ada hal-hal yang tak berjalan seperti yang kita rencanakan
Tapi jika aku membandingkannya dengan langit, itu masih terlihat kecil
Langit biru itu dingin dan cerah
Awan halus melayang dengan tenang
Jika aku bisa berbagi denganmu kegembiraan menunggu mekarnya bunga
Aku akan bahagia
Mulai sekarang, aku ingin tersenyum disampingmu dengan tenang
Jika aku menutup mata
Kau berada di belakang kelopak mataku
Seseorang telah membantuku untuk menjadi lebih kuat, kan?
Demi dirimu, aku juga ingin menjadi seperti itu
*terjemahan lagu dicopas dari sini
Friday, 7 February 2014
Gladi Resik (lagi)
Gladi resik itu waktunya foto2 bareng temen2. Karena waktunya lebih luas dan ga bawa keluarga, jadi lebih leluasa :D
Kalau di UI, gladi resik itu momen terpenting dari rangkaian wisuda
hehe.. karena di gladi resik kita diberi ucapan selamat (salaman) oleh
rektor dan dekan, trus difoto deh. Makanya hampir semua peserta wisuda
selalu pake kebaya dan dandan pas gladi resik ini. Tapi ak n mba ifa
(temen sekelasku) biasa aja. Gak dandan. Alasannya saya gak bisa dandan
hehe.. dan ngerasa ga nyaman aja kl mukanya ditempel2 lapisan2 kosmetik
gitu hehe.. jadi cukup pake bedak n lip warna natural :D
Ngomong2 soal foto, wisuda S2 ini ga banyak yg saya kenal. Jadinya
cuma bisa foto bertiga hiks.. kita lulusnya duluan alias 1,5 tahun jdnya
temen wisuanya dikit deh. Tapi lumayan lah punya foto wisuda bareng
temen :D
Btw alhamdulillah kita bertiga cum laude. Rangking 1 pak yohan dg ipk
lebih dr 3.9 lalu mba ifa dg ipk lebih dari 3.8, dan ketiga akuh dengan
ipk lebih dari 3.7.
Semoga ilmu yg didapat bisa bermanfaat untuk umat. Semangat!
Monday, 27 January 2014
Pada akhirnya kita harus berdamai dengan realita
Hari ini mendapatkan tausiyah yang sangat berharga dari seorang kawan (yang sebenarnya saya belum pernah bertemu dengannya) dari group Whatsapp Miftahul Wadud. Saya menuliskannya kembali dengan judul yang sama.
Setiap kita pasti punya impian. Setiap waktu kita berusaha untuk menggapainya. Penuh kesungguhan, penuh perjuangan, kadang penuh dg air mata
Impian itu lebih dalam dari keinginan. Sakit yg dirasa krn gagal meraih impian itu pun lebih "menenggelamkan" kesedihan kita dibandingkan keinginan yg gagal dicapai.. Impian itu melibatkan emosi.. Bahkan tak kadang prinsip dan idealisme hidup kita pun diselaraskan dg impian kita...
Tapi tak ada yg bisa menjamin bahwa yg kita impikan itu yg akan terjadi pada diri kita. Karena adakalanya impian yg kita anggap baik itu belum tentu bisa membawa kebaikan bagi diri kita. Kadang ada hal yg justru mungkin kita benci, malah itu yg terbaik untuk kita... Sejatinya manusia memang hanya bisa berusaha dan berdoa, mengenai hasil akhirnya ttp lah Allah yg berkehendak..
Jika yg dikehendaki-Nya tak seperti yg kita harapkan, sebagai org yg beriman pun kita tak boleh kufur atau menafikannya... Namun terkadang kesabaran yg terlalu dangkal, atau keluhan yg terlalu menyesak, sering kali membuat kita hanyut dlm kesedihan yg menyesakkan.. Dan byk yg terjebak untuk menikmati kesedihannya, bukan berusaha utk bangkit membangun impian yg baru di atas jalan yg telah ditapakinya...
Pada akhirnya kita memang harus berdamai dengan realita meskipun tak pernah terbayang bagi kita sebelumnya. Namun rasa damai, dan kelapangan itu lah yg mampu menguatkan kita utk ttp berdiri tegar dan kokoh menghadapi tantangan selanjutnya, dan seiring dg itu kita pun menemukan impian baru yg akan kita bangun di atasnya...
Semoga kita semua diberikan kelapangan hati utk menerima kenyataan dr usaha yg telah kita upayakan.. Aamiinn..
(ini catatan utk diri saya sendiri, diambil dr pelajaran berharga yg saya dapat dr seorang dosen yg saya temui hari ini... Berdamai dengan realita)
Sebagai manusia, kita hanyalah bisa berusaha berproses dengan baik atas takdir-Nya.
Di dalam proses tersebut kita pasti akan menemukan titik yang terasa sangat terjal untuk dilewati, tapi ternyata kita lebih kuat dari yang kita bayangkan.
Dan akhirnya pasti kita akan menyadari, seindah-indah rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.
Semangat!
Wednesday, 8 January 2014
Wisuda ke-2 (akankah?)
Di suatu sore... setelah sidang tesis.
"Selamat ya mba liaaa... udah lulus S2 nya."
"Alhamdulillah.. terima kasih ya."
"Kapan wisudanya?"
saya terdiam.. jujur selama ini saya tidak (belum) kepikiran tuk daftar wisuda. Yang saya pikirkan hanya lulus 1,5 tahun saja... maka ketika muncul pertanyaan ini saya cuma bisa nyengir sambil berkata:
"ha.. wisuda ya? gak tau ya kapan. Emang UI wisudanya bulan apa aja?" *sambil nyengir dan garuk2 kepala yang gak gatel*
"yah kayaknya sih setahun 2 kali ya... Lha mba lia ini gimana sih, masa gak tau kapan jadwal wisuda??" kata adik kelas saya itu. Bingung. Takjub.
"Oh.. saya belum pikirin ya wisuda tuh kapan.. Trus kalo mau ikut wisuda gimana ya caranya?"
"Huaaa... mba liaaa... gak mau ikutan wisuda ya??" Dia makin takjub.
"Ya... kayaknya sih pengen juga sih. Gimana caranya?"
Dan akhirnya dia menjelaskan step-stepnya dari awal sampai akhir untuk daftar wisuda beserta lokasi pendaftarannya....
"Oo... gitu ya. Hehehe... tar saya pikirin deh mau ikutan wisuda atau gak."
Dia pun masih heran dengan ekspresi saya :D
Di suatu pagi keesokan harinya.
"Liiii.... selamat ya udah lulus. semoga ilmunya bermanfaat."
"Aamiin... terima kasih atas doa-doanya.."
"Jadi kapan wisuda?"
"ha.. eh... kapan ya..." jawab saya sambil nyengir.
Alhasil teman saya itu keheranan... "lha piye toh? emang gak ikut wisuda?"
Saya nyengir hehehe..
Jujur, wisuda untuk S2 ini saya merasakan tidak lebih dari sekedar ritual saja. Rasanya bedaaa banget saat wisuda S1 dulu...
Wisuda S1 itu seperti sebuah perayaan, ucapan terima kasih kepada orang tua atas jerih payah mereka hingga anaknya bisa jadi sarjana. Saat itu, rasanya banggaaaa banget bisa sampai tahap ini.
Untuk wisuda S2 ini, saya belum bisa mengambil maknanya, untuk apa??
Kalau tujuannya untuk menyenangkan orang tua, mungkin saya akan daftar wisuda di tahap ini.
Mungkin momen-momen tersebut tidak akan terulang...
Tapi yang pasti akan selalu ada persembahan cinta untuk orang tua tercinta. Setulus hati. Dari saya.
"karena aku mencintai kalian seperti aku mencintai surga..."
"Selamat ya mba liaaa... udah lulus S2 nya."
"Alhamdulillah.. terima kasih ya."
"Kapan wisudanya?"
saya terdiam.. jujur selama ini saya tidak (belum) kepikiran tuk daftar wisuda. Yang saya pikirkan hanya lulus 1,5 tahun saja... maka ketika muncul pertanyaan ini saya cuma bisa nyengir sambil berkata:
"ha.. wisuda ya? gak tau ya kapan. Emang UI wisudanya bulan apa aja?" *sambil nyengir dan garuk2 kepala yang gak gatel*
"yah kayaknya sih setahun 2 kali ya... Lha mba lia ini gimana sih, masa gak tau kapan jadwal wisuda??" kata adik kelas saya itu. Bingung. Takjub.
"Oh.. saya belum pikirin ya wisuda tuh kapan.. Trus kalo mau ikut wisuda gimana ya caranya?"
"Huaaa... mba liaaa... gak mau ikutan wisuda ya??" Dia makin takjub.
"Ya... kayaknya sih pengen juga sih. Gimana caranya?"
Dan akhirnya dia menjelaskan step-stepnya dari awal sampai akhir untuk daftar wisuda beserta lokasi pendaftarannya....
"Oo... gitu ya. Hehehe... tar saya pikirin deh mau ikutan wisuda atau gak."
Dia pun masih heran dengan ekspresi saya :D
Di suatu pagi keesokan harinya.
"Liiii.... selamat ya udah lulus. semoga ilmunya bermanfaat."
"Aamiin... terima kasih atas doa-doanya.."
"Jadi kapan wisuda?"
"ha.. eh... kapan ya..." jawab saya sambil nyengir.
Alhasil teman saya itu keheranan... "lha piye toh? emang gak ikut wisuda?"
Saya nyengir hehehe..
Jujur, wisuda untuk S2 ini saya merasakan tidak lebih dari sekedar ritual saja. Rasanya bedaaa banget saat wisuda S1 dulu...
Wisuda S1 itu seperti sebuah perayaan, ucapan terima kasih kepada orang tua atas jerih payah mereka hingga anaknya bisa jadi sarjana. Saat itu, rasanya banggaaaa banget bisa sampai tahap ini.
| wisuda S1 |
Kalau tujuannya untuk menyenangkan orang tua, mungkin saya akan daftar wisuda di tahap ini.
Saat itu, apakah Gaudeamus igitur masih mampu membawa rasa khidmatmu yang diiringi sedih, gembira, dan haru dalam ruangan itu?
Saat itu, adakah teman-teman seperjuangan yang menyambutmu dengan seikat bunga saat kau keluar dan berjalan di red carpet?
Saat itu, adakah adik-adik kelas yang mengejarmu untuk memberimu seikat bunga, sekecup cium, dan sebuah pelukan bahagia?
Mungkin momen-momen tersebut tidak akan terulang...
Tapi yang pasti akan selalu ada persembahan cinta untuk orang tua tercinta. Setulus hati. Dari saya.
"karena aku mencintai kalian seperti aku mencintai surga..."
Tuesday, 7 January 2014
Sidang tesis
Harapan untuk kuliah S2 ini dalam 1,5 tahun saja alhamdulillah sudah hampir terlaksana... tinggal sedikit lagi mengayunkan langkah :)
Ini bukan hanya harapan... tapi sebuah tekad!
Dari awal tekad itu sudah terbersit dalam hati saya. Alasannya, berhemat uang dan waktu!
Terutama uang sih, hehe... karena saya, alhamdulillah dengan rahmat Allah, bisa kuliah tanpa beasiswa dan tanpa uang dari orang tua. Jadi kalau saya bisa lulus dalam 3 semester akan menghemat 8 juta. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan bagi saya dalam menuntut ilmu, hingga sidang tesis bisa terlaksana dalam semester 3 ini.
Hari ini, 7 Januari 2013 bertempat di Ruang multimedia B, Dept. Teknik Elektro UI pukul 11 saya menjalani sidang tesis bersama 4 dosen (pembimbing+penguji). Rasanya... macem-macem...
Saya jadi teringat saat sidang compre di Departemen kimia dulu (S1). Jujur, yang saya rasakan sidang saat S1 dulu lebih berat dibandingkan dengan sidang S2 ini. Rasanya saat itu senaaaaang sekali saat dosen penguji mengumumkan saya lulus dengan nilai A. Segala lelah dan kesah penelitian 1,5 tahun terbayar sudah.
Di sidang S2 ini, memang tidak langsung diumumkan hasilnya. Tapi dosen pembimbing saya memberitahu bahwa saya berhasil lulus dengan nilai A. Alhamdulillah...
Meski sebenarnya saya merasa banyak sekali kekurangan dari riset saya ini dan terkadang bertanya-tanya apakah hasil riset ini layak dijadikan tesis... tapi dari sidang tadi saya mendapat masukan-masukan berharga untuk membuat tesis saya lebih baik lagi. Terima kasih kepada dosen pembimbing dan dosen penguji... Semoga kedepan saya bisa riset lebih baik lagi.
Rasanya tidak percaya bahwa sekarang saya sudah lulus S2. Menjalani kuliah sambil kerja begini membuat semuanya tidak terasa. Di sela-sela pekerjaan, saya harus tetap fokus untuk lulus 1,5 tahun sehingga saya harus bergegas menyelesaikan pekerjaan kantor agar bisa mengerjakan tugas-tugas kuliah juga belajar. Dengan segala aktivitas itu, semua terasa begitu cepat. Dan saya berusaha menikmati keduanya; pekerjaan di kantor dan kuliah saya beserta tugas-tugasnya.
Mengenai sidang ini, saya sempat merasa belum siap. Tapi kata Pak DG (peneliti di kantor), "Kalau ditanya siap atau tidak siap, di dalam sidang dan ujian, gak ada orang yang siap ya.. Lia tenang aja. Kuasai aja apa yang Lia tulis di tesis, paling dosen nanyanya cuma di sekitar itu. Pengetahuan lain boleh lah dibaca... hanya sebagai tambahan. Jangan dibuat pusing. Kalau dosen sudah mulai bertanya ke arah yang diakuasainya (tapi lia tidak mengerti) coba tegaskan batasan pembahasan tesis lia. Supaya gak terjebak di "daerah kekuasaannya' coba bawa diskusi ke "daerah kekuasaan" Lia. Insya Allah... bisa ya." Wejangan yang sangat berharga dari Pak DG. Dan jujur, sangat menenangkan sekali :)
Alhamdulillah salah satu ketenangan saya bersumber dari doa-doa orang tua dan teman-teman (baik teman yang saya kenal maupun teman yang tidak saya kenal langsung).
Ya, segala literatur telah dikaji dan segala hal telah didiskusikan. Namun semua terasa kurang tanpa doa dari orang tua dan teman-teman semua....
Saya ucapkan terima kasih kepada orang tua saya dan teman-teman semua yang telah mendoakan untuk kelancaran sidang ini. Jazakumullah khairan katsiran...
Kalau ditanya apa yang akan saya lakukan setelah lulus S2 ini, maka akan saya jawab:
Saya ingin belajar lebih banyak lagi,
riset lebih baik lagi, dan
kerja lebih semangat lagi.
Keep on fighting!
Berharap semoga ilmu yang saya dapat selama S2 ini berkah dan bermanfaat untuk umat. Aamiin...
Next step: Revisi draft dan mendapat surat kelulusan resmi.
Subscribe to:
Posts (Atom)

