Sunday, 22 May 2011

Belajar Kebaikan dari (almh) Ustadzah. Yoyoh Yusroh


Masih seperti mimpi...


Berita duka yang kuterima sabtu selepas subuh kemarin, seperti mimpi, karena begitu cepat terjadi. Bahkan seorang teman bertanya heran, tentang kebenarannya. Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. Perasaanku, sama dengan yang ia alami. Hampir tidak percaya...

Tapi begitulah kematian... ia datang tanpa ada yang bisa mengiranya. Sebuah kepastian yang mengingatkan kita, bahwa setiap manusia pasti akan merasakan mati.


Banyak pelajaran yang bisa diambil darinya. Banyak semangat yang telah ditransfer darinya. Banyak kebaikan yang telah diinspirasikan olehnya.... meski lebih banyak lagi palajaran, semangat dan kebaikan yang belum kita serap... marilah sejenak kita mengenang kebaikan beliau, kebaikan dan hanya kebaikanlah yang layak untuk dikenang dari setiap insan. Mari belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh.

*Pertama: Teladan Fisik yang Kuat dan Komitmen dalam menjaga kesehatan*

Aktifitas dakwah membutuhkan energi yang luar biasa. Ini yang disadari oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, maka beliau punya komitmen yang sangat tinggi dalam menjaga kesehatan, dan juga mengingatkan kader dakwah yang lain agar peduli kesehatan. Afifah Afra menuliskan kenangannya bersama ustadzah Yoyoh Yusroh dalam suatu kesempatan memberikan tausiah di depan para muslimah Semarang. Beliau sangat menganjurkan para muslimah untuk menjaga kesehatan. Menekankan untuk mengkonsumsi banyak sayur dan buah-buahan, serta meninggalkan segala jenis makanan instan yang berpengawet. Lebih tegas ustadzah Yoyoh Yusroh menjelaskan: “Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menghasilkan generasi yang terbaik. Jadi, makanlah hanya sesuatu yang halal dan toyib.”

Komitmen beliau yang tinggi ini pun bisa dengan mudah dibuktikan di depan mata. Melahirkan 13 putra dan putri tentu dibutuhkan penjagaan fisik yang luar biasa, belum ditambahi aktifitas dakwah dan kegiatan yang sangat padat. Beliau mampu melewati hari-hari sibuknya dengan stamina yang kuat. Saat ditanya seorang akhwat tentang resep fitnya, beliau mengingatkan untuk jangan lupa mengonsumsi habbatussauda dan madu.

*Kedua: Kesabaran Luar Biasa*

Melahirkan, merawat dan membesarkan 13 orang anak adalah hal luar biasa yang mutlak membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Betapa banyak kader dakwah yang hari ini mengumbar keluhkesah dan berteriak kerepotan, sementara mereka baru dikarunia satu dua anak, dengan amanah dakwah yang tak seberapa. Kegiatan beliau yang begitu padat tentulah membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga beliau adalah contoh kesabaran seorang ummahat, karena beliau seringkali diminta –terkadang bersama suaminya- untuk mengisi talkshow dan seminar dengan teman keluarga islami. Beliau berpesan tentang kunci sukses membina rumah tangga: Dalam membina rumah tangga, yang penting prinsipnya saling memberi. Tidak ada yang superordinat atau subordinat antara laki-laki dan wanita. Sejak awal menikah komitmen itu harus ada. Laki dan wanita punya keistimewaan.” Banyak lagi pesan dan petuah beliau tentang rumah tangga, yang sungguh telah dibuktikan sejak awal dalam kesabaran beliau mengarungi rumah tangga. Sekali lagi, dengan 13 orang anak!

*Ketiga: Aktif Bergerak *

Ustadzah Yoyoh Yusroh juga menjadi teladan akhwat muslimah dalam kiprah bagi dakwah dan masyarakat. Amanah beliau yang begitu banyak senantiasa beliau tuntaskan dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya dalam konteks internal partai atau dalam negeri, namun juga tampil aktif dalam organisasi internasional bahkan perjuangan internasional membela Palestina. Beliau memimpin rombongan Viva Palestina yang dikoordinir oleh Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP), dan melalui perjuangan berat akhirnya mampu menembus Gaza dengan dikawal barisan panser tentara Mesir. Kiprah beliau yang sangat padat bisa dilihat dari rentetan tugas dan penghargaan yang beliau dapat. Selain di DPR beliau juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar ICMI (Tahun 2005-2010), bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia. Tak hanya itu, sejumlah tanda jasa pun pernah diterimanya, seperti International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000, International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003, dan Mubaligh National dari Departemen Agama RI tahun 2001. Sebuah gambaran sekaligus teladan, seorang ummahat yang sukses meramu antara ranah domestik
dengan pengabdian kemasyarakatan.

*Keempat: Ruhiyah Tinggi*

Aktivitas dakwah dan kemasyarakatan yang begitu padat akan sangat melelahkan tanpa siraman ruhiyah yang teratur dan pada porsi yang istimewa. Ustadzah Yoyoh Yusroh tahu dan meyakini dengan pasti hal tersebut. Karenanya beliau senantiasa menghiasi hari-hari padat aktifitasnya dengan charger ruhiyah yang terus dijaga dan ditingkatkan. Tilawah dan mengulang hafalan Quran adalah rutinitas harian yang tak terlewatkan. Salim A Fillah pernah mendapati beliau bersama suami tengah asyik mengulang hafalan berdua, bergantian menyimak dan membenarkan. Secara khusus, beliau senantiasa menyelesaikan tilawah tiga juz setiap harinya. Tentu sebuah capaian yang luar biasa, yang barangkali tak terbayangkan dalam benak banyak kader yang selalu gagal menyelesaikan satu juz tilawah karena alasan kesibukan. Ketika ditanya bagaimana mungkin menyempatkan diri untuk tilawah sebanyak itu dalam setiap harinya, ustadzah Yoyoh Yusroh menjawab dengan yakin dan mantap: “Justru karena sibuk dan banyak hadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka harus memperbanyak Al-Qur’an”. Subhanallah

*Kelima: Penyayang dan Peduli*

Banyak akhwat yang terkesan dengan kesederhanaan dan ketawadhukan beliau, dan lebih dari itu kedekatan personal dan ukhuwah yang dibuktikan dengan langkah nyata. Panggilan bunda dan ummi menandakan tempat khusus di hati para akhwat. Seorang akhwat muda begitu terkesan saat dalam sebuah pertemuan kedua dengan beliau, ustadzah Yoyoh Yusroh masih mengingat betul nama dan asalnya, serta menanyakan tentang kegiatan dan aktifitas terbarunya. Hal ini jelas menunjukkan kepedulian dan kasih sayang beliau yang tulus kepada para akhwat, tanpa pamrih, seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

...tentulah masih banyak teladan kebaikan yang telah ditorehkan oleh ustadzah Yoyoh Yusroh, coretan singkat ini tak akan pernah mampu mewakili kebaikan dan keteladanan dari sosok daiyah dan mujahidah ini...

M
arilah belajar kokoh dari ustadzah Yoyoh Yusroh! Mari belajar memuhasabahi diri atas langkah yang amal yang telah kita torehkan setiap hari...!

Beberapa hari sebelum meninggal, beliau menuliskan SMS berisikan kegelisahan dan muhasabah hatinya kepada seorang akhwat: “ Ya rabb, aku sedang memikirkan posisiku kelak diakhirat. Mungkinkah aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khadijah Al-Kubra yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafshah binti Umar yang dibela oleh Allah saat akan dicerai karena shawwamah (rajin puasa-red) dan qawwamahnyaI (rajin tahajud-red) ? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500 an hadits, sedang aku…. ehm 500 juga belum… atau dengan Ummu Sulaim yang shabiroh (penyabar) atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad… atau dengan siapa ya. Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka… sehingga aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di taman firdaus-Mu." Subhanallah... seorang ahlul Qur'an yang visioner...

Dalam sebuah pidato dengan suara yang lembut namun perkasa, beliau menyampaikan kepada kami dengan berapi-api, “Saudara-saudara kita di Palestina, Masih sempat melaksanakan Qiyamullail dan Hafalan Qur’an. Padahal di kanan, Kiri, depan dan belakang Mereka adalah BOM, Ranjau yang sengaja dipasang oleh Zionis laknatullah dan siap meledak kapanpun. Sementara Kita, yang nyaman, enak, damai dan tidak dilanda konflik bersenjata, dengan tanpa merasa bersalah meningalkan TAHAJUD, melupakan hafalan Qur’an dengan dalih yang remeh temeh,  Sibuk Bekerja.”  Sebuah hentakkan yang membuatku malu atas hafalan-hafalanku.. Sebuah hentakkan yang membuatku semangat tuk konsisten menghafal...

“Ya Allah , Ampuni kelalaian kami selama ini......”


Selamat jalan mujahidah tangguh
Selamat jalan ya ahlul Qur'an

“Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima amal Sholihmu dan menempatkanmu di tempat terindah di SisiNya. Amiin."


Sumber: Tulisan Hatta Syamsuddin dengan beberapa perubahan dari saya

Wednesday, 11 May 2011

Journey of Agustinus Wibowo

http://avgustin.net/gallery.php
Agustinus Wibowo, itulah nama pemuda yang lahir 25 tahun lalu. Lahir dan besar di Lumajang, kemudian kuliah di ITS dan kemudian melanjutkannya di China. Seorang kutu buku yang tertarik pada backpacking setelah berkenalan dengan backpacker cewek asal Jepang. Pada tahun 2001, dia pun memulai perjalanannya ke Mongolia. Kemudian melanjutkannya lagi pada tahun 2005, setelah lulus kuliah, dengan melintasi Tibet, Nepal, lalu ke gurun pasir India, pegunungan di Pakistan Utara. Dia juga sempat bekerja sebagai sukarelawan gempa Kashmir, ke pedalaman Pakistan, berkeliling Afghanistan dengan hitchhiking, lalu ke Iran, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Perjalanannya terus berlanjut hingga Mei 2009, ketika akhirnya dia harus pulang ke Lumajang karena Mamanya divonis kanker dan harus menjalani pengobatan. Kini, dia telah kembali ke Mongolia dan akan memulai lagi perjalanan berikutnya.

Sungguh kutertarik pada kisahnya. Kisah pemuda Indonesia berkelana ke negara-negara asing yang jarang kudengar, kecuali dalam berita. Sungguh kutakjub dengan keteguhannya dan kegigihannya untuk melalui jalur-jalur yang justru dihindari oleh backpacker lain. Dia berani menyusuri wilayah yang sama sekali belum pernah dikunjungi orang asing atau bahkan oleh penduduk dari daerah lain. Sungguh kukagum pada ketabahannya saat menghadapi hal-hal tak diinginkan dalam perjalanannya.

Dari kisahnya, aku melihat Afganistan pun kadang sama dengan Indonesia. Multietnis dan menghadapi masalah keberagaman, namun pada tingkat yang lebih ekstrim. Stereotipe salah satu suku terhadap suku lain membuat mereka mendapat perlakuan yang beda. Hiks.. Kehancuran Afganistan akibat perang memaksa warganya membanjiri Iran dan Pakistan yang dianggap lebih makmur. Namun di sana mereka dianggap warga kelas dua. Dominan di sektor informal, kuli bangunan dan buruh. Tak jarang mendapat perlakuan diskriminan hanya karena mengaku dirinya adalah seorang Afgan. Membaca kisah ini, mengingatkanku pada nasib jutaan TKI di Malaysia.

Terlepas dari keheroikannya menjelajah remote area, dalam kisahnya di bukunya (selimut debu), dia menampilkan dirinya apa adanya. Seorang petualang dari jenis manusia biasa. Dia adalah manusia biasa yang kadang cengeng, emosional, suka berprasangka buruk, penakut dan panikan. Just like us.. Dia pun merengek dan memelas agar mendapat harga yang lebih murah saat berkendara. Dia pun panik minta ampun ketika hardisk yang berisi foto-foto perjalanannya menghilang. Dia pun terkesan polos, berkali-kali tertipu oleh budaya basa-basi lokal meskipun telah mengenal budaya itu. Dia juga geram dan marah ketika diperlakukan tidak manusiawi oleh polisi lokal. Dia juga kesal ketika harus menjelaskan berkali-kali di mana itu Indonesia pada seorang kakek tua yang terus bertanya, “Indonesha tu bagian mananya Afganistan..?”. Dia juga naïf, mengingatkan berhati-hatilah kalian laki-laki yang bertampang manis, mulus tak berbulu seperti layaknya orang Afganistan yang umumnya berbulu, berjenggot dan bercambang. Bersiaplah kalianlah menjadi objek sodomi. Terkesan pede mengucapkannya. Dia lupa bahwa fisiknya juga seperti yang dicirikannya itu. Dia baru menyadarinya ketika suatu malam dia akan dijadikan objek sodomi oleh tuan rumah. Dia pun lari ketakutan karenanya.

Menurutku, sisi manusiawi dari sosoknya yang diungkapkan dalam setiap kisahnya ini bukanlah kelemahan, justru kekuatan. Sepertinya dengan cara inilah Agustinus Wibowo mengingatkan pada kita bahwa siapa pun sebenarnya bisa melakukan perjalanan sepertinya. Itu bukan suatu kemustahilan!! Membaca buku ini benar-benar mencerahkan, menyadarkan banyak hal, terutama tentang kata syukur!! AW begitu apiknya menyajikan bahwa apa yang Afganistan hadapi mungkin ada persamaan dengan yang kita hadapi, bahkan lebih buruk !! Namun mereka tetap bisa menikmatinya, kadang juga dalam tawa. Dan mereka tak berhenti untuk bertahan dan berjuang !! Seburuk-buruknya kondisi Afganistan yang selalu diselimuti khaak, debu, Afganistan tetaplah khaak, watan, tanah air mereka. (kompasiana)

Tuesday, 10 May 2011

Arti kehadiranmu


Bermacam kisah kudengar, tentang kehadiran dalam kajian pekanan. Kurekam baik-baik dalam ingatan. Dan inilah kisah-kisah itu...


Ada seorang bapak, penjual bubur ayam di daerah trans. Untuk bisa datang ke kajian pekanan, dia harus meliburkan diri 3 hari dari menjual buburnya karena jarak tempat mengaji yang cukup jauh dari rumahnya, di kota. Karena kondisi ekonominya yang pas-pasan, dia sering kesulitan ongkos. Hingga ia memilih naik sepeda tuanya, seharian. Ya, seharian! Menuju tempat kajian. Nasib mujur kalau ada truk besar yang mau ditumpangi. Maka ia dan sepedanya bisa menumpang barang sebentar, mempersingkat jarak dan menghemat tenaga. Tetapi itu jarang sekali.

Hari kedua, ia gunakan untuk mengaji di kota. Sekaligus menghadiri berbagai kajian lain yang memungkinkan, mumpung ke kota.

Lalu hari ketiganya, ia kayuh lagi sepeda tuanya seharian, pulang ke rumah. Dan itu terjadi sepekan sekali. Dia rela hanya bekerja 4 hari dalam seminggu, demi kajian pekanan yang tak ingin ia cederai.

Ada juga seorang ibu rumah tangga, tinggal di ibukota, yang untuk datang ke kajian pekanan, karena tak ada ongkos dan suaminya lama belum pulang dari ikhtiar mencari nafkah, dia terpaksa menjual beberapa peralatan dapurnya ke tukang rombeng. Tak ada yang mengetahui hal ini, kalau saja tak secara kebetulan ada teman satu kajian yang sedang berkunjung ke rumahnya, dan melihat transaksi jual beli itu. Yang lalu dia ceritakan pada guru ngajinya, dan disambut rasa trenyuh oleh sang guru.

Lalu ada lagi, seorang ibu rumah tangga, sebut saja Arni, masih di ibu kota, saat harus hadir dalam kajian pekanan, dengan malu-malu dia sms pada guru ngajinya,
“Bu, maaf… boleh tidak nanti siang saya ijin tidak datang? Saya tak punya ongkos untuk pulang balik ngaji ke tempat ibu. Suami juga belum pulang jadi saya gak bisa minta ongkos”
Trenyuh gurunya membaca sms itu. Menitik perlahan air matanya, diketiknya balasan via sms, “Bu, ibu masih punya ongkos untuk sekali jalan ke sini? Kalau ada, silahkam datang, Semoga Allah mudahkan”.
Tak ada lagi balasan dari bu Arni.

Beranjak guru itu menyiapkan sedikit bingkisan untuk anak-anak bu Arni, juga menyelipkan selembar uang biru bergambar I Gusti Ngurah Rai ke dalam amplop, sekedar pengganti ongkos untuk binaannya. Sambil tetap berharap, bu Arni akan datang.

Lalu, saat siang tiba, dengan berdebar, guru itu menunggu kedatangan bu Arni. Apakah ia akan datang?
Subhanallah.. ternyata bu Arni datang, tampak kerepotan membawa serta 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Si guru mengelus dada, berlega hati, dan sembunyi-sembunyi menitikkan air mata.
Saat kajian usai, dia serahkan bingkisan dan amplop itu pada bu Rani, yang disambut dengan wajah terperangah campur malu “Haduuh, gak usah ibu, Kok jadi repot begini”
“Ini rizqun minal-Lah, tidak baik kalau ditolak bu. Kalau ibu tidak berkenan, mungkin anak2 tetap membutuhkan”, kata si guru.
Dan berangsur, Bu Rani menerima bingkisan dan amplop itu, sambil memeluk gurunya, hangat..

Di sudut ibu kota yang lain, seorang ummi bingung, dari 10 binaannya, kenapa yang datang sekarang hanya 2-3 orang saja. Dia tanyakan pada yang hadir, mungkin ada yang tahu kabar temannya. Salah seorang lalu berkata, ”Iya nih Mi, si A sms saya, minta dipamitin ke ummi, katanya hari ini dia lagi tangggung, lagi perawatan cream bath di salon”
Masya Allah! Gara-gara cream bath lalu jadwal mengaji pun digugurkan? Si Ummi yang suaminya bekerja di luar pulau dan hanya pulang menengok anak istri sebulan sekali tersenyum kecut, berkata dalam hati, “Halah, lha saya kalau si Abi mau pulang gak gitu-gitu amat persiapannya. Ini yang masih gadis kok malah rajin amat ya perawatan? Sampe bolos ngaji?”

Saat yang lain lagi, seorang ibu muda memberitahukan lewat sms pada guru ngajinya,
“Bu, afwan gak bisa datang yaa. Saya mau kontrol bulanan untuk kandungan saya”

Hmm, dalam seminggu ada 7 hari. Apakah kontrol bulanan harus pada saat kajian pekanan? Apakah demikian sibuknya 6 hari yang lain hingga tak bisa mengagendakan untuk kontrol bulanan, sore atau malam harinya?

Lalu, pekan depannya lagi, ”Bu, maaf ijin tidak datang lagi. Saya mual benar hari ini”

Duhai, bukankah untuk mencetak kader mujahid sejati, justru mestinya sejak sang buah hati berada dalam kandungan? Bahkan jauh sejak sebelum itu, saat aqad nikah diucapkan? Jika seorang ibu yang hamil lalu tidak datang karena kajian dengan alasan mual, lalu bagimana jika mendapatkan cobaan yang lebih dari itu? Bagaimana kalau semua binaan semuanya sedang hamil, dan bersikap sama? Kosong melompong pada jam taklim?

Ayolah sayang, kita lawan rasa mual itu, jika kau ingin janin dalam perutmu menjadi mujahid tangguh. Lupakah kau, waktu aku ceritakan tentang kisah seorang ummahat yang sudah menunggu hari melahirkan, tetapi tetap bertekad baja datang ke kajian? Hingga akhirnya benar-benar mulas perut siap untuk melahirkan, saat sedang kajian?

Teringat si guru akan ucapan Sang Murabbi, Ust Rahmat Abdullah alm, saat sering mengikuti kajian di IQRO Islamic Center, ”Kalau kaki belum benar-benar gempor, tak ada alasan untuk tidak datang ke kajian”
”Ya ustad, sungguh aku rindu tausiyahmu…” desahnya dalam hati.

sementara di kesempatan yang lain, seorang ummi bingung, karena salah satu binaannya lama tak terdengar kabar berita. Sudah dua kali kajian. Datang tidak, memberi kabar pun tidak. La salam wa la kalam. Akhirnya, si guru menelponnya. Ah, ternyata dia malu untuk minta ijin, karena 2 pekan sebelumnya dia sulit menolak ajakan teman-teman SMA-nya untuk reunian. Sementara sepekan yang lalu, sebenarnya sudah siap mau berangkat, tetapi tiba- ada ada tamu saudara jauh yang datang.
Tinggal si ummi garuk-garuk kepala. Sangat berharap pekan depan tidak ada lagi alasan bagi si gadis untuk tidak datang.

Di suatu kota, ada seorang ibu yang lapor via sms pada guru ngajinya, sesaaat setelah jadwal kajian usai dan dia tak nampak hadir,”Bu, maaf ya tadi gak bisa hadir. Anak-anak mendadak ngajak berenang”
“Ya Rabb, semoga besok-besok lagi anak-anak itu tidak mengajak ibunya berenang pada saat jam kajian” kata si guru, dalam hati.

Lalu, di pinggiran ibukota, seorang ibu muda yang juga pekerja, bingung saat esok hari dia tak bisa hadir kajian pekanan karena sedang bertugas di luar kota.

“Bu, maaf besok tidak bisa hadir. Saya ada tugas ke luar kota. Mmm, iqob untuk saya apa bu? Gak enak hati nih jadinya”

”Wah tugas keluar kota lagi ya? Seperti kesepakatan, selain infaq 10% sisa uang SPPD, sekarang tambah dengan hafalan Surat Al-Mumtahanah dan buat makalah 4 lembar tentang peran akhwat dalam dakwah ya” balas gurunya via sms.

”Gleg, banyak juga nih PR-nya. Ya sudahlah, Siapa suruh gak datang kajian pekanan. Bismillah, semoga pekan depannya bisa, sambil menyetor iqob hafalan dan makalah,” begitu tekadnya dalam hati.

Lalu, aku pun tertunduk malu
Dimana aku berdiri, kini?
Dimana pula kau berdiri, kini?



sumber : email dari milis sebelah, atas nama Faturrahman...

Wednesday, 27 April 2011

Menangkis serangan radang tenggorokan


Baru nyadar kalo ternyata daku sakit (doh), awalnya sih ngerasa biasa aja setelah peristiwa malem-malem melototin lampu kapal-kapal di pantai. Tapi siang harinya tenggorokan merasa tercekik, seperti ada dahak yang sulit dilepaskan. Ditambah peluh terus menetes mengiringi kepalaku yang serasa berputar-putar dan dimeriahkan oleh rasa mual. Doh, ada yang gak beres nih…
Awalnya curiga terserang angin laut *masuk angin*. Tapi setelah mual-mual dan anginnya *kayaknya* cabut dari badanku, masalah ditenggorokkan masih belum kelar, malah jadi ada bonus susah ngomong dan suara hampir hilang. Alhasil saat itu daku jadi orang pendiem *tipe sanguinis yang terpaksa jadi pendiem*.

Karena sampai hari ini tenggorokan masih juga begitu, maka daku putuskan untuk ke dokter. Curiga daku sakit radang tenggorokan. Sebenernya bukan murni kemauan daku untuk ke dokter, tapi lebih tepat “paksaan” dari mamiku yang baiiiikkk banget. Tentu saja paksaan itu disertai dengan cermah yang berjudul “pentingnya berobat (ke dokter) saat sakit” dan tentunya diakhir ceramah disertai dengan ancaman, “kalau gak mau berobat, nanti bla bla bla….” Hiks…

Sebenernya daku males banget yang namanya ke dokter. Horor banget gak sih! Bagi daku orang kimia yang dikit2 ngerti tentang senyawa kimia, anti banget sama yang namanya obat sintetik masuk ke dalam tubuh. Gak tau kenapa ya. Daku malah lebih seneng pake obat2an herbal yang relative aman, meski prosesnya tidak secepat obat kimia… at least daku memutuskan tuk ke puskesmas aja. Biar dapet obat2an generic dosis rendah dan murah. Yang penting sih kalo ditanya mami jadi bisa jawab, “aku udah berobat kok mi…” jadi gak bakal diceramahin lagi hehe… :p *anakcerdas.com*

Setelah sedikit tersandung masalah administrasi di puskesmas akhirnya daku sukses berobat dan dapet obat. Males juga sih ama urusan administrasi dan introgasi, maklum daku udah lama banget gak berobat *thanks God* kalo sakit berusaha semaksimal mungkin gak mengkonsumsi obat kimia, terakhir berobat ke puskesmas kalo gak salah tahun 2007. Udah lama banget kaaann…

Soal obat, ternyata daku dapet 3 jenis obat. Satu ada bacaan amoxicillin, satu tablet warna putih dan satu tablet warna kuning. Menyesal juga tadi gak nanya sama dokter obat apa saja kah itu. Walau  bagaimanapun kan saya harus tahu apa aja obat2 yg masuk ke dalam tubuh saya ini… sempet berniat Cuma minum beberapa kali aja obat2 tersebut sih :p *ngasal minum obat*. Perkiraan saya adalah obat yang saya dapet terdiri dari antibiotic (amoxicillin), analgesic&antipiretik (putih), dan vitamin C (kuning). Meski gak sering sakit gini *radang tenggorokan* tapi biasanya kan standar obat yang dikasih dokter tuh kayak gini.

1. Antibiotik
antibiotik yang umum yang bisa di gunakan Amoxicillin dan Cefadroxil. Harganya murah. Berhubung ini antibiotik maka harus dihabiskan. Ingat, jika kamu minum obat antibiotik maka itu harus dihabiskan.

2. Analgesik dan antipiretik
obat ini seperti panadol, aspirin, paracetamol generik. Harga nya pun murah, jika panas udah reda boleh dihentikan obatnya. Obat ini berguna untuk mengurangi nyeri dan menurunkan panas. Saran saya *yang gak suka obat*, gunakanlah obat ini kalo udah bener2 gak bisa nahan panas dan nyeri di badan.

3. Vitamin
Minum vitamin C dan atau B kompleks. Vitamin berguna untuk segera memulihkan daya tahan tubuh. Pilih yang murah atau mahal. Tapi lebih baik makan buah-buahan aja, lebih alami dan lezat.

Setelah agak lama baru nyadar kalo dapet amoxicillin daku terhentak *lebay dah*. Gak bisa asal-asalan minum obat nih! Antibiotik kan harus dihabiskan (doh), kecuali kalo daku mau tuh bakteri jadi resisten. Teringat kata pak dokter, meski gejala penyakit udah hilang tapi bakteri2nya kemungkinan belum mati semua. Nah bakteri2 sisa tersebut akan bikin mekanisme pertahanan diri yang bikin diri mereka jadi resisten/ kebal terhadap antibiotik yang kita makan (yang ga diabisin tadi). Akibatnya, kalo kita sakit lagi, dan makan antibiotik yang sama, nggak akan mati bakterinya karena udah tahan sama antibiotik itu. Akibat secara globalnya adalah para peneliti harus terus2an menemukan antibiotik baru buat ngebunuh bakteri. Bayangkan berapa banyak dana yang harus dihabiskan untuk itu. Akibatnya lagi, antibiotik baru itu akan dijual dengan harga tinggi di pasaran, karena awalnya dipatenkan oleh pabrik penemu obat tersebut.

Antibiotik itu ada 2 macam: broad spectrum dan narrow spectrum. Broad spectrum akan membunuh semua bakteri (mau itu bakteri normal di tubuh atau bakteri penyebab penyakit). Sedangkan narrow spectrum hanya akan membunuh bakteri2 tertentu aja. Yang tau mana yang broad spectrum dan mana yang bukan, dan bagaimana penggunaan mereka adalah dokter. So, jangan sembarangan beli antibiotic. Mending pake resep dokter aja, karena ini terkait dengan lamanya konsumsi antibiotic tersebut. Gak semua antibiotic dikonsumsi selama 5 hari, tapi katanya ada juga yang 7 hari… pokoknya bervariasi. Awas jangan sampai salah, efeknya seperti yang sudah saya jelaskan di atas *serius mode on*.
 
Efek horror dari dokter, selain obat-obat yang kudu dihabiskan, daku juga fak boleh makan makanan berminyak *gorengan*, makanan bervetsin *kalo ini sih saya emang gak suka*, makanan pedes…. Dan apalagi ya tadi (thinking)… lupa! Baru aja berfikir tuk menghindari pantangan, tiba2 Papa pulang bawain nasi goreng sosis yang pedes banget *pedes = kesukaan daku*. Trus mami juga bawain bakwan goreng yang baru selesai digoreng… doh, gak bisa nih kayaknnya menuruti pantangan dokter hari ini :p besok aja aaahhh mulai menuruti pantangannya :D

Semoga tenggorokanku cepat baik kembali
 

Thursday, 21 April 2011

Coretan untuk Si Minul

Besok libur,,,, horeeee!!! this's long weekend! it's time to spend a roll of film 

Entah kenapa, rasanya kagok banget pake kamera automatic ini (minolta x700), padahal ini kamera masih manual juga. Saya merasa lebih nyaman pake kamera saya sebelumnya (pentax k1000) yang akhirnya terpaksa saya jual karena gak sengaja kebanting sehingga light meternya rusak

doh, padahal tuh kamera antik banget! dan bener2 manual. Kata temen yang 'tukang foto', kalu mau belajar fotografi mendingpake yang manual dulu. begitulah nasihatnya waktu awal-awal saya terjun ke dunia 'tukang foto' yang membuat saya keracunan sama manual dan film

Setelah light meter-nya pentax gak berfungsi, pernah sih nyoba ngabisin satu roll. Pake metode kira-kiratometri alias mengira-ngira diafragma dan speed shutternya, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi cuaca dan obyek foto, hasilnya gak mengecewakan kok. malah dapet pujian dari 'suhu'
Pas pake minolta k700, gak tau kenapa udah nyoba beberapa roll tapi gak memuaskan hasilnya, hiks.... kayaknya daku emang gak terbiasa automatic dan belum bisa make nih kamera (padahal udah 8 bulan nih si minul tinggal denganku)

Mumpung besok libur, pokoknya harus ada kemajuan dibidang per-poto-an. minimal dari satu rol itu ada beberapa pict yang bisa dibanggakan lah...

So, di siang ini, sambil menunggu jam pulang kantor, juga sambil memanfaatkan waktu (karena kerjaan hari ini udah kelar), saya browsing2 lagih ilmu tentang per-poto-an. Harapannya biar bisa mengingatkan saya (yang sebenernya udah baca beberapa buku fotografi tapi gak oke2 nih prakteknya) juga sharing sama temen2 dan 'suhu' fotografi, kali aja ada yang berpengalaman pake minolta k700 dan kasih masukan yang oke, hehe.... berikut inponya. emang nyerempet2 ke DSLR sih, tapi gak papa lah...

1. ISO --> setting ada di body kamera, dipakai agar bisa ngambil gambar dengan hasil yg terang walau kondisi kurang cahaya.. kualitas sangat tergantung banget sama kamera DSLR nya.. Misal ente make setting ISO 3200 pake canon 1000D, bandingkan klo ente make canon 5D Mark ii
hasilnya pasti kalah jauhhhhh yg canon 1000D (bakalan banyak noise nya, sedangkan yg 5D jernih ajibb gan )
tips:
- outdoor pagi/sore/mendung pake ISO 200-400
- outdoor siang/terik pake ISO 100
- indoor tanpa flash pake ISO >800
- indoor dengan flash pake ISO <100

2. DIAFRAGMA --> dipake buat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke kamera, makin kecil bukaannya (ditandai dengan nilai aperture yg besar) makin sedikit cahaya yg masuk..
Aperture atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf F dan dengan satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst...
Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa ( f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0 ).
Fungsi lainnya yg ga kalah penting yaitu buat mengatur ketajaman/blur dari gambar..
tips:
- untuk motret orang/benda/makro pake diafragma lebar (angka kecil) agar latar belakangnya jadi nge-blur.. misal f/1.7 - f/2.8 - f/3.5 sangat tergantung dari kemampuan lensa seberapa lebar diafragmanya)
- untuk motret landscape pake aperture yg kecil (angka besar) biar ga ada bagian yg ngeblur.. f/8 - f/11 - f/22 (klo ini hampir smua lensa mampu)

3. SPEED SHUTTER --> mengatur berapa lama shutter dibuka.. makin lama shutter dibuka, makin banyak cahaya yg masuk, makin terang gambar yg dihasilkan.. hati-hati gan.. jika ga pake tripod speed kurang dari 1/30 s pasti bakalan goyang gambarnya..
klo untuk kamera/lensa jaman sekarang udah dilengkapi dengan Image Stabilizer (IS - Canon punya) atau Vibration Reduction (VR - Nikon punya), gunanya biar hasil gambar ga ngeblur/goyang klo pake speed rendah.. Ada cara makenya gan, jangan asal jepret.. biasanya ada tanda seru gitu (!) atau tanda kaya sinyal handphone.. waktu nahan tombol shutter setengah penuh tunggu sampe tanda IS/VR nya turun/hilang baru di tekan penuh..
Jika pake IS/VR, bahkan speed 1/15 bisa menghasilkan gambar yg tajam..
tips:
- Objek diam - shutter di atas 1/30s
- Objek gerak normal - shutter di atas 1/100s
- Objek gerak cepat/lari - shutter di atas 1/250s
- Objek sangat cepat - shutter di atas 1/500s
- Efek panning gerak cepat/lari - shutter 1/15s ~ 1/30s sambil kamera digerakkan mengikuti objek
- Efek panning gerak sangat cepat - shutter >1/60s sambil kamera digerakkan mengikuti objek

Oya, info ini saya ambil dari kaskus dengan sedikit perubahan. Yang punya inpo lagi, tambahin yaaa....
**mudah-mudahan besok Si Minul (panggilan buat minolta) mau saya jak berdamai

Friday, 15 April 2011

Menyublimkan Kepedihan


Sesungguhnyalah epos setiap pahlawan dan pejuang selalu menyimpan kisah-kisah kepedihan. Karena semua pahlawan, semua orang besar, tidak bisa menghindarkan diri dari keterbatasan dirinya yang tidak dimengerti publik.  Kebesaran nama dirinya telah menyihir opini masyarakat, seakan dia adalah manusia tanpa cela, serba sempurna dan serba tidak ada kekurangannya. Di titik ini, setiap pejuang ditempatkan secara terasing, di posisi yang tidak dia kehendaki.

Ada pejuang yang memilih menjaga citra diri dengan mencoba menjadikan dirinya sesuai harapan publik. Tentu ini tidak mudah. Dia adalah magnet bagi kamera media. Omongannya, responnya, perbuatannya, tindakannya, adalah sebuah berita. Semua mata memandang kepadanya, dimanapun ia berada. Tak ada ruang privat lagi bagi orang seperti dirinya. Media bisa masuk ke semua ruang-ruang pribadinya.

Dengan pilihan ini, ia harus menjadi seseorang seperti yang diharapkan publik. Bukan menjadi dirinya sendiri yang memiliki banyak keterbatasan. Namun ia harus menjadi hero, menjadi superman, menjadi seseorang yang selalu diidolakan semua kalangan masyarakat. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk menjadi dirinya sendiri, menjadi manusia biasa yang bisa menangis, bisa salah, bisa lupa, bisa khilaf, bisa berbuat dosa.  Dia dipaksa menjadi seseorang seperti harapan masyarakat terhadap sosok pahlawan dan pejuang. Bahwa para pahlawan selalu tampil elegan, tanpa cela, tanpa cacat. Sedikitpun.


Celakanya, para pemuja sosok pahlawan ini hampir tidak bisa membedakan mana sosok manusia biasa yang tengah berusaha menjadi pejuang atau pahlawan, dengan manusia pilihan yang Tuhan takdirkan menjadi Nabi. Bagi seorang Nabi utusan Tuhan, dirinya mendapatkan dukungan Ketuhanan secara penuh. Karena semua perkataan dan perbuatannya adalah hukum untuk diikuti oleh pemeluk agama sang Nabi. Berbeda dengan manusia yang lainnya, kendati dia adalah seseorang yang berusaha menempatkan diri dalam barisan para pejuang dan para pahlawan, namun tetap saja dia adalah manusia biasa.

Sebuah harapan yang berlebihan bahkan absurd. Saat dunia telah sangat lama ditinggalkan oleh Nabi terakhir, akhirnya menjadi defisit keteladanan dan contoh kebaikan. Dunia muak dengan kemunafikan dan kepura-puraan yang sering ditampakkan banyak aktor politik dan banyak pejabat publik. Masyarakat menghendaki dan mencoba mengidentifikasi tokoh-tokoh yang bisa menjadi sumber inspirasi dan keteladanan dalam kehidupan. Sangat langka. Begitu menemukan beberapa gelintir orang yang dianggap masih memiliki harapan untuk menjadi panutan, maka harapan mereka menjadi berlebihan dan tidak masuk akal.

Para pejuang ini telah dipajang dalam bingkai harapan yang sangat ideal. Tak boleh berdebu, mereka bersihkan setiap hari dengan puji-pujian dan sejuta doa. Para pejuang ini yang akan menjadi penyelamat bangsa, akan menjadi harapan perubahan bagi Indonesia. Sebuah obsesi yang lahir dari dahaga berkepanjangan akan munculnya sosok keteladanan dari para pahlawan. Sangat lama masyarakat menunggu para pahlawan yang akan mensejahterakan rakyat Indonesia dan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan dan keterbelakangan.

Para pejuang telah ditempatkan pada posisi yang mustahil melakukan kesalahan. Mereka tidak ditolerir memiliki kelemahan, bukan hanya untuk diri pribadinya. Namun juga bagi isteri, anak-anak dan semua keluarganya. Masyarakat mudah mengalami kekecewaan fatal bahkan keputusasaan apabila melihat ada kekurangan pada diri sang hero, atau pada isteri dan anak-anaknya. Keteladanan dituntut untuk selalu dipenuhi, bahkan oleh anak-anak yang tidak banyak mengerti beban orang tua mereka yang terlanjurkan diidolakan sebagai sosok pahlawan super. Isterinya harus super, anak-anaknya harus super, keluarga besarnya harus super. Betapa berlebihan tuntutan ini.

Namun ada pula para pejuang yang memilih menikmati menjadi dirinya sendiri apa adanya. Seorang manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Di tengah kelemahan dan keterbatasan diri, ia mencoba menjadi seseorang yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Memberikan kontribusi kebaikan sekuat kemampuan yang dia miliki. Waktu, tenaga, pikiran, harta benda dia curahkan untuk melakukan hal terbaik yang bisa dia sumbangkan bagi perbaikan bangsa dan negara. Mungkin tidak terlalu memuaskan masyarakat, mungkin tidak heroik, mungkin tidak dielu-elukan oleh para pemuja kepahlawanan. Namun ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Dia melihat dunia dengan dua kacamata pada saat bersamaan. Satu kacamata idealis, dia memiliki visi yang sangat jelas tentang hal-hal ideal yang harus dilakukan dan harus terjadi bagi bangsa dan negara. Satu lagi kacamata realis, bahwa dia melihat Indonesia tidak cukup diubah oleh keteladanan beberapa sosok pahlawan. Indonesia hanya memerlukan kebersamaan untuk melakukan perubahan, memerlukan konsistensi untuk menegakkan aturan, memerlukan kedisiplinan untuk menjalankan agenda kebangsaan dan kenegaraan. Indonesia memerlukan harmoni dari pagelaran orkestra berbangsa dan bernegara.

Dia tidak mau terkurung ke dalam sosok pahlawan ideal seperti yang digambarkan masyarakat. Benarkah perubahan Indonesia harus dimulai dari sosok-sosok profan yang tak memiliki sedikitpun kekurangan, cacat, kelemahan dan kesalahan ? Bukankah itu hanya layak dinisbatkan kepada para Nabi dan Rasul yang dimuliakan Tuhan dengan tugas-tugas Ketuhanan ? Dia merasa hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan perubahan ke arah kebaikan, semaksimal kemampuan yang dia miliki. Namun dia mengetahui ada sejumlah sisi-sisi kemanusiaan dalam dirinya yang akan sulit dipahami oleh publik.

Sering terbersit dalam kesendiriannya, apakah hanya ada dua pilihan menjalani kehidupan bagi bangsa Indonesia ? Pilihan menjadi pahlawan super hero yang dipuja-puja seluruh masyarakat, dan pilihan menjadi pecundang yang dicela oleh semua media, tanpa sisa ? Tidak adakah pilihan menjadi diri sendiri yang jujur apa adanya, menjadi seseorang yang penuh keteterbatasan dan kelemahan, namun selalu berusaha menyumbangkan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara ? Dimanakah tempat orang-orang seperti ini ? Apa nama dan nilai mereka ini ? Menjadi pahlawan ataukah pecundang ?

Menjadi super hero tanpa cela betapa sangat sulitnya. Siapa yang akan sanggup menempati posisi seperti ini, siapa yang akan merelakan dirinya berada dalam sebuah suasana pencitraan, untuk memenuhi harapan dahaga masyarakat akan sosok-sosok keteladanan ? Menjadi pejuang tanpa kelemahan dan kekurangan, betapa beratnya. Menjadi pahlawan tanpa sedikitpun tercemar oleh cela yang dilakukan oleh dirinya, isteri, anak-anak dan keluarga besarnya, siapa sanggup menempuhnya ? Inilah episode kepedihan setiap pahlawan dan pejuang.

Saya berusaha memilih sesuatu yang masuk akal dan sesuai hati nurani. Saya bukan seorang pahlawan, bukan seorang super hero, bukan seorang super man, atau semacam itu. Saya hanyalah seorang anak bangsa yang memiliki teramat sangat banyak kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan hal-hal tidak ideal. Dari sudut pandang apapun. Namun saya sangat meyakini bahwa kebaikan besar bermula dari kebaikan-kebaikan kecil. Saya sangat meyakini hal-hal luar biasa bisa bermula dari konsistensi melakukan hal-hal yang biasa.

Terserah orang menyebut apa terhadap hal yang saya lakukan. Saya berjalan pada sebuah keyakinan, pada sebuah arah tujuan. Saya berjalan pada sebuah bingkai cita-cita perubahan, namun saya hanyalah seorang manusia yang penuh keterbatasan. Isteri saya hanyalah seorang perempuan biasa, sangat biasa, yang memiliki sangat banyak kekurangan. Anak-anak saya hanyalah anak-anak yang terlahir dari sejarah pernikahan, dan mereka menjadi dirinya yang tidak bisa dibebani dengan harapan orang atas ayah mereka. Namun dengan segala titik kelemahan dan kekurangan kemanusiaan tersebut, saya selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang mampu saya lakukan. Memproduksi kebajikan semaksimal kesanggupan yang ada pada saya.

Tidak bolehkah memiliki pilihan sederhana seperti ini ? Haruskah kita memilih menjadi pahlawan tanpa cela, atau sekalian memilih menjadi pecundang yang dicela serta dilaknat seluruh media ? Sedih sekali hidup kita, jika terbelenggu oleh “apa kata orang kepada kita”. Sedih sekali, jika hidup kita harus menyesuaikan dengan selera media. Sempit sekali dunia, jika kita harus menjadi sosok-sosok utopis yang diimpikan para pemuja epos kepahlawanan dunia. Hingga orang tidak berani berbuat dan berkata apa-apa, karena takut dilaknat media. Hingga orang takut melakukan upaya perbaikan semampu yang dia bisa, karena takut dicela massa.

Setiap hari berseliweran sms, mengkonfirmasi berita ini dan itu di media massa. Mencela, melaknat, mencaci maki, menghakimi semau sendiri, memastikan keburukan orang, mengimani berita media massa tentang perilaku seseorang. Sms berseliweran tanpa tuan, menghakimi tanpa persidangan, memutuskan tanpa penjelasan, memastikan tanpa pertanyaan, menuduh tanpa kelengkapan persyaratan, membunuh karakter tanpa alasan. Semua orang ketakutan, semua orang gelisah, tiarap, takut dirinya tengah dirilis media. Takut dirinya tengah dibicarakan koran. Takut dirinya menjadi berita utama di sms yang berseliweran setiap detik, setiap kesempatan.

Seakan dunia telah kiamat, saat seseorang pejuang dituduh melakukan kesalahan. Seakan kebaikan telah hilang, saat sosok pahlawan yang diidamkan teropinikan melakukan pelanggaran. Hancur sudah dunia kepahlawanan, habis sudah sejarah para pejuang, tamat sudah riwayat para pembela kebenaran. Hari ini juga semua jiwa telah binasa. Kita menjadi orang yang berlebih-lebihan melihat, menanggapi, mengomentari segala sesuatu. Baru running text, baru rilis koran, baru kilas berita televisi dan cybermedia. Tiba-tiba sms sudah menyebar kemana-mana. Tiba-tiba kepercayaan sudah sirna. Tiba-tiba kehangatan sudah tiada. Berpuluh tahun kita merajutnya. Hilang sesaat begitu saja ?

Inilah sisi kepedihan dalam setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Setiap pahlawan, setiap pejuang selalu dihadapkan kepada kondisi-kondisi kemanusiaan yang sulit dimengerti para pemuja mereka. Media telah menghukum tanpa ampunan. Headline setiap hari. Heboh, bombastis, sinistis. Mematikan hati yang terlalu ciut menerima kritik dan lontaran tajam. Mematikan semangat yang terlampau dingin untuk melakukan berbagai kebajikan. Cita-cita dan tujuan seakan sudah terlupakan oleh opini koran dan berita harian.

Silakan tidur dan berhenti dari kebaikan, maka para setan akan pesta pora merayakan kemenangan. Silakan menyesal menempuh jalan panjang bernama kebajikan, tempuh jalan lain yang lebih menyenangkan pemberitaan. Hanya itukah tujuan kita ? Mendapat pujian, mendapat pengakuan, mendapat ucapan selamat dan penghargaan atas kesantunan, kesalehan, kebaikan, kejujuran, dan kebersihan  yang ditampilkan ? Tidak siap mendengar kritik tajam, caci maki, cemoohan masyarakat dan media massa ? Tidak kuat mendengar ledekan, tertawaan, gunjingan, dan kekesalan orang ?

Adakah anda rasakan kesedihan yang saya tuliskan ? Kesedihan di setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Kesedihan yang tidak bisa dibagi dengan para pemuja pahlawan. Kesedihan yang harus dikunyah dan dinikmati sendiri oleh setiap orang yang berjuang dalam kebaikan. Jika anda merasakan, saya ajak anda menyublimkan kesedihan itu menjadi sebuah karya nyata, sekecil apapun yang kita bisa.

Menyublimkan kepedihan menjadi amal kebaikan berkelanjutan yang kita lakukan dalam setiap tarikan nafas. Jangan menguapkannya, karena jika diuapkan kesedihan hanya akan hilang namun tidak menghasilkan karya. Ya, anda harus menyublimkan kepedihan ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Menjadi sesuatu yang menyemangati diri. Menjadi sesuatu yang menasihati. Menjadi sesuatu yang bernilai abadi. Menjadi sesuatu yang bernama kontribusi.

Setiap cemoohan dan ejekan akan menambah kesedihan di hati para pejuang. Setiap ketidakberhasilan akan menggoreskan kegetiran pada dada setiap pejuang. Kesedihan itu harus disublimasi menjadi karya yang berarti. Setiap hari kita telah terbiasa menumpuk kelelahan, kesedihan, kegetiran, kepedihan, dari yang terkecil hingga yang paling dalam. Menyublimkan kegetiran akan mengubahnya menjadi kerja nyata bagi bangsa dan negara. Apa artinya dipuji-puji jika tidak memiliki kontribusi yang berkelanjutan ? Apa salahnya dicaci maki jika itu memacu kontribusi yang lebih berarti bagi perbaikan ?

Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya. Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri. Keyakinan ini tak bisa ditawar lagi. Tuhan telah mengumandangkan, hal jaza-ul ihsan illal ihsan. Apakah kita tetap juga tidak memahami ?

Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti.


Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan 9 April 2011
Cahyadi T.