Sunday, 31 October 2010

[Kuis griyabukuq] ini buku pilihanku

Bismillah...

aptx7486 menerima tawaran dari om farikhsaba/griyabukuq
mulailah saya memilih buku-buku yang ada di bagian market

Ada beberapa buku yang diinginkan... dan akhirnya pilihan saya jatuh pada buku "Kamus Kosakata Al-Quran".  Ya, saya pikir buku itu yang cocok dengan kebutuhan saya saat ini. Alasannya karena saat ini saya sedang mempelajari bahasa arab. Dalam beberapa bab materi, ada latihan untuk mencoba mengartikan surat-surat pendek/ ayat-ayat dalam Al-Quran tanpa melihat Terjemahannya, dengan panduan dari guru kami. Jadi kita bisa berlatih menerapkan ilmu yang telah didapat untuk bisa menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur'an dan selanjutnya memahami Al-Qur'an.

Saya pikir buku ini bisa membantu saya. Melihat dari resensinya, Kamus ini bisa membantu pembacanya memperoleh pengertian yang luas dalam memahami kosakata-kosakata Al-Qur’an, sehingga diharapkan pembaca tidak terjebak dalam pengertian sempit yang diberikan oleh penerjemah atau penafsir Al Qur’an yang dapat menimbulkan silang sengketa pendapat secara tajam. 

Semoga berhasil dapat buku ini dari kuis griyabukuq ^^


============================================================

Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis GriyabukuQ Berbagi Buku: Pilih Sendiri Buku Hadiahmu! Di alamat http://griyabukuq.multiply.com/journal/item/87/

Buku yang dipilih: "Kamus Kosakata Al-Quran"  http://griyabukuq.multiply.com/market/item/26/_Kamus_Kosakata_Al-Quran


Saturday, 30 October 2010

Agar Cinta Tak Bertepuk Sebelah Tangan


Karena pembuktian cinta haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang kekasih percaya bahwa kita mencintainya.

Engkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima ujian, rusak oleh pujian, tidak sepenuhnya menerima pimpinan dan tidak begitu setiakawan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban, tidak sanggup terima cobaan dan hanya ingin jadi pemimpin agar pengikut menjadi agak segan 
Engkau ingin berjuang, tapi kesehatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan dan waktu tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, tapi dirimu tidak engkau tingkatkan, disiplin diri engkau abaikan, janji kurang engkau tunaikan dan kasih sayang engkau abaikan
Engkau ingin berjuang, tapi para tamu engkau abaikan, anak isteri engkau lupakan dan ilmu berjuang engkau tinggalkan
Engkau ingin berjuang, tapi pandangan engkau tidak diselaraskan, rasa bertuhan engkau abaikan dan iman taqwa engkau lupakan
- Qathrunnada -

Benarkah engkau seorang pejuang? Mengaku diri sebagai pejuang, sebagai jundullah, sebagai aktivis, namun akhlak maupun tsaqafahnya tidak mencerminkan hal itu. Mengaku diri sebagai mujahid, namun niat ternoda oleh selain-Nya. Inilah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sindir di dalam Al Qur’an, “Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’ sedang mereka tidak di uji lagi?” (QS. Al Ankaabut: 2-3)

Sang Pejuang Sejati

Masing-masing kita sebaiknya mengevaluasi diri, apakah kita memang sudah benar-benar menjadi pejuang di jalan-Nya atau jangan-jangan, baru sebatas khayalan dan angan-angan kosong belaka. Inginkan syurga, tetapi tidak siap menggadaikan diri, harta dan jiwa. “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. 3:142)
Ya, kita mengira akan masuk surga dengan pegorbanan yang sedikit, seakan ingin menyamakan diri dengan hukum ekonomi kapitalis, “Mendapatkan output yang sebesar-besarnya, semaksimal mungkin, dengan input yang seminimal mungkin.” Aduhai…, sesungguhnya hari akhir itu adalah perkara yang besar. Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi itu, sangat mahal harganya. Rasulullah SAW bersabda, “Generasi awal sukses karena zuhud dan teguhnya keyakinan, sedang ummat terakhir hancur karena kikir dan banyak berangan muluk kepada Allah.”Saat nasyid-nasyid perjuangan dilantunkan, gemuruh di dalam dada menjadi berkobar-kobar untuk berjuang. Tetapi sayang, ternyata hanya tersimpan di dalam dada dan semangat itu ikut surut seiring dengan berakhirnya lantunan nasyid. Tidak keluar dalam amaliyah yang nyata. 
Demi Allah…, keimanan bukanlah dilihat dari yang paling keras teriakan takbirnya, bukan pula dari yang paling deras air matanya kala muhasabah, dan bukan pula dari yang paling ekspresif menunjukkan kemarahan kala melihat Israel menyerang Palestina. Bukan pula dari yang paling banyak simbol-simbol keagamaannya. Karena itu semua hanya sesaat. Sesungguhnya keistiqomahan dalam berjuang, itulah indikasi keimanan sang pejuang yang sebenarnya. Pejuang yang sabar menapaki hari-hari dengan mengibarkan panji Illahi Rabbi. Yang selalu bermujahadah mengamalkan Al Qur’an. Teguh pendirian. Tak kenal henti. Hingga terminal akhir, surga.

Pengorbanan

Apakah dengan memakai sedikit waktu untuk berda’wah, sudah menganggap diri telah melakukan totalitas perjuangan? Padahal para nabi tidaklah menjadikan da’wah ini hanya sekedarnya saja, tetapi sebagaimana dicantumkan dalam Surat Nuh ayat 5, "....Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam." Pun dalam surat Al Muzzamil, “Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah." Sejak ayat itu turun, sang nabi akhir zaman selalu siaga dalam kehidupan. Bahkan, hingga menjelang ajalnya, Rasulullah tengah menyiapkan peperangan untuk menegakkan Al Haq.Sang pejuang, tetapi makanannya adalah sebaik-baik makanan, dan pakaiannya adalah sebaik-baik pakaian. Dan dengan tanpa rasa berdosa, asyik menonton sinetron-sinetron cinta dan acara gosip, mendengar lagu-lagu cinta, berghibah, perut kenyang, banyak tidur, dan mengabaikan waktu, lalu berharap mendapatkan syurga? Sangatlah jauh… bagaikan punduk merindukan rembulan. Alangkah berbedanya dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Mush’ab bin Umair dan para sahabat yang lainnya. Yang setelah mendapatkan hidayah, mereka justru menjauhi kemewahan hidup. Mereka mampu secara ekonomi, tetapi mereka tidak rela menikmati dunia yang melalaikan. Seorang pejuang harus memahami jalan mendaki yang akan dilaluinya. Sang Nabi tak pernah tertawa keras apatah lagi terbahak-bahak. Dan hal itu dikarenakan keimanan yang tinggi akan adanya hari akhir, akan adanya surga dan neraka. Ada amanah da’wah yang besar di pundaknya, lantas bagaimana mungkin seorang pejuang akan banyak bercanda? Imam Syahid Hasan Al Banna memasukkan “keseriusan” atau tidak banyak bergurau sebagai bagian dari 10 wasiatnya. Dan dikisahkan pula bahwa Sholahuddin Al Ayyubi tak pernah tertawa karena Palestina belum terbebaskan. Keringnya suasana ruhiyah di lingkungan kita, bisa jadi karena di antara kita -saat di luar halaqah- jarang saling bertaushiyah tentang hari akhir. Bahkan sungguh aneh, dapat tertawa dan tidak menyimak ketika Al Qur’an dibacakan di dalam pembukaan ta’lim. Atau saat kaset murottal diputar, mengobrol tak mengindahkan. Yang mengindikasikan bahwa Al Qur’an itu baru sampai di tenggorokan saja. “Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk ke dalam hatinya).” (HR. Muslim). Dimanakah air mata keimanan? Ya Rabbi…, ampunilah kelemahan kami dalam menggusung panji-Mu…Kederisasi generasi sebaiknya tidak melulu tentang pergerakan dan mengabaikan aspek keimanan. Keimanan harus senantiasa dihembuskan dimana saja karena ia adalah motor penggerak yang hakiki. Iman adalah akar.

20 Muwashofat Sang Pejuang

Setidaknya, ada 20 kriteria yang harus dimiliki pejuang, yang disarikan dari Al Qur’an dan hadits, yaitu :
1. Aqidahnya bersih (saliimul ‘aqiidah)
2. Akhlaknya solid (Matiinul khuluqi)
3. Ibadahnya benar (Shohiihul I’baadah)
4. Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi)
5. Pikirannya intelek (Mutsaqqoful fikri)
6. Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi)
7. Mampu berusaha mencari nafkah (Qaadiirun ‘alal kasbi)
8. Efisien dalam memanfaatkan waktu (Hariisun ‘alal waqti)
9. Bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi)
10. Selalu menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun ‘anisy syubuhat)
11. Senantiasa menjaga dan memelihara lisan (Hifdzul lisaan)
12. Selalu istiqomah dalam kebenaran (istiqoomatun filhaqqi)
13. Senantiasa menundukkan pandangan dan memelihara kehormatan (Gaddhul bashor wahifdul hurumat)
14. Lemah lembut dan suka memaafkan (Latiifun wahubbul ‘afwi)
15. Benar, jujur dan tegas (Al Haq, Al-amanah-wasyja’ah)
16. Selalu yakin dalam tindakan (Mutayaqqinun fil’amal)
17. Rendah hati (Tawadhu’)
18. Berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’)
19. Senantiasa siap menolong (Mutanaashirun lighoirihi)
20. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir (Asysyidda’u ‘alal kuffar)

Menjadi pejuang, hendaknya bukanlah angan-angan kita belaka. Menjadi pejuang, memiliki kriteria (muwashofat) yang harus di penuhi. Jangan sampai kita terkena hadits ini, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya.” (Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).Pejuang di jalan-Nya hendaknya bukan dari kacamata kita, tetapi dari kacamata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah ruginya bila kita menganggap diri sebagai pejuang, padahal dalam pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita tak ada apa-apanya. Maka, bersama-sama kita memuhasabahi diri, agar cinta kita kepada-Nya bukan hanya angan semata, agar cinta kita tak bertepuk sebelah tangan. Karena pembuktian cinta haruslah mengikuti dengan keinginan yang dicinta. Jika tidak, maka patut dipertanyakan kebenaran cintanya itu. Cinta sejati, tidak hanya dimulut dan disimpan di dalam dada saja, tetapi harus dibuktikan, agar sang kekasih percaya bahwa kita mencintainya. Kita mencintai-Nya dan Dia pun mencintai kita. 
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya….” (QS. Al Maidah : 54 – 56).


*diambil dari Hudzaifah.org, lupa kapan tepatnya -artikel yang sdh lama disimpan-*


lunch with my sister

i like this day. Today, after tahsin, i go to mayestik to meet with my sister. We promised to meet there coz i must be with her to get her ijazah and transkrip nilai. I think she can do it by her self but she doesn't want... So, my mom needs me to help my sista. Ough.. whereas I had plan to go diknas library for joining Britzone. And finally i must do my mom's instruction.. Although i cannot go to britzone, i'm very happy.. Shopping, searching, and lunch with my sista... Luv u,sist ^^

Friday, 29 October 2010

he found my multiply!

i just remind if my group leader succes to find my multiply blog, and also win's blog. Oww... I'm not really think about it, how can he find our blog?
You now how can? It start with he and win meet mba nike, koz's wife,and also a mper. They talk about mba nike activities in multiply.
From the talking, he knows win's blog in multiply. Then, he enter word: win in google..
You know what the result? He find a photo of our. But the photos are in my blog! He said, it's lia's blog, isn't? Waaa... He found my blog!

i'm for future


hmm... i made a blog again... after my blog at multiply (Indonesian Version), i think i have to make a place to collect my writting in english version. However i must improve my english skill to get my rainbow coz i intend to continue my study abroad. So for you, all of my friend, please correct my writting if there is a mistake. I hope i can study from your correction. let's be my blog friends... ^_^

djika tidak karena sikap dan semangat perdjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan. [Ahmad Mansur Suryanegara - Api Sejarah 1]

Thursday, 28 October 2010

Mbah Marijan; Belajar tentang loyalitas dan pengabdian

Rating:★★★
Category:Other
Teringat percakapan sore tadi di jemputan, ketika berbicara tentang letusan Gn. Merapi dengan Bu Had (teman satu kantor saya). Ketika saya menyinggung tentang wafatnya Mbah Marijan,
"mayat mbah marijan dtemukan dalam posisi sujud ya bu... “ kataku.
lalu beliau menyambung. "iya mba, tau ga, Mbah marijan itu ya, muslim yang taat. Saya rasa yakin Islamnya bener."
"oya, kok ibu menyimpulkan gitu?" tanyaku penasaran, meski sebenarnya saya mendukung pendapatnya.
"saya dan teman2 pernah mengundang anak perempuannya. ustadzah loh... dia ngajarin kita tentang bagaimana memperlakukan jenazah, mulai dari memandikan jenazah sampai shalat jenazahnya... dan kata anak perempuannya itu, mbah marijan ngga seperti yang digambarkan (negatif) kebanyakan orang." katanya tanpa ragu-ragu.
Saya takjub dengan yang dibicarakan Bu Had... dalam hati saya memang mengagumi sosok mbah marijan.

Mengenai biografi mbah marijan sendiri saya dapatkan di Wikipedia, karena jarang sekali yang memuat tulisan biografi tentang juru kunci Merapi ini. Begini katanya, Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan (nama asli:Mas Penewu Surakso Hargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman,1927; meninggal di Sleman, Yogyakarta, 26 Oktober 2010 umur 83 tahun) adalah seorang juru kunci gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari beliau untuk mengungsi. Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982. Sejak kejadian Gunung Merapi mau meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.

Tulisan Bayu Gawtama (Public Relation ACT-Aksi Cepat Tanggap) pada tahun 2006 (http://gawtama.blogspot.com/2006/05/mbah-marijan-yang-terdzalimi.html) saat Merapi 'batuk-batuk' membuat saya sangat penasaran dengan sosok mbah ini. Saya bahkan berniat, jika berkunjung ke rumah Paman yang di Sleman, saya mau berkunjung ke dusun Kinahrejo dan bertemu langsung dengan Mbah Marijan. Saya pribadi sangat mengagumi kesederhanaan, keramahan, kesahajaan, kesholehan, kesabaran, kearifan, kekuatan tekad... dan banyak lagi hal-hal yang saya ingin ambil sisi positifnya dari mbah ini, terlepas dari tuduhan klenik dan segala macam. Saya yakin jika saya bertemu langsung dengan beliau dan keluarganya, saya bisa meyakini atau menafikan paradigma kebanyakan orang tentang mbah marijan selama ini. meski keyakinan saya cenderung pada ; mbah marijan adalah lelaki yang sholeh...

Bayu menulis Mbah Marijan sakit lantaran menerima sekian banyak wartawan dan tamu yang datang ke rumahnya. Ia teramat sederhana dan ramah, sehingga tak satu pun tamu tak diladeninya. Kalau pun ada yang diminta menunggu, itu lantaran para tamu datang pada saat waktu sholat. Hingga larut malam, para tamu dengan berbagai kepentingan silih berganti bertandang ke rumahnya. Waktu itu Hampir semua stasiun televisi dan media cetak tak henti memberitakan sosok Mbah Marijan sebagai tokoh klenik, memiliki ilmu sakti, tak bedanya dengan dukun dan paranormal, dan embel-embel mistik lainnya. Tentang keteguhannya tak ingin turun pun dijadikan sasaran berita hangat para kuli tinta. Yang diberitakan bukan sisi manusiawinya, bukan pula tentang keteguhannya memegang amanah dari Sri Sultan HB ke-IX untuk menjaga Merapi sebaik-baiknya. Berita tentang dirinya, seringkali bernada minor. Bahkan ketika ada yang bertanya, “Mbah sebenarnya Merapi kapan akan meletus?” sebuah pertanyaan dari orang-orang yang mengaku berpendidikan. Berbekal pendekatannya kepada Sang Penguasa langit dan bumi, lelaki bertubuh pendek yang lucu itu pun berucap, “jangan tanya saya, tanyakan kepada Allah. Dia yang mengatur semua, Gusti Allah yang punya kehendak”.

Memang kebanyakan orang di Indonesia suka menggunjingkan seseorang atau tokoh tentang sesuatu yang belum dibuktikan kebenarannya. Apalagi jika ada hub.nya klenik dan sejenisnya--
Kasihan sekali Mbah Marijan. Lelaki renta berusia 80an itu kerap dikenal sebagai orang sakti yang selalu berhubungan dengan para penguasa Gunung Merapi sehingga dianggap tahu kapan waktunya Merapi meletus. Keteguhannya untuk tidak mau turun gunung seringkali ditulis sebagai salah satu bentuk kesaktiannya, dan parahnya tak jarang dia dituduh mempengaruhi warga sekitar lereng Merapi untuk tak mengungsi. “Warga kalau mau ngungsi ya ngungsi saja, saya tak pernah melarangnya,” aku Mbah Marijan.

Sesungguhnya, kata Bayu, Mbah Marijan lelaki shalih yang terus menerus mendekatkan diri kepada Sang Khalik. “Datanglah kepadanya, dan lihat langsung sosok sebenarnya. Jangan pernah percaya berita yang menggambarkan profilnya yang aneh dan jauh dari kesan agamis. Sungguh, kami memang baru mengenalnya. Tapi yang kami dapatkan tentang Mbah Marijan hanya satu hal; ia lelaki shalih yang teramat sederhana.”

Seorang teman pun mendapat nasihat darinya, “Kamu itu harus sering melihat ke bawah, jangan ke atas. Lihat nih Mbah, hidupnya seperti ini. Kasih tahu teman-teman yang hidupnya berlebih, contoh Mbah yang sederhana ini,” sambil memperlihatkan gajinya dari Keraton yang cuma Rp. 5.800,-

Saya yakin, Mbah Marijan bukan sosok penuh misteri, bukan tokoh klenik, bukan pula seperti yang banyak diberitakan di media massa tentang kesaktian dan ilmu-ilmu aneh yang dimilikinya. Lelaki berumur lebih dari 80-an itu adalah orang yang shalih, taat beribadah dan senantiasa merasa dekat dengan Tuhannya. Begitu juga dengan keluarganya, istri dan lima anaknya adalah orang-orang shalih. Bu Had pun mengakui bahwa Mbah Marijan dan keluarga punya semacam TPA Al-Qur’an di desanya. Seorang anak peremuan mbah Marijan merupakan Kader PKS, Dalam http://plixi.com/p/53338306 dapat dilihat Presiden, Sekjen & Bendum PKS bersama mbak mamik (anak alm mbah maridjan) di rmh beliau, ds.serunen.

Soal keengganannya berbahasa Indonesia, mbah Marijan berkomentar, "Saya ini orang kecil, hanya berbahasa menggunanakan bahasa orang kecil. Karena itu, omongan saya didengar oleh orang kecil. Bahasa Indonesia itu hanya dipakai oleh orang besar. Dan bahasa Indonesia itu terkesan sombong, saya tak mau dibilang sombong." Hmm… saya jadi inget ilmu Padi; Semakin berisi semakin merunduk…

Dalam tulisannya yang lain (http://gawtama.blogspot.com/2006/04/mbah-marijan-lelaki-shalih-dari-dusun.html), Bayu gawtama menggambarkan betapa mbah Marijan sangat percaya dengan kekuatan do’a. Pada peristiwa Merapi 2006, Mbah Marijan justru berharap Sultan dan pemerintah daerah mengizinkannya melakukan doa bersama mohon keselamatan agar Merapi tak 'marah'. "Masalahnya, saya diizinkan atau tidak oleh pemerintah kalau saya berdoa kepada Gusti Allah..." tanya Mbah berharap. Pertanyaan yang sesungguhnya tak perlu jawaban dari Sultan atau pun pemerintah setempat. Karena bagi Mbah Marijan, yang dimaksud doa bersama itu tidak mesti membuat acara besar seperti layaknya acara 'selamatan' di kampung-kampung dengan mengundang banyak orang. "Cukup semua masyarakat bersama-sama berdoa, boleh dari rumahnya masing-masing, meminta kepada Allah agar Merapi tak jadi meletus," tambah Mbah.

Djoko Sukahar (http://www.detiknews.com/read/2010/10/27/165239/1476814/103/selamat-jalan-mbah-maridjan?nd991107103) menulis tentang Keakraban dan sifat humoris Mbah Marijan, namun jangan dikira sebagai cerminan dia gampang kompromi. Dia adalah tipe orang yang sulit dipengaruhi, terutama jika untuk tujuan tidak baik. Di balik kalimat-kalimat jenakanya, sang mbah sangat tegas bersikap.

Itu terjadi ketika lumpur Lapindo menggelegak. Ada serombongan orang datang meminta tolong. Mbah Marijan jujur bilang dia tidak bisa melakukan itu. "Saya ini juru kunci gunung, saya tidak bisa menyumbat keluarnya lumpur," jawab Mbah Maridjan dalam bahasa Jawa. Gagal mempengaruhi Mbah Maridjan, rombongan itu datang lagi sebulan kemudian. Kali ini bukan dengan orang yang sama, tetapi melalui perantara yang mempunyai kedekatan khusus dengan sang mbah. Apa jawabnya? "Pokoke aku emoh metu teko kene. (Pokoknya aku tidak mau meninggalkan lereng Gunung Merapi). "

Benar-benar kearifan lokal yang ada di negeri ini, terbukti mampu membuat harmonis antara alam dan penghuninya...

Meski Mbah Marijan sudah meninggal namunt tetap mempunyai pengaruh yang luar biasa. Ini ditunjukkan dalam prosesi pemakanannya yang dihadiri ribuan orang, termasuk sejumlah tokoh nasional. Hal ini karena Mbah Marijan memiliki pesona, karakter dan sosok yang mampu mewakili nilai-nilai luhur. Ya, Sosok Mbah Marijan telah melekat di hati masyarakat. Ia memiliki kesetiaan, tanggung jawab dan kejujuran. Ini sebuah nilai yang dibutuhkan masyarakat.

Bahkan PT. Sidomuncul menegaskan bahwa royalti iklan kuku bima (mbah marijan) akan diberikan selamanya meskipun kontrak iklan tersebut akan berakhir 1,5 tahun lagi. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan atas nilai-nilai yang diperjuangkan Mbah Marijan. Sosok tokoh nyentrik ini dinilai sudah menjadi legenda sehingga mampu membetot perhatian masyarakat Indonesia. “Kami juga akan membantu pembangunan rumah bagi keluarga Mbah Marijan setelah keadaan aman,” kata Pihak PT. Sidomuncul.

Loyalitas dan Pengabdian Mbah Marijan menjaga Merapi telah teruji. Keputusan tak bersedia mengungsi itu dapat dipahami. Sikap Mbah Marijan tersebut merupakan konsistensi abdi dalem untuk terus menjaga Merapi meski nyawa menjadi taruhan. Benar-benar sebuah pembelajaran untuk sebuah pengabdian yang tulus dan loyalitas yang sepanjang masa.


Wallahu'alam bi shawab
*tadinya saya berharap Review ini saya tuliskan sebagai laporan (atau lebih tepatnya, cerita) pertemuan saya dengan mbah marijan dan keluarga… namun ternyata saya hanya bisa mengulasnya melalui sumber sekunder… *

Selamat Jalan Raden Ngabehi Surakso Hargo
Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah…