Showing posts with label pare. Show all posts
Showing posts with label pare. Show all posts

Friday, 16 March 2012

Kopdar Cherry's girls


watch out!

I never met them after I've been in Jakarta.
If longing is a sketch, I swear that my book will be fully sketched.

Our first meet time in Pare, I hope this's not my last meet time.
and you know....

Friends are like baloons.
If you let them go, you cannot get them back.
So I'm gonna tie you to my heart, and I will never lost you.

Only with a little picture I attempt to revive and keep survive your mind about ours.
Luv you friends :-*


Thursday - March 15, 2012
at Grand Indonesia, Bunderan HI Jakarta
Taken by Sony Ericsson W20 (Zylo)

Monday, 23 January 2012

Step One - Class D

It's been three weeks since these was taken...

This morning, one of classmates called me. my mind flew to the time when we studied in step one class (one of speaking class in Daffodils).

we studied...
we spoke...
we sang some songs...
we made chit-chat...

we had efforts to get a self confidence in spoken english,
we talked about our dreams,
we discussed about matter,
we have been catching the rainbow,

we spend our time together at the side of field,
we did study club while ate 'ketan susu',
we did something crazy with our ideas,
we felt comfort one another,

we are different but we are united
Luv you and miss you friends...
Hope we do reunion in better ours...



Note: not included in these picts --> azzam, sukma, nie, oi, lukman, rizky, nur, mai... and some (because you rarely presented guys!)

Tuesday, 17 January 2012

Welcome to Jakarta (again)


Pengembaraan setahun ini akhirnya (harus) berakhir. Meski sebenarnya ingin lebih lama di Pare, tapi...
Tidak seperti saat berangkat, pulang kali ini saya tidak sendiri tapi ditemani dua sahabat saya; Asti dan Ijma (baca: Jaim). Kebetulan mereka diterima kerja di sebuah BUMN di Jakarta, dan harus segera masuk kerja pada hari kamis pekan ini (awalnya). Sedangkan saya, waktu cuti saya seharusnya berakhir pada Jumat pekan lalu, tapi masih banyak yang harus saya pelajari di Pare... jadi saya *nekat* tetep stay in Pare :D

Kelas IELTS yang saya ambil baru akan berakhir pada akhir pekan ini. Saya sendiri baru belajar writting, listening, dan reading (3 dari 4 skills IELTS). Kalau kata teacher IELTS saya, "orang yang ngambil IELTS itu speakingnya pasti udah bagus." huufff... gitu yaa....
Khusus skill reading, teacher saya (Mr. Eddy) mengajari secara khusus di hari ini - terakhir saya berada di Pare. Thanks sir... hmm, masih banyak yang harus saya pelajari ternyata. Saya masih harus belajar otodidak di Jakarta.

Rasanya saya tidak siap untuk pulang hari ini...
terlalu sayang untuk meninggalkan Pare dengan segala aktivtasnya...
terlalu berharga pelajaran-pelajaran yang saya tinggalkan...
sama seperti yang dirasakan beberapa teman...
.....
ditambah lagi essay yang saya buat belum finishing, baru 90%. Juga masih ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dengan teacher writting saya yang sangat baik...
meski tidak siap tapi keputusan untuk meninggalkan Pare hari ini sudah bulat.
Karena kami harus melanjutkan hidup... *lebay mode on*

Kami berangkat dari Kediri (rumah Asti) dengan dilepas oleh keluarga Asti yang selama ini sangat baik kepada saya dan teman-teman. Tentu saja kami dibekali makanan yang sangat lezat, yang dimasak khusus oleh ibunya Asti. Subhanallah... semoga suatu saat saya dapat membalas kebaikan mereka.

Dengan menaiki elf, dan bawaan yang seabrek banyaknya, akhirnya kami sampai di stasiun Jombang sesaat sebelum Kereta Bangunkarta berangkat. Segera kami mengikuti Jaim menuju gerbong yang telah kami pesan *maklum yang pesan tiket Jaim. Saya dan Asti tidak tahu di gerbong mana tempat duduk kami*. Lega juga setelah sampai di kursi yang telah ditentukan... kereta executive ini memang nyaman banget. No wonder semaleman perjalanan kami tidur nyenyak *mungkin juga karena lelah*.

Saya terbangun saat subuh, saat kereta memasuki Bekasi *kalau tidak salah*. Sedih juga sih menyadari sudah sampai di Jakarta lagi... akhirnya harus balik lagi di kehidupan Jakarta beserta pernak-perniknya. Pengembaraan ini benar-benar berakhir, bagi saya dan Jaim (we are Tangerangnese). Tapi bagi Asti (Parenese), pengembaraannya baru saja dimulai...
Welcome to Jakarta Asti, semoga betah tinggal di sini ^___^
and... welcome to Jakarta (again) Lia -_-"

Sesampai di Stasiun Pasar Senin (telat 30 menit dari waktu yang dijadwalkan) kami segera bergegas meninggalkan stasiun, menuju tempat tujuan masing-masing *rumah*. Tapi sebelum berpisah tidak lupa we take our pictures. Dan untuk saya, hari ini saya harus masuk kantor. So, tidak ada waktu banyak untuk bersantai-santai. Terbayang tugas-tugas yang harus saya kerjakan di kantor maupun di lab, ditambah lagi perbaikan essay yang belum selesai... dan utang tulisan tentang Pare di blog ini...
Tetep semangat!


Saturday, 24 December 2011

Caving to Goa Surowono


Pagi ini sangat indah
Ditambah lagi karena semua kursus hari ini libur, makin menambah indah hari ini
Karena itu saya dan Wulan memutuskan untuk sarapan di saung pinggir sawah, sambil menikmati ketan susu dan secangkir nutrisari dingin. Saung ini tempat favorit teman-teman sekelas saya di kelas speaking Daffodils. Selain tempatnya dekat dengan Daffodils, pemandangan dari sini sangat indah dan teduh, karena adanya pohon-pohon yang menaungi dan angin semilir yang selalu menghampiri. Pokoknya great banget deh berada di sini

Setelah puas menikmati ketan dan ngobrol-ngobrol, kami tertarik untuk menyusuri jalan sawah ini. Sayang banget soalnya kalau pagi yang indah dan tidak begitu panas ini hanya dihabiskan di dalam camp. Akhirnya kami mengendarai sepeda kami tuk menikmati keindahan sawah, kebun tebu, kebun jagung, juga bayangan gunung nan jauh di sana... and take pictures tentunya *dasar deh orang Jakarta norak banget yak*

After that, tanpa direncanakan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Goa Surowono (caving = menyusuri gua). Ini sebenernya perjalanan yang nekat banget *bukan Lia kalo gak nekat*. Pertama kita gak tau tempat itu dimana, kedua kita gak ada persiapan dan perbekalan, bahkan kami tidak bawa air minum dan perlengkapan gowes, ketiga tempat itu jauh (kata teman yang pernah kesana). Yah.. bayangin aja gimana rasanya mengayuh sepeda selama 35 menit dengan hari yang makin siang dan mentari makin terik, pastinya seru banget

Setelah nanya-nanya pada beberapa orang yang kami temui di jalan, akhirnya kami sampai pada Goa Surowono. Sempet kaget juga awalnya, karena yang ada di pikiran kami, Goa Surowono ini seperti goa yang ada di bukit-bukit... saya gak percaya juga waktu seorang ibu penjaga warung dekat sana bilang, "itu goanya udah deket kok. Itu di belakang rumah itu." katanya sambil menunjuk sebuah rumah yang tidak jauh. Saya spontan bergumam, "masa goa di belakang rumah yak..."

Kami akhirnya tetap mengayuh sepeda hingga ke tempat yang ditunjukkan ibu tersebut, meski sebenernya gak percaya juga sih, hehe...
Tapi ternyata yang dibilang ibu itu benar. Goanya ada di belakang rumah! Untuk masuk, kami hanya bayar 500 rupiah seorang, penitipan sepeda hanya 1000 per orang. Hmm... murah juga ya... ditambah tadi kesini cuma pake sepeda, murah betul deh...

Setelah melihat goa yang dimaksud, saya dan wulan tercengang! Karena ini goa air bawah tanah (dari mata air). So, untuk masuk dan menyusuri goa pasti kami bakal basah-basahan. Padahal kami gak bawa baju ganti... ditambah lagi kami tidak membawa senter di track yang sempit dan gelap *namanya gak niat*. Tapi sayang juga kalau udah jauh-jauh kesini tapi gak masuk ke goa... Tapi melihat seorang bapak dan anak kecil turun untuk menyusuri goa, kami jadi semakin mantap untuk mengikuti ekspedisi ini *ciyee... gaya banget dah*.

Dengan didampingi 2 guide, saya, wulan, dan tiga orang lainnya berjalan menyusuri goa. Saya sudah merelakan semua pakaian saya basah. Padahal saat itu saya mengenakan jaket jeans yang jarang sekali saya pakai (males nyucinya). Tapi yang paling penting adalah mengamankan HP dan dompet kami yang tidak mungkin kami titipkan. Saya memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menjaganya agar tetap kering. Oiya, tip untuk guide ini sebesar 1000 rupiah untuk setiap pengunjung.

Dan caving pun dimulai... Air yang tingginya sepinggang saya ini sangat jernih, juga banyak ikan-ikan kecil di dalamnya.

First, masuk ke Goa pertama. Bener-bener gelap! hanya ada secercah cahaya yang berasal dari senter kecil sang guide. kami berjalan beriringan, aku berjalan di belakang wulan. Saya lega karena di belakang saya ada seorang guide. Soalnya tempat ini bener-bener sempit, gelap, basah, dan sunyi! Kami berjalan sangat hati-hati karena *katanya* banyak batu/kerikil tajam. Saya sendiri bersyukur karena memakai sendal gunung setiaku, jadi gak masalah dengan batu-batu tersebut.

Second, memasuki Goa kedua, lebih sempit dari Goa yang pertama. Kami berjalan merunduk, bahkan kadang sangat merunduk karena atap langit goa sangat pendek. Saya bahkan beberapa kali kepentok atap goa. Disamping goa ada semacam ceruk/ruangan yang dulu *konon* digunakan untuk bertapa.

Third, memasuki Goa ketiga. Airnya  deras, tingginya sedada. Bener-bener harus hati-hati. Di goa ini kami berjalan sambil jongkok di lorong super sempit berliku. huff...kok kaya latihan tentara yak? Bismillah.. Alhamdulillah bisa…

Di goa ini banyak jalan bercabang, ini yang bisa bikin orang tersesat (inilah fungsinya guide) karena sebagian ada jalan buntu. Mungkin bukan buntu, tapi tertutup dan sengaja tidak dibuka. Berdasarkan berita yang saya baca, dulu pernah ada sesepuh yang membuka lorong yang tertutup di dalam gua, kemudian ia terserang semacam penyakit. Jadi gak ada lagi yang berani membuka pintu lorong gua yang tertutup. Mungkin kalau di film-film piramida mesir, itu kayak semacam kutukan kali, hehe.... Tipsnya sih, kalau banyak jalan bercabang di dalam gua, ikuti kemana air mengalir saja. Itu kuncinya!!

Masuk Goa ke-4??!! Hmm.. rasanya cukup sampai sini saja. Karena memasuki jalur ke-4 kita harus caving sambil merangkak, atau renang karena atap goa sangat rendah sekali. Ketiga orang yang caving bersama kamipun menyerah tuk melintasi goa ke-4 ini... Mungkin next time bisa dicoba

Sedangkan untuk track Goa 4 menuju Goa 5 dilarang dilewati. Untuk yang satu ini saya tidak tahu alasannya. Saya hanya membacanya di poin pengumuman yang ditempel.

Gua Surowono ini berada di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, yang konon merupakan sistem kanal, bagian dari Candi Surowono, yang telah ada sejak jaman Kerajaan Kediri. Ini adalah caving gua air pertama saya. Saya senang sekali bisa melewatinya dengan baik, dan tentunya saya bersyukur kepada Allah karena atas izin-Nya kami bisa kembali dengan selamat... Alhamdulillah..

*next week mudah-mudahan bisa berekspedisi lagi ke tempat-tempat wisata yang unik di sekitar Kediri ini* ---> Sempu Island

Friday, 23 December 2011

Sempoa Class: Berhitung itu menyenangkan

I just finished my scoring 

Untuk kali ini kursusnya gak ada hubungannya dengan bahasa Inggris... kursus sempoa!

Sebenernya waktu saya memutuskan tuk mengembara ke kediri, tidak pernah terpikir tuk ikutan kursus ini. Begitu menginjakkan kaki di desa ini saya melihat berbagai spanduk kursus, salah satunya adalah spanduk Sempoa Cerdas Indonesia (SCI) yang terpasang di pinggir Jalan Asparaga. Entah mengapa tiba-tiba terbersit keinginan tuk daftar di kelas sempoa...

Seiring dengan berjalannya waktu dan berjalannya kelas2 yang saya ambil, saya hanya bisa menyimpan niat itu di dalam hati... rasanya dengan waktu belajar yang sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia... eh, maksudnya padat, tidak mungkin tuk menambah course di sini lagi.
Tapi semua berubah, sejak negara api menyerang! hehe,, bohong banget 
Di hari ke-6, setelah selesai kelas speaking, saya menyempatkan diri gowes sepeda to asparaga. Awalnya hanya berniat nanya2 tentang programnya saja... kebetulan saat itu ada Ki Ipud (Master of Number) pemilik SCI ini. Setelah bicara dengan beliau, akhirnya saya mengubah niat saya menjadi: Mendaftar kursus sempoa. Menurutnya, saya sudah ketinggalan satu minggu untuk kelas baru ini. Maklum semua kelas di Pare dibuka setiap tanggal 10 atau/dan tanggal 25 tiap bulannya. Tapi katanya, "kebetulan Sabtu-Minggu ini akan ada rombongan guru dan pendamping dari Blitar untuk ikut DIKLAT Sempoa aritmatika ini. Jadi mba bisa ikut. Untuk kekurangan materinya, nanti mba bisa ambil di kelas reguler." Bagi saya itu hal yang bagus... setidaknya saya tidak perlu ambil banyak waktu untuk kursus ini 

Mengenai pendaftaran, saya pikir disini sangat murah. Hanya 99 ribu rupiah saja kita sudah bisa belajar sempoa aritmatika dari ahlinya dan mendapat trik menghitung cepat serta mathmagic. Kalau di Jabotabek mungkin harganya bisa 5 - 10 kali lipatnya! Menurut Ki Ipud, ia sudah terjun untuk mentraining ke kampus-kampus sejak tahun 2002. Sekarang pun Departemen Agama menggunakan metode temuannya (Abacus 99) untuk dimasukkan dalam kurikulum matematika SD/MI, kedepannya kemungkinan besar diknas pun akan melakukan hal yang sama. Pada tahun 2005 sebenarnya biaya kursus sempoa sudah 300 ribuan, tapi sekarang cuma 99 ribu. Ketika seorang teman menanyakan, "kenapa gak naikin harga pak?"
"saya tetep pada harga 99 ini karena disinikan kursus-kursus harganya rata-rata segitu.. gak apalah, yang penting berkah..." katanya sungguh2, "saya juga dapet koneksi orang depag dan orang LKS (buku latihan murid SD) kan juga dari kursus ini." lanjutnya. Ki ipud memang orang yang sangat bersahaja. Padahal menurut saya beliau adalah orang yang sangat hebat dalam soal angka. Gak kalah deh dengan Joe Shandy yang bergelar master of number. Beberapa kali beliau menunjukkan atraksi mathmagic seperti yang dilakukan Joe Shandy, Deddy Corbuzeir, dll. Ternyata semua sulap-sulap tersebut bisa dijelaskan secara matematika! Saya jadi teringat saat seorang teman kantor memperagakan mathmagic ini yang membuat semua orang yang ada di sana saat itu tercengang... ternyata semua memang ada triknya.

Motivasi saya pertama kali ikut kelas ini adalah untuk kepentingan saya pribadi. Bagaimana saya bisa menghitung cepat dan bermain logika. Tapi setelah saya mengikuti Diklat bersama para guru/ calon guru/ pendamping matematika dari Blitar, saya merasa sangat disayangkan jika ilmu ini hanya untuk saya sendiri... Saya pikir saya harus mengajarkan ilmu ini kepada adik-adik saya, juga anak saya kelak. Bukankah itu akan menjadi ilmu yang bermanfaat? apalagi usia terbaik untuk belajar sempoa aritmatika ini adalah usia 6 sampai 9 tahun. Karena saat itu adalah saat terbaik untuk membentuk mental, pola pikir, dan membangun logika anak. 

Saya jadi bisa memahami mengapa Pak Slamet (teman sekelas saya) bela-belain ikut kelas ini agar bisa mengajarkan ilmu ini kepada anaknya, padahal sebagai kepala rumah tangga ia sibuk bekerja. Bahkan saat ia sakitpun, untuk kelas sempoa ini dibela-belain masuk (padahal kerja aja tidak masuk).. "supaya saya bisa ngajarin sempoa ini sama anak saya mba... kalo anak saya yang belajar kesini kan gak mungkin. Soalnya rumah saya jauh dari sini dan anak saya masih kelas 2 SD sekarang..." begitu katanya.... Bener-bener a great father! 

Mental Aritmatika Sempoa memang telah terbukti dan sangat berguna sebagai dasar pengembangan kerangka dan cara berpikir seorang anak. Mental Aritmatika dapat digunakan untuk mengoptimalkan fungsi otak, sehingga anak dapat menghitung cepat, hanya dengan pemikiran otak saja (lebih cepat dari kalkulator). Mental Aritmatika diajarkan dengan menggunakan instrument khusus yang disebut Sistem Abacus atau sempoa. Sistem ini terbukti sangat berguna dalam meng-optimalkan fungsi-fungsi otak (otak kanan khususnya) seorang anak pada masa pertumbuhannya yang meliputi daya Analisa, Ingatan, Ketahanan, Logika, Visi, Kemandirian, Ketekunan, Penemuan dan Penerapan. Dengan memahami disiplin dasar eksakta ini, seorang anak diharapkan dapat menguasai dan menggunakan secara optimal seluruh potensi dan kreativitas yang ada pada dirinya dalam menyerap ilmu - ilmu lanjutan dan menjadikannya seorang manusia yang tekun dalam menghadapi kehidupannya sehari-hari. (Reff)

Di tempat kursus Sempoa Cerdas Indonesia ini selain diajarkan tentang menggunakan sempoa dalam penjumlahan dan perkalian, juga diajarkan trik menghitung cepat penjumlahan, perkalian, pembagian, dan akar tanpa menggunakan coret-coretan. Salah satu materi aplikasi yang menarik adalah tentang Kotak Magis Melankolis, dimana kita harus mengkombinasikan angka-angka agar jumlah kotak yang mendatar dan menurun sama... sangat menyenangkan 
 Kita juga diajarkan teknik menghitung cepat yang syaratnya:
1. Menggunakan nilai tempat "dan".
2. Hafal penjumlahan 1 - 9.
3. Hafal perkalian 1 - 9.
4. Mampu menyimpan angka dan menjumlahkan kembali.
5. Menjumlahkan hasil kali langsung.
Kalo lima syarat di atas sudah terpenuhi, dijamin bakalan pede untuk nantang Joe Shandy

Berhitung itu memang menyenangkan 
Matematika juga tidak menakutkan 

Hope i pass the exam ^_______^

Friday, 16 December 2011

Gowes to The Courses


S.e.p.e.d.a.
Sewaktu SD dulu aku selalu menggunakan sepeda untuk berangkat ke madrasah.
Setelah itu, aku tidak lagi menggunakan sepeda.
Tapi sekarang aku harus menggunakannya lagi.

Tentang sepeda,
Aku merasa bersyukur karena bisa mengendarainya. Karena di sini, sepeda sangat dibutuhkan untuk mengantar kita belajar dari satu tempat kursus ke tempat kursus lainnya. Gak kebayang gimana kalo gak bisa naik sepeda di sini... Maklum, rata-rata disini kami mengambil kursus di lebih dari satu tempat. Saya sendiri mengambil di tiga tempat yang letaknya jauh-jauh satu dengan yang lainnya. Bukannya tanpa perhitungan, tapi ini soal menyesuaikan kebutuhan dengan waktu yang tersedia.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, awalnya saya merasa sangat lelah mengendarai sepeda (padahal jaraknya belum terlalu jauh) bahkan sempat berfikir untuk menyewa motor saja, meski pada akhirnya saya tetap menyewa sepeda *karena di sini tidak ada penyewaan motor*. Seiring dengan berjalannya waktu *jiahhhh* saya merasa ringan untuk mengayuh sepeda, tidak seperti pertama saya di sini yang memerlukan banyak ember untuk menampung keringat *lebayyyy*.

Biaya sewa sepeda di sini cukup murah, hanya 50-60 ribu rupiah per bulan. Untuk sepeda yang agak baru mungkin sekitar 70-80 ribu. Jika kita mau sepeda baru, biasanya pemilik bisa membelikannya dan kita hanya bayar biaya sewa 100rb per bulan. Saya memilih sepeda yang biasa2 aja. Disamping lebih murah, juga mudah disimpan (aman). Tapi keamanan sepeda di pare cukup baik kok. Kami biasa meletakkan sepeda di halaman camp, tempat kursus, rumah makan, dan tempat lain tanpa dikunci atau dengan kunci menggantung... Alhamdulillah everything's gonna be okay.

Masalah yang kerap dihadapi dalam dunia persepedaan disini adalah kempes ban. Ini hal yang sering dialami oleh pelajar2 di sini. Mungkin karena *ternyata* Pare ini panas banget! sedangkan parking lot for bicycles yang tersedia sedikit yang beratap, so sepeda dibiarin aja tergeletak di sana beratapkan langit bermandikan terik mentari. Panas matahari membuat ban sepeda memuai, dan angin bisa keluar. Jadi baiknya, letakkanlah sepeda pada tempat yang teduh.

Anyway, bersepeda membuat kita sehat. Badan kuat dan betis berotot, hehe...
Saran dari penulis *aku*, if you wanna plan to study in Pare, you sholud be able to ride a bike


Thursday, 15 December 2011

Saat absen jadi pilihan


I feel so guilty... because i can't attend the class.
Sudah tiga hari ini (selama saya di sini), pare selalu diguyur hujan setiap sore. Saat saya hidup di Bogor, hal ini pun hampir setiap hari terjadi... No wonder if Bogor is called Kota Hujan. When i was in Bogor, i never feel hard to attend my class in spite of rain. I usually bring my umbrella wherever i go and i can use it to go anywhere by foot. Di Pare, saya merasa hujan merupakan sesuatu yang meresahkan. Bukannya tidak mensyukuri rahmat Allah, tapi *for now* dengan hujan saya merasa benar-benar tidak berdaya 

As you know, the main transportation that we use here is bicycle, alias sepeda. Jika hujan turun, bisa dipastikan hampir semua murid yang menggunakan sepeda memilih untuk diam di camp, menunggu hingga hujan berhenti untuk keluar. Dengan jas hujan, tidak seperti motor yang bisa membawa pengendaranya menerjang hujan dengan tidak *atau sedikit* basah, pengendara sepeda akan tetap mengalami kebasahan (terutama baju bagian bawah). Dan disini sangat sedikit pengendara sepeda yang mempunyai jas hujan, termasuk saya 
Ditambah lagi kelas saya sore ini berada jauh dari camp (no recommended kalo ditempuh dengan berjalan kaki) pastilah akan basah kuyup kalau tetap berangkat... hiks, i don't have anychoice

Tidak masuk kelas karena hujan rasanya bukanlah alasan. Tapi saat ini tak ada pilihan lain *curcol mode on*. Mungkin esok saya harus lebih jeli lagi berpacu dengan hujan untuk sampai di kelas. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang lagi....



Cherry EC, 4:20 PM
*ditulis dengan menggunakan Sisma's Notebook diiringi suara Michael Learns to Rock*
Semoga seiring banyaknya air hujan yang turun, banyak pula rahmat-Nya yang diturunkan ke Bumi

Friday, 9 December 2011

Pareee.. I'm commin'

Setelah tidur siang selama 4 jam, barulah sy bisa menulis blog ini. Iwas so tired.. Maklumlah pengembara sebatang kara di negeri orang

Perjalanan naik kereta sungguh melelahkan. Pertama kalinya naik kereta jarak jauh seorang diri, ke tempat yg blm pernah di kunjungi.. Rada cemas juga sih awalnya. But show must go on.. Pede aja deh.


Berangkat sendiri dari rumah menuju stasiun pasar senin dengan backpack dan tentengan segede gaban. Berharap dapet temen duduk yang baik di kereta. Soalnya takut juga mendengar banyak kasus kejahatan di kereta. Setelah menemukan kursi 14D di gerbong 1 bisnis, saya ambil posisi duduk. Tak lama, datanglah seorang pemuda dengan sebilah pedang bersarung *samurai banget*. Kaget jg awalnya dapat teman duduk laki2, tp sy kemudian menyadari bahwa sy hanya berdoa meminta teman yg baik (tanpa menyebut laki2 atau perempuan). Ya sudah, husnuzhon saja bahwa ini yang terbaik... dan alhamdulillah memang dia teman yang baik, sopan, dan tidak macem2. Sayapun bisa tidur nyenyak meski beberapa kali terbangun oleh deru kereta sebelah.

Berangkat dari pasar senin jam 3 sore hari Jumat, Kereta Senja Kediri ini sampai di stasiun kediri hari Sabtu jam 5 pagi, telat 45 menit dari yang dijadwalkan. Setelah turun dari kereta, seorang bapak tua menyambut (yang ternyata tukang becak), "mau ke kampung Inggris?" saya mengangguk dan memilih naik becaknya. Dengan ongkos 10 rb, saya diantar menuju angkot tujuan kampung Inggris. Di angkot saya bertemu dengan orang-orang yang ingin kursus di kampung inggris juga. Mereka ada yang dari Semarang, juga dari Yogyakarta. Biaya angkot ini sebenarnya hanya 7rb, tapi entah kenapa dengan uang 20rb, saya hanya menerima kembaliannya 10rb, tapi saya gak mau ambil pusing.

Biasanya sopir di sini selalu menanyakan, mau turun di BEC atau Mahesa. Dua tempat kursus yang awal-awal didirikan di sini. Saya memilih turun di BEC dan naik becak menuju kost Cherry Queen Land (english camp). Lumayan jauh juga kosan itu dari BEC, harusnya saya turun di Mahesa *kata orang-orang di sana*. Biaya ongkos becak tadi hanya 7rb. Setelah bertemu Miss Iffa (pengurus kosan), saya menuju kamar yang disediakan.

Di kamar, ternyata sudah ada room mate saya; Sisma dan Naya. Sisma sedang asik membuka aplikasi english dictionary, sedangkan Naya sedang belajar untuk test score (Naya sudah sebulan lebih di sini). Saya memang sengaja memilih english camp agar bisa lebih banyak speaking in english. Udah jauh2 dateng ke sini, sayang aja kalo gak all out di sini. Sebelumnya saya sudah pesan kamar di sini melaui phone. Karena kalau pesannya setibanya saya di Pare, khawatir penuh tempatnya...

Setelah beres-beres barang dan mandi, saya menuju kantin depan. Lapaaarrr banget... maklumlah perjalanan jauh. Di sana saya berkenalan dengan Beatrice, Ega, miss Austin (instruktur di kosan ini yang juga ternyata akan menjadi instruktur saya di kelas speaking di Daffodils). Noted, saya makan nasi, telor dadar, dan sayur, plus teh manis hangat biayanya hanya 6000 rupiah.

Saya perlu konfirmasi kursus yang saya daftarkan, maklum sebelumnya saya hanya daftar by phone dari Jakarta. Ada beberapa yang sudah saya transfer biayanya, ada juga yang belum saya bayar. Target saya hari ini adalah ke tempat kursus Daffodils, Marvelous, dan Elfast. Hmm.... dimana pula tempat-tempat itu. Saya mulai bertanya-tanya lokasi tempat2 itu pada orang2 yang baru saya kenal.

Kebetulan Beatrice mengajak saya tuk berkunjung ke Daffodils. Tempatnya tidak jauh dari kosan, tapi karena siang hari ini cukup panas, Beatrice meminjam motor Naya tuk kesana. Daffodils sendiri letaknya dekat sawah. Pemandangan di sana so beautiful....

Sebenarnya niat ke ATM juga tuk mengambil persediaan 'perbekalan', tapi ternyata jauuuhh atm nya... fortunatelly, ada seorang anak kosan yang minta anterin ke Elfast for scoring *kebetulan nih saya juga berniat kesana*. dengan meminjam motor Naya lagi, akhirnya kami berangkat ke Elfast. Ternyata jauh juga tempatnya dari kosan Cherry.. mesti menyebrang Jalan Brawijaya... kebayang deh nanti kursus writting saya yang baru selesai jam 8 malam, hiks...

ATM sendiri letaknya juga lumayan jauh dari Elfast, sekali lagi saya bersyukur dapet pinjeman motor ini. Kalo gak, mungkin gempor deh saya :D maka segeralah saya mengambil uang se-lebih-dari cukupnya *supaya gak kesini lagi.... jauuuhhh*

Setelah sukses keliling dengan motor pinjaman, segeralah saya menuju kasur... capeee.... dari tadi belum istirahat. Niatnya masih mau ke Marvelous, tapi saya udah keburu terlelap... lama pula *4 jam*. Sampai Wulan yang udah bolak-balik ke kamar (mau join in the room) geleng-geleng kepala, " ini orang tidur atau tidur ya??" wakaka.....
Oya, Naya akhirnya pindah ke kamar depan bersama Beatrice. So, wulan joins us ^__^

Bangun tidur ku terus mandi, eh ngga ding. Bangun tidur kulangsung keliling kampung *lagi* bareng Sisma, Wulan, dan Nita. Tapi kali ini naik sepeda lho.... sumpehhh... cape benget! *entah karena saya udah lama gak naek sepeda atau karena sepeda ini memang keras dikayuhnya yaaa?" ditambah nyasar-nysar pula... bener-bener olahraga sore ini mah -_-"

Jalan-jalan hari ini ditutup dengan makan malam di Klasik Cafe, tidak jauh dari kost. itung2 sekalian hunting tempat-tempat makan yang enak di sekitar sini. Berikut foto-foto kita ^__^

                                                          Me and Wulan

                                                       Sisma and Wulan