Tuesday, 19 November 2013

Di suatu sore yang cerah...

55 from PTM

Kedua kalinya foto bareng berempat...
Maksudnya ntar ada ketiga kalinya, keempat kalinya, kelima kalinya... hehe
Jadi kepikiran kasih nama geng 55 PTM ini :p

Pagi-pagi gini akuh semangat posting foto ini di blog tercintah, karena baru buka whatsapp yang dikirim pa giri :D

Pada posting foto kali ini akuh mau ceritain per personalnya:
yang paling kiri itu akuh, tampak keren sambil menyembunyikan ke-chubby-an
selanjutnya pak dody, tampak cool
lalu mas oka, tampak seperti mahasiswa padahal udah lulus ke-master-annya. Gayanya mengalahkan daku yang masih mahasiswa
daaan terakhir adalah... pak giri yang tampak senang sekali difoto hehe... *peace pak
Thanks to Ika yang udah bersedia motret kita ^^

Btw bajunya pak giri dan pak dody sama kayak difoto sebelumnya yak :D

#Kompak terus

Yo, segitu aja postingan pagi ini ~ udah jam 5:53 pagi!
Bersiap dan selamat bekerja lagi!
yang ngantor.. ke kantor
yang ngelab.. ke lab
yang ngampus... ya ke depok :D

Monday, 11 November 2013

Gak sengaja kompak

akuh, pa giri, mas oka, pa dody
#gaksengaja #kompak

ahahahaha.... inilah group 55 dari PTM.
Maksudnya penumpang jemputan BP*T yang nomor 55 (rute Ciledug-Serpong).

Jadiiii ceritanya... setiap sore kan kita selalu berdiri di depan Depo Bangunan (sebutan sopir 55 buat lab kuh..) buat nunggu diangkut jemputan. Naah, hari ini tanpa sadar kita berdiri berbaris gini. Miriip kayak orang ngantri! Kebetulan mba hen yang lagi duduk di kursi post satpam melihat kita. Akhirnya... ya difoto gini deh '-_-

Hehe emang bener-bener gak sengaja #kompak berpose begini nih :D


Wednesday, 30 October 2013

Percayailah yang terbaik

mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang
akan menarik keluar yang terbaik dari mereka
berbagi senyum kecil dan pujian sederhana
mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa
atau membuat sekeping hati kembali percaya
bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik



Lelaki itu menyipitkan mata di terjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.
Di pintu biara, Rahib ahli badah itu menyambutnya dengan wajah datar. Lisannya terus berkomat-kamit. Rahib itu masuk sebentar dan keluar dengan dua gelas logam di tangannya. Dia letakkan salah satu di hadapan si lelaki, dan gelas lain dia genggam dengan dua tangan. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang menguar bersama asap.
“Rahib yang suci,” kata si lelaki. Dia diam sejenak lalu mengunjal nafasnya panjang-panjang. “Mungkinkah dosaku diampuni?”
Rahib itu tersenyum setengah menyeringai. “Memangnya apa khilafmu?”
Agak tercekat dia menjawab. “Aku telah membunuh,” katanya, “Sebanyak sembilanpuluh sembilan jiwa.”
Hampir saja gelas di tangan sang rahib jatuh. Matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.
“Mungkinkah dosaku diampuni?” lanjut si lelaki sambil menatap harap-harap. Tangannya cemas menggaruki permukaan gelas logam. Dia lalu menunduk menanti sabda. Tetapi Rahib itu memalingkan muka. Rautnya tampak tak suka. Lelaki itu menangkap mimik jijik di garis-garis wajah sang Rahib. Sayup dia menggumamkan sebuah ayat dalam Taurot, “Membunuh satu jiwa sama artinya membinasakan seluruh jiwa, memusnahkan segala kehidupan. Sembilanpuluh sembilan… Sungguh dosa yang tak terperikan. Tak terampunkan.”

Entah mengapa si lelaki pembunuh tiba-tiba disergap benci yang bergulung-gulung pada si Rahib. Batinnya yang luka dan tersiksa oleh dosa serasa disiram cuka yang memedihkan mendengar gumam itu. Cara Rahib itu memperlakukannya, bersikap, berkatakata, dan menjawab tanya seolah mereka dibatasi dinding tak tertembus. Si Rahib suci. Tanpa dosa. Dan dia adalah lelaki hina, najis, tak terampuni.
Sekuncup harap yang tadi bersemi, kini gugur disengat api. Maka sekali lagi syaithon mengalahkannya. Dalam detikan saja, pedangnya telah memenggal si Rahib, membelahnya menjadi dua. Dan dia disergap sesal yang jauh lebih menyakitkan. Genap sudah seratus nyawa. Darah sang Rahib yang mengalir merah terlihat bagai neraka menyala, siap membakarnya. Dia tergidik. Dia beringsut mundur. Nafasnya tersengal, jangganya terasa tercekik hebat, keringat dinginnya merembesi baju. Dengan tenaga yang dihimpun sepicak-sepicak, dia berlari. Terus berlari. Untuk beberapa waktu, dia bersembunyi. Tapi dia tahu, yang dia takuti bukan apa yang ada di luar sana. Yang paling menakutkannya ada di dalam dada. Tak tampak. Tak pernah membiarkannya nyenyak. Tak pernah mengizinkannya hening. Satu hari dia tak tahan lagi. Diberanikannya menemui orang yang dianggapnya mampu memberi jawab gelisah hatinya. Kali ini bukan Rahib yang dipilihnya. 

Kali ini seorang ‘alim yang didatanginya. Dan lelaki berilmu itu menerimanya dengan senyum tulus.
“Alloh itu Maha Pengampun, Saudaraku,” ujar sang ‘alim ramah. “Taubatmu pasti diterima. Hanya saja, selain menyesali segala yang telah berlalu dan menebusnya dengan kebaikankebaikan, engkau juga harus meninggalkan negeri yang selama ini kau tinggali. Pergilah ke negeri lain untuk memulai hidupmu yang baru. Engkau harus berhijrah.”
Lelaki pembunuh itu, kita tahu, benar-benar berhijrah. Tapi dia mati di perjalanan. Dan malaikat rohmat pun memenangi perdebatannya dengan malaikat adzab. Sebab ketika diukur jaraknya, lelaki itu sejengkal lebih dekat ke arah negeri pertaubatannya. Dia benar-benar telah meninggalkan kejahatan, meski baru sejengkal. Maka Alloh memerintahkan agar dia dibawa ke surga.

Kebaikan itu hanya menyembul sedikit, mengintip di balik terbunuhnya seratus nyawa. Seorang Rahib memang ahli ibadah. Tetapi dia bukan ahli ilmu. Dia tak kuasa mengenali kebaikan yang tersembunyi. Begitulah kita hari-hari ini, banyak terpesona dan dengan mudah menyebut seseorang sebagai “Ustadz!” Padahal boleh jadi dia bukan ahli ilmu. Dia bisa saja ‘Abid, ahli ibadah. Atau juga Khothib, seorang yang fasih bicara. Atau bisa juga Katib, seorang yang pandai menulis. Adapun ulama, adalah mereka yang benar-benar mengenal Alloh dan takut pada-Nya. Seperti ‘alim yang menuntun sang pembunuh untuk bertaubat. Dia lelaki jernih yang penuh prasangka baik. Jika si Rahib lebih tertekan oleh kata “membunuh”, sang ahli ilmu lebih terkesan oleh kata “taubat”. Kebaikan itu memang belum wujud, tapi dia memperlakukan sang pembunuh dengan penuh cinta, mempercayai yang terbaik dalam dirinya, dan menjadikan lelaki itu mampu menyongsong jalan surga. Itulah ulama. 

Dalam dekapan ukhuwah kita belajar dari mereka untuk takut kepada Allah dan tak mudah memvonis pada sesama hamba. 
Dalam dekapan ukhuwah kita belajar untuk mengenali kebaikan yang mengintip, mempercayainya, dan memberinya kesempatan untuk tampil mengemuka.


rewrite from "Dalam dekapan ukhuwah" by Salim A Fillah.

Sunday, 13 October 2013

Belajar bikin komik

Sabtu ini saya dan asti ikutan workshop komik. Kerjasama antara WALHI dengan Masyarakat Komik Indonesia (MKI), diadakan pada tanggal 12 Oktober 2013 di Galeri WALHI Jakarta.

Menarik. Karena saya jadi tahu bahwa komik itu bukan hanya sekedar hiburan, tapi juga jadi sarana penyampa pesan yang bisa sampai pada banyak kalangan. Selain itu, komik bisa jadi alat penyebaran budaya negara tertentu, sebut saja Jepang. Dalam semua komik buatan Jepang pasti terkandung budaya atau kebiasaan yang memang harus dilakukan. Misalnya, dalam cerita samurai, sekejam dan sebengis apapun seorang samurai pasti kalau masuk rumah akan melepas sendalnya.

Selain itu, karakter dalam komik juga bisa menjadi duta dari negaranya. Pemerintah Jepang menetapkan tokoh komik dan kartun Doraemon sebagai Duta Besar Budaya Animasi. Kucing berkepala bulat dengan kantong ajaib itu dianggap melambangkan persahabatan dan budaya Jepang. Doraemon juga banyak memperlihatkan kehidupan sehari-hari orang Jepang lewat tokoh-tokoh seperti Nobita, Giant, dan Suneo. Dan tahukah kamu bahwa Doraemon ini berada di bawah kementerian luar negeri Jepang! bukan kementerian yang berhubungan dengan kesenian. Kementerian berharap Doraemon bisa memperkenalkan Jepang keliling dunia. Selain diperkenalkan sebagai Duta Besar Budaya Animasi, tokoh kartun ciptaan Fujiko Fujio ini hadir di Indonesia sekaligus sebagai peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang. Waaa.... 
Ayo semangat belajar buat komik ^^
Doraemon as duta budaya Jepang
Tentang ide, menurut mas Wahyu (Trainer komikus), tidak akan ada habisnya. Karena ide itu bersumber dari Tuhan, jadi ide itu tidak terbatas. Yang kita perlukan hanyalah mencatatnya ketika ide itu terlintas di kepala kita (agar tidak lupa). Dan memang bener sih, waktu dateng kesini, saya dan Asti tidak terpikir mau buat komik apa. Tetapi setelah dibimbing mas Wahyu, kita semua jadi punya gambaran komik bertema lingkungan apa yang akan kita buat...
Saya memilih untuk membuat komik berjudul: Mandi limbah toilet, sedangkan Asti: Akibat mandi air kotor :D

Ini... komik pertama kami (lia dan asti). Silakan di-klik untuk membacanya.
Mandi limbah toilet by Lia

Akibat mandi air kotor by Asti
Meski kami tidak pinter gambar, tapi dapet komentar Keren dari mas wahyu :)

Thursday, 3 October 2013

Ya Sudahlah...

Bulan-bulan ini memang penuh dengan lowongan CPNS. Semarak! Bahkan di kampus-kampus tersebar brosur-brosur dari Menpan yang berisi ajakan tuk masuk dalam kompetisi ajang ini.
Saya yang masih menjabat sebagai staf honorer di unit kerja inipun selalu dapat pertanyaan dari orang-orang terdekat, maupun orang-orang terjauh, "Li, udah daftar CPNS belum?" atau "Li, instansi ini udah buka lowongan CPNS tuh... daftar gih sana!" atau "Li, daftar CPNS di mana aja?" atau bahkan ada yang bilang begini, "Lo masih mau daftar CPNS?" Ffuuuhhhh..... ternyata banyak banget orang yang peduli sama saya ya, alhamdulillah...

Menanggapi info ini, saya sebenarnya biasa aja. Toh, setiap tahun saya melamar tuk jadi CPNS di lembaga tempat saya kerja ini, meski belum pernah sekalipun dipanggil ujian hehe... ya, belum rejeki kali, pikir saya. Dan saya menanggapinya juga dengan biasa, meski sebenernya selalu tidak tega tuk menyampaikan kabar ini kepada ortu. Melihat paras muka mereka yang "sedikit" kecewa, rasanya sediiih banget... Mungkin rasa sedih ini yang membuat saya tidak terlalu suka dengan lowongan CPNS ini, engapa momen ini selalu berulang tiap tahun...

Tahun ini saya putuskan untuk melamar di instansi tempat saya bekerja. Melihat teman-teman honorer lainnya tidak mau medaftar lowongan tahun ini, rasanya tidak semangat. Ditambah, saya memang belum punya alasan yang kuat untuk menjadi PNS disini, atau dimanapun... mungkin alasannya cuma karena orang tua. Selain melamar di instansi ini, saya juga melamar di LIPI. Saya pikir tupoksinya lumayan cocok dengan saya.

Beberapa hari berlalu *karena saya masukin lamaran deket deadline time*

Akhirnya hari yang dinanti tiba juga... Seorang teman (D-k) mengingatkan saya akan pengumuman ini.
D: Mba li, pengumuman LIPI udah ada tuh. Udah lihat belum?
L: Heh? emang sekarang ya? bukannya BP*T dulu?
D: Iya sekarang... emang BP*T kapan?
L: Harusnya hari ini... tapi belum ada nih sampe malem gini... yo wiss ak cek lah.
*browsing ke situsnya LIPI*

D: Gimana mba? udah lihat?
L: *Saya kirim foto hasil pengumuman peserta yang dipanggil ujian tulis*  
D: Belum rejeki ya.. mungkin rejekinya di BP*T..
L: Hehe.. Doakan yang terbaik yaa..

Paginya... --> Cek situs BP*T ...and sms sent to Japan
L: Ohayou mba anaa... Hari ini ak resmi 5 tahun berturut-turut ditolak jadi CPNS LIPI dan BP*T. Doakan yang terbaik yaa :D
A: Lia.. kamu gak capek coba cpns selama 5 tahun?
L: Haha.. gak lah. Maunya ortu kan gitu :D
A: Kamu sendiri maunya apa?
L: Maunya bisa belajar dengan tenang dan riset dengan baik.
A: Alhamdulillah... berarti yang di-mau-in udah didapetin. Nanti pasti kejawab kok Allah ngerencanain apa buat kamu. Tinggal sabar apa gak ngejalaninnya (nasehat buat diri sendiri). Karna sekarang aq juga lagi bertanya-tanya apa rencana Allah buatku... Saling mendokan ya..
L: Iya, Insya Allah selalu aku doakan...

Lima tahun selalu ditolak itu sesuatu banget... *Syahrini mode on*
Anyway, ya sudahlah... jalani aja. Semua ketentuan Allah tuk kita kan sudah tertulis dalam lauhul mahfuz..
Sebaik-baik rencana kita, jauh lebih indah rencana Allah untuk kita.
Dan yang pasti Allah maha tau yang terbaik untuk saya.

Allah pasti sedang mengabulkan doa-doa saya selama ini :)


Tuesday, 24 September 2013

Haruka


Kalau udah nyentuh keyboard ini, rasanya ada yang kurang kalau gak ada suara merdu yang bisa dinikmati. Akhirnya nyari-nyari di youtube, nemu lagunya Greeeen yang judulnya Haruka.
Sebenernya gak sengaja nemu lagu ini. Cuma berawal lagi suka Greeeen aja... jadi coba dengerin lagunya Greeeen apa aja (random) dan di youtube juga cuma asal klik. Soalnya tulisannya pakai huruf kanji yang bahkan menebaknyapun saya nyerah hehe...

Sekali dengerin... hmm..
Dua kali dengerin... hmmm.. *melamun jauuuh*
Tiga kali dengerin... rasanya kok gimana yaa... pas!
Empat kali dengerin... サイコーこの曲好き!! Saikō kono kyoku-suki! !

dan akhirnya saya pake google translate apa sih judul lagu ini.

遥か = Haruka = Jauh

Hmm.. dan ternyata lirik lagunya emang pas! jadi makin sukaaaa sama Greeeen :D


ROMAJI:
Mado kara nagareru keshiki kawaranai
Kono machi tabidatsu
Harukaze maichiru sakura
Akogare bakari tsuyoku natteku

Dore dake sabishikutte mo jibun de
Kimeta michi shinjite
Tegami no saigo no gyou ga
Aitsu rashikute waraeru

Dareka ni uso o tsuku you na hito ni
Natte kureru na chichi no negai to
Kizutsuitatte warai tobashite
Kizutsukeru yori zenzen ii ne
(Haha no ai)

Ano sora nagareru kumo omoidasu
Ano koro no boku wa
Hito no itami ni kizuka zu
Nasakenai yowa sa o kakushiteita

Kizukeba itsumo dareka ni sasaerare
Koko made aruita
Dakara kondo wa jibun ga
Dareka o sasaerareruyou ni

Massugu miage yosomi wa suru na
Hetakuso de ii chichi no egao to
Shinjiru koto wa kantan na koto
Utagau yori mo kimochi ga ii ne
(Haha no namida)

Sayounara...
Mata aeru hi made fuan to
Kitai o seotte
Kanarazu yume o kanaete
Egao de kaeru tame ni

Hontou no tsuyo sa
Hontou no jiyuu
Hontou no ai to
Hontou no yasashi sa

Wakaranai mama susumenai kara
Jibun sagasu to kokoro ni kimeta

Harukaze omoi todokete namida o
Yasashiku tsutsun de
Kanarazu yume o kanaete
Egao de kaeru tame ni

Sayounara...
Shikarareru koto mo sukunaku
Natte yuku keredo
Itsudemo soba ni iru kara
Egao de kaereru kara

Dore dake sabishikutte mo bokura wa
Aruki tsuzukeru
Kanarazu kaereru kara

Omoi ga kaze ni mau
Anata no hokori ni naru

Saaikou
INDONESIA:
Pemandangan yang terlihat di jendala takkan berubah
Aku pun memulai perjalanan dari kota ini
Angin musim semi menghembus bunga sakura
Dan kecintaanku pada tempat ini akan semakin kuat
 
"Meski pun aku merasa kesepian
Aku akan percayakan jalan yang telah kamu pilih itu"
Kata-kata terakhir dari surat itu
Terasa hangat dan membuatku tersenyum
 
"Jangan menjadi seseorang yang pembohong"
Itulah permintaan ayahku
"Jika kamu terluka maka tersenyumlah
Daripada akan semakin terluka"
(Cinta dari ibuku)
 
Selamat tinggal
Hingga kita dapat bertemu kembali
Aku akan membawa segala harapannmu
Aku berjanji akan mewujudkannya
Sehingga aku dapat kembali dengan senyuman
 
Aku mengingat awan yang bergerak di langit itu
Diriku yang ada di saat itu
Tidak peduli terhadap rasa sakit orang lain
Dan menyembunyikan kelemahanku yang menyedihkan
 
Aku menyadari karena seseorang yang selalu mendukungku lah
Aku dapat melangkah sejauh ini
Maka untuk saat ini juga
Aku ingin mendukung orang lain
 
"Terus maju dan jangan menoleh ke belakang"
Kata ayahku dengan senyumannya
"Percaya itu adalah hal yang mudah
Dan terasa lebih nyaman dibanding ragu-ragu"
(Air mata ibuku)
 
Selamat tinggal
Hingga kita dapat bertemu kembali
Aku akan membawa segala harapanmu
Aku berjanji akan mewujudkannya
Sehingga aku dapat kembali dengan senyuman
 
Kekuatan yang sesungguhnya
Kebebasan yang sesungguhnya
Cinta yang sesungguhnya
Dan kebaikan yang sesungguhnya
 
Meski tanpa mengetahuinya, aku akan terus maju
Namun aku bertekad untuk menemukannya dengan hati ini
 
Angin musim semi membawa perasaan ini
Dan menjaga air mata yang tersimpan
Aku berjanji akan mewujudkannya
Sehingga aku dapat kembali dengan senyuman
 
Selamat tinggal
Engkau pun tak dapat menasehatiku lagi
Namun aku akan selalu di sisimu
Dan aku akan kembali dengan senyuman
 
Meski pun aku akan merasa kesepian
Aku akan terus melangkah
Karena aku berjanji pasti akan kembali
 
Perasaanku pun menyatu bersama angin
Aku pasti akan membuatmu bangga
 
Aku pergi!
 
Lirik lagu di-copas dari sini.

Friday, 13 September 2013

Perempuan Hebat

 x: untuk apa sih kamu sibuk menjelajahi dunia? untuk apa kamu cerdas-cerdas? untuk apa kamu hebat-hebat? untuk apa baca buku terus?untuk apa kamu sibuk-sibuk? untuk apa susah-susah cari pengalaman yg aneh dr desa hingga ujung benua? utk apa title kamu susah2?eh nnti kamu mau ujung2nya balik ke keluarga. 
y: ehm..sederhana kok.. saya melakukannya.. untuk suami dan anak saya. 
x: hah? maksudnya. 
y: iya donk.. Insya Allah karena kelak saya akan jadi istri saya ingin jd istri yg sholehah plus plus.. 
x: heh? plusplus? 
y: iya..saya ingin jd istri yg jg menajdi partner cerdas untuk menemani dia mencapai asanya. ingin jadi istri yg tahu banyak hal untuk mnjdi supporter dan evaluator yg mmbuat dia makin hebat, ingin jaid istri yg bisa diandalkan disetiap fase hidupnya. ingin jd istri yg bs bertahan di situasi apapun untuk trs menyenangkannya. 
x: ( terdiam) trus kenapa harus untuk anak?
y: iyaa kelak jika diridhoi saya akan jadi ibu. saya melakukan banyak hal karna saya ingin jadi ibu yang tidak hanya merawat dan mendidik tetapi mencerdaskan, ibu yang tahu banyak hal untuk diajarkan ke anaknya. ibu yg punya banyak cerita untuk diceritakan ke anaknya. ibu yang daapt membanggakan anaknya untuk bilang, demi dirinya ibu mencapai banyak hal dan dirinya mensempurnakan semua.
Jadi, gerakku saat ini untuk membantu gerak anak dan keluargaku kelak. gerak yg semoga bermanfaat untuk masyarakat, agama dan bangsa.
aamiin ya rabb   
  Pada akhirnya, setiap gerak-gerik wanita menjadi bekal untuk keluarganya kelak :

source: http://www.facebook.com/annisa.a.ratri/posts/395091567243646?notif_t=comment_mention