Wednesday, 28 July 2010

Beethoven Virus; untuk musik klasik

Lagi-lagi Beethoven ^_^ Nonton film ini bikin saya jadi suka musik klasik. Jadi ingin bisa main biola, piano. Ingin juga bisa jadi konduktor kayak Maestro Kang. Ingin nonton langsung nih grup orkestra yang dipimpin Maestro Kang (seandainya bener2 ada...), kalo gak bener-bener ada, inginnya nonton langsung konser Munich Philharmonic Orchaestra (di Jerman kali ya). *banyak banget sih keinginannya...* Tapi bukan saya aja ternyata yang berfikir seperti ini, teman saya Winda juga ternyata punya keinginan yang sama haha, emang klop deh kita :D 
Di Lab pun ternyata saya menemukan juga orang yang suka Beethoven virus ini, gak nyangka aja orang kayak Ganes yang jago kempo suka juga film korea kayak gini. trus Puput yang maniak korea, udah pasti dah dia suka film ini. bahkan cerita behind the scene nya pun dia dah hafal hehe... 

Ngomong2 tentang beethoven virus, Drama ini disiarkan oleh stasiun TV korea MBC pada tahun 2008. Kalau saya tahunya belum lama ini, karena ditayangkan di sebuah stasiun TV swasta (lupa namanya euy....) tiap jam 7 malam. Walau genre drama ini dikatakan drama romans dan komedi tapi inilah drama yang berusaha mengenalkan musik klasik kepada khalayak umum.

Drama yang berdurasi sebanyak 18 episode ini cukup mendapat hati pemirsa walau pada saat itu persaingan sedang cukup ketat. Drama ini dibintangi oleh Kim Myung Min, Lee Ji Ah dan Jang Geun Seok. Pembuatannya cukup apik sehingga tak heran drama ini menyabet banyak penghargaan. Terutama Kim Myung Min yang berperan sebagai maestro Kang bermain sangat baik di sini. Keren banget malah... Cerita drama yang serupa musik klasik ini juga pernah dibuat di Jepang yang terilhami oleh sebuah komik. 

Ringkasan cerita

Drama ini menceritakan seorang maestro, konduktor orkestra kelas dunia bernama Kang Gun Woo alias Maestro Kang, berumur 40 tahun-an. Karena standarnya yang sangat tinggi dan tanpa kompromi dia sampai dijulukin Kang Ma-Ae atau "orkestra killer". ia seorang conductor yang workaholic dan elit yang terkenal punya reputasi sangat buruk. Karena karakter Kang Mae inilah, yang terlalu keras kepala dan punya harga diri tinggi membuatnya tidak bisa menerima orang2 di sekitarnya. Dia selalu berpikir bahwa pendapatnya adalah yang paling benar. Kang Mae terkenal sebagai orang yang akan melakukan apa saja demi mencipakan musik yang terbaik. Sampai-sampai dia berani lho menghentikan konsernya di depan Presiden karena dia merasa anggota Orkestranya membawakan musik tidak perfect! bener-bener dah ni orang...

Nasib kemudian mempertemukannya seorang pemain biola Du Ru Mi. Maestro Kang juga harus menghadapi seorang polisi muda yang bernama sama Kang Gun Woo yang pandai bermain terompet tetapi tidak menyadari bakat jeniusnya dalam bermusik dan conducting.
 
Du Ru Mi  yang bekerja di kantor pemerintah (kalo di Indonesia sebutannya PNS...) adalah koordinator orkestra (music director) yang ingin memperkenalkan musik klasik di kotanya. Du Ru Mi sudah terlanjur bertanggungjawab untuk membuat pagelaran orchestra di kota Seongam namun uang yang rencananya akan digunakan untuk biaya orchestra dicuri orang dan raib. Banyak anggota orchestra yang tidak bersedia ikutan jika pada saat latihan tidak dibayar. 
Du Ru Mi lalu mengumpulkan pemain orchestra dari kalangan bukan professional yang bersedia ikut dalam orchestranya. Ada Kang Gun Wo, seorang polisi lalu lintas yang tampan dan sangat piawai bermain terompet, ada Park Hyung Kwon, seorang pegawai swasta yang punya hasrat terpendam ikut orchestra, karena di masa kuliah dan SMU ia pernah juara memainkan Double Bass. Kim Gab Yong, seorang kakek tua peniup Oboe, mantan pemain orchestra yang sudah tidak aktif 15 tahun. Jung Hee Yun, seorang ibu rumah tangga 2 anak yang setia merawat suami. Ia adalah lulusan fakultas seni dan pemain cello, namun setelah berumah tangga sibuk mengurus keluarga dan merawat mertuanya. Para anggota Orchestra yang lolos audisi bukanlah kalangan profesional walau memiliki latar belakang musik. Namun mereka memiliki semangat dan mimpi untuk menjadi “sesuatu“

Anggota orchestra sudah terkumpul. Sekarang masalahnya, adalah siapakah yang menjadi konduktor. Du Ru Mi menghubungi seorang konduktor profesional yag sudah lama meninggalkan Korea. Ia bernama Kang Gun Wo, sama seperti peniup terompet. Konduktor ini ternyata memiliki catatan sosial yang cukup buruk. Selain mengindap perfeksionis yang kronis, Maestro Kang memiliki lidah yang mematikan seperti racun. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya mampu mencabik-cabik hati seseorang, sehingga orang bisa meneteskan air mata kepedihan tanpa terasa. pokoknya nih orang sadis banget dah... Akibat kelincahan lidahnya memaki orang, Kang Mae juga tidak pernah bertahan memimpin orchestra lebih dari 6 bulan. Kang Mae seperti momok menakutkan. Ia adalah Bully bagi Orchestra yang dipimpin Du Ru Mi.

Kang Mae tinggal bersama anjingnya Beethoven dan Kang Gun Wo (peniup terompet). Pada saat ini, hubungan Gun Wo dengan Du Ru Mi semakin dekat, Gun Wo jatuh cinta pada Du Ru Mi, namun entah mengapa Du Ru Mi belum bisa membalasnya. Ternyata Du Ru Mi malah jatuh cinta pada Maestro Kang! Aneh banget sih... Mestro Kang yang Arogan, Sombong, Angkuh... waaaa...

Walau sadis, ternyata kehadiran Maestro Kang mampu membuat tim orchestra bisa memahami karya musik klasik dan memainkannya dengan baik. Di satu sisi, bakat Gun Woo dalam hal musik mulai terlihat. Gun Wo bisa mengingta sebuah lagu hanya dalam sekali dengar, berikut kunci-kuncinya. Padahal Gun Wo tidak bisa membaca not.

Dalam membina anak didiknya yang tidak punya latar belakang musik yang memadai, Maestro Kang yang tampan dan selalu sinis sebenarnya sudah tidak tahan. Namun ia merasa ada daya tarik lain di dalamnya, apalagi setelah Du Ru Mi menyatakan bahwa ia menyukai sang guru. Sebuah hal yang belum pernah terjadi dalam kehidupan Kang Mae. Wajar kayaknya orang kayak gitu gak pernah disukai wanita... Namun sang Guru yang tinggi hati, tidak akan mudah mengakui perasaannya, apalagi menunjukkannya. Jaim stadium 4 dah... Ia tetap memperlakukan DU Ru Mi seperti kecoak. Kasihan Du Ru Mi bisa suka sama orang kayak gitu...

Di Episode ke-19, yang isinya adalah “The Making OF Beethoven Virus“ kita akan melihat bagaimana para pemain dan kru bekerja sangat keras untuk menghasilkan sebuah drama yang menyentuh sekaligus digemari. Hampir semua orang yang terlibat di dalamnya benar-benar mempelajari alat musik. Begitu juga Kim Myung Min sang Maestro Kang, yang sengaja belajar menjadi konduktor dari ahlinya. Pokoknya semua berusaha maksimal untuk bisa menjalankan perannya dengan baik. Hasilnya, bisa dilihat sendiri... kereeeenn banget kan?? apalagi Maestro Kang... tadinya saya kira dia tuh Konduktor betulan. Abis gayanya perfect banget... kayak emang udah biasa jadi konduktor...

Sebetulnya ketika pertama kali menonton film ini, saya pikir, film ini akan membosankan. Tapi ternyata drama ini sangat menarik. Membuat penasaran. Memahami musik klasik adalah suatu hal yang menyenangkan. Terlebih dari itu, drama ini ingin menunjukkan kepada penontonya bahwa bekerja keras untuk sebuah mimpi adalah hal yang mutlak. Jangan pernah menyerah. Karena walaupun kita tidak bisa menggapainya, kita sudah memaksimalkan kemampuan kita. Itulah yang terbaik... Dan seperti biasa, Drama Korea selalu menyuguhkan dialog-dialog yang kritis, manis, dan tepat. Ditambah dengan wardrobe dan setting yang serius (Ini selalu menjadi ciri khas drama korea).

Saking bagusnya drama ini dalam tahun 2008, Beethoven Virus berhasil meraup 13 penghargaan, termasuk untuk kategori ”Best TV Actor Kim Myung Min” dalam Penghargaan ke 45 Baeksang Award, ”Best Drama” versi MBC, dan The 3rd Korea Drama Festival: Grand Prize Kim Myung Min (pemeran Maestro Kang)


*Thanks to mba nana and mba tierza*


Tuesday, 27 July 2010

Harapan untuk sebuah keadilan


Pagi yang cerah untuk jalan-jalan ke galeri nasional. Niat awalnya sih mau lihat pameran lukisan... tapi ada yang membuat saya lebih terkesan dibanding lukisan-lukisan indah tersebut... memang tidak indah namun maknanya sangat dalam, hingga membuat saya berdiri cukup lama disana, karena melihat tulisan ini:

Sebuah tulisan sederhana. Mungkin sang penulis sudah tidak tahu lagi harus menyampaikan kemana aspirasinya, hingga akhirnya ia memilih untuk menempelkan aspirasinya pada tembok di jalan medan merdeka ini... walaupun pasti mengotori tembok. Tapi menurutnya kehidupan yang diperjuangkan lebih besar dari itu semua...

Menyedihkan... melihat beberapa kasus janda-janda pahlawan dan veteran Indonesia yang dimunculkan di TV beberapa saat lalu... seakan negara tidak peduli dengan kehidupan mereka. Negara hanya memberikan tanda jasa (yang tak dapat dimakan) juga uang bulanan dalam jumlah yang minim, bahakan tidak rutin dibayarkan... gimana gak bikin miris??
Melihat tulisan ini juga mengingatkan saya pada catatan Asvi W. Adam (Sejarahwan LIPI)

The story is... Sore itu dalam pinggiran jalan protokol cuaca cukup cerah meski dihiasi awan kelabu. Suara kendaraan bermotor menelurkan asapnya yang gelap. Mata saya tertuju pada sebuah pemandangan unik dan mengharukan. Buritan trotoar terduduk seorang kakek tua baya. Berpakaian rapi yang tak serapi nasibnya. Tangan kirinya memegang sebungkus nasi warteg. Tangan kanannya yang sudah terlukis pembuluh-pembuluh darah memegang dengan kuat sendok plastik mentransfer energi kepada tubuhnya yang lunglai. Satu, dua, tiga suap nasi tergiling dalam mulut tak bergigi yang tampak kesusahan mengunyah. Di pundaknya terpampang lambang LVRI, sebuah pangkat semu yang berharga dalam sejarah. Sepatu but yang tampak rajin disemir melekat sebagai pelindung kaki-kakinya yang sudah tak sekuat dulu.
 
Dialah satu dari lebih kurang 32.000 prajurit dan PNS veteran yang telah berandil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Mereka bertempur dengan bermodalkan keberanian dan resiko kehilangan nyawa. Perjuangan dan kegigihannyalah yang membawa republik ini menjadi negeri berdaulat. Bambu-bambu rucingnya telah membakar sendi-sendi kekejaman penjajah.

Namun, gambaran di alenia pertama tadi cukup mendiskripsikan bahwa mereka sama sekali belum dihargai layaknya pahlawan. Nasib veteran cenderung diabaikan di negeri ini. Kesejahteraan para pejuang Tanah Air ini kerap dikesampingkan. Penghasilan mereka pun bahkan di bawah UMR. Mereka harusnya mendapat perbaikan nasib dan pemakaman yang layak. Kini, mereka hanya mengeluh dan meratapi nasib mereka yang berjuang membebaskan kita dari jajahan bangsa manapun, dengan mempertaruhkan jiwa dan raga mereka. Dahulu mereka yang menumpahkan darah, meninggalan rumah dan anak istri mereka, demi bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Tanah Ibu Pertiwi Ini.
 
Sekarang jasa mereka dilupakan oleh kita. Tahun 2006, Para veteran itu mencurahkan isi hati mereka dalam sebuah surat ke Istana Merdeka. Karena, sejak 1994, satu potong tubuh pahlawan yang cacat dalam perang kemerdekaan hanya dihargai Rp 22.000 per bulan. Sekali lagi, mereka memohon perhatian yang lebih layak. Sungguh sangat memilukan. Pertanyaannya, apakah pemerintah tidak mampu memberikan perhatian yang lebih layak. Bukankah usia para veteran itu sekarang sudah 70 hingga 75 tahun, sehingga tidak perlu memakan waktu lama untuk sekadar menyenangkan dan memberikan penghargaan yang pantas.


Mereka adalah orang-orang tua kita yang ikut membantu menegakkan berdirinya sebuah negara bernama Republik Indonesia. Sangat wajar untuk sebuah penghargaan. Tapi inilah raut muka negeri ini di usianya yang ke-65. Raut ironi yang tampak dimana-mana. Lihat saja, gaji dan tunjangan para anggota DPR, menteri atau anggota berbagai Komisi yang kini marak di Indonesia . Lalu, bandingkan dengan para veteran yang hanya dihargai Rp 22.000. Bahkan, anggota DPR diberi hingga 30 jutaan rupiah hanya untuk dana serap aspirasi. Padahal, kita belum merasakan hasil kerja para wakil rakyat itu. Inikah wajah negeri yang sudah merdeka 65 tahun. Beginikah sebuah negeri menghargai para veteran? Lalu dimanakah keadilan itu? Ketika sepucuk surat melayang ke Istana Presiden, kita pun tidak tahu, bagaimana nasib surat itu. Kita hanya bisa berharap, semoga ada titik cerah bagi para veteran ketika sinar kemerdekaan menyentuh usia ke-65. Sekadar harapan untuk sebuah keadilan. Maka, dengarkanlah...

Tidakkah hatimu bersedih karenanya??


i and wind have been got Beethoven Virus

Friday, 23 July 2010

Filosofi huruf T

Akhir kerjaan lab pekan ini... keberhasilan yang tertunda, mungkin sampai pekan depan... sepertinya memang harus belajar ilmu di luar kimia.

i have a planning to do my experiment with the device and technique differs from most literature, i will try using constant current for electrophoretic deposition in my experiment. to realize the experiment, i must use constant current power supply... unfortunatelly, we don't have the device :( so, we must make it with ourself... but dont worry, our leader, Mr. Ratno Nuryadi is the excellent researcher in electronics field. He can make design the device. This process has been becoming responsibility of Mr Dian, master student of UI supervised by Mr. Ratno... but reality is not as easy as imagined.

The first, we must check condition the device. hmm... not as easy as that our (i and mr. Dian) imagined. in this case, Mr. Ratno gave us this experiment because he must finish his AFM.

jadi tuh awalnya mau buat constant current. pertama-tama kudu diukur beberapa tegangan set point nya, trus dilihat arus outputnya dan tegangannya berapa. Syaratnya tegangan errornya harus nol. tapi pas set pointnya dirubah dikit V error nya berubah! susah banget jadinya buat dapet beberapa titik set point dengan membuat V error tetap nol. dan yang aneh lg, kenapa justru arusnya berubah, malah tegangan out nya yang tetap?? ini mah namanya constant voltage power supply! sama seperti power supply biasa... bikin kita (without Mr. Ratno) bingung... apalagi saya yang cuma dapet mata kuliah elektronika dasar aja waktu di kampus. ditambah lagi diskusi dengan Mr. Dian yang makin susah nyambung *hiks hiks* soalnya dia kan gak ngerti kimia, saya juga gak ngerti elektronika :(

Ingin banget sebenernya bisa menyelami ilmu elektronika yang ternyata menarik (mau gimana lagi, kebanyakan berkecimpung dengan orang2 teknik elektronika gituh). Jadi inget petuah dari Mr. Ratno (katanya beliau juga dari profesornya yang di Jepang). Begini katanya." dalam menuntut ilmu jangan mengikuti filosofi huruf I yang mendalam hanya pada satu sisi (ilmu), tapi gunakanlah filosofi huruf T. Kita memang harus mendalami bidang kita, tapi kita juga harus belajar mengenai bidang lain atau hal yang berdekatan (atau terkait) dengan penelitian yang kita jalani." Mungkin itulah alasannya beliau menggabungkan zemi (diskusi hasil penelitian mingguan) antara tim DSSC dengan AFM nya... walaupun saya asing dengan elektronika, tapi akhirnya bisa mengerti AFM walau dikit-dikit, dan pada akhirnya mengenai biosensor combine electronic. menarik juga ya ilmu kalau dikombinasikan ^_-

I think it's a good advice for me and our team. So, i decided to receive his advice.i hope i can understand how to make the device, how it works, so that i can find the reason from the side of chemistry process and electronics. keep moving forward ^_^


Wednesday, 21 July 2010

.: mengejar pelangi :.

Goresan warna Illahi...
Selalu meghadirkan senyuman bagi sang pengindera
selalu menghadirkan semangat tak pernah padam

Pelangi oh pelangi
terlalu jauh untuk digapai
terlalu indah untuk dilupakan
pelangi selalu menghadirkan mimpi
pelangi selalu menghadirkan cita-cta
pelangi adalah kehidupan

Pelangi oh pelangi
datang mencerahkan badai
memberikan kedamaian tak terperi
lewat air mata bumi aku melihatmu
bagai 7 bidadari khayangan 
turun ke bumi dengan riangnya

Pelangi oh pelangi
sulit menggapaimu tanpa keyakinan setegar karang
sult menggapaimu tanpa tekad sekuat baja
untuk mendapatmu harus kuterima hujan bahkan badai
untuk mendapatmu harus rela basah

tapi aku ingin tetap mengejarmu
disanalah terletak asa dan mimpiku
meski pelangi masih jauh dari genggamanku
karena aku masih bisa berlari 
karena aku masih bisa bernafas
karena aku akan tetap menyesuaikan kemampuanku
karena takkan kubiarkan tekadku pudar
karena Allah masih memberiku kesempatan untuk menggapai-Mu

Pelangi oh pelangi
tetaplah indah
karena Allah menciptakanmu dengan segala keindahannya
pelangi oh pelangi
sejuta kata-ku takkan bisa menggambarkanmu


Tuesday, 20 July 2010

Malam Muhasabah MQS BI, Edisi Spesial TARHIB RAMADHAN (Persiapan Ramadhan 1431H)

Start:     Jul 24, '10 12:00a
End:     Jul 25, '10
Location:     Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta Pusat
Bulan yang dinanti itu segera tiba. Hari-harinya lipatan pahala yang tiada batas. Setiap jamnya adalah curahan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Menitnya hembusan angin surga, detik demi detiknya adalah kesempatan yang tak ternilai dibanding seumur hidup kita.

Bagaimana Rasulullah dan para salafushalih melewati bulan mulia itu?

Daarut Tauhiid Jakarta bersama Manajemen Masjid Baitul Ihsan (MRBI) InsyaAllah mengadakan :

Malam Muhasabah Menuju Qolbun Salim BI (MQSBI)
Edisi Spesial TARHIB RAMADHAN (Persiapan Ramadhan 1431H)

Tema : "Ramadhan Bersama Orang-orang Shalih"

Sabtu-Ahad, 24-25 Juli 2010
Bertempat di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta Pusat

Nara Sumber :
- Ust. DR. Amir Faishol Fath (Doktor Tafsir Qur'an, Iternational Islamic University Islamabad )
- Ust. Muhsinin Fauzi, Lc (Pimpinan Lembaga Konsultasi Formula Hati)

Imam Qiyamullail
Ust. Rofiudin, Al Hafidz (Imam Masjid Istiqlal)

Muhasabah & MQ Pagi
Ust. Edi Abu Marwah

Agenda :
Kajian Tematis & Dialog interaktif - Qiyamullail - Muhasabah

Acara ini terbuka untuk umum, pria/wanita, ihwan/akhwat dan tidak dikenakan biaya.

Untuk informasi lebih lanjut dipersilahkan menghubungi :
DT Jakarta : 021- 7235255
MQS Hotline (Kasmudi) : 021- 70145049