Showing posts with label kurban. Show all posts
Showing posts with label kurban. Show all posts

Friday, 4 November 2011

Kurban tahun ini dan selanjutnya

Disela-sela kesibukan duniawi, janganlah lupa, kita harus terus mendekatkan diri kepada Allah SWT yang telah banyak memberikan kenikmatan kepada kita. Untuk itulah ada sebuah ibadah yang dilaksanakan setahun sekali yang bertujuan untuk mensyukuri dan membantu para dhuafa dan orang-orang yang berhak yang dilakukan oleh setiap muslim.

Ibadah ini adalah berkurban. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. (QS Al Kautsar: 1-2)

Hukum berkurban
Tanya:  Bagaimana sih sebenarnya berkurban itu. Wajib apa tidak sih hukumnya.
Jawab:  Wajib sih tidak, tapi hukumnya sunnah muakkadah. Artinya, nyaris wajib. Kenapa demikian? Karena selama sembilan tahun terakhir Rasulullah SAW hidup, artinya sejak awal disyariatkannya kurban, Rasulullah SAW selalu berkurban setiap tahun. Apa kurang miskinnya Rasulullah SAW. Semua orang tahu dan kita tahu betapa sederhananya Rasulullah SAW. Tetapi dengan segala kesederhanaannya, beliau relatif memaksakan diri untuk selalu berkurban. Malah diriwayatkaan beliau berkurban dengan dua domba besar yang disembelih dengan tangannya sendiri. Ini adalah hukum dari menyembelih hewan kurban. Jadi, hukumnya adalah sunnah muakkadah.

Yang harus berkurban
Tanya:  Siapa aja sih yang harus berkurban itu. Apa semua orang, semua umat Islam?
Jawab:  Ya sebetulnya dikampung bapak ini harus banyak yang berkurban, karena untuk berkurban itu tidak mesti orang kaya saja. Memang ada syarat-syaratnya. Yang pertama muslim. Yang kedua akil baligh. Artinya sudah dewasa. Yang ketiga ini dia harus memiliki kemampuan. Jadi jangan dikira yang ada nishab itu di zakat aja. Dalam kurban juga ada nishabnya. Jadi kalau seseorang itu punya harta, kemudian cukup untuk makan, minum, berteduh, berpakaian, selama empat hari mulai dari tanggal 10 dzulhijjah (pada hari raya idul adha) hingga hari-hari tasyrik, lalu ada sisanya minimal seharga satu ekor domba, maka jatuh kepadanya untuk sunnah menyembelih hewan kurban. Jadi, kalau di kampung bapak ini memang harus sangat banyak orang yang berkurban. Tidak bisa hanya sebatas orang-orang kaya saja. Termasuk bapak juga meskipun hanya sekedar tukang kue harus juga berkurban.

Frekuensi kurban dalam hidup kita

Tanya: Saya kan cuma orang kecil ustadz. Hanya seorang tukang jualan kue. Masa sih saya harus berkurban juga. Lagian kan saya sudah pernah berkurban beberapa tahun yang lalu. Apa harus berkurban lagi nih tahun ini?
Jawab: Nah itu kekeliruan pemahaman masyarakat. Jangan dikira bahwa yang namanya berkurban itu hanya sekali seumur hidup. Jangan disamakan kurban itu seperti haji yang dilaksanakan sekali seumur hidup. Yang  namanya sunnah kurban itu setiap tahun. Kenapa demikian. Karena waktu menyembelih itu saat Idul Adha. Idul adha itu bulan Dzulhijjah. Dan bulan Dzulhijjah itu pasti ada disetiap tahun. Makanya bapak kurban juga setiap tahun. 

Kurban atas nama
Tanya: Kalau atas nama istri saya, boleh gak Ustadz?
Jawab: Boleh juga sih. Tapi harus diingat bahwa bapak dan istri sama-sama akil baligh. Sama-sama muslim dan muslimah. Oleh karena itu tetap masing-masing punya kewajiban untuk berkurban. Jadi bapak berkurban dan istri juga berkurban. Yang penting harus ada kemampuan. Memang ada keterangan bahwa satu rumah itu minimal satu ekor domba. Tapi itu minimal. Bukan berarti harus satu ekor domba. Jadi kalau misalnya di rumah itu ada 2 orang akil baligh suami dan istri berarti berkurban 2 ekor domba. Kalau anak sudah baligh berarti ada tiga orang akil baligh dan sunnah menyembelih 3 ekor domba, asal ada kemampuan.

Harga sesuai kemampuan
Tanya: Kalau orang seperti saya ini baiknya kurban seperti apa ya?
Jawab: Dalam suatu riwayat, umar bin khattab membeli satu ekor domba seharga 600 dirham. Bagus sekali dombanya. Tetapi kemudian ditawar orang mau ditukar dengan satu ekor unta yang kerempeng. Sekerempeng-kerempengnya unta, dagingnya tiga kali lipat  lebih banyak dari kambing bagus tadi. Kemudian lapor kepada Rasulullah SAW. Kata Rasulullah, sembelihlah dombamu. Karena memang pahala kurban itu ditentukan oleh rasa sayang kita terhadap harta itu. Riwayat ini menunjukan kepada kita bahwa berkurban itu harus yang terbaik. Jangan asal-asalan. Makanya syarat untuk menyembelih hewan kurban itu sangat ketat. Dia harus mulus, sehat, tidak gila, tidak pincang, tidak sobek telinganya, diutamakan jantan, harus cukup umur dan seterusnya, agar menunjukan kalau kita berkurban itu harus yang terbaik. Jadi kalau bapak mau berkurban, yang terbaik dong. Kalau misalnya mampunya sapi, apa salahnya berkurban sapi. Cuma sapinya jangan yang 5 jutaan dong. Sekali-kali yang 12 juta ya, yang besar. Kalau bisanya domba ya beli domba, kalau bisanya kambing ya beli kambing, disesuaikan dengan kemampuan. Tapi prinsipnya bagaimana kita berkurban yang terbaik. 


Perusahaan berkurban
Tanya: Sekarang kan banyak perusahaan yang berkurban. Itu gimana ustadz?
Jawab: Perusahaan ya boleh saja, tidak masalah. Nanti di hukumkannya dia seperti individu, gak jadi masalah. Mau 1 ekor sapi, 200 ekor kambing, itu boleh-boleh saja. Gak jadi masalah.

Distribusi daging kurban
Tanya: Kalau hewan kurban itu sudah disembelih, bagusnya daging kurbannya dikemanakan?
Jawab: Nah bapak juga harus tahu bahwa ibadah kurban itu ada dua tahap. Tahap pertama adalah mempersiapkan hewan kurban, dari sejak kita beli sampai dengan kita sembelih, setelah disembelih, selesai ibadah yang pertama. Tetapi yang kedua bagaimana memperlakukan hewan setelah disembelih. Nah itu memang ada tiga kategori. Yang pertama boleh dimakan oleh sipekurban, kedua boleh dijadikan hadiah kepada sudara, kerabat, tetangga dan yang ketiga untuk fakir miskin. Tetapi para ulama berpendapat bila kemudian sebagian besar itu untuk fakir miskin, itu jauh lebih baik. Nah oleh karena itu pendistribusian hewan kurban ini menjadi sangat penting.

Makanya kalau diperkotaan sudah banyak, alangkah bagusnya kalau mereka berkurban untuk di pedesaan. Boleh jadi di pedesaan sedikit orang yang berkurban sedangkan banyak yang membutuhkan. Makanya lebih tepat pula bila kita berkurban tidak hanya dititipkan lewat mushalla dan masjid aja. Tapi bisa juga kita titipkan ke lembaga-lembaga sosial yang profesional, yang mengelola kurban dengan sangat baik, yang bisa didistribusikan tidak hanya diperkotaan saja, tapi diseluruh pelosok negeri itu akan menjadi lebih baik. Seperti Lembaga Kamanusiaan Nasional PKPU, republika, dll.


*ringkasan tentang hari raya idul qurban yang disampaikan oleh Ustadz Hilman Rosyad Lc, MA*

sumber: pkpu

Friday, 22 October 2010

Berkurban yang terbaik

sebuah renungan sederhana
yang sebenernya ada di dekat kita
bahkan mungkin pernah kita alami...

yang tlah berlalu biarlah berlalu
namun kesempatan kali ini berikan yang terbaik
karena belum tentu tahun depan berkesempatan...


Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.

Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.
" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.
" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang bertahan.
" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama
" Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku
" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.
" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput, " kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

 " Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian
" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum.
" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek. " kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.
" Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.
" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas meladeni.
" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas. " katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja. Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si  kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih
" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yang cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?"   (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)
" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, Insya Allah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu). "

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan diangkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya  berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.

Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super. Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang sanggup mengkoleksi "raket" hanya untuk olah-raga seminggu sekali Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus.

Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu.

----cerita ini forward dari sebuah milis...

Selamat Berkurban, teman-teman...
Berikan yang terbaik....

"semangat berkurban adalah konsekuensi iman dan takwa kepada Allah"