Showing posts with label harteknas. Show all posts
Showing posts with label harteknas. Show all posts

Thursday, 14 July 2011

Inovasi untuk kesejahteraan rakyat


Tadi pagi mendadak ada undangan acara peluncuran peringatan Hakteknas  (hari kebangkitan teknologi nasional) RI ke 16. Acaranya salah satunya berupa diskusi panel dengan pembicara Menristek RI (Suharna Surapranata), Ka. BPPT (Marzan A. Iskandar), Direktur KADIN (lupa namanya), dan PT. Kalbe Farma + Pendiri Stem Cell Institute (Boenjamin Setiawan).


Makna dari launching ini bukan sekedar momentum ataupun ceremonial, tapi banyak info, diskusi, dan statement menarik sebagai komitmen dr komunitas IPTEK dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan. Diharapkan akan ada input/ masukan dari acara hari ini. Yang menarik juga ada peluncuran 3 buah roket juga

Hakteknas tahun ini bertema "Inovasi Untuk Kesejahteraan Rakyat". Tema ini dipilih dengan harapan, agar SDM dan litbang Iptek mampu menghasilkan riset yang lebih aplikatif, memberi solusi nyata dan inovatif terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat dan dunia usaha, dan pemerintah, untuk meningkatkan kontribusi Iptek bagi kesejahteraan rakyat, daya saing produk industri, dan kemandirian bangsa.


Menurut Menristek, Selama sektor industri kita belum memanfaatkan inovasi teknologi secara intensif untuk mengembangkan produk-produk nasional yang kompetitif di pasar global, maka daya saing kita sulit diharapkan untuk naik. Untuk itu kita perlu meningkatkan interaksi antara lembaga penelitian dan perguruan tinggi –sebagai penyedia teknologi–dengan industri–sebagai pengguna teknologi.

Inilah yang menjadi fokus kebijakan Pembangunan IPTEK kita untuk menciptakan ruang agar terjadi kolaborasi yang baik antar aktor-aktor inovasi nasional dengan melakukan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi, memberikan insentif, mendorong pemanfaatan hasil litbang guna menyelesaikan permasalahan pembangunan, meningkatkan daya saing, memberikan layanan kepada masyarakat serta mencapai kemandirian bangsa. Oleh karena itu kita perlu  mengoptimalkan lembaga intermediasi ,untuk menjadi pusat-pusat kolaborasi dan inovasi, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Hasil iptek memang tersebut harus bermanfaat bagi pengembangan potensi  / masyarakat dan memberikan nilai tambah, bukan hanya berupa laporan yang menumpuk di laci. Artinya, iptek yang disediakan memang benar-benar dibutuhkan daerah tersebut, bukan pesanan dari pusat atau proyek yang wajib dilaksanakan, terlebih tidak memberikan nilai keuntungan bagi masyarakat. Selain itu, hasil litbang yang akan diimplementasikan pun harus sudah teruji, bukan dalam skala teori. Itu yang sering kali ditemui di lapangan, yakni hasil litbang kadang tidak memuaskan suatu daerah karena masih dalam skala teori dan asumsi.

Dana adalah salah satu kendala untuk berinovasi. Alokasi penelitian di Indonesia cuma 0,5% dari APBN (sekitar Rp 5 triliun). Hal ini sangat jauh berbeda dengan Amerika Serikat yang rela menggelontorkan anggaran Rp 400 triliun hanya untuk penelitian. Mereka meyakini, besarnya biaya penelitian suatu negara akan memengaruhi majunya negara tersebut.

Israel yang dana penelitiannya paling tinggi, Amerika sudah Rp 400 triliun, sekarang mereka mulai worried karena China mau meningkatkan anggaran penelitiannya dan Jepang, China mau menyusul Amerika. Negara keempat Jerman, kelima Korea. India juga mulai mengeluarkan dana penelitian yang besar. Indonesia gimana?
Kalau korea berambisi untuk mengalahkan Jepang, Indonesia berambisi mengalahkan siapa?
*Jangan bilang kalo Indonesia berambisi mengalahkan orang Indonesia juga* (doh)

Padahal dengan adanya penelitian-penelitian maka akan menciptakan inovasi baru yang dapat menyelamatkan masyarakat. Seperti statementnya Robert Solow: "Innovation is key to prosperity and progress" (Robert Solow won a Nobel Prize for his work showing that increases in productivity were due to technology development).

Final Remarks
Direktur Kadin:
1. Apa yang dihasilkan bisa diterapkan di dunia industri.
2. Inventarisasi apa yang seharusnya dikembangkan di Indonesia (potensial dan kebutuhan).
Menristek:
Pemerintah harus mampu membangun iklim yang mendukung untuk terciptanya koalisi yang baik antara penliti dan pengusaha.
Ketua BPPT:
Program-program MP3EI (Masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia), RPJPN, dll merupakan kesempatan yang diberikan kepada kita untuk meningkatkan daya saing untuk kesejahteraan masyarakat.
PT. Kalbe Farma:
1. Lihat peluang yang ada, dan kembangkan
2. "Money create money", supaya menghilangkan kemiskinan kerjasama yang baik antara ABG (Academition, Bussinessman, and Government).

Hakteknas pertama kali diperingati pada tanggal 10 Agustus 1995 dengan mengudaranya pesawat N-250 (masih inget kan?). Ini merupakan capaian yang luar biasa bagi teknologi kita. Peristiwa ini menjadi tonggak Hakteknas Indonesia, dengan harapan agar  kita selalu berinovasi sehingga teknologi Indonesia akan mengalami kemajuan setiap tahunnya.

Seharusnya gejolak Hakteknas ini dirasakan juga oleh seluruh rakyat Indonesia, seperti hal nya hari kemerdekaan Indonesia. Agar masyarakat bisa memberi masukan dan memantau lebih dekat sudah sejauh mana perkembangan teknologi ini. Somehow, saya pribadi merasa saat ini hanya sebagian kecil masyarakat yang aware dengan perkembangan teknologi Indonesia. Atau jangan-jangan masih banyak yang belum tau apakah Hakteknas itu

Tidak sengaja, waktu ke perpustakaan, saya menemukan buku yang keren. Yang bikin saya meringis bacanya. Buku itu memuat dokumentasi tentang Indonesia Air Show 1986 (IAS 86).  Disitu ada berita-berita dari berbagai koran, pakar bicara, sampai karikaturnya! Ternyata kereeeen bangeeeeet!!!! sama kerennya dengan Hakteknas I (N250 first flight). Let's check below!

Saya berencana (iseng-iseng) akan "meluncurkan" isi buku ini (entah bagaimana formatnya), saat Haktenas nanti (10 Agustus 2011). Harapannya agar kita bisa tahu dan terisnspirasi dengan semangat dan gelora untuk mengembangkan teknologi pada saat itu, dan bisa bilang: "Indonesia emang keren"



NB:
Tulisan saya tentang Hakteknas ke-15 (tahun lalu) ada disini
Tentang rangkaian acara Hakteknas ke-16 bisa dilihat disini
Naskah pidato menristek lihat disini dan beritanya disini
*mohon maaf kalo banyak kekurangan. lagi males nulis huhu....*


Wednesday, 19 August 2009

Para Pengawal Teknologi Nasional

BPPT
Sebagai lembaga yang bertugas melakukan pengkajian dan penerapan teknologi, BPPT membuat desain prototipe, pilot plant, mengkaji kelayakan penggunaan teknologi, dan uji coba teknologi. "BPPT tidak melakukan penelitian," kata Marzan A. Iskandar, Kepala BPPT. Dalam penerapan teknologi, BPPT selalu bermitra dengan institusi dan dunia industri.

BPPT dibentuk pada 28 Januari 1974, ketika Presiden Soeharto mengangkat Prof Dr. Ing. B.J. Habibie sebagai penasihat pemerintah di bidang teknologi maju dan teknologi penerbangan. Habibie kemudian membentuk Divisi Teknologi dan Teknologi Penerbangan (ATTP) Pertamina. Lalu ATTP diubah menjadi Divisi Advance Teknologi Pertamina, yang lantas bersalin rupa menjadi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada 21 Agustus 1978.

Kebijakan prioritas BPPT meliputi enam bidang pengembangan teknologi. Yakni bidang teknologi informasi, energi baru dan terbarukan, ketahanan pangan, pertahanan keamanan, makanan dan obat-obatan, manajemen transportasi, serta informasi dan telekomunikasi. Tambahannya adalah teknologi manufaktur, teknologi lingkungan, dan teknologi material.

BPPT, kata Marzan, bekerja pada pemanfaatan teknologi tepat guna. Beberapa inovasi yang dilakukan, antara lain, membangun sistem informasi manajemen di daerah. Untuk energi terbarukan, BPPT sedang mendesain fuelcell berbasis bahan baku lokal, yaitu hirogen, sebagai sumber energi masa depan. Bahan bakarnya adalah hidrogen dengan limbah berupa air. Dalam teknologi pertahanan keamanan, BBPT berhasil membuat pesawat tanpa awak: Pesawat Udara Nir-Awak (PUNA).


Batan
Lembaga ini lahir dengan nama Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA), yang dibentuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 1958. Enam tahun kemudian, ia disempurnakan menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dengan landasan hukum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1964.

Salah satu masterpiece Batan yang patut dibanggakan adalah reaktor serba guna 30 megawatt di Serpong, Tangerang, Banten. Reaktor yang berdiri sejak tahun 1987 itu dioperatori sendiri oleh Batan. "Reaktor Serpong adalah reaktor pertama di dunia yang berbahan bakar uranium perkayaan rendah," ujar Kepala Batan, Hudi Hastowo.

Batan bertugas memberi usulan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan terkait pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Indonesia. Namun, sesuai dengan kebutuhan negara, kini Batan lebih memfokuskan diri pada ketersediaan pangan, energi, kelangkaan sumber daya air, kesehatan, dan obat-obatan.

Sejauh ini, Batan telah mengembangkan varietas unggul padi hasil pengembangan dengan teknologi mutasi radiasi. Sebut saja Atomita 1-4, Kahayan, Mira, Padi Bestari, dan Pandan Putri. Selain padi, Batan juga berupaya meningkatkan produksi daging ternak. Caranya, dengan memperbaiki nutrisi pangan, meningkatkan populasi ternak, dan pembuatan vaksin.

"Dengan iptek nuklir, kita tingkatkan nutrisi dan juga tingkatkan reproduksi ternak," kata Hudi. Hal ini dilakukan dengan menambah frekuensi bunting sapi lewat teknik radio immuno assay (RIA) untuk mengetahui datangnya masa berahi ternak. Batan juga bekerja sama dengan industri. Misalnya dengan PT Sang Hyang Sri, produsen bibit bersertifikat.

Meski banyak capaian yang telah diraih, Batan menghadapi masalah serius. Pada saat ini, banyak penelitinya yang hampir pensiun. Padahal, butuh waktu agar para peneliti baru siap menggantikan mereka. Tetapi, di tengah pesatnya inovasi di dunia, para peneliti baru itu tidak mendapat kesempatan pendidikan cukup tinggi. Belum lagi masalah penuaan alat-alat yang terus-menerus dipakai.


LIPI
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI merupakan lembaga yang melakukan penelitian di berbagai cabang ilmu, mulai ilmu pengetahuan alam, engineering science, hingga ilmu sosisal. "Fokus penelitian LIPI lebih ke hulu, bukan di hilir," kata Umar Anggara Jenie, Kepala LIPI. Sekalipun demikian, ada pula penelitian yang ditawarkan kepada industri untuk dikembangkan.

Selama ini, LIPI mendapat anggaran Rp 400 milyar hingga Rp 500 milyar dari pemerintah. Separuhnya digunakan untuk penelitian, sisanya dipakai untuk ongkos administrasi dan gaji sekitar 4.000 pegawai. Dana penelitian itu difokuskan untuk penelitian pada aspek hulu dengan keluaran berupa jurnal atau prototipe yang terpatenkan.

Sejumlah penelitian LIPI diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat. Contohnya, alat yang dibuat Pusat Kalibrasi Meteorologi LIPI, Bird Strike, yakni pengusir burung di landasan terbang pacu bandar udara. Alat ini mengeluarkan suara tertentu yang bisa mengusir burung ketika ada pesawat yang akan mendarat atau terbang.

LIPI juga memiliki pusat inovasi yang tugasnya mengarahkan penelilitan agar menghasilkan penemuan yang bermanfaat. Penelitian diusahakan menghasilkan nilai ekonomi lewat kerja sama dengan industri. Contohnya, mengembangkan kedelai plus ramah lingkungan, yang tidak menggunakan pupuk kimiawi dan dapat hidup pada cuaca seekstrem apa pun.

Hasil penelitian LIPI yang telah dikerjasamakan dengan pebisnis adalah molekul yang bisa menghambat pembentukan kolesterol dalam tubuh. Temuan ini menarik perhatian Dexa Medica, perusahaan farmasi besar di Indonesia. Temuan yang telah dipatenkan itu kelak dipasarkan dengan nama Lipistatin.

Keberadaan LIPI berawal ketika pada 1958, Presiden Soekarno membentuk Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia. Satu dekade kemudian, namanya diganti menjadi LIPI. Sebagai lokomotif teknologi, kedudukan LIPI diibaratkan Umar seperti Academy of Scientific di Cina. Selain memberikan nasihat ilmu pengetahuan dan teknologi kepada pemerintah, mereka juga melakukan penelitian.


(Sumber: Gatra edisi Agustus 2009)