Thursday, 23 October 2008

Laskar Penyemangat




mimpi adalah kunci

untuk kita menaklukkan dunia

berlarilah tanpa lelah

sampai engkau meraihnya



laskar pelangi

takkan terikat waktu

bebaskan mimpimu di angkasa

warnai bintang di jiwa



menarilah dan terus tertawa

walau dunia tak seindah surga

bersyukurlah pada Yang kuasa

cinta kita di dunia

selamanya



cinta kepada hidup

memberikan senyuman abadi

walau hidup kadang tak adil

tapi cinta lengkapi kita





laskar pelangi

takkan terikat waktu

jangan berhenti mewarnai

jutaan mimpi di bumi



menarilah dan terus tertawa

walau dunia tak seindah surga

bersyukurlah pada Yang kuasa

cinta kita di dunia



laskar pelangi

takkan terikat waktu…

Perpisahan (Lagi?)

Tak terasa kulewati juga hari ini (masih) di kampus tercintaku..

masih segar dalam ingatanku, juni 2008 ketika aku harus kehilangan sahabat terbaikku,
ternyata di bulan oktober 2008 ini pun, kejadian itu terus terulang..
kembali ku kehilangan sahabat terbaikku, yang pernah mengisi mozaik hidupku..
bersama di institusi tercinta, tempat idealisme kami terbangun..
kini saatnya kau pergi meninggalkan ladang yang telah membangunmu..

met wisuda saudariku.. Isyana Kuncoro Dewi, S. Si.
met melanjutkan hidup ke ranah sebenarnya..
met menjadi manusia seutuhnya..

semoga ini bukan sebuah perpisahan ukhuwah
semoga ini menjadi penyemangat perjuangan indahnya ukhuwah islamiyah

Februari 2009? semoga aku bisa menyusulmu..

Thursday, 16 October 2008

Pepes Tahu Pedas

Description:
dari resepmasakanku.com

Ingredients:
Bahan :

100 gr Tahu
1 sdm Irisan daun bawang
10 lbr Daun kemangi
10 gr Daging giling
Daun pisang secukupnya
Bumbu yang dihaluskan :

1 siung Bawang putih
2 buah Cabe merah
1 sdm Bawang goreng
Sedikit garam dan gula pasir

Directions:
Cara Membuat :

Tahu dihaluskan, campur dengan bumbu yang dihaluskan.
Tambahkan daun bawang dan daging giling, aduk hingga rata.
Masukkan daun kemangi, bungkus dengan daun pisang seperti lontong.
Kukus hingga matang, angkat dan sajikan untuk 1 porsi.

Jejak Jihad Kartosuwiryo

Category:   Books

Buku ini mengupas tentang Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (SMK): nama yang problematis dan kontroversial di Indonesia, dulu hingga sekarang. Saat Orde Lama berkuasa (1947-1949) - yang merupakan puncak perjuangan Negara Islam Indonesia- SMK dituduh sebagai pemberontak. Namun fakta sebenarnya: Kartosuwiryo sesungguhnya......tokoh penyelamat bangsa Indonesia, melebihi apa yang dilakukan oleh Soekarno atau tokoh-tokoh nasionalis lainnya!
Tuduhan bahwa SMK sebagai pemberontak harus dikoreksi. Bukan saja demi meluruskan sejarah yang keliru atau sengaja dikelirukan, namun juga agar kezaliman sejarah tidak terus berlanjut terhadap tokoh yang kita hormati itu.
SMK syahid sebelum cita-citanya tercapai, namun ia telah menebus cita-citanya yang mulia itu dengan darah dan jiwanya; seperti halnya pemimpin-pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir yang syahid di atas tiang gantungan musuh-musuh zalimnya.

lagi-lagi saya tidak menemukan di toko buku bogor, tangerang dan sekitarnya... hiks3x...ada dimana ya kalo di jabodetabek???


Tembang Ilalang

Rating:★★★
Category:Books
Genre: History
Author:MD. Aminudin
Adalah Asroel-dengan sederet nama samaran-dengan caranya sendiri, ia rangkai dan jalankan gerakan bawah tanahnya melawan kolonialisme dan pengaruh faham komunis di kalangan rakyat. Rangkaian hidupnya tak lepas dari kisah percintaan, perpisahan dan ancaman kematian. Lika-liku perjuangan yang penuh intrik dan dendam harus ia hadapi ditengah pengembaraannya menemukan Roekmini sang istri. Disinilah petualangannya tampil begitu akrab dan tak jarang menyentak perasaan. Novel ini berusaha memotret lintasan peristiwa sejarah pra Indonesia dan pasca kemerdekaan sekaligus; adalah suatu usaha merangkai kembali kepingan-kepingan sejarah yang mulai dilupakan.

“Tidak ringan menggarap novel dengan latar belakang sejarah. Pembaca diingatkan pada bagian-bagian getir dari pengalaman bangsa. Dan itu perlu!”
(Taufik Ismail; Sastrawan Senior)

“Sebuah Novel dengan alur dinamis dan suspensif sedang Anda genggam kini. Namun, ini tak sekadar novel. Ini sebuah proposal yang menawarkan sisi lain sejarah bangsa.”
(Moch. Irfan Hidayatullah; Ketua FLP Pusat)

Tuesday, 14 October 2008

Halalbihalal Dept Kimia

WAH senangnya kurasakan hari ini... di dept kimia ngadain halalbihalal dosen+staf+laboran+pegawai+mahasiswa..yang pastinya diakhiri dengan makan ketupat+opor ayam bareng(Gratizzz 100%) pluz es krim party (gratiz pulaaa)
sebenernya yang kurasakan bkn gratisannya...tapi, jadi lebih akrab aja sama dosen2 kimia terutama pmbimbingku tercinta...
ya akhir2 ini emang dept sering ngadain kumpul2 dosen,staf,dan mahasiswa...yang diakhiri dg makan gratis..seneng aja, jd kerasa kebersamaannya. tapi walaupun begitu, kuharus cepet lulus...karena hidupku bukan dikampus aje..
chayo, semangat! besok menghadap ibu lagi nih, mudah2n draftku di acc spy bisa seminar pekan depan...amiiiin...

Monday, 13 October 2008

Jalan Cinta Para Pejuang

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Salim A. Fillah
Kutipan salah satu bab di dalam buku ini
Sergapan Rasa Memiliki

..milik nggendhong lali..
rasa memiliki membawa kelalaian
-peribahasa Jawa-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..