Sunday, 26 May 2013

Quote: Menata hati

menata hati itu perjuangan. menata hati itu pahala. menata hati itu akan menepatkan kita pada posisi kita seharusnya, sehingga cahaya Allah yang dapat diserap hati akan semakin banyak.

Saturday, 25 May 2013

Singkong Thailand

Bergaul sama ibu-ibu "tukang kue" itu efeknya maknyus banget dah...
Pertama, pastinya kita bakal kebagian urusan icip-icip hasil eksperimen mereka. Meski gak semua resep yang mereka coba berhasil penuh, setidaknya 98% keberhasilan itu menjelma menjadi kue atau cake yang enaaak banget. Kayak hari ini, dapet icip-icip brownies kukus cokelatnya Bu Rahma yang rasanya setara dengan brownies kukus Amanda! Emang mantep nih Bu Rahma. eitt... itu belum seberapa lho... tadi juga beliau bawakan cheese cake blueberry yang bener-bener bikin ketagihan. Malah teman saya, Bu Nana, sampai berdecak, "ini enak banget bu. sedikiiiiit lagi setara dengan cheese cake factory itu.."
Yang kedua tentunya, kita jadi terpengaruh pengen bikin kue juga, terlepas bisa atau gak bisa. Tapi kita pasti bakalan lebih berani tuk mencoba karena mereka akan selalu siap membantu kita, mulai dari menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, sampai minjemin perangkat bikin kue ke kita para pemula yang belum punya perangkat apa-apa, hehe...


Buat daku, biasanya nyoba resep kue dari yang gampang dan simpel dulu. Kalo terlalu rumit resep dan peralatannya biasanya cuma akan jadi rencana abadi hehe...
Tadi waktu Bu Rahma nunjukin foto-foto kue hasil kreasinya, salah satunya ada singkong thailand. Wuihhh... daku kan suka sekali makanan khas Indonesia itu. Selama ini cuma beli dari temen kantor aja tanpa berfikir untuk nyoba buat sendiri. Kupikir susah buatnya, tapi setelah tanya-tanya Bu Rahma, ternyata mudah banget yaaa... langsung aja aku browsing internet buat cari resep referensi. Salah satunya dari Fatmah Bahalwan/Natural Cooking Club, klubnya Bu Rahma dan Mba Yani. Berikut resepnya:

Bahan:
500 gr  singkong/ubi kayu
100 gr  gula pasir
200 ml  air
½ sdt garam
200 ml  santan instant (misal Kara)
1 sdm tepung maizena, cairkan dengan sedikit air
 
Cara membuatnya:
  1. Rebus singkong dan air hingga matang.
  2. Masukkan gula pasir, masak terus hingga gula meresap.
  3. Tuang santan instant. Didihkan sekali lagi.
  4. Tuang tepung maizena cair, aduk rata hingga mendidih dan mengental.
  5. Angkat. Sajikan.

    (Sumber Gambar: sellykitchen)
    Gampang kan bikinnya :)
Kalau mau sausnya dipisah juga bisa kok. jadi singkongnya direbus aja trus pake gula. Ini resep sausnya:

200 Santan kental (campur santan kelapa dan kara setengah2),tapi lebih gurih, kadang tanpa kara, yang penting kelapanya fresh.
10 gr Maizena
1/2sdt garam (cicipi, kadang keasinan hehe)
Daun pandan

Bikin sausnya: direbus santan+garam+pandan sampai mendidih, terakhir kentalkan dg
maizena, tanakkan (smp mendidih benar2 akan awet).

so, what are you waiting for?

Sunday, 7 April 2013

Suatu saat akan ada jawaban pasti


Ya... tak perlu ragu akan janjiNya. Setiap kita ditakdirkan berpasangan. Kita adalah replika dari dirinya, diri seseorang. Allah akan berikan semua  dengan caraNya. Dengan caraNya yang indah. Tergantung kita mau  mengambilnya dengan tetap menjaga atau tak sabar mengambilnya dengan cara yang tak semestinya.

Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak  wanginya. Eksistensi cinta berada dalam kelembutan, kecerdasan,  perbaikan diri, keshalihan dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan  yg digantungkan pada Pemilik Arsy, ia akan mati. Ia mati persis seperti  setangkai mawar yg dipotong hanya untuk dipersembahkan kepada sang  kekasih... Bahwa, sesuatu yang baik akan mendapatkan yang baik pula, terus  berusaha memperbaiki diri, berbekal keyakinan yang kokoh..

Seperti sebuah kisah nyata berikut ini.....
”Saya dan dia berbeda tempat. Saya di pulau Jawa dan dia di Kalimantan, kini kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi dalam  bentuk apapun. InsyaAllah ini lebih baik dalam menjaga kesucian cinta.
Ya, benar aku dan dia saling mencintai dan kami sama-sama  mengetahuinya. Tetapi hubungan ini tidak boleh dilanjutkan karena kami  belum siap untuk menikah,meski berderai air mata, tetap harus saling  menjaga kesucian cinta itu. Meski sekarang tidak tahu apaka ia sudah menikah dengan ikhwan lain atau belum, tetapi hanya satu yang saya  percaya bahwa janji ALLAH adalah kepastian. Ketika sudah siap menikah  saya harus segera ke Kalimantan, untuk memastikannya. Hanya takdir  yang bisa menjawabnya. Inilah bukti kesungguhan saya amat  mencintainya, cinta itu "menjaga", menjaga hati dan diri dari hal-hal  yang dapat di murkai ALLAH. Cinta itu "Ikhlas", ikhlas dari semua  ketentuan yang ALLAH berikan. Dan cinta itu "suci" maka jagalah agar ia  tetap suci mensucikan...”
(di share oleh Ihsan)

Jika cinta itu suci, maka APA itu CINTA?
Apakah telapak tanganmu berkeringat, jantungmu berdetak cepat, dan suaramu tercekat saat berada di dekatnya?
Itu bukan Cinta, itu Suka.
Apakah kamu tak bisa melepaskan pandangan atau genggaman dari dirinya?
Itu bukan Cinta, itu Nafsu.
Apakah kamu menginginkan dia saat dia sedang tidak ada?
Itu bukan Cinta, itu Kesepian.
Apakah kamu ada di sana karena itulah yang diinginkannya?
Itu bukan Cinta, itu Kesetiaan.
Apakah kamu menerima pengakuan cintanya karena kamu tak ingin menyakitinya?
Itu bukan Cinta, itu Kasihan.
Apakah kamu ada di sana karena dia memelukmu atau menggenggam tanganmu?
Itu bukan Cinta, itu Ketergantungan.
Apakah kamu ingin memiliknya karena tatapan matanya membuat hatimu berdegup kencang?
Itu bukan Cinta, itu Tergila-gila.
Apakah kamu memaafkan kesalahannya karena kamu peduli padanya?
Itu bukan Cinta, itu Persahabatan.
Apakah kamu mengatakan padanya setiap hari bahwa dialah satu-satunya orang yang kamu pikirkan?
Itu bukan Cinta, itu Dusta.
Apakah kamu ingin memberikan semua benda kesayanganmu untuknya?
Itu bukan Cinta, itu Sikap dermawan.


LALU APA ITU CINTA?
Apakah kamu tertarik pada orang lain, tapi tetap setia mendampinginya tanpa pernah menyesal?
Apakah kamu menerima segala kesalahan dan kekurangannya karena itulah bagian dari dirinya?
Apakah kamu menangis saat dia sedih meskipun dia kuat?
Apakah kamu memaafkannya dan bersedia tetap bersamanya saat dia menyakiti?
Apakah kamu tetap setia apapun yang terjadi, baik saat gembira maupun sengsara?
Apakah kamu bersedia memberikan hatimu, Episode Kehidupanmu, dan Suka dan Dukamu untuknya?

JIKA jawabannya adalah Ya, barulah itu Cinta.

BACALAH KISAH berhikmah berikut ini....
Dikisahkan sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertanya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi:
"Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab, "Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?" Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah". Karena
sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Dan semestinya Cinta, mengenalkan kita pada seseorang atau sesuatu yang dapat membuat kita menjadi “berbeda”. Perbedaan yang tentunya membawa perubahan ke arah yg lebih baik lagi. Bukan sebaliknya. Suatu hari betapa bersyukurnya kita karena ternyata Allah begitu sayang kepada tiap jiwa yang ingin berubah. Dia pertemukan kita pada seseorang yang saleh. Yang sayang karena ALLAH. Karena agama. Karena Dakwah. Yang dengan kita tiada niatan lain selain karena ALLAH.

Jodoh tidak akan tertukar bukan? Meski tinggal di Kutub utara sana, meski tinggal didalam goa ditengah hutan, dia pasti akan dipertemukan dengan kita. Dimanapun kita berada. Tak pernah bertemu, tak pernah bersua suara, tak pernah bersapa kata, jika sudah saatnya, dia akan muncul dihadapan kita atas kuasaNYA.

ISLAM itu indah. Maka UKHUWAH ISLAM pun sangat penting. Begitu indahnya ISLAM sehingga satu sama lain berusaha saling menjaga... termasuk kesucian Cinta . Wallahu'alam.

Semoga Allah selalu menjaga kita dalam ketaatan padaNya. Amin Allahuma amin..

Gunung memang tak akan lari dikejar, tetapi kita perlu mendaki agar sampai ke Puncak. Dan suatu saat nanti akan ada jawaban pasti, karena itu cinta meminta tiap kita untuk sabar menanti....
Insya ALLAH...




NB: Tulisan blog lama dari teman-teman multiply yang dirangkum oleh mba rien (katerinas.multiply.com)

Wednesday, 20 March 2013

Hey kamu...


Hey kamu yang berjilbab biru...

Jangan bersedih,
Karena banyak orang yang menyayangimu, meski kamu belum atau bahkan tidak menyadarinya.

Jangan menyerah,
Karena ada yang diam-diam mendoakanmu agar kuat, dan ada yang menunggumu di akhir perjalanan ini.

Jangan lelah,
Semua yang kamu lewati tidaklah sia-sia, pada saatnya Ia aka membawamu pada jawaban itu.

Jangan iri,
Karena kamu akan menyamai bahkan akan melebihinya jika kamu ridha terhadap kesuksesan orang lain.

Jangan kecewa,
Meski ia yang telah kau bantu seakan tidak mengenalmu. Karena disanalah yang namanya keikhlasan.

Tersenyumlah atas yang telah kau lakukan yang terbaik.

Kau layak bahagia karena banyak orang yang menyayangimu
Kau layak bahagia karena banyak orang yang selalu mendoakanmu
Kau layak bahagia karena telah membuat kelelahan menyerah
Kau layak bahagia karena telah berfikir dan berjiwa besar
Kau layak bahagia karena telah menolong tanpa pamrih

Kau layak mendapatkan kebahagian yang lebih besar dari seharusnya..

Kamu yang berjilbab biru...
Kamu adalah dirimu sendiri. Kebahagianmu milikmu sendiri. Hanya kamu yang bisa menentukannya.

Semoga Allah selalu memelukmu erat, malaikat kan menjagamu ketat.
Bukan hanya memberikanmu yang baik, tapi yang terbaik...

Sunday, 3 March 2013

Terpenjara

Begitu banyak nasyid yang menghiasi alunan dunia, tapi yang disuka adalah yang sesuai dengan suasana hati saat itu. Kurang pas rasanya saat suasana hati lagi sedih tapi saat itu malah dengerin lagu rock/metal... Niat ingin melupakan kesedihan tapi bisa jadi itu hanya sebuah cara untuk melarikan diri dari kesedihan itu, yang mungkin suatu saat tak berdaya dan terjerembab dalam kesedihan yang sama... Tapi hati memang selalu mempunyai pilihan yang tepat :)

Anyway, saya cuma ingin bilang kalau saat ini lagi sukaaa banget sama lagunya Haris ini. Lagu lama sih, tapi gak bosen-bosen untuk didengerin :)

=========================

Terpenjara

Munsyid : Haris Isa (Haris Shaffix) feat Rahmat Fajar
http://liriknasyid.com


Ku tak pernah mengingatiMu
Tiada terlintas semua fana
Hingga ku terperosok jauh
Mengangkat dosa yang biasa

Saat tersadar semua percuma
Penjara dunia kini ku berada
Tapi di sini ku temukan jawaban
Segala gelap Kau balas senyuman

Aku tak akan memohon untuk bebaskanku dari sini
Dengan Mu aku kan pergi karena jeruji tak kan menghalangi

*Meski raga terpenjara
Namun kebebasan jiwa
Tuk berdua denganMu
Tak ada yang mengganggu

Di akhir malam
Semakin aku larut dalam do'a
Memasrahkan untuk diri
Dalam bahasa hati


*Kalau mau ikut dengerin, lagunya bisa di-download di sini :)

Friday, 22 February 2013

Kalender Aquarium

Akhirnya tibalah waktu yang dinanti-nanti oleh orang-orang yang menanti....

Gak terasa, besok udah harus angkat kaki dari Aquarium. 
Saya gak bisa ngebayangin bagaimana penampakan ruangan itu sekarang.... 
Sibuk nemuin dosen di kampus bikin kenyataan tentang pindah kantor ini seperti angin.
Hmm... semoga besok bisa nengok aquarium for the last time... ya for the last time. Karena tidak mungkin lagi PTM akan berkantor disana, atau mungkin kita yang tidak lagi berkantor di PTM :p

Bagi saya, aquarium ini adalah tempat saya mendamparkan diri setelah kontrak saya sebagai mahasiswa habis di kampus tercinta. Tapi memang tidak ada tempat pendamparan yang abadi di dunia ini.... 
4 tahun terdampar di FMIPA IPB ternyata gedungnya harus pindah ke Darmaga.
4 tahun kerja di BPPT ternyata gedungnya harus pindah ke Serpong.
Hmm...

Mumpung besok terakhir ke kantor, saya jadi ingat janji ke mba yuyun untuk buatkan kalender. Mungkin cuma itu yang bisa saya berikan sebagai kenang-kenangan, dan mungkin salam perpisahan untuk bekerja dalam unit kerja yang sama. 


Kalender sederhana yang selesai dibuat pukul 0:40 WIB, dengan segala keterbatasan tools dan materi. 
Hanya bisa menampilkan beberapa aktivitas keluarga cemara dan para sahabat yang berhasil diabadikan.
Semoga semua sahabat yang terekam dalam kalender ini berkenan untuk merelakan fotonya memeriahkan kalender ini.
Semoga menjadi kalender yang layak untuk dilihat, minimal dalam setahun ini.


Bye Aquarium. Selamat menerima penghuni baru.
Bye Mba Yuyun, selamat menempuh perjuangan baru.
Mohon Maaf Lahir Bathin.

Monday, 4 February 2013

Media, layakkah dipercaya?

sumber gambar: kompas
 Kurang lebih setahun yang lalu, saya bertemu seorang teman di kota kecil di Jawa Timur. Tadinya dia bekerja sebagai jurnalis, pernah bekerja untuk beberapa media dan surat kabar. Setelah pengembaraannya, dia memutuskan untuk berhenti dan menjadi guru di kota tersebut. Penasaran, karena saya lihat minatnya terhadap jurnalis masih besar.Saya tanya alasannya, "Kenapa berhenti jadi jurnalis?" Terdiam sejenak, dia menjawab, "Media di Indonesia gak ada yang netral. Semua memihak kepentingan tertentu. Gue gak bisa kerja di tempat kayak gitu." Dari jawabannya, saya bisa mengambil 3 poin besar, yaitu media, idealis, dan netralitas.

Netralitas media. Satu hal sangat sulit saya temui pada segala pemberitaan di media. Saya bisa mengerti mengapa netralitas sulit direngkuh media. Pemilik dan kepentingan pemiliknya tentu akan menjadi faktor besar penentu sudut pandang pemberitaan di media tersebut. Sebut saja cara pandang pemberitaan TV one dan Metro TV tentang kasus lumpur lapindo. Kalau metro TV mengangkat tentang merananya para korban, TV one mengangkat tentang usaha yang dilakukan/ uang yang dikeluarkan untuk ganti rugi. Jelas sangat berbeda! Saya yakin, netralitas memang tidak mungkin diterapkan pada media.

Kasus LHI yang baru mencuat saja, media sudah mem-blow up berlebihan. Memberitakannya dengan tidak profesional, seakan LHI memang 100% benar-benar bersalah. Bahkan selanjutnya media mengangkat kasus ini bukan kasus LHI tapi kasus PKS. Yang artinya PKS lah yang melakukan korupsi itu. Ini tentu sangat berbeda saat AU jadi tersangka kasus yang lebih besar dari LHI. Media tidak memblow up PD, tapi tetap AU. Apa sebenarnya yang salah? keduanya sama-sama pemimpin partai. Padahal kasus LHI belum terbukti kebenarannya. Jawabannya adalah kemudi media berada di tangan yang menganggap LHI dan partainya sebagai common enemy. Dan begitulah media menjadi corong suara sang pemilik dan pemangku kepantingan.

Saya pikir, kalau memang netralitas media tidak mungkin dicapai, setidaknya seorang jurnalis dan media harus punya "objektifitas yang subjektif”. Tidak boleh ada manipulasi fakta, disinformasi, atau distorsi. Jadi, pemihakan dilakukan secara fair, tanpa kecurangan, sesuai dengan kode etik pemberitaan (kode etik jurnalistik), yang terdiri dari asas objektifitas, balance (berimbang), cek dan ricek, dan covering both side. Bukan memberitakan semaunya. 

Masih dalam kasus LHI, sebuah media menuliskan bahwa LHI yang tertangkap tangan. Padahal jelas-jelas bukan beliau. Demi menggiring opini publik untuk mencapai tujuan, kode etik tersebut pun dilanggar. Media macam apa itu? Jadi teingat pesan leader, "Peneliti itu boleh salah. yang gak boleh tuh berbohong." kenapa? karena sekali saja ia berbohong (dalam publikasinya) maka masyarakat (ilmuwan) tidak akan pernah mempercayainya.

Saya mengakui bahwa tidak semua pelaku media pers di Indonesia memahami kode etik dan kompetensi jurnalisme. Dan idealisme jurnalistik masih merupakan harga yang sangat mahal disini. Kalau begini modelnya, apakah media layak dipercaya? Memilih dengan hati, mungkin bisa jadi jawabannya. Kalau media berbohong maka hatimu tidak pernah berbohong.