Ya... tak perlu ragu akan janjiNya. Setiap kita ditakdirkan berpasangan.
Kita adalah replika dari dirinya, diri seseorang. Allah akan berikan semua
dengan caraNya. Dengan caraNya yang indah. Tergantung kita mau
mengambilnya dengan tetap menjaga atau tak sabar mengambilnya dengan cara yang tak semestinya.
Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak
wanginya. Eksistensi cinta berada dalam kelembutan, kecerdasan,
perbaikan diri, keshalihan dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan
yg digantungkan pada Pemilik Arsy, ia akan mati. Ia mati persis seperti
setangkai mawar yg dipotong hanya untuk dipersembahkan kepada sang
kekasih... Bahwa, sesuatu yang baik akan mendapatkan yang baik pula, terus
berusaha memperbaiki diri, berbekal keyakinan yang kokoh..
Seperti sebuah kisah nyata berikut ini.....
”Saya dan dia berbeda tempat. Saya di pulau Jawa dan dia di
Kalimantan, kini kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi dalam
bentuk apapun. InsyaAllah ini lebih baik dalam menjaga kesucian cinta.
Ya, benar aku dan dia saling mencintai dan kami sama-sama
mengetahuinya. Tetapi hubungan ini tidak boleh dilanjutkan karena kami
belum siap untuk menikah,meski berderai air mata, tetap harus saling
menjaga kesucian cinta itu. Meski sekarang tidak tahu apaka ia sudah menikah dengan ikhwan lain atau belum, tetapi hanya satu yang saya
percaya bahwa janji ALLAH adalah kepastian. Ketika sudah siap menikah
saya harus segera ke Kalimantan, untuk memastikannya. Hanya takdir
yang bisa menjawabnya. Inilah bukti kesungguhan saya amat
mencintainya, cinta itu "menjaga", menjaga hati dan diri dari hal-hal
yang dapat di murkai ALLAH. Cinta itu "Ikhlas", ikhlas dari semua
ketentuan yang ALLAH berikan. Dan cinta itu "suci" maka jagalah agar ia
tetap suci mensucikan...”
(di share oleh Ihsan)
Jika cinta itu suci, maka APA itu CINTA?
Apakah telapak tanganmu berkeringat, jantungmu berdetak cepat, dan suaramu tercekat saat berada di dekatnya?
Itu bukan Cinta, itu Suka.
Apakah kamu tak bisa melepaskan pandangan atau genggaman dari
dirinya?
Itu bukan Cinta, itu Nafsu.
Apakah kamu menginginkan dia saat dia sedang tidak ada?
Itu bukan Cinta, itu Kesepian.
Apakah kamu ada di sana karena itulah yang diinginkannya?
Itu bukan Cinta, itu Kesetiaan.
Apakah kamu menerima pengakuan cintanya karena kamu tak ingin
menyakitinya?
Itu bukan Cinta, itu Kasihan.
Apakah kamu ada di sana karena dia memelukmu atau menggenggam
tanganmu?
Itu bukan Cinta, itu Ketergantungan.
Apakah kamu ingin memiliknya karena tatapan matanya membuat
hatimu berdegup kencang?
Itu bukan Cinta, itu Tergila-gila.
Apakah kamu memaafkan kesalahannya karena kamu peduli padanya?
Itu bukan Cinta, itu Persahabatan.
Apakah kamu mengatakan padanya setiap hari bahwa dialah satu-satunya orang yang kamu pikirkan?
Itu bukan Cinta, itu Dusta.
Apakah kamu ingin memberikan semua benda kesayanganmu untuknya?
Itu bukan Cinta, itu Sikap dermawan.
LALU APA ITU CINTA?
Apakah kamu tertarik pada orang lain, tapi tetap setia mendampinginya
tanpa pernah menyesal?
Apakah kamu menerima segala kesalahan dan kekurangannya karena
itulah bagian dari dirinya?
Apakah kamu menangis saat dia sedih meskipun dia kuat?
Apakah kamu memaafkannya dan bersedia tetap bersamanya saat dia
menyakiti?
Apakah kamu tetap setia apapun yang terjadi, baik saat gembira maupun
sengsara?
Apakah kamu bersedia memberikan hatimu, Episode Kehidupanmu, dan
Suka dan Dukamu untuknya?
JIKA jawabannya adalah Ya, barulah itu Cinta.
BACALAH KISAH berhikmah berikut ini....
Dikisahkan sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertanya
kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: "Apakah engkau mencintai Allah?" Ali
ra menjawab, "Ya". Lalu Husain bertanya lagi: "Apakah engkau mencintai
kakek dari Ibu?" Ali ra kembali menjawab, "Ya". Husain bertanya lagi:
"Apakah engkau mencintai Ibuku?" Lagi-lagi Ali menjawab,"Ya". Husain
kecil kembali bertanya: "Apakah engkau mencintaiku?" Ali menjawab,
"Ya". Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, "Ayahku,
bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?"
Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: "Anakku, pertanyaanmu hebat!
Cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan
kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah". Karena
sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah
Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum
mengerti.
Dan semestinya Cinta, mengenalkan kita pada seseorang atau sesuatu
yang dapat membuat kita menjadi “berbeda”. Perbedaan yang tentunya
membawa perubahan ke arah yg lebih baik lagi. Bukan sebaliknya. Suatu
hari betapa bersyukurnya kita karena ternyata Allah begitu sayang
kepada tiap jiwa yang ingin berubah. Dia pertemukan kita pada
seseorang yang saleh. Yang sayang karena ALLAH. Karena agama.
Karena Dakwah. Yang dengan kita tiada niatan lain selain karena
ALLAH.
Jodoh tidak akan tertukar bukan? Meski tinggal di Kutub utara sana,
meski tinggal didalam goa ditengah hutan, dia pasti akan dipertemukan
dengan kita. Dimanapun kita berada. Tak pernah bertemu, tak pernah
bersua suara, tak pernah bersapa kata, jika sudah saatnya, dia akan
muncul dihadapan kita atas kuasaNYA.
ISLAM itu indah. Maka UKHUWAH ISLAM pun sangat penting. Begitu
indahnya ISLAM sehingga satu sama lain berusaha saling menjaga...
termasuk kesucian Cinta . Wallahu'alam.
Semoga Allah selalu menjaga kita dalam ketaatan padaNya. Amin
Allahuma amin..
Gunung memang tak akan lari dikejar, tetapi kita perlu mendaki
agar sampai ke Puncak. Dan suatu saat nanti akan ada jawaban pasti,
karena itu cinta meminta tiap kita untuk sabar menanti....
Insya ALLAH...
NB: Tulisan blog lama dari teman-teman multiply yang dirangkum oleh mba rien (katerinas.multiply.com)