Saturday, 12 January 2013
#12 Spaghetti telur Quick Melt
#11 Quick Melt goreng tepung
1. Keju Quick Melt Kraft.
3. Tepung Roti (Panir) secukupnya (ditebar di atas piring ceper)
4. Telur 2 butir (dikocok rata, taruh di piring cekung)
1. Keju Quick Melt dipotong-potong square 1/3 cm (atau sesuai selera).
2. Potongan keju diguling-gulingkan di atas tepung terigu sampai terbalut rata.
3. Potongan keju yg sudah berbalut terigu dicelupkan ke kocokan telur.
4. Potongan keju diguling-gulingkan di atas tepung roti sampai terbalut rata.
5. Celupkan ke telur sekali lagi.
6. Guling-gulingkan ke tepung roti sekali lagi.
7. Panaskan minyak dg suhu rendah.
8. Goreng keju tepung-telur-panir sampai keemasan.
9. Angkat.
Friday, 11 January 2013
#10 Shampoo Science
What is in Shampoo?
![]() |
| Penjelasan Tentang shampoo, tentang komponennya dan senyawa-senyawa penyusun komponennya. |
References
- Thomas Clausen, Annette Schwan-Jonczyk, Günther Lang, Werner
Schuh, Klaus Dieter Liebscher, Christian Springob, Michael Franzke,
Wolfgang Balzer, Sonja Imhoff, Gerhard Maresch, Rudolf Bimczok, Hair Preparations in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Vol. 17, Wiley-VCH, Weinheim, Germany, 2006, pp. 203–247.
DOI: 10.1002/14356007.a12_571.pub2
Wednesday, 9 January 2013
#9 Sup ikan patin favorit
Menu makan siang kali ini adalah... sup ikan patin dengan kuah asam peda. Mmm.... maknyus!
Ini adalah menu favorit saya di kantin kantor ini, selain soto ceker. Jadi gak heran kalau makan siang di kantin saya seringnya pesen menu ini, hehe. Oia, saya belum pernah nemuin menu ini di luar lho...
Pertama makan menu ini, saya tertarik dari ikannya yang besar, segar, dan penuh dengan lemak. Daaan... saya sukaaa banget lemak ikan patin ini (kalo lemak hewani lain saya gak suka, apalagi tubuh banyak lemak, hehe). Knp saya suka? Ya itu... suka aja melihat lemak yang menempel di potongan ikan. Bening, bagus. Setelah dicicipi ternyata rasanyapun nikmat... mmm.
Saya malah baru tau kalau kandungan gizi lemak ikan patin tuh baik untuk kesehatan. Berdasarkan artikel yang saya baca, kandungam gizinya adalah asam lemak tak jenuh Omega-3, Selenium, dan Taurin.
Kandungan gizi ikan patin secara keseluruhan yaitu 16,08% protein, kandungan lemak sekitar 5,75%, karbohidrat 1,5%, abu 0,97 % dan air 75,7%.
Kandungan zat gizi yang terdapat pada ikan antara lain :
.Omega 3, untuk proses perkembangan otak dan fungsi saraf dan penglihatan bayi.
. Mengandung serat protein yang pendek sehingga mudah dicerna
. Kaya akan asam amino seperti asam taurin untuk merangsang pertumbuhan sel otak.
. Vitamin A dalam minyak hati ikan untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang.
. Vitamin D dalam daging dan minyak hati ikan untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang.
. Vitamin B6, membantu metabolisme asam amino dan lemak serta mencegah anemia dan
kerusakan syaraf.
. Vitamin B12, untuk pembentukan sel darah merah, membantu metabolisme lemak, dan melindungi jantung juga kerusakan syaraf
. Zat besi yang mudah di serap oleh tubuh.
. Yodium untuk mencegah terjadinya penyakit gondok , hambatan pertumbuhan anak
. Selenium.untuk membantu metabolisme tubuh dan sebagian anti oksidan yang melindungi tubuh
dari radikal bebas.
. Seng yang membantu kerja enzim
dan hormon.
. Fluor yang berperan dalam menyehatkan gigi.
Banyak banget ya kandungan gizi dalam sup ikan patin ini. Jadi makin cinta deh sama sup ikan patin, dan berniat bikin sendiri di rumah, hehe..
Tulisan #9 @30HariBercerita
Tuesday, 8 January 2013
#8 Belajar stress
Seminggu ini belajar tentang stress dan strain thin films.
Pertama daku baca papernya, bikin mata daku berbinar-binaaar...
Kubuka lembar demi lembar papernya, senyumku mulai terkembang...
Rasanya pikiranku melayang ke dunia dua dimensi...
Beberapa idepun bermunculan...
Kalau sudah begini, rasanya gak mau tidur hingga temukan jawbannya...
Lalu,
Berbagai asumsi kutuliskan dalam lembaran si cokelat
Baru kumengerti ternyata banyak yang belum kumengerti
Bikin perjalanan makin terik
Mencoba menjawab beberapa tantangan ini,
Berbagai situs kutelusuri berharap mendapatkan jawaban pasti,
Namun daku tersadar bahwa tiada yang pasti bahkan dalam ilmu pasti
Dan dahiku berkerut membaca analisa demi analisa tersebut
Dua definisi yang berlawanan membuatku tak bergeming
Whew!
Menarik tapi membelit
Seperti sebuah hutan
Kamu tidak akan pernah tau sesuatu yang indah di dalamnya kalau kamu tidak mulai melangkah
Dan kamu tidak pernah tahu apakah kamu akan sampai ke tujuan atau tumbang di tengah
Yang pasti kamu akan temukan gelapnya rimba dengan segala keunikannya
Rasa letih lelah dan dahaga pasti akan menghampirimu
Semoga ada cahaya terang yang dapat membimbingmu..
Dan,
Semoga belajar tentang stress ini tidak membuatmu tersiksa
Tidak membuat matamu berkedut sering
Tidak membuat lehermu tegang
Tidak membuat punggungmu sakit
Tidak membuat telapakmu dingin
Tidak membuat tanganmu bergetar
Tidak membuat tidurmu tak nyenyak
Semangat!
Tulisan #8 @30HariBercerita
Monday, 7 January 2013
#7 Repost: Peluang Indonesia Meraih Nobel
Kemarin ada kuliah umum IA-ITB Lecture Road to Nobel Prize, bersama Prof. Robert Hubber (peraih nobel Kimia). Temanya sangat menarik “Peluang Indonesia Meraih Nobel”. Tema ini merupakan tantangan yang nyata, relevan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-66 di bulan Agustus ini. Harapannya, acara ini dapat memotivasi kita agar bekerja keras untuk mengembangkan sains dan teknologi. Semoga suatu saat akan lahir Nobel laureate dari Indonesia.
Berikut merupakan beberapa point yang bisa kita renungi dari pidato Menristek (Suharna Surapranata) di acara ini:
“Bisakah orang Indonesia meraih hadiah Nobel?”
Pertanyaan ini mirip judul buku yang sedikit provokatif yang ditulis Kishore Mahbubani, Can Asians think?
Pertanyaan ini memang terasa merendahkan bagi bangsa-bangsa Asia dan dunia ketiga termasuk Indonesia. Mahbubani sendiri adalah orang Asia. Tetapi paparannya akan membuat orang Asia dan semua orang berpikir lebih baik.
Pertanyaan yang sama pantas ditujukan kepada kita bangsa Indonesia yang tengah membangun dalam segala bidang. "Bisakah orang Indonesia berpikir?" Rasanya terlalu ketus untuk judul tulisan ini.
Berpikir menyelesaikan soal ujian akan sangat berbeda dengan proses berpikir dalam arti sesungguhnya untuk menyelesaikan persoalan hidup. Mental seperti ini hanya akan tumbuh dari didikan alam untuk mandiri dalam menghadapi segala macam tantangan hidup sejak seseorang masih kecil. Budaya berpikir ilmiah adalah budaya hidup mandiri. Orang yang tidak terbiasa mandiri akan cenderung menempuh jalan short cut. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa "disuapi" dengan layanan baik dari orang lain maupun dari alam di mana dia tinggal.
Langkah pertama untuk meraih hadiah Nobel adalah memang berpikir yang benar. Apabila kita tidak bisa berpikir dengan benar, janganlah kita bermimpi untuk bisa meraih suatu penghargaan, apalagi meraih hadiah Nobel.
Aktivitas riset untuk menghasilkan sesuatu yang berarti, apalagi agar bisa meraih hadiah Nobel, hasil riset tersebut harus memiliki pengaruh yang nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi kita, sekecil apapun pengaruh itu.
Pertama, Sebuah invensi yang baik biasanya berasal dari sebuah serendipitas dan keuletan dalam menekuni proses berpikir ilmiah untuk menyelesaikan persoalan dalam dunia nyata. Kata serendipitas berasal dari kata bahasa Inggris serendipity yang berarti mental atau karakter yang bisa merasakan "kenikmatan" yang tidak ternilai harganya saat melakukan penemuan yang tidak terduga-duga. Kenikmatan seperti ini hanya dirasakan oleh orang yang menjadikan hidupnya senantiasa penuh dengan aktifitas berpikir (learning) dan dzikir (reasoning).
Orang yang mempunyai jiwa serendipitas adalah orang menjadikan laboratorium (lab) sebagai hidupnya dan hidupnya adalah lab. Lab adalah ajang berpikir dengan segala bentuk dan kondisi fisiknya, tidak terbatas pada lab dalam arti yang sebenarnya.
Seperti yang dikatakan Newton: “Cara terbaik untuk menjadi seorang ilmuwan yang baik, anda harus berpikir tentang itu sepanjang waktu, baik di waktu anda bangun maupun di waktu anda tidur.”
Sebuah penemuan yang baik pasti berasal dari sebuah budaya berpikir yang baik.
Kita harus membangun sebuah lingkungan untuk menumbuh suburkan budaya riset di masyarakat kita. Kompetisi dan forum-forum ilmiah adalah kesempatan yang baik untuk membangun lingkungan seperti itu. Para ilmuwan atau peneliti biasanya lebih termotivasi dengan berkompetisi dan lebih terinspirasi dengan saling bertukar pendapat di dalam forum ilmiah. Karena itu kita harus mendorong agar para ilmuwan dan peneliti kita bisa berpartisipasi sebanyak mungkin dalam acara-acara ilmiah internasional.
Kedua adalah dampak sosial dan ekonomi dari sebuah penemuan atau invensi. Di sini ditekankanpada pemanfaatan atau pendayagunaan sebuah penemuan. Ada proses yang panjang antara sebuah penemuan sampai munculnya impak ekonomi dan sosial dari penemuan tersebut.
Proses ini meliputi proof-of-concept atau uji kelayakan di tingkat laboratorium, komersialisasi sampai akhirnya terjadi adopsi yang meluas terhadap hasil penemuan itu.
Akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dihasilkannya sebuah produk komersial dari sebuah penemuan, dan bahkan mungkin akan memerlukan puluhan tahun lagi agar produk itu memiliki impact secara sosial dan ekonomi. Saat itulah, sebuah invensi berubah menjadi sebuah inovasi.
Agar sebuah penelitian menghasilkan impact sosial dan ekonomi, maka penelitian itu harus menjawab sesuatu. Penelitian itu harus memberikan kontribusi kepada pemecahan masalah, apakah itu permasalahan ilmiah ataupun permasalahan nyata di masyarakat atau di dalam sebuah proses ekonomi.
Untuk menjamin tersedianya solusi ilmiah dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita, maka harus ada upaya yang berkesinambungan dalam aktivitas penelitian dan pengembangan. Upaya yang kontinyu dan berkesinambungan ini akan membangun sebuah akumulasi pengetahuan dan know-how yang akan mengantarkan kita kepada solusi substantif dari permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Sebuah break-through atau penemuan besar yang dapat menyelesaikan permasalahan besar, sehingga layak untuk mendapatkan hadiah Nobel, hanya akan muncul dari pengetahuan dan know-how yang terakumulasi.
Karena itulah, upaya kontinyu dan berkesinambungan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, harus tersambung dengan upaya kita untuk mendayagunakan pengetahuan dan know-how yang kita miliki. Apabila pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ilmiah itu tidak didayagunakan, maka semua upaya penelitian kita tidak akan berkesinambungan.
Pemecahan masalah muncul dari inovasi, dan apa yang tidak didayagunakan bukanlah sebuah inovasi, jadi tidak memberikan solusi apa-apa.
Meniti karir ilmiah, khusunya untuk peneliti muda dan cemerlang, di negara berkembang seperti Indonesia, tidaklah mudah. Dituntut motivasi, disiplin dan komitmen profesional yang kuat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ilmuwan muda Indonesia sama pandainya, sama bersemangatnya, juga tentu sama kreatif dan inovatifnya dengan ilmuwan-ilmuwan di luar negeri.
Terutama di era informasi global seperti sekarang ini, kita mengenal perumpamaan the world is flat. Seorang mahasiswa di sini dapat memiliki kesempatan yang sama dengan rekannya di belahan dunia mana pun, untuk dapat mengakses ilmu pengetahuan global yang diperlukannya untuk meniti karir ilmiahnya. Karena itu, akumulasi pengetahuan seharusnya tidak dibatasi kepada akumulasi di dalam sebuah individu atau sebuah masyarakat atau perusahaan yang tertutup.
Akumulasi pengetahuan dapat terjadi melalui jaringan pengetahuan global. Dunia kita hari ini sudah lebih terbuka daripada sebelum-sebelumnya. Setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan global yang sudah terakumulasi oleh ummat manusia selama berabad-abad, dan setiap dari kita dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan kita masing-masing.
Apa yang diperlukan adalah komunikasi, pembangunan jaringan dan kolaborasi, untuk menutup jurang pemisah ilmu pengetahuan dan untuk menjembatani keterpisahan informasi, hal yang sudah menjadi lebih biasa sekarang ini daripada di masa lampau, dikarenakan kemajuan teknologi komunikasi global.
Ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia memiliki kesempatan yang lebih banyak sekarang ini untuk dapat berpartisipasi langsung dalam berbagai aktivitas penelitian kelas dunia, meskipun mereka berada di Indonesia. Jadi bukanlah sebuah angan-angan muluk bagi seorang ilmuwan Indonesia untuk bisa menjalankan sebuah penelitian yang layak mendapatkan hadiah Nobel. Tentu kita mengharapkan hal ini suatu saat akan betul-betul terjadi.
Sunday, 6 January 2013
#6 reminiscence: Bromo
![]() |
| Pagi tiba, Foto-fotopun dimulai :D |
![]() |
| Kapan lagi foto di depan Jeep? hmm... |
![]() |
| Teuteup ya... daku dan sisma ngefans sama jeep ini yang bener-bener tangguh nganterin kita naek turun gunung, melintasi pasang pasir, menerobos rawa dan padang rumput.... |
![]() |
| ini hijau segerrrrr banget! |
![]() |
| anak gembala Marvelous |
![]() |
| Bermain awan. Akhirnya bisa nyentuh awan juga, hehe.. |
![]() | |
| Bule ini asalnya dari Nederland. dan mereka gak bisa bahasa Indonesia sama sekali! Mantepkan jadi speak-speak nya :D Nice to meet you Peeters Krijnen and Krista en Joost :) |
![]() |
| Gila foto gini nih yang bikin menanjak jadi berhenti-berhenti terus :D |
![]() |
| Yang gak kuat nanjak bisa naek kuda ajah. Paling murah 20 ribu sekali naik, tapi kalau beruntung bisa dapet 15 ribu. |
![]() |
| Seneeeng udah berhasil nyampe puncak Bromo. |
![]() |
| Di puncak ada kawah, ada sesajen juga. Ngeri kalau ngelihat kawahnya >.< |
![]() |
| Puncaknya cuma setapak doang. batas-batas pinggir kawahnya juga udah pada hilang! longsor? |
![]() |
| Menuruni tangga yang tinggiiii banget, sambil ngucapin "bye..." *ala Puteri Indonesia....* |




.gif)

.jpg)














