Saturday, 12 January 2013

#12 Spaghetti telur Quick Melt

Habis ngemil Quick Melt Goreng tepung, jadi inget kalau Fauzi harus minum obat siang...
Duh, gimana caranya supaya Fauzi mau makan. Soalnya obat-obat itu harus diminum setelah makan. Kalau lagi sakit gini emang susah dia makannya. Secara, orang dewasa aja males makan kalau sakit, apalagi anak kecil ya. Kudu punya trik nih.

Tadi pagi Fauzi susah makan nasi, bahkan telor ceplok kegemarannya cuma dicolek dikit aja. Kalo gini, alamat dia juga gak mau makan nasi nih siang gini... Ditinggal berdua gini, jadi ngerasain rasanya jadi emak rumah tangga, hehe...

Bongkar-bongkar kulkas, berharap ada ide buat makan siang Fauzi...
Aha! akhirnya nemuin saus spaghetti bolognaise La Fonte, kacang polong hijau, keju cheddar kraft, telur, dan Quick Melt sisa tadi plus lidi spaghetti La Fonte yang masih lumayan jumlahnya. Ho... ini udah lengkap nampaknya tuk buat spaghetti kesukaannya Fauzi (dan aku juga). Mudah-mudahan dia mau makan spaghetti ini.

Ditemani Fauzi, mulailah aku beraksi. Caranya gampang banget: 
1. Rebus lidi spaghetti dan kacang polong hijau selama 10 menit, beri garam. Tiriskan, buang airnya dan sisihkan.
2. Panaskan minyak goreng, tumis bawang putih dan cabe hingga harum.
3. Tambahkan saus tomat dan tomat yang dipotong, kemudian tambahkan sedikit air. Masak hingga mendidih.
4. Tambahkan saus spaghetti la fonte. Angkat jika sudah mengental.

Aku juga tambahkan telur dadar kombinasi Quick Melt untuk tambahan proteinnya. Caranya:
1. Kocok 2 butir telur hingga rata.
2. Masukkan Quick Melt yang sudah dipotong tipis ke dalam adonan telur.
3. Goreng adonan telur dengan api sedang.
4. Angkat, tiriskan, dan potong-potong.

Penyajian: Tata spageti di atas piring, taruh potongan telur di pinggirnya. Beri saus di atasnya, taburi dengan keju cheddar parut dan sajikan.
Mmm... enaaaak ternyata. Apalagi telur dadar kombinasi Quick Melt yang bikin tambah meriah.
Alhamdulillah adikku suka, dan mau makan meski makannya pelan-pelan. Cepet sembuh ya de :)

Tulisan #12 @30HariBercerita

#11 Quick Melt goreng tepung

Pagi ini *mendadak* kepikiran buat "men-dapur" aja seharian ini. Mumpung ditinggalin berdua sama Fauzi di rumah. Mumpung Fauzi juga lagi nggak mood maen di luar, jadi kuajak bikin makanan aja di dapur. 

Kemaren-kemaren sempet baca blognya mba yani, dan pengen banget buat Mozzarella goreng tepung. Jadi mumpung sekarang ada waktu, pengen mewujudkan rencana itu.

Pagi-pagi udah ngubek-ubek pasar tradisional nyari bahan-bahan. Tapi... gak ada satupun yang jual Mozzarella. Gak nyangka ya kalau nyari Mozzarella tuh susah juga, mungkin karena harganya yang mahal kali yaaa. Akhirnya daku ke Carrefour aja, karena biasanya disana banyak dijual macam-macam keju.
Sampe di Carrefour, langsung ke tempat frozen nya. Ada sih Mozzarella, tapi cuma satu merk aja. Setelah saya teliti, gak ada sertifikasi halalnya. Karena saya gak mau ambil resiko produk yang belum tentu halal, maka saya cari alternatif lain: Mozzarella diganti dengan Quick Melt Kraft. Yah meski saya tau hasilnya akan berbeda, tapi udah terlanjur niat nih bikin kue, hehe... lanjut!

Berikut resepnya: (sebenernya modif dikit dari resepnya mba yani)

Bahan-bahan:
1. Keju Quick Melt Kraft.
2. Tepung terigu 200 g (ditebar di atas piring ceper)
3. Tepung Roti (Panir) secukupnya (ditebar di atas piring ceper)
4. Telur 2 butir (dikocok rata, taruh di piring cekung)
Cara membuat:
1. Keju Quick Melt dipotong-potong square 1/3 cm (atau sesuai selera).
2. Potongan keju diguling-gulingkan di atas tepung terigu sampai terbalut rata.
3. Potongan keju yg sudah berbalut terigu dicelupkan ke kocokan telur.
4. Potongan keju diguling-gulingkan di atas tepung roti sampai terbalut rata.
5. Celupkan ke telur sekali lagi.
6. Guling-gulingkan ke tepung roti sekali lagi.
7. Panaskan minyak dg suhu rendah.
8. Goreng keju tepung-telur-panir sampai keemasan.
9. Angkat. 
Sajikan dengan saus sambal atau saus marinara/ mayonaise/ saus tomat, dll.

Rasanya memang gak segurih Mozzarella. Bedanya lagi, kalau mozza bisa melar sedangkan quick melt cuma meleleh aja... tapi lumayan lah jadi cemilan sambil nunggu hujan reda. Ntar kalau udah nemuin Mozzarella yang bersertifikasi halal, bisa dilanjutin bikin Mozza goreng tepungnya :)

Tulisan #11 @30HariBercerita


Friday, 11 January 2013

#10 Shampoo Science

Buka email pagi ini, mata langsung tertuju sama Digest-nya chemistryviews.
Biasanya saya gak terlalu peduli dengan digest ini, tapi melihat salah satu judulnya tentang shampoo jadi tertarik pengen baca. soalnya biasanya kan teoritis banget, kayak tentang ikatan-ikatan organochemistry dll... kalo itu mah perlu waktu khusus buat bacanya.

Sebenernya saya baru skimming aja baca artikel ini. Sengaja di-posting disini biar suatu saat kalo mau baca lagi, tinggal buka blog aja, hehe..

What is in Shampoo?

Penjelasan Tentang shampoo, tentang komponennya dan senyawa-senyawa penyusun komponennya.
Cara kerja shampoo. Intinya, surfaktan anionik pada sampo akan membentuk misel yang akan menarik kotoran yang melekat pada rambut kemudian akan hilang akibat pembilasan dengan air. Setelah rambut bersih, molekul kondisioner kationik akan tertarik ke permukaan anionik rambut. Hasilnya rambut terlapisi kondisioner tsb dan jadi lembut.

Ini pengaruh pH pada rambut. Pada pH asam (4-6), kutikula akan merapat sehingga cahaya/ foton (dilambangkan dengan hv, masih ingetkan?) akan dipantulkan sempurna, sehingga efeknya rambut akan terlihat berkilau. Sedangkan pada pH basa (lebih dari 7, pantulan cahaya tidak beraturan dan cahaya akan dihamburkan, sehingga rambut akan terlihat kusam.

Komposisi shampo yang lebih spesifik, misalnya untuk anti ketombe maka shampo akan ditambahkan zat anti fungi. Untuk rambut kering maka ditambahkan lesiti dan kolagen. Untuk rambut berminyak diperlukan surfaktan yang bersifat basa, dll
 Menarik ya ternyata melihat lebih dalam sesuatu yang biasa kita gunakan :)

References

  • Thomas Clausen, Annette Schwan-Jonczyk, Günther Lang, Werner Schuh, Klaus Dieter Liebscher, Christian Springob, Michael Franzke, Wolfgang Balzer, Sonja Imhoff, Gerhard Maresch, Rudolf Bimczok, Hair Preparations in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Vol. 17, Wiley-VCH, Weinheim, Germany, 2006, pp. 203–247.
    DOI: 10.1002/14356007.a12_571.pub2

Wednesday, 9 January 2013

#9 Sup ikan patin favorit

Menu makan siang kali ini adalah... sup ikan patin dengan kuah asam peda. Mmm.... maknyus!
Ini adalah menu favorit saya di kantin kantor ini, selain soto ceker. Jadi gak heran kalau makan siang di kantin saya seringnya pesen menu ini, hehe. Oia, saya belum pernah nemuin menu ini di luar lho...

Pertama makan menu ini, saya tertarik dari ikannya yang besar, segar, dan penuh dengan lemak. Daaan... saya sukaaa banget lemak ikan patin ini (kalo lemak hewani lain saya gak suka, apalagi tubuh banyak lemak, hehe). Knp saya suka? Ya itu... suka aja melihat lemak yang menempel di potongan ikan. Bening, bagus. Setelah dicicipi ternyata rasanyapun nikmat... mmm.

Saya malah baru tau kalau kandungan gizi lemak ikan patin tuh baik untuk kesehatan. Berdasarkan artikel yang saya baca, kandungam gizinya adalah asam lemak tak jenuh Omega-3, Selenium, dan Taurin.

Kandungan gizi ikan patin secara keseluruhan yaitu 16,08% protein, kandungan lemak sekitar 5,75%, karbohidrat 1,5%, abu 0,97 % dan air 75,7%.

Kandungan zat gizi yang terdapat pada ikan antara lain :
.Omega 3, untuk proses perkembangan otak dan fungsi saraf dan penglihatan bayi.
. Mengandung serat protein yang pendek sehingga mudah dicerna
. Kaya akan asam amino seperti asam taurin untuk merangsang pertumbuhan sel otak.
. Vitamin A dalam minyak hati ikan untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang.
. Vitamin D dalam daging dan minyak hati ikan untuk pertumbuhan dan kekuatan tulang.
. Vitamin B6, membantu metabolisme asam amino dan lemak serta mencegah anemia dan
kerusakan syaraf.
. Vitamin B12, untuk pembentukan sel darah merah, membantu metabolisme lemak, dan melindungi jantung juga kerusakan syaraf
. Zat besi yang mudah di serap oleh tubuh.
. Yodium untuk mencegah terjadinya penyakit gondok , hambatan pertumbuhan anak
. Selenium.untuk membantu metabolisme tubuh dan sebagian anti oksidan yang melindungi tubuh
dari radikal bebas.
. Seng yang membantu kerja enzim
dan hormon.
. Fluor yang berperan dalam menyehatkan gigi.

Banyak banget ya kandungan gizi dalam sup ikan patin ini. Jadi makin cinta deh sama sup ikan patin, dan berniat bikin sendiri di rumah, hehe..

Tulisan #9 @30HariBercerita


Tuesday, 8 January 2013

#8 Belajar stress

Seminggu ini belajar tentang stress dan strain thin films.
Pertama daku baca papernya, bikin mata daku berbinar-binaaar...
Kubuka lembar demi lembar papernya, senyumku mulai terkembang...
Rasanya pikiranku melayang ke dunia dua dimensi...

Beberapa idepun bermunculan...
Kalau sudah begini, rasanya gak mau tidur hingga temukan jawbannya...

Lalu,
Berbagai asumsi kutuliskan dalam lembaran si cokelat
Baru kumengerti ternyata banyak yang belum kumengerti
Bikin perjalanan makin terik

Mencoba menjawab beberapa tantangan ini,
Berbagai situs kutelusuri berharap mendapatkan jawaban pasti,
Namun daku tersadar bahwa tiada yang pasti bahkan dalam ilmu pasti
Dan dahiku berkerut membaca analisa demi analisa tersebut
Dua definisi yang berlawanan membuatku tak bergeming

Whew!
Menarik tapi membelit
Seperti sebuah hutan
Kamu tidak akan pernah tau sesuatu yang indah di dalamnya kalau kamu tidak mulai melangkah
Dan kamu tidak pernah tahu apakah kamu akan sampai ke tujuan atau tumbang di tengah
Yang pasti kamu akan temukan gelapnya rimba dengan segala keunikannya
Rasa letih lelah dan dahaga pasti akan menghampirimu
Semoga ada cahaya terang yang dapat membimbingmu..

Dan,
Semoga belajar tentang stress ini tidak membuatmu tersiksa
Tidak membuat matamu berkedut sering
Tidak membuat lehermu tegang
Tidak membuat punggungmu sakit
Tidak membuat telapakmu dingin
Tidak membuat tanganmu bergetar
Tidak membuat tidurmu tak nyenyak

Semangat!

Tulisan #8 @30HariBercerita


Monday, 7 January 2013

#7 Repost: Peluang Indonesia Meraih Nobel

"Tentukan bidang apa yang ingin anda pelajari. Seketika anda menemukannya, pelajarilah sebanyak yang anda bisa." (Robert Huber)


Kemarin ada kuliah umum
IA-ITB Lecture Road to Nobel Prize, bersama Prof. Robert Hubber (peraih nobel Kimia). Temanya sangat menarik “Peluang Indonesia Meraih Nobel”. Tema ini merupakan tantangan yang nyata, relevan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-66 di bulan Agustus ini. Harapannya, acara ini dapat memotivasi kita agar bekerja keras untuk mengembangkan sains dan teknologi. Semoga suatu saat akan lahir Nobel laureate dari Indonesia.

Berikut merupakan beberapa point yang bisa kita renungi dari pidato Menristek (Suharna Surapranata) di acara ini:

“Bisakah orang Indonesia meraih hadiah Nobel?”

Pertanyaan ini mirip judul buku yang sedikit provokatif yang ditulis Kishore Mahbubani, Can Asians think?
Pertanyaan ini memang terasa merendahkan bagi bangsa-bangsa Asia dan dunia ketiga termasuk Indonesia. Mahbubani sendiri adalah orang Asia. Tetapi paparannya akan membuat orang Asia dan semua orang berpikir lebih baik.
Pertanyaan yang sama pantas ditujukan kepada kita bangsa Indonesia yang tengah membangun dalam segala bidang. "Bisakah orang Indonesia berpikir?" Rasanya terlalu ketus untuk judul tulisan ini.

Berpikir menyelesaikan soal ujian akan sangat berbeda dengan proses berpikir dalam arti sesungguhnya untuk menyelesaikan persoalan hidup. Mental seperti ini hanya akan tumbuh dari didikan alam untuk mandiri dalam menghadapi segala macam tantangan hidup sejak seseorang masih kecil. Budaya berpikir ilmiah adalah budaya hidup mandiri. Orang yang tidak terbiasa mandiri akan cenderung menempuh jalan short cut. Mereka adalah orang-orang yang terbiasa "disuapi" dengan layanan baik dari orang lain maupun dari alam di mana dia tinggal.

Langkah pertama untuk meraih hadiah Nobel adalah memang berpikir yang benar. Apabila kita tidak bisa berpikir dengan benar, janganlah kita bermimpi untuk bisa meraih suatu penghargaan, apalagi meraih hadiah Nobel.

Aktivitas riset untuk menghasilkan sesuatu yang berarti, apalagi agar bisa meraih hadiah Nobel, hasil riset tersebut harus memiliki pengaruh yang nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi kita, sekecil apapun pengaruh itu.

Pertama, Sebuah invensi yang baik biasanya berasal dari sebuah serendipitas dan keuletan dalam menekuni proses berpikir ilmiah untuk menyelesaikan persoalan dalam dunia nyata. Kata serendipitas berasal dari kata bahasa Inggris serendipity yang berarti mental atau karakter yang bisa merasakan "kenikmatan" yang tidak ternilai harganya saat melakukan penemuan yang tidak terduga-duga. Kenikmatan seperti ini hanya dirasakan oleh orang yang menjadikan hidupnya senantiasa penuh dengan aktifitas berpikir (learning) dan dzikir (reasoning).

Orang yang mempunyai jiwa serendipitas adalah orang menjadikan laboratorium (lab) sebagai hidupnya dan hidupnya adalah lab. Lab adalah ajang berpikir dengan segala bentuk dan kondisi fisiknya, tidak terbatas pada lab dalam arti yang sebenarnya.

Seperti yang dikatakan Newton: “Cara terbaik untuk menjadi seorang ilmuwan yang baik, anda harus berpikir tentang itu sepanjang waktu, baik di waktu anda bangun maupun di waktu anda tidur.”

Sebuah penemuan yang baik pasti berasal dari sebuah budaya berpikir yang baik.
Kita harus membangun sebuah lingkungan untuk menumbuh suburkan budaya riset di masyarakat kita. Kompetisi dan forum-forum ilmiah adalah kesempatan yang baik untuk membangun lingkungan seperti itu. Para ilmuwan atau peneliti biasanya lebih termotivasi dengan berkompetisi dan lebih terinspirasi dengan saling bertukar pendapat di dalam forum ilmiah. Karena itu kita harus mendorong agar para ilmuwan dan peneliti kita bisa berpartisipasi sebanyak mungkin dalam acara-acara ilmiah internasional.

Kedua adalah dampak sosial dan ekonomi dari sebuah penemuan atau invensi. Di sini ditekankanpada pemanfaatan atau pendayagunaan sebuah penemuan. Ada proses yang panjang antara sebuah penemuan sampai munculnya impak ekonomi dan sosial dari penemuan tersebut.

Proses ini meliputi proof-of-concept atau uji kelayakan di tingkat laboratorium, komersialisasi sampai akhirnya terjadi adopsi yang meluas terhadap hasil penemuan itu.

Akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dihasilkannya sebuah produk komersial dari sebuah penemuan, dan bahkan mungkin akan memerlukan puluhan tahun lagi agar produk itu memiliki impact secara sosial dan ekonomi. Saat itulah, sebuah invensi berubah menjadi sebuah inovasi.

Agar sebuah penelitian menghasilkan impact sosial dan ekonomi, maka penelitian itu harus menjawab sesuatu. Penelitian itu harus memberikan kontribusi kepada pemecahan masalah, apakah itu permasalahan ilmiah ataupun permasalahan nyata di masyarakat atau di dalam sebuah proses ekonomi.

Untuk menjamin tersedianya solusi ilmiah dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita, maka harus ada upaya yang berkesinambungan dalam aktivitas penelitian dan pengembangan. Upaya yang kontinyu dan berkesinambungan ini akan membangun sebuah akumulasi pengetahuan dan know-how yang akan mengantarkan kita kepada solusi substantif dari permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Sebuah break-through atau penemuan besar yang dapat menyelesaikan permasalahan besar, sehingga layak untuk mendapatkan hadiah Nobel, hanya akan muncul dari pengetahuan dan know-how yang terakumulasi.

Karena itulah, upaya kontinyu dan berkesinambungan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, harus tersambung dengan upaya kita untuk mendayagunakan pengetahuan dan know-how yang kita miliki. Apabila pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ilmiah itu tidak didayagunakan, maka semua upaya penelitian kita tidak akan berkesinambungan.
Pemecahan masalah muncul dari inovasi, dan apa yang tidak didayagunakan bukanlah sebuah inovasi, jadi tidak memberikan solusi apa-apa.

Meniti karir ilmiah, khusunya untuk peneliti muda dan cemerlang, di negara berkembang seperti Indonesia, tidaklah mudah. Dituntut motivasi, disiplin dan komitmen profesional yang kuat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ilmuwan muda Indonesia sama pandainya, sama bersemangatnya, juga tentu sama kreatif dan inovatifnya dengan ilmuwan-ilmuwan di luar negeri.

Terutama di era informasi global seperti sekarang ini, kita mengenal perumpamaan the world is flat. Seorang mahasiswa di sini dapat memiliki kesempatan yang sama dengan rekannya di belahan dunia mana pun, untuk dapat mengakses ilmu pengetahuan global yang diperlukannya untuk meniti karir ilmiahnya. Karena itu, akumulasi pengetahuan seharusnya tidak dibatasi kepada akumulasi di dalam sebuah individu atau sebuah masyarakat atau perusahaan yang tertutup.

Akumulasi pengetahuan dapat terjadi melalui jaringan pengetahuan global. Dunia kita hari ini sudah lebih terbuka daripada sebelum-sebelumnya. Setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan global yang sudah terakumulasi oleh ummat manusia selama berabad-abad, dan setiap dari kita dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan kita masing-masing.

Apa yang diperlukan adalah komunikasi, pembangunan jaringan dan kolaborasi, untuk menutup jurang pemisah ilmu pengetahuan dan untuk menjembatani keterpisahan informasi, hal yang sudah menjadi lebih biasa sekarang ini daripada di masa lampau, dikarenakan kemajuan teknologi komunikasi global.

Ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia memiliki kesempatan yang lebih banyak sekarang ini untuk dapat berpartisipasi langsung dalam berbagai aktivitas penelitian kelas dunia, meskipun mereka berada di Indonesia. Jadi bukanlah sebuah angan-angan muluk bagi seorang ilmuwan Indonesia untuk bisa menjalankan sebuah penelitian yang layak mendapatkan hadiah Nobel. Tentu kita mengharapkan hal ini suatu saat akan betul-betul terjadi.

*tulisan lama yang sumbernya dari sini*

Tulisan #7 @30HariBercerita

Sunday, 6 January 2013

#6 reminiscence: Bromo

Pas banget inget tanggal 6 ini, jadi inget tahun lalu. Pada tanggal yang sama dan bulan yang sama, 6-7 Januari 2012. 
Perasaan baru kemarin yak... 
Menerobos rerumputan di padang rumput bukit "teletubbies". Serasa jadi gembala hehe... 
Main-main dengan awan yang rasanya pendek bangeeet. 
Ber-Jeep ria menuju padang pasir berbisik yang luas...
Bersapa dengan turis asing untuk mempraktekan bahasa kampung Pare... 
Berlomba mendaki menuju puncak dengan riang, meski kadang berhenti (untuk foto-foto hehe..).
dan akhirnya sampai di puncak, yang membuatku bergidik saat melongok kawahnya.

Meski sempat kutulis sedikit di rumah lamaku (Journey Bromo - Madakaripura), tapi ingin kutulis kembali tentang Bromo. Kunjungan pertama dan (semoga) bukan yang terakhir. Sambil mengingat kembali teman-teman Marvelous yang sekarang entah udah pada dimana berada. Miss u all...

Kalau dari Pare (Kediri) lama perjalanannya sekitar 6-7 jam. Berangkat pukul 10 malam, sampai di sana pukul 4.30 pagi.Yup, kalau mau ke Bromo harus pagi buta nyampe ke Pananjakan, sebelum mentari menampakkan sinarnya. Soalnya itu pemandangan terindah yang banyak diabadikan manusia di Bromo ini. 

Lalu mulutmu. matamu, dan hatimu perlahan-lahan akan berdecak dan mengagumi ciptaan Allah ini, seiring perlahan mentari yang menampakkan dirinya. Kamu akan merasa berada di sebuah negeri di atas awan yang menghampar dan seakan siap menjadi pijakanmu menuju negeri para dewa (Mahameru) yang berada di seberangmu. Sungguh detik-detik yang akan kamu rindukan... Sayangnya, saking menikmati detik-detik itu saya tidak sempat mengambil gambarnya (doh). Mudah-mudah next time bisa ke sana lagi dan gak lupa rekam pemandangan itu ^^


Now, I just wanna reminiscence the moment. Ngumpulin foto-foto yang masih ada, biar bisa dilihat lagi suatu saat nanti. Coz my blog is my safety box, hahaha... Berikut Kolase foto-fotonya:
Dimulai dari matahari yang udah menampakkan diri, hamparan awanpun mulai berarak memudar. Dan daku baru tersadar tuk mengabadikan momen keren ini, hiks... telat.
Pagi tiba, Foto-fotopun dimulai :D
Kapan lagi foto di depan Jeep? hmm...
Teuteup ya... daku dan sisma ngefans sama jeep ini yang bener-bener tangguh nganterin kita naek turun gunung, melintasi pasang pasir, menerobos rawa dan padang rumput....
ini hijau segerrrrr banget!
anak gembala Marvelous
Bermain awan. Akhirnya bisa nyentuh awan juga, hehe..
Bule ini asalnya dari Nederland. dan mereka gak bisa bahasa Indonesia sama sekali! Mantepkan jadi speak-speak nya :D  Nice to meet you Peeters Krijnen and Krista en Joost :)
Gila foto gini nih yang bikin menanjak jadi berhenti-berhenti terus :D

Yang gak kuat nanjak bisa naek kuda ajah. Paling murah 20 ribu sekali naik, tapi kalau beruntung bisa dapet 15 ribu.
Seneeeng udah berhasil nyampe puncak Bromo.
Di puncak ada kawah, ada sesajen juga. Ngeri kalau ngelihat kawahnya >.<
Puncaknya cuma setapak doang. batas-batas pinggir kawahnya juga udah pada hilang! longsor?

Menuruni tangga yang tinggiiii banget, sambil ngucapin "bye..." *ala Puteri Indonesia....*
S. E. K. I. A. N dulu

Tulisan #6 @30HariBercerita