Showing posts with label paspor. Show all posts
Showing posts with label paspor. Show all posts

Friday, 12 August 2011

Why don't you have passport?


Beberapa bulan lalu saya berhasil mendapatkan pasport 48 halaman. Tujuan utamanya adalah untuk melamar beasiswa dan travelling. Tapi hingga bulan ini belum ada satupun cap imigrasi negara lain yang bersarang di pasport tersebut :p

Meski sampai saat ini belum sempat pake pasport tersebut, tapi saya sama sekali tidak menyesal telah membuatnya. Hanya tinggal mencari waktu dan lokasi yang tepat untuk menggunakannya. Sebenarnya tidak sulit juga mencari waktu dan lokasi yang tepat. Yang sulit adalah mencari partner tuk go abroad. Beberapa teman yang hobby backpackeran masih belum mempunyai pasport dan mereka agak males tuk membuatnya, ribet ngurus-ngurusnya *kata mereka*. Hmm... tanpa teman yang jelas, tentu saya tidak bisa pergi, karena salah satu syarat dari orang tua adalah pergi dengan muhrim. Dan tentunya orang tua saya harus kenal dengan orang tersebut... beginilah jadi anak perempuan :D

Membaca tulisan Rhenald Kasali yang dimuat di Jawapos [8 Agustus 2011] saya jadi kepikiran tuk segera menjalankan rencana saya tersebut. Berikut tulisannya:


PASSPORT
Oleh Rhenald Kasali (Guru Besar Universitas Indonesia)
 

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?" Saya katakan saya tidak tahu. 
Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan  infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat  minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation- nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya
sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat beasiswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.


Monday, 21 February 2011

mengejar paspor

Tahun ini saya harus udah punya paspor. Meski rencana bikinnya sekitar akhir maret, ternyata udah harus punya akhir februari ini. So, buru-burulah saya kudu berkunjung ke kantor imigrasi, yang udah terbayang di benak saya bakalan crowded banget. karena ini udah tanggal 21 Februari, kudu cepet-cepet nih. setelah nyari literatur di internet (ciye.. literatur), ternyata ada juga yang bikin paspor dalam 4 hari jadi di kantor imigrasi Jaksel, gak pake calo.
Yup, dengan dana yang terbatas, saya memutuskan tuk pake jalur biasa aja. kalo pake jalur khusus (1 hari) bisa 1 juta lebih. kalo 2 hari sekitar 600 ribu.

Hari 1: 21 Februari 2011

Pagi-pagi dari rumah, berangkat ke arah kantor tapi gak ke kantor. langsung puter arah ke mampang. meski awalnya keterusan naik bis, karena gak tau kantor imigrasi Jakarta selatan tuh dimana letaknya, akhirnya puter balik lagi naik busway dan turun di halte imigrasi. Pas nyampe disana, tengok-tengok kiri kanan... gak ada penampakan gedung imigrasinya ya?? cuma adapenampakan kayak gini:

akhirnya nanya-nanya sama satpam yang ada disekitar sana, "pak maaf, kantor imigrasinya dimana ya?" eh, mereka malah ketawa. "udah pindah neng, di lebak bulus sekarang. yang disini mah baru mau dibangun. paling jadinya nanti idul adha.." gubraakkk.... ternyata tuh kantor lagi dibangun ulang. ffuhhh.... gue gak tau sama sekali!!!! malah kantor yang baru adanya di lebak bulus, jauh juga dari sini, udah jam 9 pula... mau nyampe sana jam berapa? kebayang deh antrian yang amat sangat padat :(

kasian juga kali ya bapak2 satpam ini melihat wajahku yang memelas, akhirnya mereka berkata, "adik naim kopaja 20 aja dari sini, turun di lampu merah cilandak trus naik mobil 05 yang warna kuning." yah, akhirnya saya mengangguk dan bergegas ngejar kopaja 20. mau gimana lagi... demi mengejar paspor 4 hari kerja :(

Udah tiba di lampu merah cilandak, nyari mobil 05 yang dibilang bapak tadi.. kok gak ada ya. nunggu lagi.. gak ada juga. akhirnya nanya ke ibu yang lagi nunggu mobil juga. "bu, maaf angkot 05 lewat sini kan ya?" ibu itu mengernyitkan alis, "05? adik mau kemana?" jawab saya "mau ke imigrasi." trus si ibu berseru, "oh bukan 95 kali, tapi 509, bisnya yang kuning itu (sambil menunjuk bis yang lagi ngetem)." dudul banget gue! gimana sih pak satpam, kok bilangnya 05 seeeh... (doh). tanpa saya minta, si ibu menambahkan, "letaknya setelah RS. Fatmawati, nanti ada lorena, tidak jauh dari situ kantor imigrasinya." siip.. "oke bu. terima kasih banyak." kataku sambil segera bergegas mengejar bis 509 yang udah mau berangkat.

Setelah mengikuti petunjuk si ibu nan baik hati, sampailah saya di kantor imigrasi Jakarta selatan. dari depan aja pemandangannya udah gak enak. banyak mobil yang berjejalan sampe ke luar gerbang. doh, pasti di dalem bakalan crowded deh...

Bener aja, pas udah nyampe dalam gedung, banyak orang yang pada berdiri, karena gak kebagian tempat duduk. Bingung juga sih harus pake nomor antrian atau gak, soalnya Ksebelum datang kesini saya sudah mengisi formulir online nya di situs imigrasi. jadi harusnya tinggal menyerahkan dokumen-dokumen asli saja untuk pemeriksaaan dan verifikasi. Akhirnya bertannya pada petugas yang berada di dalam loket, Pembuatan Paspor baru "pak kalau sudah daftar online harus bagaimana?" pak petugas menjawab, "ambil dulu nomor antrian, nanti dipanggil di loket ini." oh... okelah, saya langsung mengambil nomor antrian dari mesin antrian otomatis. Hmm... dapet nomor 346. berarti sekitar 200 nomor lagi giliran saya... banyak betul! sabar...

Melirik ke koperasi, baru inget kalau harus ambil map dan form yang harus diisi. akhrnya dengan 5000 perak saya dapet form tersebut. padahal di form tersebut tertulis gratis, kenapa harus bayar ya? ya... sudahlah.

Dokumen-dokumen yang diperlukan adalah: Akte kelahiran/ ijazah (boleh akte kelahiran atau ijazah aja), kartu keluarga, KTP, Surat rekomendasi dari kantor. semuanya difotokopi sekali dalam kertas A4. untuk KTP jangan dipotong. sebenernya awalnya mau ngaku jobless aja  biar gak susah2 minta rekomendasi dari kantor. tapi gak jadi, karena dosa, hehe... trus selain itu juga emang gak boleh ternyata, karena data saya di KTP kan masih mahasiswa (buatnya tahun 2007) trus sekarangkan udah bukan mahasiswa lagi...

setelah nunggu lama, sambil baca-baca buku TOEFL (mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat nih ceritanya) akhirnya nomor saya dioanggil juga. lama juga nunggunya, baru sekita jam 14 baru dipanggil. setelah menyerahkan dokumen asli di loket "pembuatan paspor baru", dokumen2 tersebut diperiksa, cuma sebentar kok karena saya udah daftar online, jadi datanya udah masuk. Kemudian disuruh datang lagi esok pagi untuk pemotretan, wawancara dan sidik jari.

S
ebelum pulang harus bayar dulu. Paspor 24 hall biayanya 105rb, untuk 48 hal biayanya 255rb. Kalau yg elektronik (e-passport) lebbih mahal, yaitu 655rb buat yang 48hal dan 405rb buat yang 24hal. Meski awalnya saya berniat untuk membuat yang 24 halaman, karena tidak berniat mondar-mandir ke luar negeri, tapi sepertinya sudah otomatis tercatat 48 halaman. katanya, kalau yang 24 halaman itu untuk TKI. ada-ada aja....

Oya, sebenernya kalau udah daftar online bisa hari ini juga pemeriksaan berkas, pemotretan, wawancara, dan sidik jari. Tapi karena hari ini banyak yang ngajuin paspor dan saya datangnya siang, jadinya proses tersebut gak bisa dalam satu hari deh :(

Hari 2: 22 Februari 2011

Kali ini saya datang pagi-pagi ke kantor imigrasi, meski sampai disana jam9 pagi sih :D
Untuk kali ini tidak perlu ambil antrian lagi, tapi langsung naik ke atas, ke ruangan khusus foto dan wawancara. setelah menyerahkan kwitansi pembayaran, diberikankanlah nomor antrian... hmm, dapet nomor 77. saya pikir gak akan lama. tapi ternyata, harapan itu tinggal harapan... soalnya banyak yang masuk tanpa nomor antrian euy... belakangan saya baru mengerti. itu adalah orang2 yang memakai jasa calo. hiks... tega! padahal di setiap sudut terpasang himbauan untuk tidak menggunakan jasa calo, himbauan untuk mengurus paspor langsung. tapi kenapa mereka masih mendukung penuh praktik calo-calo tersebut. bener-bener aneh (doh). akhirnya saya harus menunggu lagi, entah sampai kapan, sambil memperhatikan petugas-petugas imigrasi yang bekerja supersibuk dibawah. Keren!

(Saat ini) para petugas imigrasi ini bekerja berdasarkan jumlah nomor antrian. bukan berdasarkan jam kerja. Nomor antrian dibuka dari jam8-11. biasanya sih bisa sekitar 400 permohonan. hiks... crowded banget deh kalau melihat kerjaan mereka. Ngomong-ngomong tentang no antrian, kita harus tetap stay tune mendengarkan petugas memanggil nomor antrian. karena nomor antrian yang terlewat akan hangus. dan berarti kita harus balik lagi esok hari untuk mengantri (doh)... jangan sampe deh kayak gitu.

Tibalah giliran saya tuk masuk ke dalam ruangan khusus itu, sekitar jm 14.00. Sampai dalam ternyata, "mba, fotonya gak bisa pakai kerudung putih karena backgroundnya putih. takutnya nanti gak jelas mukanya." heh? baru tau saya. padahal udah rapih-rapih pake kerudung putih... gimana ya? masa harus balik pulang lagi?! tapi kemudian si ibu bilang, "ada sih kerudung hitam kalau mau pake." akhirnya saya menyetujui tuk pinjem kerudung dari petugas tersebut, daripada harus pulang ke rumah :D

Ternyata eh tenyata, kerudungnya tuh kerudung jadi, alias bergo! baru kali ini saya pake bergo hitam, untuk foto resmi seperti ini pula! tapi whatever lah... the show must go on! Pemotretan, scan 10 sidik jari... dan terakhir wawancara. Wawancara ini cuma ditanya alasan bikin paspor, dan selebihnya ngobrol-ngobrol santai.

Setelah selesai semua, ternyata paspor baru bisa diambil 10 hri kemudian (10 hari kerja). alasannya karena kantor imigrasi jakarta selatan sedang kebanjiran pemohon paspor. ffuuuuhhh.... pupuslah satu tujuanku :(
oke lah, there's another chance.

..... to be continue....