Sunday, 30 October 2011
Saturday, 29 October 2011
Optimalisasi 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Allah telah menetapkan waktu-waktu tertentu memiliki makna yang agung yang disediakan bagi hamba-hambaNya. Bagi seorang mukmin tentu tidak boleh mengabaikan momentum-momentum mulia tersebut dalam rangka taqarrub kepadaNya. Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1432 H, diharapkan agar kita mensyiarkan bulan ini dengan memperbanyak ibadah kepada Allah.
TENTANG BULAN DZULHIJJAH
Sesungguhnya termasuk sebagian karunia Allah dan anugerah-Nya adalah Dia menjadikan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih waktu-waktu tertentu dimana hamba-hamba tersebut dapat memperbanyak amal shalihnya. Diantara waktu-waktu tertentu itu adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah. Berkenaan dengan firman Allah Ta’ala:
”Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr:1-2)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala telah bersumpah dengan “sepuluh hari” pertama dari bulan Dzulhijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan Ibnu Katsir rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka.
KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH
Hari-hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, dan penjelasannya sebagai berikut:
PERTAMA : beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibanding dengan hari-hari lainnya.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak
juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)
Dari Umar r.a., bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
KEDUA : keutamaan yang lebih khusus pada hari kesembilan sebagai hari ‘Arafah.
Pada hari ini para jama’ah Haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah, dan wukuf ini merupakan rukun utama dari ibadah Haji. Karenanya hari ini menjadi hari yang memiliki keutamaan yang agung dan keberkahan yang melimpah. Diantara keutamaannya, bahwa sesungguhnya Allah menggugurkan dosa-dosa (dosa kecil) selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah.
Dari Abu Qatadah al Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “(Puasa pada hari itu) mengugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (HR.Muslim)
KETIGA, Takbir, Tahlil dan Tahmid Serta Dzikir
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj:28)
Para ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma yang artinya, “maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.”(HR. Ahmad)
KEEMPAT : keutamaan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu ‘Iedul Adh-ha yang disebut juga yaumul Nahr.
Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari ‘Iedul Adh-ha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)
Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” (QS. At Taubah:3)
Mari menyerukan kepada seluruh umat islam untuk mengoptimalkan dan melakukan serangkaian amal ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah:
1. Berkurban bagi yang mampu
2. Memperbanyak dzikir (takbir, tahlil dan tahmid)
3. Berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah teruatama puasa di hari Arafah
4. Berinfak kepada tetangga yang fakir dan miskin
5. Melaksanakan al-Yaum ma’al Qur’an (hari bersama AlQur'an)
6. Membaca al-Qur’an minimal 1 juz setiap hari
7. Melaksanakan Qiyamul Lail sepuluh hari berturut-turut
8. Memperbanyak silaturrahmi
Sumber: Taujih rutin pekananku.
TENTANG BULAN DZULHIJJAH
Sesungguhnya termasuk sebagian karunia Allah dan anugerah-Nya adalah Dia menjadikan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih waktu-waktu tertentu dimana hamba-hamba tersebut dapat memperbanyak amal shalihnya. Diantara waktu-waktu tertentu itu adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah. Berkenaan dengan firman Allah Ta’ala:
”Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr:1-2)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala telah bersumpah dengan “sepuluh hari” pertama dari bulan Dzulhijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan Ibnu Katsir rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka.
KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH
Hari-hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, dan penjelasannya sebagai berikut:
PERTAMA : beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibanding dengan hari-hari lainnya.
Dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Tidak
juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)
Dari Umar r.a., bahwa Nabi saw. Bersabda, “Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad)
KEDUA : keutamaan yang lebih khusus pada hari kesembilan sebagai hari ‘Arafah.
Pada hari ini para jama’ah Haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah, dan wukuf ini merupakan rukun utama dari ibadah Haji. Karenanya hari ini menjadi hari yang memiliki keutamaan yang agung dan keberkahan yang melimpah. Diantara keutamaannya, bahwa sesungguhnya Allah menggugurkan dosa-dosa (dosa kecil) selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah.
Dari Abu Qatadah al Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “(Puasa pada hari itu) mengugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (HR.Muslim)
KETIGA, Takbir, Tahlil dan Tahmid Serta Dzikir
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj:28)
Para ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma yang artinya, “maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.”(HR. Ahmad)
KEEMPAT : keutamaan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu ‘Iedul Adh-ha yang disebut juga yaumul Nahr.
Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari ‘Iedul Adh-ha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)
Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” (QS. At Taubah:3)
Mari menyerukan kepada seluruh umat islam untuk mengoptimalkan dan melakukan serangkaian amal ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah:
1. Berkurban bagi yang mampu
2. Memperbanyak dzikir (takbir, tahlil dan tahmid)
3. Berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah teruatama puasa di hari Arafah
4. Berinfak kepada tetangga yang fakir dan miskin
5. Melaksanakan al-Yaum ma’al Qur’an (hari bersama AlQur'an)
6. Membaca al-Qur’an minimal 1 juz setiap hari
7. Melaksanakan Qiyamul Lail sepuluh hari berturut-turut
8. Memperbanyak silaturrahmi
Sumber: Taujih rutin pekananku.
Tuesday, 25 October 2011
Pilkada, Masyarakat, dan Harapan.
Rangkaian pesta demokrasi pemilihan Gubernur Banten memang telah usai. Namun aromanya
belum pudar. Di sana sini tiap desa masih terlihat stiker yang tertempel di tiang dan tembok bangunan. Baik yang masih utuh maupun yang sudah robek (tepatnya dirobek). Rasanya di setiap pesta demokrasi di negeri ini selalu ditemukan aksi perobekan spanduk atau stiker kampanye suatu calon oleh calon lainnya yang merasa terancam. Saya tidak bisa mengerti jalan pikiran mereka, mengapa harus merobek perangkat kampanye lawan? apakah dengan merobek itu semua, calon yang dijagokannya akan dapat melenggang mulus ke pintu kemenangan? padahal menggunakan cara yang salah! Saya dan teman-teman tidak pernah merobek ataupun meniban stiker calon lain yang telah di tempelkan di suatu tempat. Kami selalu mencari lahan yang kosong untuk ditempeli. Kami merasakan betapa itu adalah tools yang dibeli oleh uang-uang kami yang jumlahnya terbatas, maka itu harus cermat membelanjakannya dan memasangnya. Saya pribadi sangat miris ketikamelihat atau menemukan tools kampanye kami dalam keadaaan robek-robek gak karuan. Rasanya hati jadi ikut terobek juga *lebay mode on*, maka itu tidak pernah terbersit sedikitpun tuk merusak tools kampanye lawan. Apalagi sampai menyewa orang, seperti yang dilakukan oleh salah satu calon di pesta demokrasi ini, memberikan upah kepada para tukang ojek dan preman untuk merobek spanduk kampanye lawannya. Mau tau berapa? 50rb untuk satu spanduk! Naudzubillah min dzaalik...
Melihat hasil penghitungan suara di kelurahan saya, ataupun versi quick count memang pasangan calon yang saya dukung kalah telak. Saya coba mengintrospeksi yang selama ini telah dilakukan, mungkin ikhtiar kami belum sempurna... Sedih memang jika calon yang telah kita perjuangkan mengalami kekalahan telak, tapi lebih sedih lagi melihat kondisi masyarakat yang mudah terbujuk uang. Seorang warga pernah berkata, "ada pemimpin baru atau ngga, sama aja. toh keadaan gini-gini aja, gak berubah." ya jelas lah gini-gini aja... situ juga milihnya gak berubah *siapa yang ngasih uang, itu yang dipilih*.
Dalam pemilu, Politik uang itu lumrah. Itulah yang disampaikan salah satu calon. Dan memang tidak bisa disangkal bahwa masyarakat yang tidak cerdas dan calon pemimpin yang tidak jujur lah yang mebuat budaya ini sulit dihilangkan. Di banyak TPS, ada oknum-oknum yang menyerukan untuk memilih calon tertentu (bahkan anggota KPPS nya). Di sebuah kelurahan, setiap pengurus posyandu mendapat uang 150 ribu perorang agar menggerakkan massa untuk memilih calon tersebut. Begitu juga struktural pengurus kecamatan, dan kelurahan... bahkan seorang tetangga mendapatkan sebuah mobil dari salah satu calon! Kontan saja masyarakat memilih calon tersebut.
Kalau caranya saja sudah salah, bagimana Allah mau meridhoi kepemimpinannya? Kalau masih berstatus 'calon' saja berani berbuat curang, bagaimana kalau sudah jadi pejabat yang godaan disana semakin besar? dan saya sempat bertanya-tanya dari mana uang yang mereka sebar-sebarkan itu? apakah mereka rela kehilangan uang itu ataukah mereka akan 'mencari gantinya' ketika mereka terpilih menjadi pejabat? kalau itu benar, lantas bagaimana dengan uang yang seharusnya dialokasikan untuk rakyat? dll...
Padahal kita sebagai muslim, terlebih di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim, bisa berpatokan pada Al-Quran yang mengatur segala hal tentang kehidupan manusia, termasuk dalam hal pemimpin ini. Setiap yang kita lakukan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Maka diperlukan ikhtiar dan ijtihad dalam memilih calon-calon tersebut. Golput bukanlah sesuatu yang baik.
Banyak masyarakat (mungkin sebagian besar) seperti tidak punya jati diri, mudah terprovokasi, dan mudah terombang-ambing. Rasanya perlu usaha lebih keras lagi untuk melakukan pencerdasan politik bagi masyarakat ini. Agar mereka bisa melihat mana yang baik dan yang tidak baik, memilih yang terbaik dari yang baik, agar memilih dengan cara yang baik untuk Indonesia yang lebih baik.
Akhir tulisan pendek ini, terselip harapan besar, semoga pemimpin yang terpilih nanti mampu mengemban amanat yang berat ini dengan amanah sehingga Banten segera sejahtera :)
Semoga masayarakat akan segera menyadari urgensi memilih yang benar dalam pemilu selanjutnya :)
belum pudar. Di sana sini tiap desa masih terlihat stiker yang tertempel di tiang dan tembok bangunan. Baik yang masih utuh maupun yang sudah robek (tepatnya dirobek). Rasanya di setiap pesta demokrasi di negeri ini selalu ditemukan aksi perobekan spanduk atau stiker kampanye suatu calon oleh calon lainnya yang merasa terancam. Saya tidak bisa mengerti jalan pikiran mereka, mengapa harus merobek perangkat kampanye lawan? apakah dengan merobek itu semua, calon yang dijagokannya akan dapat melenggang mulus ke pintu kemenangan? padahal menggunakan cara yang salah! Saya dan teman-teman tidak pernah merobek ataupun meniban stiker calon lain yang telah di tempelkan di suatu tempat. Kami selalu mencari lahan yang kosong untuk ditempeli. Kami merasakan betapa itu adalah tools yang dibeli oleh uang-uang kami yang jumlahnya terbatas, maka itu harus cermat membelanjakannya dan memasangnya. Saya pribadi sangat miris ketikamelihat atau menemukan tools kampanye kami dalam keadaaan robek-robek gak karuan. Rasanya hati jadi ikut terobek juga *lebay mode on*, maka itu tidak pernah terbersit sedikitpun tuk merusak tools kampanye lawan. Apalagi sampai menyewa orang, seperti yang dilakukan oleh salah satu calon di pesta demokrasi ini, memberikan upah kepada para tukang ojek dan preman untuk merobek spanduk kampanye lawannya. Mau tau berapa? 50rb untuk satu spanduk! Naudzubillah min dzaalik...
Melihat hasil penghitungan suara di kelurahan saya, ataupun versi quick count memang pasangan calon yang saya dukung kalah telak. Saya coba mengintrospeksi yang selama ini telah dilakukan, mungkin ikhtiar kami belum sempurna... Sedih memang jika calon yang telah kita perjuangkan mengalami kekalahan telak, tapi lebih sedih lagi melihat kondisi masyarakat yang mudah terbujuk uang. Seorang warga pernah berkata, "ada pemimpin baru atau ngga, sama aja. toh keadaan gini-gini aja, gak berubah." ya jelas lah gini-gini aja... situ juga milihnya gak berubah *siapa yang ngasih uang, itu yang dipilih*.
Dalam pemilu, Politik uang itu lumrah. Itulah yang disampaikan salah satu calon. Dan memang tidak bisa disangkal bahwa masyarakat yang tidak cerdas dan calon pemimpin yang tidak jujur lah yang mebuat budaya ini sulit dihilangkan. Di banyak TPS, ada oknum-oknum yang menyerukan untuk memilih calon tertentu (bahkan anggota KPPS nya). Di sebuah kelurahan, setiap pengurus posyandu mendapat uang 150 ribu perorang agar menggerakkan massa untuk memilih calon tersebut. Begitu juga struktural pengurus kecamatan, dan kelurahan... bahkan seorang tetangga mendapatkan sebuah mobil dari salah satu calon! Kontan saja masyarakat memilih calon tersebut.
Kalau caranya saja sudah salah, bagimana Allah mau meridhoi kepemimpinannya? Kalau masih berstatus 'calon' saja berani berbuat curang, bagaimana kalau sudah jadi pejabat yang godaan disana semakin besar? dan saya sempat bertanya-tanya dari mana uang yang mereka sebar-sebarkan itu? apakah mereka rela kehilangan uang itu ataukah mereka akan 'mencari gantinya' ketika mereka terpilih menjadi pejabat? kalau itu benar, lantas bagaimana dengan uang yang seharusnya dialokasikan untuk rakyat? dll...
Padahal kita sebagai muslim, terlebih di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim, bisa berpatokan pada Al-Quran yang mengatur segala hal tentang kehidupan manusia, termasuk dalam hal pemimpin ini. Setiap yang kita lakukan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Maka diperlukan ikhtiar dan ijtihad dalam memilih calon-calon tersebut. Golput bukanlah sesuatu yang baik.
Banyak masyarakat (mungkin sebagian besar) seperti tidak punya jati diri, mudah terprovokasi, dan mudah terombang-ambing. Rasanya perlu usaha lebih keras lagi untuk melakukan pencerdasan politik bagi masyarakat ini. Agar mereka bisa melihat mana yang baik dan yang tidak baik, memilih yang terbaik dari yang baik, agar memilih dengan cara yang baik untuk Indonesia yang lebih baik.
Akhir tulisan pendek ini, terselip harapan besar, semoga pemimpin yang terpilih nanti mampu mengemban amanat yang berat ini dengan amanah sehingga Banten segera sejahtera :)Semoga masayarakat akan segera menyadari urgensi memilih yang benar dalam pemilu selanjutnya :)
Saturday, 22 October 2011
Friday, 21 October 2011
Suharna Surapranata, Teladan di Semua Mihwar Dakwah
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Other |
Bagi saya, juga teman-teman kantor, Pak Harna adalah salah satu sosok keren yang dapat dijadikan teladan. Meski saya hanya berada di sebuah LPND, bukan di kementerian Ristek, tapi saya dapat merasakan kemajuan kementerian Ristek yang beliau pimpin selama dua tahun ini. Bahkan karena 2 tahun berturut-turut mendapatkan laporan keuangan dengan predikat 'Wajar tanpa pengecualian", Ristek kini boleh lega karena akan menerima remunerasi... tapi mengapa disaat kementrian yang dipimpinnya akan mendapatkan remunerasi, justru sang mentri harus keluar dari yang selama ini dipimpinnya....
Kata seorang teman, saat ini kerja di ristek sedang enak-enaknya. Segala pondasi, program, jaringan yang ditebar, dsb sudah ditanam. Jadi pelaksaan kerjapun bisa berjalan lancar sesuai yang telah direncanakan dalam 5 tahun masa kerja.
Mengenai sosok Pak Harna lebih detil mungkin Pak Cahyadi Takariawan lebih tau dari saya. Berikut Tulisan beliau yang saya copas dari islamedia (http://www.islamedia.web.id/2011/10/suharna-surapranata-teladan-di-semua.html).
Semoga kita bisa mengambil teladan dari seorang Suharna Surapranata.
============================================================
Gonjang-ganjing reshuffle kabinet banyak mendapatkan sorotan media akhir-akhir ini. Banyak media menilai PKS emosional mensikapi reshuffle ini lantaran seorang menterinya terkena dampak, harus meninggalkan kursi kementrian untuk diganti personal lain. Benarkah ada sikap emosional menghadapi reshuffle tersebut, dan bagaimana sikap Menteri yang terkena reshuffle ?
Menteri dari PKS yang terkena reshuffle itu adalah Suharna Surapranata. Apakah ia emosional menghadapi peristiwa ini ? Ah, berlebihan pertanyaan itu. Kang Harna, panggilan akrab sang menteri, ternyata biasa saja. Bersikap sangat arif dan tenang, sama sekali tidak ada kesan emosional.
Belum Pengumuman, Sudah Berpamitan
Bagi banyak kalangan, jabatan menteri dianggap sebagai sebuah posisi yang prestis dan terhormat, maka banyak orang berebut mendapatkannya. Oleh karena itu, bagi sebagian menteri, reshuffle sungguh merupakan tamparan dan menjadi momok yang sangat menakutkan. Namun tidak demikian dengan Kang Harna. Mantan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS ini menganggap posisi menteri adalah amanah dakwah. Maka sebagai bagian utuh dari proses dakwah, ia siap ditempatkan dimanapun pos-pos yang bisa menjadi lahan baginya untuk berkontribusi secara optimal.
Begitu isu reshuffle sudah kian menghangat, dan sudah ada isyarat dari Istana Negara bahwa dirinya akan diganti, ia langsung menyiapkan segala sesuatu. Selasa pagi, 18 Oktober 2011, Kang Harna memimpin Rapim Menristek yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kementrian. Pada Rapim tersebut, Kang Harna menyampaikan bahwa dirinya akan segera diganti oleh personal lain yang akan ditunjuk oleh Presiden SBY. Oleh karena itu Kang Harna menyampaikan kalimat pamitan dan beberapa pesan.
Tentu saja pernyataan tersebut sangat mengejutkan para pejabat di lingkungan kementrian Ristek, karena belum ada pengumuman resmi dari Presiden SBY terkait reshuffle. Banyak kalangan pejabat di kementrian yang merasa tidak percaya atas informasi tersebut. Selama ini hubungan sang menteri maupun kementrian Ristek dengan Presiden SBY baik-baik saja, tidak ada masalah atau kasus apapun yang layak dipersoalkan. Bahkan ada banyak kemajuan serta prestasi di Kementrian Ristek selama dipimpin Kang Harna.
Apalagi jika dibandingkan dengan beberapa kementrian lainnya yang tengah ada kasus, atau mendapatkan “raport merah” dari UKP4, atau ada masalah dengan laporan keuangan kementrian. Justru Kementrian Ristek posisinya aman-aman saja, bahkan mendapatkan nilai bagus, maka pernyataan pamit Kang Harna sangat mengejutkan para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek.
Bukan hanya pamitan di forum resmi tersebut, namun Kang Harna juga mengunjungi seluruh lantai dan memasuki ruangan-ruangan untuk menyapa sekaligus berpamitan dengan para pegawai di lingkungan kementrian Ristek. Benar-benar kejutan, karena tidak menyangka Kang Harna menyapa mereka dan berdialog dengan para staf, sekaligus berpamitan. Kang Harna sudah pamit padahal reshuffle belum diumumkan SBY, sehingga belum ada kepastian apakah Menristek diganti atau tidak.
Para pegawai di lingkungan Kementrian Ristek memanfaatkan momentum itu untuk bersalaman dan berpotret bersama sang Menteri. Ya, Menteri Ristek di hari terakhir pengabdiannya. Sebagian pegawai bahkan terharu dan meneteskan air mata karena tidak menyangka Kang Harna akan segera meninggalkan mereka.
Usai mengungkapkan pamit, Kang Harna menyampaikan beberapa pesan kepada para pejabat dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa jabatan itu hanya amanah yang setiap saat bisa selesai. Beliau mengatakan reshuffle Menristek itu hanya pindah nakhoda, karena semuanya sudah tersedia, seperti undang-undang, visi, misi kementrian dan perangkat lainnya. Untuk itulah Kang Harna meminta semua pejabat dan staf bekerja semakin profesional bersama menteri baru nantinya.
Telah Selesai Berkemas
Sesungguhnya, semenjak isu reshuffle bergulir, Kang Harna sudah memerintahkan kepada para staf khusus beliau untuk segera berkemas. Demikianlah Kang Harna menyikapi setiap ada isu reshuffle. Seakan sudah memastikan bahwa dirinya yang akan terkena. Hal sama beliau lakukan saat ada isu reshuffle setahun yang lalu, beliau sudah memerintahkan staf untuk berkemas. Namun ternyata waktu itu tidak jadi ada reshuffle.
Para staf segera melakukan perapihan di kantor Kementrian Ristek, dengan memilah barang-barang. Kang Harna berpesan agar cermat dalam melakukan packing. Jangan ada barang kementrian yang terbawa, dan jangan ada barang pribadi yang tertinggal. Hingga hari Senin 17 Oktober 2011, packing sudah selesai dilakukan oleh para staf. Barang-barang sudah dikemas dengan rapi dan tinggal membawa pergi.
Pulang Dengan Mobil Pribadi
Usai berpamitan dan berpesan dengan pejabat dan staf di lingkungan Kementrian, Kang Harna pun pulang. Luar biasa, siang itu, Selasa 18 Oktober 2011, beliau pulang mengendarai mobil pribadi. Mobil dinas Menristek beliau parkir di kantor, kunci serta seluruh perlengkapan mobil sudah dititipkan kepada pegawai yang berwenang.
Para pejabat yang melepas beliau semakin heran. Seseorang bertanya, “Mengapa tidak menggunakan mobil menteri?” Kang Harna menjawab, “Saya sudah pamitan. Itu jatah mobil menteri baru nanti”, jawab beliau.
Sebuah keteladanan yang luar biasa. Betapa banyak pejabat yang ingin selalu menikmati bahkan memiliki fasilitas dinas. Kalau perlu tidak dikembalikan, walaupun tidak lagi menjabat. Tidak demikian dengan kader senior PKS ini. Kang Harna memberikan contoh perilaku politik yang santun, beradab dan bertanggung jawab. Kang Harna simbol kesalihan seorang pejabat negera setingkat menteri.
Tidak perlu menunggu pengumuman resmi. Beliau sudah berpamitan. Beliau sudah mengemas semua barang. Beliau sudah menyerahkan mobil kementrian. Maka, siang hari itu, sejarah perpolitikan di Indonesia mencatat, seorang Menteri yang menuntaskan pekerjaan di hari terakhir tugasnya, dengan sempurna.
Luar biasa. Sikap konsistensi kepada keyakinan, sikap kesederhanaan, sikap kehati-hatian telah dicontohkan. Sejarah perpolitikan Indonesia harus mencatat peristiwa ini, sebagai pelajaran bagi seluruh pejabat di republik ini.
Mengembalikan Rumah Dinas
Kemana Kang Harna setelah selesai pamitan di Kantor Kementrian Ristek ? Selasa siang itu, 18 Oktober 2011, dengan menggunakan mobil pribadinya, Kang Harna langsung menuju rumah Dinas Menristek. Beliau meneliti kondisi rumah, dan memastikan bahwa rumah dinas tersebut sudah berada dalam kondisi rapi. Beliau memasuki rumah dan melihat semua bagian dan ruangan dengan detail. Jangan ada barang-barang milik dinas yang terbawa, dan jangan ada barang milik beliau yang tertinggal.
Setelah memastikan bahwa semua sudah beres dan rapi, beliaupun meninggalkan rumah dinas Menristek. Beliau ingin memastikan bahwa rumah dinas tersebut besok pagi sudah siap ditempati Menristek yang baru. Luar biasa, sebuah sikap kesederhanaan dan kehati-hatian yang pantas diteladani oleh semua masyarakat dan bangsa, khususnya bagi para pejabat negara.
Lagi-lagi, sejarah perpolitikan di Indonesia harus mengabadikan peristiwa ini. Sebuah pendidikan politik bagi para pejabat di seluruh level, agar bersikap profesional, sederhana dan bersahaja.
Mengganti KTP
Masih ada yang kurang, siang itu. Usai meneliti rumah dinas, Kang Harna segera meluncur ke Kantor Kelurahan. Apa yang beliau lakukan ? Ternyata beliau mengurus pergantian KTP.
Dalam KTP yang beliau miliki selama menjabat menjadi Menristek, tertulis identitas “Menteri” di KTP tersebut. Maka Kang Harna ingin semua selesai pada hari itu pula, Selasa 18 Oktober 2011, sebelum ada pengumuman resmi reshuffle kabinet. Beliau meminta agar dibuatkan KTP baru dengan identitas yang baru pula, karena besok pagi beliau sudah bukan Menteri.
Lega. Kang Harna menyelesaikan pembuatan KTP baru. Apa yang berbeda dari KTP tersebut ? Kalau semula tertulis identitas “Menteri” pada KTP beliau, sekarang tertulis “Wiraswasta” pada KTP yang baru.
Lagi-lagi, luar biasa Menteri yang satu ini. Perjalanan panjang dalam gerakan dakwah telah membentuknya memiliki karakter yang mulia. Beliau tidak ingin ada pemalsuan identitas. Beliau bukan lagi menteri, besok pagi. Maka tidak layak memiliki KTP yang bertuliskan identitas “Menteri”. Beliau ingin tampil dengan identitasnya yang asli, “Wiraswasta”. Bukan “Mantan Menteri”.
Jam 13.00 Sudah Selesai Semuanya
Ya, jam 13.00 wib hari Selasa 18 Oktober 2011, sudah selesai semua urusan Kang Harna. Sudah berpamitan dan memberi pesan di Kementrian Ristek. Sudah mengembalikan mobil dinas. Sudah meninggalkan dan merapikan rumah dinas. Sudah mengganti identitas di KTP. Lega, semua urusan sudah dibereskan. Rasanya tidak ada yang tersisa.
Masyaallah. Pengumuman reshuffle belum disampaikan. Belum ada kepastian apakah Kang Harna akan jadi diganti atau tidak. Namun semua urusan sudah dibereskan. Jika nanti malam Presiden SBY mengumumkan kabinet baru, dan ternyata dirinya benar-benar diganti, maka ia sudah menuntaskan seluruh urusannya. Tidak ada lagi yang menjadi bebannya.
Keluarga Menyambut Gembira
Kang Harna memang sudah dihubungi oleh Mensesneg Sudi Silalahi, yang menyampaikan pesan dari Presiden SBY bahwa dirinya akan diganti. Ia menerima pesan itu dengan perasaan “legowo”, tidak melakukan “pemberontakan” atau “perlawanan”. Misalnya dengan membuat pernyataan di media yang menyatakan bahwa dirinya dizalimi atau tidak terima kalau diganti, atau semacam itu. Tidak, sama sekali tidak.
Kang Harna justru mengirim kabar itu melalui sms kepada anak-anak beliau. Apa respon anak-anak atas berita itu ?
“Alhamdulillah Abi !” ini jawaban anak pertama.
“Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !” jawab anak kedua. Ya, semua keluarga menyambut gembira.
Dua tahun menjadi Menristek, membuat Kang Harna lebih sibuk daripada sebelumnya. Jam 06.00 wib Kang Harna sudah berada di kantor Kementrian Ristek. Ya pagi-pagi sekali beliau sudah berada di kantor, bahkan sering sebelum jam 06.00 wib beliau sudah masuk kantor. Setelah itu beliau berkegiatan di dalam kantor atau berkegiatan di luar lingkungan kantor Kementrian. Sore atau malam baru pulang ke rumah dinas.
Dengan irama kesibukan seperti itu, membuat beliau semakin jarang bertemu keluarga. Beliau ingin memberikan contoh teladan bagi semua pejabat, pegawai dan staf di lingkungan Kementrian Ristek, bahwa bekerja harus bersungguh-sungguh dan penuh dedikasi. Habis menunaikan shalat Subuh beliau sudah siap pergi ke kantor. Maka, sebelum jam 06.00 beliau sudah berada di ruangan Menristek. Kadang jam 05.30 sudah berada di ruang kerja kementrian.
Maka demikian bergembira anak-anak beliau, saat mendapat kabar bahwa Kang Harna akan digeser dari Menristek dan diganti personal lain yang ditunjuk Presiden SBY. Coba perhatikan respon spontan ini, “Alhamdulillah. Berarti Abi bakal lebih sering bersama kita. Kalau begitu kita perlu syukuran !”
Benar, malam harinya, Presiden SBY mengumumkan kabinet baru hasil reshuffle. Suharna Surapranata digantikan oleh Menristek yang baru, Gusti Muhammad Hatta.
Kinerja Kementrian
Penggantian Kang Harna dari Menristek sudah pasti bukan karena kinerja. Karena berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) dan BPK, kinerja Menristek diakui bagus. Bahkan laporan keuangan Kementrian dibawah Kang Harna dinyatakan WTP selama dua tahun berturut-turut, maka renumerasi Kemenristek dipercepat tahun ini.
Nilai “Wajar Tanpa Pengecualian” (WTP) adalah opini audit atas laporan keuangan yang paling bagus atau menempati posisi paling atas. Opini audit lainnya adalah “Wajar Dengan Pengecualian” (Qualified Opinion), “Tidak Memberikan Pendapat” (Disclaimer) dan “Tidak Wajar” (Adverse). Maka dengan melihat hasil penilaian UKP4 serta nilai WTP selama dua tahun di bawah kepemimpinan Kang Harna, menandakan kinerja Menristek tidak ada masalah.
Maka tatkala Presiden SBY mengumumkan kabinet hasil Reshuffle, dan ternyata Kang Harna keluar dari jajaran kementrian, publik layak bertanya, atas dasar apa pergantian itu ? “Sudahlah, tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi”, jawab Kang Harna.
Seperti yang ditulis Kompas, “Kendati tak mengetahui alasan pasti terkait pencopotannya, mantan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengaku legawa. Tak lupa, politisi Partai Keadilan Sejahtera ini mengucapkan syukur karena telah memiliki kesempatan mengabdi kepada negara”.
"Saya juga merasa bersyukur bisa membantu Presiden selama dua tahun ini," kata Suharna kepada para wartawan di sela-sela upacara pelantikan menteri dan wakil menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/10/2011).
Ketika ditanya lebih rinci terkait detik-detik pencopotannya, Suharna enggan menceritakannya. Pencopotannya dipandang hak prerogatif Presiden sepenuhnya. Dirinya hanya mengaku menerima telepon dari Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.
"Sudahlah. Saya kira ini tidak perlu diperdalam. Ini sudah terjadi," ujarnya singkat.
Suharna mengatakan, selepas menjadi menteri, dirinya ingin kembali ke PKS dan membangun partai. Pencopotan Suharna yang secara resmi disampaikan Presiden di Istana Merdeka, Selasa (18/10/2011), turut mengurangi jatah kursi menteri partai dakwah tersebut. Demikian ulasan Kompas.
Bahkan, saat acara serah terima jabatan Menristek di kantor Kementrian, Kang Harna menyampaikan, “Saya pinjam pantun Pak Tifatul. Ayu Ting Ting naik Kopaja, yang penting kita tetap bekerja.” Itulah slogan yang sangat nyata. Dimanapun Kang Harna, pasti akan terus bekerja untuk masyarakat, bangsa dan negara.
Kang Harna di Mata Saya
Beliau orang yang ramah, santun dan bersahaja. Beliau salah seorang jajaran qiyadah dakwah yang memberikan contoh konsistensi dalam kehidupan. Kader senior dakwah yang menapaki jalan panjang dan terjal, menghantarkan dakwah dari ruang-ruang tertutup menuju ruang-ruang kenegaraan. Dan beliau sendiri mencontohkan bagaimana sikap seorang negarawan.
Beliau tidak pernah berambisi jabatan apapun, baik dalam organisasi maupun dalam jabatan publik. Saat beliau mendapatkan amanah menjadi salah seorang calon menteri yang diusulkan oleh PKS, kami semua mengetahui bahwa beliau keberatan dengan posisi itu. Beliau merasa ada lebih banyak kader dakwah yang tepat pada posisi kementrian. Namun, beliau juga memberikan contoh bahwa amanah harus dilaksanakan dengan segenap kemampuan.
Itulah yang sering saya katakan, “Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa ‘iya’ bisa ‘tidak’. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut”.
Kang Harna telah memberikan contoh kepada kita. Beliau tetap bekerja, dimanapun berada. Beliau selalu di jalan dakwah, selalu istiqamah, saat masih duduk di bangku kuliah, saat perintisan awal dakwah, saat mengalami masa-masa pertumbuhan dakwah yang sulit, dan bahkan akhirnya menjadi pejabat negara, dan sekarang kembali lagi menjadi masyarakat biasa. “Wiraswasta”, begitu pilihan identitas di KTP-nya.
Tidak menyalahkan sana menyalahkan sini, tidak emosi karena dicopot dari menteri, justru beliau menampakkan sikap yang rendah hati.
Luar biasa. Gemblengan perjalanan dakwah puluhan tahun telah menampa Kang Harna memiliki karakter yang sangat kuat. Layak diteladani oleh para kader, tentang kesederhanaan, tentang ketekunan, tentang dedikasi, tentang konsistensi, tentang kehati-hatian, tentang kesantunan, tentang profesionalitas kerja, tentang kemampuan adaptasi di segala mihwar, tentang sikap kenegarawanan, tentang komitmen kekaderan, tentang visi yang terang benderang, tentang platform pembangunan Indonesia yang jelas.
Banyak, teramat sangat banyak yang bisa kita pelajari dari kader senior yang satu ini. Saya salah seorang kader yang merasa bangga, memiliki senior yang memberikan keteladanan mulia kepada generasi berikutnya. Semoga semakin banyak kader berkualitas Suharna Surapranata.
Bekerja untuk Indonesia!!!
Tuesday, 18 October 2011
Postcrossing: RU-574980
a beautiful card from Olga. She is from Russia. i think this cards shows a place in her country.


Thank you for this card and nice stamp :)
Happy postcrossing!


Thank you for this card and nice stamp :)
Happy postcrossing!
Postcrossing: FR-166616
Greeting from France again :)
This card from Melaine, she is 11 years old. She lives with her parents in a farm.


Thanks Melaine, Happy postcrossing!
This card from Melaine, she is 11 years old. She lives with her parents in a farm.


Thanks Melaine, Happy postcrossing!
Subscribe to:
Posts (Atom)